Kiriman dibuat oleh Qurota A'yunin 2213053183

Nama : Qurota A'yunin
NPM: 2213053183
Dalam vidio ini membahas mengenai Apa itu kita nilai dan moral?
Dalam vidio ini dimenjelaskan kenapa ketika nilai dan moral saling berkaitan
sebab umumnya berusaha untuk mengarahkan manusia agar memiliki pola pikir sikap dan perilaku yang baik dalam hidup bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Dan Apa itu etika dan moral atau hukum kebiasaan? nilai-nilai dalam waktu memberi makna hidup yang menjiwai tindakan atau perilaku seseorang atau suatu sifat yang pertama nilai-nilai karena sesuai rencana untuk mengatur berbangsa dan bernegara tidak bertindak semaunya lalu moral-moral adalah hanya dapat mendorong manusia untuk melakukan tindakan memaksa kewajiban atau keharusan sebagai sarana untuk mengukur benar-benar Berikut ini adalah salah satu contoh etika dan moral : vidio di tampilkan adab beberapa anak muda yang sedang bersepeda dan melewati nenek dan mereka turun dari sepeda untuk menghormati nenek tersebut dan menyapanya.
Nama : Qurota A'yunin
NPM: 2213053183
Dalam artikel iini membahas tentang The Forum ekonomi dunia (2016) adalah kemampuan pembelajaran akademis tradisional dan kecakapan sosial dan emosional (SEL) yang membantu perkembangan moral siswa agar tumbuh optimal. Moral berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan moral ketika dilema moral tentang sikap dan perilaku yang dipilih. Pendidikan merupakan proses seumur hidup mulai dari kandungan dan berlangsung sampai akhir dari kehidupan. Moralitas berbicara tentang nilai, yang menjadi standar evaluasi normatif dalam mengatur kehidupan manusia. Moralitas dan Pendidikan moral dapat dilihat dari luar dan dari sisi dalam. Moralitas dan Pendidikan moral diperlukan sekaligus sebagai pengendalian kondisi sosial dan sarana yang diperlukan untuk aktualisasi diri. Pendidik, berbagi pendidik, berbagi memahami perkembangan moral peserta didiknya. Pendidikan moral berdasarkan teori Kohlberg dan supaya memiliki kemampuan mengukur tahap-tahap perkembangan, dan penulis melakukan sebuah penelitian sederhana melalui angket dengan jawaban terbuka dilema moral untuk menentukan keputusan moral (Judgment Moral) terhadap 10 siswa Sekolah Dasar kelas VI. Hasil jawaban dari angka tersebut kemudian dianalisis dengan teknik analisis kualitatif.
Perkembangan moral dipelajari dari berbagai sudut pandang psikologi, antara lain teori psikoanalisis, teori pembelajaran, dan psikoanalisis. Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg berkontribusi pada studi tentang perkembangan moral, mengidentifikasi beberapa masalah filosofis yang berkaitan dengan perkembangan moral. Teori moralisasi Kohlberg didasarkan pada gagasan Piaget bahwa kesadaran dan tindakan berkembang secara paralel dan pengambilan keputusan moral adalah proses perkembangan kognitif.
Kohlberg tidak fokus pada tingkat perkembangan moral, melainkan pada kapasitas moral individu. Ia berpendapat bahwa perkembangan moral dipengaruhi oleh tingkat moralisasi, yaitu sejauh mana seseorang mampu menentukan perilaku moralnya.
Teori perkembangan moral Kohlberg terdiri dari tiga tingkatan: (1) Moralitas Pra-konvensional, (2) Individualisme, dan (3) Moralisasi. Tingkat pertama berfokus pada moralitas individu, sedangkan tingkat kedua berfokus pada kapasitas moral individu. Tingkat ketiga, Individualisme, berfokus pada kapasitas moral individu dan kapasitas moral individu.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif untuk menguji dampak pengalaman individu, pengetahuan, dan sistem sosial dari perspektif kualitatif. Penelitian kualitatif berfokus pada bagaimana individu mempersepsi dan memahami realitas sosialnya, dengan menggunakan berbagai metode seperti observasi, observasi, dan observasi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang fenomena dan program sosial yang beroperasi dalam konteks tertentu. Besar sampelnya adalah siswa berusia 11-12 tahun, dengan mayoritas siswa berusia 10-13 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi dilema moral, seperti pentingnya pembelajaran dan peran guru dalam proses pembelajaran.
Studi tersebut menemukan bahwa siswa berusia 11 dan 12 tahun memiliki perkembangan moral, sesuai dengan teori Kohlberg. Mereka percaya bahwa mereka harus belajar karena mereka percaya bahwa mereka harus belajar secara hukum. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa 90% siswa usia 11-12 tahun memiliki perkembangan moral pada tingkat konvensional. Namun, beberapa anak cenderung kurang belajar atau melakukan sesuatu karena mereka lebih cenderung dipengaruhi oleh lingkungannya. Seorang anak, Khansa, memiliki perkembangan moral yang lebih tinggi dibandingkan anak lainnya, dan dia lebih cenderung belajar di rumah. Perkembangan moral Khansa juga lebih tinggi dibandingkan yang lain, ada siswa yang belajar di rumah dan ada yang belajar di rumah. Studi tersebut menunjukkan bahwa anak-anak perlu diajari nilai-nilai dan aturan moral untuk menghindari konsekuensi negatif.
nama : Qurota A'yunin
NPM: 2213053183
Dalam artikel ini membahas tentang kehidupan manusia sangatlah kompleks, dipengaruhi oleh berbagai isu dan fenomena global seperti hak asasi manusia, terorisme, dan senjata nuklir. Kompleksitas global telah menyebabkan kebangkitan teknologi, telekomunikasi, dan transportasi, sehingga memudahkan kehidupan di berbagai bidang. Namun hal ini juga menyebabkan menurunnya kesejahteraan manusia. Genosida di Eropa dimulai pada abad ke-19, dengan bangkitnya Amerika Serikat dan bangkitnya Inggris. Abad ke-20 menyaksikan peningkatan konflik dan konflik antar kelompok yang berbeda, seperti Amerika Serikat, Afghanistan, Irak, Korea, Palestina, dan Amerika Serikat. The Turning Point karya Fritjof Capra mengeksplorasi hubungan antara sains, teknologi, dan budaya di abad ke-21, dengan alasan bahwa abad ke-21 adalah masa perubahan besar, dengan munculnya realitas baru dalam kehidupan manusia, sistem kehidupan, dan kualitas hidup. Pandangan dunia yang kompleks dan terus berkembang ini menyebabkan perlunya pendekatan yang lebih seimbang terhadap kehidupan manusia.
Penelitian ini mengkaji sistem pendidikan moral di india, Malaysia, India, dan China. Negara-negara tersebut mempunyai ideologi yang berbeda-beda dan dampaknya terhadap sistem pendidikan moral. india adalah negara Islam yang mayoritas penduduknya menganut Pancasila, India adalah negara federal, dan Malaysia adalah perwakilan dari negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Sistem pendidikan Indonesia ditandai dengan kurangnya keragaman dalam metode pengajaran dan kurikulum. Sistem pendidikan di Indonesia sebagian besar didasarkan pada metode pengajaran Islam, dengan fokus pada pembelajaran agnostik, pembelajaran kognitif minimal, dan pembelajaran psikososial minimal.

Sistem pendidikan India didasarkan pada pendekatan pendidikan universal, dengan fokus pada pendidikan agama. Di Malaysia, pendidikan terutama diajarkan di sekolah dasar dan dilaksanakan secara sistematis dan sistematis. Kurikulum di Malaysia berfokus pada nilai-nilai moral, etika, dan nilai moral, sedangkan di India didasarkan pada pendekatan pendidikan sekuler.

Di Tiongkok, pendidikan terkait erat dengan nilai-nilai moral, dan pendidikan moral menjadi aspek penting dalam pendidikan. Namun dalam perkembangannya, pendidikan moral dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pemerintah telah menerapkan berbagai langkah untuk mengatasi perbedaan pendidikan moral di berbagai negara, seperti india, Malaysia, India, dan Tiongkok.

Perkembangan pendidikan moral dipengaruhi oleh konsep nilai moral yang didasarkan pada keyakinan bahwa tidak ada prinsip moral yang universal dan nilai moral bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya individu. Pendidikan moral juga dipengaruhi oleh konsep pendidikan moral yang merupakan pandangan global yang mempertimbangkan kaidah dan norma eksternal.

Perkembangan pendidikan moral merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan berbagai faktor, antara lain pengembangan nilai moral, pengembangan strategi pendidikan moral, dan interaksi antara nilai moral dengan pengembangan pendidikan moral. Tujuannya adalah untuk menciptakan masyarakat yang menghargai dan menghormati nilai-nilai moral, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan tanggung jawab dalam pendidikan.
Pendidikan moral merupakan suatu bentuk pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan integritas pribadi melalui berbagai komponen. Integrasi pribadi dapat dicapai melalui berbagai pendekatan, seperti mengintegrasikan sifat-sifat pribadi, mendorong pertumbuhan pribadi, dan meningkatkan identitas pribadi.

Perjanjian moral pendidikan mengandung individualistis dan berbeda dengan perjanjian Kohlberg. Pendidikan moral fokus pada pembentukan pribadi secara integratif. Model pendidikan moral meliputi model perkembangan, model konsep diri, model kepekaan dan orientasi kelompok, serta model perluasan kesadaran.

Setiap model mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, seperti mengharuskan seorang guru untuk memiliki model yang paling efektif untuk lingkungan belajar tertentu. Guru hendaknya mempertimbangkan baik peran guru maupun peran guru dalam proses pembelajaran.
Pendidikan Nilai Moral adalah pendidikan nilai komprehensif yang membantu kemampuan nilai yang berbeda dan kemampuan nilai. Pendidikan nilai adalah keseluruhan proses pendidikan nilai yang kompleks dan mencakup cakupan yang luas dan beragam variasi yang dialami. Pendidikan nilai tidak dapat disajikan hanya oleh seorang guru atau hanya dalam satu pelajaran, tetapi diperlukan format yang beragam dari berbagai pelajaran yang memungkinkan secara sendiri atau kombinasi.

Metode dan Teknik Pendidikan Nilai Moral berbeda meliputi metode dogmatis, deduktif, induktif, atau reflektif. Metode dogmatik adalah metode untuk mengajarkan nilai kepada peserta didik dengan jalan menyajikan nilai kebaikan dan kebenaran. Metode deduktif adalah cara menyajikan nilai kebenaran dengan menguraikan jalan konsep tentang kebebanan itu agar dapat dipahami oleh peserta dididik. Metode induktif adalah metode yang berbeda dan berbeda dalam kehidupan yang berbeda dan berbeda dalam kehidupan yang berbeda dan berbeda dalam kehidupan yang berbeda.
Nama : Qurota A'yunin
NPM :2213053183
DEGRADASI MORAL PELAJAR DI ZAMAN MODERN
Dalam video di atas menjelaskan bahwa fenomena kekerasan sosial di lingkungan sekolah sudah sangat merajalela, pelajar zaman sekarang sudah sangat miris dalam video di atas ditayangkan bahwa seorang pelajar tega menganiaya gurunya hingga tewas belum diketahui motif utama dari pelajar itu. Guru honorer tersebut meninggalkan istri yang baru hamil 3 bulan dan istrinya berharap ada keadilan dari kasus ini.
Menurut ibu Retno Listiadi dunia pendidikan Indonesia sangat memprihatinkan dari 2014 kasus ini meningkat sampai 2017 sebenarnya apa yang dilakukan oleh anak itu tidak berdiri sendiri artinya pasti ada penyebab utama yang muncul seperti bagaimana pengasuhan anak di rumah artinya saat tiba di sekolah sikap dan perilaku itu tidak terbentuk begitu saja dan pastinya ada proses panjang dalam hidupnya dan kemudian ada kaitannya bagaimana guru di kelas melakukan pengelolaan kelas saat menghadapi anak-anak tertentu yang seperti ini.
Menurut ibu Dr. Itje Chodidjah,M.A untuk menghadapi murid di zaman dulu dan zaman sekarang itu berbeda pasti lebih susah yang sekarang sebenarnya guru harus memiliki kelengkapan yang utama dalam dirinya sebagai sosok pribadi yang baik dan sebetulnya sudah diatur dalam undang-undang bahwa seorang guru mempunyai empat standar kompetensi utama yaitu kompetensi kepribadian kompetensi sosial kompetensi profesional dan kompetensi pedagogi yang sebetulnya dalam pelatihan menjadi guru tempat hal ini belum dilaksanakan secara holistik jadi pelatihan sebelum menjadi guru itu mestinya perlu dilakukan scanning dalam psikologi supaya ketika dia masuk dalam sekolah guru dia betul-betul sudah siap untuk menjadi seorang pendidik jadi di dalam proses itu dia juga dikenalkan ragam sekolah ragam anak-anak yang kemudian dapat menangani bagaimana perilaku yang berbeda di dalam satu kelas dan pembekalan itu memang tidak cukup seperti yang sekarang dilakukan yaitu pembakaran yang bersifat pengetahuan saja. Jadi guru matematika misalnya tidak harus bisa matematika saja tapi juga perlu ada keterampilan dalam mengatasi siswa yang bermasalah.
Menurut ibu Vero adesla sebenarnya anak itu belum punya kekerasan artinya dia belum mampu mengelola emosi ketika dia marah ketika dia benci yang itu akan muncul impulsif atau rangsangan yang mendorong dia untuk bereaksi ketika dia marah dan dia tidak tahu apa konsekuensinya saat dia melampiaskan emosinya untuk itu kemampuan untuk emosi ini harusnya juga dilatih kepada anak-anak.
NAMA:Qurota A'yunin
NPM : 2213053183
pada vidio di atas menjelaskan bahwa Lawrence Kohlberg melakukan penelitian di Amerika yang kemudian menjadi fondasinya untuk merumuskan tahapan perkembangan moral, menurutnya tahap perkembangan moral dibagi menjadi tiga level setiap level memiliki dua tahap sehingga seluruhnya menjadi 6 tahap level pertama pra konvensional yang terdiri dari tahap 1 menghindari hukuman, tahap 2 keuntungan dan minat pribadi, level kedua konvensional terdiri dari tahap ketiga yaitu menjaga sikap orang baik ,tahap keempat memelihara peraturan .level ketiga pasca konvensional terdiri dari tahap 5 orientasi kontrak sosial dan tahap 6 prinsip etika universal .penjelasan dari tiap tahap: tahap 1 menghindari hukuman, di tahap ini seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu Karena untuk menghindari hukuman contohnya adalah ketika seseorang tidak menerobos lampu merah di jalan Raya ia melakukannya semata-mata karena tidak ingin seorang polisi mengejar dan menilangnya .Tahap 2 keuntungan dan minat pribadi, di tahap ini tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang akan didapatkan olehnya seperti apa untungnya bagiku ,Aku akan membantunya karena suatu hari dia akan balas membantuku.Tahap ketiga menjaga sikap orang baik seseorang mungkin menghindari pertengkaran karena ia memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya ia tidak bertengkar karena itu tidak baik dan orang baik tidak melakukannya itulah yang terjadi di tahap ketiga.Tahap keempat memelihara peraturan seorang ketua kelas mengenai kedua temannya yang bertengkar karena ia berpikir peraturan harus ditegakkan dan jika tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menjadi kacau karenanya peraturan harus selalu dipatuhi untuk memberikan kenyamanan bagi semua orang orientasi kontrak sosial dalam tahap ini seseorang menyadari bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda ia berpikir bahwa tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada. prinsip etika universal tahap ini adalah tahap yang menggambarkan prinsip internal seseorang ia melakukan hal yang dianggapnya benar walaupun bertentangan dengan hukum yang ada. untuk contoh nya : Heinz memiliki seorang istri yang sekarat di rumah sakit karena menderita kanker menurut dokter ada satu obat yang bisa menyelamatkannya obat itu baru saja ditemukan oleh seorang apoteker apoteker tersebut menjual obat dengan harga 10 kali lipat dari modal membuatnya lain yang miskin pergi ke setiap orang untuk meminjam uang namun ia hanya mendapatkannya sebanyak 1000 dolar sementara obat tersebut dihargai 2000 memberitahu apoteker bahwa istrinya sedang sekarat dan memintanya untuk memberikan obat itu untuk dilunasi di kemudian hari namun apoteker itu menolaknya. apa yang harus dilakukan oleh hains apakah ia perlu mencuri obat itu untuk menyelamatkan nyawa istrinya?

Situasi ini bisa dianalisis menggunakan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg. Berdasarkan tahapan moral yang diajarkan oleh Kohlberg, Hains mungkin akan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum membuat keputusan:

Tahap 1: Menghindari Hukuman
Hains mungkin berpikir, "Mencuri obat ini akan membahayakan saya secara hukum. Saya harus mempertimbangkan risiko ini."
Tahap 2: Keuntungan dan Minat Pribadi
Hains mungkin berpikir, "Menyelamatkan nyawa istri saya adalah prioritas utama. Namun, apakah saya dapat mengatasi konsekuensi finansial dari tindakan ini?"
Tahap 3: Menjaga Sikap Orang Baik
Hains mungkin berpikir, "Tindakan mencuri adalah tindakan yang tidak baik. Orang baik seharusnya tidak melakukan ini. Bagaimana pandangan sosial terhadap saya jika mereka mengetahui?"
Tahap 4: Memelihara Peraturan
Hains mungkin berpikir, "Ada aturan hukum yang melarang mencuri. Saya harus mempertimbangkan implikasi jangka panjang dari melanggar peraturan ini."
Tahap 5: Orientasi Kontrak Sosial
Hains mungkin berpikir, "Bagaimana konsekuensi hukum dan etika dari tindakan ini? Apakah ada cara lain untuk mendapatkan obat ini secara legal?"
Tahap 6: Prinsip Etika Universal
Hains mungkin berpikir, "Saya percaya bahwa menyelamatkan nyawa adalah tindakan yang benar, bahkan jika itu bertentangan dengan hukum. Namun, apa implikasi jangka panjang dari tindakan ini terhadap nilai-nilai etika universal?"
Keputusan akhir akan bergantung pada nilai, keyakinan, dan pertimbangan pribadi Hains. Ini adalah situasi yang sangat kompleks, dan tidak ada jawaban yang benar atau salah mutlak.