Nama: Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM: 2523031009
Menurut saya, ecopedagogy dalam pembelajaran IPS dapat diimplementasikan dengan menghubungkan materi pembelajaran dengan persoalan lingkungan yang nyata dan dekat dengan kehidupan peserta didik. Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga memahami hubungan antara aktivitas manusia, kondisi sosial, dan perubahan lingkungan. Guru dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengamati lingkungan sekitar, mengidentifikasi permasalahan ekologis, mendiskusikan penyebab dan dampaknya, serta mencari solusi yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan seperti ini penting karena kesadaran ekologis tidak cukup dibangun melalui pemberian materi secara teoritis, tetapi perlu melalui pengalaman, refleksi, dan tindakan nyata.
Saya sendiri sebagai guru pernah menerapkan pembelajaran yang mengarah pada prinsip ecopedagogy dalam pembelajaran IPS kelas VIII, khususnya pada materi konektivitas antarruang. Pada materi tersebut, saya mengajak peserta didik memahami bahwa keterhubungan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya tidak hanya memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi dan sosial, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi lingkungan. Misalnya, ketika membahas bagaimana suatu wilayah memperoleh barang dari wilayah lain melalui kegiatan perdagangan dan transportasi, saya mengajak siswa berpikir mengenai dampak dari aktivitas tersebut terhadap lingkungan, seperti meningkatnya penggunaan kendaraan, konsumsi bahan bakar, polusi udara, penggunaan kemasan, dan bertambahnya sampah.
Dalam proses pembelajaran, saya meminta siswa mengamati contoh konektivitas antarruang yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Siswa kemudian berdiskusi mengenai dari mana suatu barang berasal, bagaimana barang tersebut dapat sampai ke daerah mereka, apa saja aktivitas manusia yang terlibat, serta dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap lingkungan. Dari kegiatan tersebut, siswa mulai melihat bahwa hubungan antarruang bukan hanya persoalan jarak dan perpindahan barang atau manusia, tetapi juga memiliki konsekuensi ekologis.
Selanjutnya, saya mengarahkan siswa untuk mencari alternatif tindakan yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, siswa diajak memikirkan pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih produk lokal ketika memungkinkan, mengurangi pemborosan, serta menjaga kebersihan lingkungan. Dengan cara tersebut, materi konektivitas antarruang menjadi lebih kontekstual karena siswa dapat menghubungkan konsep yang dipelajari dengan kondisi lingkungan yang mereka hadapi sendiri.
Menurut saya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ecopedagogy sangat relevan diterapkan dalam pembelajaran IPS. Peserta didik tidak hanya diarahkan untuk mengetahui konsep, tetapi juga diajak berpikir kritis mengenai dampak aktivitas manusia dan mengambil sikap terhadap persoalan lingkungan. Pembelajaran seperti ini dapat menumbuhkan kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari lingkungan dan setiap aktivitas sosial maupun ekonomi memiliki konsekuensi terhadap keberlanjutan lingkungan.
Dengan demikian, implementasi ecopedagogy dalam IPS dapat dilakukan secara sederhana melalui pembelajaran kontekstual, diskusi permasalahan lingkungan, observasi lingkungan sekitar, analisis hubungan manusia dan lingkungan, serta tindakan nyata. Pengalaman saya dalam mengajarkan materi konektivitas antarruang menunjukkan bahwa ketika materi IPS dikaitkan dengan permasalahan yang benar-benar dialami siswa, mereka lebih mudah memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi merupakan tanggung jawab setiap individu sebagai bagian dari masyarakat.