Kiriman dibuat oleh Efi yulyana 2213053075

NAMA : EFI YULYANA
NPM : 2213053075

JUDUL : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN
TEORI KOHLBERG
PEMBAHASAN : Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal disebut "cognitive-dvelopmental theory of moralization", yang berakar pada karya Piaget. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi (pikiran) dan afek (perasaan) berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Dalam mengembangkan teorinya, Kohlberg tidak memusatkan perhatian pada tingkah laku moral, artinya apa yang dilakukan oleh seorang indivdu tidak menjadi pusat pengamatannya.

Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi 3 level, yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
Level 1. Moralitas Pra-konvensional
> Tahap 1 - Ketaatan dan Hukuman. Tahap awal perkembangan moral terutama terjadi pada anak-anak kecil, tetapi orang dewasa juga mampu mengekspresikan jenis penalaran ini. Pada tahap ini, anakanak melihat aturan sebagai hal yang tetap dan absolut. Mematuhi aturan itu penting karena merupakan sarana untuk menghindari
hukuman.
> Tahap 2 - Individualisme dan Pertukaran. Pada tahap perkembangan moral ini, anak-anak menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan bagaimana mereka melayani kebutuhan individu. Dalam dilema Heinz, anak-anak berpendapat bahwa tindakan terbaik adalah pilihan yang paling baik
memenuhi kebutuhan Heinz. Timbal balik adalah mungkin, tetapi hanya jika melayani kepentingan diri sendiri.

Level 2. Moralitas Konvensional
> Tahap 3 - Hubungan Interpersonal. Seringkali disebut sebagai orientasi "good boy-good girl", tahap perkembangan moral ini difokuskan pada memenuhi harapan dan peran sosial. Ada penekanan pada konformitas, bersikap "baik," dan mempertimbangkan bagaimana pilihan memengaruhi hubungan.
> Tahap 4 - Menjaga Ketertiban Sosial. Pada tahap perkembangan mora ini, orang mulai menganggap masyarakat secara keseluruhan ketika membuat penilaian. Fokusnya adalah menjaga hukum dan ketertiban dengan mengikuti aturan, melakukan tugas seseorang dan menghormati otoritas.

Level 3. Moralitas Pasca-konvensional.
> Tahap 5 - Kontrak Sosial dan Hak Perorangan. Pada tahap ini, orang mulai memperhitungkan perbedaan nilai, pendapat, dan kepercayaan orang lain. Aturan hukum penting untuk mempertahankan masyarakat, tetapi anggota masyarakat harus menyetujui standar-standar ini
> Tahap 6 - Prinsip Universal. Tingkat penalaran moral terakhir Kolhberg didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal dan penalaran abstrak. Pada tahap ini, orang mengikuti prinsip-prinsip keadilan yang diinternalisasi ini, bahkan jika mereka bertentangan dengan hukum dan peraturan.
NAMA : Efi Yulyana
NPM : 2213053075

JUDUL : Pendidikan Nilai dan Moral di Tinjau Perspektif Global
PEMBAHASAN : Isu nilai dan moral di bebrapa negara. isu nilai dan moral terdapat pada empat negara :

INDONESIA : Indonesia merupkan negara pancasila yang mayoritas islam. Pendidikan nilai di Indonesia disadari atau tidak masih belum banyak
menyentuh pemberdayaan dan pencerahan kesadaran dalam perspektif global.Persoalan pembenahan warganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan masih terpaku pada kurikulum
nasional dan lokal yang belum pernah tuntas. Di sisi lain juga adanya pandangan yang terlalu simplistik mengenai pendidikan nilai sebagai wahana
penyadaran nilai-nilai yang sektariansubjetif dan belum banyak menyentuh
nilai universal-objektif. Menurut Sudarminta (dikutip S. Belen, 2004: 9).
Hasil penelitian Afiyah, dkk. (2003),
menyatakan bahwa kelemahan pendidikan agama antara lain terjadi karena materi pendidikan agama Islam,termasuk bahan ajar akhlak, cenderung terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif), sedangkan pembentukan sikap (afektif) dan pembiasaan (psikomotorik) sangat minim.

INDIA : Pendidikan nilai di India tampak lebih populer dibandingkan dengan dinegara lain. Dalam pendidikan nasional India, pendidikan nilai dikembangkan sebagai usaha untuk meningkatkan kesadaran nilai ilmiah, sosial, dan ke-warganegaraan yang tidak secara khusus dikembangkan melalui satu sudut pandangan agama. Ini tidak berarti mengabaikan pentingnya pendidikan agama sebagai kekuatan dalam membangun karakter bangsa, melainkan untuk menempatkan pendidikan nilai dalam konteks pemahaman nilai agama yang universal (Mulyana, 2004:230).

MALAYSIA : Pendidikan nilai dilakukan di sekolah dasar dan pengembangannya dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung pendidikan nilai diajarkan melalui pendidikan moral dan mata pelajaran agama, sedangkan pendidikan nilai yang tidak secara langsung dikembangkan melalui sejumlah mata pelajaran lainnya, seperti program pendidikan kewarganegaraan dan melalui kegiatan kokurikuler. Silabus pendidikan nilai untuk sekolah dasar berupa kebersihan badan
dan pikiran, empati, sikap tidak berlebihan, bersyukur, rajin, jujur, adil, kasih sayang, hormat, keharmonisan sosial, kesederhanaan, dan kebebasan.

CHINA : Memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Tradisi ini menempatkan pendidikan nilai sebagai bagian penting dalam percaturan pendidikan. Walaupun demikian, dalam perkembangannya, pendidikan nilai dihadapkan pada beberapa tantangan berikut. Namaun sekolah memilki tanggung jawab yang besar dalam mengembangkan kepribadian siswa, hal itu kurang didukung oleh kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Banyak guru yang kurang memiliki kemampuan untuk mengembangkan pendidikan nilai. Di beberapa sekolah di- jumpai adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang benar-benar terjadi dalam proses pendidikan.Untuk mengatasi berbagai persoalan di atas, pemerintah Cina mengambil beberapa kebijakan berikut. Pertama, pendidikan moral dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah dasar dan diajarkan sekali dalam seminggu. Kedua, sejumlah peraturan telah disusun dan disebarluaskan untuk menjamin terjadinya pembentukan kebiasaan, sikap, dan cara hidup siswa yang diharapkan. Ujudnya tata tertib perilaku anak usia sekolah dasar, dan tata tertib anak usia sekolah menengah. Ketiga,untuk memobilisasi dukungan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan moral di sekolah, pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan resmi
akan pentingnya pengembangan moral dan afeksi anak usia sekolah dasar. Keempat, dengan kebijakan resmi pemerintah, sekolah didorong untuk memperbarui dan memodifikasi tujuan pendidikannya. Kelima, guru didorong untuk menggunakan pendekatan pembelajaran yang mampu mengangkat pengalaman kehidupan sehari-hari
(Mulyana, 2004: 237-238).
Nama : Efi Yulyana 
Npm : 2213053075

Pentingnya menanamkan nilai moral terhadap peserta didik.
Berbagai kasus yang terjadi itu di dominankan kurang nya nilai dan moral. Menurut saya seorang pendidik harus bisa memahami sedikit banyaknya karakter dan sifat peserta didiknya,agar pendidik bisa menyampaikan pembelajaran kepada peserta didik dengan mudah di terima dan cukup baik,namun tidak selamanya juga pendidik yang akan selalu memahami karkter dan sifat peserta didik, tetapi orang tua juga harus lebih memperhatikan anak anak nya. 
Dan menurut saya juga Peserta didik tidak hanya di bekali mata pelajaran saja namun juga mempelajari bagaimana cara mengelolaan emosi. Karna mengelola karakter atau emosi itu juga terikat dengan nilai nilai dalam pembelajaran.
Nama : Efi Yulyana
NPM : 2213053075

Dari 6 tahap perkembang menurt Lowrence KolBergh
Tahap perkembangan moral terbagi menjadi 3 level dengan masing masing level terdiri dari 2 tahap,
Level 1 : Pra-Konversional ( Menghindari Hukuman,Keuntungan dan minat pribadi)
Level 2 Konvensional
( Menjaga sikap orang baik, Memelihara Peraturan )
Level 3 : Pasca Konvensional ( Orientasio kontrak sosial, Prinsiv etika universal)
Tahap 1 Menghindari hukuman : ketika seseoarang tidak melanggar peraturan demi tidak mendapatkan sangsi
Tahap ke 2 keuntungan minat pribadi memperhitungkan apa yang akan di proleh
Tahap 3 menjaga sikap orang baik : berfikir tentang kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain mengenai dirinya
Tahap ke 4 memelihara peraturan : Mengaskan dalam suatu keadaan,dan meneggakan peraturan
Tahap 5 orientasi kontrak sosial : menyadari setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda.
Tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus.
Hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada.
Tahap 6 Prinsip etika Universa : menggambarkan prinsip internal yang melakukan hal yang menurutnya benar walaupun bertentangan dengan hukum.

Nah pada contoh terahir tentang hanz yang dilema pada situasi yang seperti itu,maka menurut saya hanz menggunakan level 3 tahap 6 yaitu tentang tahap etika universal.
Efi Yulyana (2213053075)

Penting nya nilai Moral di Era globalisasi
Di era globalisasi saat ini nilai moral mulai pudar atau luntur, permasalahan ini di sebabkan penyampaian nilai moral atau nilai nilai kurang mengenai hati para penerima atau para peserta didik,dikarnakan penyampaian nilai nilai moral di sampaikan secara pemaksaan dan peserta didik menrima juga dengan terpaksa sehingga apa yg di sampaikan kurang di pahami. Hasilnya sikap dan perilaku anak didik tidak berakar dari pengalaman nilai yang otentik.
Kita tidak dapat membendung pengaruh jaman, dan tidak dapat memalingkan perhatian mereka dari nilai-nilai yang sedang trend. Yang dapat kita lakukan adalah mendampingi dan mendorong mereka agar menjalani hidup dengan menggunakan nalar dan hati. Dengan nalar dan hati yang berfungsi dengan baik diharapkan mereka
akan dapat mempertimbangkan segala perbuatan, tingkah laku, dan keputusan yang diambil.
Secara individual setiap pendidik diharapkan mencoba melaksakan tugasnya "mengajar" dan "mendidik" secara bertanggungjawab. Hal yang mendesak dan harus dilakukan adalah mengajari anak didik untuk dapat menggunakan nalar dan hati sebaik-baiknya, melalui sarana segala aktivitas yang dapat mendewasakan dirinya.
Untuk menghindarkan anak didik dari arus globalisasi harus dibekali dengan nalar dan hati yang benar, norma dan agama yang kuat, rasa nasionalisme yang benar, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa