Posts made by AZZAHRA MELANI PUTRI DANIA

DMP26 -> Tugas Individu

by AZZAHRA MELANI PUTRI DANIA -
Nama: Azzahra Melani Putri Dania
NPM : 2623031007

Model desain pembelajaran Dick & Carey merupakan model yang sistematis karena memandang pembelajaran sebagai suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling berkaitan, mulai dari identifikasi tujuan pembelajaran, analisis kebutuhan peserta didik, pengembangan instrumen penilaian, strategi pembelajaran, hingga evaluasi dan revisi pembelajaran.
Kekuatan model Dick & Carey terletak pada langkah-langkahnya yang sistematis, terstruktur, dan saling berkaitan. Model ini membantu pendidik atau pengembang pembelajaran untuk tidak hanya berfokus pada materi dan metode mengajar, tetapi juga mempertimbangkan karakteristik peserta didik, tujuan pembelajaran, kemampuan awal, strategi pembelajaran, serta evaluasi hasil belajar. Selain itu, adanya evaluasi formatif dan revisi memungkinkan pembelajaran diperbaiki sebelum diterapkan secara lebih luas. Model ini juga dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai jenis pembelajaran, baik pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran berbasis teknologi atau digital.
Sementara itu, keterbatasan model Dick & Carey adalah prosesnya relatif panjang dan membutuhkan waktu serta perencanaan yang cukup banyak karena pengembang harus melalui berbagai tahapan secara sistematis. Model ini juga dapat terasa kompleks bagi pendidik yang belum terbiasa dengan desain pembelajaran, terutama ketika harus melakukan analisis kebutuhan, analisis pembelajaran, penyusunan instrumen, dan evaluasi secara mendalam. Selain itu, penerapan model secara terlalu kaku dapat mengurangi fleksibilitas dalam menghadapi kondisi pembelajaran yang berubah dengan cepat. Dalam konteks pembelajaran digital yang dinamis, pengembang terkadang perlu melakukan penyesuaian terhadap tahapan atau komponen model agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan perkembangan teknologi.

PKD IPS26 -> Diskusi

by AZZAHRA MELANI PUTRI DANIA -
Nama : Azzahra Melani Putri Dania
NPM :2623031007

Menurut saya, degradasi nilai-nilai sosial pada generasi muda tidak semata-mata disebabkan oleh kemajuan teknologi, tetapi lebih karena ketidaksiapan individu, keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara bijak. Kemajuan teknologi memberikan kemudahan akses informasi, komunikasi, dan hiburan, namun juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran hoaks, budaya instan, individualisme, cyberbullying, serta menurunnya interaksi sosial secara langsung. Akibatnya, nilai-nilai seperti empati, kepedulian, tanggung jawab, dan gotong royong dapat mengalami penurunan apabila tidak dibarengi dengan pendidikan karakter yang kuat. Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, saya memandang bahwa pembelajaran IPS harus menjadi sarana untuk menanamkan kesadaran sosial, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi harus memberikan pengalaman nyata melalui diskusi isu sosial, proyek kolaboratif, kegiatan pengabdian masyarakat, serta pemanfaatan teknologi secara produktif dan etis. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Kemajuan teknologi yang semakin canggih memang sering terlihat berbanding terbalik dengan moralitas masyarakat karena perkembangan teknologi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perkembangan karakter dan etika manusia. Teknologi pada dasarnya bersifat netral; baik atau buruknya dampak yang muncul bergantung pada cara manusia menggunakannya. Oleh karena itu, solusi yang perlu dikembangkan adalah mengintegrasikan pendidikan karakter, pendidikan moral, dan literasi digital ke dalam pembelajaran IPS agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk kebaikan bersama, memperkuat hubungan sosial, serta berkontribusi secara positif dalam kehidupan bermasyarakat di era digital.

DMP26 -> Summary Video

by AZZAHRA MELANI PUTRI DANIA -
Azzahra Melani Putri Dania
NPM 2623031007

Video pembelajaran dari kanal celotehTP yang berjudul “ADDIE: Model Desain Pembelajaran Generik” menjelaskan tentang dasar-dasar perancangan sistem pembelajaran (Instructional System Design atau ISD) yang menjadi landasan penting bagi seorang perancang pembelajaran (instructional designer). Dalam video tersebut dijelaskan bahwa model ADDIE merupakan kerangka kerja generik yang menjadi fondasi bagi berbagai model desain pembelajaran yang berkembang hingga saat ini. ADDIE terdiri atas lima tahapan utama, yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Pada tahap Analysis, perancang melakukan identifikasi kebutuhan pembelajaran, karakteristik peserta didik, tujuan yang ingin dicapai, serta berbagai aspek pendukung seperti waktu, biaya, dan lingkungan belajar. Tahap ini sangat penting karena menjadi dasar dalam menentukan arah dan strategi pembelajaran yang akan dikembangkan. Selanjutnya, pada tahap Design, perancang mulai menyusun tujuan pembelajaran, menentukan strategi instruksional, memilih media yang sesuai, serta merancang bentuk asesmen yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar peserta didik.
Tahap berikutnya adalah Development, yaitu proses mengembangkan dan memproduksi berbagai bahan ajar serta media pembelajaran yang telah dirancang sebelumnya. Produk yang dihasilkan dapat berupa modul, presentasi, video pembelajaran, maupun media interaktif lainnya. Setelah produk selesai dikembangkan, tahap Implementation dilakukan dengan menerapkan program pembelajaran dalam situasi nyata, baik melalui pembelajaran tatap muka, pembelajaran daring (e-learning), maupun program pelatihan tertentu. Selanjutnya, tahap Evaluation bertujuan untuk menilai efektivitas program pembelajaran dan tingkat pencapaian hasil belajar peserta didik. Evaluasi dapat dilakukan secara formatif selama proses berlangsung maupun secara sumatif setelah program selesai dilaksanakan.
Selain membahas model ADDIE, video ini juga menjelaskan bahwa setiap model ISD memiliki karakteristik dan alur kerja yang berbeda sesuai dengan kebutuhan penggunaannya. Contohnya adalah model prosedural seperti Florida State University ISD yang menggunakan tahapan yang sistematis dan berurutan, sehingga cocok diterapkan pada lingkungan yang membutuhkan standar dan ketelitian tinggi, seperti pelatihan militer. Sebaliknya, model Kemp dan Morrison menggunakan pendekatan siklikal yang lebih fleksibel karena memungkinkan perancang memulai dari tahap mana saja dan melakukan revisi secara berkelanjutan berdasarkan hasil evaluasi. Video ini juga memperkenalkan Integrative Learning Design Framework (ILDF) yang dikembangkan oleh Dabbagh dan Bannan-Ritland untuk merancang sistem pembelajaran daring melalui tahapan Exploration, Enactment, dan Evaluation. Pada bagian akhir, pemateri menekankan pentingnya penguasaan beberapa model desain pembelajaran oleh seorang instructional designer agar mampu memilih model yang paling sesuai dengan kebutuhan dan konteks pembelajaran. Sebagai bentuk penerapan materi, mahasiswa diberikan tugas untuk merancang proyek sistem pembelajaran daring menggunakan model ILDF sebagai bagian dari penguasaan model-model desain pembelajaran yang dipelajari selama perkuliahan.

PKD IPS26 -> Diskusi

by AZZAHRA MELANI PUTRI DANIA -
Azzahra Melani Putri Dania
NPM 2623031007

Di era Revolusi Industri 4.0, pengembangan keterampilan sosial menjadi sangat penting karena kemajuan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga cara berinteraksi, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah. Meskipun berbagai pekerjaan mulai dibantu oleh kecerdasan buatan dan otomatisasi, kemampuan manusia dalam berkomunikasi, bekerja sama, berempati, bernegosiasi, serta membangun hubungan sosial tetap menjadi kompetensi yang sulit digantikan oleh teknologi. Dunia kerja dan kehidupan masyarakat saat ini menuntut individu yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan literasi digital, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan, menghargai keberagaman, serta bekerja dalam tim yang terdiri dari berbagai latar belakang budaya dan pemikiran.
Dalam konteks tersebut, sekolah memiliki peran strategis untuk mengembangkan keterampilan sosial peserta didik sejak dini. Pembelajaran tidak lagi cukup berfokus pada penguasaan materi dan pencapaian nilai akademik semata, melainkan harus memberikan pengalaman nyata yang mendorong interaksi sosial dan kolaborasi. Guru perlu mengemas pembelajaran yang berpusat pada peserta didik melalui model-model seperti Problem Based Learning, Project Based Learning, Cooperative Learning, dan pembelajaran berbasis diskusi. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar mengemukakan pendapat, mendengarkan pandangan orang lain, menyelesaikan konflik, mengambil keputusan bersama, dan bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Selain itu, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran perlu diarahkan sebagai sarana untuk memperkuat interaksi sosial, bukan menggantikannya. Penggunaan platform digital, forum diskusi daring, proyek kolaboratif berbasis teknologi, dan pembelajaran berbasis komunitas dapat menjadi media bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan kerja sama dalam lingkungan yang lebih luas. Sekolah juga perlu membangun budaya yang menghargai toleransi, empati, kepemimpinan, dan partisipasi aktif agar peserta didik siap menghadapi tantangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks.
Dengan demikian, urgensi pengembangan keterampilan sosial di era 4.0 terletak pada kebutuhan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga mampu menjalin hubungan sosial yang sehat, beradaptasi terhadap perubahan, serta berkontribusi secara positif dalam masyarakat. Pembelajaran yang kolaboratif, kontekstual, dan berbasis pengalaman menjadi salah satu kunci utama untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian dan perubahan yang cepat.