གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Rahma Amelia

BK kls 3A 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

Rahma Amelia གིས-
Nama: Rahma Amelia
NPM: 2213054043

1. TEMPRAMENTAL DALAM PERSPEKTIF BIOLOGIS
Temperamen dalam perspektif biologi Merujuk pada sifat-sifat bawaan individu yang mempengaruhi respon terhadap lingkungan dan perubahan suasana hati. Hal ini seringkali diasosiasikan dengan faktor-faktor genetik dan neurobiologis yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang merespons berbagai stimulus atau situasi. Temperamen adalah gejala karakteristik dari sifat individu, termasuk juga mudah tidaknya terkena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala cara daripada fluktuasi dan intensitas suasana hati. Gejala ini bergantung pada faktor konstitusional (tubuh)."
Gordon Allport .

2. TEORI PSIKOSEKSUAL DARI FREUD DAN TEORI PSIKOSOSIAL DARI ERIKSON
Freud percaya energi psikoseksual, atau libido, digambarkan sebagai kekuatan pendorong di belakang perilaku. Menurut Freud kepribadian sebagian besar dibentuk pada lima tahun pertama dan akan berpengaruh besar terhadap perkembangan selanjutnya di kemudian hari. Jika tahap-tahap psikoseksual selesai dengan sukses, hasilnya adalah kepribadian yang sehat. Freud membagi menjadi 5 fase
1. Fase Oral
Yaitu antara usia 0-1,5 tahun, dikatakan fase oral karena pada masa ini bagi bayi, mulut merupakan hal yang dapat memicu kesenangannya dengan mencicipi atau menghisap sesuatu, contohnya seperti menghisap tangannya sendiri atau payudara ibu.
2. Fase Anal
Yaitu antara usia 1,5-3 tahun, pada tahap ini fungsi utama libido adalah pada pengendalian kandung kemih dan buang air besar. Contohnya seperti melatih anak untuk buang air kecil atau besar ke toilet dengan baik.
3. Fase Phallic
Yaitu antara usia 3-5 tahun, pada fase ini fokus utama libido adalah pada alat kelamin. Yang terpenting pada fase ini yaitu munculnya oedipus complex, yang diikuti oleh fenomena castration anxiety (Kecemasan terpotongnya penis) pada laki-laki dan penis envy (kecemburuan penis) pada perempuan. oedipus complex yaitu ketika anak laki-laki akan menganggap ayahnya sebagai kompetitornya dalam berebut kasih sayang ibunya, pun pada perempuan sebaliknya.
4. Fase Laten
Yaitu antara usia 5-12 tahun/pubertas, pada fase ini libido seakan “tidur” dan akan bangkit lagi dengan kekuatan penuh kelak di masa pubertas tiba. Di fase ini, anak akan memilingi rasa ingin tahu yang besar tentang berbagai hal.
5. Fase Genital
Yaitu usia 12 tahun (pubertas) sampai seterusnya merupakan tahap akhir dari psikoseksual. Pada fase ini seseorang akan mengalami perubahan yang besar dalam diri maupun dunianya, dan masa ini pula seseorang akan mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis.

Teori psikososial adalah teori yang menjelaskan bahwa perkembangan manusia dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang menjadikan manusia matang secara fisik dan psikologis. Menurut Erikson setiap tahap memiliki kemungkinan pemecahan positif maupun negatif. Kegagalan pada tahap tertentu akan mempengaruhi tahap-tahap berikutnya. Erikson membagi rentang kehidupan dalam delapan tahap dengan nama, dan komponen-komponen dasar sebagai berikut :
1. masa bayi, tahap percaya lawan tidak percaya:
2. masa kanak-kanak, tahap otonomi lawan rasa malu dan ragu-ragu;
3. usia prasekolah, tahap inisiatif lawan rasa bersalah;
4. usia sekolah, tahap industri lawan rasa rendah diri;
5. masa remaja, tahap identitas lawan keraguan akan identitas;
6. masa awal dewasa, tahap keakraban lawan perasaan terasing;
7. masa dewasa, tahap produktif lawan keadaan pasif; dan
8. masa tua, tahap integritas lawan putus asa.

3. PERSPEKTIF PEMBELAJARAN
TEORI SKINNER
Burrhus Frederic Skinner percaya bahwa suatu perubahan tingkah laku seseorang akan ada konsekuensinya. Selain itu, Skinner juga yakin bahwa setiap orang pasti akan belajar demi meningkatkan atau menguatkan tingkah lakuknya agar tidak mendapatkan ganjaran yang buruk. Pada teori pengkondisian operan (operant conditioning), tingkah laku seseorang bisa dilakukan berulang kali atau bahkan bisa saja menghilang semua itu tergantung dari keinginan dari orang tersebut. Burrhus Frederic Skinner mengembangkan teori pengkondisian operan (operant conditioning) melalui penelitian dengan menggunakan seekor tikus. Tikus yang dijadikan bahan penelitian dan percobaan itu diletakkan di dalam sebuah peti yang dinamakan skinner box atau kotak skinner. Kotak skinner ini terdiri dari dua macam komponen utama, yaitu manipulandum dan alat pemberi reinforcement.
TEORI WATSON
Teori belajar behavioristik John Watson adalah salah satu aliran dalam pemahaman tingkah laku manusia yang dikembangkan oleh John B. Watson. Berikut adalah perspektif teori pembelajaran Watson:
1. Psikologi mempelajari stimulus dan respon (SR Psikologi)
2. Psikologi harus menjadi ilmu yang obyektif, karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi
3. Psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam
4. Perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya. Jadi psikologi adalah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku
5. Perubahan mental terjadi ketika seseorang belajar, namun faktor-faktor ini tidak dapat diamati dan karena itu tidak perlu
6. Belajar adalah proses interaksi antara rangsangan dan tanggapan, tetapi rangsangan dan tanggapan yang dimaksud harus dapat diukur dan diukur
7. Kebiasaan yang merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua hukum utama, terkini dan frekuensi
8. Watson mendukung conditioning respon Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike
9. Pandangan Watson tentang ingatan yang dibawa pada pertentangan dengan William James. Menurut Watson, apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan.
TEORI BANDURA
Teori pembelajaran sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura menjelaskan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh interaksi timbal balik antara kognitif, perilaku, dan pengaruh lingkungan. Teori ini juga menjelaskan bahwa perilaku baru dapat terbentuk melalui proses peniruan atau pemodelan. Beberapa dampak dari teori pembelajaran sosial Bandura dalam pembelajaran antara lain:
1. Pembelajaran Modeling: Manusia belajar melakukan antisipasi terhadap penguatan yang akan muncul dalam situasi tertentu, dan perilaku antisipasi awal ini menjadi langkah awal dalam banyak tahapan perkembangan
2. Pembelajaran Observasional: Pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain
3. Pengaruh lingkungan: Kondisi lingkungan individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial sekitar jenis ini.

4. PERSPEKTIF KOGNITIF
TEORI PAIGET
Teori kognitif Piaget adalah teori konstruktivis kognitif yang menjelaskan bahwa anak-anak akan terus berinteraksi dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Hasil dari interaksi tersebut akan menghasilkan sebuah hal yang bernama skema atau skemata. Tahapan teori Piaget dalam perkembangan kognitif anak adalah sebagai berikut:
1. Tahap Sensorimotor (Usia 0 Hingga 2 Tahun): Pada tahap ini, anak-anak belajar melalui pengalaman sensorik dan motorik. Mereka mulai memahami objek dan lingkungan sekitar melalui indera mereka. Anak-anak pada tahap ini juga mulai mengembangkan kemampuan untuk memahami bahwa objek tetap ada meskipun tidak terlihat.
2. Tahap Praoperasional (Usia 2 Hingga 7 Tahun): Pada tahap ini, anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir secara simbolik dan menggunakan bahasa. Mereka juga mulai memahami konsep waktu dan ruang. Namun, anak-anak pada tahap ini masih sulit memahami perspektif orang lain dan cenderung berpikir egosentris.
3. Tahap Operasional Konkret (Usia 7 Hingga 12 Tahun): Pada tahap ini, anak-anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir secara logistik dan sistematis. Mereka juga mulai memahami konsep kausalitas dan dapat memahami perspektif orang lain. Namun anak-anak pada tahap ini masih sulit memahami konsep abstrak.
4. Tahap Operasional Formal (Usia 12 Tahun Ke Atas): Pada tahap ini, anak-anak mulai mengembangkan kemampuan berpikir secara abstrak dan dapat memahami konsep-konsep yang kompleks. Mereka juga mulai mengembangkan kemampuan berpikir tentang kemungkinan dan hipotesis.
TEORI VYGOTSKY
Teori kognitif anak menurut Vygotsky menekankan peran kunci dari interaksi sosial, budaya, dan bantuan orang dewasa dalam membentuk kemampuan kognitif anak. Berikut adalah beberapa asumsi yang diutarakan oleh Vygotsky sebagai inti pandangan darinya:
1. Keahlian kognitif dapat dipahami bila dijelaskan dan dikonversi secara berkaitan dengan asal usulnya dan perubahan dari bentuk awal ke bentuk selanjutnya
2. Perkembangan kognitif seseorang sejalan dengan teori sosiogenesis
3. Zona perkembangan aktual dan potensi anak merupakan konsep penting dalam teori Vygotsky
4. Kemampuan kognitif berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konsep budaya
5. Keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung dengan manusia
6. Perkembangan kognitif dan bahasa anak-anak tidak berkembang dalam situasi sosial yang hampa.

5. PERSPEKTIF KONTEKSTUAL TEORI EKOLOGI BRONFRENBRENNER
Teori perkembangan ekologi anak oleh Uri Bronfenbrenner memandang bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh konteks lingkungan. Teori ini mencoba menguraikan pengembangan pendidikan karakter anak dengan pendekatan ekologi. Teori perkembangan ekologi membagi lingkungan menjadi empat kondisi, yaitu:
1. Mikrosistem : Menunjukkan situasi dimana individu hidup dan saling berhubungan dengan orang lain. Konteks ini meliputi keluarga, teman, sebaya, sekolah, dan lingkungan sosial lainnya. Dalam mikrosistem inilah terjadi interaksi yang paling langsung dengan agen-agen sosial
2. Mesosistem : Menunjukkan hubungan antara dua atau lebih mikrosistem atau hubungan beberapa konteks. Misalnya hubungan antara rumah dan sekolah. Jadi disini terciptalah hubungan antara kondisi lingkungan rumah dan sekolah. Keduanya tentu memiliki peran yang sama. Ketika keduanya memiliki kondisi yang baik maka akan...
3. Eksosistem : Eksosistem dalam teori ekologi Bronfenbrenner dilibatkan ketika pengalaman-pengalaman dalam setting sosial lain, di mana individu tidak memiliki peran yang aktif, mempengaruhi apa yang individu alami dalam konteks yang dekat. Misalnya, pengalaman kerja dapat mempengaruhi hubungan seorang perempuan dengan suami dan anaknya
4. Makrosistem : Menunjukkan kondisi lingkungan yang lebih luas dan abstrak, seperti budaya, norma, dan nilai-nilai sosial.


6. PERSPEKTIF EVOLUSIONARI/ SOSIO-BIOLOGIK TEORI ATTACHMENT DARI BOWLBY DAN AINSWORTH
Mary Ainsworth adalah seorang psikolog perkembangan yang bekerja dengan John Bowlby di Klinik Tavistock di Inggris di mana dia memulai penelitiannya tentang keterikatan ibu-bayi. Dia dikenal karena pengembangan penilaian “Situasi Aneh” yang digunakan untuk mengamati keterikatan anak. Ainsworth mengidentifikasi ada tiga gaya keterikatan utama: aman, tidak aman-menghindar, dan tidak aman-ambivalen. Teori keterikatan pada awalnya dikembangkan oleh John Bowlby, seorang psikoanalis asal Inggris yang mencoba memahami tekanan hebat yang dialami oleh bayi yang terpisah dari orang tuanya. Bowlby mengamati bahwa bayi yang terpisah akan melakukan upaya luar biasa untuk mencegah perpisahan dari orang tuanya atau untuk membangun kembali kedekatan dengan orang tuanya yang hilang. Menurut Bowlby, sistem keterikatan pada dasarnya "mengajukan" pertanyaan mendasar berikut: Apakah sosok keterikatan itu dekat, mudah diakses, dan penuh perhatian?
Teori keterikatan Bowlby dan Ainsworth mencoba menguraikan pola hubungan antara orang tua dan anak yang dimulai sejak lahir. Attachment merupakan suatu perilaku spesifik pada diri manusia, yaitu kecenderungan dan keinginan seseorang untuk mencari kedekatan dengan orang lain serta mencari kepuasan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Bowlby mengidentifikasi empat fase keterikatan: (1) fase pra-keterikatan (lahir hingga 3 bulan), (2) fase keterikatan dalam pembuatan (4 hingga 7 bulan), (3) fase keterikatan yang jelas (7 bulan). hingga 2 tahun), dan (4) fase pembentukan hubungan timbal balik (2 tahun ke atas). Singkatnya, kontribusi Mary Ainsworth terhadap teori keterikatan adalah konsep basis yang aman. John Bowlby dan Mary Ainsworth mengidentifikasi bahwa ada tiga gaya keterikatan utama: aman, penghindaran tidak aman, dan ambivalen tidak aman. Bowlby mengidentifikasi empat fase keterikatan: pra-keterikatan, keterikatan dalam pembuatan, keterikatan yang jelas, dan pembentukan hubungan timbal balik.


7. PERSPEKTIF MORAL TEORI KOHLBERG
Teori perkembangan moral Kohlberg adalah teori yang dikemukakan oleh psikolog Lawrence Kohlberg. Teori ini menyatakan bahwa perbuatan moral bukanlah hasil dari sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan norma kebudayaan, melainkan penalaran moral yang merupakan dasar dari perilaku yang etis. Terdapat tiga tingkatan atau tahapan perkembangan moral dalam teori Kohlberg, yaitu prakonvensional, konvensional, dan postkonvensional. Tahapan perkembangan moral merupakan ukuran dari tinggi hingga rendahnya teori moral individu berdasarkan perkembangan penalaran moralnya. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai level ketiga tersebut:
Level 1 (Prekonvensional) : Pada level ini, individu menilai moralitas dari tingkah laku yang ada dan dibuat berdasarkan konsekuensinya secara langsung. Terdapat dua tahap awal pada level prakonvensional, yaitu tahap awal dan murni melihat diri dalam bentuk egosentris. Tahap pertama individu yang memfokuskan diri pada konsekuensinya langsung dari tingkah laku yang dibuat yang mereka rasakan sendiri. Contohnya seperti suatu tingkah laku yang dijadikan contoh atau dianggap keliru jika dinilai secara moral jika orang yang memperagakannya di tingkat hukum. Sedangkan pada tahap kedua, individu dengan nyata melihat dirinya dalam bentuk egosentris
Level 2 (Konvensional) : Pada level ini, individu menilai moralitas dari sudut pandang norma sosial dan peran yang dimainkan dalam masyarakat. Terdapat dua tahap pada tingkat konvensional, yaitu tahap orientasi pada otoritas dan tahap orientasi pada hukum dan penegakan sosial
Level 3 (Postkonvensional) : Pada level ini, individu menilai moralitas dari sudut pandang prinsip moral yang universal dan abstrak. Terdapat dua tahap pada level postkonvensional, yaitu tahap orientasi pada kontrak sosial dan tahap orientasi pada prinsip moral universal.

BK kls 3A 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

Rahma Amelia གིས-
lanjutan

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN AUD
1. genetik/hereditas merupakan faktor internal yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu. Hereditas sendiri dapat diartikan sebagai totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua. Sejalan dengan itu, faktor genetik dapat diartikan sebagai segala potensi (baik fisik maupun psikis) yang dimiliki individu sejak masa prakelahiran sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen yang dimuliki oleh orang tua.
2. lingkungan. Lingkungan disini memiliki arti luas. Bisa berupa lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam hal ini lingkungan diartikan sebagai keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik dan masyarakat tempat anak bergaul dan juga bermain sehari-hari. Lingkungan merupakan faktor eksternal yang turut membentuk dan mempengaruhi perkembangan individu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa faktor genetik bersifat potensial dan lingkungan yang akan menjadikannya aktual. Ada beberapa faktor lingkungan yang sangat menonjol yakni dalam lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan awal bagi seorang anak, segala tingkah laku maupun perkembangan yang muncul pada diri anak adalah hasil asuhan dari kedua orang tuanya di rumah.
3. kondisi kehamilan. Kondisi kehamilan pada dasarnya tumbuh kembang anak sudah dimulai sejak dalam kandungan. Tumbuh kembang janin di dalam
kandungan sangat pesat. Oleh karena itu janin harus benar-benar dijaga jangan sampai mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya. Kondisi kehamilan ibu dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya anak. Sementara itu masih terdapat kurang baiknya kondisi kehamilan hal tersebut disebabkan oleh pada saat ibu hamil karena ibu mengalami stres yang berat, mengalami mual muntah yang berlebihan, paparan rokok pada kehamilan dan nafsu makan yang buruk.
4. komplikasi persalinan. Komplikasi persalinan dapat mempengaruhi perkembangan anak balita. Karena jika ada komplikasi pada saat persalinan pada saat nanti anak tersebut tumbuh dan berkembang akan ada gangguan perkembangan. Untuk antisipasi pada saat persalinan ibu ataupun keluarga serta bidan atau tenaga kesehatan yang membantu proses persalinan harus lebih memperhatikan kondisi ibu pada saat persalinan. Sebagian besar komplikasi persalinan mempengaruhi
perkembangan anak balita, karena anak balita yang waktu persalinan dahulu tedapat komplikasi persalinan tidak normal perkembangannya. Jadi, menurut peneliti terdapat hubungan antara komplikasi persalinan dengan perkembangan anak balita.
5. pemenuhan nutrisi. Peran ibu sangatlah penting dalam pemenuhan nutrisi dalam perkembangan anak karena apa yang dimakan anak akan asupan gizi untuk menjadi zat pembangun pertumbuhan dan perkembangan anak. Agar perkembangan anak sesuai dan normal sesuai dengan umur anak. Satu aspek penting dalam pemberian makanan pada anak yaitu keamanan makanan dan terbebas dari berbagai racun kimia yang kian mengancam kesehatan anak. Pemenuhan nutrisi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan anak.
6. perawatan kesehatan. Perawatan kesehatan adalah perawatan kesehatan yang teratur, tidak saja saat anak sakit, tetapi pemeriksaan kesehatan dan menimbang anak secara rutin setiap bulan, akan menunjang pada tumbuh kembang anak. Perawatan kesehatan berperan penting dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Anak balita yang rutin melakukan perawatan kesehatan maka pertumbuhan dan perkembangannya bisa diberikan stimulus untuk merangsang perkembangan anak balita tersebut.
7. kerentanan terhadap penyakit. Anak yang menderita penyakit menahun akan terganggu tumbuh kembangnya dan pendidikannya, disamping itu anak juga mengalami stres yang berkepanjangan akibat dari penyakitnya. Penyakit menahun yang dimaksud adalah ISPA dan diare karena dipengaruhi faktor cuaca yang sering tidak stabil dan makanan yang dimakan balita tidak terjaga juga kebersihan dot/tabung susu balita yang tidak bersih.
8. perilaku pemberian stimulus pendidikan dan pengetahuan orangtua sangat berpengaruh terhadap pemberian stimulasi, karena dengan pendidikan dan pengetahuan yang semakin tinggi, orangtua dapat mengarahkan anak sedini mungkin dan akan mempengaruhi daya pikir anak untuk berimajinasi. Latar belakang
keluarga yang mendukung juga mempengaruhi prestasi anak. Perkembangan anak dapat berlangsung sesuai tahapan usianya baik melalui stimulasi langsung dari orangtua, melalui alat permainan, anggota keluarga lain, sosialisasi anak dengan orang dewasa maupun teman sebaya di lingkungan tempat tinggalnya.

BK kls 3A 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

Rahma Amelia གིས-
Nama: Rahma Amelia
NPM: 2213054043
KARATERISTIK PERKEMBANGAN AUD
Anak lahir membawa potensi d a n berwujud fisik maupun nonfisik;berupa qalb,akal,emosi,dan beragam kecerdasan. Dalam perjalanan waktu, setiap potensi yang dibawa oleh anak-anak akan mengalami dua kemungkinan: tumbuh dan berkembanga tau sebaliknya. Diantara tahapan perkembangan, para ahli umumnya menyatakan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa terpenting dalam rentang kehidupan manusia masa yang sangat signifikan bagi tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Masa usia dini merupakan masa yang sangat fundamental bagi perkembanganseorang anak, dimana pada masa ini proses perkembangan berjalan dengan pesat.Montessori dalam Hainstock (1999:10-11) mengatakan bahwa masa ini merupakan periode sensitif(sensitiveperiods), karena selama masa inilah anak secara khusus mudah menerima stimulus-stimulus dari lingkungannya. Pada masa ini anak siap melakukanberbagaikegiatan dalam rangka memahami dan menguasai lingkungannya. Selanjutnya Montessori menyatakan bahwa usia keemasan dimanaanak mulai peka untuk menerima berbagai stimulasi dan berbagai upaya pendidikan dari lingkungannya baik disengaja maupun tidak disengaja. Pada masa peka inilah terjadi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis sehingga anak siap merespon dan mewujudkan semua tugas-tugas perkembangan yang diharapkan muncul pada pola perilakunya sehari-hari (Hainstock, 1999). Proses perkembangan pada masausia dini, berjalan dengan pesat. Pemahaman perkembangan pada seorang anak pada dasarnya merupakan upaya melihat dan memahami perubahan-perubahan yang telah, sedang, dan terus terjadi. Setiap anak manusia akan berkembang dari sejak bayi, kanak-kanak, remaja, hingga dewasa dengan kondisi yang berbeda satu sama lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tanpa terasa perlahan tapi pasti perubahan itu terus terjadi, ke arahyanglebih besar, lebih tinggi, lebih tahu, lebih pintar dan lebih segala sesuatunya dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Perubahan-perubahan seperti itulah yang dinamakan perkembangan.

CIRI-CIRI PERKEMBANGAN AUD
Kartini Kartono dalam Syamsu Yusuf (2002) mengungkapkan ciri khas anak masa kanak-kanak sebagai berikut.
a. Bersifat egosentris naif
b. Relasi sosial yang primitif
c. Kesatuan jasmani dan rohani yang hampir tidak terpisahkan
d. Sikap hidup yang fisiognomis


PRINSIP-PRINSIP PERKEMBANGAN AUD
1. Aspek-aspek perkembangan anak seperti fisik, sosial,emosional, dan kognitif satu sama lain saling terkaitsecara erat.
2. Perkembangan terjadi dalam suatu urutan.
3. Perkembangan berlangsung dengan rentang yang bervariasi antar anak dan juga antar bidang perkembangan dari masing-masing fungsi.
4. Pengalaman pertama anak memiliki pengaruh kumulatif dan tertunda terhadap perkembangan anak.
5. Perkembangan berlangsung kea rah kompleksitas, organisasi, dan internalisasi yang lebih meningkat.
6. Perkembangan dan belajar terjadi dipengaruhi oleh konteks sosial dan cultural yang majemuk.

ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN AUD
1. Perkembangan Nilai Agama dan Moral
Aspek perkembangan pertama dan yang paling utama untuk diajarkan kepadaa anak adalah nilai agama dan moral. Hal ini berfokus dalam menanamkan nilai-nilai dasar, norma-norma yang berlaku hingga kesadaran. Anak perlu mengenal agama dan menjalankan ibadah agar lebih memahami arah hingga tujuan mereka dengan baik sejak dini. Tidak hanya itu, belajar agama dan moral banyak manfaat serta menanamkan sikap-sikap baik pada anak seperti menolong sesama, bersikap jujur, sopan, menghormati orang yang lebih tua, hingga toleransi dengan penganut agama yang berbeda.
2. Perkembangan Fisik-Motorik
Perkembangan fisik dan perilaku keselamatan. Hal ini meliputi berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala yang sesuai dengan ukuran anak seumuran. Selain itu, perilaku keselamatan ini meliputi kemampuan hidup anak yakni bersih dan juga sehat untuk keselamatan diri sendiri. Anak juga memiliki motorik halus baik yang meliputi kemampuan mereka dalam menggunakan alat untuk ekspresi diri dan juga eksplorasi. Contohnya yaitu menggunakan pensil, bermain dengan boneka dan lain sebagainya. dan . Contohnya yaitu menjaga keseimbangan, lincah, dan juga lentur sesuai peraturan. Bunda dapat melatih motorik kasar Si Kecil dengan mengajak mereka berolahraga.

3. Perkembangan Kognitif

Aspek perkembangan kognitif berhubungan erat dengan akal dan pikiran sehingga jangan heran jika pertumbuhan pada area ini memiliki jangkauan yang sangat luas. Banyak pelajaran penting yang akan didapatkan oleh Si Kecil, beberapa diantaranya: mampu berpikir logis dengan mengenal perbedaan, klasifikasi, perencanaan, pola, sebab akibat dan inisiatif. Si Kecil dapat menyebutkan, mengenal, dan juga menggunakan lambang-lambang seperti abjad dan angka. Tidak hanya itu, tahap ini juga akan membantu Si Kecil untuk menggambarkan ulang banyak hal yang pernah mereka lihat. Pembelajaran yang paling penting adalah Si Kecil dapat belajar memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dengan fleksibel, praktis, dan juga diterima secara sosial. Si Kecil juga dapat menerapkan pengetahuan dan pengalaman baru yang mereka dapatkan baik di sekolah maupun rumah.

4. Perkembangan Bahasa

Bahasa menjadi aspek perkembangan anak yang bisa Bunda amati dan latih sejak dini. Si Kecil dapat mengerti berbagai hal yang dimaksud oleh orang tua seperti cerita, aturan, perintah dan juga menghargai bacaan. Tidak sampai di situ, bahasa juga meliputi bagaimana cara Si Kecil berbahasa dengan baik seperti tanya jawab, memahami bentuk dan juga bunyi dari masing-masing huruf juga angka.

5. Perkembangan Sosial-Emosional

Perkembangan emosi anak usia pada usia dini menjadi hal yang perlu diperhatikan karena berperan penting dan terkait erat dengan pengenalan diri Si Kecil juga orang sekitar. Berbagai macam hal yang masuk dalam aspek ini adalah sebagai berikut: Si Kecil akan lebih senang jika bermain dengan teman sebayanya, memahami perasaan, merespon pembicaraan, berbagai mainan dengannya, mendengarkan ucapannya, hingga belajar menghargai hak dan pendapat orang lain sehingga Si Kecil akan tetap berlaku sopan. Tidak hanya itu, aspek ini juga mengajarkan Si Kecil arti dari tanggung jawab, hak-hak, hingga aturan bagi mereka dan orang lain. Selain hubungan dengan orang lain maupun teman sebayanya, hal ini akan membantu Si Kecil untuk memperlihatkan kemampuan diri, mengenal perasaan mereka, mengendalikan diri, hingga menyesuaikan diri untuk berinteraksi dengan orang lain.

6. Perkembangan Seni

Aspek terakhir pada perkembangan anak adalah seni. Setiap anak yang terlahir bersifat imajinatif dan memiliki sisi seni mereka sendiri. Si Kecil akan tertarik untuk mengekspresikan diri dan juga mulai mengeksplorasi diri dalam banyak hal dari sisi kesenian. Contohnya yaitu musik, lukisan, kerajinan, drama dan masih banyak lagi yang lainnya.

BK kls 3A 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

Rahma Amelia གིས-
nama: Rahma Amelia
NPM: 2213054043

1. pengertian
Bimbingan konseling adalah proses pemberian bantuan kepada individu atau kelompok oleh ahli yang disebut konselor untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi melalui metode wawancara. Bimbingan dan konseling merupakan istilah yang berbeda maknanya tetapi berhubungan erat, yaitu bantuan kepada individu atau kelompok dalam proses perkembangan kearah kedewasaan dan bantuan penyelesaian masalah. Bimbingan lebih bersifat preventif, sedangkan konseling lebih bersifat kuratif.

2. Tujuan dari konseling konseling adalah agar individu atau kelompok bisa mandiri dan berkembang secara optimal.
a. Pengembangan Potensi dan Peningkatan Kualitas Hidup
Pertama, Tujuan utama dari konseling adalah membantu individu mengembangkan dan mengoptimalkan potensi mereka. Melalui proses ini, individu dapat memahami kekuatan, bakat, dan minat mereka yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik .
b. Pengembangan Keterampilan Pribadi dan Sosial
Kedua, Bimbingan konseling bertujuan untuk membantu individu mengembangkan keterampilan pribadi dan sosial yang diperlukan dalam berbagai aspek kehidupan. Ini termasuk pengembangan keterampilan komunikasi efektif, kemampuan mengatasi konflik, peningkatan kepercayaan diri, pengelolaan emosi, dan pengembangan hubungan interpersonal yang sehat. menghadapi tantangan sehari-hari.
c. Pengambilan Keputusan dan Perencanaan Karier
Kemudian yang ketiga, Bimbingan konseling memiliki tujuan yang kuat dalam membantu individu dalam pengambilan keputusan yang tepat dan perencanaan karir yang baik. Ini melibatkan pemahaman tentang minat, nilai, dan kepribadian individu serta eksplorasi opsi karier yang sesuai.
d. Pemecahan Masalah dan Penanganan Krisis
Terakhir, Tujuan lain dari bimbingan konseling adalah membantu individu dalam mengatasi masalah pribadi dan sosial yang mereka hadapi. Konselor memberikan dukungan dan panduan dalam pemecahan masalah, membantu individu mengidentifikasi sumber masalah, mengembangkan strategi penyelesaian masalah yang efektif, dan mengatasi rintangan yang mungkin muncul.

3. Fungsi bimbingan konseling di sekolah adalah membantu siswa, baik individu maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, baik dalam hubungan pribadi, sosial, dan lainnya.
a.. Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu
konseli agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungan (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama).
b. Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konseli.
c. Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya.
d. Fungsi Penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang bersifat kuratif.
e. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
f. Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah/madrasah dan staf, konselor, dan guru untuk menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan,minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli.

4. Prinsip bimbingan konseling:
a. Bimbingan bagian penting dr proses pendidikan.
b. Bimbingan diberikan kepada semua peserta didik & bukan hanya utk peserta didik yg menghadapi masalah.
c. Bimbingan merupakan proses yang menyatu dlm semua kegiatan pendidikan.
d. Bimbingan harus berpusat pd peserta didik yang dibimbing.
e. Kegiatan bimbingan mencakup seluruh kemampuan perkembangan yg meliputi kemampuan fisikmotorik, kecerdasan, sosial dan emosional.
f. Bimbingan harus dimulai dng mengenal /mengidentifikasi kebutuhan yg dirasakan pesertadidik.
g. Bimbingan hrs fleksibel & sesuai dengan kebutuhan serta perkembangan peserta didik.
h. Dalam menyampaikan permasalahan peserta didikkpd orangtua hendaknya menciptakan situasi aman & menyenangkan sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi yg wajar & terhindar dr kesalapahaman.
i. Dalam melaksanakan kegiatan bimbingan hendaknya orangtua diikutsertakan agar mereka dapat mengikuti perkembangan & memberikan bantuan kpd anaknya dirumah.
j. Bimbingan dilakukan seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki guru/pendamping sebagai pelaksana bimbingan, bilamana masalah yg terjadi perlu ditindak lanjuti maka guru pembimbing hrs mengkonsultasikan kepada kepala sekolah dan tenaga ahli.
k. Bimbingan harus diberikan secara berkelanjutan.

5. Ruang lingkup bimbingan konseling:
a. bimbingan konseling belajar:
Perkembangan dan penyesuaian diri atau pribadi dalam belajar:
a. Berkaitan dengan minat, kemampuan diri sendiri;
b. Juga aktualisasi terhadap kemampuan dan minat diri sendiri;
c. Mengarahkan diri ke arah yang lebih baik;
d. Mengurangi dan menghilangkan sikap yang tidak baik dalam belajar.
2. Kemampuan dalam pendidikan dan penjurusan:
a. Memilih studi lanjut seuai dengan kemampuan;
b. Memilih studi lanjut sesuai dengan minat;
c. Memilih studi lanjut sesuai dengan kondisi.
3. Perkembangan dalam belajar:
a. Adanya informasi mengenai sukses dalam belajar;
b. Informasi mengenai bagaimana belajar yang efisien;
c. Informasi mengenai faktor-faktor apa sajakah yang dapat mendukung danPenelitian yang berkaitan dan menyangkut belajar siswa:
a. Melakukan penelitian terhadap siswa di sekolah yang berkaitan dengan banyak variabel (prestasi, motivasi, minat, masalah, dan cara penyelesaiannya);
b. Meningkatkan pembelajaran dengan berbagai metode-metode.

b. Bimbingan konseling pribadi/ sosial
Penanaman sikap kebiasaan beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. b. Pengenalan dan pemahaman tentang kekuatan diri dan pengembangannya untuk kehidupan sehari-hari dan di masa depan. c. Pengenalan dan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi dan penyalurannya. 16 d. Pengenalan dan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha penanggulangannya. e. Pengembangan kemampuan mengambil keputusan sederhana dan mengarahkan diri. f. Perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat. Ruang lingkup bimbingan sosial yang tercantum dalam Permendikbud 111 Tahun 2014 meliputi pemahaman keragaman budaya, nilai-nilai dan norma sosial, sikap sosial positif empati, altruistis, toleran, peduli, dan kerjasama, keterampilan penyelesaian konflik secara produktif, dan keterampilan hubungan sosial yang efektif. Rincian materi pokok bimbingan sosial yang dijelaskan oleh Prayitno 2001: 78 adalah sebagai berikut: a. Pengembangan kemampuan berkomunikasi melalui lisan dan tulisan. b. Pemantapan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial baik di rumah, sekolah, dan masyarakat. c. Pemantapan hubungan yang harmonis dengan teman sebaya d. Pengenalan dan pemahaman peraturan dan tuntutan sekolah, rumah, dan lingkungan. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup bimbingan pribadi adalah pengembangan sikap dan kebiasaan individu dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta pengenalan, pemahaman, dan pengembangan terhadap diri individu. Selain itu, ruang lingkup bimbingan sosial adalah pengembangan dan pemantapan kemampuan berhubungan sosial dengan orang lain.
c. bimbingan konseling karier
Bimbingan dan konseling karir adalah proses pemberian bantuan konselor atau guru BK kepada peserta didik/konseli untuk mengalami pertumbuhan, perkembangan, eksplorasi, aspirasi dan pengambilan keputusan karir sepanjang rentang hidupnya secara rasional dan realistis berdasar informasi potensi diri dan kesempatan yang bagus.

KP AUD 2023 kls A -> FORUM DISKUSI -> TOPIK DISKUSI -> Re: TOPIK DISKUSI

Rahma Amelia གིས-
Nama : Rahma Amelia
NPM : 2213054043

komunikasi nonverbal bisa disampaikan melalui beberapa cara, misalkan 1) gerakan atau poster, yaitu gerakan tubuh yang sering dan terus-menerus mencerminkan proses berfikir individu dan mengatur komunikasi contohnya, individu berdiri tegak mengomuniasikan bahwa individu tersebut percaya diri. Lalu ekspresi wajah, merupakan saluran nnverbal yang terpenting untuk mengekspresikan sikap dan emosi orang lain, mewakili : kebahagian, kejutan, ketakutan, kesedihan, kemarahan, dan jijik/hina. Kemudian ada kontak mata, dapat mengatur percakapan dan menandakan adanya pertukaran antara pembicara dan pendengar. Ketika individu merespon tatapan orang lain ia membiarkan orang lain merasakan keadaan emosinya dan dapat meningkatkan perasaan kepuasan berkomunikasi.

Peranan Komunikasi non verbal khususnya Postur dan ekspresi wajah dalam pembelajaran sendiri adalah Pesan-pesan non verbal adalah komponen yang sangat penting dalam berkomunikasi pada proses pengajaran. Apapun ujaran pengajar adalah sesuatu yang penting, namun bagaimana guru mengatakannya pada siswa yang membentuk perbedaan persepsi. Untuk hal itulah pengajar harus memiliki pemahaman terhadap pentingnya komunikasi nonverbal di dalam kelas agar pesan dapat disampaikan secara baik. Menurut Darn (2014) ada beberapa hal utama yang membentuk perilaku komunikasi nonverbal, antara lain:
1. Kontak mata:
Kontak mata merupakan sinyal yang penting dari komunikasi interpersonal. Selain itu, kontak mata mengisyaratkan ketertarikan terhadap orang lain. Dalam pengajaran, kontak mata juga membuka arus komunikasi antara pengajar dan siswa sehingga dapat menumbuhkan perhatian,
kehangatan dan kredibilitas.
2. Ekspresi (mimik) wajah:
Tersenyum adalah isyarat yang sangat kuat untuk menyampaikan:
a. Keramahan
b. kehangatan
c. kebahagian
d. kasih sayang
e. hubungan yang baik
Seperti yang kita ketahui, apabila ada seseorang yang tersenyum kepada kita, maka kita akan menganggap dia menyenangkan, ramah, dan hangat. Siswa akan bereaksi baik dan mendapatkan sinyal bahwa pengajar tersebut dapat diajak didekati maupun diajak berbicara, dengan demikian para siswa akan merasa lebih nyaman dan leluasa.
3. Gestur
Seorang pengajar akan dianggap membosankan jika hanya berbicara tanpa melakukan gerakan sedikit pun. Suasana belajar akan menjadi kaku dan materi yang disampaikan tidak akan menarik. Adapun contoh gerakan yang dapat dilakukan dalam komunikasi di dalam kelas yaitu
mengganggukkan kepala saat siswa sedang berbicara. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa pengajar memahami dan mendengarkan ujaran mereka.