Kiriman dibuat oleh AZIKA EDRA AVIOLETA

Nama: Azika edra avioleta
Npm: 2311011044

1. Pendekatan klasik memiliki beberapa ciri, yaitu:
  • organisasi dianggap sebagai sistem rasional yang bisa dirancang dengan ilmu pengetahuan
  • Menitikberatkan pada efisiensi, keteraturan, serta aturan formal.
  • Memandang manusia sebagai makhluk ekonomi yang digerakkan oleh imbalan.
  • Menganalogikan organisasi seperti mesin, dimana pekerja hanyalah komponen yang harus disesuaikan agar berfungsi baik.
  • Peran manajer yang sangat krusial, terkait dalam perencanaan, pengendalian, dan penerapan prosedur standar.

2. Persamaan dan perbedaan karya Taylor, Fayol, dan Weber.

  • Persamaan adalah ketiga karya tersebut ingin menemukan cara sistematis untuk mengelola organisasi, menekankan rasionalitas, efisiensi, dan keteraturan, serta menjadi fondasi lahirnya ilmu manajemen modern.
  • Perbedaan adalah karya Taylor berfokus ke pekerja (bagaimana tugas dilakukan seefisien mungkin), karya Fayol berfokus ke manajer dan organisasi, (merumuskan fungsi manajemen; planning, organizing, actuating, controlling), karya Weber berfokus ke aturan & struktur (menciptakan konsep birokrasi; hierarki, aturan jelas, otoritas legal).

3. Pendekatan Klasik terhadap perubahan memiliki beberapa ciri utama, yaitu perubahan dilihat bisa dikendalikan lewat aturan dan perencanaan, fokus pada rasionalisasi proses, mengandalkan hierarki & kontrol yang ketat, serta ebih menekankan pada aturan dan struktur, bukan aspek manusia.

4. Perkembangan klasik & organisasi kerja:

  • Perkembangan klasik muncul saat Revolusi Industri, hal ini dikarenakan pabrik membutuhkan cara baru untuk mengatur kerja. Dari sini lahirlah teori Taylor, Fayol, dan Weber
  • Perkembangan organisasi kerja ditandai dengan munculnya pembagian tugas, penggunaan mesin, dan sistem pabrik. Serta peningkatan pada produktivitas, tapi pekerja sering mendapat kondisi kerja yang keras.
Nama: Azika edra avioleta
Npm: 2311011044

1. Mengapa organisasi melakukan perubahan?

jawab:  Organisasi melakukan perubahan dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas organisasi melalui penyesuaian proses, sumber daya manusia, budaya, serta kepemimpinan. Lingkungan yang dinamis (teknologi, pasar, regulasi, persaingan) memaksa organisasi untuk beradaptasi agar tetap relevan dan kompetitif, sehingga perubahan merupakan hal yang tidak bisa lagi terhindarkan.

2. Definisikan efektivitas organisasi dan kaitannya dengan perubahan organisasi!
jawab: Berdasar Robbins, 1967; Longman, 1978, efektivitas organisasi adalah kemampuan organisasi mencapai tujuan yang diinginkan. Efektivitas sendiri bergantung pada struktur, proses, orang, budaya, dan kepemimpinan.
Efektivitas organisasi berkaitan dengan perubahan karena perubahan dilakukan agar organisasi dapat mencapai atau mempertahankan efektivitas tersebut. Tanpa perubahan, organisasi berisiko kehilangan relevansi, efisiensi, bahkan keberlangsungan.

3. Bagaimana menghargai perbedaan antara perubahan individu, kelompok dan sistem?
jawab: Perlu diketahui;
Perubahan Individu dipengaruhi faktor perilaku (stimulus eksternal) dan pemaknaan (kesadaran internal).
Perubahan Kelompok berfokus pada norma, peran, dan nilai yang mengatur interaksi sosial. Perubahan kelompok menciptakan dinamika yang memengaruhi organisasi.
Pada perubahan Sistem, organisasi dipandang sebagai sistem terbuka yang saling memengaruhi (tujuan, teknis, psikososial, manajerial).
Menghargai perbedaan berarti memahami bahwa tingkat perubahan berbeda-beda (individu, kelompok, sistem), tetapi semuanya saling terhubung dan memengaruhi.

4. Bagaimana menghargai sifat penolakan terhadap perubahan dan kaitannya dengan komitmen dan kesiapan terhadap perubahan?
jawab: Penolakan terhadap perubahan (resistensi) tidak selalu menjadi hal buruk, bisa jadi merupakan masukan berharga bahwa perubahan mungkin kurang tepat atau terlalu mendalam.
Penolakan muncul dari faktor psikologis (ketidaknyamanan, rasa tidak aman), struktural, atau nilai yang terganggu.
Kaitannya dengan komitmen & kesiapan:
Biasanya jika karyawan merasa dilibatkan, adil, dan perubahan sesuai nilai, maka komitmen meningkat, resistensi menurun.
Dan jika organisasi tidak siap (budaya, sistem, individu), maka resistensi lebih tinggi.
Jadi, resistensi perlu dihargai sebagai peluang evaluasi agar komitmen dan kesiapan meningkat.

5. Bagaimana peran dan keterampilan agen perubahan?
jawab: Peran utama agen perubahan adalah pemimpin tim, fasilitator, pelatih, manajer proyek, atau konsultan yang mengelola proses perubahan. Agen perubahan tidak hanya fasilitator, tetapi juga penggerak utama yang menciptakan makna, mengelola resistensi, dan memastikan keberhasilan transformasi.
Sedangkan keterampilan dari agen perubahan adalah:
- Diagnostik, kemampuan menilai kesiapan organisasi.
- Komunikasi & Negosiasi, kemampuan menyampaikan pesan, membangun dukungan, mengatasi resistensi.
- Manajerial, kemampuan menetapkan tujuan, mengarahkan strategi, mengelola hubungan dengan manajemen atas.
- Interpersonal & Kreatif, kemampuan membangun kepercayaan, menciptakan rasa aman, menggunakan simbol/ritual untuk memperkuat makna perubahan.
Nama: Azika edra avioleta
Npm: 2311011044
Prodi: S1 Manajemen

Analisis video:
Berdasarkan video diatas, dijelaskan bahwa ketahanan nasional meliputi ketekunan, kemampuan, dan ketangguhan suatu bangsa dalam memanfaatkan potensi yang dimilikinya dalam menghadapi berbagai ancaman yang ada, baik ancaman secara langsung, eksternal, internal, atau tidak langsung.

Ada ancaman lain yaitu ancaman pada unsur Trigatra, yang meliputi letak geografis, kondisi Alam dan kekayaan, serta daya dukung penduduk.
Mengatasi ancaman ini bisa dilakukan dengan beberapa hal:
Meningkatkan kemampuan berdiplomasi dengan negara yang ingin memanfaatkan kekayaan yang ada di Indonesia, mengelola SDA secara bijak agar tidak dieksploitasi oleh asing, meningkatkan pendidikan dan pelatihan.

Kemudian ada ancaman unsur panca gatra, yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan keamanan.
Ancaman ini merupakan unsur sosial, sehingga bisa dicegah dengan:
Menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, memastikan demokrasi sebagai bentuk kekuasaan tertinggi tetap berada di tangan rakyat, meningkatkan fasilitas, modal, serta teknologi, melindungi tradisi budaya Indonesia, dan yang terakhir adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pertahanan dan keamanan.
Nama: Azika edra avioleta
Npm: 2311011044
Prodi: S1 Manajemen

Analisis jurnal "Semangat Bela Negara di Tengah Pandemi COVID-19"

Jurnal tersebut menegaskan bahwasanya bela negara merupakan kewajiban bagi seluruh warga negara, terutama di masa pandemi COVID-19. Bela negara sendiri sangat penting bagi kemajuan nasional dan penyelesaian konflik. Dan bagaimana bela negara dalam kondisi pandemi COVID-19? hal tersebut dilakukan dengan mematuhi peraturan pemerintah, menghindari penyebaran hoaks, dan melindungi diri sendiri dan orang lain dari virus. Hal-hal tersebut mencerminkan kesetiaan dan kecintaan terhadap negara.
Nama: Azika edra avioleta
Npm: 2311011044
Prodi: S1 Manajemen

A. Penegakan HAM di Indonesia pada tahun 2019 sangatlah buruk, dikatakan buruk karena masih terdapat berbagai pelanggaran terjadi. Juga masih terdapat tantangan dalam penegakan hak asasi manusia dalam demokrasi Indonesia, yang berakar pada nilai-nilai budaya asli masyarakat. Karena itu artikel ini mengkritik kebijakan yang didasarkan pada asumsi moralitas dan populisme semata tanpa data dan ilmu terkait penegakan Hak Asasi Manusia. Hal ini termasuk dalam upaya reformasi untuk perlindungan hak asasi manusia yang lebih baik.

B. Demokrasi Indonesia yang diambil dari nilai-nilai adat istiadat/budaya asli masyarakat Indonesia menunjukkan keberagaman dan keadilan dalam pengambilan keputusan. Prinsip gotong royong, musyawarah untuk mufakat, dan kebersamaan sangat ditekankan dalam proses demokrasi, mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal yang turut memperkuat demokrasi di Indonesia.
Prinsip demokrasi Indonesia yang berke-Tuhanan yang Maha Esa menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia dijalankan dengan mengakui keberadaan Tuhan sebagai landasan moral dan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Prinsip ini memperkuat nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kemanusiaan dalam sistem demokrasi Indonesia, sehingga diharapkan mampu menciptakan tatanan sosial yang lebih harmonis dan berkeadilan.

C. Praktik demokrasi di Indonesia saat ini belum sepenuhnya sesuai dengan Pancasila dan UUD NRI 1945 serta nilai hak asasi manusia. Masih terdapat pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh aparat keamanan, pembatasan kebebasan berekspresi dan beragama yang sewenang-wenang, diskriminasi gender, kegagalan dalam menghadirkan keadilan, dan peningkatan pelanggaran HAM di Papua.

D. Hal ini sangat memprihatinkan. Karena menunjukkan ketidakjujuran dan ketidakadilan dalam mewakili suara rakyat serta mengkhawatirkan bahwa kepentingan pribadi lebih utamakan daripada kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Praktik semacam ini merusak prinsip demokrasi yang seharusnya mewakili kehendak rakyat dan menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama.

E. Hal tersebut merupakan tindakan yang tidak etis, karena dapat mengancam hak asasi manusia, terutama hak-hak individu seperti kebebasan berpendapat, hak atas keadilan, dan hak untuk tidak menjadi korban manipulasi politik. Dalam era demokrasi dewasa saat ini, prinsip hak asasi manusia harus dijunjung tinggi, dan tindakan semacam itu harus ditolak demi menjaga keadilan dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.