Kiriman dibuat oleh Agustin Dwi Rahayu 2311011093

Nama: Agustin Dwi Rahayu
NPM: 2311011093

1. Bagaimana ciri-ciri utama pendekatan Klasik?

Pendekatan klasik melihat organisasi sebagai sebuah sistem yang rasional dan dapat dipelajari secara ilmiah. Pandangan ini berusaha menata organisasi dengan aturan yang jelas sehingga tercapai efisiensi dan keteraturan. Dalam kerangka berpikir ini, pekerja ditempatkan terutama sebagai “makhluk ekonomi” yang termotivasi oleh imbalan material. Karena itu, pengelolaan organisasi difokuskan pada cara mengendalikan perilaku melalui aturan dan struktur yang baku.

2. Apa perbedaan dan persamaan antara karya Taylor, Fayol, dan Weber?

Frederick Taylor menekankan pentingnya manajemen ilmiah dengan tujuan menemukan metode kerja paling efisien melalui standar dan pengawasan ketat terhadap pekerja. Henri Fayol lebih menyoroti fungsi manajerial, seperti merencanakan, mengorganisasi, memimpin, mengoordinasikan, dan mengendalikan, sehingga penekanannya ada pada peran manajer. Sementara itu, Max Weber mengembangkan konsep birokrasi yang menekankan pentingnya aturan formal, otoritas sah, serta sifat impersonal dalam menjalankan organisasi. Persamaan ketiganya adalah sama-sama berupaya menjadikan manajemen sebuah disiplin ilmiah yang terstruktur, meskipun berbeda dalam fokus: Taylor pada proses kerja, Fayol pada fungsi manajer, dan Weber pada sistem otoritas.

3. Jelaskan ciri-ciri utama pendekatan Klasik terhadap perubahan organisasi!

Dalam pendekatan klasik, perubahan organisasi dipahami melalui kerangka ilmiah dan rasional. Organisasi dianggap seperti mesin yang terdiri dari bagian-bagian yang harus berfungsi sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Perubahan dipandang bukan sebagai sesuatu yang spontan, melainkan sebagai proses yang bisa diatur dan dikendalikan dengan prinsip-prinsip ilmiah. Namun, kelemahan dari pendekatan ini adalah kecenderungannya mengabaikan sisi manusiawi pekerja, seperti kreativitas, motivasi, dan kebutuhan sosial.

4. Bagaimana perkembangan klasik dan perkembangan organisasi kerja?

Perkembangan manajemen klasik berawal pada abad ke-19 ketika praktik berbasis pengalaman mulai digantikan dengan pendekatan yang lebih ilmiah. Revolusi Industri, yang membawa peningkatan skala dan kompleksitas bisnis, memunculkan kebutuhan akan teori manajemen yang lebih sistematis. Dalam praktik organisasi kerja, pembagian kerja diterapkan agar pekerja lebih terampil dan efisien. Hal ini menghasilkan lahirnya sistem pabrik, studi gerak oleh Gilbreths, fungsi manajemen dari Fayol, dan birokrasi yang dikemukakan Weber. Perkembangan ini kemudian menyebar ke berbagai negara dan menjadi dasar bagi pengusaha, insinyur, serta manajer dalam mengatur organisasi secara lebih produktif dan terstruktur.
Nama: Agustin Dwi Rahayu
NPM: 2311011093

1. Mengapa organisasi melakukan perubahan?
Organisasi terdorong untuk melakukan perubahan karena ingin mencapai tingkat efektivitas yang lebih tinggi. Walaupun risiko kegagalan cukup besar, perubahan tetap dilakukan sebab tanpa penyesuaian, organisasi berpotensi tertinggal oleh perkembangan lingkungan. Efektivitas tidak hanya dipengaruhi oleh strategi, tetapi juga oleh cara organisasi dijalankan melalui orang-orangnya, proses kerja, budaya, dan kepemimpinan. Dengan demikian, perubahan adalah sarana penting bagi organisasi agar dapat terus relevan serta mampu menghasilkan hasil yang diharapkan.

2. Definisikan efektivitas organisasi dan kaitannya dengan perubahan organisasi!
Efektivitas organisasi pada dasarnya adalah kemampuan untuk mewujudkan hasil atau dampak yang diinginkan. Robbins menambahkan bahwa efektivitas kerap diartikan sebagai pencapaian tujuan, meskipun selalu muncul pertanyaan mengenai “tujuan siapa yang sebenarnya dicapai.” Hubungan antara efektivitas dan perubahan sangat erat, karena setiap perubahan yang dilakukan bertujuan meningkatkan kemampuan organisasi dalam memenuhi tujuannya. Tanpa adanya perubahan, efektivitas organisasi akan berkurang seiring dengan meningkatnya tuntutan lingkungan dan dinamika zaman.

3. Bagaimana menghargai perbedaan antara perubahan individu, kelompok, dan sistem.
Perubahan dapat dipahami pada tiga level yang berbeda, yaitu individu, kelompok, dan sistem. Pada tingkat individu, pendekatan Behavioris menekankan pentingnya stimulus dari luar, sedangkan Gestalt-Field menekankan makna yang diberikan individu terhadap suatu pengalaman. Pada tingkat kelompok, teori Kurt Lewin menunjukkan bahwa perubahan lebih efektif dilakukan melalui norma, peran, dan nilai yang dianut bersama. Sementara pada tingkat sistem, organisasi dilihat sebagai sistem terbuka yang terdiri dari beberapa subsistem—tujuan, teknis, psikososial, dan manajerial—yang harus berjalan selaras. Menghargai perbedaan ini berarti memahami bahwa strategi perubahan harus menyesuaikan dengan karakteristik tiap level, karena cara mendekati individu tentu berbeda dengan kelompok maupun sistem.

4. Bagaimana menghargai sifat penolakan terhadap perubahan dan kaitannya dengan komitmen dan kesiapan terhadap perubahan?
Penolakan terhadap perubahan merupakan sesuatu yang wajar terjadi. Pandangan lama cenderung melihat resistensi sebagai penghalang utama, tetapi pandangan modern menganggap resistensi juga bisa menjadi sinyal penting bahwa rencana perubahan perlu dikaji ulang. Dalam kaitannya dengan komitmen dan kesiapan, resistensi biasanya muncul ketika perubahan bertentangan dengan nilai atau keyakinan individu, atau dilaksanakan dengan cara yang tidak transparan. Namun jika perubahan dirancang secara adil, melibatkan partisipasi, serta komunikasinya jelas, maka resistensi dapat ditekan, sementara komitmen dan kesiapan untuk berubah akan meningkat. Oleh karena itu, resistensi sebaiknya tidak langsung dipandang negatif, melainkan sebagai masukan untuk menyempurnakan proses perubahan.

5. Bagaimana peran dan keterampilan agen perubahan?
Agen perubahan adalah tokoh utama yang memastikan keberhasilan proses transisi dalam organisasi. Mereka bisa berasal dari internal maupun eksternal, seperti manajer, fasilitator, pelatih, atau konsultan. Perannya meliputi menetapkan arah perubahan, menjelaskan peran masing-masing pihak, membangun komunikasi yang efektif, melakukan negosiasi untuk mengurangi penolakan, hingga menjalin hubungan dengan manajemen puncak. Di samping itu, agen perubahan harus memiliki keterampilan diagnostik untuk membaca kesiapan organisasi, baik di level strategis, kelompok, maupun individu. Dengan kombinasi kemampuan ini, agen perubahan tidak hanya berperan sebagai fasilitator netral, tetapi juga sebagai motor penggerak yang menjaga agar perubahan berjalan sesuai tujuan organisasi.
Nama : Agustin Dwi Rahayu
NPM : 2311011093
Kelas : Ganjil
Prodi : S1 Manajemen

Semangat Bela Negara Di Tengah Pandemi Covid-19

Jurnal ini membahas tentang semangat bela negara warga Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Dijelaskan bahwa bela negara merupakan kewajiban seluruh warga negara berdasarkan undang-undang. Bela negara dapat dilaksanakan dengan mematuhi himbauan pemerintah selama pandemi seperti menjaga kesehatan, tidak menyebarkan berita hoaks, serta menjaga ketertiban dan keamanan negara. Jurnal ini juga membahas dasar hukum bela negara menurut Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 3 tahun 2003 tentang Pertahanan Negara. Saat pandemi, prioritas negara adalah menangani dan mencegah penyebaran Covid-19. Pentingnya masyarakat bekerjasama dengan pemerintah dan mematuhi aturan seperti tidak melakukan mudik agar virus tidak menyebar. Bela negara dapat dilakukan dengan solidaritas misalnya membantu sesama, mendukung tenaga medis, serta mendukung orang-orang yang sedang melakukan isolasi mandiri. Bela negara dapat dilakukan dengan berbagai cara positif sesuai kemampuan masing-masing demi kemajuan negara.
Nama : Agustin Dwi Rahayu
NPM : 2311011093
Kelas : Ganjil
Prodi : S1 Manajemen

Ketahan Nasional

Ketahan nasional adalah keuletan, keterampilan, ketangguhan dan kemampuan mengembangkan potensi nasional untuk menghadapi ancaman yang datang. Terdapat beberapa sumber ancaman, biasanya bersifat langsung, tidak langsung, luar dan dalam yang menyerang integritas, identitas, kelangsungan hidup serta perjuangan mencapai tujuan nasional.

Macam-macam ancaman:

1. Ancaman unsur trigatra:
a. Lokasi dan posisi geografis
b. Keadaan dan kekayaan alam
c. Kemampuan penduduk

2. Ancaman unsur panca gatra:
a. Ideologi
b. Politik
c. Ekonomi
d. Sosbud
e. Hankam

Hal yang harus dilakukan untuk melawan ancaman yang datang adalah sebagai berikut:
1. Peningkatan potensi laut dan darat
2. Kemampuan posisi dengan negara tetangga
3. Membangun kesadaran nasional untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan baik
4. Meningkatkan pendidikan
5. Menyediakan rangkaian nilai yang mampu menampung aspirasi
6. Demokrasi
7. Menyediakan sarana, modal, TK dan teknologi
8. Melestarikan tradisi, pendidikan serta kepemimpinan
9. Partisipasi dan kesadaran masyarakat
Nama : Agustin Dwi Rahayu
NPM : 2311011093

1. Bagaimanakah isi artikel tersebut dalam rangka penegakan Hak Asasi Manusia dan berikan analisismu secara jelas? Hal positif apa yang anda dapatkan setelah membaca artikel tersebut?

HAM di Indonesia masih sangat lemah, terdapat banyak pelanggaran yang tidak di adili secara serius, Pemerintah masih kurang memiliki rasa peduli terdapat pelanggaran ham yang terjadi. Hal positif yang saya dapatkan yauda, hendaklah kita sebagai generasi penerus bangsa untuk mengubah sistem peradilan HAM menjadi sistem yang seadil-adilnya.

2. Berikan analisismu mengenai demokrasi Indonesia diambil dari nilai-nilai adat istiadat/budaya asli masyarakat Indonesia! Bagaimanakah pendapatmu mengenai prinsip demokrasi Indonesia yang berke-Tuhanan yang Maha Esa ?

Diambil dari nilai-nilai budaya di Indonesia, demokrasi sangatlah dijunjung tinggi, hasil keputusan dari demokrasi adalah keputusan yang seadil-adilnya karena telah melewati musyawarah bersama. Prinsip demokrasi Indonesia yang berketuhanan yang maha esa sekarang ini kurang di dalami oleh anak bangsa, banyak orang-orang di sekitar kita yang menganggap agama itu tidak penting.

3. Bagaimanakah praktik demokrasi Indonesia saat ini apakah telah sesuai dengan Pancasila dan UUD NRI 1945 serta menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia?

Beberapa praktik demokrasi di Indonesia telah sesuai dengan Pancasila, namun masi banyak juga kekurangan yang ada, seperti mudahnya sistem peradilan untuk disogok dan kurang empati dari oknum itu sendiri, ham pun sering tidak diliat dalam praktik demokrasi di Indonesia, semua dilihat dari materinya.

4. Bagaimanakah sikap anda mengenai kondisi di mana anggota parlemen yang mengatas namakan suara rakyat tetapi melaksanakan agenda politik mereka sendiri dan berbeda dengan kepentingan nyata masyarakat?

Saya merasa sangat kecewa, seharusnya mereka sebagai perwakilan rakyat menjalankan amanah yang diberikan sesuai dengan tugasnya, mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi, sekarang perwakilan rakyat hanya berisi omong-omong saja tanpa adanya bukti mensejahterakan rakyat.

5. Bagaimanah pendapatmu mengenai pihak-pihak yang memiliki kekuasaan kharismatik yang berakar dari tradisi, maupun agama, tega menggerakan loyalitas dan emosi rakyat yang bila perlu menjadi tumbal untuk tujuan yang tidak jelas dan bagaimanakah hubungannya dengan konsep hak asasi manusia pada era demokrasi dewasa saat ini?

Oknum yang memiliki kuasa hendaklah menjalankan tugasnya dengan baik, mengedepankan kepentingan bersama, menghormati adanya HAM itu sendiri, karena tujuan awal nya adalah mensejahterakan kehidupan rakyat.