Alya Rifa Dwi Pangestu_2213053152_Hadir
གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ ALYA RIFA DWI PANGESTU 2213053152
ALYA RIFA DWI PANGESTU_2213053152_HADIR
Nama : Alya Rifa Dwi Pangestu
Npm : 2213053152
Kondisi masa kini sangat berbeda dengan kondisi masa lalu. Bagi generasi masa lalu pendidikan moral yang bersifat indoktrinatif sudah cukup memadahi untuk membendung terjadinya perilaku yang menyimpang dari norma- norma kemasyarakatan. Sebagai gantinya diperlukan pendekatan pendidikan nilai dan moral yang memungkinkan subjek didik mampu mengambil keputusan secara mandiri dalmn memilih nilai-nilai yang saling bertentangan, seperti yang terjadi pada kehidupan saat ini. Istilah komprehensif yang digunakan dalam pendidikan nilai Inencakup berbagai aspek. Pertama, isi pendidikan nilai harus komprehensif, meliputi semua pemsalahan yang berkaitan dengan pilihan nilai-nilai yang bersifat pribadi sampai pertanyaan-pertanyaan yang mengenai etika secara umum. Kedua, metode pendidikan nilai juga harus komprehensif, termasuk didalamnya inkulkasi (penanaman) nilai, pemberian teladan, dan penyiapan generasi muda .Ketiga, Pendidikan nilai hendaknya terjadi dalam keseluruhan proses pendidikan.Keempat, pendidikan nilai hendaknya terjadi melalui kehidupan dalam masyarakat. Pendidikan nilai dengan pendekatan konprehensif dipandang sesuai untuk di terapkan, karena pada masa sekarang ini kehidupan sudah semakin komplek dan perubahan di segala segi kehidupan berlangsung dengan sangat cepat. DiIihat dari segi materinya,pendidikan nilai dan moral Indonesia sudah cukup komprehensif, karena•nilai-nilai fundamnetal yang dapat menuntun kaarah pencapaian kebahagiaan manusia yang telah di sampaikan kepada subjek didik di semua jenjang pendidikan, melalui Pendidikan agama dan Pendidikan Moral Pancasila.
Npm : 2213053152
Kondisi masa kini sangat berbeda dengan kondisi masa lalu. Bagi generasi masa lalu pendidikan moral yang bersifat indoktrinatif sudah cukup memadahi untuk membendung terjadinya perilaku yang menyimpang dari norma- norma kemasyarakatan. Sebagai gantinya diperlukan pendekatan pendidikan nilai dan moral yang memungkinkan subjek didik mampu mengambil keputusan secara mandiri dalmn memilih nilai-nilai yang saling bertentangan, seperti yang terjadi pada kehidupan saat ini. Istilah komprehensif yang digunakan dalam pendidikan nilai Inencakup berbagai aspek. Pertama, isi pendidikan nilai harus komprehensif, meliputi semua pemsalahan yang berkaitan dengan pilihan nilai-nilai yang bersifat pribadi sampai pertanyaan-pertanyaan yang mengenai etika secara umum. Kedua, metode pendidikan nilai juga harus komprehensif, termasuk didalamnya inkulkasi (penanaman) nilai, pemberian teladan, dan penyiapan generasi muda .Ketiga, Pendidikan nilai hendaknya terjadi dalam keseluruhan proses pendidikan.Keempat, pendidikan nilai hendaknya terjadi melalui kehidupan dalam masyarakat. Pendidikan nilai dengan pendekatan konprehensif dipandang sesuai untuk di terapkan, karena pada masa sekarang ini kehidupan sudah semakin komplek dan perubahan di segala segi kehidupan berlangsung dengan sangat cepat. DiIihat dari segi materinya,pendidikan nilai dan moral Indonesia sudah cukup komprehensif, karena•nilai-nilai fundamnetal yang dapat menuntun kaarah pencapaian kebahagiaan manusia yang telah di sampaikan kepada subjek didik di semua jenjang pendidikan, melalui Pendidikan agama dan Pendidikan Moral Pancasila.
Nama : Alya Rifa Dwi Pangestu
Npm : 2213053152
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri peserta didik. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
Npm : 2213053152
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri peserta didik. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
Nama : Alya Rifa Dwi Pangestu
Npm : 2213053152
Kelas : 3/I
Pendidikan nilai dan moral
Nilai yang berarti memberikan harga pada suatu konsep yang dihadapi,sedangkan moral ialah kbiasaan-kebiasaan yang berulang-ulang oleh sekelompok orang.Terdapat beberapa pendekatan untuk menanmnkan nilai yaitu pemerintah membuat uu no 12 thn 2012 mengenai pendidikan tinggi pasal 35 tentang kurikulum ayat 3 yang berisi agama,pancasila,pendidikan kewarganegaraan,bahasa Indonesia wajib ada didalam dunia pendidikan sebagai penanaman nilai,kedua masyarakat atau komunitas kebiasaan dimasyakat akan membantu untuk menanamkan nilai,ketiga akademisi dimana dosen atau guru memberikan ilmu kepada setiap peserta didik,keempat pengusaha/pemilik modal,kelima media.Aliran dalam pengajaran nilai pertama aliran relativisme yaitu nilai tidak bisa diajarkan karena bersifat relative,subjektif,temprer,dan situasional,kedua aliran kebebasan tidak boleh diajarkan karena bertentangan dengan kodrat manusia untuk menentukan pilihanya secara bebas dan mandiri.
Npm : 2213053152
Kelas : 3/I
Pendidikan nilai dan moral
Nilai yang berarti memberikan harga pada suatu konsep yang dihadapi,sedangkan moral ialah kbiasaan-kebiasaan yang berulang-ulang oleh sekelompok orang.Terdapat beberapa pendekatan untuk menanmnkan nilai yaitu pemerintah membuat uu no 12 thn 2012 mengenai pendidikan tinggi pasal 35 tentang kurikulum ayat 3 yang berisi agama,pancasila,pendidikan kewarganegaraan,bahasa Indonesia wajib ada didalam dunia pendidikan sebagai penanaman nilai,kedua masyarakat atau komunitas kebiasaan dimasyakat akan membantu untuk menanamkan nilai,ketiga akademisi dimana dosen atau guru memberikan ilmu kepada setiap peserta didik,keempat pengusaha/pemilik modal,kelima media.Aliran dalam pengajaran nilai pertama aliran relativisme yaitu nilai tidak bisa diajarkan karena bersifat relative,subjektif,temprer,dan situasional,kedua aliran kebebasan tidak boleh diajarkan karena bertentangan dengan kodrat manusia untuk menentukan pilihanya secara bebas dan mandiri.