Posts made by Yuda Kristian Lumban Raja

Nama: Yuda Kristian Lumban Raja

NPM: 2213053260

Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern

Saat ini banyak pelajar yang perilakunya banyak penyimpangan.                                      Faktornya mungkin banyak tapi salah satunya adalah pola asuh anak di dalam rumah

Dan juga bagaimana seorang guru melakukan pengelolaan di dalam kelas                          Cara pembelajaran anak jaman dulu dan sekarang, sehingga guru harus bisa menyesuaikan kelengkapan pribadinya. Banyak guru yang belum bisa memenuhi 4 kompetensi menjadi seorang guru , yaitu: 1. Kompetensi kepribadian, Kompetensi Pendagogik, Kompentensi Profesional, Kompetensi Sosial yang tidak dilaksanakan secara holistic.

Pada kompetensi kepribadian guru harus dilatih yang dimana harus memiliki kepribadian yang berakhlak mulia, bijaksana dalam keputusan di kelas                                      Kompetensi sosial yaitu kekampuan guru dalam berintekasi dan berkomunikasi baik pada guru lainnya maupun kepada siswa yang efesien dan efektif                                  Kompetensi pendagogik adalah kemampuan seorang guru dalam memahami karakteristik setiap siswa baik aspek sosial, emosional maupun intelektualnya                        Kompetensi professional adalah kemampuan guru dalam membuat bahan ajar yang sesuai dengan siswa di dalam kelas, sehingga yang diajarkan tidak terlalu banyak atau membuat tekanan pada siswa

Secara psikologi , ada tingkat level kognisi ( kemampuan bernalar dan berpikir)            Ketika dia marah dan emosi akan muncul impuls atau rangsangan sehingga anak tersebut tidak ada pemikiran akibat dari Tindakan tersebut


Nama: Yuda Kristian Lumban Raja

Npm: 22130053260

6 Tahap Perkembangan Moral Menurut Kholberg

level 1 "Pra-Konvensional"                                           -Menghindari Hukuman                                             -Keuntungan dan Minat Pribadi 

Level 2 "Konvensional"                                                   -Menjaga sikap orang baik                                         -Memelihara Peraturan 

level 3 "Pasca-Konvensional"                                     -Orientasi Kontrak Sosial                                           -Prinsip Etika Universal

1. Menghindari Hukuman                         Seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu karena untuk menghindari hukuman, contohnya pengendara tidak menerobos lampu merah karena tidak ingin ditilang atau dikejar polisi

2. Keuntungan dan Minat Pribadi              Tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yang didapatkan olehnya

3. Menjaga sikap orang baik                  Memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya

4. Memelihara peraturan                                      Jika peraturan tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menajdi kacau. karenanya peraturan harus selalu dipatuhi 

5. Orientasi kontrak sosial                                Setiap orang memiliki latar belakang dan situasi yang berbeda, tidak ada yang Absolut atau pasti karena melihat sebuah kasus, Hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada

6. Prinsip etika universal               Menggambarkan prinsip internal seseorang, ia melakukan hal yang dianggapnya benar, walaupun bertentanggan dengan hukum yang ada

Kohlberg menggunakan cerita dilemma dalam penelitiannya - Dilema Heinz

Pra-Konvensional, Heinz tidak akan bertindak apa-apa karena apabila melakukan pencurian ia akan mendapatkan Hukuman yang Heinz perbuat

Konvensional, Heinz juga tidak bertindak apa-apa karena ia akan memikirkan bagaimana perlakuan orang sekitar terhadapnya, dan apabila melakukan pencurian hal tersebut melanggar peraturan

Pasca-Konvensional, Heinz akan melakukan pencurian tersebut karena ingin menyelamatkan istrinya yang terkena kanker dan dianggap benar karena menyelamatkan nyawa istrinya

Nama: Yuda Kristian Lumban Raja

Npm: 2213053260

Analisis Jurnal "PENTINGNYA PENDIDIKAN NILAI DI ERA GLOBALISASI"

Beberapa contoh penyimpangan moral di kalangan pelajar

Menyontek saat ujian: praktik menyontek saat ujian nasional, di mana guru mungkin akan memberikan soal ujian yang bocor atau melakukan praktik tidak jujur ​​lainnya untuk memastikan siswanya lulus.

Kurangnya kejujuran, ketekunan, ketelitian, dan keadilan: Prevalensi menyontek di sekolah telah mengikis nilai-nilai seperti kejujuran, ketekunan, ketelitian, dan keadilan di kalangan siswa.

Pengaruh media: Siswa terpapar pada praktik menyontek melalui televisi dan media cetak, yang dapat berkontribusi pada normalisasi perilaku tidak jujur.

Hilangnya kecintaan terhadap produk dalam negeri: Globalisasi telah menyebabkan menurunnya sentimen nasionalisme di kalangan pelajar karena mereka cenderung lebih memilih produk luar negeri dibandingkan produk dalam negeri.

Krisis identitas: Banyak anak muda di Indonesia yang melupakan identitas Indonesia mereka dan malah mengadopsi budaya Barat, yang dianggap sebagai cita-cita sebagian masyarakat.

Ketimpangan sosial: kesenjangan sosial yang tajam akibat globalisasi ekonomi, yang dapat menimbulkan konflik dan mengganggu stabilitas nasional.


  Kita mesti sadar bahwa dekadensi nilai-nilai moral dalam dunia pendidikan kita layak dicermati dampaknya.

  Praktik pembelajaran yang tidak menjunjung nilai-nilai moral akan berdampak pada karakter generasi muda kita.

  Di pihak lain, anak didik juga melihat praktik kejadian dengan sangat nyata yang disiarkan melalui media televisi dan cetak.

  Hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukkan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita.

  Masyarakat kita, khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia.

  Terjadinya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi.

[Guru dapat menggunakan strategi berikut untuk secara efektif menanamkan nasionalisme yang tinggi, yaitu:

Keteladanan: Guru dapat menjadi teladan dengan menunjukkan nasionalisme yang tinggi dan mewujudkan nilai-nilai budaya yang luhur dalam perilaku dan tindakannya. Siswa lebih cenderung meniru perilaku yang mereka lihat pada gurunya.

Memasukkan Contoh yang Relevan: Guru dapat menggunakan contoh yang relevan dari sejarah, sastra, dan peristiwa terkini untuk menggambarkan pentingnya nasionalisme yang tinggi dan nilai-nilai budaya yang luhur. Hal ini membantu siswa memahami penerapan praktis nilai-nilai ini dalam situasi kehidupan nyata.

Mendorong Berpikir Kritis: Guru dapat mendorong siswa untuk berpikir kritis tentang identitas budaya mereka sendiri dan nilai-nilai yang mereka pegang. Dengan terlibat dalam diskusi dan debat, siswa dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya nasionalisme yang tinggi dan nilai-nilai budaya yang luhur.

Mempromosikan Apresiasi Budaya: Guru dapat mengatur kegiatan dan acara yang mempromosikan apresiasi budaya, seperti merayakan hari libur nasional, mengundang pembicara tamu dari latar belakang budaya yang berbeda, dan mendorong siswa untuk berbagi tradisi dan nilai-nilai budaya mereka sendiri.

Keterlibatan Masyarakat: Guru dapat mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proyek dan inisiatif pengabdian masyarakat yang mengedepankan nasionalisme tinggi dan nilai-nilai budaya luhur. Hal ini membantu siswa mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap komunitas mereka dan menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya nilai-nilai ini.

Menciptakan Lingkungan Belajar yang Positif: Guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dan inklusif di mana siswa merasa aman untuk mengungkapkan pendapat dan keyakinannya. Hal ini memungkinkan terjadinya diskusi terbuka tentang nasionalisme yang tinggi dan nilai-nilai budaya yang luhur, menumbuhkan rasa memiliki dan menghargai di kalangan siswa.

[Potensi manfaat pendidikan nilai di era globalisasi adalah:

Mengembangkan kondisi mental yang sehat: Pendidikan nilai membantu anak mengembangkan kondisi mental yang sehat dengan menanamkan nilai-nilai moral dalam diri mereka sejak usia muda. Hal ini penting di era globalisasi di mana terdapat kebutuhan bagi individu untuk memiliki rasa percaya diri yang kuat dan pemahaman yang jelas tentang nilai-nilainya.

Mempersiapkan anak untuk adaptasi: Pendidikan nilai dalam bentuk pendidikan informal sebelum pendidikan formal (seperti sekolah dasar dan menengah) membantu anak-anak lebih mudah beradaptasi terhadap tantangan dunia global.

Meningkatkan kecerdasan majemuk: Pendidikan nilai mendorong pengembangan kecerdasan majemuk, termasuk analisis numerik, linguistik, musikal, fisik, spasial, alami, dan pribadi. Hal ini membantu anak-anak menjadi individu yang utuh dan mampu berkembang di era globalisasi.

Menumbuhkan kreativitas: Pendidikan nilai menekankan pentingnya kreativitas, yang sangat penting di era globalisasi di mana inovasi dan kemampuan beradaptasi sangat dihargai.

Menumbuhkan kesadaran dan perspektif yang luas: Pendidikan nilai meningkatkan kesadaran dan perspektif yang luas, memungkinkan individu untuk memahami isu-isu global dan membuat pilihan berdasarkan informasi mengenai nilai-nilai dan informasi mana yang relevan dengan identitas budaya mereka.

 Yuda Kristian Lumban Raja

2213053260

Analisis Jurnal

  Pemerintah Aceh menerapkan pendidikan Islam dalam sistem kurikulum melalui penerapan Qanun Aceh, khususnya Qanun Aceh No.9/2015

   Pendidikan memegang peranan penting dalam membentuk nilai-nilai moral peserta didik di Aceh. Hal ini dinilai krusial dalam pembangunan 

"Dimana pendidikan memegang peranan yang sangat berarti dalam pembentukan akhlak di kalangan peserta didik, bahkan menjadi tumpuan budaya masyarakat. 

"Dalam menjawab perihal tersebut pemerintah Aceh tidak hanya menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan yang diamanatkan secara nasional, pemerintah Aceh pula melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kekhususan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah Aceh."

 “Penyelenggaraan pendidikan di seluruh satuan pendidikan berpedoman pada ajaran Islam. Implementasi pendidikan di Sekolah di Aceh secara keseluruhan sudah Islami, dengan indikator sistem pengelolaan sekolah memiliki nilai transparansi, akuntabilitas, pendekatan keteladanan, pengembangan budaya berbasis islami dan penerapan kurikulum islami sebagaimana diatur dalam qanun.

  Perubahan sosial yang cepat pada masyarakat Aceh telah menimbulkan hal tersebut:

Pergeseran Gaya Hidup: Gaya hidup yang serba cepat dan paparan terhadap teknologi baru telah menyebabkan penurunan nilai-nilai tradisional dan praktik budaya di kalangan remaja. Pergeseran gaya hidup ini mengakibatkan kurangnya apresiasi terhadap adat istiadat setempat dan melemahnya nilai-nilai moral.

Dilema Moral: Remaja di Aceh menghadapi dilema moral akibat benturan antara nilai-nilai tradisional dan pengaruh modern. Mereka sering kesulitan untuk menavigasi antara harapan masyarakat dan keinginan pribadi, sehingga menyebabkan konflik dalam pengambilan keputusan dan penilaian moral.

Tekanan Teman Sebaya: Tekanan teman sebaya adalah tantangan umum yang dihadapi remaja di seluruh dunia, termasuk di Aceh. Remaja mungkin merasa terdorong untuk menyesuaikan diri dengan perilaku negatif atau melakukan aktivitas yang bertentangan dengan nilai moral karena pengaruh teman sebayanya.

Kerusakan Moral: Terkikisnya nilai-nilai moral seperti kejujuran, integritas, dan rasa hormat menjadi kekhawatiran masyarakat Aceh. Remaja mungkin terkena korupsi, ketidakjujuran, dan praktik tidak etis, yang dapat melemahkan perkembangan moral mereka.

Kurangnya Teladan: Tidak adanya teladan moral yang kuat di berbagai bidang kehidupan, termasuk keluarga, komunitas, dan media, dapat menghambat perkembangan moral remaja. Kurangnya contoh positif yang dapat ditiru membuat mereka sulit untuk menumbuhkan dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

Mengatasi tantangan moral ini memerlukan pendekatan komprehensif melalui pendidikan. Sangat penting untuk memasukkan pendidikan moral dan nilai-nilai ke dalam kurikulum, mempromosikan teladan positif, menumbuhkan sikap suportif dan etis

  Perubahan sosial yang cepat

Menurunnya nilai-nilai moral Gaya hidup serba cepat dan terpapar pengaruh luar menyebabkan menurunnya nilai-nilai moral di kalangan remaja. Hal ini terlihat dari perilaku dan proses pengambilan keputusan mereka.

Perilaku menyimpang: Remaja di masyarakat Aceh semakin banyak yang melakukan perilaku menyimpang, seperti penyalahgunaan narkoba, seks pranikah, dan keterlibatan dalam kegiatan kriminal. Perilaku tersebut seringkali dikaitkan dengan pengaruh teman sebaya dan kurangnya bimbingan dan pengawasan.

Nilai-nilai budaya yang bertentangan: Bentrokan antara nilai-nilai budaya tradisional dan pengaruh modern telah menciptakan dilema moral bagi remaja. Mereka sering kali terpecah antara berpegang pada nilai-nilai tradisional dan menerima perubahan norma-norma masyarakat.

Kurangnya bimbingan moral: Kurangnya bimbingan dan pendidikan moral yang tepat berkontribusi terhadap tantangan moral yang dihadapi remaja. Banyak remaja tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk membuat keputusan etis dan mengatasi dilema moral.

Untuk mengatasi tantangan moral ini, pendidikan memainkan peran penting. Berikut adalah beberapa cara di mana pendidikan dapat mengatasi tantangan-tantangan ini:

Kurikulum pendidikan moral: Menerapkan kurikulum pendidikan moral komprehensif yang berfokus pada pengembangan karakter, pengambilan keputusan etis, dan pendidikan nilai dapat membantu menanamkan nilai-nilai moral pada remaja. Kurikulum ini harus diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan yang ada.

Pelatihan guru: Memberikan pelatihan dan sumber daya kepada guru untuk mengajarkan pendidikan moral secara efektif sangatlah penting. Guru harus dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan untuk membimbing dan membimbing siswa dalam pengembangan moral.

Keterlibatan orang tua: Mendorong keterlibatan orang tua dalam pendidikan moral sangatlah penting. Orang tua hendaknya terlibat aktif dalam perkembangan moral anak dan memberikan bimbingan serta dukungan.

Keterlibatan masyarakat: Melibatkan masyarakat dalam inisiatif pendidikan moral dapat menciptakan lingkungan yang mendukung bagi remaja. Tokoh masyarakat, lembaga keagamaan, dan organisasi lokal dapat berkolaborasi dengan sekolah untuk mempromosikan nilai-nilai moral dan memberikan teladan positif.

Program dukungan sebaya: Membangun program dukungan sebaya dapat membantu remaja mengembangkan hubungan positif dan terlibat dalam kegiatan pro-sosial. Mentor sejawat dapat menjadi panutan dan memberikan bimbingan kepada rekan sejawatnya.

Yuda Kristian Lumban Raja

2213053260

Analisis dari video tersebut adalah sangat mirisnya kekerasan di sekolah, terlebih lagi di Sekolah Dasar yang dimana sangat mengejutkan, umurnya belum menginjak belasan tahun tetapi sudah mampu melalukan hal tersebut. 

   Yang disayangkan adalah kekerasan tersebut terjadi di tempat yang seharusnya tempat untuk menuntut ilmu dan menjadi rumah kedua, tetapi menjadi tempat yang mengerikan terjadi. 

    Banyak faktor yang menjadi penyebab dari adanya kekerasan tersebut, mungkin dari luar lingkungan sekolah (Media Sosial, Masalah keluarga, dll), tetapi guru juga haruslah sigap dalam memahami karakteristik setiap siswanya sehingga ketika Ada yang berbeda dari siswa tersebut bisa di ajak bicara sehingga siswa tersebut tidak merasa sendirian, 

     Banyak hal yang diakibatkan dari kejadian tersebut, bahkan tak sedikit yang berakibat fatal baik pelaku maupun korban. Di rumah maupun di sekolah haruslah mengajarkan kepada siswa betapa pentingnya nilai moral dalam kehidupan sehari-hari, sehingga meminimalkan kekerasan yang Ada dalam lingkungan sekolah