Posts made by Astin Trimartalena

EKONDUS C2025 -> DISKUSI

by Astin Trimartalena -
Nama: Astin Trimartalena
Npm: 2213031081

Setelah menyimak video “Artificial Intelligence and Industry 5.0: The Future on a Human Scale”, saya memahami bahwa dunia industri kini memasuki fase baru yang disebut Industry 5.0, yaitu tahap ketika manusia dan teknologi bekerja secara kolaboratif, bukan saling menggantikan. Jika pada era Industry 4.0 penekanannya terletak pada otomatisasi dan digitalisasi, maka Industry 5.0 mengembalikan peran manusia sebagai pusat dalam proses produksi. Video tersebut menjelaskan bahwa integrasi antara manusia dan kecerdasan buatan (AI) menghasilkan sistem produksi yang lebih adaptif, efisien, serta mampu merespons kebutuhan dengan lebih cerdas. Robot tidak lagi sekadar mengikuti instruksi, tetapi mampu belajar dan menyesuaikan diri untuk membantu manusia dalam pekerjaan berat maupun berbahaya.

Industry 5.0 menekankan harmoni antara kemajuan teknologi dan nilai kemanusiaan. Dalam konsep Smart Factories, pabrik modern dirancang untuk mengutamakan keberlanjutan serta kenyamanan pekerja. Teknologi tidak hanya dimanfaatkan untuk meningkatkan kecepatan produksi, tetapi juga untuk meminimalkan limbah, mengoptimalkan penggunaan energi, serta mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan kembali bahan produksi. Hal ini menunjukkan bahwa revolusi industri pada tahap ini tidak semata soal produktivitas, tetapi juga kepedulian terhadap lingkungan dan kesejahteraan sosial.

Kaitannya dengan perkuliahan adalah menegaskan bahwa manusia berperan sebagai co-creator dalam ekosistem industri berbasis teknologi tinggi. Pandangan tersebut sejalan dengan isi video, bahwa masa depan industri bukan tentang menggantikan peran manusia oleh mesin, melainkan membangun sinergi antara keduanya. Dengan kemajuan AI, robotika, dan energi terbarukan, Industry 5.0 membuka ruang yang luas bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam menciptakan pabrik cerdas yang inovatif, berkelanjutan, dan tetap mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan.

EKONDUS C2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Astin Trimartalena -
Nama: Astin Trimartalena
Npm: 2213031081

Hasil telaah terhadap jurnal pertama karya Muchtar Ahmad menunjukkan bahwa kebijakan industrialisasi Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Jurnal tersebut menyoroti absennya strategi industrialisasi yang terarah, terlihat dari munculnya gejala deindustrialisasi seperti relokasi industri ke negara lain, lemahnya realisasi investasi, serta ketidakmampuan pemerintah merespons dinamika ekonomi global. Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah termasuk PP No. 1/2007 maupun Inpres No. 6/2007 dinilai belum cukup antisipatif dan tidak mampu menciptakan koordinasi lintas sektor secara efektif. Upaya pemberian insentif fiskal pun masih bersifat sementara dan tidak didukung oleh roadmap yang komprehensif. Karena itu, jurnal ini menegaskan pentingnya perencanaan strategis jangka panjang yang mengintegrasikan kebijakan makro pemerintah dengan strategi mikro perusahaan guna menciptakan sinergi pembangunan industri nasional.

Sementara itu, jurnal kedua yang ditulis oleh Ade Faisal membahas kebijakan pembangunan industri berbasis kawasan atau aglomerasi sebagai salah satu program prioritas pemerintah, khususnya melalui pengembangan 14 Kawasan Industri Prioritas (KIP) di luar Pulau Jawa. Namun, implementasi program tersebut menghadapi hambatan signifikan, antara lain perencanaan yang belum matang, rendahnya minat investor untuk masuk ke kawasan industri, serta kesulitan dalam proses pembebasan lahan. Jurnal ini menekankan bahwa pendekatan berbasis kawasan hanya dapat berhasil jika disertai dukungan fundamental seperti insentif investasi yang menarik, infrastruktur yang memadai, dan keterkaitan antarsektor industri. Contoh keberhasilan Korea Selatan dan Taiwan menunjukkan bahwa industrialisasi yang efektif membutuhkan tahapan pembangunan yang sistematis serta kemitraan yang kuat antara pemerintah dan pelaku usaha.

Telaah terhadap dua jurnal tersebut memperlihatkan bahwa tantangan utama industrialisasi Indonesia terletak pada lemahnya strategi, koordinasi, dan implementasi kebijakan. Jurnal pertama menekankan perlunya integrasi kebijakan makro dan strategi mikro agar arah industrialisasi lebih jelas, sementara jurnal kedua menyoroti pentingnya pendekatan berbasis kawasan yang diperkuat oleh perencanaan matang, infrastruktur, serta kolaborasi pemerintah swasta. Secara keseluruhan, keduanya menyimpulkan bahwa keberhasilan industrialisasi Indonesia sangat bergantung pada strategi jangka panjang yang konsisten, dukungan kebijakan yang terpadu, dan keterlibatan aktif para pelaku industri dalam setiap tahapan pembangunan.

EKONDUS C2025 -> DISKUSI

by Astin Trimartalena -
Nama: Astin Trimartalena
Npm: 2213031081

Artikel tersebut menjelaskan bahwa globalisasi adalah proses yang membawa dunia kembali pada kondisi di mana batas-batas geografis menjadi semakin tidak relevan, mirip dengan konsep komunitas global tanpa sekat. Arus mobilitas, perdagangan, dan komunikasi yang kini lebih bebas terjadi karena kemajuan teknologi, terutama teknologi informasi, yang mempermudah hubungan antarnegara. Globalisasi memberikan sejumlah keuntungan bagi berbagai pihak. Negara maju mendapat manfaat berupa meningkatnya permintaan dan perluasan jaringan pasar, sedangkan negara berkembang memperoleh manfaat dari pertukaran keterampilan, peningkatan kesejahteraan, dan akses bahan baku maupun barang jadi yang lebih baik.

Selain aspek ekonomi, globalisasi turut memengaruhi dinamika politik internasional. Peran organisasi global seperti PBB dan Uni Eropa menjadi lebih strategis dalam menangani konflik, menjaga perdamaian, serta mencegah perang. Globalisasi juga mendukung upaya mengatasi masalah diskriminasi rasial, ketidakadilan, dan intoleransi agama, serta memperkuat kerja sama internasional dalam penanganan bencana, misi kemanusiaan, dan operasi penyelamatan. Meski demikian, globalisasi tetap memiliki sisi negatif. Proses ini dapat memicu berbagai bentuk konflik, termasuk konflik komunal, yang berpotensi merusak kehidupan sosial dan menyebabkan kerugian materi yang besar.