Nama : Nasywa Fadillah Asnah
NPM : 2253053020
Keenam tahapan perkembangan moral dari Kolhlberg dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Mengikuti persyaratan yang dituturkan Piaget sebagai suatu Teori perkembangan kognitif, adalah sangat jarang terjadi kemunduran dalam tahapan-tahapan ini. Walaupun demikian, tidak telah tersedia suatu fungsi yang tidak kekurangan dalam tahapan paling tinggi sepanjang waktu. Juga tidak dimungkinkan sebagai melompati suatu tahapan; setiap tahap ada perspektif yang baru dan diperlukan, dan lebih komprehensif, beragam, dan terintegrasi dibanding tahap sebelumnya.
Tingkat 1 (Pra-Konvensional)
1. Orientasi kepatuhan dan hukuman
2. Orientasi minat pribadi
( Apa untungnya buat saya?)
Tingkat 2 (Konvensional)
3. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas
( Sikap anak patut)
4. Orientasi otoritas dan pemeliharaan anggaran sosial
( Moralitas hukum dan anggaran)
Tingkat 3 (Pasca-Konvensional)
5. Orientasi akad sosial
6. Prinsip etika universal
( Principled conscience)
Dalam tahap pertama, individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari gerak-gerak yang dibuat mereka yang dirasakan sendiri. Sebagai contoh, suatu gerak-gerak yang dibuat diasumsikan salah secara moral bila orang yang melaksanakannya dihukum. Semakin keras hukuman diberikan diasumsikan semakin salah gerak-gerak yang dibuat itu. Sebagai tambahan, dia tidak kenal bahwa sudut pandang orang lain berlainan dari sudut pandang dirinya. Tahapan ini bisa dilihat dan diteliti sebagai sejenis otoriterisme.
Tahap dua mendiami posisi apa untungnya buat diri sendiri, perilaku yang telah tersedia dirumuskan dengan apa yang paling diminatinya. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain, hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri, seperti “kamu garuk punggungku, dan akan kugaruk juga punggungmu.” Dalam tahap dua perhatian untuk oranglain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik. Kekurangan perspektif tentang warga dalam tingkat pra-konvensional, berlainan dengan akad sosial (tahap lima), sebab seluruh gerak-gerak yang dibuat dilakukan sebagai melayani kebutuhan diri sendiri saja. Untuk mereka dari tahap dua, perpektif dunia dilihat dan diteliti sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral.
Dalam tahap tiga, seseorang memasuki warga dan ada peran sosial. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan warga terhadap peran yang dimilikinya. Mereka mencoba menjadi seorang anak patut sebagai memenuhi hasrat tersebut, karena telah mengetahui telah tersedia gunanya melaksanakan hal tersebut. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu gerak-gerak yang dibuat dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bangun-bangun hubungan interpersonal, yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat, rasa terimakasih, dan golden rule. Hasrat sebagai mematuhi anggaran dan otoritas telah tersedia hanya sebagai membantu peran sosial yang stereotip ini. Maksud dari suatu gerak-gerak yang dibuat memperagakan peran yang lebih signifikan dalam penalaran di tahap ini; 'mereka bermaksud baik.
Dalam tahap empat, adalah penting sebagai mematuhi hukum, keputusan, dan konvensi sosial karena berfaedah dalam memelihara fungsi dari warga. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga; kebutuhan warga harus melebihi kebutuhan pribadi. Idealisme utama sering menentukan apa yang telah tersedia dan apa yang salah, seperti dalam kasus fundamentalisme. Bila seseorang bisa melanggar hukum, mungkin orang lain juga akan begitu - sehingga telah tersedia kewajiban atau tugas sebagai mematuhi hukum dan anggaran. Bila seseorang melanggar hukum, maka dia salah secara moral, sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang patut.
Dalam tahap lima, individu-individu dipandang sebagai ada pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berlainan, dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. Permasalahan yang tidak diasumsikan sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. Kenyataannya, tidak telah tersedia pilihan yang pasti telah tersedia atau absolut - 'memang anda siapa membikin keputusan jikalau yang lain tidak'? Sejalan dengan itu, hukum dilihat dan diteliti sebagai akad sosial dan bukannya keputusan kaku. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kegunaan paling banyak sebagai sebanyak-banyaknya orang. Hal tersebut diperoleh melewati keputusan mayoritas, dan kompromi. Dalam hal ini, pemerintahan yang demokratis tampak berdasarkan pada penalaran tahap lima.
Dalam tahap enam, penalaran moral berdasar pada penalaran mujarad menggunakan prinsip etika universal. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan, dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan keharusan sebagai tidak mematuhi hukum yang tidak berpihak kepada yang telah tersedia. Hak tidak perlu sebagai akad sosial dan tidak penting sebagai gerak-gerak yang dibuat moral deontis. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional (lihat imperatif kategoris dari Immanuel Kant). Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain, yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama (lihat veil of ignorance dari John Rawls). Gerak-gerak yang dibuat yang diambil adalah hasil konsensus. Dengan cara ini, gerak-gerak yang dibuat tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil; seseorang berperan karena hal itu telah tersedia, dan bukan karena telah tersedia maksud pribadi, sesuai hasrat, legal, atau sudah disetujui sebelumnya. Walau Kohlberg yakin bahwa tahapan ini telah tersedia, dia merasa kesukaran sebagai menemukan seseorang yang menggunakannya secara konsisten. Rupa-rupanya orang sukar, kalaupun telah tersedia, yang bisa sampai tahap enam dari model Kohlberg ini.