inez argya ardhani
2311011095
Analisis Isu Terkait HAM di Indonesia
Artikel tersebut menyoroti buruknya kinerja HAM di Indonesia sepanjang tahun 2019, terutama menjelang peringatan Hari Hak Asasi Manusia sedunia pada 10 Desember. Komnas HAM dan LBH Jakarta mencatat banyak pelanggaran HAM, terutama pelanggaran berat di masa lalu dan konflik sumber daya alam. LBH Jakarta juga mengungkapkan kemunduran demokrasi dan munculnya kembali otoritarianisme.
Menurut Usman Hamid dari Amnesty International Indonesia, 2019 dianggap sebagai tahun kelam bagi HAM di Indonesia. Agenda HAM mengalami kemacetan, dan serangan terhadap pembela HAM meningkat. Beberapa masalah utama meliputi kurangnya akuntabilitas atas pelanggaran oleh aparat keamanan, pembatasan kebebasan berekspresi dan beragama, diskriminasi gender, pelanggaran hak perempuan, kegagalan menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu, peningkatan pelanggaran HAM di Papua, serta hukuman kejam seperti vonis mati dan eksekusi di luar pengadilan. Meskipun demikian, ada beberapa langkah reformasi dan ratifikasi perjanjian internasional yang menunjukkan komitmen Indonesia terhadap HAM. Gerakan mahasiswa dan masyarakat juga menunjukkan perlawanan terhadap kebijakan yang merugikan HAM.
Asmin Fransiska dari Universitas Katolik Atma Jaya memberikan kritik umum terhadap Pengadilan HAM yang belum berhasil mengadili pelanggar HAM. Ia juga menekankan bahwa penyelesaian pelanggaran masa lalu tanpa pengungkapan kebenaran hanya akan menciptakan impunitas. Situasi di Papua menjadi perhatian khusus dengan kasus seperti Wasior dan Wamena yang belum terselesaikan, serta diskriminasi rasial yang tidak diakui oleh pemerintah. Masalah-masalah lainnya termasuk kemiskinan, ketidaksetaraan akses ekonomi, kesehatan, dan pendidikan yang sering tertutupi oleh isu pemekaran daerah dan kemerdekaan.
Kesimpulannya, artikel ini menyoroti banyak tantangan yang masih dihadapi Indonesia dalam penegakan HAM. Meskipun ada beberapa langkah positif yang telah diambil, isu utama seperti kurangnya akuntabilitas atas pelanggaran oleh aparat keamanan, pembatasan kebebasan berekspresi, diskriminasi gender, dan meningkatnya pelanggaran di Papua menunjukkan bahwa penegakan HAM masih memerlukan perbaikan signifikan. Peran masyarakat sipil sangat penting dalam memastikan pemenuhan HAM dan mengkritisi kebijakan yang tidak berdasarkan data dan ilmu.
2311011095
Analisis Isu Terkait HAM di Indonesia
Artikel tersebut menyoroti buruknya kinerja HAM di Indonesia sepanjang tahun 2019, terutama menjelang peringatan Hari Hak Asasi Manusia sedunia pada 10 Desember. Komnas HAM dan LBH Jakarta mencatat banyak pelanggaran HAM, terutama pelanggaran berat di masa lalu dan konflik sumber daya alam. LBH Jakarta juga mengungkapkan kemunduran demokrasi dan munculnya kembali otoritarianisme.
Menurut Usman Hamid dari Amnesty International Indonesia, 2019 dianggap sebagai tahun kelam bagi HAM di Indonesia. Agenda HAM mengalami kemacetan, dan serangan terhadap pembela HAM meningkat. Beberapa masalah utama meliputi kurangnya akuntabilitas atas pelanggaran oleh aparat keamanan, pembatasan kebebasan berekspresi dan beragama, diskriminasi gender, pelanggaran hak perempuan, kegagalan menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu, peningkatan pelanggaran HAM di Papua, serta hukuman kejam seperti vonis mati dan eksekusi di luar pengadilan. Meskipun demikian, ada beberapa langkah reformasi dan ratifikasi perjanjian internasional yang menunjukkan komitmen Indonesia terhadap HAM. Gerakan mahasiswa dan masyarakat juga menunjukkan perlawanan terhadap kebijakan yang merugikan HAM.
Asmin Fransiska dari Universitas Katolik Atma Jaya memberikan kritik umum terhadap Pengadilan HAM yang belum berhasil mengadili pelanggar HAM. Ia juga menekankan bahwa penyelesaian pelanggaran masa lalu tanpa pengungkapan kebenaran hanya akan menciptakan impunitas. Situasi di Papua menjadi perhatian khusus dengan kasus seperti Wasior dan Wamena yang belum terselesaikan, serta diskriminasi rasial yang tidak diakui oleh pemerintah. Masalah-masalah lainnya termasuk kemiskinan, ketidaksetaraan akses ekonomi, kesehatan, dan pendidikan yang sering tertutupi oleh isu pemekaran daerah dan kemerdekaan.
Kesimpulannya, artikel ini menyoroti banyak tantangan yang masih dihadapi Indonesia dalam penegakan HAM. Meskipun ada beberapa langkah positif yang telah diambil, isu utama seperti kurangnya akuntabilitas atas pelanggaran oleh aparat keamanan, pembatasan kebebasan berekspresi, diskriminasi gender, dan meningkatnya pelanggaran di Papua menunjukkan bahwa penegakan HAM masih memerlukan perbaikan signifikan. Peran masyarakat sipil sangat penting dalam memastikan pemenuhan HAM dan mengkritisi kebijakan yang tidak berdasarkan data dan ilmu.