Kiriman dibuat oleh Zalianti Jahratun Nisya (2213053005)

Nama : Zalianti Jahratun Nisya
2213053005

Identitas Jurnal
Nama Jurnal : JIPSINDO
Volume : 6
Nomor : 2
Halaman : 131-145
Tahun Terbit : September 2019
Judul Jurnal : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN
TEORI KOHLBERG
Nama Penulis : Enung Hasanah

ABSTRAK
Teori Kohlberg dikenal sebagai teori yang mengukur tingkatan moral seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat perkembangan moral siswa SD yang berusia antara 11-12 tahun, berdasarkan tahapan perkembangan teori Kohlberg. Penelitian menggunakan metode kualitatif.

PENDAHULUAN
Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai, pelatihan naluri, membina sikap yang tepat dan kebiasaan terhadap generasi muda. Arthur, seorang peneliti dan pendidik karakter memberikan penjelasan bahwa berdasarkan beberapa tulisan mengenai pendidikan karakter, para peneliti atau filsuf cenderung mengambil kesimpulan bahwa hal substantif mengenai pendidikan karakter dan pembentukan karakter pada periode kanak-kanak adalah umumnya menjelaskan dan menganalisis tentang konsep moral . Moralitas selalu berbicara tentang nilai, yang menjadi evaluasi standar normatif dalam mengatur kehidupan manusia. Evaluasi standar normatif maksudnya adalah moralitas merupakan sebuah kesepakatan antara individu dengan masyarakat mengenai kriteria baik atau buruknya sesuatu, sehingga akan menentukan apakah suatu hal layak atau tidak layak untuk dikerjakan oleh individu atau masyarakat. Hal itu didasari oleh pertimbangan moral .


Teori Kohlberg
Perkembangan moral telah dipelajari dari berbagai perspektif psikologis, termasuk teori belajar, psikoanalisis, dan lain-lain. Studi saat ini tentang telah dipengaruhi pendekatan perkembangan kognitif Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg. Asumsi utama Piaget adalah bahwa kognisi dan afek berkembang secara paralel dan keputusan moral merupakan proses perkembangan kognisi secara alami. Sebaliknya, kebanyakan ahli psikologi pada masa itu berasumsi bahwa pikiran proses psikologi sosial. Seseorang dihadapkan pada dilema moral supaya muncul minatnya, lalu ditanya secar alangsung bagaimana solusinya terhadap dilema tersebut dan mengapa dia mengambil keputusan seperti itu . Mengamati tingkah laku tidak menunjukan banyak mengenai kematangan moral. Kohlberg juga tidak memusatkan pernyataan seseorang, apakah mengatakan sesuatu hal benar atau salah. Seorang dewasa yang sudah matang dan seorang anak kecil, mungkin berkata bahwa mencuri mangga itu salah. Sekali lagi tidak tampak perbedaan antara orang dewasa dengan anak kecil. Apa yang menampakan perbedaan dalam kematangan moral itu adalah pertimbangan-pertimbangan yang diberikan oleh mereka, mengapa mencuri mangga itu salah. Memperhatikan pertimbangan mengapa suatu tindakan seseorang atau bahkan mendengar pernyataannya bahwa sesuatu itu salah. Mungkin saja seseorang menunjukan bahwa berbuat curang itu salah, karena dapat ditangkap, sedangkan orang lain merongrong barangkali kepercayaan umum berbuat curang dibutuhkan itu berlangsungnya masyarakat

METODE PENELITIAN
Responden dalam penelitian sederhana ini adalah siswa yang berusia antara 11-12 tahun. Menurut Teori Kohlberg , secara umum anak usia 10-12 tahun termasuk praadolesen, tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3. Meski demikian, untuk memudahkan dalam proses pengambilan data, penelitian ini disertai panduan wawancara berupa soal dilema moral yang memerlukan jawaban terbuka dari para peserta penelitian.

PENUTUP
Menurut hasil analisis data menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg , anak - anak berusia antara 11 dan 12 tahun sebagian besar berada pada titik tengah pra konvensional antara sepertiga kedua dan ketiga , dan mereka terus - menerus termotivasi untuk melakukan tindakan tertentu, tindakan yang dihukum. hasil sederhana ini, responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.
Nama : Zalianti Jahratun Nisya
2213053005

IDENTITAS JURNAL
Judul : PENDIDIKAN NILAI MORA DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL
Nama Jurnal : Cakrawala Pendidikan
Penulis : sudiati
Halaman : 209-221
Tahun : 2009

ABSTRAK
Menggunakan bahasa bahasa inggris.
Moral value education is both a demand and a need for human beings as a manifestation of togetherness in terms of nations and countries with a variety of problems. Moral value education is an alternative problem solution which is local, regional, national, and international in nature. However, such countries emphasize moral value education on moral ethic values, especially on values related to human rights that are universal and global in nature. The concept of moral value education proposed by Kohlberg and Miller tends to be individualistic. The approaches to moral value education include inculcating, modelling, facilitating, and skill development approaches, and the methods include dogmatic, deductive, inductive, and reflective methods.

PENDAHULUAN
Kompleksitas mengemuka dalam tatanan global yang ditandai dengan munculnya berbagai masalah dan isuisu global seperti pelanggaran hak-hak asasi manusia , fenomena kekerasan, dan penyalahgunaan narkotika. Di samping itu, revolusi teknologi telekomunakasi dan transportasi menghadirkan sejumlah kemudahan untuk melakukan aktivitas kehidupan di se-gala bidang. Kerjasama dalam bidang ekonomi, politik, kebudayaan dan militer dijalin tanpa dibatasi oleh jarak antarwilayah negara. Di lain hal, globalisasi dapat melahirkan kompetisi yang kurang sehat. Dengan kata lain kompleksitas global memiliki banyak keuntungan bagi yang kuat, tetapi sebaliknya keadaan itu dapat menghancurkan kehidupan bangsa yang kalah bersaing.

PEMBAHASAN
Empat negara itu dapat mewakili karakteristik bangsa dengan latar belakang ideologi yang berbeda. Malaysia merupakan representasi negara yang memiliki bangsa mayoritas Islam sebagaimana negara Indonesia, sedangkan Cina merupakan perwakilan negara sosialis komunis. Uraian singkat ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman bahwa karakteristik keempat negara itu berbeda, khususnya jika dilihat berdasarkan ideologinya karena perbedaan ideologi itu di antaranya berpengaruh terhadap sistem pendidikan nilai. Penetapan tingkat perkembangan moral ini didasarkan pada karakteristik empiris yang memiliki beberapa ciri pokok berikut. Tahap-tahap pertimbangan moral tersusun secara utuh, artinya sistem berpikirnya terorganisasi. Tahap pertimbangan moral berurutan secara invarian dan tidak pernah terbalik dalam semua kondisi .
Tidak ada tahap-tahap terlompati dan gerakannya selalu menuju tahap yang lebih tinggi. Tahap tahap pertimbangan moral terintegrasi secara hierarkis. Artinya, tingkat pemikiran moral yang tinggi telah tercakup dan menguasai tahap-tahap dan pola pikir yang berada di bawahnya. Struktur tingkat pertimbangan moral berfungsi melahirkan kecenderungan ke arah tahapan-tahapan yang lebih tinggi. Struktur pertimbangan moral harus dibedakan dengan isi pertimbangan moral.
Metode deduktif adalah cara menyajikan nilai-nilai kebenaran dengan jalan menguraikan konsep tentang kebenaran itu agar dipahami oleh peserta didik. Berbagai metode tersebut selanjutnya perlu dikembangkan secara rinci ke dalam teknik atau prosedur pembelajaran.

PENUTUP
Penyelesaian permasalahan hidup yang dialami umat manusia tidak cukup dalam negeri sendiri, namun banyak hal yang penyelesaiannya dibutuhkan dukungan dan bantuan luar negeri, misalnya terorisme global, masalah ekonomi, dan masalah krisis multidimensional.
alternatif pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, dan internasional.
Pendidikan nilai atau moral sebagai isu global di beberapa negara menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Perbedaan yang ada disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi bangsa Oleh karena itu, konsep itu memerlukan penyempurnaan dengan mempertimbangkan paradig-ma yang dikemukakan oleh Capra.
Nama : Zalianti Jahratun Nisya
NPM 2213053005

Kemerosotan moral di kalangan pelajar di zaman modern saat ini merupakan sebuah fenomena yang dapat diamati di seluruh lapisan masyarakat. Salah satu bidang yang paling signifikan dalam hal ini adalah sektor para remaja. Ada beberapa faktor yang turut menyebabkan kemerosotan moral peserta didik di zaman modern ini.
1. Gaya hidup modern yang konsumeris, kapitalistik, dan hedonistik semuanya kurang bertumpu pada moralitas.
2. Perubahan lingkungan hidup yang membedakan generasi masa ini dengan generasi lebih dahulu, perbedaan pertama terletak pada perilaku, moralitas dan lingkungan hidup yang kesemuanya mempunyai dampak yang signifikan terhadap generasi sekarang.
3. Kegagalan orang tua dalam berperan aktif dalam mendidik anaknya.
4. Pengaruh budaya luar (westernisasi)
5. Dampak media massa (media elektronik seperti telepon genggam dan televisi).
6. Rendahnya nilai keagamaan pada remaja.

Kemerosotan moralitas pelajar saat ini berpotensi berdampak negatif terhadap masa depan negeri. Oleh sebab itu, perlu adanya penanggulangan terhadap kerusakan moral peserta didik, termasuk pengembangan akhlak dan kepribadian yang baik melalui pendidikan dan bimbingan yang baik.
Nama : Zalianti Jahratun Nisya
22130530005
Menurut Teori perkembangan moral Kohlberg melibatkan enam tahap penalaran moral berbeda yang dilalui seorang individu dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Kohlberg berpikir bahwa individu hanya akan memiliki kemampuan untuk maju melalui tahap-tahap ini satu demi satu, mereka tidak akan memiliki kemampuan untuk “melewati” tahap-tahap tersebut. Untuk mendorong perkembangan moral pada individu, Kohlberg memberi mereka dilema moral untuk mendiskusi membantu mereka mengenali objektivitas moralitas tingkat tinggi dan mendorong perkembangan mereka ke arah tersebut. Salah satu dilema yang digunakan Kohlberg dalam penelitiannya adalah dilema Heinz, Dilema Heinz merupakan permasalahan moral yang dikemukakan oleh Kohlberg dalam penelitiannya mengenai perkembangan moral. Dilema ini melibatkan seorang pria bernama Heinz yang mempertimbangkan untuk mencuri obat untuk menyelamatkan nyawa istrinya karena dia tak sanggup membelinya. dilema Heinz, menunjukkan bahwa alasan di balik keputusan lebih menunjukkan perkembangan moral dibandingkan jawaban sebenarnya.
Menurut teori Kohlberg, yang penting bukanlah apa yang berdasarkan para responden harus dilakukan oleh Heinz, namun alasan-alasan yang diberikan oleh para responden, yaitu bentuk tanggapan mereka.
1. Tahap pra-konvensional: Heinz tidak boleh mencuri obat tersebut karena dia akan dihukum.
2. Tahap konvensional: Heinz harus mencuri obat tersebut karena dia akan menjadi suami yang lebih baik jika dia menyelamatkan nyawa istrinya.
3. Tahap pasca-konvensional: Heinz harus mencuri obat tersebut karena menyelamatkan nyawa lebih penting daripada hak milik.