CASE STUDY

CASE STUDY

Number of replies: 27

Seorang peneliti pendidikan ingin mengetahui efektivitas metode pembelajaran hybrid (gabungan daring dan luring) terhadap hasil belajar matematika siswa kelas XI di seluruh SMA negeri di Provinsi Jawa Barat. Karena jumlah SMA negeri sangat banyak dan tersebar di berbagai kota dan kabupaten, peneliti memutuskan untuk mengambil sampel sebagai subjek penelitiannya.

Namun, peneliti menghadapi beberapa tantangan:

  1. Terdapat 600 SMA negeri di Provinsi Jawa Barat, tersebar di 27 kota/kabupaten.
  2. Kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur digital tiap daerah berbeda.
  3. Jumlah siswa kelas XI bervariasi di setiap sekolah.
  4. Tidak semua sekolah menerapkan pembelajaran hybrid secara konsisten.

Pertanyaan:

  1. Identifikasilah populasi dan sampel dalam kasus tersebut. Jelaskan alasannya!
  2. Menurut Anda, teknik sampling mana yang paling tepat digunakan dalam penelitian ini? Jelaskan alasan pemilihan teknik tersebut, dan bagaimana cara menerapkannya dalam konteks ini!
  3. Jika peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah-sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi saja, apa potensi kelemahan dari pendekatan ini terhadap validitas hasil penelitian?

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Sela Ayu Irawati -
Nama:Sela Ayu Irawati
Npm:231303105

1.Dalam penelitian ini, populasi adalah seluruh siswa kelas XI di 600 SMA negeri di Provinsi Jawa Barat. Populasi ini dipilih karena peneliti ingin mengetahui efektivitas metode pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar matematika secara umum di seluruh SMA negeri di provinsi tersebut.Sedangkan sampel adalah sebagian siswa kelas XI dari beberapa SMA negeri yang dipilih sebagai perwakilan dari seluruh populasi. Sampel digunakan karena jumlah sekolah sangat banyak dan tersebar di berbagai daerah, sehingga tidak mungkin meneliti seluruh populasi secara langsung.

2.Teknik yang tepat adalah Stratified Random Sampling (acak berstrata). Populasi dibagi berdasarkan wilayah (kabupaten/kota), lalu dipilih secara acak sejumlah sekolah dari tiap wilayah secara proporsional. Dari sekolah terpilih, peneliti mengambil beberapa kelas XI secara acak untuk diteliti. Teknik ini memastikan setiap daerah terwakili secara adil.alam penerapannya, peneliti dapat membagi 600 SMA negeri ke dalam 27 strata sesuai jumlah kabupaten/kota di Jawa Barat. Dari setiap strata, peneliti menentukan jumlah sekolah yang akan dijadikan sampel secara proporsional, misalnya 10% dari jumlah sekolah di tiap daerah. Setelah sekolah terpilih, peneliti dapat memilih beberapa kelas XI secara acak sebagai responden penelitian. Dengan cara ini, hasil penelitian akan lebih representatif dan menggambarkan kondisi nyata di seluruh wilayah Jawa Barat.

3.Apabila peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah-sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi, maka hasil penelitian akan memiliki kelemahan pada validitas eksternal. Artinya, hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh SMA negeri di Jawa Barat. Hal ini disebabkan karena sekolah di kota besar memiliki kondisi yang berbeda jauh dibanding sekolah di daerah lain. Fasilitas pembelajaran, akses internet, dan kemampuan digital siswa di kota besar biasanya lebih baik, sehingga pelaksanaan pembelajaran hybrid lebih efektif. Sebaliknya, sekolah di daerah terpencil mungkin menghadapi kendala jaringan, perangkat, atau keterbatasan guru dalam menerapkan metode hybrid. Akibatnya, jika sampel hanya diambil dari kota besar, hasil penelitian akan bias dan tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya di seluruh provinsi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Diah Arum Sari Nawang Ulan -
Nama : Diah Arum Sari Nawang Ulan
NPM : 2313031021

1. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di SMA negeri di Provinsi Jawa Barat. Populasi ini mencakup semua sekolah di 27 kota/kabupaten. Sampelnya adalah sebagian SMA negeri yang dipilih untuk mewakili karakteristik populasi tersebut, misalnya beberapa sekolah dari tiap wilayah dengan perbedaan kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur digital. Pemilihan sampel ini dilakukan agar hasil penelitian dapat digeneralisasi secara akurat.

2. Teknik Sampling yang Tepat
Teknik yang paling sesuai adalah stratified random sampling (sampling acak berstrata). Alasan utamanya karena populasi sangat besar dan heterogen. Dengan stratifikasi, peneliti dapat membagi populasi berdasarkan strata tertentu misalnya wilayah (kota/kabupaten), kondisi sosial ekonomi, atau tingkat kesiapan digital lalu mengambil sampel secara acak dari setiap strata. Cara ini menjaga proporsionalitas dan meningkatkan representativitas hasil penelitian.

3. Kelemahan Jika Hanya Mengambil Sekolah di Kota Besar
Jika peneliti hanya mengambil sampel dari Bandung dan Bekasi, maka hasil penelitian menjadi kurang valid secara eksternal (generalizability). Sekolah di kota besar cenderung memiliki fasilitas digital lebih baik dan kondisi sosial ekonomi yang lebih tinggi dibanding daerah lain. Akibatnya, temuan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya dari seluruh provinsi, terutama sekolah di daerah terpencil atau dengan keterbatasan infrastruktur.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Desmala Az-Zahra -
Nama : Desmala Az Zahra
NPM : 2313031002

1. Populasi di penelitian ini adalah semua siswa kelas XI di seluruh SMA negeri Provinsi Jawa Barat. Sampel adalah sebagian siswa kelas XI dari beberapa SMA negeri yang dipilih untuk mewakili seluruh provinsi. Teknik sampling yang paling cocok adalah stratified random sampling, yaitu memilih sampel dari tiap daerah dan kategori agar hasilnya adil dan mewakili keberagaman Jawa Barat. Jika hanya ambil dari kota besar seperti Bandung dan Bekasi, hasil penelitian bisa bias dan tidak menggambarkan seluruh provinsi secara akurat.
- Populasi: Semua siswa kelas XI di 600 SMA negeri seluruh Jawa Barat. Ini artinya target penelitian adalah seluruh siswa kelas XI dari setiap SMA negeri di tiap kota dan kabupaten, bukan hanya beberapa daerah saja.
- Sampel: Sejumlah siswa kelas XI dari beberapa SMA negeri yang diambil untuk mewakili populasi besar tersebut. Sampel harus dipilih supaya bisa mewakili Jawa Barat secara keseluruhan, bukan hanya satu daerah.

2. Teknik Sampling yang Tepat adalah stratified random
Kenapa stratified random sampling cocok:
Kondisi setiap daerah berbeda—ada yang infrastrukturnya maju, ada yang belum, dan jumlah siswanya juga tidak sama. Teknik ini membagi populasi ke dalam kelompok (misalnya: berdasarkan kota/kabupaten, status ekonomi, atau fasilitas digital) lalu memilih sampel dari setiap kelompok secara acak. Cara ini membuat hasil penelitian lebih adil dan bisa mewakili semua perbedaan di Jawa Barat.
Cara menerapkan teknik ini:
1. Bagi semua SMA negeri menurut kota/kabupaten,
2. Dari tiap daerah, pilih beberapa sekolah secara acak.
3. Dari sekolah terpilih itu, pilih sejumlah siswa kelas XI secara acak, Pastikan tiap daerah dan tipe sekolah ada perwakilannya di sampel.

3. Kelemahan Jika Sampel Hanya dari Kota Besar Hasil penelitian jadi kurang adil, hanya menggambarkan sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi, Daerah lain yang status ekonominya atau infrastrukturnya berbeda tidak ikut terwakili, padahal mereka juga bagian dari Jawa Barat, Kesimpulan penelitian jadi bias dan tidak berlaku untuk seluruh provinsi. Penelitian seperti itu kurang bisa dijadikan dasar kebijakan untuk semua SMA negeri Jawa Barat.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Dela Novita -
Nama : Dela Novita
NPm:2313031023

1. Populasi dalam kasus ini adalah seluruh siswa kelas XI di seluruh SMA negeri di Provinsi Jawa Barat. Alasannya, karena tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas metode pembelajaran hybrid pada seluruh SMA negeri, sehingga semua siswa kelas XI yang menjadi sasaran metode tersebut termasuk dalam populasi target. Sampel adalah sebagian SMA negeri beserta siswa kelas XI yang dipilih untuk mewakili keseluruhan, karena jumlah sekolah sangat besar sehingga tidak mungkin diteliti seluruhnya.

2.Teknik sampling yang paling tepat untuk penelitian ini adalah stratified cluster sampling. Stratifikasi dilakukan berdasarkan wilayah (kota/kabupaten) atau karakteristik relevan seperti tingkat sosial-ekonomi daerah maupun kesiapan digital sekolah. Setiap strata mencerminkan keragaman kondisi yang ada di Jawa Barat. Setelah strata terbentuk, peneliti dapat memilih beberapa sekolah sebagai klaster secara acak pada tiap strata, lalu mengambil siswa kelas XI dari sekolah-sekolah tersebut. Teknik ini cocok karena populasi sangat besar, bervariasi, dan tersebar secara geografis, sehingga perlu metode yang mampu menjaga keterwakilan sekaligus tetap efisien secara waktu dan biaya.

3.Jika peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi, hasil penelitian berpotensi tidak valid secara eksternal. Sekolah di kota besar cenderung memiliki infrastruktur digital lebih baik, guru lebih terbiasa dengan teknologi, dan kondisi sosial-ekonomi siswa lebih mendukung. Hal ini tidak mencerminkan kondisi sekolah di daerah kecil atau pinggiran. Akibatnya, efektivitas pembelajaran hybrid dapat terlihat lebih tinggi dari kenyataan sebenarnya, sehingga hasil penelitian tidak bisa digeneralisasi untuk seluruh SMA negeri di Jawa Barat.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Annisa Luthfiyyah -

Nama : Annisa Luthfiyyah

NPM   : 2313031010

1. Dalam penelitian ini, populasi adalah semua siswa kelas XI SMAN di provinsi Jawa Barat yang mengikuti hybrid, alasannya karena menelitian ini mengukur metodehybrid pada hasil belajar matematika kelasa XI di SMAN. sedangkan untuk sampelnya sejumlah siswa kelas XI dari beberapa SMAN yang dipilih mewakili seluruh provinsi, alasannya karena populasi terlalu besar sehingga perlu daimbil sebagian. 

2. Teknik sampling yang tepay yaitu stratified randomsampling (sampling berstrata). karena: kondisi tiap daerah berbeda (sosial-ekonomi, infrastruktur digital, jumlah siswa). stratifikasi memastikan setiap wilayah/kategori tetap terwakili secara proporsional. dan mengurangi bias dan meningkatkan kemampuan generalisasi hasil. 

cara menerapkannya dengan menentukan strata terlebih dahulu, misalnya berdasarkan 27 kota/kabupaten, kemudian menghitung jumlah siswa/ sekolah per strata, selanjutnya mengambil sampel secara proporsional dari tiap strata. Di dalam tiap strata, pilih sekolah/siswa secara acak sederhana.

3. Kelemahan jika sampelhanya dari bandung dan bekasi, yang pertama kota besar mempunyai infrastruktur digital yang baik berpotensi menghasilkan rekomendasi kebijakan yang keliru.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rieke Nindita Sari - -
Nama : Rieke Nindita Sari
NPM : 2313031019

1. Populasinya adalah semua siswa kelas XI di seluruh SMA negeri di Jawa Barat karena merekalah yang ingin dilihat hasil belajarnya terkait metode hybrid. Sementara itu, sampelnya adalah sebagian sekolah dan siswa kelas XI yang dipilih dari populasi tersebut, karena jelas nggak mungkin meneliti semua siswa di 600 sekolah yang tersebar di 27 kabupaten/kota, jadi peneliti harus mengambil sebagian saja yang dianggap cukup mewakili keadaan populasi.

2. Teknik yang paling pas menurut saya adalah multistage sampling dengan menggabungkan stratifikasi dan cluster. Alasannya, kondisi tiap daerah di Jawa Barat itu beda-beda, ada yang infrastrukturnya kuat seperti Bandung, tapi ada juga yang masih terbatas, jadi kalau langsung ambil sampel sembarangan bisa nggak mencerminkan kondisi sebenarnya. Caranya bisa dimulai dengan membagi Jawa Barat ke dalam strata wilayah (misalnya per kabupaten/kota), lalu dari tiap wilayah dipilih beberapa sekolah secara acak sebagai cluster, dan dari sekolah tersebut barulah dipilih kelas atau siswanya secara acak. Dengan cara ini, setiap daerah tetap punya kesempatan terwakili dan hasilnya lebih adil buat digeneralisasikan.

3. Kalau sampelnya cuma di kota besar kayak Bandung atau Bekasi, hasil penelitiannya bakal bias karena sekolah di kota cenderung punya fasilitas digital yang jauh lebih siap dibandingkan daerah lain. Akhirnya, efektivitas pembelajaran hybrid yang ditemukan bisa terlihat “lebih bagus” daripada kenyataan sebenarnya, dan kesimpulan penelitian nggak bisa dipakai untuk menggambarkan kondisi seluruh SMA negeri di Jawa Barat.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Najwa Ayudia Aura Rachim -
Nama: Najwa Ayudia Aura Rachim
NPM: 2313031027
Kelas: A

1. Identifikasi Populasi dan Sampel yaitu
- Populasi: Seluruh siswa kelas XI di SMA negeri di Provinsi Jawa Barat.
- Sampel: Sebagian siswa kelas XI di SMA negeri di Provinsi Jawa Barat yang dipilih sebagai subjek penelitian.
Alasannya karena populasi tersebut sangat besar dan tersebar di berbagai kota dan kabupaten, sehingga tidak memungkinkan untuk mengambil data dari seluruh populasi. Oleh karena itu, peneliti perlu mengambil sampel yang representatif untuk mewakili populasi.

2. Teknik sampling yang paling tepat digunakan dalam penelitian ini adalah Stratified Random Sampling. Teknik ini dipilih karena populasi memiliki karakteristik yang heterogen, seperti kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur digital yang berbeda-beda di tiap daerah.
Cara menerapkan teknik ini adalah:
- Membagi populasi menjadi strata berdasarkan kota/kabupaten, sehingga terdapat 27 strata.
- Mengambil sampel sekolah secara acak dari setiap strata, sehingga setiap strata memiliki representasi yang adil.
- Mengambil sampel siswa kelas XI secara acak dari setiap sekolah yang terpilih.

3. Jika peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah-sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi saja, maka potensi kelemahan adalah:
- Kurang representatif: Sampel tidak mewakili kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur digital di daerah lain yang mungkin berbeda.
- Bias: Hasil penelitian mungkin bias karena hanya mewakili kondisi di kota besar, sehingga tidak dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas.
- Kurang valid: Validitas hasil penelitian dapat dipertanyakan karena sampel tidak diambil secara acak dan tidak mewakili populasi yang sebenarnya.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Tria Meilisma -

Nama: Tria Meilisma

NPM:2313031029

1.     Populasi:

Populasi adalah seluruh siswa kelas XI di SMA negeri di Provinsi Jawa Barat.

Alasan: Peneliti ingin mengetahui efektivitas metode pembelajaran hybrid pada semua siswa kelas XI SMA negeri di provinsi ini, bukan hanya di beberapa sekolah atau kota tertentu. Jadi, populasi mencakup 600 SMA negeri dan seluruh siswa kelas XI di sekolah-sekolah tersebut.

Sampel:
Sampel adalah sekelompok siswa kelas XI dari beberapa SMA negeri yang dipilih untuk mewakili seluruh populasi.

Alasan: Karena jumlah sekolah sangat banyak dan tersebar di berbagai kota/kabupaten, peneliti tidak mungkin meneliti semua siswa. Sampel harus diambil secara representatif agar hasil penelitian bisa digeneralisasi ke populasi.

2.     Teknik Sampling yang Paling Tepat

Berdasarkan kondisi:

-        Sekolah tersebar di banyak kota/kabupaten.

-        Kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur digital berbeda di tiap daerah.

-        Jumlah siswa tiap sekolah bervariasi.

Teknik sampling yang paling tepat: Stratified Cluster Sampling (atau kombinasi stratifikasi dan cluster).

Alasan:

a.     Stratifikasi:

-        Populasi bisa dibagi menjadi strata berdasarkan kota/kabupaten atau kategori lain yang relevan (misalnya tingkat urbanisasi, kondisi ekonomi, atau infrastruktur digital).

-        Hal ini memastikan representasi setiap wilayah dan kondisi berbeda dalam sampel, sehingga hasil lebih valid dan dapat digeneralisasikan.

b.     Cluster Sampling:

-        Setelah menentukan strata, sekolah dalam tiap kota/kabupaten bisa diperlakukan sebagai cluster, lalu dipilih secara acak beberapa sekolah dari setiap cluster.

-        Kemudian, dari sekolah terpilih, dipilih siswa kelas XI secara acak sebagai sampel.

-        Hal ini memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian tanpa harus meneliti seluruh sekolah atau siswa.

Cara penerapan:

-        Bagi semua 600 SMA negeri di 27 kota/kabupaten menjadi strata berdasarkan kota/kabupaten.

-        Dalam tiap strata, pilih beberapa sekolah secara acak (cluster).

-        Dari tiap sekolah terpilih, pilih siswa kelas XI secara acak sebagai sampel.

Dengan cara ini, sampel mewakili kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur digital yang berbeda-beda di seluruh provinsi.

3.    Potensi Kelemahan Jika Hanya Mengambil Sampel dari Kota Besar

Jika peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi:

Kelemahan:

a.     Tidak representative

b.     Bias lokasi

c.     Validitas eksternal rendah

d.     Kesimpulan tidak bisa digeneralisasikan

e.     Berpotensi menyesatkan

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Ni Wayan Vara Wulandari -
Nama: Ni Wayan Vara Wulandari
NPM: 2313031017

1. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI pada SMA negeri di Provinsi Jawa Barat. Populasi tersebut dipilih karena menjadi sasaran utama penelitian dalam menilai efektivitas metode pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar matematika.
Sampel adalah siswa kelas XI yang dipilih dari beberapa SMA negeri yang memenuhi kriteria penelitian. Sampel digunakan karena jumlah sekolah yang sangat besar (600 sekolah) dan tersebar di banyak wilayah sehingga peneliti tidak memungkinkan melakukan penelitian pada seluruh anggota populasi. Dengan mengambil sampel yang representatif, peneliti tetap dapat menarik kesimpulan yang berlaku untuk populasi secara keseluruhan.
2. Teknik sampling yang paling tepat digunakan adalah multistage sampling yang menggabungkan stratified sampling dan cluster sampling.
Teknik multistage sampling dipilih karena populasi penelitian sangat luas dan tersebar di berbagai daerah dengan kondisi yang berbeda-beda. Dengan melakukan stratifikasi terlebih dahulu, peneliti dapat memastikan bahwa setiap wilayah tetap terwakili sesuai karakteristiknya. Setelah itu, penggunaan cluster sampling pada tingkat sekolah memudahkan peneliti dalam memilih unit sampel secara efisien tanpa harus menjangkau seluruh sekolah satu per satu. Kombinasi kedua teknik tersebut membuat proses pengambilan sampel lebih praktis sekaligus tetap menjaga representativitas populasi.
Cara Menerapkannya:
a. Menyusun daftar populasi (sampling frame).
b. Membuat stratifikasi wilayah.
c. Memilih sekolah secara acak dalam setiap strata.
d. Menentukan sampel siswa di sekolah terpilih.
e. Memastikan sekolah memenuhi kriteria penelitian.
3. Jika sampel hanya diambil dari kota besar seperti Bandung dan Bekasi, hasil penelitian tidak akan mewakili seluruh kondisi SMA negeri di Jawa Barat. Sekolah di kota besar biasanya memiliki fasilitas dan infrastruktur digital lebih baik, sehingga efektivitas pembelajaran hybrid dapat terlihat lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Hal ini menimbulkan selection bias dan menurunkan validitas eksternal, karena penelitian mengabaikan variasi wilayah dengan kondisi sosial, ekonomi, dan akses teknologi yang berbeda. Akibatnya, kesimpulan penelitian tidak dapat digeneralisasikan ke seluruh provinsi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Suci Tri Wahyuni 2313031012 -
Nama: Suci Tri Wahyuni
Npm: 2313031012
Kelas: A

1. Identifikasi Populasi dan Sampel

Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri di Provinsi Jawa Barat yang menjalani pembelajaran matematika dengan metode hybrid.
Alasannya: karena tujuan penelitian adalah mengukur efektivitas pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar matematika pada siswa kelas XI di seluruh SMA negeri Jawa Barat, sehingga populasi mencakup semua sekolah dan siswa dengan karakteristik tersebut.

Sampel
Sampel adalah sekelompok SMA Negeri (dan siswa kelas XI di dalamnya) yang dipilih mewakili populasi keseluruhan untuk dijadikan subjek penelitian.
Alasannya: jumlah sekolah sangat besar (600 sekolah) dan tersebar di 27 wilayah sehingga tidak memungkinkan untuk meneliti seluruh populasi.

2. Teknik Sampling yang Paling Tepat & Penerapannya

Teknik sampling yang paling tepat untuk kasus ini adalah Stratified Cluster Random Sampling (penggabungan 2 teknik agar sampel representatif).

Alasan pemilihan teknik :
• Kondisi sosial-ekonomi, infrastruktur digital, dan kualitas sekolah berbeda antar wilayah → perlu pembagian strata (lapisan) agar semua kategori wilayah terwakili.
• Penelitian mencakup sekolah, bukan individu siswa → cocok menggunakan cluster karena sekolah dapat dijadikan satuan kelompok.
• Agar hasil penelitian generalizable ke seluruh SMA Negeri di Jawa Barat, bukan hanya wilayah tertentu.

Cara menerapkan dalam konteks penelitian :

1. Stratifikasi wilayah / kategori sekolah Dibagi berdasarkan kriteria representatif, misalnya:
• Wilayah kota besar
• Wilayah kota sedang
• Wilayah kabupaten/pedesaan
• Kondisi sekolah berdasarkan infrastruktur digital

2. Menentukan jumlah sekolah yang akan dijadikan sampel dari tiap strata Misalnya dari total 600 sekolah dibagi proporsional:
• Kota besar → 20% sekolah
• Kota sedang → 35% sekolah
• Kabupaten/pedesaan → 45% sekolah

3. Cluster random sampling per strata
• Pilih sekolah secara acak dalam setiap strata.
• Ambil semua siswa kelas XI atau melalui random siswa dalam sekolah yang terpilih.

Dengan cara ini, setiap wilayah dan karakteristik sekolah terwakili, sehingga sampel benar-benar mencerminkan populasi sebenarnya.

3. Kelemahan Jika Sampel Hanya di Kota Besar (Bandung & Bekasi)

Jika peneliti hanya mengambil sampel di kota besar, maka hasil penelitian berpotensi bias dan kurang valid secara eksternal. Potensi kelemahannya:

Tidak representatif : Sekolah di kota besar memiliki fasilitas digital lebih baik, sehingga tidak mencerminkan sekolah di kabupaten/pedesaan.

Generalizability rendah : Hasil penelitian hanya relevan untuk sekolah kota, namun digeneralisasi untuk seluruh Jawa Barat → kesalahan kesimpulan.

Overestimasi efektivitas metode hybrid : Sekolah kota mungkin menerapkan hybrid lebih baik, sehingga hasil belajar siswa tampak lebih tinggi dibanding daerah tertinggal.

Bias sampel : Pemilihan sampel berdasarkan kemudahan (convenience sampling), bukan representasi populasi.

Dampak utama: kesimpulan penelitian bisa salah, karena data tidak mencerminkan kondisi seluruh provinsi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Saqila Rahma Andini -
Nama : Saqila Rahma andini
Npm : 2313031020

1. Identifikasi populasi dan sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di 600 SMA negeri di Provinsi Jawa Barat. Populasi ini dipilih karena peneliti ingin mengetahui efektivitas pembelajaran hybrid pada tingkat SMA secara menyeluruh. Sampelnya adalah sebagian sekolah atau siswa dari sekolah-sekolah tersebut yang dipilih berdasarkan teknik sampling tertentu. Sampel digunakan karena jumlah sekolah sangat besar dan tidak mungkin diteliti semuanya secara langsung, sehingga pengambilan sebagian subjek tetap dapat mewakili populasi (Creswell, 2014).
2. Teknik sampling yang paling tepat dan cara menerapkannya
Teknik sampling yang paling tepat adalah stratified random sampling (sampling berstrata). Teknik ini digunakan ketika populasi memiliki karakteristik yang berbeda-beda, seperti perbedaan wilayah, kondisi sosial-ekonomi, serta kesiapan teknologi, seperti pada kasus ini. Dengan stratifikasi, peneliti dapat membagi SMA negeri berdasarkan kota/kabupaten, atau berdasarkan zona sosial-ekonomi/infrastruktur digital, lalu mengambil sampel secara acak dari tiap strata. Teknik ini memastikan setiap jenis daerah terwakili sehingga hasil penelitian lebih akurat dan dapat digeneralisasi (Sugiyono, 2019).
3. Kelemahan mengambil sampel hanya dari kota besar
Jika peneliti hanya mengambil sampel dari kota besar seperti Bandung dan Bekasi, maka hasil penelitian memiliki validitas eksternal yang rendah, artinya hasilnya tidak dapat digeneralisasi ke seluruh Jawa Barat. Hal ini terjadi karena kondisi sekolah di kota besar biasanya memiliki fasilitas digital lebih baik, akses internet stabil, dan guru lebih siap dalam pembelajaran hybrid dibandingkan daerah kecil atau pedesaan. Akibatnya, hasil penelitian akan cenderung bias dan tidak mencerminkan kondisi sekolah di daerah dengan fasilitas terbatas. Dengan demikian, efektivitas pembelajaran hybrid bisa tampak “lebih baik” dari kenyataan sebenarnya (Cohen, Manion & Morrison, 2018).
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Dwi Apriyana -

Nama: Dwi Apriyana

Npm: 2313031022

1. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI yang bersekolah di SMA Negeri di Provinsi Jawa Barat. Populasi tersebut dipilih karena peneliti ingin menilai efektivitas pembelajaran hybrid pada hasil belajar matematika siswa kelas XI, sehingga semua siswa kelas XI dari 600 SMA Negeri menjadi sasaran penelitian. Sampelnya adalah sebagian SMA Negeri beserta siswa kelas XI yang dipilih dari sekolah-sekolah tersebut. Pengambilan sampel dilakukan karena jumlah sekolah terlalu banyak dan tersebar, sehingga tidak memungkinkan untuk meneliti seluruh populasi.

2. Teknik sampling yang paling tepat adalah multistage sampling. Teknik ini menggabungkan stratified sampling dan cluster sampling, dan cocok digunakan karena beberapa alasan. Pertama, sekolah tersebar di 27 kota dan kabupaten sehingga perlu dikelompokkan berdasarkan wilayah atau kategori tertentu. Kedua, setiap daerah memiliki kondisi yang berbeda, seperti akses internet, kondisi ekonomi, dan jumlah siswa, sehingga penting memastikan setiap jenis daerah tetap terwakili. Ketiga, jumlah sekolah cukup besar sehingga lebih efisien jika pengambilan sampel dilakukan bertahap. Penerapannya dilakukan dengan cara membagi sekolah berdasarkan wilayah atau kategori, lalu memilih beberapa sekolah secara acak dari setiap kelompok tersebut. Setelah sekolah terpilih, peneliti kemudian memilih siswa kelas XI di sekolah tersebut sebagai respondeni.

3. Jika peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah-sekolah di Bandung dan Bekasi, maka hasil penelitian berisiko tidak mewakili seluruh kondisi di Jawa Barat. Sekolah di kota besar umumnya memiliki fasilitas yang lebih baik, seperti akses internet yang stabil dan sarana belajar yang lebih lengkap, sehingga penerapan hybrid learning lebih lancar dibandingkan sekolah di daerah kabupaten. Akibatnya, hasil penelitian dapat menjadi kurang objektif atau cenderung menggambarkan kondisi sekolah yang lebih maju saja. Selain itu, hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh SMA Negeri di Jawa Barat karena hanya berdasarkan beberapa sekolah dari kota besar.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Yesi Novia Pitriani -
Nama: Yesi Novia Pitriani
NPM: 2313031006

1. Populasi dan sampel
- Populasi: seluruh siswa kelas XI di 600 SMA negeri di 27 kota/kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang menjadi sasaran penerapan pembelajaran hybrid.
- Sampel: sebagian SMA negeri (beserta siswa kelas XI di dalamnya) yang dipilih dari 600 sekolah tersebut untuk diukur hasil belajar matematikanya, lalu dijadikan dasar penarikan kesimpulan tentang populasi.

2. Teknik sampling yang paling tepat
Teknik yang paling tepat adalah probability sampling dengan stratified cluster sampling (stratified + cluster).
- Populasi dibagi dulu ke dalam strata, misalnya berdasarkan kota/kabupaten atau kategori wilayah (kota besar, sedang, kabupaten), agar keragaman sosial-ekonomi dan infrastruktur digital tetap terwakili.
- Di tiap strata, dipilih beberapa sekolah (cluster) secara acak yang memenuhi kriteria menerapkan hybrid; kemudian dari tiap sekolah tersebut diambil sampel siswa kelas XI secara acak atau proporsional per rombel.

3. Kelemahan jika hanya ambil dari Bandung dan Bekasi
- Sampel menjadi tidak representatif terhadap seluruh Jawa Barat karena hanya mencerminkan kondisi kota besar dengan infrastruktur digital dan kondisi sosial-ekonomi relatif lebih baik.
- Terjadi bias seleksi dan validitas eksternal melemah: hasil tidak layak digeneralisasikan ke SMA negeri di kabupaten lain yang lebih rural, fasilitas TIK terbatas, atau karakteristik siswa berbeda, sehingga kesimpulan tentang efektivitas hybrid untuk “seluruh SMA negeri Jawa Barat” menjadi tidak kuat.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by LIS TIARA PUTRI -
Nama : Lis Tiara Putri
NPM : 2213031001

1. Identifikasi Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA Negeri di Provinsi Jawa Barat yang telah mengikuti pembelajaran hybrid. Populasi ini dipilih karena mereka merupakan sasaran utama penerapan metode pembelajaran yang sedang dievaluasi. Sampel adalah sebagian siswa kelas XI dari beberapa SMA Negeri yang dipilih untuk mewakili seluruh populasi tersebut. Pengambilan sampel dilakukan karena jumlah populasi sangat besar (600 sekolah di 27 daerah), sehingga tidak memungkinkan melakukan penelitian pada seluruh sekolah secara langsung dari segi waktu, biaya, maupun akses.

2. Teknik Sampling yang Paling Tepat dan Cara Penerapannya
Teknik sampling yang paling tepat digunakan adalah Stratified Cluster Sampling.
Alasannya:
-Jawa Barat memiliki perbedaan karakteristik antar daerah (kota/kabupaten) yang dapat memengaruhi efektivitas pembelajaran hybrid → perlu stratifikasi berdasarkan wilayah atau tingkat perkembangan (misal: kota besar, sedang, desa).
-Objek berada dalam kelompok alami berupa sekolah → cluster sampling mempermudah pemilihan sampel karena sekolah bisa dipilih sebagai unit sampling pertama.
-Variasi jumlah siswa antar sekolah dapat diatasi dengan mengambil sampel proporsional dalam cluster terpilih.

Cara penerapan teknis:
Buat strata wilayah, misalnya:
Strata 1: Kota/metropolitan (Bandung, Bekasi, Depok)
Strata 2: Kota/kabupaten sedang (Tasikmalaya, Cirebon, Sukabumi, dll.)
Strata 3: Daerah pinggiran/pedesaan
Dari tiap strata, pilih sejumlah sekolah secara acak (cluster).
Dari sekolah terpilih, pilih siswa secara acak sebagai responden.
Jumlah sekolah dan siswa disesuaikan secara proporsional dengan populasi masing-masing strata.
Dengan demikian, setiap wilayah memiliki keterwakilan sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan lebih akurat.

3. Kelemahan Jika Sampel Hanya dari Kota Besar
Jika peneliti hanya mengambil sampel dari kota besar seperti Bandung dan Bekasi, maka akan terjadi beberapa permasalahan yang dapat menurunkan validitas eksternal:
Bias lokasi (urban bias): hasil penelitian hanya mencerminkan kondisi daerah maju yang memiliki infrastruktur digital lebih baik.
Tidak mewakili seluruh variasi populasi: kondisi sosial, ekonomi, dan sarana pembelajaran hybrid di daerah pinggiran atau pedesaan tidak terwakili.
Generalisasi menjadi lemah: kesimpulan tidak dapat digeneralisasikan ke 27 kota/kabupaten karena karakteristiknya sangat heterogen.
Efektivitas metode hybrid bisa berbeda: jika hanya mengukur di sekolah dengan fasilitas lengkap, hasilnya cenderung lebih tinggi dibanding wilayah yang infrastruktur digitalnya terbatas.
Sehingga, penggunaan sampel hanya dari kota besar dapat menghasilkan kesimpulan yang bias, tidak akurat, dan tidak sesuai dengan kondisi pendidikan di seluruh Provinsi Jawa Barat.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Syifa Hesti Pratiwi -
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

1. Identifikasi Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi dalam kasus ini adalah:
Seluruh siswa kelas XI yang belajar di SMA negeri di Provinsi Jawa Barat yang menerapkan metode pembelajaran hybrid.
Alasan:
* Penelitian ingin mengetahui efektivitas pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar kelas XI.
* Fokusnya adalah seluruh SMA negeri di Jawa Barat → berarti seluruh siswa kelas XI di sekolah tersebut merupakan wilayah generalisasi.
* Meskipun tidak semua sekolah menerapkan hybrid secara konsisten, populasi tetap mencakup sekolah yang menjadi sasaran penelitian, yaitu SMA negeri yang menerapkan hybrid.

Sampel
Sebagian SMA negeri (dan siswa kelas XI di dalamnya) yang dipilih mewakili kondisi sekolah-sekolah di seluruh Provinsi Jawa Barat.
Alasan:
* Jumlah SMA sangat besar (600 sekolah).
* Letak geografis luas (27 kabupaten/kota).
* Variasi karakteristik sekolah cukup tinggi (sosial, ekonomi, infrastruktur).

2. Teknik Sampling yang Paling Tepat dan Cara Menerapkannya
Teknik Sampling yang Tepat: Stratified Cluster Sampling
Teknik yang paling tepat adalah stratified cluster sampling, yaitu gabungan dari:
1. Stratified Sampling
– membagi populasi ke dalam strata (kelompok) berdasarkan karakter tertentu.
2. Cluster Sampling
– memilih klaster secara acak, kemudian meneliti seluruh anggota klaster tersebut.

Alasan teori mengapa teknik ini paling tepat
1. Populasi sangat besar dan tersebar luas → cluster sampling cocok untuk efisiensi.
2. Terdapat perbedaan signifikan antarwilayah (sosial, ekonomi, infrastruktur) → stratifikasi diperlukan agar sampel tetap representatif.
3. Variasi jumlah siswa dan konsistensi penerapan hybrid antar sekolah → kombinasi teknik membantu mengurangi bias.
4. Stratified cluster sampling banyak digunakan dalam penelitian pendidikan berskala luas (Creswell, 2018; Sugiyono, 2021) karena efektif menjaga representativitas dan efisiensi.

Cara Menerapkan Stratified Cluster Sampling pada Kasus Ini
1. Buat strata berdasarkan karakter wilayah
Misalnya:
* Strata 1: Kota besar (Bandung, Bekasi, Depok, Bogor).
* Strata 2: Daerah penyangga perkotaan.
* Strata 3: Kabupaten/daerah pedesaan.
Tujuannya agar setiap jenis wilayah terwakili.

2. Pilih sekolah sebagai cluster secara acak dalam setiap strata
Misal total 600 sekolah → dialokasikan sesuai proporsi:
* Strata kota besar: 150 → ambil 10 sekolah
* Strata penyangga: 200 → ambil 12 sekolah
* Strata kabupaten: 250 → ambil 12 sekolah

3. Ambil siswa kelas XI di sekolah yang terpilih
Bisa dengan:
* proportional sampling (misalnya 20% siswa tiap sekolah), atau
* mengambil seluruh siswa kelas XI jika jumlahnya tidak terlalu besar.

Hasil Akhir
Sampel berasal dari banyak sekolah, banyak wilayah, dan mewakili variasi nyata populasi → hasil penelitian lebih valid dan dapat digeneralisasikan.

3. Potensi Kelemahan Jika Sampel Hanya Diambil dari Kota Besar (Bandung, Bekasi)
Jika sampel hanya berasal dari kota besar, maka hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan ke seluruh Jawa Barat.
Potensi kelemahannya:
1. Bias Representativitas (sampling bias)
Kota besar memiliki:
* infrastruktur digital lebih baik,
* guru lebih terlatih,
* fasilitas internet stabil,
* pengalaman penggunaan hybrid lebih konsisten.
Ini tidak mencerminkan kondisi sekolah di daerah lain.

2. Hasil penelitian menjadi terlalu optimis
Efektivitas metode hybrid di kota besar kemungkinan lebih tinggi dibandingkan di daerah dengan keterbatasan fasilitas.
Sehingga hasil penelitian akan menggambarkan “kondisi terbaik”, bukan kondisi nyata seluruh provinsi.

3. Tidak mencerminkan variasi sosial-ekonomi
Daerah dengan kondisi ekonomi rendah atau sekolah terpencil mungkin tidak mampu menerapkan hybrid secara optimal.
Jika tidak diteliti, hasil penelitian akan bias terhadap kelompok tertentu.

4. Validitas eksternal turun
Validitas eksternal = kemampuan hasil penelitian untuk digeneralisasikan.
Jika sampel tidak mewakili seluruh Jawa Barat, maka hasil tidak boleh digeneralisasikan ke seluruh populasi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A SUki
Npm : 2313031013


1. Populasi dan Sampel

a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Negeri yang ada di Provinsi Jawa Barat.
Alasannya, peneliti ingin menilai seberapa efektif metode pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar siswa, sehingga seluruh siswa kelas XI menjadi kelompok yang ingin digeneralisasikan.

b. Sampel
Sampel adalah sebagian sekolah atau siswa kelas XI yang dipilih dari 600 SMA Negeri tersebut. Sekolah-sekolah dan siswa yang terpilih inilah yang nantinya menjadi sumber data utama penelitian.

2. Teknik Sampling yang Paling Tepat

Teknik yang paling sesuai adalah Stratified Multistage Sampling.

Alasan:
- Setiap daerah memiliki karakteristik berbeda (akses internet, sosial-ekonomi, kesiapan digital), sehingga perlu dilakukan stratifikasi agar semua jenis wilayah terwakili.

- Jumlah SMA sangat banyak dan tersebar, sehingga multistage sampling membantu memilih sampel secara bertahap, lebih efisien, dan tetap representatif.

Cara Menerapkan:

1. Bagi wilayah Jawa Barat menjadi beberapa strata, misalnya kota besar, kota sedang, dan kabupaten dengan fasilitas digital rendah.

2. Pilih beberapa kota/kabupaten secara acak dari tiap strata.

3. Pilih SMA negeri secara acak dari wilayah yang terpilih.

4. Ambil siswa kelas XI secara acak dari sekolah-sekolah tersebut.

Pendekatan ini membuat sampel mencerminkan keberagaman kondisi sekolah di seluruh provinsi.

3. Kelemahan Jika Sampel Hanya Diambil dari Kota Besar (Bandung dan Bekasi)

Jika sampel hanya berasal dari kota besar, muncul beberapa masalah:

1. Sampel tidak mewakili seluruh Jawa Barat, karena kota besar memiliki fasilitas dan kondisi yang jauh lebih baik dibanding kabupaten.

2. Hasil penelitian menjadi bias dan cenderung terlalu positif terhadap pembelajaran hybrid.

3. Validitas eksternal menurun, sehingga temuan tidak dapat digeneralisasi ke sekolah-sekolah di daerah lain yang kondisinya jauh berbeda.

4. Penelitian tidak menggambarkan realita hybrid learning di wilayah dengan infrastruktur terbatas.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Intan Ruliana -
Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016

1. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di 600 SMA Negeri di Provinsi Jawa Barat. Alasannya karena peneliti ingin mengetahui efektivitas pembelajaran hybrid untuk semua SMA Negeri, sehingga semua siswa kelas XI menjadi sasaran utama penelitian.

Sampelnya adalah sebagian sekolah atau sebagian siswa kelas XI yang dipilih untuk mewakili seluruh SMA yang ada. Pengambilan sampel dilakukan karena jumlah sekolah sangat besar dan tersebar, sehingga tidak memungkinkan meneliti semuanya.

2. Teknik sampling yang paling tepat adalah stratified random sampling yang digabung dengan cluster sampling.
Alasan:
• Jawa Barat memiliki 27 kabupaten/kota dengan karakteristik yang berbeda-beda. Jika wilayah ini dijadikan strata, maka setiap daerah tetap terwakili.
• Jumlah sekolah di tiap daerah cukup banyak, jadi lebih mudah mengambil cluster berupa sekolah, bukan individu siswa.
• Variasi fasilitas digital, jumlah siswa, dan penerapan hybrid cukup besar sehingga perlu teknik yang bisa menjaga keadilan representasi.

Cara menerapkannya:
1. Membagi provinsi menjadi strata berdasarkan 27 kota/kabupaten.
2. Dari tiap strata, memilih beberapa SMA secara acak sebagai cluster.
3. Dari sekolah yang terpilih, barulah menentukan siswa kelas XI yang akan menjadi responden.
4. Hanya sekolah yang benar-benar menerapkan hybrid yang diikutkan.

3.Jika sampelnya hanya berasal dari kota besar seperti Bandung dan Bekasi, maka masalah yang muncul adalah:
• Tidak mewakili seluruh kondisi Jawa Barat, karena daerah lain punya infrastruktur dan kualitas pembelajaran hybrid yang berbeda.
• Sekolah di kota besar biasanya fasilitas digitalnya lebih lengkap, sehingga hasil penelitian cenderung terlalu baik dibandingkan daerah lain.
• Tingkat ekonomi dan kesiapan siswa di kota besar juga lebih tinggi, sehingga hasil penelitian bias terhadap sekolah dengan kondisi lebih maju.
• Kesimpulan penelitian menjadi kurang valid jika digeneralisasi untuk seluruh provinsi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Aulya Syifa Zulkarnaen -
Nama : Aulya Syifa Zulkarnaen
NPM : 2313031009

1. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA negeri di Provinsi Jawa Barat. Sampel penelitian diambil dari sebagian siswa kelas XI di beberapa SMA negeri yang dipilih untuk mewakili kondisi keseluruhan, mengingat jumlah sekolah yang sangat banyak dan tersebar di berbagai kota dan kabupaten.
2. Teknik sampling yang paling tepat digunakan adalah multistage sampling yang dikombinasikan dengan stratified random sampling. Teknik ini dipilih karena memungkinkan peneliti mengelompokkan sekolah berdasarkan wilayah dan kondisi tertentu, seperti ketersediaan infrastruktur digital dan penerapan pembelajaran hybrid, kemudian memilih sekolah dan siswa secara acak. Dengan cara ini, sampel yang diperoleh lebih beragam dan dapat menggambarkan kondisi nyata di lapangan.
3. Kalau peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi, hasil penelitian berpotensi kurang mewakili kondisi seluruh Jawa Barat. Sekolah di kota besar umumnya memiliki fasilitas dan kesiapan teknologi yang lebih baik dibandingkan daerah lain, sehingga temuan penelitian bisa menjadi bias dan sulit digeneralisasikan ke sekolah di wilayah kabupaten atau daerah dengan keterbatasan sarana.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rizka Mufidah -
Nama: Rizka Mufidah
NPM: 2313031001

1. Identifikasi Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA negeri di Provinsi Jawa Barat yang menjadi sasaran penerapan metode pembelajaran hybrid. Populasi ini dipilih karena tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar matematika pada tingkat dan jenis sekolah tersebut secara provinsi.

Sampel adalah sebagian siswa kelas XI SMA negeri di Provinsi Jawa Barat yang dipilih berdasarkan teknik sampling tertentu untuk mewakili karakteristik populasi. Sampel dapat diambil dari beberapa SMA negeri yang tersebar di berbagai kota dan kabupaten, dengan mempertimbangkan variasi kondisi sosial, ekonomi, infrastruktur digital, serta penerapan pembelajaran hybrid.

2. Teknik Sampling yang Paling Tepat dan Cara Penerapannya
Teknik sampling yang paling tepat digunakan dalam penelitian ini adalah multistage sampling (sampling bertahap) yang dikombinasikan dengan stratified random sampling.

Alasan Pemilihan Teknik:
  1. Populasi sangat besar dan tersebar luas (600 SMA di 27 kota/kabupaten), sehingga tidak efisien jika menggunakan simple random sampling secara langsung.
  2.  Terdapat perbedaan karakteristik daerah, seperti kondisi sosial ekonomi dan infrastruktur digital, yang perlu diukur secara proporsional.
  3. Tidak semua sekolah menerapkan pembelajaran hybrid secara konsisten sehingga perlu dilakukan penyaringan secara bertahap.
  4. Jumlah siswa kelas XI berbeda-beda di setiap sekolah, sehingga perlu pengaturan sampel yang proporsional.

Cara Penerapan:
  • Tahap 1 (Stratifikasi wilayah): Mengelompokkan SMA negeri berdasarkan kota/kabupaten atau kategori wilayah (kota besar, kota sedang, dan kabupaten).
  • Tahap 2 (Pemilihan sekolah): Memilih SMA negeri secara acak dari setiap strata yang benar-benar menerapkan pembelajaran hybrid.
  • Tahap 3 (Pemilihan siswa): Dari sekolah terpilih, memilih siswa kelas XI secara acak atau proporsional sesuai jumlah siswa di sekolah tersebut.
Dengan cara ini, sampel yang diperoleh lebih representatif terhadap kondisi SMA negeri di Jawa Barat.

3. Potensi Kelemahan Jika Sampel Hanya Diambil dari Kota Besar
Jika peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah-sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi, maka terdapat beberapa kelemahan terhadap validitas hasil penelitian, antara lain:
  1. Bias representasi, karena sampel tidak mewakili kondisi sekolah di kota kecil atau kabupaten yang memiliki keterbatasan infrastruktur dan sumber daya.
  2. Validitas eksternal rendah, sehingga hasil penelitian sulit digeneralisasikan ke seluruh SMA negeri di Jawa Barat.
  3. Terlalu melebih-lebihkan efektivitas metode hybrid, karena sekolah di kota besar cenderung memiliki fasilitas teknologi dan kesiapan SDM yang lebih baik.
  4. Mengabaikan variasi konteks pembelajaran, padahal kondisi sosial ekonomi dan infrastruktur sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran hybrid.

Kesimpulan
Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI SMA negeri di Provinsi Jawa Barat, sedangkan sampel diambil dari sebagian siswa yang mewakili berbagai karakteristik daerah. Teknik *multistage stratified random sampling* merupakan pilihan paling tepat untuk menghasilkan sampel yang representatif. Pengambilan sampel hanya di kota besar berpotensi menurunkan validitas dan generalisasi hasil penelitian.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Malik Fajar -
Nama : Malik Fajar
NPM : 2213031090

1. populasi dan sampel dalam kasus
Populasi dalam kasus ini adalah seluruh siswa kelas XI di SMA negeri Provinsi Jawa Barat yang mengikuti pelajaran matematika, karena peneliti ingin mengetahui efektivitas metode pembelajaran hybrid secara menyeluruh di provinsi tersebut. Sedangkan sampel adalah sebagian siswa dari beberapa SMA negeri yang dipilih secara sistematis atau acak, karena meneliti seluruh populasi tidak praktis mengingat jumlah sekolah yang banyak, tersebar di berbagai daerah, variasi jumlah siswa per sekolah, dan ketidakmerataan penerapan metode hybrid. Sampel ini dipilih agar tetap mewakili perbedaan kondisi sosial, ekonomi, infrastruktur digital, serta cara sekolah menerapkan pembelajaran hybrid, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasi ke seluruh populasi.

2. Teknik sampling yang paling tepat untuk penelitian ini adalah Stratified Random Sampling, karena populasi yang sangat besar dan tersebar di 27 kota/kabupaten memiliki perbedaan kondisi sosial, ekonomi, infrastruktur digital, serta penerapan metode hybrid yang tidak merata. Dengan stratifikasi, sekolah dibagi ke dalam kelompok (strata) berdasarkan karakteristik tertentu, misalnya kota/kabupaten atau tingkat penerapan metode hybrid, lalu sampel diambil secara acak dari tiap strata secara proporsional. Cara ini memastikan setiap strata terwakili, sehingga sampel lebih representatif dan hasil penelitian dapat digeneralisasi ke seluruh populasi.

3. Jika peneliti hanya mengambil sampel dari sekolah-sekolah di kota besar seperti Bandung dan Bekasi, potensi kelemahan utamanya adalah menurunnya validitas eksternal (generalizability) hasil penelitian. Hal ini karena sampel tidak mewakili seluruh populasi siswa kelas XI di Provinsi Jawa Barat yang tersebar di 27 kota/kabupaten dengan kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur digital yang beragam. Kondisi di kota besar biasanya lebih baik dari sisi fasilitas dan akses teknologi, sehingga efektivitas metode pembelajaran hybrid yang ditemukan mungkin tidak mencerminkan pengalaman siswa di kota/kabupaten lain atau sekolah dengan sumber daya terbatas. Akibatnya, kesimpulan penelitian menjadi bias dan tidak dapat digeneralisasikan secara akurat ke seluruh provinsi.