Nama:berliana
Npm:2253031004
1. Aktor-Aktor Sosial Utama dan Perannya dalam Konstruksi Sosial Teknologi Agritech
Dalam kasus adopsi teknologi agritech di Indonesia, terdapat beberapa aktor sosial utama yang terlibat dalam proses konstruksi sosial teknologi:
Petani (komunitas lokal)
Petani merupakan pengguna utama teknologi agritech. Mereka menafsirkan teknologi berdasarkan pengalaman, tradisi bertani, tingkat pendidikan, serta kondisi sosial-ekonomi. Penolakan sering muncul karena teknologi dianggap bertentangan dengan nilai lokal, terlalu rumit, atau tidak memberikan manfaat langsung.
Pemerintah (pusat dan daerah)
Pemerintah berperan sebagai pembuat kebijakan dan fasilitator inovasi melalui program digitalisasi pertanian. Namun, pendekatan yang cenderung top-down seringkali mengabaikan konteks sosial dan budaya lokal, sehingga menimbulkan resistensi.
Pengembang teknologi / startup agritech
Aktor ini membawa perspektif teknologis dan efisiensi modern. Mereka sering mendefinisikan teknologi sebagai solusi universal, padahal kondisi pertanian Indonesia sangat beragam.
Penyuluh pertanian dan LSM
Berperan sebagai mediator antara teknologi dan petani. Keberhasilan adopsi sangat bergantung pada kemampuan aktor ini dalam menerjemahkan teknologi ke dalam praktik lokal.
Pasar dan lembaga keuangan
Akses modal, harga produk, dan insentif ekonomi turut memengaruhi penerimaan teknologi oleh petani.
2. Interpretative Flexibility dalam Konteks Agritech di Indonesia (Pendekatan SCP/SCOT)
Interpretative flexibility merujuk pada kenyataan bahwa satu teknologi dapat ditafsirkan secara berbeda oleh aktor sosial yang berbeda.
Dalam konteks agritech:
Pengembang teknologi menafsirkan drone, IoT, dan aplikasi digital sebagai alat peningkat produktivitas dan efisiensi.
Pemerintah melihat teknologi sebagai instrumen modernisasi dan ketahanan pangan nasional.
Petani sering menafsirkan teknologi sebagai:
Ancaman terhadap tradisi bertani,
Beban tambahan karena biaya dan kompleksitas,
Teknologi yang “tidak cocok” dengan kondisi lahan, cuaca, dan skala usaha kecil.
Perbedaan penafsiran ini menyebabkan proses adopsi tidak berjalan mulus. Selama belum tercapai kesepahaman makna dan manfaat teknologi, fleksibilitas interpretasi tetap tinggi dan stabilisasi teknologi belum tercapai.
3. Analisis Kritis: Peran Kekuasaan Sosial dan Budaya Lokal
Kekuasaan sosial dan budaya lokal sangat memengaruhi keberhasilan adopsi teknologi agritech:
Relasi kekuasaan top-down
Program teknologi sering dipaksakan melalui kebijakan tanpa partisipasi petani. Hal ini menciptakan ketimpangan kuasa antara pembuat kebijakan dan pengguna teknologi.
Otoritas budaya dan tokoh lokal
Tokoh adat, ketua kelompok tani, dan pemuka desa memiliki pengaruh besar. Jika mereka menolak atau ragu, adopsi teknologi cenderung gagal meskipun teknologinya unggul.
Pengetahuan lokal vs pengetahuan teknis
Pengetahuan tradisional sering dianggap inferior dibandingkan pengetahuan teknis modern, padahal justru menjadi dasar praktik pertanian berkelanjutan. Ketika teknologi mengabaikan pengetahuan lokal, resistensi muncul sebagai bentuk perlindungan identitas budaya.
Dengan demikian, kegagalan adopsi bukan semata-mata karena teknologi kurang canggih, tetapi karena ketidaksesuaian sosial dan budaya.
4. Rekomendasi Strategi Implementasi Agritech Berbasis Prinsip SCP/SCOT
Agar teknologi agritech dapat diterima oleh komunitas lokal, strategi berikut perlu diterapkan:
Pendekatan Partisipatif (Co-construction of Technology)
Petani harus dilibatkan sejak tahap perancangan, uji coba, hingga evaluasi teknologi.
Adaptasi Teknologi terhadap Konteks Lokal
Teknologi harus fleksibel terhadap:
Skala lahan kecil,
Kondisi geografis dan iklim,
Kearifan lokal dan pola tanam tradisional.
Penguatan Peran Mediator Sosial
Penyuluh pertanian dan tokoh lokal perlu diberdayakan sebagai translator antara teknologi dan budaya.
Demonstrasi Manfaat Nyata
Pilot project berbasis komunitas lebih efektif daripada kebijakan massal. Keberhasilan lokal dapat membentuk kepercayaan kolektif.
Distribusi Kekuasaan yang Lebih Seimbang
Kebijakan agritech harus memberi ruang negosiasi antara pemerintah, pengembang teknologi, dan petani, bukan bersifat instruktif semata.
Kesimpulan
Dalam perspektif SCP/SCOT, teknologi agritech bukanlah entitas netral, melainkan hasil konstruksi sosial yang dipengaruhi oleh nilai, kekuasaan, dan budaya. Keberhasilan adopsi teknologi pertanian digital di Indonesia sangat bergantung pada kemampuan aktor-aktor sosial untuk menyelaraskan makna teknologi dengan kebutuhan dan identitas komunitas lokal. Dengan pendekatan yang inklusif dan kontekstual, agritech dapat menjadi alat pemberdayaan, bukan sumber konflik sosial.