Kiriman dibuat oleh Permata Balqis

Nama: Permata Balqis
NPM: 2213053217

Dalam video tersebut menjelaskan 6 tahap perkembangan moral menurut kohlberg:
-Tahap 1, pra-konvensional
1. Menghindari hukuman
Seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu karena untuk menghindari hukuman, contohnya ketika orang tidak menerobos lampu merah karena tidak ingin ditilang polisi.
2. Keuntungan dan minat pribadi
Tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan didapatkan olehnya, contohnya membantu orang lain dan mengharapkan balas budi orang tersebut.

-Tahap 2, konvensional
3. Menjaga sikap orang baik
Contohnya seseorangorang menghindari pertengkaran karena memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya, iya tidak bertengkar karena itu menunjukkan orang baik dan orang baik tidak melakukannya.
4. Memelihara peraturan
Jika peraturan tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menjadi kacau. Karena peraturan harus selalu dipatuhi.

-Tahap 3, pasca-konvensional
5. Orientasi kontrak sosial
Seseorang menyadari bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda titik tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus. Hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada.
6. Prinsip etika universal
Tahap ini menggambarkan prinsip internal seseorang. Ia melakukan hal yang dianggapnya benar, walaupun bertentangan dengan hukum yang ada.
Nama: Permata Balqis
NPM: 2213053217

Judul jurnal: Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan
Teori Kohlberg
Nama penulis: Enung Hasanah
Nama jurnal: JIPSINDO No. 2, Volume 6, September 2019

Ringkasan isi jurnal:
Teori Kohlberg dikenal sebagai teori yang seseorang mengukur tingkatan moral seseorang. Penelitian Kohlberg menunjukan bahwa bila penalaran-penalaran yang diajukan oleh seseorang mengapa ia mempunyai pertimbangan moral tertentu atau melakukan tindakan tertentu diperhatikan, maka akan tampak jelas adanya perbedaan-perbedaan yang berarti dalam pendangan moral orang tersebut. Apa yang membedakan tingkatan moral seseorang apat
dilihat dari alasan apa yang digunakan seseorang untuk melakukan sesuatu.
Perkembangan Moral menurut Kohlberg dibagi menjadi 3 level:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
-Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman
-Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran
Level 2. Moralitas Konvensional
-Tahap 3 - Hubungan Interpersonal
-Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial
Level 3. Moralitas Pasca-konvensional
-Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak PeroranganPerorangan
-Tahap 6 - Prinsip Universal.

Sebagai upaya untuk lebih memahami perkembangan moral berdasarkan teori Kohlberg dan supaya memiliki kemampuan mengukur tahap-tahap perkembangan, penulis melakukan sebuah penelitian sederhana melalui melalui angket dengan jawaban terbuka tentang dilema moral untuk menentukan keputusan moral (Judgment Moral) yang dilakukan terhadap 10 siswa Sekolah Dasar kelas VI. Hasil jawaban dari angket tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kualitatif.
Dan hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak SD yang berusia 11-12 tahun secara umum termasuk dalam tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung melakukan sesuatu kegiatan bukan karena membutuhkan hasil melainkan karena takut dihukum.
Nama: Permata Balqis
NPM: 2213053217

Judul jurnal: Pendidikan Nilai Moral Ditinjau Dari Perspektif Global
Nama penulis: Sudiati
Nama jurnal: Cakrawala Pendidikan, Juni 2009, Th. XXVIII, No. 2

Ringkasan isi jurnal:
Pendidikan nilai moral merupakan tuntutan sekaligus kebutuhan manusia sebagai wujud kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara yang diwarnai dengan berbagai macamnya
masalah. Seperti terorisme global dan krisis multidimensi, yang suatu negara tidak dapat menyelesaikannya sendiri, sehingga dukungan negara lain.
Pendidikan nilai moral menjadi salah satu alternatifnya pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional. Pendidikan nilai dan moral telah menjadi isu global di beberapa negara seperti India, Malaysia, India, dan China, dan memiliki beberapa perbedaan dan persamaan dalam pelaksanaannya. Perbedaan tersebut diakibatkan oleh ideologi negara yang berbeda. Namun negara-negara tersebut biasanya menekankan nilai moral pendidikan tentang nilai-nilai moral dan etika, khususnya pada nilai-nilai yang berkaitan dengan hak asasi manusia yang bersifat universal dan global.
Konsep pendidikan nilai moral diajukan oleh Kohlberg dan Miller cenderung individualistis. Oleh karena itu, hal itu perlu dilakukan dilengkapi dengan memperhatikan paradigma yang dikemukakan Capra. Dalam implementasinya perlu pendekatan yang tepat dan metode serta teknik yang relevan. Pendekatan pendidikan nilai moral mencakup pendekatan penanaman, pemodelan, fasilitasi, dan pengembangan keterampilan. Metodenya meliputi metode dogmatis, deduktif, induktif, dan reflektif.

3J 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 2

oleh Permata Balqis -
Nama: Permata Balqis
NPM: 2213053217

Dari video tersebut, dijelaskan mirisnya kekerasan di lingkungan sekolah. Sekolah yang seharusnya menjadi lingkungan kedua bagi anak justru menyebabkan korban jiwa, misalnya berkelahi dengan temannya yang berakibat salah satu meninggal, atau di-bully oleh teman sekelasnya dengan kekerasan.
Tentu kekerasan ini sebenarnya tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, karena guru terbatas. Orang tua atau keluarga juga harus menjadi pendidik yang baik di rumahnya dan menanamkan nilai-nilai moral sehingga anak tersebut ketika keluar dari rumah tetap mempunyai moral yang baik terhadap sesamanya sehingga tidak menyebabkan teman sekolahnya tersakiti atau meninggal.

3J 2023 Pendidikan Nilai dan Moral -> Forum Analisis Video 1

oleh Permata Balqis -
Nama: Permata Balqis
NPM: 2213053217

Di video ini kita dijelaskan dengan beberapa pertanyaan filosofis dari trolley problem yang klasik agar kita bisa berpikir untuk mendefinisikan kembali moralitas dari perspektif yang berbeda dan mencari mana nilai moral yang lebih baik atau mungkinkah justru yang lebih baik itu hanya tipuan belaka.

Orang diberi pilihan untuk memilih kereta tetap jalan lurus tetapi menabrak 5 orang atau berbelok dengan menaik tuas dan menyebabkan satu orang meninggal.
Dan 90% orang menjawab berbelok sehingga hanya satu orang yang terbunuh. Prinsip moralnya sederhana yaitu lebih baik menyelamatkan 5 orang daripada hanya satu orang.

Kemudian orang diberi pilihan lain, yaitu apabila kamu berdiri di atas jembatan jalan kereta dan di depanmu ada 1 orang yang dapat menghentikan kereta yang jika berjalan lurus saja akan menabrak 5 orang.
90% orang memilih untuk tidak mendorong orang tersebut. Padahal beberapa menit yang lalu mereka memilih untuk tidak menabrak 5 orang, karena pada skenario kedua ini terjadi perbuatan aktif, tapi mereka lupa bahwa menaiki tuas kereta yang menyebabkan kereta berbelok juga kegiatan aktif.
Dari sinilah moralitas menjadi sebuah dilema.

Philippa Foot mengajukan sebuah eksperimen yang kemudian dikenal sebagai trolley problem.
The trolley problem membuat kita berpikir lebih jauh tentang konsekuensi dari sebuah pilihan. Apakah itu dibuat berdasarkan nilai moral tertentu atau lebih kepada hasil akhirnya? Dan bagaimana kita mengekspresikannya dalam kehidupan sehari-hari. Apakah mengorbankan yang lebih sedikit untuk menyelamatkan yang lebih banyak adalah sesuatu yang lebih bermoral?
Bahkan sepanjang hidup kita pelajaran moral seperti ini kerap masuk sebagai sebuah doktrin. Bahwa memang harus selalu ada yang dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar. Maka tak heran jika kemudian moral sering digunakan sebagai alat oleh penguasa dan segelintir orang untuk membenarkan perang, memerangi etnis tertentu, dan diskriminasi minoritas, dsb, Hanya dengan alasan demi perdamaian dunia, demi kepentingan umum, demi kelompok yang lebih besar dan demi masa depan yang.

Sekarang mari kita hapus tentang apa yang sudah kita yakini dari moralitas, jangan-jangan apa yang kita pahami selama ini tentang moral justru sering dimanfaatkan oleh pihak tertentu atau bahkan diri kita sendiri untuk menyakiti orang lain.

Jadi, apakah mengorbankan sedikit untuk yang lebih banyak adalah pilihan yang lebih baik?
Apakah hanya karena kita merasa tidak dilakukan oleh tangan kita sendiri lantas kita boleh menyetujuinya dan membiarkan itu terjadi?
Mungkin itu jadi pilihan yang lebih bermoral tetapi coba bayangkan jika kamu berada di sisi yang berbeda, kita adalah korbannya, apakah itu menjadi bermoral?
Dari sinilah kita diberitahu bahwa moralitas memang terlalu sering jadi alat pembenaran saat kita berada di posisi yang diuntungkan atau memiliki kepentingan. Pada akhirnya moralitas ternyata hanyalah soal egoisme manusia dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya sendiri.