FORUM DISKUSI 13

FORUM DISKUSI 13

Jumlah balasan: 22

A

Forum ini disediakan untuk berdiskusi dan berbagi mengenai Laporan observasi yang sedang dipelajari. 

Silahkan berpartisipasi aktif pada forum ini untuk memperdalam pemahaman Saudara mengenai materi yang telah disampaikan di atas.

Petunjuk diskusi kelompok:

  1. Kelompok yang mendapatkan giliran untuk memaparkan materi  sesuai dengan Topik Bahasan menyiapkan  media presentasi berupa PPT interaktif untuk diunggah dalam forum ini. 
  2. Mahasiswa lainnya pada hari pertemuan memahami materi presentasi dan materi makalah dan dipersilahkan untuk bertanya,  terkait materi tersebut atau hal-hal lain yang berhubungan dengan materi yang ditampilkan oleh pemateri. Cara bertanya dan berdiskusi: Mahasiswa me-reply pada topik yang disediakan kemudian menuliskan nama dan NPM serta pertanyaan atau berupa tanggapan.
  3. Selamat berdiskusi dan tetap semangat.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Chocy Refalina -
Assalamualaikum Kami dari Kel 13

1. Rika Noviliana (2413053073)
2. Chyani Nova Safitri (2413053181)
3. Chocy Refalina (2453053020)

Izin menggumpulkan tugas
Sebagai balasan Chocy Refalina

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Devina Meisarif Senggagau -
Devina Meisarif Senggagau
2413053023

izin bertanya, bagaimana jika ada anak yang sama sekali tidak menggunakan model belajar ASSURE?
Sebagai balasan Devina Meisarif Senggagau

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Rika Noviliana -
Izin menjawab, Jika ada anak atau peserta didik yang belum cocok atau belum berkembang dengan penggunaan model ASSURE, hal tersebut bukan berarti modelnya tidak dapat digunakan. Setiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, dan gaya belajar yang berbeda, sehingga guru perlu menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik tersebut.
Dalam model ASSURE, guru juga melakukan evaluasi dan revisi pembelajaran. Jadi, apabila ada siswa yang masih kesulitan memahami materi, guru dapat mengubah metode, media, maupun pendekatan belajar agar lebih sesuai dan mudah dipahami oleh siswa.
Sebagai balasan Chocy Refalina

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Nadine Syakila Azzahra -
Nama: Nadine Syakila Azzahra
Npm: 2413053030
Pertanyaan:
Izin bertanya, Model ASSURE menempatkan guru sebagai perancang utama pembelajaran. Apakah siswa SD seharusnya juga dilibatkan dalam menentukan cara belajar mereka sendiri? Apa dampak positif dan negatifnya?
Sebagai balasan Nadine Syakila Azzahra

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh CAHYANI NOVA SAFITRI -
Izin menjawab pertanyaan nadine, siswa SD tetap perlu dilibatkan dalam menentukan cara belajar mereka, walaupun guru tetap jadi pihak utama yang merancang pembelajaran. Karena pada dasarnya setiap anak punya cara belajar yang berbeda, ada yang lebih suka lihat gambar, ada yang lebih paham saat dijelaskan langsung, dan ada juga yang lebih suka praktik. Kalau siswa dilibatkan, dampak positifnya mereka jadi lebih semangat dan merasa pendapatnya dihargai. Biasanya siswa juga lebih aktif dan lebih gampang memahami materi karena belajar dengan cara yang mereka nyaman. Selain itu, suasana kelas bisa jadi lebih hidup dan tidak membosankan.
Tapi, ada juga dampak negatifnya. Karena siswa SD masih perlu banyak arahan, kadang mereka memilih cara belajar yang menurut mereka seru aja, belum tentu yang paling efektif. Selain itu, kalau semua siswa ingin cara belajar yang berbeda-beda, guru juga bisa lebih sulit mengatur kelas dan pembelajaran jadi membutuhkan waktu lebih lama. Jadi, siswa boleh dilibatkan, tapi tetap harus ada arahan dan batasan dari guru supaya pembelajaran tetap teratur dan tujuan belajar tetap tercapai.
Sebagai balasan Chocy Refalina

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Nindytha Lintang Sujarwo -
Nama: Nindytha Lintang Sujarwo
Npm:2453053008

Izin bertanya, Bagaimana guru dapat menyeimbangkan penggunaan media, metode, dan tujuan pembelajaran agar tidak hanya fokus pada keaktifan siswa saja?
Sebagai balasan Nindytha Lintang Sujarwo

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Rika Noviliana -
Izin menjawab, guru dapat menyeimbangkan penggunaan media, metode, dan tujuan pembelajaran dengan cara tetap menjadikan tujuan pembelajaran sebagai fokus utama. Media dan metode yang digunakan sebaiknya dipilih sesuai dengan materi dan kebutuhan peserta didik, bukan hanya untuk membuat siswa aktif.

Keaktifan siswa memang penting, tetapi pembelajaran yang efektif juga harus memastikan siswa benar-benar memahami materi dan mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, guru perlu menyesuaikan aktivitas, media, dan evaluasi agar pembelajaran tidak hanya menarik, tetapi juga bermakna dan sesuai dengan capaian belajar.
Sebagai balasan Chocy Refalina

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh ABRAL AL-TISA 2413053051 -
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Izin bertanya kepada Kelompok 13.

Nama: Abral Al-Tisa
NPM: 2413053051
Pertanyaan:
Jika dalam satu kelas terdapat siswa dengan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik secara bersamaan, bagaimana guru dapat menerapkan model ASSURE tanpa membuat pembelajaran terlalu rumit atau memakan banyak waktu?
Sebagai balasan ABRAL AL-TISA 2413053051

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Rika Noviliana -
Izin menjawab, Jika dalam satu kelas terdapat berbagai gaya belajar, guru tidak harus membuat pembelajaran yang berbeda untuk setiap siswa. Dalam model ASSURE, guru dapat menggabungkan beberapa metode dan media dalam satu kegiatan pembelajaran. Misalnya, guru menjelaskan materi menggunakan gambar atau video untuk siswa visual, penjelasan lisan dan diskusi untuk siswa auditori, serta praktik atau permainan sederhana untuk siswa kinestetik.

Dengan cara tersebut, pembelajaran tetap efektif tanpa terlalu rumit atau memakan banyak waktu. Yang terpenting, guru mampu memilih media dan aktivitas yang dapat melibatkan seluruh siswa sesuai karakteristik belajarnya.
Sebagai balasan Chocy Refalina

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Gita Adella -
Gita Adella
2413053092

Izin bertanya, bagaimana solusi jika fasilitas pembelajaran di sekolah masih terbatas tetapi guru ingin menerapkan model ASSURE?
Sebagai balasan Gita Adella

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Naufal Fadhlirrahman -
Naufal Fadhlirrahman
2413053005

izin membantu menjawab pertanyaan dari gita adella
Menurut saya, keterbatasan fasilitas bukan berarti model ASSURE tidak bisa diterapkan, karena inti dari model ASSURE itu bukan cuma penggunaan teknologi canggih tetapi bagaimana guru menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik siswa. Jadi guru tetap bisa menggunakan media dan metode sederhana yang ada di lingkungan sekitar sekolah. Contohnya, untuk siswa visual guru bisa memakai gambar dari buku atau membuat poster sederhana di papan tulis. Untuk siswa auditori bisa menggunakan diskusi dan tanya jawab. Sedangkan untuk siswa kinestetik bisa memakai praktik langsung atau permainan edukatif sederhana tanpa alat mahal.
Sebagai balasan Chocy Refalina

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh FARIDA PALUPI -
Nama : Farida Palupi
NPM : 2413053087

Di dalam makalah di jelaskan kalau 'menghitung' itu LOTS dan 'merancang' itu HOTS. Pertanyaannya, bukankah untuk bisa merancang sesuatu siswa tetap butuh kemampuan dasar seperti menghitung? Apakah modifikasi Kata Kerja Operasional (KKO) ini harus selalu mengganti kata kerjanya, atau sebenarnya level LOTS tetap diperlukan sebagai fondasi sebelum masuk ke HOTS?
Sebagai balasan FARIDA PALUPI

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh CAHYANI NOVA SAFITRI -
Izin menjawab, level LOTS memang tetap sangat diperlukan sebagai fondasi sebelum siswa masuk ke HOTS. Karena pada dasarnya kemampuan berpikir tingkat tinggi tidak bisa muncul begitu saja tanpa pemahaman dasar terlebih dahulu. Contohnya seperti yang ada di makalah, siswa tidak mungkin bisa merancang cara menentukan luas bangun datar dalam situasi nyata jika mereka belum memahami cara menghitung luas terlebih dahulu. Jadi kemampuan menghitung tetap penting sebagai dasar awal.
Artinya, modifikasi KKO bukan berarti semua kata kerja LOTS harus diganti sepenuhnya menjadi HOTS. Yang lebih penting adalah menyesuaikan tujuan pembelajaran dan tahap kemampuan siswa. LOTS dan HOTS sebenarnya saling berkaitan dan berurutan sesuai hirarki taksonomi Bloom, mulai dari mengingat hingga mencipta. Jadi, KKO LOTS tetap dibutuhkan untuk membangun pemahaman konsep dasar, sedangkan KKO HOTS digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir lebih mendalam seperti menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Dengan kata lain, HOTS bukan pengganti LOTS, tetapi pengembangan dari kemampuan dasar tersebut.
Sebagai balasan Chocy Refalina

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh ADELIA NANDA FEBRIANI -
Nama: Adelia Nanda Febriani
Npm : 2413053106

Apakah dengan sekadar mengubah KKO (Kata Kerja Operasional) pada indikator sudah pasti otomatis meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa? Atau ada faktor lain yang lebih penting dalam proses pembelajaran daripada sekadar pilihan kata kerja di dalam draf penilaian?
Sebagai balasan ADELIA NANDA FEBRIANI

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Rika Noviliana -
izin menjawab menurut saya, mengubah KKO menjadi level HOTS belum tentu secara otomatis meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. KKO hanya menjadi indikator dalam perencanaan pembelajaran, sedangkan keberhasilan berpikir kritis lebih dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang diterapkan guru di kelas.

Jika guru hanya mengganti kata kerja seperti “menganalisis” atau “mengevaluasi” tetapi metode pembelajarannya masih berpusat pada ceramah dan hafalan, maka kemampuan berpikir kritis siswa belum tentu berkembang. Oleh karena itu, faktor yang lebih penting adalah bagaimana guru merancang aktivitas belajar, memberikan masalah kontekstual, membangun diskusi, serta menciptakan suasana belajar yang mendorong siswa aktif berpikir dan berpendapat. Jadi, KKO memang penting sebagai arah tujuan pembelajaran, tetapi implementasi pembelajaran yang bermakna tetap menjadi faktor utama dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Sebagai balasan Chocy Refalina

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Diah Hanifah -
Nama: Diah Hanifah
NPM: 2413053213

Di makalah dijelaskan bahwa guru harus mengubah KKO (Kata Kerja Operasional) ke level HOTS (kemampuan berpikir tingkat tinggi). Tapi di lapangan, guru sering kesulitan karena kemampuan siswa berbeda-beda. Menurut kalian, gimana cara modifikasi KKO ini supaya tetap jalan tapi tidak memberatkan siswa yang masih di level LOTS (kemampuan berpikir tingkat rendah)?
Sebagai balasan Diah Hanifah

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Rika Noviliana -
izin menjawab, Menurut saya guru tidak perlu langsung mengubah seluruh KKO menjadi level HOTS secara penuh karena kemampuan peserta didik dalam satu kelas cenderung beragam. Penerapan HOTS dapat dilakukan secara bertahap dengan mengawali kegiatan pada level LOTS, seperti menyebutkan atau menjelaskan konsep, kemudian diarahkan menuju kemampuan HOTS, seperti menganalisis, membandingkan, maupun memecahkan masalah sederhana. Dengan pendekatan tersebut, siswa yang masih berada pada tahap LOTS tetap mampu mengikuti proses pembelajaran, sementara tujuan pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi tetap dapat tercapai secara optimal.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Syarifah Siti Fatimah NA -
Nama: Syarifah Siti Fatimah NA
NPM: 2413053036

setiap siswa memiliki gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik, serta pembelajaran akan lebih efektif jika disesuaikan dengan gaya belajar siswa. bagaimana cara guru menentukan gaya belajar dominan setiap siswa secara tepat. Apakah cukup hanya dengan melihat kebiasaan belajar siswa di kelas, atau diperlukan instrumen khusus agar guru tidak salah dalam mengelompokkan gaya belajar siswa?
Sebagai balasan Syarifah Siti Fatimah NA

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh CAHYANI NOVA SAFITRI -
Izin menjawab, cara guru menentukan gaya belajar dominan siswa tidak cukup hanya dengan melihat kebiasaan belajar siswa di kelas saja. Pengamatan memang penting karena guru dapat melihat bagaimana siswa menerima dan memahami materi. Misalnya, siswa visual biasanya lebih fokus pada gambar, warna, atau video, siswa auditori lebih aktif saat mendengarkan penjelasan dan berdiskusi, sedangkan siswa kinestetik lebih mudah memahami materi melalui praktik langsung dan aktivitas bergerak. Namun, jika hanya mengandalkan pengamatan, guru bisa saja salah menilai karena perilaku siswa dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti motivasi belajar, kondisi fisik, suasana hati, atau lingkungan belajar. Oleh sebab itu, guru sebaiknya menggunakan instrumen pendukung seperti angket gaya belajar, wawancara sederhana, lembar observasi, maupun penilaian aktivitas belajar siswa. Melalui cara tersebut, guru dapat menganalisis karakteristik siswa secara lebih tepat sehingga metode, media, dan kegiatan pembelajaran yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan siswa. Dengan begitu, proses pembelajaran menjadi lebih aktif, menarik, dan membantu siswa lebih mudah memahami materi.
Sebagai balasan Syarifah Siti Fatimah NA

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Rika Noviliana -
Nama : Rika Noviliana
NPM : 2413053073

Izin menjawab pertanyaan syarifah, menurut saya guru tidak cukup hanya mengamati kebiasaan belajar siswa di kelas untuk menentukan gaya belajar mereka. Pengamatan memang penting, tetapi hasilnya bisa kurang akurat jika tidak didukung dengan instrumen lain. Oleh karena itu, guru sebaiknya menggunakan beberapa cara, seperti observasi, angket sederhana, wawancara, serta melihat respon siswa saat proses pembelajaran berlangsung.

Dengan cara tersebut, guru dapat memahami kecenderungan belajar siswa secara lebih tepat dan tidak terburu-buru dalam mengelompokkan gaya belajar mereka. Selain itu, guru juga perlu menyadari bahwa tidak semua siswa hanya memiliki satu gaya belajar dominan, karena beberapa siswa dapat belajar efektif melalui kombinasi visual, auditori, dan kinestetik.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh Elfira Rosa Lubis -
Elfira Rosa Lubis
2413053014

Presentasi ini menyatakan bahwa Model ASSURE meningkatkan partisipasi aktif siswa. Berikan penilaian Anda, manakah dari 6 langkah ASSURE yang paling krusial dalam memastikan partisipasi tersebut benar-benar terjadi dan bukan sekadar formalitas?
Sebagai balasan Elfira Rosa Lubis

Re: FORUM DISKUSI 13

oleh CAHYANI NOVA SAFITRI -
Izin menjawab, langkah yang paling krusial untuk memastikan partisipasi siswa benar-benar terjadi itu ada di bagian Require Learner Participation. Karena di tahap ini siswa bukan cuma mendengarkan penjelasan guru, tapi benar-benar dilibatkan dalam proses pembelajaran, misalnya lewat diskusi, tanya jawab, praktik langsung, atau presentasi. Kalau partisipasi siswa cuma formalitas, biasanya siswa hanya sekadar ikut kegiatan tanpa benar-benar memahami atau terlibat aktif. Nah, di tahap ini guru harus bisa menciptakan aktivitas yang membuat siswa berpikir, bertanya, dan ikut berperan selama pembelajaran berlangsung.
Tapi tahap ini juga tetap bergantung pada langkah sebelumnya, terutama Analyze Learners. Karena kalau guru belum memahami karakteristik dan gaya belajar siswa, aktivitas yang dibuat bisa jadi kurang sesuai sehingga siswa tetap pasif. Jadi walaupun semua langkah ASSURE saling berkaitan, bagian yang paling menentukan keaktifan siswa secara langsung tetap Require Learner Participation karena di situlah keterlibatan siswa benar-benar terlihat.