Posts made by Desviana Safitri 2213053064

Nama : Desviana Safitri
NPM : 2213053064

Identitas Jurnal
Nama jurnal : Jurnal JIPSINDO
Volume :6
Nomor : 2
Halaman : 131- 145
Tahun Terbit : 2019
Judul : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN
TEORI KOHLBERG
Nama penulis : Enung Hasanah
Kata kunci: teori kohlberg, SD, moral

Hasil analisis jurnal pada artikel ini menjelaskan bahwa dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg, anak-anak usia 11-12 tahun memang masih berada pada tahap pra konvensional tahap ½ yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum. Dalam hasil penelitian sederhana ini, responden yang berusia 11-12 tahun cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu mungkin saja ada
pengecualian yaitu pada usia 11-12 bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.
Nama : Desviana Safitri
NPM : 2213053064
Hasil analisis jurnal pada artikel menjelaskan bahwa pendidikan nilai moral merupakan tuntutan dan sekaligus kebutuhan pada tatanan global bagi umat manusia sebagai pengejawantahan hidup bersama, berbangsa, dan bernegara dalam hubungannya dengan tatanan global yang diwarnai dengan berbagai permasalahan yang bersifat luas, kompleks, dan mendunia.

Dalam artikel berpendapat bahwa penyelesaian permasalahan hidup yang dialami umat manusia tidak cukup dalam negeri sendiri, namun banyak hal yang penyelesaiannya dibutuhkan dukungan dan bantuan luar negeri, misalnya terorisme global, masalah ekonomi, dan masalah krisis multidimensional.

Artikel ini pun menjelaskan bahwa pendidikan nilai atau moral sebagai isu global di beberapa negara (Indonesia, Malaysia, India, dan Cina) menampakkan adanya perbedaan dan kesamaan. Perbedaan yang ada disebabkan oleh adanya perbedaan ideologi bangsa. Walaupun demikian, negara-negara itu memberikan penekanan pendidikan nilai moral pada nilai etik-moral; terutama dalam hal nilai-nilai yang bersifat asasi manusia, universal, dan global.

Dalam artikel ini juga menjelaskan konsep pendidikan nilai moral yang dikemukakan oleh Kohlberg dan John P. Miller cenderung bersifat individualistik. Oleh karena itu, konsep itu memerlukan penyempurnaan dengan mempertimbangkan paradigma yang dikemukakan oleh Capra. Lebih lanjut, dalam implementasikannya, diperlukan strategi pendidikan nilai moral yang tepat melalui pemilihan pendekatan (approach), metode (method), dan teknik (technique) pendidikan nilai moral yang sesuai.
Nama : Desviana Safitri
NPM: 2213053064

Degradasi moral pelajar di jaman modern.
Sungguh miris sekali dari dua video tersebut kita melihat moral pelajar jaman sekarang semakin mengkhawatirkan.
Ada beberapa faktor yang dapat berkontribusi terhadap degradasi moral pelajar di zaman modern. Beberapa faktor tersebut antara lain:
1. Pengaruh media dan teknologi: Penggunaan media sosial, televisi, dan internet yang berlebihan dapat mempengaruhi pandangan dan perilaku pelajar. Konten yang tidak pantas atau tidak etis di media sosial atau internet dapat mempengaruhi persepsi mereka tentang moralitas.
2. Kurangnya pengawasan dan pola asuh: Ketidakhadiran pengawasan yang memadai dari orang tua atau mentor dapat membuat pelajar lebih rentan terhadap pengaruh negatif dan kurangnya panduan moral. Kurangnya disiplin atau pola asuh yang kurang membentuk nilai-nilai moral yang kuat juga dapat berdampak pada degradasi moral.
3. Perubahan dalam nilai-nilai sosial: Nilai-nilai sosial yang mengedepankan kepentingan individu dan kesuksesan materi seringkali menggantikan nilai-nilai moral yang lebih tradisional seperti rasa hormat, empati, dan integritas. Hal ini dapat mengarah pada degradasi moral pelajar.
4. Tekanan akademik dan sosial: Beban tugas akademik yang berat, persaingan yang tinggi, dan tekanan sosial untuk berhasil dapat membuat pelajar mengorbankan nilai-nilai moral. Mereka mungkin tergoda untuk curang, menipu, atau mengabaikan nilai-nilai etika demi kesuksesan akademik atau sosial.
5. Kurangnya pendidikan moral formal: Kurikulum sekolah yang fokus pada akademik seringkali mengabaikan pendidikan moral formal. Pelajar mungkin tidak mendapatkan pemahaman yang memadai tentang nilai-nilai moral yang benar dan betapa pentingnya menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Penting untuk mencari solusi yang melibatkan kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan masyarakat untuk mempromosikan nilai-nilai moral yang kuat dalam pendidikan dan memperkuat kesadaran akan pentingnya integritas moral di antara pelajar.

Dan untuk menyelesaikan masalah degradasi moral pada pelajar di zaman sekarang, berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:
1. Campur tangan dan keterlibatan orang tua: Orang tua adalah peran yang sangat penting dalam membentuk moralitas anak-anak. Dorong orang tua untuk terlibat aktif dalam pendidikan moral anak-anak mereka. Selain itu, berkomunikasilah secara terbuka dengan orang tua tentang masalah moral yang sedang dihadapi oleh pelajar.
2. Memperkenalkan pendidikan moral di sekolah: Sekolah dapat memainkan peran penting dalam membantu pelajar memahami dan mengembangkan nilai-nilai moral yang kuat. Implementasikan program pendidikan moral yang mencakup pelajaran tentang etika, empati, integritas, dan rasa hormat. Melibatkan pelajar dalam diskusi dan kegiatan yang mendorong pemahaman dan pengamalan nilai-nilai moral.
3. Mengintegrasikan teknologi dan media secara bijak: Berikan arahan kepada pelajar tentang penggunaan teknologi dan media sosial yang bertanggung jawab. Tingkatkan pemahaman mereka tentang risiko dan dampak negatif dari konten yang tidak pantas atau tidak etis. Ajarkan kepada mereka pentingnya menjadi pengguna yang bertanggung jawab dan sadar akan etika dalam penggunaan teknologi.
4. Membangun kesadaran sosial: Galang dukungan dari masyarakat untuk mengatasi masalah degradasi moral. Lakukan kerjasama dengan lembaga masyarakat seperti lembaga agama, organisasi pemuda, dan kelompok komunitas untuk mengadakan program-program kesadaran moral. Dorong partisipasi aktif dan kolaborasi dalam kegiatan sosial yang mempromosikan solidaritas, empati, dan kebaikan.
5. Memfasilitasi pendekatan positif dan penghargaan: Beri penghargaan pada pelajar yang menunjukkan tindakan moral yang baik sebagai contoh bagi yang lain. Berikan pujian dan penghargaan untuk tindakan baik yang dilakukan. Fasilitasi diskusi reflektif tentang kebaikan dan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
6. Membangun lingkungan yang mendukung: Ciptakan lingkungan yang mendukung dan mendorong pelajar untuk mengembangkan nilai-nilai moral yang kuat. Kolaborasi dengan guru, staf sekolah, dan orang tua untuk menciptakan budaya yang menghargai etika dan integritas. Biasakan praktek yang mempromosikan kebaikan dan menentang perilaku yang tidak etis.

Hal ini akan memerlukan waktu dan upaya bersama dari semua pihak terkait untuk mengatasi masalah degradasi moral ini. Dengan pendekatan yang holistik dan kolaboratif, diharapkan pelajar dapat menjadi pribadi yang memiliki integritas moral yang kuat.
Nama : Desviana Safitri
NPM : 2213053064
Enam tahap perkembangan moral menurut Kohlberg, yang terjadi dari tiga level setiap level terdiri dari 2 tahap yakni sebagai berikut:
A. Pra-Konvesional
1. Menghindari hukuman. Pada tahap ini seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu karena untuk menghindari hukuman.
2. Keuntungan dan minat pribadi. Pada tahap ini seseorang melakukan tindakan dengan memperhitungkan apa yang akan didapatkan olehnya.

B. Konvensional
3. Menjaga sikap orang baik. Pada tahap ini seseorang memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya.
4. Memelihara peraturan. Pada tahap ini seseorang berpikir jika peraturan tidak ada yang mematuhinya maka keadaan akan menjadi kacau. Karenanya peraturan harus selalu dipatuhi.

C. Pasca Konvensional
5. Orientasi kontrak sosial. Pada tahap ini setiap orang memiliki latar belakang dan situasi berbeda. Tidak ada yang absolut atau pasti ketika melihat sebuah kasus. Hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada.
6. Prinsip etika universal. Pada tahap ini menggambarkan prinsip internal seseorang. la melakukan hal yang dianggapnya benar, walaupun bertentangan dengan hukum yang ada.

Kohlberg menggunakan cerita dilema dalam penelitiannya, salah satunya adalah dilema Heinz. Heinz memiliki seorang istri yang sekarat di rumah sakit karena menderita kanker. Menurut dokter ada satu obat yang bisa menyelamatkannya obat itu baru saja ditemukan oleh seorang apoteker. Apoteker tersebut menjual obat dengan harga 10 kali lipat dari modal membuatnya. Heinz yang miskin pergi ke setiap orang untuk meminjam uang, namun ia hanya mendapatkan uangnya sebanyak 1000 dolar sementara obat itu dihargai 2000 dolar. Heinz memberi tahu apoteker bahwa istrinya sedang sekarat dan memintanya untuk memberikan obat itu untuk dilunasi di kemudian hari namun apoteker itu menolaknya.
Menurut kalian apa yang harus dilakukan Heinz? Apakah ia perlu mencuri obat itu untuk menyelamatkan nyawa istrinya?
Dalam dilema Heinz yang digunakan oleh Lawrence Kohlberg dalam penelitiannya tentang perkembangan moral, tidak ada jawaban yang benar atau salah. Kohlberg tertarik pada proses pemikiran moral individu dalam menghadapi situasi dilema semacam ini. Reaksi Heinz terhadap dilema ini dapat mencerminkan tahap perkembangan moral yang berbeda menurut teori Kohlberg.

Menurut Kohlberg, ada tiga tingkatan perkembangan moral, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional, masing-masing dengan dua tahap. Orang yang berada pada tingkat pra-konvensional mungkin akan melihat tindakan mencuri sebagai tindakan buruk tanpa mempertimbangkan konteks atau tujuan yang lebih besar. Orang yang berada pada tingkat konvensional mungkin akan mempertimbangkan hukum dan norma sosial dalam keputusan mereka. Orang yang berada pada tingkat pasca-konvensional mungkin akan melihat tindakan mencuri sebagai sesuatu yang dapat dibenarkan dalam situasi darurat yang mengancam nyawa.

Jadi, apakah Heinz harus mencuri obat itu atau tidak tergantung pada nilai dan tahap perkembangan moral individunya. Tidak ada jawaban yang mutlak benar atau salah dalam hal ini, tetapi lebih pada pemahaman kita tentang pemikiran moral individu dalam situasi dilema semacam itu.
Nama : Desviana Safitri
NPM : 2213053064

Nama Jurnal : Dinamika Pendidikan
Volume : Tidak terdapat volume pada jurnal ini
Nomor : 2
Halaman : 63-75
Tahun Terbit : September 2008
Judul Jurnal : Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi
Nama Penulis : Hidayati

Hasil analisis yang saya temukan dalam jurnal ini bahwa dampak globalisasi telah menimbulkan transformasi nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat. Kesadaran akan hak-hak personal seseorang semakin tinggi, kehidupan cenderung semakin individualis, semakin permisif, dan lunturnya nilai-nilai moral.

Nampaknya pendidikan nilai selama ini banyak terjadi adanya keterpaksaan, yaitu nilai-nilai diajarkan dengan paksa untuk diketahui secara kognitif dan dilaksanakan, tetapi karena dipaksakan maka tidak sampai menyentuh hati. Hasilnya sikap dan perilaku anak didik tidak berakar dari pengalaman nilai yang otentik.
Kita tidak dapat membendung pengaruh jaman, dan tidak dapat memalingkan perhatian mereka dari nilai-nilai yang sedang trend. Yang dapat kita lakukan adalah mendampingi dan mendorong mereka agar menjalani hidup dengan menggunakan nalar dan hati. Dengan nalar dan hati yang berfungsi dengan baik diharapkan mereka akan dapat mempertimbangkan segala perbuatan, tingkah laku, dan keputusan yang diambil

Secara individual setiap pendidik diharapkan mencoba melaksakan tugasnya "mengajar" dan "mendidik" secara bertanggungjawab. Hal yang mendesak dan harus dilakukan adalah mengajari anak didik untuk dapat menggunakan nalar dan hati sebaik-baiknya, melalui sarana segala aktivitas yang dapat mendewasakan dirinya. Untuk menghindarkan anak didik dari arus globalisasi harus dibekali dengan nalar dan hati yang benar, norma dan agama yang kuat, rasa nasionalisme yang benar, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa.