Forum Analisis Soal-2
Pancasila memiliki peran yang sangat penting sebagai paradigma ilmu, yaitu sebagai kerangka berpikir, sumber nilai, dan landasan etika dalam pengembangan setiap disiplin ilmu di Indonesia. Pancasila memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berkembang secara bebas tanpa arah, melainkan tetap berpijak pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.
Dalam setiap disiplin ilmu, Pancasila menjadi pedoman agar pengembangan ilmu tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknis dan keuntungan ekonomi, tetapi juga pada kemanfaatan bagi masyarakat luas. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menuntun ilmu agar dikembangkan secara bermoral dan bertanggung jawab. Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memastikan ilmu tidak merugikan martabat manusia. Nilai Persatuan Indonesia mengarahkan ilmu untuk memperkuat keutuhan bangsa, sedangkan nilai Kerakyatan dan Keadilan Sosial menuntut agar hasil ilmu dapat dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat.
Di tengah persaingan global yang sangat ketat, Pancasila berfungsi sebagai filter terhadap pengaruh globalisasi. Ilmu pengetahuan dari luar dapat diadopsi dan dikembangkan, tetapi tetap disesuaikan dengan nilai dan kepribadian bangsa Indonesia. Dengan demikian, Pancasila menjadikan pengembangan ilmu di Indonesia tidak kehilangan identitas nasional, sekaligus tetap mampu bersaing secara global secara etis dan bermartabat.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Harapan saya, Indonesia memiliki pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang benar-benar mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam sikap dan tindakan nyata, bukan hanya dalam wacana. Pemimpin yang Pancasilais adalah pemimpin yang jujur, adil, bijaksana, mengutamakan kepentingan rakyat, serta mampu menggunakan kekuasaan secara bertanggung jawab dan bermoral.
Warga negara yang Pancasilais diharapkan memiliki sikap toleran, saling menghormati, taat hukum, serta aktif menjaga persatuan dan keharmonisan sosial. Di tengah perkembangan IPTEK, warga negara juga diharapkan cerdas secara digital, tidak mudah terprovokasi hoaks, serta mampu menggunakan teknologi secara bijak dan beretika.
Sementara itu, ilmuwan yang Pancasilais adalah ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia, bukan sekadar untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Ilmuwan harus menjunjung tinggi etika keilmuan, kejujuran akademik, serta menjadikan Pancasila sebagai pedoman moral dalam setiap riset dan inovasi yang dilakukan.
Dengan terwujudnya pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan global, memanfaatkan kemajuan IPTEK secara positif, serta mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
NAMA:AYU DEWI PRASTIYANI
NPM:2515012002
KELAS:B
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu Arsitektur
Pancasila berfungsi sebagai landasan etika dan kebijakan agar kemajuan teknologi dalam arsitektur tidak hanya mengejar keindahan visual, tetapi juga kesejahteraan masyarakat dan kelestarian bangsa.
Sila ke-1 (Ketuhanan Yang Maha Esa): Arsitektur harus menghormati nilai-nilai keagamaan dan lingkungan sebagai ciptaan Tuhan. Contohnya, dalam merancang bangunan, aspek keberlanjutan (sustainability) adalah bentuk tanggung jawab moral kepada Sang Pencipta.
Sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Pemanfaatan IPTEK (seperti software simulasi bangunan) harus bertujuan menciptakan ruang yang manusiawi, aman, dan nyaman bagi semua lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.
Sila ke-3 (Persatuan Indonesia): Arsitektur harus memperkuat identitas nasional. Penggunaan teknologi konstruksi modern sebaiknya dikombinasikan dengan kearifan lokal (Arsitektur Nusantara) untuk menjaga persatuan dan keunikan budaya bangsa.
Sila ke-4 (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan...): Kebijakan pembangunan dan tata kota harus melibatkan aspirasi masyarakat. Teknologi digital harus memudahkan partisipasi publik dalam perencanaan ruang kota.
Sila ke-5 (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia): Kemajuan IPTEK dalam arsitektur harus dirasakan manfaatnya secara merata. Arsitek dituntut merancang hunian terjangkau bagi rakyat kecil, bukan hanya bangunan mewah bagi segelintir kaum hedonis.
Proses di Tengah Persaingan Global: Di tengah persaingan global, arsitek Indonesia harus tetap berpegang pada produksi domestik dan bahan baku dalam negeri daripada terlalu bergantung pada standar atau material multilateral.
B. Harapan Model Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan yang Pancasilais
Berdasarkan teks tersebut, harapan untuk masa depan adalah:
Model Pemimpin: Pemimpin yang mampu menjadi regulator yang bijak dalam menghadapi pasar bebas agar ekonomi dan pembangunan tidak sepenuhnya dikuasai asing. Pemimpin arsitektur/pembangunan harus berorientasi kepada rakyat dan mendukung kemajuan kesejahteraan umum.
Model Warganegara: Warganegara yang bijak dalam menggunakan IPTEK, tidak terjebak dalam gaya hidup hedonisme, konsumtif, atau individualisme yang dipicu oleh teknologi. Warganegara diharapkan tetap menjaga norma sosial dan tidak menyalahgunakan teknologi untuk tindakan anarkis atau pelanggaran hukum (seperti hacking).
Model Ilmuwan (Arsitek/Insinyur): Ilmuwan yang profesional, transparan, dan bertanggung jawab dalam mengembangkan IPTEK. Mereka diharapkan mampu memperkuat produksi domestik dengan menggunakan bahan baku dalam negeri agar bangsa Indonesia memiliki ketahanan ekonomi yang mandiri.
NPM: 2515012032
Kelas: B
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu yang dipelajari, sebagai landasan etika pengembangan ilmu, serta prosesnya di tengah persaingan global saat ini?
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu karena menjadi dasar cara berpikir, sumber nilai, dan pedoman dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Pancasila memastikan bahwa ilmu yang dipelajari dan dikembangkan tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi dan kepentingan ekonomi, tetapi juga memiliki arah yang jelas dan bertanggung jawab secara moral sesuai dengan nilai-nilai bangsa.
Sebagai landasan etika, Pancasila mengarahkan pengembangan ilmu agar tetap menghormati nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial. Ilmu pengetahuan harus dikembangkan secara bermoral, tidak merugikan martabat manusia, serta memberi manfaat bagi masyarakat luas. Dengan berpegang pada nilai Pancasila, ilmu tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Pancasila berfungsi sebagai penyaring terhadap pengaruh globalisasi. Ilmu dan teknologi dari luar dapat diadopsi dan dikembangkan, namun tetap disesuaikan dengan nilai, budaya, dan kepribadian bangsa Indonesia. Dengan demikian, Indonesia tetap mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri nasional.
B. Bagaimanakah harapan mengenai model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia saat ini dan di masa mendatang?
Pemimpin yang Pancasilais diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam wacana. Pemimpin harus bersikap jujur, adil, bijaksana, bertanggung jawab, serta mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Warga negara yang Pancasilais diharapkan memiliki sikap toleran, saling menghormati, taat hukum, dan aktif menjaga persatuan bangsa. Di era perkembangan teknologi, warga negara juga dituntut memiliki kecerdasan digital, tidak mudah terpengaruh hoaks, serta mampu menggunakan teknologi secara bijak dan beretika.
Ilmuwan yang Pancasilais adalah ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan masyarakat. Ilmuwan harus menjunjung tinggi etika keilmuan, kejujuran akademik, serta menjadikan Pancasila sebagai pedoman moral dalam setiap kegiatan penelitian dan inovasi. Dengan adanya pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan global dan mewujudkan tujuan nasional.
NAMA: FITRIA RAHMA WULANDARI
NPM: 2515012020
A.Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu, yaitu kerangka nilai, arah, dan landasan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) agar tidak menyimpang dari jati diri bangsa, terutama di tengah persaingan global.
1.Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Pengembangan ilmu harus dilandasi nilai moral dan etika keagamaan. IPTEK tidak boleh digunakan untuk tujuan yang merusak kemanusiaan, melanggar norma agama, atau bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
2.Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Ilmu dan teknologi harus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan martabat manusia. IPTEK dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan menindas atau merugikan pihak lain.
3.Sila Persatuan Indonesia
Pengembangan IPTEK harus memperkuat persatuan bangsa, mendorong kemandirian nasional, serta mengurangi ketergantungan pada pihak asing, khususnya dalam bidang teknologi strategis.
4.Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Kebijakan ilmu pengetahuan harus dihasilkan melalui musyawarah dan berpihak pada kepentingan rakyat. IPTEK digunakan sebagai sarana meningkatkan partisipasi publik dan demokrasi yang sehat.
5.Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Hasil pengembangan IPTEK harus dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu, sehingga mampu mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi.
Dengan demikian, Pancasila menjadi penyaring dan pengarah agar perkembangan IPTEK tetap relevan dengan nilai bangsa di tengah arus globalisasi.
B. Harapan terhadap model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais
1.Pemimpin Pancasilais
Diharapkan mampu memanfaatkan IPTEK secara bijak, adil, transparan, dan bertanggung jawab. Pemimpin harus menjadikan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.
2.Warga Negara Pancasilais
Warga negara diharapkan cerdas dalam menggunakan teknologi, tidak menyalahgunakan kebebasan informasi, serta tetap menjunjung nilai moral, toleransi, dan persatuan bangsa di era digital.
3.Ilmuwan Pancasilais
Ilmuwan diharapkan mengembangkan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kemaslahatan umat, kesejahteraan bangsa, serta selaras dengan nilai Pancasila, UUD 1945, dan kepentingan nasional.
Ke depan, sinergi antara pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang berlandaskan Pancasila akan menjadi kunci agar kemajuan IPTEK membawa dampak positif, berkeadilan, dan berkelanjutan bagi Indonesia.
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu karena menjadi landasan nilai, arah, dan etika dalam pengembangan serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap disiplin ilmu tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang bebas nilai, melainkan harus dikembangkan dengan tanggung jawab moral dan sosial. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menuntun pengembangan ilmu agar dilakukan secara jujur, beretika, dan tidak merusak kehidupan manusia maupun alam. Ilmu pengetahuan harus disadari sebagai amanah yang penggunaannya harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral.
Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan bahwa ilmu dan teknologi harus berorientasi pada peningkatan martabat manusia serta menghormati hak asasi manusia. Dalam persaingan global, ilmu tidak semata-mata diarahkan pada efisiensi dan keuntungan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan dampak sosial yang ditimbulkannya. Sementara itu, nilai Persatuan Indonesia mengarahkan pengembangan ilmu agar memperkuat kemandirian bangsa, menjaga identitas nasional, dan tidak menjadikan Indonesia sekadar konsumen teknologi asing. Ilmu perlu dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional serta kearifan lokal.
Nilai Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan menuntut agar kebijakan ilmu dan teknologi disusun secara demokratis, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas. Ilmu tidak boleh dimonopoli oleh kelompok tertentu, melainkan harus dapat diakses dan dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Selanjutnya, nilai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menegaskan bahwa hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dirasakan secara merata, mengurangi kesenjangan sosial, serta mendukung kesejahteraan bersama. Di tengah persaingan global saat ini, proses pengembangan ilmu harus tetap berakar pada nilai Pancasila agar kemajuan IPTEK tidak mengorbankan keadilan dan kemanusiaan.
B. Harapan terhadap Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan Pancasilais
Warganegara Pancasilais diharapkan menjadi individu yang cerdas dalam memanfaatkan teknologi, kritis terhadap informasi, serta bertanggung jawab dalam ruang digital. Kemajuan IPTEK seharusnya tidak menjadikan masyarakat bersikap individualistis atau kehilangan nilai sosial, melainkan memperkuat toleransi, solidaritas, dan persatuan. Warganegara yang Pancasilais mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal produktif sekaligus menjaga etika dan norma sosial.
Ilmuwan Pancasilais diharapkan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan dan bangsa, bukan semata-mata untuk keuntungan pribadi atau kelompok. Ilmuwan harus menjunjung tinggi kejujuran akademik, etika penelitian, serta tanggung jawab sosial. Dalam menghadapi persaingan global, ilmuwan Indonesia diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang berdaya saing tinggi, namun tetap berlandaskan nilai Pancasila sebagai identitas dan pedoman moral dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
NPM: 2515012007
Kelas: B
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu dalam Disiplin Ilmu
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu yang menjadi landasan nilai, arah kebijakan, dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tengah persaingan global.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Ilmu pengetahuan dikembangkan dengan menjunjung nilai moral dan tanggung jawab kepada Tuhan, sehingga tidak disalahgunakan dan tetap menghormati nilai agama.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Pengembangan ilmu harus berorientasi pada kemanusiaan, tidak merugikan manusia, serta menghormati martabat dan hak asasi manusia.
Sila Persatuan Indonesia
Ilmu dan teknologi diarahkan untuk memperkuat persatuan bangsa, mengurangi kesenjangan, dan mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Pengembangan ilmu dilakukan secara demokratis, terbuka terhadap kritik, dan melibatkan partisipasi masyarakat serta komunitas ilmiah.
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ilmu pengetahuan harus memberi manfaat yang adil dan merata bagi seluruh masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu.
Proses pengembangan ilmu di era global dilakukan dengan bersikap terbuka terhadap kemajuan IPTEK dunia, namun tetap menyaringnya berdasarkan nilai-nilai Pancasila agar tidak kehilangan identitas bangsa.
B. Harapan terhadap Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan Pancasilais
Harapan ke depan adalah lahirnya pemimpin Pancasilais yang berintegritas, adil, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Warganegara Pancasilais diharapkan memiliki sikap kritis, bijak dalam menggunakan teknologi, toleran, dan bertanggung jawab secara sosial.
Sementara itu, ilmuwan Pancasilais diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang inovatif namun tetap beretika, berorientasi pada kesejahteraan bangsa, serta tidak melepaskan diri dari nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
NPM:2515012058
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu yang dipelajari, sebagai landasan etika pengembangan ilmu, serta prosesnya di tengah persaingan global saat ini?
Pancasila berperan sebagai pedoman nilai dan etika dalam pengembangan ilmu arsitektur, khususnya di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta persaingan global. Dalam arsitektur, Pancasila menjadi dasar dalam cara berpikir, merancang, dan mengambil keputusan agar hasil karya tidak hanya indah dan modern, tetapi juga bermoral, manusiawi, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan moral agar arsitek menyadari bahwa alam adalah ciptaan Tuhan yang harus dijaga. Oleh karena itu, proses perancangan dan pembangunan bangunan harus dilakukan secara bertanggung jawab, tidak merusak lingkungan, serta memperhatikan prinsip keberlanjutan. Penggunaan teknologi dalam arsitektur juga harus dibatasi oleh etika agar tidak merugikan manusia maupun alam.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menekankan bahwa arsitektur harus berorientasi pada manusia. Bangunan dan ruang publik perlu dirancang dengan memperhatikan kenyamanan, keselamatan, dan kebutuhan semua orang, termasuk anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Arsitektur tidak boleh hanya mementingkan keuntungan ekonomi atau tren global, tetapi harus menjunjung martabat manusia dan nilai kemanusiaan.
Sila Persatuan Indonesia mengajarkan pentingnya menjaga identitas dan jati diri bangsa dalam arsitektur. Di tengah globalisasi, arsitek Indonesia dituntut untuk tetap menghargai budaya lokal, kearifan tradisional, dan kondisi lingkungan setempat. Arsitektur yang berlandaskan persatuan akan memperkuat rasa kebangsaan dan mencegah hilangnya karakter arsitektur Indonesia akibat pengaruh budaya asing.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan tercermin dalam proses perencanaan dan pembangunan yang melibatkan masyarakat. Arsitek perlu membuka ruang dialog dengan warga, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya agar keputusan desain diambil melalui musyawarah dan tidak merugikan pihak tertentu. Dengan demikian, arsitektur dapat benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menuntut agar pengembangan arsitektur tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Arsitektur harus mendukung pemerataan pembangunan, seperti penyediaan hunian layak, fasilitas umum, dan ruang publik yang mudah diakses semua orang. Di tengah persaingan global, ilmu arsitektur harus diarahkan untuk menciptakan kesejahteraan sosial, bukan sekadar keuntungan ekonomi.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Saya harapkan lahir pemimpin Pancasilais yang jujur, adil, dan bijaksana dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan rakyat serta pembangunan yang berkelanjutan. Warga negara Pancasilais diharapkan mampu bersikap kritis, bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi, serta tetap menjaga persatuan dan menghargai perbedaan. Sementara itu, ilmuwan dan akademisi Pancasilais, termasuk arsitek, diharapkan mampu mengembangkan ilmu dan teknologi secara kreatif dan inovatif, namun tetap berpegang pada nilai moral, etika, dan keadilan sosial. Dengan demikian, kemajuan IPTEK dan arsitektur di Indonesia dapat berjalan seimbang antara modernitas, kemanusiaan, dan nilai-nilai Pancasila.
NPM : 2515012074
KELAS : A
ANALISIS SOAL
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Menurut saya, Pancasila punya peran penting sebagai paradigma ilmu supaya pengembangan ilmu pengetahuan tidak hanya fokus pada kemajuan teknologi dan persaingan global, tetapi juga tetap punya arah dan nilai. Dalam disiplin ilmu Arsitektur yang saya pelajari, Pancasila bisa menjadi dasar dalam menentukan bagaimana ilmu dan teknologi digunakan secara bertanggung jawab.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa dalam mengembangkan ilmu arsitektur perlu ada kesadaran moral, kejujuran, dan tanggung jawab, baik terhadap lingkungan maupun terhadap manusia. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan bahwa bangunan dan ruang yang dirancang seharusnya memperhatikan kenyamanan, keselamatan, dan kebutuhan manusia, bukan hanya nilai estetika atau keuntungan semata. Sila Persatuan Indonesia mendorong agar dalam menghadapi persaingan global, arsitektur tetap mempertahankan identitas dan budaya lokal, tanpa menutup diri dari perkembangan teknologi modern. Sila Kerakyatan menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan, sedangkan sila Keadilan Sosial menjadi tujuan akhir agar hasil pembangunan bisa dirasakan oleh semua kalangan, bukan hanya kelompok tertentu.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Saya berharap pemimpin yang Pancasilais adalah pemimpin yang tidak hanya pintar dan mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga punya sikap adil dan peduli terhadap masyarakat. Pemimpin seharusnya mampu menggunakan kemajuan IPTEK untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Sebagai warganegara, sikap Pancasilais bisa ditunjukkan dengan menggunakan teknologi secara bijak, tidak mudah terprovokasi, dan tetap menghargai perbedaan. Sementara itu, ilmuwan yang Pancasilais diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan tidak lepas dari nilai kemanusiaan. Ke depan, pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang berpegang pada nilai Pancasila sangat dibutuhkan agar kemajuan IPTEK benar-benar membawa dampak positif bagi Indonesia.
NAMA : Nanda Hanifatuzzakiyyah
NPM : 2515012050
KELAS : B
A. Pancasila Sebagai Paradigma dan Etika Ilmu
Pancasila itu bukan hanya pajangan, tapi ibarat sistem operasi buat ilmu yang kita pelajari. Di tengah persaingan global yang keras, ilmu kita tidak hanya boleh cuma cari untung, tapi harus punya etika.
Sila 1 (Ketuhanan): Menjadi landasan bahwa setiap penemuan atau teknologi yang dipelajari harus punya tanggung jawab moral kepada Tuhan dan menjaga alam.
Sila 2 (Kemanusiaan): Ilmu harus dipakai untuk memanusiakan manusia. Etikanya, perkembangan ilmu tidak boleh membuat orang jadi budak mesin atau merendahkan martabat orang lain.
Sila 3 (Persatuan): Kebijakan ilmu harus bisa menyatukan bangsa. Di tengah dunia digital, ilmu harusnya dipakai untuk mempererat persaudaraan, bukan untuk memecah belah.
Sila 4 (Kerakyatan): Pengembangan ilmu harus demokratis.
Sila 5 (Keadilan):Ilmu harus bisa memberi akses yang sama untuk semua orang, supaya tidak ada kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin dalam menikmati teknologi.
B. Harapan Sosok Pemimpin, Warga Negara, dan Ilmuwan Masa Depan
Pemimpin yang Pancasilais: Harapannya kita punya pemimpin yang tidak hanya bisa berpidato, tapi jujur, adil, dan ingin mendengar aspirasi rakyat lewat kemajuan teknologi (transparan). Mereka harus berani pakai IPTEK untuk menyejahterakan rakyat, bukan untuk korupsi.
Warga Negara yang Pancasilais: Sebagai warga negara diharapkan jadi pengguna medsos yang bijak. Tidak mudah terkena hoaks, tidak hobi bully (individualisme), dan tetap punya rasa peduli sama tetangga atau komunitas meskipun sibuk sama gadget masing-masing.
Ilmuwan yang Pancasilais: Kita butuh ilmuwan yang kalau membuat inovasi, memikirkan dampaknya buat masyarakat luas. Mereka harus punya integritas tinggi, tidak hanya cari nama atau uang, tapi benar-benar ingin memajukan bangsa Indonesia supaya tidak hanya jadi pasar produk asing terus.
NPM : 2515012013
1. Pancasila berfungsi sebagai filter dan pedoman agar kemajuan IPTEK tetap berorientasi pada kepentingan bangsa Indonesia dan kesejahteraan umum. Berikut adalah rinciannya berdasarkan nilai-nilai sila Pancasila:
-Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa): Pengembangan ilmu harus selaras dengan nilai-nilai keagamaan agar tidak terjadi penyimpangan, seperti tindakan kriminalitas berbasis teknologi (contoh: hacking).
-Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): IPTEK harus memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan manusia tanpa menghilangkan nilai-nilai sosial dan moral.
-Sila Ketiga (Persatuan Indonesia): Kemajuan IPTEK harus digunakan untuk mempererat persatuan, bukan memicu tindakan anarkis yang mengganggu stabilitas nasional.
-Sila Keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan...): IPTEK mendukung nilai-nilai demokrasi dan keterbukaan sebagai alat kontrol pemerintahan yang bersih dan jujur.
-Sila Kelima (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia): Pemanfaatan teknologi harus ditujukan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan bangsa, dan mengurangi kesenjangan sosial.
Di tengah persaingan global, proses ini dilakukan dengan memperkuat produksi domestik dan tidak bergantung sepenuhnya pada badan multilateral. Negara harus menjadi regulator yang memastikan pasar tidak menguasai sepenuhnya mekanisme ekonomi sehingga kepentingan rakyat tetap terlindungi.
2. Pemimpin harus mampu mengelola IPTEK sebagai alat kontrol pemerintahan yang bersih, jujur, adil, dan aspiratif terhadap masyarakat.
-Model Warganegara: Diharapkan menjadi warganegara yang cerdas dalam menerima informasi, memiliki wawasan luas, namun tetap memegang teguh norma agama dan sosial. Warganegara harus menghindari sifat hedonisme, individualisme, dan tidak menyalahartikan kebebasan demokrasi untuk tindakan anarkis.
-Model Ilmuwan: Diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang memberikan kemudahan bagi manusia sekaligus tetap mengacu pada landasan hukum dan UUD 1945. Ilmuwan harus berorientasi pada kemandirian bangsa dengan mengoptimalkan bahan baku dalam negeri demi kesejahteraan rakyat banyak.
NPM: 2515012047
A. Pancasila berperan sebagai penyaring sekaligus arah penuntun agar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap berpihak pada kepentingan nasional serta kesejahteraan masyarakat. Setiap sila mengandung prinsip yang relevan dalam pengelolaan IPTEK. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan bahwa pengembangan ilmu harus sejalan dengan nilai keimanan dan moral agar tidak disalahgunakan untuk tindakan menyimpang, seperti kejahatan siber. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengamanatkan agar IPTEK dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa mengabaikan nilai sosial dan etika. Sila Persatuan Indonesia menuntut agar kemajuan teknologi digunakan sebagai sarana pemersatu bangsa, bukan pemicu konflik atau tindakan destruktif. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan menempatkan IPTEK sebagai pendukung transparansi, partisipasi, dan pengawasan dalam praktik demokrasi yang sehat. Sementara itu, Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menekankan bahwa teknologi harus diarahkan untuk pemerataan kesejahteraan, peningkatan kecerdasan bangsa, serta pengurangan ketimpangan sosial. Dalam konteks persaingan global, upaya tersebut perlu disertai penguatan produksi nasional dan peran negara sebagai pengatur agar mekanisme pasar tidak mengesampingkan kepentingan rakyat.
B. Para pemimpin dituntut mampu memanfaatkan IPTEK sebagai sarana untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, adil, dan responsif terhadap aspirasi masyarakat. Dari sisi warganegara, diharapkan terbentuk individu yang kritis dan cakap dalam menyaring informasi, berpengetahuan luas, serta tetap berpegang pada nilai agama dan norma sosial, sehingga tidak terjebak pada gaya hidup hedonis, sikap individualistis, maupun penyalahgunaan kebebasan demokrasi. Adapun dari sisi ilmuwan, diharapkan lahir inovasi yang mempermudah kehidupan manusia namun tetap berlandaskan hukum dan UUD 1945, serta berorientasi pada kemandirian bangsa dengan mengutamakan pemanfaatan sumber daya dalam negeri demi kesejahteraan masyarakat luas.
Kelas: B
NPM: 2515012042
Analisis Soal Ke-2 Pertemuan Ke-15
A. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu dan landasan etika di tengah persaingan global
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu karena menjadi dasar cara berpikir, sumber nilai, serta pedoman dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Dengan Pancasila, ilmu tidak hanya diarahkan untuk kemajuan teknologi atau keuntungan ekonomi semata, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral sesuai nilai-nilai bangsa.
Sebagai landasan etika, Pancasila mengarahkan pengembangan ilmu agar tetap menghormati nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial. Ilmu pengetahuan harus dikembangkan secara bermoral, tidak merugikan manusia, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas. Dengan berpegang pada Pancasila, ilmu tidak mudah disalah gunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Pancasila berfungsi sebagai penyaring pengaruh globalisasi. Ilmu dan teknologi dari luar boleh diterima dan dikembangkan, namun tetap harus disesuaikan dengan nilai dan budaya bangsa Indonesia. Dengan begitu, Indonesia tetap bisa bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri.
B. Harapan terhadap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais
Pemimpin yang Pancasilais diharapkan mampu menerapkan nilai Pancasila dalam tindakan nyata, bukan hanya sebatas ucapan. Pemimpin harus jujur, adil, bijaksana, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Warga negara yang Pancasilais diharapkan memiliki sikap toleran, saling menghormati, taat hukum, serta ikut menjaga persatuan bangsa. Di era teknologi saat ini, warga negara juga perlu cerdas secara digital, tidak mudah termakan hoaks, dan mampu menggunakan teknologi dengan bijak.
Sementara itu, ilmuwan yang Pancasilais adalah ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan masyarakat. Ilmuwan harus menjunjung etika keilmuan, kejujuran akademik, serta menjadikan Pancasila sebagai pedoman moral dalam penelitian dan inovasi. Dengan hadirnya pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan global dan mencapai tujuan nasional.
NAMA : ALDI
NPM : 2515012052
A. Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu yang memberikan arah, nilai dasar, dan landasan etika bagi pengembangan setiap disiplin ilmu. Setiap sila Pancasila menjadi pedoman dalam kebijakan dan proses pengembangan ilmu, misalnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa menuntun ilmu agar berkembang dengan menjunjung nilai moral dan etika; sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengarahkan ilmu untuk menghormati martabat manusia; sila Persatuan Indonesia memastikan ilmu tidak merusak keutuhan bangsa; sila Kerakyatan menekankan musyawarah dan kepentingan bersama; serta sila Keadilan Sosial mendorong ilmu digunakan untuk kesejahteraan seluruh rakyat. Di tengah persaingan global, Pancasila menjadi filter agar pengembangan ilmu tetap objektif, inovatif, namun tidak lepas dari nilai kebangsaan, sehingga ilmu yang dipelajari dan dikembangkan tidak hanya mengejar kemajuan, tetapi juga membawa manfaat dan keadilan bagi masyarakat.
B. Harapan saya terhadap model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais adalah terwujudnya pribadi-pribadi yang berintegritas, beretika, dan bertanggung jawab dalam setiap peran yang dijalankan. Pemimpin diharapkan mampu mengambil kebijakan yang adil, berpihak pada rakyat, serta mengutamakan persatuan dan kepentingan nasional. Warga negara diharapkan memiliki sikap toleran, taat hukum, dan bijak dalam menggunakan ilmu pengetahuan serta teknologi. Sementara itu, ilmuwan diharapkan mengembangkan ilmu secara jujur, inovatif, dan berorientasi pada kemaslahatan bangsa, bukan semata kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan karakter Pancasilais tersebut, Indonesia di masa sekarang dan mendatang dapat menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri bangsa.
NPM: 2515012006
1. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu dalam pengembangan disiplin ilmu
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu karena menjadi dasar nilai, arah, serta landasan etika dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks persaingan global yang semakin ketat, pengembangan ilmu tidak cukup hanya berorientasi pada kemajuan dan efisiensi, tetapi juga harus memperhatikan nilai moral, kemanusiaan, dan kepentingan bangsa.
Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu dapat dijelaskan melalui setiap sila sebagai berikut:
a. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila ini menjadi landasan moral dan spiritual dalam pengembangan ilmu. Setiap ilmu pengetahuan harus dikembangkan dengan penuh tanggung jawab, kejujuran, serta kesadaran bahwa ilmu tidak boleh digunakan untuk merugikan manusia atau melanggar nilai-nilai agama.
b. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Pengembangan ilmu harus berorientasi pada peningkatan harkat dan martabat manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi harus memberikan manfaat bagi kesejahteraan manusia, menghormati hak asasi manusia, serta menghindari praktik yang bersifat merugikan atau tidak berperikemanusiaan.
c. Sila Persatuan Indonesia
Ilmu pengetahuan harus dikembangkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Pengembangan ilmu sebaiknya memperhatikan kepentingan nasional, menghargai keberagaman, serta tidak menimbulkan perpecahan atau ketimpangan antar kelompok masyarakat.
d. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Dalam pengembangan ilmu, diperlukan sikap demokratis, keterbukaan, dan musyawarah. Proses pengambilan keputusan terkait kebijakan ilmu harus melibatkan berbagai pihak dan mempertimbangkan aspirasi masyarakat secara bijaksana.
e. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ilmu pengetahuan dan teknologi harus dikembangkan untuk menciptakan keadilan dan pemerataan kesejahteraan. Manfaat ilmu tidak boleh hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, tetapi harus dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Proses penerapan di tengah persaingan global
Penerapan Pancasila sebagai paradigma ilmu dilakukan melalui pendidikan karakter, penguatan etika akademik, riset yang berorientasi pada kebutuhan bangsa, serta pemanfaatan IPTEK secara bertanggung jawab agar Indonesia mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri.
2. Harapan terhadap model pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang Pancasilais
Saya berharap Indonesia memiliki pemimpin yang Pancasilais, yaitu pemimpin yang berintegritas, adil, jujur, dan bijaksana dalam mengambil kebijakan, serta mampu memanfaatkan IPTEK untuk kepentingan rakyat dan kesejahteraan bersama.
Sebagai warganegara, masyarakat diharapkan mampu bersikap kritis, bertanggung jawab, dan bijak dalam menggunakan kemajuan IPTEK, serta tetap menjunjung nilai persatuan, toleransi, dan gotong royong.
Sementara itu, ilmuwan yang Pancasilais diharapkan tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan moral, menjadikan Pancasila sebagai pedoman etika, serta mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemajuan bangsa dan kemanusiaan, baik saat ini maupun di masa mendatang.
NPM : 2515012041
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Pancasila berperan sebagai pedoman etika dan arah dalam pengembangan ilmu pengetahuan di setiap disiplin ilmu.
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar agar ilmu dikembangkan dengan tanggung jawab moral.
2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menuntun ilmu agar bermanfaat bagi manusia dan tidak merugikan pihak lain.
3. Sila Persatuan Indonesia mendorong ilmu untuk memperkuat persatuan bangsa.
4. Sila Kerakyatan menekankan penggunaan ilmu secara demokratis dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
5. Sila Keadilan Sosial mengarahkan ilmu agar hasilnya dapat dirasakan secara merata.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Di tengah persaingan global, pengembangan ilmu harus tetap berlandaskan nilai Pancasila agar tidak kehilangan jati diri bangsa.
Saya berharap pemimpin Indonesia bersikap jujur, adil, dan bertanggung jawab dalam mengambil kebijakan. Warga negara diharapkan bijak dalam menggunakan teknologi dan menghargai perbedaan. Sementara itu, ilmuwan diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, baik sekarang maupun di masa depan.
NPM : 2515012034
Kelas : B
A. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu dalam bidang arsitektur
Menurut saya, Pancasila berperan sebagai pegangan agar ilmu arsitektur tidak hanya fokus pada teknologi dan tren, tapi juga pada nilai dan etika. Dalam arsitektur, kita tidak hanya merancang bangunan yang bagus, tapi juga harus memperhatikan kenyamanan, keamanan, dan dampaknya bagi manusia serta lingkungan. Di tengah persaingan global, Pancasila membantu agar perkembangan arsitektur di Indonesia tetap punya identitas sendiri dan tidak melupakan nilai lokal.
B. Harapan terhadap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais
Saya berharap pemimpin di Indonesia bisa bersikap jujur, adil, dan benar-benar mendahulukan kepentingan rakyat. Warga negara juga diharapkan lebih sadar etika, terutama dalam menggunakan teknologi dan media sosial. Sementara itu, ilmuwan dan akademisi sebaiknya mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat, tanpa mengesampingkan nilai moral dan Pancasila.
NPM: 2515012085
KELAS B
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu dalam Disiplin Ilmu
Pancasila sebagai paradigma ilmu berarti bahwa setiap pengembangan ilmu pengetahuan harus menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai titik acuan, kerangka berpikir, sekaligus batasan etika. Berikut adalah rinciannya berdasarkan sila-sila Pancasila:
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa (Landasan Etika): Ilmu pengetahuan tidak hanya mengejar kebenaran ilmiah, tetapi juga harus mempertimbangkan tanggung jawab moral kepada Tuhan. Dalam disiplin ilmu apa pun, pengembangan teknologi harus menjaga kelestarian alam sebagai ciptaan Tuhan, bukan mengeksploitasinya tanpa batas.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (Kebijakan Ilmu): Pengembangan ilmu harus bertujuan untuk dehumanisasi (memanusiakan manusia). Ilmu tidak boleh digunakan untuk menindas atau merendahkan martabat manusia, melainkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup.
Sila Persatuan Indonesia (Landasan Etika): Ilmu pengetahuan harus menjadi alat pemersatu. Dalam persaingan global, pengembangan ilmu di Indonesia harus memperkuat rasa nasionalisme dan tidak memicu perpecahan atau konflik antar kelompok.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan (Kebijakan Ilmu): Proses pengembangan ilmu harus bersifat demokratis. Artinya, ilmuwan harus terbuka terhadap kritik, menghargai kebebasan berpendapat, dan setiap inovasi harus didasarkan pada musyawarah untuk kepentingan orang banyak.
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Kebijakan Ilmu): Hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan (seperti teknologi atau sistem ekonomi) harus bisa dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya oleh segelintir elit atau pemilik modal.
B. Harapan Model Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan yang Pancasilais
Harapan untuk masa depan Indonesia adalah terciptanya sinergi antara tiga elemen utama bangsa yang berpegang teguh pada nilai Pancasila:
Model Pemimpin yang Pancasilais:
Diharapkan menjadi pemimpin yang transparan, jujur, dan adil (sebagai alat kontrol pemerintahan yang bersih).
Pemimpin yang mampu menerima aspirasi masyarakat dengan baik dan mengutamakan kesejahteraan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan (Sila ke-4).
Memberikan keteladanan dalam berkomunikasi di ruang publik, terutama dalam memerangi hoaks dan ujaran kebencian.
Model Warganegara yang Pancasilais:
Warganegara yang memiliki literasi digital yang tinggi, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong (hoaks) yang dapat memecah belah persatuan.
Warganegara yang aktif berpartisipasi dalam pembangunan namun tetap menghormati norma hukum, sosial, dan agama.
Memiliki semangat nasionalisme untuk mencintai dan menggunakan produk dalam negeri guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Model Ilmuwan yang Pancasilais:
Ilmuwan yang tidak hanya mengejar kecanggihan teknologi (high tech), tetapi juga memiliki integritas moral (high touch).
Ilmuwan yang inovasinya ditujukan untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata di Indonesia (misalnya kemiskinan, kesenjangan akses informasi, dan kerusakan lingkungan).
Seorang ilmuwan yang berani menolak pengembangan ilmu yang merusak martabat manusia atau mengancam stabilitas nasional, meskipun mendapatkan tekanan global.
NPM : 2515012010
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Pancasila berperan sebagai pedoman nilai dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak bertentangan dengan moral, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial. Di tengah persaingan global, ilmu pengetahuan tetap berkembang mengikuti zaman, tetapi harus disaring dengan nilai-nilai Pancasila agar bermanfaat bagi bangsa Indonesia. Peran setiap sila dalam pengembangan ilmu: Sila Ketuhanan Yang Maha Esa (pengembangan ilmu pengetahuan serta penggunannya sesuai dengan dasar moral dan etika agar digunakan dengan benar tanpa menyinggung nilai agama), Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradap (ilmu serta teknologi yang bermanfaat bagi manusia tanpa merugikan siapapun serta nilai keadilan yang tetap dijunjung tinggi), Sila Persatuan Indonesia (pengembangan ilmu yangng dalam mempersatukan bangsa dan tidak memecah belah masyarakat ), Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksaan dalam Permusyawaratan/perwakilan (Pengembangan ilmu yang digunakan seperti pengambilan Keputusan dengan mendengankan aspirasi atau suara tiap sisi bagian tersebut), Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (Penggunaan ilmu yang dapat dirasakan semua orang tanpa membedakan golongan tertentu).
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Pemimpin diharapkan jujur, adil, dan mengutamakan kepentingan rakyat.
Warga negara diharapkan taat hukum, bijak menggunakan teknologi, dan menjaga persatuan.
Ilmuwan diharapkan beretika, bertanggung jawab, dan mengembangkan ilmu untuk kesejahteraan bangsa.
NPM: 2515012057
Kelas: B
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu, artinya menjadi sumber nilai, arah, dan landasan etika dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam disiplin ilmu IPTEK, Pancasila berfungsi sebagai pedoman agar kemajuan ilmu tidak hanya berorientasi pada kemanfaatan teknis, tetapi juga pada nilai kemanusiaan, moral, dan keadilan sosial.
Peran masing-masing sila Pancasila dapat dijabarkan sebagai berikut:
Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa
Dalam pengembangan IPTEK, sila ini menjadi landasan etika bahwa ilmu harus dikembangkan dengan tanggung jawab moral dan kesadaran akan nilai ketuhanan. Ilmu pengetahuan tidak boleh disalahgunakan untuk merugikan manusia, seperti penyalahgunaan teknologi untuk penipuan, peretasan, atau kejahatan siber. Proses pengembangan ilmu harus menjunjung nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab.
Sila ke-2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Ilmu dan teknologi harus digunakan untuk meningkatkan martabat manusia. Dalam IPTEK, hal ini tercermin pada pengembangan teknologi yang ramah manusia, tidak diskriminatif, serta memperhatikan dampak sosial. Contohnya, teknologi digital dikembangkan untuk mempermudah akses pendidikan, kesehatan, dan informasi bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sila ke-3: Persatuan Indonesia
Pengembangan ilmu harus memperkuat persatuan bangsa, bukan memecah belah. Dalam konteks IPTEK, teknologi informasi seharusnya digunakan untuk mempererat komunikasi dan kolaborasi nasional, bukan menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, atau provokasi yang dapat merusak persatuan bangsa.
Sila ke-4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Sila ini menekankan bahwa kebijakan ilmu dan teknologi harus melibatkan partisipasi masyarakat dan diputuskan secara bijaksana. Dalam praktiknya, regulasi terkait teknologi, seperti perlindungan data pribadi dan keamanan digital, harus dibuat melalui musyawarah yang melibatkan pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Sila ke-5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ilmu pengetahuan dan teknologi harus memberikan manfaat yang adil dan merata. Pengembangan IPTEK tidak boleh hanya menguntungkan kelompok tertentu, tetapi harus mampu mengurangi kesenjangan sosial. Contohnya, pemerataan akses internet dan teknologi pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.
Di tengah persaingan global saat ini, proses pengembangan ilmu yang berlandaskan Pancasila dilakukan dengan cara menguasai ilmu pengetahuan modern, namun tetap menjaga identitas nasional, etika, dan kepentingan bangsa agar tidak tergerus oleh arus globalisasi.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Harapan saya terhadap pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang Pancasilais adalah terciptanya sumber daya manusia yang berkarakter, berintegritas, dan berorientasi pada kepentingan bangsa. Pemimpin Pancasilais diharapkan mampu bersikap adil, jujur, serta bijaksana dalam memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk kesejahteraan rakyat dan menjaga persatuan nasional. Warganegara yang Pancasilais diharapkan memiliki kesadaran moral dan kecerdasan dalam menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, menghormati perbedaan, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi negatif. Sementara itu, ilmuwan Pancasilais diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dengan menjunjung tinggi nilai etika, kemanusiaan, dan keadilan sosial, sehingga inovasi yang dihasilkan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan kemajuan Indonesia di masa kini maupun masa mendatang.
NPM : 2515012019
Kelas : B
Analisis Fenomena Hoaks dan Media Sosial
Penyebaran hoaks saat ini telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan karena adanya "kombinasi maut" antara konten informasi palsu dengan karakteristik media sosial yang mampu memviralkan sesuatu secara instan.
Latar Belakang Pendidikan: Tingkat pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang kebal terhadap hoaks; bahkan, individu terpelajar sering kali gagal membedakan berita valid dengan informasi palsu.
Faktor Psikologis (Confirmation Bias): Masyarakat cenderung mempercayai dan menyebarkan informasi yang sesuai dengan keyakinan atau kesukaan pribadi mereka, meskipun informasi tersebut tidak benar. Sebaliknya, fakta valid sering ditolak jika tidak selaras dengan pandangan mereka.
Dampak Politik dan Kebangsaan: Dominasi hoaks politik mengancam nilai-nilai dasar bangsa. Kemenangan politik yang diraih melalui penyebaran hoaks dipandang sebagai kekalahan bagi integritas bangsa secara keseluruhan.
Antisipasi Dampak Negatif Hoaks
Untuk memitigasi dampak negatif penyebaran hoaks, langkah-langkah strategis yang dapat diambil meliputi:
Verifikasi Sebelum Sosialisasi: Mengedepankan prinsip "betul dulu, baru suka" sebelum membagikan konten, guna memutus rantai viralitas hoaks.
Edukasi Literasi Digital: Mendorong elit politik dan tokoh masyarakat untuk memberikan keteladanan dalam penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Kesadaran Kritis: Menyadari bahwa dampak hoaks bersifat jangka panjang dan dapat menyusup ke dalam kehidupan pribadi, sehingga diperlukan skeptisisme sehat terhadap informasi yang diterima.
IPTEK dan Nilai Pancasila
Pengembangan IPTEK (termasuk algoritma media sosial) yang tidak berlandaskan nilai-nilai Pancasila dapat memicu perpecahan dan konflik horizontal.
Pengaruh Negatif: Media sosial yang digunakan tanpa landasan etika ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan hanya akan menjadi alat penghancur kohesi sosial melalui sebaran fitnah.
Solusi Pengembangan: IPTEK harus diarahkan untuk kemaslahatan umum dengan memperhatikan nilai etis dan moral. Solusinya adalah integrasi nilai Pancasila ke dalam kurikulum pendidikan teknologi dan regulasi platform digital untuk memastikan teknologi berfungsi sebagai alat pemersatu.
Tantangan Konsumerisme Teknologi
Sikap konsumerisme menjadikan Indonesia sekadar pasar bagi produk teknologi asing, yang mencerminkan ketergantungan IPTEK terhadap negara lain.
Solusi Berbasis Program Studi (Perspektif Akademis):
Sebagai mahasiswa, solusi yang dapat ditawarkan adalah transisi dari budaya konsumtif menuju budaya produktif-inovatif. Hal ini dilakukan dengan memperkuat riset dan pengembangan (R&D) dalam negeri agar kita mampu menciptakan teknologi mandiri yang sesuai dengan kebutuhan lokal, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen teknologi.
DATA MAHASISWA
Nama: Handaru Rakha Albaihaqi
NPM: 2515012045
Kelas: B
A. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu yang dipelajari
Pancasila memiliki peran yang sangat penting sebagai paradigma ilmu dalam setiap disiplin ilmu yang dipelajari. Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai landasan filosofis, etis, dan moral dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di tengah persaingan global yang semakin ketat. Setiap sila Pancasila dapat dijabarkan sebagai berikut:
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila ini menjadi landasan spiritual dan etika dalam pengembangan ilmu. Ilmu pengetahuan harus dikembangkan dengan dilandasi nilai ketuhanan, moral, dan tanggung jawab, sehingga pemanfaatannya tidak merugikan manusia maupun lingkungan. Proses pengembangan ilmu harus menjunjung tinggi kejujuran ilmiah, integritas, dan kesadaran bahwa ilmu tidak boleh disalahgunakan.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila ini menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus berorientasi pada kemanusiaan. Pengembangan ilmu tidak boleh menindas, merugikan, atau mendiskriminasi pihak lain, melainkan harus menjunjung keadilan, etika, dan nilai kemanusiaan. Ilmu yang dikembangkan harus memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas hidup manusia.
Sila Persatuan Indonesia
Sila ini mengarahkan agar pengembangan ilmu pengetahuan dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Ilmu harus digunakan untuk kepentingan nasional, memperkuat kemandirian bangsa, serta menjaga identitas dan budaya Indonesia di tengah arus globalisasi.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Sila ini menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan ilmu pengetahuan yang melibatkan partisipasi masyarakat dan bersifat demokratis. Pengembangan ilmu perlu mempertimbangkan aspirasi masyarakat serta dilakukan secara bijaksana, tidak elitis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila ini menekankan bahwa hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat. Ilmu tidak boleh hanya menguntungkan kelompok tertentu, tetapi harus berkontribusi pada pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial.
Dalam prosesnya di tengah persaingan global, Pancasila berperan sebagai filter dan pedoman agar pengembangan ilmu pengetahuan tetap berakar pada nilai-nilai bangsa Indonesia, sekaligus mampu bersaing secara sehat dan bermartabat di tingkat internasional.
B. Harapan terhadap model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais
Harapan terhadap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia, baik saat ini maupun di masa mendatang, adalah terwujudnya pribadi-pribadi yang menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan.
Pemimpin yang Pancasilais diharapkan memiliki integritas, keadilan, kebijaksanaan, serta mampu mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Pemimpin juga harus mampu menjadi teladan dalam penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Warga negara yang Pancasilais diharapkan memiliki sikap kritis, beretika, toleran, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan kemajuan Iptek. Warga negara tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menyaring pengaruh negatif globalisasi serta menjaga persatuan dan nilai-nilai budaya bangsa.
Sementara itu, ilmuwan yang Pancasilais diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dengan menjunjung tinggi etika, kemanusiaan, dan kepentingan nasional. Ilmuwan tidak hanya berorientasi pada kemajuan ilmu semata, tetapi juga pada kemaslahatan bangsa dan negara.
Dengan terwujudnya pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan global secara mandiri, bermartabat, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur Pancasila.
NPM:2515012026
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu
Pancasila menjadi pedoman dalam pengembangan ilmu pengetahuan agar tidak lepas dari nilai moral dan kemanusiaan.
Sila Ketuhanan mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab dalam mengembangkan ilmu.
Sila Kemanusiaan menegaskan bahwa ilmu harus bermanfaat bagi manusia dan tidak merugikan.
Sila Persatuan mendorong IPTEK untuk memperkuat kemandirian dan persatuan bangsa.
Sila Kerakyatan mengarahkan pengembangan ilmu dilakukan secara terbuka, demokratis, dan siap dikritik.
Sila Keadilan Sosial menuntut agar hasil IPTEK dapat dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat.
Di tengah persaingan global, Pancasila menjadi filter agar kemajuan IPTEK tetap sesuai jati diri bangsa.
B. Harapan terhadap Pemimpin, Warga Negara, dan Ilmuwan Pancasilais
Pemimpin diharapkan bijak, jujur, dan menggunakan IPTEK untuk kepentingan rakyat.
Warga negara diharapkan kritis, bijak menggunakan teknologi, dan tidak mudah terpengaruh hoaks.
Ilmuwan diharapkan mengembangkan ilmu yang bermoral, bermanfaat, dan berkeadilan.
Dengan nilai Pancasila, Indonesia dapat maju secara teknologi tanpa kehilangan identitas bangsa.
NPM: 2515012064
KELAS: B
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu yang Anda pelajari dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu, serta bagaimana prosesnya di tengah persaingan global saat ini?
Pancasila berperan sebagai dasar nilai dalam pengembangan ilmu yang saya pelajari agar ilmu tersebut tidak hanya mengejar kemajuan, tetapi juga tetap memiliki arah dan tanggung jawab moral. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi pengingat bahwa ilmu harus dikembangkan secara jujur dan tidak disalahgunakan. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengarahkan agar ilmu yang dikembangkan tidak merugikan manusia dan tetap menghormati nilai kemanusiaan. Sila Persatuan Indonesia menekankan bahwa pengembangan ilmu seharusnya mendukung kepentingan bangsa dan tidak melemahkan persatuan. Sila Kerakyatan mengajarkan bahwa kebijakan dalam pengembangan ilmu perlu memperhatikan kepentingan masyarakat luas, bukan hanya kelompok tertentu. Sila Keadilan Sosial menegaskan bahwa hasil ilmu dan teknologi harus dapat dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat. Di tengah persaingan global, pengembangan ilmu tetap perlu mengikuti perkembangan zaman, tetapi harus disaring dan disesuaikan dengan nilai Pancasila agar tidak kehilangan jati diri bangsa.
B. Bagaimanakah harapan Anda mengenai model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia pada masa sekarang dan di masa mendatang?
Saya berharap Indonesia memiliki pemimpin yang jujur, adil, bijaksana, dan benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat. Pemimpin yang Pancasilais tidak hanya pandai berbicara, tetapi mampu memberi contoh dalam bersikap dan bertindak. Warga negara diharapkan memiliki sikap toleran, saling menghargai, taat aturan, dan bijak dalam menggunakan teknologi serta media sosial. Sementara itu, ilmuwan yang Pancasilais diharapkan mampu mengembangkan ilmu dan teknologi dengan tetap memperhatikan nilai etika, kemanusiaan, dan dampaknya bagi masyarakat. Ke depan, pemimpin, warga negara, dan ilmuwan Indonesia diharapkan mampu bersaing secara global tanpa meninggalkan nilai-nilai Pancasila sebagai identitas bangsa.
NPM: 2515012043
KELAS: B
A. Pancasila sebagai paradigma ilmu.
Pancasila sebagai landasan supaya kemajuan teknologi (IPTEK) tidak merusak nilai-nilai budaya Indonesia.
Sila 1: Pengembangan ilmu harus memiliki etika dan tidak melanggar perintah Tuhan, misalnya tidak menggunakan teknologi untuk mencuri atau hack.
Sila 2: Teknologi harus digunakan untuk memberikan kenyamanan dan memudahkan kepentingan pengguna.
Sila 3: Kemajuan IPTEK jangan sampai memicu perpecahan atau aksi ricuh yang merusak keamanan.
Sila 4: IPTEK harus mendukung transparansi dan menjadi kontrol supaya pemerintah bekerja secara adil dan jujur.
Sila 5: IPTEK harus bisa dinikmati oleh semua orang, misalnya dengan menciptakan lapangan pekerjaan.
B. Harapan model pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang Pancasilais.
Harapan saya untuk model pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang Pancasilais di masa kini maupun dimasa depan yaitu, pemimpin dapat menjadi sosok yang mampu menjalankan pemerintahan dengan jujur, adil, dan transparan. Warganegara dapat menjadi masyarakat yang cerdas dalam menerima informasi dari sosial media, dan menjaga sopan santun. Ilmuwan dapat menjadi penemu yang tidak hanya mengejar kemajuan teknis, tapi juga memikirkan dampak sosial dan tetap berpegang pada nilai-nilai agama serta Pancasila.
2515012048
Kelas A
A. Pendapat terhadap isi artikel dan nilai positif yang dapat diambil
Artikel “Akhlak-less Itu Bukan Budaya Kita” membahas fenomena menurunnya etika dan moral di kalangan sebagian generasi muda akibat pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi. Artikel ini menegaskan bahwa citra negatif terhadap generasi muda bukan berasal dari seluruh anak muda, melainkan dari perilaku segelintir individu yang tidak mencerminkan nilai-nilai budaya dan moral bangsa Indonesia.
Nilai positif yang dapat diambil dari artikel tersebut adalah pentingnya menanamkan kesadaran etika dalam setiap tindakan dan perkataan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di ruang digital. Selain itu, artikel ini mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi harus disertai tanggung jawab moral agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi orang lain serta kehidupan berbangsa dan bernegara.
B. Keterkaitan Pancasila sebagai sistem etika dengan isi artikel
Pancasila berperan sebagai landasan etika dan moral bagi seluruh warga negara Indonesia. Isi artikel tersebut sangat relevan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama:
Sila Kedua, yang menekankan sikap saling menghormati dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Sila Keempat, yang mengajarkan etika dalam menyampaikan pendapat secara santun dan penuh kebijaksanaan.
Sila Kelima, yang menuntut terciptanya keadilan sosial dan perlakuan yang baik bagi semua pihak.
Melalui artikel tersebut, generasi muda diajak untuk kembali mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman etika agar perilaku sosial tetap mencerminkan jati diri bangsa Indonesia.
C. Kearifan lokal di Indonesia yang berkaitan dengan sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Kebiasaan berdoa sebelum beraktivitas serta sikap saling menghormati antarumat beragama.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Tradisi sopan santun, menghormati orang yang lebih tua, serta budaya saling membantu.
Sila Persatuan Indonesia
Gotong royong dan kerja bakti sebagai bentuk kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Musyawarah mufakat dalam menyelesaikan permasalahan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sikap saling berbagi, peduli terhadap sesama, dan membantu masyarakat yang membutuhkan.
D. Cara menjaga dan melestarikan kearifan lokal yang berkaitan dengan sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila
Pelestarian kearifan lokal dapat dilakukan dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, menjaga etika dan kesopanan dalam berinteraksi, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Selain itu, penting untuk menghargai budaya daerah, menanamkan nilai moral sejak dini, serta menolak perilaku yang bertentangan dengan norma dan nilai luhur bangsa Indonesia.
NPM: 2515012044
1. Pancasila berfungsi sebagai dasar nilai dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak menyimpang dari tujuan kemanusiaan dan kepentingan bangsa. Setiap sila mengarahkan ilmu agar berkembang secara bermoral (Ketuhanan), menghormati martabat manusia (Kemanusiaan), memperkuat persatuan nasional (Persatuan), dikembangkan secara demokratis (Kerakyatan), serta memberi manfaat yang adil bagi seluruh rakyat (Keadilan Sosial). Di tengah persaingan global, Pancasila menjadi pedoman agar Indonesia mampu maju tanpa kehilangan jati diri bangsa.
2. Pemimpin Pancasilais diharapkan berintegritas, bijak, dan mengutamakan kepentingan rakyat dalam pemanfaatan IPTEK. Warga negara Pancasilais mampu bersikap kritis, bertanggung jawab, dan beretika dalam menggunakan teknologi. Sementara itu, ilmuwan Pancasilais diharapkan mengembangkan ilmu yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat serta selaras dengan nilai Pancasila.
Npm: 2555012003
Kelas: A
Analisis soal-2 pertemuan ke 15
A. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu
Pancasila berperan sebagai landasan etika dan arah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar kemajuan IPTEK tidak menyimpang dari nilai kemanusiaan, keadilan, dan ketuhanan.
Sila 1: IPTEK dikembangkan dengan moral dan tanggung jawab kepada Tuhan.
Sila 2: IPTEK harus menjunjung nilai kemanusiaan dan tidak merugikan sesama.
Sila 3: IPTEK memperkuat persatuan bangsa, bukan memecah belah.
Sila 4: IPTEK mendukung demokrasi, keterbukaan, dan partisipasi publik.
Sila 5: IPTEK digunakan untuk kesejahteraan dan keadilan sosial.
Dalam persaingan global, pengembangan ilmu harus inovatif namun tetap beretika, berorientasi pada kepentingan bangsa, dan didukung UUD 1945.
B. Harapan terhadap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan Pancasilais
Diharapkan pemimpin, warga negara, dan ilmuwan Indonesia menggunakan IPTEK secara bijak, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan rakyat. Pemimpin memberi keteladanan, warga negara cerdas dan etis dalam teknologi, serta ilmuwan mengembangkan IPTEK yang bermanfaat, mandiri, dan mendukung kesejahteraan nasional di masa kini dan mendatang.
NPM : 2515012062
1. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu
Di tengah perkembangan IPTEK yang sangat cepat dan persaingan global yang makin ketat, Pancasila punya peran penting sebagai penunjuk arah dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Pancasila mengingatkan bahwa ilmu bukan hanya soal kemajuan teknologi, tapi juga soal nilai dan tanggung jawab.
Nilai Ketuhanan menegaskan bahwa ilmu harus digunakan dengan kesadaran moral dan tidak merusak kehidupan. Kemanusiaan mengingatkan bahwa setiap pengembangan ilmu seharusnya memberi manfaat nyata bagi manusia, bukan malah menimbulkan penderitaan. Persatuan menuntut agar kemajuan ilmu tidak menghilangkan jati diri bangsa di tengah arus globalisasi. Kerakyatan menekankan pentingnya keterbukaan, dialog, dan keberpihakan ilmu pada kepentingan masyarakat. Sementara itu, keadilan sosial menjadi pengingat bahwa hasil ilmu dan teknologi harus bisa dinikmati secara merata, bukan hanya oleh segelintir orang.
Dengan Pancasila, pengembangan ilmu jadi lebih berarah, beretika, dan tetap berpijak pada kepentingan bangsa.
2. Harapan terhadap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan Pancasilais
Saya berharap pemimpin Indonesia ke depan adalah sosok yang jujur, berani, dan konsisten memegang nilai Pancasila, bukan hanya saat berbicara, tapi juga dalam tindakan.
Warga negara diharapkan semakin sadar, kritis, dan bertanggung jawab, terutama dalam menggunakan teknologi dan menyikapi informasi.
Sementara itu, ilmuwan dan akademisi diharapkan tidak hanya mengejar prestasi atau inovasi, tetapi juga peduli pada dampak sosial dan kemanusiaan dari ilmu yang dikembangkan.
Dengan semangat Pancasila, Indonesia bisa melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, kuat secara moral, dan siap menghadapi tantangan global tanpa kehilangan jati diri.
NAMA : LUTFI PUSPITA SARI
NPM : 2515012061
KELAS : B
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu Pengetahuan dalam Pengembangan Disiplin Ilmu di Tengah Persaingan Global
1. Pancasila sebagai Paradigma Ilmu
Pancasila berfungsi sebagai paradigma ilmu, artinya menjadi kerangka nilai, arah, dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Ilmu tidak bersifat netral sepenuhnya, tetapi harus diarahkan agar bermanfaat bagi kemanusiaan, bangsa, dan negara, bukan sekadar untuk kepentingan pasar atau kekuasaan global.
Dalam konteks disiplin ilmu apa pun (hukum, teknik, ekonomi, sosial, pendidikan, teknologi, dan lain-lain), Pancasila menjadi:
Landasan filosofis (arah dan tujuan ilmu)
Landasan etis (batas moral pemanfaatan ilmu)
Landasan praksis (orientasi kebijakan dan penerapan ilmu).
2. Perincian Setiap Sila sebagai Kebijakan Ilmu dan Landasan Etika
a. Sila 1: Ketuhanan Yang Maha Esa
Peran dalam ilmu: Ilmu dikembangkan dengan kesadaran moral dan tanggung jawab kepada Tuhan.
Landasan etika: Kejujuran akademik, integritas ilmiah, anti-plagiarisme, dan tidak menyalahgunakan teknologi.
Contoh: Pengembangan teknologi digital tidak digunakan untuk penipuan, peretasan, hoaks, atau eksploitasi manusia.
b. Sila 2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Peran dalam ilmu: IPTEK harus menjunjung nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Landasan etika: Ilmu tidak boleh merugikan atau menindas manusia.
Contoh: Dalam bidang teknologi dan ekonomi, inovasi harus memperhatikan dampak sosial, seperti perlindungan data pribadi dan hak pekerja.
c. Sila 3: Persatuan Indonesia
Peran dalam ilmu: Ilmu harus memperkuat persatuan dan kepentingan nasional.
Landasan etika: Menghindari penyebaran teknologi dan informasi yang memecah belah bangsa.
Contoh: Pemanfaatan media sosial dan AI diarahkan untuk edukasi, literasi digital, dan penguatan identitas nasional.
d. Sila 4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Peran dalam ilmu: Ilmu dikembangkan secara demokratis dan partisipatif.
Landasan etika: Kebijakan IPTEK melibatkan publik dan memperhatikan aspirasi masyarakat.
Contoh: Perumusan kebijakan teknologi dan hukum berbasis riset dan musyawarah, bukan kepentingan elite semata.
e. Sila 5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Peran dalam ilmu: Hasil IPTEK harus dapat dirasakan secara merata.
Landasan etika: Menolak monopoli ilmu dan teknologi.
Contoh: Digitalisasi pendidikan dan layanan publik harus menjangkau daerah terpencil, bukan hanya kota besar.
3. Proses Pengembangan Ilmu di Tengah Persaingan Global
Di era globalisasi dan persaingan internasional:
Indonesia harus terbuka terhadap ilmu global, tetapi selektif dan kritis.
Pancasila menjadi filter nilai agar IPTEK tidak menggerus jati diri bangsa.
Ilmu dikembangkan melalui riset, inovasi, kolaborasi global, namun tetap berpihak pada kepentingan nasional dan kesejahteraan rakyat.
B. Harapan terhadap Model Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan Pancasilais di Indonesia
1. Model Pemimpin Pancasilais
Pemimpin yang diharapkan adalah:
Berintegritas, jujur, dan bertanggung jawab,
Menguasai IPTEK namun tetap berlandaskan nilai moral,
Mengambil kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, bukan kepentingan pribadi,
Mampu melindungi rakyat dari dampak negatif globalisasi dan teknologi.
2. Model Warganegara Pancasilais
Warganegara yang ideal:
Melek teknologi dan kritis terhadap informasi,
Menggunakan IPTEK secara bijak dan bertanggung jawab,
Menjunjung nilai toleransi, gotong royong, dan persatuan,
Tidak mudah terprovokasi hoaks, ujaran kebencian, dan radikalisme digital.
3. Model Ilmuwan Pancasilais
Ilmuwan yang diharapkan:
Mengembangkan ilmu untuk kemaslahatan umat,
etika akademik dan nilai kemanusiaan,
Tidak menjadikan ilmu semata alat komersial,
Berkontribusi pada penyelesaian masalah bangsa seperti kemiskinan, ketimpangan, dan krisis lingkungan.
Kesimpulan
Kemajuan IPTEK merupakan keniscayaan, namun arah dan dampaknya sangat ditentukan oleh nilai yang melandasinya. Pancasila menjadi kompas moral dan ideologis agar pengembangan ilmu di Indonesia tidak kehilangan arah. Dengan pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang Pancasilais, Indonesia dapat memanfaatkan IPTEK untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sesuai amanat UUD 1945.
NPM: 2515012056
KELAS: A
A. Peran Pancasila dalam Ilmu Arsitektur
Pancasila menjadi pedoman etis agar perkembangan teknologi arsitektur tidak hanya menekankan estetika, tetapi juga kesejahteraan, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Setiap sila mengarahkan arsitektur untuk menghormati nilai religius dan lingkungan, menciptakan ruang yang manusiawi dan inklusif, memperkuat identitas nasional melalui kearifan lokal, melibatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan, serta memastikan manfaat pembangunan dirasakan secara merata. Di tengah persaingan global, arsitek Indonesia diharapkan mengutamakan penggunaan sumber daya dan material dalam negeri.
B. Harapan Sosok Pancasilais
Diharapkan lahir pemimpin yang bijak dan berpihak pada rakyat, warganegara yang cerdas serta bertanggung jawab dalam menggunakan IPTEK, serta ilmuwan atau arsitek yang profesional, berintegritas, dan mendukung kemandirian bangsa melalui penguatan produksi nasional.
NPM : 2515012031
Kelas : B
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu dalam Disiplin Ilmu dan Pengembangannya di Era Global
Pancasila sebagai paradigma ilmu berarti Pancasila dijadikan kerangka berpikir, sumber nilai, dan landasan etika dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Ilmu tidak bersifat bebas nilai, tetapi harus diarahkan untuk kemanusiaan dan kepentingan bangsa.
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Kebijakan ilmu:
Pengembangan IPTEK harus menghormati nilai agama dan moral. Ilmu digunakan untuk kemaslahatan, bukan perusakan (misalnya kejahatan siber, penyalahgunaan AI).
Landasan etika:
Kejujuran ilmiah, tanggung jawab moral, dan kesadaran bahwa ilmu harus dipertanggungjawabkan secara etis dan spiritual.
Proses di era global:
Di tengah persaingan global, ilmuwan Indonesia tetap menjunjung etika, tidak melakukan plagiarisme, manipulasi data, atau penyalahgunaan teknologi.
2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Kebijakan ilmu:
IPTEK harus berpihak pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial. Teknologi dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Landasan etika:
Menghormati hak asasi manusia (HAM). Tidak diskriminatif dalam pemanfaatan teknologi.
Proses di era global:
Ilmu digunakan untuk mengurangi kesenjangan, bukan memperlebar jurang sosial akibat digital divide.
3. Sila Persatuan Indonesia
Kebijakan ilmu:
IPTEK diarahkan untuk memperkuat persatuan dan identitas nasional. Mengembangkan teknologi yang mendukung kepentingan nasional.
Landasan etika:
Menghindari penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi berbasis teknologi.
Proses di era global:
Bangsa Indonesia mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri dan budaya bangsa.
4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Kebijakan ilmu:
Ilmu dan teknologi dikembangkan secara demokratis dan partisipatif. Kebijakan IPTEK melibatkan masyarakat dan berbasis musyawarah.
Landasan etika:
Keterbukaan informasi dan tanggung jawab publik. Ilmuwan tidak elitis dan mau mendengar aspirasi rakyat.
Proses di era global:
Pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan partisipasi publik dan kualitas demokrasi.
5. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Kebijakan ilmu:
IPTEK harus meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat, bukan hanya kelompok tertentu. Mendukung ekonomi kerakyatan dan kemandirian nasional.
Landasan etika:
Keadilan dalam distribusi manfaat IPTEK. Keberpihakan pada kepentingan nasional dan rakyat kecil.
Proses di era global:
Menghadapi persaingan global dengan memperkuat inovasi dalam negeri dan produksi nasional.
B. Harapan tentang Model Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan yang Pancasilais
1. Model Pemimpin Pancasilais
Pemimpin yang diharapkan adalah:
Beriman dan bermoral (Sila 1)
Menjunjung kemanusiaan dan keadilan (Sila 2)
Menyatukan bangsa di tengah keberagaman (Sila 3)
Demokratis dan bijaksana (Sila 4)
Berpihak pada kesejahteraan rakyat (Sila 5)
Di masa depan, pemimpin harus melek teknologi, tetapi tetap beretika dan berpihak pada kepentingan nasional.
2. Model Warganegara Pancasilais
Warganegara yang diharapkan:
Bijak dalam menggunakan IPTEK.
Tidak mudah terprovokasi informasi digital.
Menghormati hukum, norma sosial, dan nilai budaya.
Aktif berpartisipasi dalam pembangunan bangsa.
3. Model Ilmuwan Pancasilais
Ilmuwan Pancasilais adalah:
Mengembangkan ilmu untuk kemanusiaan dan kesejahteraan rakyat.
Menjunjung etika keilmuan dan kejujuran akademik.
Tidak sekadar mengejar kemajuan global, tetapi juga kepentingan nasional.
Mampu memfilter pengaruh global agar sesuai dengan nilai Pancasila.
NPM: 2515012073
Kelas: B
Analisis Soal-2
A. Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu, yaitu dasar dan pedoman dalam pengembangan serta penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak menyimpang dari nilai moral, kemanusiaan, dan tujuan bangsa.
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan etika agar IPTEK dikembangkan secara bertanggung jawab dan tidak disalahgunakan.
2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menekankan bahwa ilmu harus bermanfaat bagi manusia dan tidak menimbulkan ketidakadilan sosial.
3. Sila Persatuan Indonesia mengarahkan IPTEK untuk memperkuat persatuan dan menjaga identitas nasional di tengah globalisasi.
4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan menjadikan ilmu sebagai dasar pengambilan kebijakan yang demokratis dan berpihak pada rakyat.
5. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menegaskan bahwa pengembangan IPTEK harus meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial.
Di tengah persaingan global, Pancasila berfungsi sebagai filter agar kemajuan IPTEK tetap sejalan dengan nilai-nilai bangsa dan UUD 1945.
B. Pemimpin yang Pancasilais diharapkan bersikap jujur, adil, transparan, dan mampu mengelola kemajuan IPTEK demi kepentingan rakyat. Warga negara diharapkan bijak dalam menggunakan teknologi serta tetap menjunjung nilai sosial, budaya, dan agama. Sementara itu, ilmuwan diharapkan mengembangkan IPTEK yang bermanfaat bagi bangsa, berorientasi pada kesejahteraan umum, dan tidak merugikan masyarakat. Dengan demikian, kemajuan IPTEK di Indonesia dapat membawa dampak positif secara politik, ekonomi, sosial budaya, dan hukum sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
NPM: 2515012014
Kelas: A
ANALISIS SOAL
1. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu yang saya pelajari (Teknik Arsitektur)
Dalam disiplin ilmu Teknik Arsitektur, Pancasila memiliki peran penting sebagai paradigma ilmu, karena arsitektur tidak hanya berkaitan dengan bangunan secara fisik, tetapi juga menyangkut manusia, lingkungan, dan nilai kehidupan di dalamnya. Setiap sila Pancasila dapat menjadi landasan etika dan arah kebijakan dalam pengembangan ilmu arsitektur.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa tercermin dalam sikap tanggung jawab dan kesadaran moral dalam merancang bangunan. Seorang arsitek tidak hanya mengejar estetika atau keuntungan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan nilai kemanusiaan dan tidak merugikan lingkungan maupun masyarakat. Proses perancangan dilakukan dengan etika, kejujuran, dan tanggung jawab profesi.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menjadi dasar dalam menciptakan desain yang ramah bagi semua kalangan. Dalam arsitektur, hal ini diwujudkan melalui perencanaan ruang yang inklusif, aman, dan memperhatikan kebutuhan manusia, termasuk kelompok rentan. Ilmu arsitektur tidak boleh bersifat eksklusif, tetapi harus berpihak pada kesejahteraan manusia.
Sila Persatuan Indonesia tercermin dalam pengembangan arsitektur yang menghargai identitas lokal, budaya, dan kearifan daerah. Di tengah persaingan global, arsitektur Indonesia perlu tetap memiliki karakter sendiri dengan memanfaatkan material lokal, konsep tropis, dan nilai budaya Nusantara, sehingga tidak kehilangan jati diri bangsa.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan menekankan pentingnya partisipasi dan musyawarah dalam proses perencanaan. Dalam praktik arsitektur, perancangan bangunan dan kawasan idealnya melibatkan masyarakat agar hasilnya sesuai dengan kebutuhan nyata, bukan hanya berdasarkan kepentingan pasar atau pemilik modal.
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menjadi tujuan akhir dari pengembangan ilmu arsitektur. Ilmu ini diharapkan mampu berkontribusi dalam penyediaan hunian layak, ruang publik yang adil, serta pembangunan yang berkelanjutan. Dalam persaingan global, arsitektur Indonesia harus berkembang secara inovatif, namun tetap berorientasi pada keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.
2. Harapan terhadap model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais
Harapan saya terhadap pemimpin yang Pancasilais adalah sosok yang mampu menggunakan kemajuan IPTEK secara bijak dan bertanggung jawab. Pemimpin tidak hanya cakap secara teknologi dan administrasi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, menjunjung kejujuran, serta mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Warga negara yang Pancasilais diharapkan mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas dan kritis. Di era digital, warga negara tidak hanya dituntut melek teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran etis dalam menggunakan media sosial, menyaring informasi, serta menjaga persatuan dan toleransi di tengah perbedaan.
Sementara itu, ilmuwan yang Pancasilais diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan kemanusiaan dan kesejahteraan bersama. Ilmuwan tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknis dan pengakuan global, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial, budaya, dan lingkungan dari ilmu yang dikembangkan.
Ke depan, dengan adanya pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang berlandaskan Pancasila, Indonesia diharapkan mampu menghadapi persaingan global tanpa kehilangan nilai, jati diri, dan tujuan utama pembangunan bangsa, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
NPM: 2515012012
a. Peran Pancasila dalam pengembangan ilmu Arsitektur
Pancasila berperan sebagai pedoman nilai dan etika dalam pengembangan ilmu arsitektur. Dalam proses perancangan dan pembangunan, arsitektur tidak hanya berfokus pada bentuk dan teknologi, tetapi juga harus memperhatikan nilai kemanusiaan dan lingkungan. Nilai Ketuhanan mengajarkan tanggung jawab moral dalam menjaga alam sebagai ciptaan Tuhan. Nilai Kemanusiaan mendorong arsitektur untuk menciptakan ruang yang aman, nyaman, dan layak bagi manusia. Nilai Persatuan menekankan pentingnya menghargai budaya lokal dan identitas bangsa. Nilai Kerakyatan mengajarkan pentingnya melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan, sedangkan nilai Keadilan Sosial mengarahkan arsitektur agar hasil pembangunan dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama di tengah persaingan global.
b. Harapan terhadap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan Pancasilais
Pemimpin yang berlandaskan nilai Pancasila diharapkan mampu bersikap adil, bijaksana, dan mengutamakan kepentingan masyarakat dalam setiap kebijakan pembangunan. Warga negara diharapkan dapat menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dan menjaga persatuan. Sementara itu, ilmuwan dan profesional, termasuk arsitek, diharapkan mampu mengembangkan ilmu dan teknologi dengan menjunjung nilai kemanusiaan, keadilan sosial, serta berorientasi pada kesejahteraan dan keberlanjutan bangsa Indonesia.
NPM : 2515012022
Kelas : B
Tugas Analisis Soal-2 :
Jawab :
A. Pancasila sebagai paradigma ilmu menjadi landasan filosofis dan etis yang mengarahkan pengembangan ilmu pengetahuan untuk menjunjung tinggi moralitas, kemanusiaan, persatuan, inklusivitas, dan keadilan sosial. Nilai-nilai dalam Pancasila memastikan bahwa ilmu tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi semata, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat, keadilan, dan harmoni sosial. Dalam persaingan global, Pancasila berperan sebagai pedoman agar inovasi yang dihasilkan tetap berakar pada nilai-nilai kebangsaan, relevan secara lokal, serta memberikan kontribusi positif bagi dunia secara etis dan berkelanjutan. Sebagai contoh, dalam pengembangan teknologi energi terbarukan, Pancasila dapat menjadi pedoman agar inovasi tersebut tidak hanya mengejar efisiensi teknologi, tetapi juga memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.
B. Harapan bagi pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang Pancasilais adalah terciptanya individu berintegritas, toleran, dan berkomitmen pada nilai-nilai Pancasila, yang mampu memajukan bangsa dengan menjaga keadilan, persatuan, dan keberlanjutan di tengah tantangan global.
NPM:2555012001
Kelas:B
Pancasila menjadi landasan etika dan moral dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Sila pertama mengajarkan integritas dan tanggung jawab, sila kedua menekankan manfaat bagi manusia, sila ketiga mendorong persatuan dalam riset dan aplikasi IPTEK, sila keempat menekankan musyawarah dan partisipasi, dan sila kelima menekankan keadilan sosial dan pemerataan manfaat teknologi. Pemimpin, warganegara, dan ilmuwan Pancasilais diharapkan bijak menggunakan dan mengembangkan IPTEK, menolak hoaks, mengutamakan kesejahteraan rakyat, serta memperkuat kemandirian dan kemajuan bangsa, sehingga Indonesia mampu bersaing secara global tanpa kehilangan nilai-nilai dasar.
NPM: 2515012004
KELAS: B
TUGAS PERTEMUAN 15 (ANALISIS SOAL-2)
A. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu arsitektur
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu yang menjadi landasan etika sekaligus arah pengembangan ilmu Arsitektur. Nilai-nilai Pancasila membimbing arsitek agar tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi dan estetika, tetapi juga pada tanggung jawab moral dan sosial.
1. Sila pertama: menuntun arsitek untuk bekerja secara jujur, profesional, dan bertanggung jawab dalam setiap proses perancangan.
2. Sila kedua: tercermin dalam desain bangunan yang mengutamakan keselamatan, kenyamanan, serta aksesibilitas bagi seluruh pengguna.
3. Sila ketiga: mendorong arsitektur yang menghargai budaya lokal, karakter lingkungan, dan identitas bangsa di tengah arus globalisasi.
4. Sila keempat: mengarahkan proses perancangan agar mempertimbangkan aspirasi masyarakat dan kebutuhan publik, sehingga tidak bersifat terbatas.
5. Sila kelima: menjadi dasar dalam menciptakan ruang dan lingkungan binaan yang berkelanjutan serta dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
B. Harapan mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang
Saya berharap pemimpin Indonesia memiliki sikap adil, bijaksana, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Warga negara diharapkan mampu bersikap kritis, toleran, dan bertanggung jawab dalam menggunakan kemajuan IPTEK. Sementara itu, ilmuwan dan akademisi, termasuk di bidang arsitektur, diharapkan tidak hanya mengejar inovasi, tetapi juga menjunjung etika, nilai kemanusiaan, dan keberlanjutan. Dengan demikian, kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia dapat berjalan seimbang antara perkembangan teknologi dan nilai-nilai Pancasila.
NPM: 2515012011
KELAS: B
ANALISIS SOAL 2
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Jawaban: Pancasila berfungsi sebagai landasan etika dan kebijakan agar kemajuan IPTEK tetap bermanfaat bagi kesejahteraan umum dan sesuai dengan jati diri bangsa. Setiap sila dalam Pancasila memiliki peran sebagai landasan etika pengembangan ilmu, yakni:
> Sila Ketuhanan Yang Maha Esa: Pengembangan ilmu harus menjadi bentuk syukur atas anugerah akal dan tidak boleh melanggar norma agama, seperti mencegah penyalahgunaan teknologi untuk tindakan kriminal seperti hacking.
> Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: IPTEK harus ditujukan untuk meningkatkan kemudahan, kenyamanan, dan martabat manusia, bukan memicu sifat hedonisme atau individualisme yang merugikan orang lain.
> Sila Persatuan Indonesia: Kemajuan ilmu harus memperkuat pertahanan, keamanan, dan stabilitas nasional, bukan memicu tindakan anarkis yang memecah belah bangsa.
> Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: IPTEK harus mendukung keterbukaan informasi dan demokrasi yang sehat sebagai alat kontrol pemerintahan yang bersih dan jujur.
> Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Ilmu harus berorientasi pada penguatan ekonomi domestik, kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan seluruh rakyat, bukan menciptakan kesenjangan sosial.
Di tengah persaingan global, proses pengembangan ilmu dilakukan dengan tetap mengutamakan produksi dalam negeri dan bahan baku lokal agar tidak terlalu bergantung pada pihak asing.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Jawaban: Harapan saya mengenai model pemimpin, warganegara, dan ilmuwan Indonesia di masa mendatang ialah terwujudnya pemimpin yang mampu menjalankan pemerintahan secara bersih, jujur, adil, transparan, profesional, serta bertanggung jawab dalam menerima aspirasi masyarakat. Sejalan dengan itu, warga negara diharapkan menjadi pribadi yang cerdas dan memiliki wawasan luas berkat kemajuan IPTEK, namun tetap memiliki kontrol diri agar tidak terjebak dalam gaya hidup konsumtif, hedonisme, maupun tindakan anarkis yang dapat mengganggu persatuan bangsa. Sosok ilmuwan diharapkan dapat mengembangkan IPTEK dengan landasan etika yang kuat sesuai sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan UUD 1945, sehingga inovasi yang dihasilkan benar-benar ditujukan untuk memajukan kesejahteraan umum dan tidak menyalahgunakan keahliannya untuk melanggar norma agama atau hukum.
NPM: 2515012076
KELAS: B
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Pancasila memiliki peran yang sangat penting sebagai paradigma ilmu dalam pengembangan disiplin arsitektur di Indonesia. Sebagai paradigma, Pancasila tidak hanya menjadi dasar normatif, tetapi juga menjadi arah nilai, etika, dan kebijakan dalam pengembangan ilmu arsitektur, khususnya di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Pada Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, pengembangan ilmu arsitektur harus dilandasi oleh kesadaran moral dan spiritual. Dalam praktiknya, arsitektur tidak hanya mengejar keindahan bentuk dan fungsi, tetapi juga memperhatikan nilai etika, kejujuran, serta tanggung jawab terhadap Tuhan dan sesama. Hal ini tercermin dalam perancangan bangunan yang tidak merusak lingkungan, tidak merugikan masyarakat, serta menghormati nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal.
Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menjadi landasan etika bahwa arsitektur harus berorientasi pada manusia. Setiap karya arsitektur seharusnya memperhatikan aspek kenyamanan, keselamatan, aksesibilitas, dan keadilan sosial. Dalam konteks ini, arsitektur tidak hanya berpihak pada kelompok tertentu, tetapi juga memberi ruang bagi masyarakat luas, termasuk kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Pada Sila Ketiga, Persatuan Indonesia, arsitektur berperan dalam memperkuat identitas nasional. Di tengah arus globalisasi, arsitektur Indonesia dituntut untuk mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri bangsa. Penggunaan unsur lokal, material daerah, serta kearifan lokal dalam desain menjadi proses nyata penerapan sila ini agar arsitektur Indonesia tetap memiliki karakter dan tidak tergerus budaya asing.
Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, tercermin dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan arsitektur yang melibatkan masyarakat. Dalam praktik profesional, arsitek tidak bekerja secara otoriter, melainkan melalui dialog, musyawarah, dan partisipasi publik, sehingga hasil rancangan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi pengguna.
Sementara itu, Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan bahwa ilmu arsitektur harus berkontribusi pada pemerataan pembangunan. Arsitektur tidak hanya berfokus pada bangunan megah di perkotaan, tetapi juga hadir sebagai solusi bagi permasalahan perumahan rakyat, kawasan kumuh, dan pembangunan berkelanjutan yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat.
Di tengah persaingan global, proses pengembangan ilmu arsitektur yang berlandaskan Pancasila dilakukan dengan cara menyerap kemajuan IPTEK secara selektif. Artinya, teknologi dan konsep global diadaptasi sesuai nilai Pancasila agar tidak menghilangkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan identitas bangsa.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Ke depan, Indonesia membutuhkan model pemimpin Pancasilais yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral. Pemimpin yang Pancasilais adalah pemimpin yang adil, terbuka terhadap kritik, mengutamakan kepentingan rakyat, serta mampu memanfaatkan kemajuan IPTEK untuk kesejahteraan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan.
Sebagai warganegara, sikap Pancasilais tercermin dalam kemampuan menggunakan teknologi secara bijak, menghormati perbedaan, serta tetap menjunjung nilai gotong royong di tengah budaya individualisme yang berkembang akibat kemajuan IPTEK. Warganegara yang Pancasilais tidak mudah terprovokasi, memiliki kesadaran hukum, dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa.
Sementara itu, ilmuwan Pancasilais, termasuk di bidang arsitektur, diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kemanusiaan dan keadilan sosial. Ilmuwan tidak hanya mengejar prestasi akademik dan pengakuan global, tetapi juga bertanggung jawab terhadap dampak sosial, budaya, dan lingkungan dari ilmu yang dikembangkannya.
Dengan demikian, Pancasila tetap relevan sebagai pedoman dalam membentuk pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
NAMA: MUHAMMAD NURUL YAQIN
NPM: 2515012054
KELAS: B
ANALISIS SOAL 2
1. Pancasila: "Kompas" dalam Belajar dan Berkarya
Di bangku kuliah, kita nggak cuma belajar teori biar pintar, tapi juga belajar cara menggunakannya dengan benar. Di sinilah Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu—semacam sistem navigasi agar ilmu yang kita pelajari nggak "liar" dan tetap punya jiwa. Kalau kita bedah berdasarkan sila-silanya, begini penerapannya dalam disiplin ilmu kita:
Secara Moral (Sila 1 & 2): Ilmu yang kita pelajari harus punya tanggung jawab kepada Tuhan dan manusia. Artinya, inovasi apa pun yang kita buat nantinya nggak boleh merusak alam atau merendahkan martabat orang lain. Kita belajar untuk jadi ahli yang punya hati nurani.
Secara Nasional (Sila 3): Ilmu harus jadi pemersatu. Riset atau tugas-tugas kita idealnya diarahkan untuk mencari solusi masalah di Indonesia, bukan cuma sekadar ikut-ikutan tren luar negeri.
Secara Sosial (Sila 4 & 5): Ilmu itu harus demokratis dan adil. Hasilnya harus bisa dinikmati orang banyak, bukan cuma buat kelompok tertentu. Kita dididik untuk menjadi ilmuwan atau praktisi yang terbuka terhadap kritik dan mau berbagi manfaat.
Gimana di tengah persaingan global?
Sekarang dunia serba cepat dan kompetitif. Prosesnya memang menantang, tapi kuncinya adalah filterisasi. Kita boleh serap teknologi atau teori paling canggih dari luar (globalisasi), tapi cara pakainya tetap pakai standar etika Indonesia. Kita bersaing bukan cuma lewat kecanggihan, tapi lewat integritas.
2. Harapan untuk Masa Depan: Pemimpin, Warga, dan Ilmuwan "Idaman"
Melihat tantangan IPTEK yang punya dampak negatif seperti hoaks dan hedonisme, harapan saya untuk Indonesia ke depan adalah:
Pemimpin yang "Membumi": Kita butuh sosok yang nggak cuma pinter main politik, tapi beneran paham kebutuhan rakyat. Pemimpin yang transparan, jujur, dan berani pakai teknologi untuk mempermudah hidup rakyat, bukan buat alat pencitraan atau korupsi.
Warga Negara yang "Smart": Harapannya, kita jadi masyarakat yang cerdas digital. Bisa membedakan mana hoaks, mana fakta, dan tetap punya sopan santun (etika) di media sosial. Warga yang bangga pakai produk lokal dan nggak gampang kena pengaruh gaya hidup konsumtif yang berlebihan.
Ilmuwan yang "Berintegritas": Saya memimpikan para ahli kita punya rasa cinta tanah air yang tinggi. Boleh sekolah tinggi-tinggi di luar negeri, tapi ilmunya dibawa pulang buat bangun desa atau industri lokal. Ilmuwan yang nggak cuma ngejar royalti, tapi tulus pengen mencerdaskan bangsa.
Kesimpulannya, kemajuan teknologi itu nggak bisa kita stop, tapi kita bisa kendalikan lewat karakter yang kuat. Kalau pemimpin, warga, dan ilmuwannya sudah seirama dalam nilai Pancasila, Indonesia bukan lagi cuma jadi pasar buat negara lain, tapi bakal jadi pemain utama yang beradab di dunia internasional.
NPM: 2515012009
1. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu dalam Disiplin Arsitektur
Pancasila sebagai paradigma ilmu berarti bahwa setiap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berlandaskan pada nilai-nilai luhur yang terkandung dalam lima sila. Dalam konteks disiplin arsitektur, Pancasila dapat dijabarkan sebagai berikut:
Sila 1: Ketuhanan Yang Maha Esa
Pengembangan ilmu arsitektur harus mempertimbangkan nilai spiritualitas dan etika. Dalam praktiknya, ini berarti merancang bangunan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga menghormati nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal. Misalnya, memperhatikan orientasi ruang ibadah, tata letak yang mendukung kegiatan spiritual, dan penggunaan material yang tidak bertentangan dengan nilai agama.
Sila 2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Arsitektur harus menjunjung tinggi martabat manusia. Ini tercermin dalam desain yang inklusif, ramah difabel, memperhatikan kenyamanan pengguna, serta tidak menimbulkan segregasi sosial. Etika profesional arsitek juga harus menjunjung kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab sosial.
Sila 3: Persatuan Indonesia
Dalam konteks ini, arsitektur berperan sebagai alat pemersatu identitas bangsa. Desain bangunan yang mengangkat nilai-nilai lokal, budaya nusantara, dan simbol-simbol kebangsaan akan memperkuat rasa persatuan. Arsitektur juga dapat menjadi media diplomasi budaya di tengah arus globalisasi.
Sila 4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Pengembangan proyek arsitektur harus melibatkan partisipasi masyarakat. Proses perencanaan dan pembangunan sebaiknya dilakukan secara demokratis, dengan mendengarkan aspirasi warga, mempertimbangkan kebutuhan lokal, dan menghindari pendekatan top-down yang otoriter.
Sila 5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Arsitektur harus berkontribusi pada pemerataan pembangunan. Ini mencakup penyediaan hunian layak, ruang publik yang adil, serta infrastruktur yang dapat diakses oleh semua kalangan. Prinsip keberlanjutan dan efisiensi juga menjadi bagian dari keadilan antargenerasi.
Proses di Tengah Persaingan Global
Dalam era globalisasi, arsitektur Indonesia menghadapi tantangan besar: dominasi desain asing, ketergantungan pada teknologi luar, dan tekanan pasar. Oleh karena itu, paradigma Pancasila menjadi filter nilai agar arsitektur Indonesia tidak kehilangan jati diri. Proses ini dapat dilakukan melalui:
- Integrasi nilai Pancasila dalam kurikulum pendidikan arsitektur.
- Riset dan inovasi berbasis lokalitas.
- Kolaborasi antardisiplin untuk menciptakan solusi desain yang kontekstual dan beretika.
- Penguatan regulasi yang mendukung arsitektur berkelanjutan dan berkeadilan.
2. Harapan terhadap Model Pemimpin, Warga Negara, dan Ilmuwan yang Pancasilais
Pemimpin yang Pancasilais
- Memiliki integritas, kejujuran, dan keberpihakan pada kepentingan rakyat.
- Mampu menjadi teladan dalam penggunaan teknologi secara etis dan bertanggung jawab.
- Mendorong kebijakan yang berpihak pada keadilan sosial, keberlanjutan, dan kemandirian bangsa.
- Mengedepankan musyawarah dan keterbukaan dalam pengambilan keputusan.
Warga Negara yang Pancasilais
- Kritis terhadap informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh hoaks atau ujaran kebencian.
- Menjaga kerukunan, menghargai perbedaan, dan aktif dalam kehidupan sosial.
- Menggunakan teknologi untuk hal-hal produktif dan membangun.
- Menjunjung tinggi hukum, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ilmuwan yang Pancasilais
- Mengembangkan ilmu pengetahuan yang berakar pada nilai-nilai bangsa dan budaya lokal.
- Menempatkan kemajuan IPTEK sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan dan martabat manusia.
- Menjaga etika penelitian dan tidak mengorbankan nilai kemanusiaan demi ambisi ilmiah.
- Terlibat aktif dalam menyuarakan kebenaran dan menjadi agen perubahan yang berlandaskan moral.
Dengan menjadikan Pancasila sebagai paradigma ilmu dan etika, Indonesia dapat membangun peradaban yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebangsaan. Ini adalah fondasi penting agar bangsa Indonesia tidak hanya menjadi konsumen IPTEK, tetapi juga produsen nilai dan inovasi yang bermartabat di tengah persaingan global.
NPM : 2515012060
1. Pancasila sebagai Paradigma Ilmu di Era Globalisasi
Pancasila berfungsi sebagai sumber informasi, landasan etika, dan kontrol bagi kemajuan Iptek agar tetap sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Rincian Sila sebagai Kebijakan dan Etika Ilmu:
Sila 1 (Ketuhanan): Iptek harus dikembangkan dengan menghormati norma agama dan mencegah tindakan amoral seperti pencurian data atau hacking.
Sila 2 (Kemanusiaan): Iptek wajib memberikan kemudahan dan kenyamanan hidup serta meminimalisir dampak negatif seperti sifat individualisme dan hedonisme.
Sila 3 (Persatuan): Kemajuan teknologi harus memperkuat pertahanan, keamanan, dan stabilitas nasional, bukan memicu perpecahan atau tindakan anarkis.
Sila 4 (Kerakyatan): Iptek digunakan untuk mendukung keterbukaan informasi, demokrasi, dan kontrol sosial terhadap pemerintah agar tetap bersih dan jujur.
Sila 5 (Keadilan): Kebijakan ilmu harus berorientasi pada kemakmuran rakyat, penguatan produksi domestik, dan pengurangan kesenjangan sosial akibat persaingan bebas.
2. Model Figur Pancasilais di Masa Depan
Berdasarkan tantangan kemajuan Iptek, berikut adalah profil figur yang diharapkan:
Pemimpin: Sosok yang transparan, profesional, dan akuntabel. Mampu menjadi regulator ekonomi yang kuat agar negara tidak sepenuhnya dikuasai pihak asing.
Warganegara: Masyarakat yang cerdas dan melek teknologi namun tetap memiliki filter terhadap budaya luar agar nilai sosial-keagamaan tidak luntur.
Ilmuwan: Inovator yang berorientasi pada kesejahteraan umum dan kecerdasan bangsa, serta memastikan setiap hasil karyanya memihak kepentingan rakyat banyak.
NPM : 2555012002
Kelas : B
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Menurut saya, Pancasila itu seperti pegangan agar ilmu yang kita pelajari tidak kebablasan. Di zaman sekarang, ilmu dan teknologi berkembang cepat sekali, tapi jika tidak sertai nilai, bisa salah arah.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengingatkan bahwa ilmu harus dipakai dengan hati dan tanggung jawab. Kita tidak boleh merasa paling pintar lalu menggunakan ilmu seenaknya, apalagi sampai merugikan orang lain.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab membuat kita sadar bahwa tujuan ilmu itu untuk membantu manusia. Ilmu seharusnya mempermudah hidup, bukan membuat orang tertindas atau tertinggal.
Sila Persatuan Indonesia mengajarkan bahwa ilmu yang kita pelajari sebaiknya ikut membangun bangsa. Boleh belajar dari luar negeri, tapi jangan sampai lupa kepentingan dan jati diri Indonesia.
Sila Kerakyatan mengajarkan kita untuk terbuka, mau berdiskusi, dan menerima kritik. Ilmu berkembang bukan karena merasa paling benar, tapi karena mau belajar bersama.
Sila Keadilan Sosial menegaskan bahwa hasil ilmu dan teknologi harus bisa dinikmati banyak orang, bukan hanya segelintir pihak saja.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Saya berharap pemimpin Indonesia ke depan adalah orang yang jujur, sederhana, dan benar-benar peduli pada rakyat, bukan hanya pandai bicara. Pemimpin yang memberi contoh baik, terutama dalam sikap dan etika. Untuk warga negara, harapannya bisa lebih bijak, terutama saat menggunakan media sosial dan teknologi. Tidak mudah terpancing emosi, mau menghargai perbedaan, dan tetap menjaga persatuan. Sedangkan ilmuwan, harapan saya mereka mengembangkan ilmu bukan hanya untuk karier atau uang, tapi untuk kepentingan masyarakat. Ilmuwan Pancasilais itu yang ilmunya dipakai untuk kebaikan bersama dan masa depan Indonesia.
Nama : Adeline Trianita Maulana
NPM : 2515012029
Kelas : A
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu karena menjadi dasar nilai dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Setiap sila Pancasila dapat dijadikan pedoman agar ilmu yang dikembangkan tidak menyimpang dari nilai bangsa. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa ilmu harus dikembangkan dengan tanggung jawab moral dan tidak merugikan manusia. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menekankan bahwa ilmu harus digunakan untuk kesejahteraan manusia dan menghargai hak asasi manusia.
Sila Persatuan Indonesia mendorong agar pengembangan ilmu tetap menjaga persatuan dan identitas bangsa di tengah persaingan global. Sila Kerakyatan mengajarkan bahwa ilmu harus melibatkan kepentingan bersama dan tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu. Sila Keadilan Sosial menuntut agar hasil ilmu pengetahuan bisa dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat. Dalam persaingan global saat ini, Pancasila berfungsi sebagai landasan etika agar kemajuan ilmu tetap seimbang antara kemajuan teknologi dan nilai kemanusiaan.
B. Harapan terhadap Pemimpin, Warga Negara, dan Ilmuwan yang Pancasilais
Saya berharap pemimpin Indonesia sekarang dan di masa depan adalah pemimpin yang berpegang pada nilai Pancasila, seperti jujur, adil, dan bertanggung jawab. Pemimpin harus mampu memanfaatkan kemajuan IPTEK untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan.
Selain itu, warga negara diharapkan menjadi pribadi yang bijak dalam menggunakan teknologi, tidak mudah terpengaruh hal negatif, serta tetap menjaga nilai moral dan persatuan. Ilmuwan juga diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat luas dan tidak bertentangan dengan nilai Pancasila. Dengan demikian, kemajuan IPTEK di Indonesia dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai kebangsaan.
NPM : 2515012066
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu
Menurut saya, Pancasila berperan sebagai pedoman agar ilmu yang dipelajari tidak berkembang tanpa arah. Di era global saat ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat. Jika tidak dibarengi dengan nilai-nilai Pancasila, ilmu dapat disalahgunakan dan menimbulkan dampak negatif.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menanamkan kesadaran bahwa ilmu harus dijalankan dengan tanggung jawab moral dan etika. Ilmu tidak boleh digunakan secara sewenang-wenang atau dengan sikap merasa paling benar, terlebih jika sampai merugikan orang lain.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan bahwa ilmu pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Ilmu seharusnya membantu dan memberdayakan, bukan menciptakan ketimpangan atau penindasan.
Sila Persatuan Indonesia mengingatkan bahwa pengembangan ilmu perlu diarahkan untuk kepentingan bangsa. Meskipun terbuka terhadap ilmu dan teknologi global, identitas serta kepentingan nasional tetap harus dijaga.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan mendorong sikap terbuka dalam dunia keilmuan, seperti berdiskusi, bertukar gagasan, dan menerima kritik. Ilmu berkembang melalui dialog dan kerja sama, bukan melalui sikap merasa paling unggul.
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menekankan bahwa manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi harus dirasakan secara luas oleh masyarakat, bukan hanya oleh kelompok tertentu.
B. Harapan terhadap Pemimpin, Warga Negara, dan Ilmuwan Pancasilais
Saya berharap pemimpin Indonesia di masa kini dan mendatang adalah sosok yang berintegritas, rendah hati, dan sungguh-sungguh mengutamakan kepentingan rakyat. Pemimpin tidak hanya cakap berbicara, tetapi mampu memberi teladan melalui sikap dan perilaku yang etis.
Sebagai warga negara, diharapkan masyarakat semakin bijak dalam memanfaatkan teknologi dan media sosial, tidak mudah terprovokasi, mampu menghargai perbedaan, serta tetap menjaga persatuan bangsa.
Sementara itu, ilmuwan diharapkan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan orientasi pada kemaslahatan masyarakat, bukan semata-mata demi keuntungan pribadi atau prestise. Ilmuwan yang Pancasilais adalah mereka yang menggunakan ilmunya untuk kebaikan bersama dan kemajuan Indonesia di masa depan.
NPM : 2515012018
KELAS : B
Hasil Analisis Soal :
A. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu.
Pancasila berperan sebagai paradigma ilmu, artinya menjadi dasar nilai, arah, dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan di setiap disiplin ilmu.
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan moral agar ilmu dikembangkan dengan kejujuran, tanggung jawab, dan tidak merugikan manusia.
2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan bahwa ilmu harus menghormati martabat manusia dan digunakan untuk kesejahteraan bersama.
3. Sila Persatuan Indonesia mengarahkan ilmu agar memperkuat persatuan bangsa dan kepentingan nasional, bukan memecah belah.
4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan menuntut pengembangan ilmu yang demokratis, terbuka terhadap kritik, dan berbasis musyawarah.
5. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia mengarahkan ilmu agar hasilnya dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat.
B. Harapan terhadap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan Pancasilais.
Pemimpin diharapkan adil, berintegritas, dan bijak memanfaatkan IPTEK. Warga negara diharapkan cerdas dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Ilmuwan diharapkan mengembangkan ilmu secara jujur dan berorientasi pada kesejahteraan serta keadilan sosial.
NPM: 2515012070
KELAS: A
A. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu
Pancasila berperan sebagai pedoman nilai dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan di setiap disiplin ilmu. Setiap sila memberi arah agar ilmu tidak hanya mengejar kemajuan, tetapi juga membawa manfaat bagi manusia. Nilai ketuhanan menuntun agar ilmu digunakan secara bertanggung jawab, nilai kemanusiaan mendorong ilmu untuk menghormati martabat manusia, persatuan mengarahkan ilmu bagi kepentingan bangsa, kerakyatan menekankan keterbukaan dan musyawarah, serta keadilan sosial memastikan hasil ilmu dapat dirasakan secara merata. Di tengah persaingan global, Pancasila menjadi penyeimbang agar perkembangan ilmu tetap beretika dan berkarakter Indonesia.
B. Harapan terhadap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan Pancasilais
Saya berharap pemimpin Indonesia mampu bersikap adil, jujur, dan bijak dalam memanfaatkan ilmu dan teknologi. Warga negara diharapkan cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakan iptek. Sementara itu, ilmuwan diharapkan tidak hanya inovatif, tetapi juga menjunjung nilai kemanusiaan dan berorientasi pada kesejahteraan bangsa, baik saat ini maupun di masa depan.
Nama : Jihan farihah
Npm : 2515012025
Kelas : B
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu di Era Persaingan Global
Pancasila bukan hanya simbol negara, tetapi juga berfungsi sebagai "kompas etika" atau rambu-rambu bagi setiap orang yang mempelajari atau mengembangkan ilmu pengetahuan agar tidak kehilangan arah di tengah persaingan global yang sangat ketat. Berikut adalah rincian peran per sila sebagai landasan etika:
Sila ke-1 (Ketuhanan Yang Maha Esa): Menjadi pengingat bahwa pengembangan ilmu harus disertai tanggung jawab moral kepada Tuhan. Ilmu tidak boleh digunakan untuk merusak alam atau melanggar norma agama, seperti melakukan pencurian data (hacking).
Sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Menjamin bahwa setiap penemuan teknologi harus bertujuan untuk memanusiakan manusia, memberikan kenyamanan, dan meningkatkan taraf hidup, bukan malah menciptakan penindasan.
Sila ke-3 (Persatuan Indonesia): Ilmu pengetahuan harus menjadi alat untuk mempererat persaudaraan bangsa. Di era global, pengembangan teknologi harus menjaga stabilitas nasional dan tidak memicu tindakan anarkis yang memecah belah.
Sila ke-4 (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan...): Menekankan pentingnya demokrasi dan keterbukaan informasi. Ilmuwan harus mampu menerima kritik dan aspirasi masyarakat dalam setiap kebijakan atau inovasi yang dibuat.
Sila ke-5 (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia): Hasil dari pengembangan ilmu (seperti kemajuan ekonomi dan teknologi) harus bisa dirasakan oleh semua orang, bukan hanya segelintir orang kaya, guna memajukan kesejahteraan umum.
Proses di tengah persaingan global: Kita harus memperkuat produksi dalam negeri dan menggunakan bahan baku lokal agar tidak selalu bergantung pada teknologi asing atau badan multilateral.
B. Harapan Mengenai Model Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan yang Pancasilais
Harapannya adalah terciptanya kolaborasi antara tiga elemen bangsa ini yang semuanya berlandaskan nilai-nilai Pancasila:
- Pemimpin yang Pancasilais: Sosok pemimpin yang transparan, jujur, dan adil. Mereka menggunakan teknologi sebagai alat kontrol pemerintahan yang bersih dan selalu mendengarkan aspirasi rakyat (demokratis). Pemimpin masa depan harus berani mengambil kebijakan yang mengutamakan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi atau golongan.
- Warganegara yang Pancasilais: Masyarakat yang memiliki wawasan luas berkat kemajuan IPTEK, namun tetap memegang teguh norma sosial dan agama. Warganegara yang cerdas adalah mereka yang menggunakan teknologi untuk partisipasi politik yang sehat dan tidak menggunakannya untuk hal-hal yang melanggar hukum atau merusak persatuan.
- Ilmuwan yang Pancasilais: Ilmuwan yang tidak hanya mengejar kemajuan teknis, tetapi memiliki integritas moral. Mereka harus mengembangkan IPTEK yang sesuai dengan jati diri bangsa, fokus pada pemecahan masalah nyata di Indonesia (seperti kemandirian ekonomi), dan selalu mempertimbangkan dampak etis dari setiap inovasi yang mereka ciptakan.
Secara keseluruhan, tantangan masa depan menuntut kita semua untuk menjadikan Pancasila sebagai penyaring (filter) agar kemajuan teknologi membawa dampak positif bagi kecerdasan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.
NPM: 2515012003
KELAS: A
TUGAS ANALISIS SOAL
A. Pancasila menjadi dasar arah berpikir dan etika dalam pengembangan ilmu. Setiap sila memberi nilai yang harus dipakai dalam belajar dan praktik ilmu, apalagi di tengah persaingan global saat ini:
Sila 1 Ketuhanan Yang Maha Esa: ilmu harus digunakan dengan tanggung jawab moral, tidak merugikan manusia, dan tetap menghargai nilai agama.
Sila 2 Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: pengembangan ilmu harus memanusiakan manusia, tidak diskriminatif, dan menjunjung etika.
Sila 3 Persatuan Indonesia: ilmu dipakai untuk memperkuat bangsa, bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Sila 4 Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan: dalam penelitian dan kebijakan ilmu, perlu musyawarah, keterbukaan, dan sikap ilmiah yang bijak.
Sila 5 Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: hasil ilmu harus memberi manfaat yang adil bagi masyarakat, misalnya mendorong kesejahteraan dan pengurangan kesenjangan.
Di era global, proses penerapannya adalah dengan tetap mengikuti kemajuan IPTEK, tetapi nilai Pancasila dijadikan filter agar ilmu tidak lepas dari etika dan kepentingan nasional.
B. Saya berharap:
a. Pemimpin Pancasilais: jujur, adil, transparan, pro-rakyat, dan mampu memanfaatkan IPTEK tanpa meninggalkan nilai moral dan persatuan bangsa.
b. Warga negara Pancasilais: kritis, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, tidak mudah terprovokasi, dan ikut berperan membangun bangsa.
c. Ilmuwan Pancasilais: cerdas, beretika, inovatif, tetapi tetap mengutamakan kemanusiaan, kepentingan nasional, dan kemanfaatan bagi masyarakat.
NPM : 25150120821
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Jawaban : Dalam disiplin ilmu yang saya pelajari—yang berfokus pada pengolahan informasi, komunikasi, dan teknologi—Pancasila bukan sekadar simbol, melainkan kerangka berpikir (paradigma) yang mendasari setiap inovasi. Di tengah persaingan global yang sering kali hanya mengejar keuntungan materi, setiap sila dalam Pancasila memberikan landasan etis yang sangat krusial:
-Sila Pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan adalah amanah. Pengembangan teknologi harus memiliki pertanggungjawaban moral kepada Sang Pencipta, sehingga kita tidak akan menciptakan teknologi yang merusak alam atau martabat manusia.
-Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) menuntut agar setiap hasil riset dan inovasi harus memanusiakan manusia, bukan menjadikannya sekadar objek atau komoditas. Etika dalam privasi data dan kecerdasan buatan, misalnya, harus berakar dari rasa hormat terhadap hak asasi manusia.
-Sila Ketiga (Persatuan Indonesia) mengarahkan ilmu pengetahuan untuk mempererat kohesi sosial, bukan menciptakan polarisasi. Teknologi informasi harus menjadi jembatan antarbudaya di Indonesia, bukan alat penyebar hoaks yang memecah belah.
-Sila Keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan) menekankan pentingnya aksesibilitas. Ilmu pengetahuan tidak boleh eksklusif hanya untuk segelintir elite, melainkan harus melibatkan partisipasi publik dalam menentukan arah kebijakan teknologi yang berdampak luas.
-Sila Kelima (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia) menjadi tujuan akhir, di mana IPTEK harus mampu memperkecil kesenjangan sosial-ekonomi melalui digitalisasi yang merata hingga ke pelosok negeri.
Proses pengintegrasian nilai-nilai ini di tengah persaingan global dilakukan dengan memperkuat identitas riset nasional. Kita tidak boleh sekadar mengekor pada tren luar negeri, melainkan harus mampu melakukan filterisasi: mengambil teknologi yang bermanfaat dan memodifikasinya agar sesuai dengan karakter serta kebutuhan lokal Indonesia tanpa mengorbankan integritas etika.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Jawaban :Harapan bagi Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan Masa Depan Melihat tantangan masa depan yang rumit dan kompleks.
Pertama, sosok Pemimpin yang tidak hanya cakap secara teknokrasi, tetapi memiliki integritas moral yang teguh. Saya berharap pemimpin masa depan adalah mereka yang berani mengambil kebijakan berbasis data (berbasis IPTEK) namun tetap rendah hati untuk mendengarkan jeritan rakyat. Pemimpin yang Pancasilais adalah mereka yang menjadikan transparansi digital sebagai alat untuk menciptakan pemerintahan yang jujur dan bersih, bukan sebagai alat pencitraan semu.
Kedua, Warganegara yang cerdas secara digital namun tetap memiliki empati sosial. Harapan saya, masyarakat Indonesia tidak lagi mudah terprovokasi oleh disinformasi, melainkan menjadi "netizen" yang kritis, santun, dan produktif. Warganegara yang Pancasilais adalah mereka yang menggunakan kemajuan teknologi untuk berkolaborasi, berwirausaha, dan melestarikan budaya lokal di panggung dunia, bukan yang terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan individualis.
Ketiga, Ilmuwan yang memiliki nurani. Saya membayangkan ilmuwan Indonesia masa depan adalah para inovator yang bangga dengan sumber daya dalam negerinya. Mereka bukan hanya mengejar publikasi internasional atau paten yang mahal, tetapi fokus pada solusi nyata atas permasalahan bangsa, seperti ketahanan pangan, energi terbarukan, dan kesehatan. Ilmuwan Pancasilais adalah mereka yang mengabdikan kecerdasannya untuk kepentingan kemanusiaan, memastikan bahwa setiap penemuan teknologi tetap berada dalam koridor hukum dan norma agama yang berlaku di Indonesia.
Dengan kesatuan visi ini, kemajuan IPTEK tidak akan menjadi ancaman bagi kedaulatan kita, melainkan menjadi kendaraan yang membawa Indonesia menuju peradaban yang modern namun tetap luhur secara budi pekerti.
2515012086
ANALISIS SOAL
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
JAWABAN
A. Menurut saya, Pancasila berperan penting sebagai pedoman dalam pengembangan ilmu arsitektur agar tidak hanya fokus pada kemajuan teknologi, tetapi juga memperhatikan nilai kemanusiaan dan budaya. Sila Ketuhanan mengajarkan agar perancangan bangunan dilakukan secara bertanggung jawab dan tidak merusak alam. Sila Kemanusiaan mengingatkan bahwa arsitektur harus mengutamakan kenyamanan dan keselamatan manusia. Sila Persatuan mendorong arsitektur tetap menampilkan identitas dan budaya Indonesia. Sila Kerakyatan menekankan pentingnya musyawarah dan kebutuhan masyarakat dalam perencanaan bangunan. Sila Keadilan Sosial mengajarkan bahwa hasil pembangunan harus dapat dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat.
B. Harapan saya sebagai masyarakat indonesia bahwa pemimpin Indonesia harus bersikap jujur, adil, dan mengutamakan kepentingan rakyat. Warga negara diharapkan mampu menggunakan teknologi secara bijak dan tetap menjaga persatuan. Sementara itu, ilmuwan dan akademisi seharusnya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat, beretika, serta sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Analisis Soal
Nama:Prawira
NPM:2515012046
1.Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu dan prosesnya di tengah persaingan global
Pancasila memiliki peran penting sebagai paradigma ilmu dalam setiap disiplin ilmu yang dipelajari. Artinya, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya berorientasi pada kemajuan dan persaingan global, tetapi juga harus berlandaskan nilai-nilai Pancasila agar tetap bermoral, beretika, dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan etika bahwa pengembangan ilmu harus dilandasi tanggung jawab moral kepada Tuhan, sehingga ilmu tidak disalahgunakan untuk hal-hal yang merugikan manusia. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengarahkan agar ilmu yang dikembangkan bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan martabat manusia, serta tidak menimbulkan penindasan atau ketidakadilan. Sila Persatuan Indonesia menekankan bahwa pengembangan ilmu harus memperkuat persatuan bangsa dan memperhatikan kepentingan nasional, bukan hanya kepentingan individu atau kelompok tertentu.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan mengajarkan bahwa kebijakan ilmu dan pengembangannya perlu dilakukan secara demokratis, terbuka terhadap kritik, dan melibatkan kepentingan masyarakat. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia menegaskan bahwa hasil pengembangan ilmu harus dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya oleh kalangan tertentu.
Dalam menghadapi persaingan global, proses pengembangan ilmu yang berlandaskan Pancasila dilakukan dengan tetap mengikuti kemajuan teknologi dunia, namun disaring melalui nilai-nilai budaya dan moral bangsa. Dengan demikian, ilmu yang dikembangkan tidak kehilangan jati diri nasional dan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
2.Harapan terhadap model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais
Pemimpin yang Pancasilais diharapkan memiliki integritas, kejujuran, dan rasa tanggung jawab tinggi dalam menjalankan amanah. Pemimpin harus mampu bersikap adil, mengutamakan kepentingan rakyat, serta menjadikan nilai Pancasila sebagai dasar dalam setiap kebijakan, khususnya dalam menghadapi tantangan global dan kemajuan IPTEK.
Warga negara yang Pancasilais diharapkan memiliki sikap toleran, bertanggung jawab, dan mampu menggunakan teknologi secara bijak. Masyarakat tidak hanya menjadi pengguna IPTEK, tetapi juga memiliki kesadaran moral dalam menyaring informasi dan berpartisipasi aktif dalam menjaga persatuan bangsa.
Sementara itu, ilmuwan yang Pancasilais diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai etika, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Ilmuwan tidak hanya berorientasi pada kemajuan ilmu semata, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial, budaya, dan lingkungan dari hasil penelitiannya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat menjadi sarana untuk memajukan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, baik sekarang maupun di masa mendatang.
NPM : 2515012087
1. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu dalam disiplin ilmu
Pancasila berperan sebagai landasan nilai dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan agar tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi, tetapi juga pada kemanusiaan dan kepentingan bangsa.
-Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar moral agar ilmu dikembangkan secara bertanggung jawab dan tidak melanggar nilai keagamaan.
-Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menuntun ilmu agar bermanfaat bagi manusia serta menjunjung etika dan HAM.
-Sila Persatuan Indonesia mengarahkan pengembangan ilmu untuk memperkuat kemandirian dan kepentingan nasional.
-Sila Kerakyatan menekankan bahwa ilmu harus mendukung demokrasi, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.
-Sila Keadilan Sosial memastikan hasil pengembangan ilmu dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat.
Di tengah persaingan global, Pancasila menjadi filter agar pengembangan IPTEK tetap berdaya saing tanpa meninggalkan jati diri bangsa
2. Harapan terhadap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan Pancasilais
Saya berharap pemimpin Indonesia memiliki integritas, adil, dan mengutamakan kepentingan rakyat. Warga negara diharapkan bersikap kritis, taat hukum, serta bijak dalam memanfaatkan teknologi. Sementara itu, ilmuwan Indonesia diharapkan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan yang inovatif, beretika, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Dengan berlandaskan nilai-nilai Pancasila, pemimpin, warga negara, dan ilmuwan dapat bersama-sama membangun Indonesia yang maju, berdaulat, dan berkeadilan di masa kini maupun masa depan.
NPM: 2515012017
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu bagi Disiplin Ilmu dan Pengembangannya di Tengah Persaingan Global
Pancasila memiliki peran strategis sebagai paradigma ilmu, yaitu kerangka nilai dasar yang menuntun arah pengembangan, pemanfaatan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi agar tidak menyimpang dari tujuan kemanusiaan dan kebangsaan. Dalam konteks disiplin ilmu apa pun yang dipelajari, Pancasila menjadi landasan filosofis, etis, dan normatif.
Peran setiap sila Pancasila sebagai paradigma ilmu dapat dirinci sebagai berikut:
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila ini menegaskan bahwa pengembangan ilmu harus dilandasi oleh nilai moral dan etika ketuhanan. Ilmu tidak boleh dikembangkan secara bebas nilai (value free), melainkan harus mempertimbangkan aspek tanggung jawab kepada Tuhan dan kemanusiaan.
Dalam praktik pengembangan ilmu:
Ilmu digunakan untuk kemaslahatan, bukan untuk merusak atau mengeksploitasi.
Menjunjung kejujuran akademik, menghindari plagiarisme, manipulasi data, dan penyalahgunaan teknologi.
Menyadari bahwa ilmu memiliki batas moral dan spiritual.
2. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Ilmu pengetahuan harus berpihak pada nilai kemanusiaan, keadilan, dan peradaban. Pengembangan IPTEK tidak boleh menindas, merugikan, atau menghilangkan hak-hak manusia.
Implementasinya:
Teknologi dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Menolak penggunaan ilmu untuk kekerasan, diskriminasi, dan dehumanisasi.
Mengedepankan etika profesi dan perlindungan hak asasi manusia.
3. Sila Persatuan Indonesia
Ilmu pengetahuan harus memperkuat persatuan bangsa, bukan memperdalam jurang perbedaan. Di tengah globalisasi, ilmu harus tetap berakar pada kepentingan nasional.
Penerapannya:
Pengembangan ilmu diarahkan untuk kemandirian bangsa.
Mengutamakan riset dan inovasi yang menjawab kebutuhan nasional.
Menyaring pengaruh global agar tidak merusak identitas dan budaya bangsa.
4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Sila ini menekankan bahwa ilmu dan teknologi harus dikembangkan secara demokratis, partisipatif, dan bertanggung jawab.
Dalam kebijakan ilmu:
Keputusan ilmiah mempertimbangkan kepentingan publik, bukan hanya elit atau pasar.
Ilmuwan bersikap terbuka terhadap kritik dan dialog.
Ilmu menjadi sarana pemberdayaan masyarakat.
5. Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ilmu pengetahuan harus memberikan manfaat yang adil dan merata, bukan hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.
Penerapannya:
Akses terhadap pendidikan dan teknologi harus merata.
Inovasi diarahkan untuk mengurangi kesenjangan sosial.
Ilmu berorientasi pada kesejahteraan bersama.
Proses Pengembangan Ilmu di Tengah Persaingan Global
Di era globalisasi, Indonesia tidak dapat menutup diri dari perkembangan IPTEK dunia. Namun, proses pengembangan ilmu harus:
Adaptif, mampu mengikuti perkembangan global.
Selektif, menyaring nilai yang tidak sesuai dengan Pancasila.
Kreatif dan inovatif, tetapi tetap beretika. Dengan demikian, Indonesia dapat bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri bangsa.
B. Harapan terhadap Model Pemimpin, Warganegara, dan Ilmuwan yang Pancasilais
1. Model Pemimpin Pancasilais
Pemimpin Pancasilais adalah pemimpin yang:
Berintegritas, jujur, dan beriman.
Menggunakan IPTEK untuk kesejahteraan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau kelompok.
Mampu mengambil keputusan secara adil dan bijaksana.
Memberikan keteladanan dalam etika bermedia dan penggunaan teknologi.
Pemimpin seperti ini diharapkan mampu menjaga stabilitas nasional sekaligus mendorong kemajuan bangsa.
2. Model Warganegara Pancasilais
Warganegara Pancasilais adalah masyarakat yang:
Melek teknologi namun beretika.
Kritis terhadap informasi dan tidak mudah terprovokasi hoaks.
Menggunakan IPTEK untuk hal produktif dan positif.
Menjaga persatuan, toleransi, dan nilai budaya bangsa.
Warganegara seperti ini menjadi fondasi kuat bagi demokrasi dan pembangunan nasional.
3. Model Ilmuwan Pancasilais
Ilmuwan Pancasilais adalah ilmuwan yang:
Mengembangkan ilmu dengan tanggung jawab moral.
Tidak menjadikan ilmu semata alat komersialisasi.
Berpihak pada kepentingan bangsa dan kemanusiaan.
Menjadikan Pancasila sebagai kompas etika dalam riset dan inovasi.
Harapan ke Depan
Ke depan, Indonesia diharapkan mampu melahirkan generasi pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang:
Unggul secara intelektual.
Kuat secara moral.
Pancasilais dalam sikap dan tindakan.
Dengan demikian, kemajuan IPTEK tidak hanya membawa kemajuan material, tetapi juga memperkuat karakter dan peradaban bangsa Indonesia.
NAMA : CORNELIA ELLEONORA THILA SETIAWAN
NPM : 2515012023
KELAS : A
A. Pancasila berperan penting sebagai filter dan pedoman agar kemajuan IPTEK di Indonesia tetap mengutamakan kesejahteraan rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa: Menjadi landasan agar pengembangan IPTEK tetap menghormati nilai-nilai keagamaan dan tidak melanggar norma agama, seperti mencegah tindakan kriminalitas digital (misalnya hacking) yang merugikan orang lain.
Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Mengarahkan IPTEK untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan manusia tanpa menimbulkan eksploitasi.
Sila Persatuan Indonesia: Menjamin agar kemajuan teknologi tidak memicu tindakan anarkis yang dapat mengganggu persatuan, kesatuan, serta stabilitas nasional.
Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: Menempatkan IPTEK sebagai alat untuk memperkuat demokrasi, keterbukaan, dan sarana aspirasi masyarakat bagi pemerintahan yang bersih.
Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Memastikan IPTEK mendorong kemakmuran rakyat dan memperkuat ekonomi domestik yang berorientasi pada rakyat, bukan hanya menguntungkan pihak asing atau pasar bebas.
Proses di Tengah Persaingan Global: Di tengah persaingan global, proses pengembangan ilmu harus diarahkan untuk memperkuat produksi dalam negeri menggunakan bahan baku lokal. Tujuannya adalah agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada badan multilateral dan mampu menjaga ketahanan ekonomi nasional dari dampak negatif perdagangan bebas.
B. Harapan mengenai sosok Pancasila di masa kini dan mendatang mampu menjalankan pemerintahan yang bersih, jujur, adil, dan transparan. Berperan sebagai regulator yang kuat dalam melindungi ekonomi rakyat, bukan hanya menyerahkan mekanisme pada pasar. Mampu menciptakan regulasi hukum yang bermanfaat dan memihak pada kepentingan rakyat banyak.
Mode warga negara yang Pancasilais memiliki wawasan yang cerdas dan mampu menyaring informasi secara positif melalui IPTEK.
Menghindari sifat hedonisme, konsumtif, dan individualisme yang merusak hubungan sosial.
Memahami kebebasan demokrasi secara bertanggung jawab agar tidak mengganggu stabilitas politik.
Model ilmuwan yang Pancasilais dengan mengembangkan inovasi yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.
Menitikberatkan penelitian pada peningkatan efisiensi aktivitas sehari-hari dan kesejahteraan umum.
Memiliki integritas profesional dan tanggung jawab moral untuk mencegah penyalahgunaan teknologi yang merugikan masyarakat.
NPM: 2515012049
KELAS: A
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Pancasila sebagai Kebijakan dan Etika dalam Arsitektur
* Sila ke-1
Menjadi landasan etika agar pembangunan tidak merusak alam ciptaan Tuhan dan tetap menghargai nilai-nilai keagamaan dalam mendesain ruang. Arsitektur harus mengakomodasi kebutuhan spiritual dan tidak melanggar norma agama.
• Sila ke-2
Kebijakan arsitektur harus memberikan kenyamanan, keamanan, dan kemudahan akses bagi seluruh pengguna, termasuk penyandang disabilitas.
• Sila ke-3
Arsitektur berperan dalam menciptakan ruang publik yang mempererat integrasi sosial dan menghindari desain yang memicu tindakan anarkis atau eksklusivitas yang mengganggu persatuan.
• Sila ke-4
Proses perancangan harus bersifat transparan dan mempertimbangkan aspirasi masyarakat sekitar melalui partisipasi publik, sehingga karya arsitektur memihak kepentingan rakyat banyak.
• Sila ke-5
Pembangunan harus berorientasi pada pemerataan kemakmuran, misalnya dengan mengutamakan material lokal dan desain yang terjangkau bagi masyarakat menengah ke bawah untuk mengurangi kesenjangan sosial.
Proses Arsitektur di Tengah Persaingan Global
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi
• Mampu membedakan inovasi teknologi yang bermanfaat dengan gaya hidup bersifat hedon atau konsumtif yang tidak sesuai dengan budaya lokal.
• Memperkuat produksi lokal dengan menggunakan bahan baku dalam negeri daripada terus bergantung pada material impor.
• Memanfaatkan gadget dan perangkat lunak canggih untuk meningkatkan efisiensi kerja dalam merancang bangunan yang berkelanjutan.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
• Harapan saya terhadap pemimpin di masa kini dan masa depan adalah menjalankan pemerintahan dengan bersih, jujur, dan adil, mau menerima aspirasi dari masyarakat.
• Harapan saya terhadap warganegara di masa kini dan masa depan adalah memanfaatkan internet dan gedget yang ada untuk mencerdaskan diri.
• Harapan saya terhadap ilmuwan di masa kini dan masa depan adalah terus berinovasi untuk memberikan kemudahan hidup bagi masyarakat, mengembangkan ilmu pengetahuan tetapi tetap memegang teguh nilai-nilai keagaman dan norma sosial.
NAMA : M FELIK AKMAL
NPM : 2515012037
KELAS : B
1. Peran Pancasila sebagai paradigma ilmu dalam disiplin ilmu
Menurut saya, Pancasila berperan sebagai landasan nilai dan etika dalam pengembangan ilmu yang saya pelajari. Setiap sila memberi arah agar ilmu tidak hanya mengejar kemajuan, tetapi juga bermoral dan bermanfaat. Nilai Ketuhanan menanamkan tanggung jawab moral, Kemanusiaan menekankan manfaat bagi sesama, Persatuan mendorong ilmu untuk kepentingan bangsa, Kerakyatan mengajarkan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan ilmiah, dan Keadilan Sosial memastikan hasil ilmu dapat dirasakan secara merata. Di tengah persaingan global, Pancasila menjadi pedoman agar pengembangan ilmu tetap beretika dan tidak kehilangan jati diri bangsa.
2. Harapan terhadap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan Pancasilais
Saya berharap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan Indonesia memiliki sikap Pancasilais, yaitu berintegritas, bertanggung jawab, dan mengutamakan kepentingan bersama. Pemimpin diharapkan adil dan bijaksana, warga negara bersikap kritis namun tetap menjaga persatuan, serta ilmuwan mampu mengembangkan ilmu untuk kesejahteraan masyarakat, bukan hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Sikap tersebut penting agar kemajuan IPTEK berjalan seimbang dengan nilai kemanusiaan dan keadilan.
Nama : Nabil Abiyu Sofyano
NPM : 2515012028
Kelas : B
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Hasil Analisis Soal.
A. Peran Pancasila sebagai Paradigma Ilmu dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Pancasila memiliki peran sebagai paradigma ilmu karena menjadi landasan nilai dan etika dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan. Setiap sila dalam Pancasila dapat dijadikan acuan agar ilmu yang dikembangkan tetap selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa pengembangan ilmu harus disertai tanggung jawab moral serta tidak merugikan kehidupan manusia. Sementara itu, Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan bahwa ilmu pengetahuan perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia serta menghormati hak asasi manusia.
Sila Persatuan Indonesia mengarahkan agar pengembangan ilmu pengetahuan tetap memperkuat persatuan dan jati diri bangsa di tengah arus globalisasi. Sila Kerakyatan menekankan bahwa ilmu pengetahuan harus memperhatikan kepentingan bersama, bukan hanya menguntungkan pihak tertentu. Adapun Sila Keadilan Sosial menuntut agar hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Dalam konteks persaingan global, Pancasila berfungsi sebagai pedoman etis agar kemajuan ilmu dan teknologi tetap seimbang dengan nilai-nilai kemanusiaan.
B. Harapan terhadap Pemimpin, Warga Negara, dan Ilmuwan yang Pancasilais
Saya berharap para pemimpin Indonesia, baik saat ini maupun di masa mendatang, mampu menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar dalam bersikap dan bertindak, seperti bersikap jujur, adil, dan bertanggung jawab. Pemimpin diharapkan dapat memanfaatkan perkembangan IPTEK demi kepentingan masyarakat luas, bukan untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok tertentu.
Selain itu, warga negara diharapkan mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas dan bijaksana, tidak mudah terpengaruh oleh dampak negatif, serta tetap menjunjung tinggi nilai moral dan persatuan bangsa. Para ilmuwan juga diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan tetap sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, kemajuan IPTEK di Indonesia dapat berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Npm: 2515012077
Analisis soal 2
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Pancasila berperan sebagai landasan nilai dan etika dalam pengembangan ilmu yang saya pelajari. Sila Ketuhanan menjadi dasar moral agar ilmu digunakan secara bertanggung jawab. Sila Kemanusiaan mengarahkan ilmu untuk memberi manfaat bagi sesama. Sila Persatuan menekankan agar pengembangan ilmu tidak merusak persatuan bangsa. Sila Kerakyatan mendorong penggunaan ilmu secara bijaksana dan terbuka terhadap masukan. Sila Keadilan Sosial mengarahkan ilmu agar hasilnya dapat dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat. Di tengah persaingan global, Pancasila menjadi penuntun agar kemajuan ilmu tetap berakar pada nilai bangsa.
B.Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Saya berharap pemimpin, warga negara, dan ilmuwan Indonesia memiliki sikap jujur, adil, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan ilmu dan teknologi. Pemimpin diharapkan bijak dan mengutamakan kepentingan rakyat, warga negara bersikap kritis dan beretika, serta ilmuwan mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat tanpa meninggalkan nilai Pancasila, baik sekarang maupun di masa depan.
2515012016
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu yang anda masing-masing, sebagai landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari, serta bagaimana prosesnya di tengah persaingan global saat ini?
Pancasila memiliki peran yang sangat penting sebagai paradigma ilmu, yaitu sebagai kerangka berpikir, sumber nilai, dan landasan etika dalam pengembangan setiap disiplin ilmu di Indonesia. Pancasila memastikan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berkembang secara bebas tanpa arah, melainkan tetap berpijak pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial.
Dalam setiap disiplin ilmu, Pancasila menjadi pedoman agar pengembangan ilmu tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknis dan keuntungan ekonomi, tetapi juga pada kemanfaatan bagi masyarakat luas. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menuntun ilmu agar dikembangkan secara bermoral dan bertanggung jawab. Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memastikan ilmu tidak merugikan martabat manusia. Nilai Persatuan Indonesia mengarahkan ilmu untuk memperkuat keutuhan bangsa, sedangkan nilai Kerakyatan dan Keadilan Sosial menuntut agar hasil ilmu dapat dinikmati secara adil oleh seluruh rakyat.
Di tengah persaingan global yang sangat ketat, Pancasila berfungsi sebagai filter terhadap pengaruh globalisasi. Ilmu pengetahuan dari luar dapat diadopsi dan dikembangkan, tetapi tetap disesuaikan dengan nilai dan kepribadian bangsa Indonesia. Dengan demikian, Pancasila menjadikan pengembangan ilmu di Indonesia tidak kehilangan identitas nasional, sekaligus tetap mampu bersaing secara global secara etis dan bermartabat.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Harapan saya, Indonesia memiliki pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang benar-benar mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam sikap dan tindakan nyata, bukan hanya dalam wacana. Pemimpin yang Pancasilais adalah pemimpin yang jujur, adil, bijaksana, mengutamakan kepentingan rakyat, serta mampu menggunakan kekuasaan secara bertanggung jawab dan bermoral.
Warga negara yang Pancasilais diharapkan memiliki sikap toleran, saling menghormati, taat hukum, serta aktif menjaga persatuan dan keharmonisan sosial. Di tengah perkembangan IPTEK, warga negara juga diharapkan cerdas secara digital, tidak mudah terprovokasi hoaks, serta mampu menggunakan teknologi secara bijak dan beretika.
Sementara itu, ilmuwan yang Pancasilais adalah ilmuwan yang mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia, bukan sekadar untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Ilmuwan harus menjunjung tinggi etika keilmuan, kejujuran akademik, serta menjadikan Pancasila sebagai pedoman moral dalam setiap riset dan inovasi yang dilakukan.
Dengan terwujudnya pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang Pancasilais, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan global, memanfaatkan kemajuan IPTEK secara positif, serta mewujudkan cita-cita bangsa sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
NPM: 2555012006
Kelas: A
A. Bagaimanakah peran Pancasila sebagai paradigma ilmu bagi disiplin ilmu anda masing-masing dengan merinci setiap sila ke dalam kebijakan ilmu dan landasan etika bagi pengembangan ilmu yang anda pelajari dan bagaimana prosesnya di tengah persaingan global seperti sekarang ini?
Dalam bidang Arsitektur, Pancasila berfungsi sebagai prinsip dasar yang menunjang arah pengembangan keilmuan serta menjadi fondasi etika dalam proses desain dan konstruksi. Setiap sila Pancasila berperan sebagai pedoman berikut ini:
• Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Dalam konteks arsitektur, sila ini berfungsi sebagai pedoman moral yang mengharuskan setiap desain arsitektur menghormati nilai spiritual, kemanusiaan, dan alam sebagai ciptaan Tuhan. Proses desain seharusnya tidak hanya mengejar keindahan atau keuntungan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan etika, keselamatan, dan keberlanjutan.
• Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Arsitektur harus fokus pada manusia sebagai pengguna. Bangunan harus dirancang untuk memberikan kenyamanan, keamanan, akses yang baik, dan keadilan untuk semua kelompok masyarakat, termasuk mereka yang memiliki disabilitas. Ilmu arsitektur tidak boleh mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan demi kepentingan komersial semata.
• Sila Persatuan Indonesia
Dalam arsitektur, sila ini mendorong penciptaan desain yang mencerminkan identitas nasional dan kearifan lokal. Dalam menghadapi persaingan global, arsitektur Indonesia harus tetap mencerminkan karakter budaya bangsa, bukan sekadar meniru desain luar.
• Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
Proses perencanaan dan pembangunan perlu melibatkan masyarakat serta mendengarkan aspirasi mereka. Seorang arsitek harus terbuka terhadap kritik dan umpan balik serta memprioritaskan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan.
• Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Pengembangan ilmu arsitektur seharusnya berkontribusi pada pemerataan pembangunan, seperti penyediaan perumahan yang layak, fasilitas publik yang adil, dan lingkungan yang sehat. Ilmu arsitektur tidak hanya ditujukan untuk kelompok tertentu, tetapi juga mengutamakan kepentingan masyarakat luas.
Di tengah persaingan global, penerapan Pancasila dalam arsitektur dilakukan dengan mendorong inovasi, menggunakan teknologi secara etis, dan merancang desain yang berkelanjutan, tetap berpegang pada nilai-nilai budaya Indonesia.
B. Bagaimanakah harapanmu mengenai model pemimpin, warganegara dan ilmuwan yang Pancasilais di Indonesia sekarang dan di masa mendatang?
Saya mengharapkan pemimpin yang Pancasilais menjadi sosok yang memiliki integritas, keadilan, kejujuran, dan senantiasa menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Pemimpin harus mampu memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan bijak dan memberikan contoh dalam sikap serta tindakan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Untuk warganegara Pancasilais, diharapkan agar mereka memiliki sikap toleransi, kritis, serta bertanggung jawab dalam kehidupan sosial, termasuk dalam memanfaatkan teknologi dan media sosial. Warganegara tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang keliru dan harus mampu menjaga persatuan serta nilai kebangsaan meskipun di tengah globalisasi yang pesat.
Sementara itu, ilmuwan Pancasilais diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berfokus pada kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Ilmuwan seharusnya tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga harus mempertimbangkan dampak sosial, lingkungan, dan moral dari ilmu yang mereka kembangkan.
Dengan terwujudnya pemimpin, warganegara, dan ilmuwan yang Pancasilais, diharapkan Indonesia dapat memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi secara maksimal tanpa kehilangan identitas bangsa, baik sekarang maupun di masa yang akan datang.