Kiriman dibuat oleh Fara Adilia 2213053003

Nama : Fara Adilia
NPM : 2213053003
berdasarkan jurnal tersebut,dapat disimpulkan bahwa
pendidikan moral di sekolah penting
dilakukan oleh guru dan segenap
komponen warga sekolah agar tercapai
pendidikan moral yang komprehensif.
Komponen-komponen pendidikan moral
di sekolah yang lain yang tidak kalah
penting adalah cakupan materi, variasi
metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen-
komponen tersebut, sekolah dengan guru
sebagai peran utama dapat merancang
pendidikan moral secara lebih
komprehensif sehingga hasilnya dapat
dicapai secara optimal, yaitu
berkembangnya nilai-nilai moral dalam
diri peserta didik sehingga mereka
menjadi generasi muda yang berkualitas.
Nama: Fara Adilia
NPM : 2213053003
Analisis dari proses pendidikan nilai moral di lingkungan keluarga sebagai upaya mengatasi kenakalan remaja oleh Fahrudin mungkin mencakup beberapa poin penting:

Keluarga sebagai Agen Pendidikan Moral: Kesimpulan dapat menyatakan bahwa keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk nilai moral remaja. Keluarga adalah tempat pertama di mana remaja memperoleh nilai-nilai moral dasar.

Komunikasi dan Teladan: Kesimpulan bisa menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara orang tua dan anak, serta peran teladan yang diberikan oleh orang tua. Ini adalah kunci dalam mempengaruhi perilaku moral remaja.

Pembentukan Karakter: Proses pendidikan moral di keluarga harus ditujukan untuk membentuk karakter yang kuat dan nilai-nilai positif, seperti kejujuran, empati, dan tanggung jawab.

Pengawasan dan Pengarahan: Orang tua perlu mengawasi aktivitas remaja mereka, memberikan arahan yang tepat, dan memberikan pemahaman tentang konsekuensi perilaku negatif.

Kolaborasi dengan Institusi Lain: Kesimpulan dapat mencakup ide kolaborasi keluarga dengan lembaga pendidikan dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung nilai moral.

Dampak Positif: Kesimpulan dapat merinci bahwa pendidikan nilai moral di keluarga dapat mengurangi kenakalan remaja, meningkatkan kualitas kehidupan keluarga, dan berkontribusi pada pembentukan generasi muda yang lebih bertanggung jawab.

3F Pendidikan Nilai dan Moral -> FORUM pertanyaan

oleh Fara Adilia 2213053003 -
Nama : Fara Adilia
NPM : 2213053003
Kelas : 3F
Hardskill dan softskill adalah dua komponen yang berbeda dalam menilai kemampuan seseorang:

Hardskill adalah kemampuan yang terukur dan dapat diajarkan dengan pelatihan atau pendidikan formal. Ini mencakup pengetahuan teknis dan keterampilan khusus yang diperlukan untuk pekerjaan tertentu, seperti pemrograman komputer, matematika, atau bahasa asing.

Softskill adalah kualitas non-teknis yang mencerminkan kepribadian dan interaksi sosial seseorang. Ini termasuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerjasama tim, adaptabilitas, dan empati. Softskill tidak selalu mudah diukur dan seringkali merupakan atribut yang lebih sulit diajarkan daripada hardskill.

Kedua jenis keterampilan ini penting dalam dunia kerja. Hardskill biasanya diperlukan untuk tugas-tugas tertentu, sedangkan softskill memengaruhi bagaimana seseorang berinteraksi dengan orang lain dan berhasil dalam lingkungan kerja. Kriteria penilaian untuk hardskill dan softskill berbeda, karena hardskill dapat diuji dan diukur secara lebih konkret, sedangkan softskill lebih terkait dengan perilaku dan interaksi antarindividu.
Nama : Fara Adilia
NPM : 2213053003

Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam mewujudkan warga
negara yang berkepribadian tinggi dan berakhlak mulia, sehingga dapat menciptakan
SDM yang berkualitas tinggi. Peranan pendidikan tersebut kapan saja sangat
dibutuhkan, lebih-lebih mengingat salah satu permasalahan bangsa yang sangat
mengkhawatirkan saat ini adalah moral dan akhlak. Perlunya penanaman nilai-nilai
moral, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat secara keseluruhan.
Pada masa usia dini dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai moral, untuk
perkembangan serta kecerdasan moral anak. Pendidikan moral diartikan sebagai suatu
konsep kebaikan yang diberikan atau diajarkan kepada peserta didik untuk membentuk
budi pekerti luhur, berakhlak mulia dan berperilaku terpuji seperti terdapat dalam
Pancasila dan UUD 1945.
Di dalam penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini dapat menggunakan
berbagai metode yaitu metode bermain, bercerita, pemberian tugas dan bercakap- cakap, penggunaan metode tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi dan karakter
anak yang menjadi sumber pertimbangan utama. Sebab metode akan sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini. Cara pelaksanaan penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini, pada jalur
pendidikan non formal cara penanaman nilai-nilai moral pada anak usia dini bisa
dilakukan melalui pendidikan keluarga dan pendidikan yang diselenggarakan oleh
lingkungan, pada jalur pendidikan formal dapat dilakukan melalui kegiatan pelaksanaan
pembelajaran meliputi kegiatan lingkungan bermain, kegiatan inti dan kegiatan penutup.
Nama : Fara Adilia
NPM:2213053003
Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa Guru di SD
Negeri Lampeuneurut telah menanamkan 10 nilai moral yaitu nilai religius, nilai
sosialitas, nilai gender, nilai keadilan, nilai demokrasi, nilai kejujuran, nilai
kemandirian, nilai daya juang, nilai tanggungjawab, dan nilai penghargaan terhadap
lingkungan. Adapun cara untuk menanamkan nilai-nilai tersebut adalah dengan
menyisipkan ke semua mata pelajaran yang diajarkannya, melalui lingkungan
sekolah dan kerjasama dengan orang tua. Disamping itu siswa di SD Negeri
Lampeuneurut mempunyai tingkah laku yang baik karena sudah mengetahui
beberapa nilai-nilai moral dan memudahkan guru untuk melanjutkannya.