Posts made by 2213034024 Elshinta

GTP -> Diskusi Pertemuan 3 -> Pertanyaan -> Re: Pertanyaan

by 2213034024 Elshinta -
Nama: Elshinta
NPM: 2213034024

Jawab:

Ya, beberapa negara lain juga memiliki kebijakan yang mirip dengan transmigrasi, meskipun istilah dan tujuannya bisa berbeda. Misalnya, Tiongkok menerapkan kebijakan "resettlement" atau pemindahan penduduk dari daerah yang padat ke wilayah baru, terutama dalam rangka pembangunan proyek besar seperti bendungan Tiga Ngarai atau untuk memperkuat wilayah.

Pemerintah Tiongkok sejak lama menjalankan program resettlement atau relokasi penduduk, terutama dalam rangka proyek pembangunan infrastruktur besar maupun untuk pengelolaan wilayah. Misalnya, ketika pembangunan Bendungan Tiga Ngarai (Three Gorges Dam), jutaan penduduk dipindahkan dari daerah sekitar bendungan ke wilayah baru demi alasan keamanan dan kelancaran proyek. Selain itu, Tiongkok juga memindahkan penduduk ke wilayah-wilayah tertentu seperti Xinjiang dan Tibet, dengan tujuan memperkuat kontrol politik, keamanan nasional, dan pemerataan pembangunan di daerah terpencil.
Jika dibandingkan dengan Indonesia, ada perbedaan mendasar dalam tujuan dan orientasi programnya. Transmigrasi di Indonesia sejak masa kolonial hingga Orde Baru difokuskan pada pemerataan jumlah penduduk, terutama untuk mengurangi kepadatan di Pulau Jawa, serta membuka lahan baru di luar Jawa untuk pertanian, perkebunan, dan pembangunan desa-desa baru. Program ini juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan memberi mereka lahan, tempat tinggal, dan dukungan awal di daerah tujuan.

Sementara itu, kebijakan pemindahan penduduk di Tiongkok lebih banyak dilatarbelakangi oleh kepentingan strategis negara, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun dalam pengendalian sosial-politik. Relokasi penduduk di Tiongkok seringkali bersifat top-down (dari pemerintah pusat ke rakyat), dengan ruang partisipasi masyarakat yang terbatas, sedangkan di Indonesia transmigrasi lebih dikemas sebagai program kesejahteraan rakyat, meskipun pelaksanaannya juga penuh tantangan.

Dengan demikian, meskipun sama-sama memindahkan penduduk dari satu daerah ke daerah lain, transmigrasi di Indonesia lebih menekankan aspek sosial-ekonomi dan pemerataan penduduk, sedangkan resettlement di Tiongkok lebih diarahkan pada kepentingan pembangunan infrastruktur besar dan strategi geopolitik.

GTP -> Diskusi Peretemuan 1 -> Pertanyaan -> Re: Pertanyaan

by 2213034024 Elshinta -

Nama: Elshinta

NPM: 2213034024

1.Jelaskan kembali sejarah transmigrasi yang ada di Indonesia berdasarkan video!

Jawab:

Sejarah transmigrasi di Indonesia di mulai pada masa pendudukan kolonial belanda yang awalnya dikenal dengan istilah kolonisasi, setelah kemerdekaan berganti nama menjadi transmigrasi. Latar belakang program transmigrasi zaman kolonial adalah hasil penelitian dari huzzelman yang dilaporkan pada pemerintahan kedu, bahwa lahan pertanian di Jawa berkurang dari  tahun 1904-1905, sedangkan penduduk menunjukkan jumlah peningkatan yang pesat dari 20.000 juta jiwa menjadi 23.000 juta jiwa, sementara lahan di luar jawa masih tersedia lahan untuk membuka perkebunan baru.

Oleh karena itu residen saat itu diperintahkan untuk memindahkan penduduk jawa keluar pulau. Dicatatkan dalam arsip nasional Indonesia hal ini dikenal dengan istilah program kolonisasi. Program kolonisasi kemudian dilanjutkan ke Pulau Sumatera tepatnya di provinsi Lampung pada tahun 1905 ke desa bagelen, kecamatan gedong tataan.

Pada masa itu transmigrasi di Indonesia diinisiasi oleh pemerintahan Hindia Belanda. Sebanyak 135 keluarga dari kerisidenan Kedu Jawa Tengah dipindahkan ke lampung untuk perluasan daerah perkebunan yang dikelola  oleh pemerintah belanda di luar jawa. Para transmigran itu datang ke lampung dengan naik kapal laut, dari pelabuhan Tanjung Priuk dan bersandar di pelabuhan kecil di teluk betung. Dari teluk betung para transmigran berjalan dua hari menuju sebuah desa bernama desa bagelen pada masa itu. Nama itu persis seperti nama wilayah kabupaten di Purworejo. Saat ini keturuann para transmigran itu tersebar ke sejumlah daerah di lampung. Antara lain kabupaten Tanggamus, Pringsewu dan Metro.

Pemberian nama daerah yang persis sama dilakukan untuk mengobati rindu para transmigran dengan daerah asalnya, dengan begitu tetap betah Di Lampung. Semula para transmigran itu hendak dikirim ke Banyuwangi. Namun daerah itu dianggap tidak cocok sebagai daerah tujuan karena bisa saja transmigran kembali ke daerah asalnya

Keresidenan Lampung yang berada di ujung Sumatera di anggap cocok karena masih banyak lahan yang kosong, selain itu mereka juga harus menyebrang lautan, sehingga tidak mungkin akan kembali ke daerah asal, agar betah setiap kepala keluarga diberi bantuan berupa 20 gulden perlengkapan pertanian dan alat masak.

Setelah transmigrasi pertama pada tahun 1905, orang-orang dari jawa terus dipindahkan ke Lampung. Menurut catatan musem nasional sepanjang tahun 1905 -1943 terdapat 51.000 kepala keluarga yang dipindahkan dari jawa ke lampung. Saat ini keturunan para transmigrasi tersebar ke sejumlah daerah antara lain Kabupaten Tanggamus, Pringsewu, Metro, Lampung Selatan serta Bandar Lampung

Para transmigran tetap melakukan budaya dan tradisi dari daerah asalnya contohnya karawitan jawa, hal tersebut salah satunya dapat dilihat di Desa Mulya Jaya Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat, desa yang dihuni keturunan kedua dan ketiga warga transmigrasi asal Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sedangkan di Desa Tirta Kencana suku bali hidup berdampingan dengan suku Jawa dan Lampung. Para transmigran menyadari mereka berasal dari daeral asal yang berbeda oleh karena itu mereka harus hidup berdampingan dengan suku asli lampung, mereka saling berkomunikasi, melihat menghargai, dan akhirnya saling mengenal.

Oleh karena itu Meseum Nasional Ketransmigrasian ada di Lampung tepatnya di Desa Bagelan Kecamatan Gedong Tataan. Transmigrasi yang pertama kali dilakukan pada tanggal 12 Desember 1905 dari Keresidenan Kedu, Jawa Tengah sebanyak 23 kepala keluarga, yang kemudian ditetapkan sebagai hari bhakti transmigrasi

2. Apakah transmigrasi itu penting?

Jawab:

Ya, karena transmigrasi merupakan program penting dalam pembangunan Indonesia dikarena mampu membantu pemerataan penduduk dan mengurangi kepadatan di wilayah tertentu, khususnya Pulau Jawa. Dengan adanya perpindahan penduduk ke daerah lain seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua, transmigrasi membuka peluang pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah sekaligus mendorong pembangunan wilayah baru. Kehadiran transmigran juga memicu perkembangan infrastruktur seperti jalan, sekolah, dan fasilitas kesehatan sehingga daerah tujuan dapat tumbuh menjadi kawasan yang lebih maju.

Selain itu, transmigrasi memberi kesempatan hidup yang lebih baik bagi masyarakat yang kesulitan mendapatkan lahan di daerah asalnya. Program ini juga memperkuat persatuan bangsa karena mempertemukan masyarakat dari berbagai suku dan budaya di satu wilayah. Namun, tantangan yang muncul tidak dapat diabaikan, seperti benturan dengan penduduk lokal, permasalahan lingkungan akibat pembukaan lahan, hingga kesulitan adaptasi sosial bagi transmigran. Oleh karena itu, transmigrasi tetap penting, tetapi harus direncanakan secara bijak agar memberikan manfaat nyata bagi penduduk maupun wilayah tujuan.