Posts made by Yuda Kristian Lumban Raja

Nama: Yuda Kristian Lumban Raja

NPM: 2213053260

Instrumen penilaian adalah alat yang digunakan sebagai bahan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik dengan beragam cara dan alat penilaian 

Manfaat:

1. Bagi Peserta didik: 

Untuk memelihara pertumbuhan peserta didik agar sehat dan konsisten

Perkembangan peserta didik lebih optimal,

Peserta didik mendapatkan simulasi sesuai dengan minat

Peserta didik mendapatkan dukungan lebih sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya

2. Bagi Orang Tua:

Orang tua akan mendapatkan informasi pertumbuhan, perkembangan dan minat peserta didik 

Memudahkan orang tua mensimulasikan

Membuat keputusan bersama antara orang tua dengan pihak sekolah 

3. Bagi Guru:

Untuk mengetahui, sikap, berkembangan Peserta didik

Mendapatkan informasi awal  dalam permasalahan perkembangan peserta didik

Mengetahui kesesuaian simulasi dalam kebutuhan nya 

Prinsip Penilaian

1. Mendidik

2. Berkesinambungan

3. Objektif

4. Akuntabel

5. Transparan

6. Sistematis

7. Menyeluruh

8. Bermakna 

Teknik dan Lingkup Penilaian

Teknik penilaian mencakup pencapaian perkembangan peserta didik dan dapat dijadikan pedoman penilaian peserta didik meliputi instrumen penilaian proses, catatan anekdot dan rubrik

Mekanisme penilaian yaitu:

Menyusun teknik instrumen penilaian

Melaksanakan proses penilaian

Mendokumentasikan proses penilaian dan hasil belajar peserta didik

Melaporkan capaian perkembangan peserta didik

Bentuk penilaian

Harian, mingguan, bulanan, semester, portofolio anak, dokumentasi lain yang diperlukan.


Nama: Yuda Kristian Lumban Raja

NPM: 2213053260

Etika, Nilai dan Moral saling berkaitan, karena berusaha mengarahkan manusia memiliki pola pikir, sikap dan perilaku yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

Etika adalah cara manusia memperlakukan sesama dalam menjadi kehidupan yang baik. 

Contohnya:

-mengucapkan salam ketika bertamu

-menyalim orang tua ketika keluar rumah

-membuang sampah pada tempatnya

Etika dan moral memiliki pengertian yang hampir sama yang mengandung nilai dan moral tingkah laku manusia dan mengacu pada kebiasaan masyarakat

Nilai adalah sesuatu yang bermakna bagi hidup yang menjiwai tindakan dalam perilaku seseorang

Nilai bersifat relatif

Nilai bersifat subjektif

Nama: Yuda Kristian Lumban Raja

NPM: 2213053260

JURNAL: JIPSINDO No. 2, Volume 6, September 2019

JUDUL: PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG

Penulis: Enung Hasanah

Perkembangan Moral pada Siswa Sekolah Dasar

Responden adalah siswa Sekolah Dasar berusia antara 11-12 tahun. Berdasarkan teori Kohlberg, anak-anak usia ini umumnya berada pada tahap pra-konvensional dalam perkembangan moral. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan melibatkan wawancara dengan para peserta penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para peserta penelitian cenderung memiliki perkembangan moral pada tahap 1, di mana mereka cenderung mematuhi aturan karena takut dihukum.

Pentingnya Perkembangan Moral dalam Pendidikan

Perkembangan moral merupakan aspek penting dalam pendidikan siswa. Selain pembelajaran akademis, siswa juga perlu mengembangkan keterampilan sosial dan emosional, seperti kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah. Perkembangan moral yang optimal akan membantu siswa dalam mengambil keputusan moral yang tepat ketika dihadapkan pada dilema moral. Hal ini sangat penting di Indonesia, di mana masyarakatnya secara umum meyakini bahwa moral adalah pondasi keberhasilan seseorang dalam kehidupan pribadi dan karir.

Peran Pendidikan dalam Perkembangan Moral

Pendidikan memiliki peran penting dalam perkembangan moral siswa. Selain memberikan pengetahuan dan keterampilan, pendidikan juga bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai, membina sikap yang tepat, dan membentuk karakter generasi muda. Proses pendidikan dimulai sejak dalam kandungan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan karakter menjadi salah satu aspek penting dalam pendidikan, di mana para peneliti dan pendidik karakter berpendapat bahwa pendidikan karakter pada periode kanak-kanak sangat penting dalam membentuk karakter individu. 

Kesimpulan, perkembangan moral siswa Sekolah Dasar berusia antara 11-12 tahun cenderung berada pada tahap 1, di mana mereka mematuhi aturan karena takut dihukum. Perkembangan moral yang optimal sangat penting dalam pendidikan siswa, terutama di Indonesia yang masyarakatnya meyakini bahwa moral adalah pondasi keberhasilan seseorang. Pendidikan memiliki peran penting dalam perkembangan moral siswa, di mana pendidikan karakter pada periode kanak-kanak menjadi aspek yang sangat penting dalam membentuk karakter individu.

Nama: Yuda Kristian Lumban Raja

NPM: 2213053260

Jurnal: Cakrawala Pendidikan, Juni 2009, Th. XXVIII, No. 2

Judul Jurnal: PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL

Penulis: Sudiati


 Dalam Jurnal dibahas isu pendidikan nilai moral di empat negara, yaitu Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. Setiap negara memiliki karakteristik dan latar belakang ideologi yang berbeda, yang mempengaruhi sistem pendidikan nilai mereka.

Indonesia

Di Indonesia, pendidikan nilai masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan peningkatan kesadaran dalam perspektif global. Masih ada pandangan yang terlalu simplistik mengenai pendidikan nilai sebagai wahana penyadaran nilai-nilai yang sektarian-subjektif.

Malaysia

Di Malaysia, harapan masyarakat dan orang tua terhadap kemampuan akademik siswa dapat menggeser pengembangan nilai sentimental, perasaan, dan moralitas. Kerjasama yang erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mengembangkan kepribadian siswa juga masih kurang

India

India merupakan negara federal yang tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Namun, kurangnya kerjasama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan nilai menjadi tantangan.

Cina

Di Cina, pendidikan nilai memiliki hubungan erat dengan kewajiban moral. Namun, perkembangan pendidikan nilai dihadapkan pada tantangan seperti fokus yang terlalu besar pada kemampuan siswa nya

terdapat beberapa informasi  tentang tradisi humanistik dalam klasifikasi nilai, termasuk nilai terminal dan instrumental. Nilai-nilai instrumental mencakup bercita-cita keras, berwawasan luas, berkemampuan, ceria, bersih, bersemangat, pemaaf, penolong, jujur, imajinatif, mandiri, cerdas, logis, cinta, taat, sopan, tanggung jawab, dan pengawasan diri. Sementara itu, nilai-nilai terminal mencakup hidup nyaman, hidup bergairah, rasa berprestasi, rasa kedamaian, rasa keindahan, rasa persamaan, keamanan keluarga, kebebasan, kebahagiaan, keharmonisan diri, kasih sayang yang matang, rasa aman secara luas, kesenangan, keselamatan, rasa hormat, pengakuan sosial, persahabatan, dan kearifan

Pendidikan nilai moral di beberapa negara, termasuk Indonesia, Malaysia, India, dan Cina. Setiap negara memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri dalam mengembangkan pendidikan nilai moral. Misalnya, di Indonesia, pendidikan nilai masih belum banyak menyentuh pemberdayaan dan pen- cerahan kesadaran dalam perspektif global. Di sisi lain, Malaysia dan India memiliki latar belakang ideologi yang berbeda, namun keduanya tetap mempertahankan nilai-nilai agama sebagai nilai universal. Sementara itu, Cina memiliki hubungan erat antara pendidikan dan kewajiban moral, namun pendidikan nilai dihadapkan pada tantangan seperti fokus pada kemampuan akademik yang dapat menggeser pengembangan sentimental, perasaan, dan moralitas.Dalam konteks perkembangan moral, Teori perkembangan moral Kohlberg yang memiliki tahap-tahap perkembangan moral. Namun, teori ini dikritik oleh Gilligan karena penelitiannya hanya melibatkan responden laki-laki, sementara wanita memiliki perbedaan dalam membuat keputusan moral. Meskipun demikian, teori perkembangan moral Kohlberg yang memiliki tahap-tahap perkembangan moral. Namun, teori ini dikritik oleh Gilligan karena penelitiannya hanya melibatkan responden laki-laki, sementara wanita memiliki perbedaan dalam membuat keputusan moral. Meskipun demikian, teori perkembangan moral Kohlberg tetap memberikan sumbangan pemikiran yang berguna dalam kajian moral.

Dalam kesimpulannya,  memberikan gambaran tentang tradisi humanistik dalam klasifikasi nilai, pendidikan nilai moral di beberapa negara, dan teori perkembangan moral Kohlberg. Namun, dokumen ini juga mengakui bahwa masih ada tantangan dan perbedaan dalam mengembangkan pendidikan nilai moral di masing-masing negara.