Diskusi

Diskusi

Number of replies: 18

Coba kemukakan disini pandangan-pandangan anda tentang urgensi pengembangan keterampilan sosial di era 4.0 dan bagaimana seharusnya pembelajaran dikemas dalam persekolahan untuk mengantisipasi kehidupan yang semakin dinamis.

In reply to First post

Re: Diskusi

by Ina Yaturrohmah -
Assalamualaikum wr.wb selamat siang ibu saya Ina yaturrohmah izin menanggapi pandangan diatas bahwasannya Pengembangan keterampilan sosial di era 4.0 sangat penting karena perkembangan teknologi tidak hanya membutuhkan kemampuan digital, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, dan beradaptasi. Pembelajaran di sekolah perlu dikemas secara aktif dan kontekstual melalui diskusi, kerja kelompok, pemecahan masalah, serta pemanfaatan teknologi secara bijak. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memiliki kecakapan akademik, tetapi juga mampu menghadapi perubahan sosial dan dunia kerja yang semakin dinamis.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Nur Rachma Liani -
Assalamuallaikum wr.wb
izin menanggapi bu
Nama: Nur Rachma Lini
NPM : 2623031012

menurut saya di Era Revolusi Industri 4.0 membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan melalui perkembangan teknologi digital, otomatisasi, dan kecerdasan buatan. Dalam kondisi ini, keberhasilan individu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik dan penguasaan teknologi, tetapi juga oleh keterampilan sosial seperti komunikasi, kerja sama, empati, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi.
Keterampilan sosial menjadi semakin penting karena teknologi dapat menggantikan pekerjaan yang bersifat rutin, tetapi kemampuan manusia dalam membangun hubungan, menyelesaikan konflik, bekerja dalam tim, dan mengambil keputusan secara bijak tetap menjadi keunggulan utama. Oleh karena itu, pendidikan perlu mempersiapkan peserta didik agar tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter dan kemampuan sosial yang kuat.

Pembelajaran di sekolah perlu dikemas secara lebih aktif, kontekstual, dan kolaboratif melalui pendekatan seperti project-based learning (pbl), problem-based learning (pbl), diskusi kelompok, dan kegiatan yang melibatkan pemecahan masalah nyata. Guru perlu berperan sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang mendorong komunikasi, kreativitas, kolaborasi, serta pemanfaatan teknologi secara bijak.

Dengan demikian, pendidikan di era 4.0 harus mampu menyeimbangkan antara kompetensi digital dan kompetensi manusia. Sekolah tidak hanya bertugas mencetak generasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga individu yang memiliki kepedulian sosial, kemampuan beradaptasi, dan karakter yang kuat untuk menghadapi kehidupan yang semakin dinamis.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Santa Feni Brigita -
Selamat siang Bu, Izin menanggapi bu,
Nama: Santa Feni Brigita
Npm:2623031005

Menurut pandangan saya, pengembangan keterampilan sosial di era 4.0 sangat penting karena perkembangan teknologi membuat kehidupan semakin cepat, terbuka, dan dinamis. Peserta didik tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan menguasai teknologi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, memecahkan masalah, beradaptasi, serta menghargai perbedaan. Keterampilan sosial membantu siswa berinteraksi dengan orang lain secara baik, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat.

Pembelajaran di sekolah seharusnya dikemas lebih aktif, kreatif, dan kontekstual. Guru dapat menggunakan metode diskusi, kerja kelompok, presentasi, proyek, permainan edukatif, dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Teknologi digital juga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran agar siswa terbiasa mencari informasi, berdiskusi, dan menggunakan teknologi secara bijak.

Dengan pembelajaran seperti ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga belajar bertanggung jawab, percaya diri, menghargai pendapat orang lain, dan mampu bekerja sama. Hal tersebut penting untuk mempersiapkan siswa menghadapi perubahan dunia kerja dan kehidupan sosial yang terus berkembang. Jadi, pendidikan di era 4.0 harus menyeimbangkan kemampuan akademik, keterampilan teknologi, dan keterampilan sosial agar peserta didik menjadi pribadi yang mandiri, adaptif, dan mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Rejeki Charistias Siregar -
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu dan teman-teman..
Nama: Rejeki Charistias Siregar
NPM: 2623031019

Saat ini era 4.0 adalah era yang mengutamakan digitalisasi di berbagai bidang, dalam perkembangan keterampilan sosial hak itu mampu mempengaruhi kepada kemampuan masyarakat untuk mampu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya secara langsung. Salah satu kemudahan digitalisasi di era 4.0 adalah kemudahan untuk berinteraksi melalui jarak jauh, hal tersebut sangat bermanfaat namun hal tersebut juga akan berpengaruh terhadap kemampuan interaksi seseorang secara langsung dimana ketika seseorang lebih nyaman dengan berinteraksi melalui media digital dibandingkan dengan interaksi langsung.
Oleh karena itu pengembangan keterampilan sosial harus tetap dipelajari dalam dunia pendidikan, pembelajaran yang dilakukan di sekolah harus mengutamakan interaksi secara langsung antara seluruh masyarakat kelas. Kolaborasi antara guru dan murid harus terus dilakukan agar proses pembelajaran dapat berjalan secara menyeluruh bukan hanya mengutamakan nilai akhir saja, namun keterampilan dasar peserta didik bisa tetap terjaga dan terus berkembang
In reply to First post

Re: Diskusi

by Vilia Ariana -
Assalamualaikum Ibu saya Vilia Ariana dengan NPM 2623031010 izin berdiskusi


Menurut saya, keterampilan sosial semakin penting untuk dikembangkan di era 4.0 karena kemajuan teknologi membuat cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi mengalami banyak perubahan. Siswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik dan mampu menggunakan teknologi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, menghargai perbedaan, berpikir kritis, serta menyelesaikan masalah dengan orang lain. Keterampilan tersebut menjadi bekal penting agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan perubahan dan menghadapi kehidupan sosial maupun dunia kerja yang semakin dinamis.

Karena itu, pembelajaran di sekolah sebaiknya tidak hanya berpusat pada guru dan materi, tetapi memberi lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk aktif berinteraksi. Pembelajaran dapat dikemas melalui diskusi, kerja kelompok, proyek, pemecahan masalah, dan kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga belajar bertanggung jawab, bekerja sama, berkomunikasi, dan mengambil keputusan dalam menghadapi berbagai situasi.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Ferdi yansyah -
Menurut pandangan saya, keterampilan sosial di era 4.0 sangat penting karena peserta didik tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik dan teknologi, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, dan beradaptasi.

Dalam pembelajaran Geografi contohnya, pada materi mitigasi bencana, guru dapat memberikan masalah tentang banjir atau longsor di lingkungan sekitar. Peserta didik bekerja dalam kelompok untuk mencari informasi, mengidentifikasi penyebab, membuat peta sederhana daerah rawan bencana, dan merancang solusi mitigasi. Hasilnya kemudian dipresentasikan dan didiskusikan bersama.

Pembelajaran seperti ini membuat peserta didik tidak hanya memahami konsep Geografi, tetapi juga terlatih dalam komunikasi, kerja sama, pemecahan masalah, dan penggunaan teknologi. Oleh karena itu, pembelajaran Geografi sebaiknya dikemas secara kontekstual, kolaboratif, dan berbasis masalah agar peserta didik lebih siap menghadapi kehidupan yang terus berubah.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Ucep Saifulloh -
Assalamu'alaikum wr wb
Selamat siang Ibu, Perkenalkan
Nama : Ucep Saifulloh
NPM : 2623031008

Mohon izin untuk menanggapi studi kasus yang sudah disediakan, menurut pandangan saya terkait pengembangan keterampilan sosial di era 4.0 sangat penting karena perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mengubah cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi. Murid saat ini tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik atau mampu menggunakan teknologi. Mereka juga perlu memiliki kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, menghargai perbedaan, berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan.

Selain itu, kemajuan teknologi memang membuat banyak pekerjaan menjadi lebih mudah, tetapi di sisi lain dapat membuat interaksi antarmanusia semakin berkurang jika tidak diimbangi dengan kemampuan sosial. Karena itu, sekolah memiliki peran penting untuk membentuk murid yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga mampu bergaul, bekerja dalam tim, bertanggung jawab, dan memiliki empati terhadap orang lain.

Menurut saya, pembelajaran di sekolah juga perlu dikemas lebih kontekstual dan tidak hanya berpusat pada guru. Murid perlu diberi kesempatan untuk berdiskusi, bekerja kelompok, melakukan proyek, memecahkan masalah nyata di lingkungan sekitar, melakukan penelitian sederhana, serta menyampaikan pendapatnya. Dengan cara tersebut, murid belajar berkomunikasi, menghargai pendapat orang lain, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya. Adapun teknologi sebaiknya tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus dijauhkan dari pembelajaran, tetapi digunakan secara bijak sebagai alat untuk belajar. Guru dapat mengarahkan murid agar teknologi digunakan untuk mencari informasi, membuat karya, berkolaborasi, dan mengembangkan kreativitas, bukan hanya untuk hiburan.

Jadi, menghadapi kehidupan yang semakin dinamis, sekolah perlu menyeimbangkan kemampuan akademik, keterampilan sosial, karakter, dan literasi teknologi. Pendidikan seharusnya tidak hanya mempersiapkan murid untuk lulus ujian, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan nyata yang penuh perubahan dan membutuhkan kemampuan untuk terus belajar, bekerja sama, dan beradaptasi.

Demikian pandangan atau pendapat saya, Ibu. Terkait studi kasus yang telah disediakan.
Mohon maaf apabila terdapat kekurangan,
Terima Kasih
Wassalamu'alaikum wr wb
In reply to First post

Re: Diskusi

by Redo Redo -
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu dan teman-teman..
Nama: Redo
NPM: 2623031016

Di era Revolusi Industri 4.0, keterampilan sosial menjadi kompetensi yang semakin mendesak untuk dikembangkan, justru karena otomatisasi dan kecerdasan buatan mengambil alih pekerjaan-pekerjaan rutin-teknis, sementara kemampuan yang tidak bisa digantikan mesin seperti empati, kolaborasi, komunikasi lintas budaya, dan kecerdasan emosional justru semakin bernilai di pasar kerja. Urgensi ini diperkuat oleh fenomena fragmentasi sosial akibat interaksi bermedia layar yang intens sejak usia dini, serta kompleksitas masalah global (perubahan iklim, disinformasi, konflik sosial) yang menuntut kemampuan bekerja sama lintas perspektif, bukan sekadar kecerdasan kognitif individual.

Untuk mengantisipasi kehidupan yang makin dinamis ini, pembelajaran di sekolah perlu dikemas ulang secara mendasar. Pendekatan harus bergeser dari tugas individual ke pembelajaran kolaboratif berbasis proyek yang menuntut pembagian peran dan resolusi konflik nyata; keterampilan sosial-emosional perlu diintegrasikan ke seluruh mata pelajaran, bukan berdiri sendiri sebagai pelengkap; dan siswa perlu ruang latihan autentik melalui debat, simulasi mediasi, serta presentasi lintas kelompok. Penilaian pun harus bertransformasi dari ujian individual menjadi rubrik kolaborasi, portofolio proses, dan refleksi diri/teman sebaya, sementara peran guru berubah dari sumber informasi tunggal menjadi fasilitator dialog dan mediator interaksi antarsiswa.

Pada akhirnya, teknologi digital sebaiknya diposisikan sebagai alat kolaborasi misalnya proyek lintas sekolah atau negara bukan pengganti interaksi tatap muka yang tetap harus dijaga porsinya. Dengan demikian, sekolah masa depan tidak lagi sekadar tempat transfer pengetahuan, melainkan laboratorium sosial yang membentuk siswa menjadi individu yang mampu berempati, bekerja sama, dan kompetensi inti yang justru semakin berharga di tengah dunia yang kian tergantung pada mesin.

Terima kasih, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. 
In reply to First post

Re: Diskusi

by 2623031006 2623031006 -
Nama : Topik sanjaya
Npm : 26231006
Izin menjawab buk Menurut saya, pengembangan keterampilan sosial menjadi semakin urgen di era Revolusi Industri 4.0 karena kemajuan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mengubah cara manusia berkomunikasi, belajar, berkolaborasi, dan mengambil keputusan. Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga perlu membentuk individu yang mampu beradaptasi dan berinteraksi secara sehat dalam lingkungan yang terus berubah.

1. Urgensi keterampilan sosial di era 4.0
Era 4.0 ditandai dengan perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, internet, big data, dan komunikasi digital. Banyak pekerjaan yang bersifat rutin semakin mudah dilakukan oleh teknologi. Dalam kondisi tersebut, kemampuan manusia yang berkaitan dengan empati, komunikasi, kerja sama, kreativitas, kepemimpinan, penyelesaian konflik, dan kemampuan memahami orang lain menjadi semakin penting.

Keterampilan sosial diperlukan setidaknya karena beberapa alasan.

Pertama, manusia tetap membutuhkan manusia lain. Teknologi dapat mempercepat komunikasi, tetapi tidak sepenuhnya menggantikan kemampuan manusia untuk memahami perasaan, membangun kepercayaan, dan menciptakan hubungan sosial. Peserta didik perlu belajar bagaimana menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain, mendengarkan pendapat yang berbeda, dan bekerja dalam kelompok yang memiliki latar belakang serta karakter yang beragam.

Kedua, kehidupan digital menuntut kecakapan sosial yang baru. Interaksi tidak hanya berlangsung secara langsung, tetapi juga melalui media sosial dan berbagai platform digital. Karena itu, siswa perlu memiliki etika komunikasi digital, kemampuan menyaring informasi, menghargai privasi, serta memahami konsekuensi dari apa yang mereka sampaikan di ruang digital.

Ketiga, dunia kerja semakin kolaboratif. Seseorang mungkin memiliki kemampuan akademik yang tinggi, tetapi tetap membutuhkan kemampuan bekerja sama, bernegosiasi, memecahkan masalah bersama, dan menerima kritik. Dengan demikian, pendidikan perlu mempersiapkan siswa bukan hanya untuk "mengetahui sesuatu", tetapi juga untuk melakukan sesuatu bersama orang lain.

2. Bagaimana pembelajaran seharusnya dikemas?
Menurut saya, pembelajaran di sekolah perlu bergeser dari model yang terlalu berpusat pada guru dan hafalan menuju pembelajaran yang aktif, kolaboratif, kontekstual, dan berorientasi pada pemecahan masalah.

Misalnya, daripada siswa hanya mempelajari teori tentang pencemaran lingkungan, guru dapat memberikan persoalan nyata di lingkungan sekitar sekolah. Siswa kemudian bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi masalah, mencari informasi, berdiskusi, menyusun alternatif solusi, dan mempresentasikan hasilnya. Dalam proses tersebut, siswa memperoleh pengetahuan sekaligus melatih komunikasi, kerja sama, tanggung jawab, kreativitas, dan pengambilan keputusan.

Beberapa pendekatan yang dapat dikembangkan antara lain:

Project-based learning — siswa mengerjakan proyek nyata secara individu maupun kelompok.

Problem-based learning — pembelajaran dimulai dari persoalan yang dekat dengan kehidupan siswa.

Collaborative learning — siswa belajar melalui kerja sama, diskusi, dan pembagian tanggung jawab.

Experiential learning — pengalaman langsung dijadikan bagian penting dari proses belajar.

Pembelajaran berbasis teknologi — teknologi digunakan sebagai sarana mencari informasi, berkreasi, berkomunikasi, dan menghasilkan karya, bukan sekadar sebagai pengganti buku atau papan tulis.

3. Guru tidak lagi sekadar menjadi sumber informasi
Dalam kehidupan yang dinamis, pengetahuan berkembang sangat cepat. Karena itu, guru tidak mungkin menjadi satu-satunya sumber pengetahuan bagi siswa. Peran guru perlu semakin kuat sebagai fasilitator, pembimbing, motivator, dan pengarah proses belajar.

Guru membantu siswa belajar bagaimana mencari informasi yang benar, membandingkan berbagai sumber, berpikir kritis, mengemukakan argumentasi, dan mempertanggungjawabkan keputusan mereka.

Hal ini juga berarti bahwa kesalahan dalam proses belajar tidak selalu harus dipandang sebagai kegagalan. Kesalahan dapat menjadi bahan refleksi agar siswa memahami bagaimana memperbaiki proses berpikir dan tindakannya.

4. Sekolah harus menjadi ruang latihan kehidupan
Sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk mendapatkan nilai, tetapi juga menjadi laboratorium kehidupan sosial. Siswa perlu mengalami secara langsung bagaimana menghadapi perbedaan pendapat, menyelesaikan konflik, bekerja dalam kelompok, memimpin, dipimpin, menerima kegagalan, dan bertanggung jawab atas keputusan.

Karena itu, kegiatan organisasi siswa, kerja kelompok, diskusi, kegiatan sosial, olahraga, seni, dan proyek bersama sebenarnya memiliki nilai pendidikan yang besar. Kegiatan tersebut melatih aspek yang sering tidak dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran berbasis ceramah.

5. Penilaian juga perlu berubah
Jika sekolah ingin mengembangkan keterampilan sosial, maka yang dinilai tidak seharusnya hanya kemampuan mengingat materi. Penilaian dapat mencakup kemampuan berkomunikasi, kerja sama, kreativitas, pemecahan masalah, tanggung jawab, refleksi diri, dan kemampuan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata.

Portofolio, proyek, presentasi, observasi, penilaian diri, dan penilaian teman sebaya dapat digunakan sebagai pelengkap ujian tertulis.

Kesimpulan
Pada akhirnya, pendidikan di era 4.0 bukan berarti pendidikan harus semakin bergantung pada teknologi. Justru perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan kualitas kemanusiaan. Semakin canggih teknologi, semakin penting pula manusia memiliki kemampuan untuk berempati, bekerja sama, berpikir kritis, berkomunikasi, dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, sekolah idealnya tidak hanya mempersiapkan siswa untuk menghadapi ujian, tetapi mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan. Pembelajaran perlu dikemas sebagai proses yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan sekaligus mengalami, mempraktikkan, berkolaborasi, memecahkan masalah, dan merefleksikan pengalaman. Dengan cara itu, peserta didik tidak hanya menjadi orang yang tahu, tetapi juga menjadi orang yang mampu beradaptasi dan hidup bersama orang lain dalam masyarakat yang semakin dinamis.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Dika Yumanda 2623031015 -
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu.
Nama: Dika Yumanda
NPM: 2623031015
Mohon izin memberikan pandangan terkait pentingnya pengembangan keterampilan sosial era 4.0

Menurut pandangan saya, keterampilan sosial semakin penting di era 4.0 karena perkembangan teknologi dan AI membuat kehidupan semakin cepat, terbuka, dan dinamis. Peserta didik tidak cukup hanya menguasai pengetahuan dan teknologi, tetapi juga harus mampu berkomunikasi, berkolaborasi, berempati, beradaptasi, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan konflik. Hal ini dikarenakan, era 4.0 ditandai oleh perkembangan artificial intelligence, internet of things, big data, otomatisasi, media sosial, dan berbagai bentuk teknologi digital. Kondisi tersebut memberikan kemudahan luar biasa dalam memperoleh informasi dan berkomunikasi. Namun, di sisi lain, interaksi yang semakin banyak berlangsung melalui ruang digital dapat menimbulkan persoalan sosial, seperti berkurangnya kualitas interaksi tatap muka, kesalahpahaman dalam komunikasi, penyebaran informasi yang tidak benar, intoleransi di ruang digital, hingga kecenderungan individualisme.
Dalam konteks tersebut, keterampilan sosial berfungsi sebagai modal manusia untuk menggunakan teknologi secara manusiawi. Peserta didik perlu memahami bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan bagaimana teknologi digunakan sangat bergantung pada nilai, karakter, dan kemampuan sosial penggunanya.
Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah sebaiknya tidak hanya berpusat pada ceramah dan hafalan, tetapi dikemas melalui pembelajaran kolaboratif, kontekstual, berbasis proyek dan masalah, serta memanfaatkan teknologi secara bijak. Peserta didik perlu diberikan pengalaman nyata untuk berdiskusi, bekerja dalam kelompok, memecahkan persoalan, dan melakukan refleksi. Sehingga, sekolah harus bergeser dari "transfer pengetahuan" menuju pengalaman belajar,yang dalam hal ini dapat digunakan pendekatan yang relevan adalah collaborative learning. Peserta didik perlu sering dihadapkan pada tugas yang mengharuskan mereka bekerja dalam kelompok melalui pembelajaran kontekstual.
Dengan demikian, sekolah harus mempersiapkan peserta didik bukan hanya untuk cerdas secara akademik dan digital, tetapi juga mampu berinteraksi dan beradaptasi dengan kehidupan sosial yang terus berubah.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Cica Gafu Arta -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, selamat siang ibu izin memperkenal diri :
Nama : Cica Gafu Arta
NPM : 2623031009
Menurut saya, pengembangan keterampilan sosial di era 4.0 sangat penting karena perkembangan teknologi tidak hanya mengubah cara belajar dan bekerja, tetapi juga cara manusia berinteraksi. Siswa perlu memiliki kemampuan komunikasi, kerja sama, adaptasi, berpikir kritis, dan menyelesaikan masalah. Pembelajaran di sekolah sebaiknya tidak hanya berfokus pada materi dan nilai, tetapi juga pada pengalaman nyata melalui diskusi, kerja kelompok, proyek, dan pemecahan masalah. Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai pendukung, namun tetap diimbangi dengan interaksi sosial. Dengan demikian, sekolah dapat mempersiapkan siswa agar mampu menghadapi kehidupan yang semakin dinamis tanpa kehilangan kemampuan untuk bekerja sama dan berinteraksi dengan orang lain. Sekian Terimakasih ibu
In reply to First post

Re: Diskusi

by Rindi Adya Molis -
Nama : Rindi Adya Molis
NPM : 2623031017

Menurut saya, keterampilan sosial menjadi semakin penting terutama di era 4.0, karena dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini telah mengubah cara manusia dalam belajar, bekerja, berkomunikasi, serta saat melakukan interaksi. Era 4.0 dicirikan oleh implementasi teknologi yang mutakhir seperti internet, kecerdasan buatan (AI), platform media sosial, dan infrastruktur teknologi yang beragam. Meskipun kemajuan teknologi berkembang pesat, manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain. Dengan semakin banyaknya pekerjaan yang menggunakan teknologi, semakin dibutuhkan juga kemampuan manusia tidak hanya pengetahuan, melainkan kemampuan sosial.
Dalam proses pembelajaran harus dikemas dengan cara yang aktif, fleksibel, kreatif, dan bijak dalam menggukanakan teknologi. Di pembelajaran era 4.0 harus mempersiapkan siswa bukan hanya sekedar mengetahui sesuatu, tetapi juga mampu menggunakan pengetahuan tersebut dalam menghadapi perubahan kehidupan. Sekolah perlu menciptakan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi, kerja sama, melatih keterampilan berpikir kritis siswa, memecahkan masalah, serta perlunya menanamkan pendidikan karakter sejak dini kepada siswa. Dengan demikian, siswa akan lebih siap menghadapi tantangan dalam kehidupan yang terus berubah dan semakin dinamis.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Dewi Rahayu -
Assalamualaikum Wr Wb
Izin menjawab, Ibu
Nama : Dewi Rahayu
NPM : 2623031014

Teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media belajar, tetapi tetap diimbangi dengan pengembangan komunikasi, kerja sama, kreativitas, berpikir kritis, dan kemampuan beradaptasi.

Menurut saya, keterampilan sosial sangat penting di era 4.0 karena peserta didik tidak cukup hanya menguasai teknologi dan pengetahuan, tetapi juga harus mampu berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan masalah dengan orang lain.

Karena kehidupan semakin dinamis, pembelajaran di sekolah sebaiknya tidak hanya berfokus pada hafalan, tetapi lebih banyak melibatkan diskusi, kerja kelompok, proyek, pemecahan masalah, dan kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Dengan begitu, peserta didik tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan sosial dan kesiapan menghadapi perubahan di masa depan.

Contohnya seperti kuis cepat dengan poin dan leaderboard untuk meningkatkan motivasi belajar.
Point & reward peserta didik mendapatkan poin ketika menyelesaikan tugas, aktif berdiskusi, atau membantu kelompok. Dan Juga peserta didik diajak untuk berperan aktif untuk memecahkan kasus nyata di masyarakat

Dengan begitu, peserta didik tidak hanya siap menghadapi pelajaran di sekolah, tetapi juga lebih siap menghadapi perubahan dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
In reply to First post

Re: Diskusi

by Barine Briliance Ikhsan -
Baik ibu, saya Barine Briliance Ikhsan dengan NIM 2623031002 izin memberikan argumen, bahwa di era digital saat ini guru perlu mengkolaborasi teknologi dalam pembelajaran. Namun bukan berarti cukup sampai disitu, keberhasilan belajar bisa dilihat juga dari keterampilan sosial peserta didik. Dengan keterbatasan waktu guru di sekolah, tentu membangun komunikasi lebih lanjut dengan orang tua murid bisa menjadi alternatif solusi. Walaupun terkadang orang tua juga sudah sibuk bekerja. Sebisa mungkin guru melakukan pendekatan kekinian yang membuat anak terbuka tanpa guru harus mengungkapkan semuanya sehingga murid hilang rasa segan. Guru sebisa mungkin memosisikan dirinya dengan bijaksana dan profesional.
In reply to First post

Re: Diskusi

by AZZAHRA MELANI PUTRI DANIA -
Azzahra Melani Putri Dania
NPM 2623031007

Di era Revolusi Industri 4.0, pengembangan keterampilan sosial menjadi sangat penting karena kemajuan teknologi tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga cara berinteraksi, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah. Meskipun berbagai pekerjaan mulai dibantu oleh kecerdasan buatan dan otomatisasi, kemampuan manusia dalam berkomunikasi, bekerja sama, berempati, bernegosiasi, serta membangun hubungan sosial tetap menjadi kompetensi yang sulit digantikan oleh teknologi. Dunia kerja dan kehidupan masyarakat saat ini menuntut individu yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan literasi digital, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan, menghargai keberagaman, serta bekerja dalam tim yang terdiri dari berbagai latar belakang budaya dan pemikiran.
Dalam konteks tersebut, sekolah memiliki peran strategis untuk mengembangkan keterampilan sosial peserta didik sejak dini. Pembelajaran tidak lagi cukup berfokus pada penguasaan materi dan pencapaian nilai akademik semata, melainkan harus memberikan pengalaman nyata yang mendorong interaksi sosial dan kolaborasi. Guru perlu mengemas pembelajaran yang berpusat pada peserta didik melalui model-model seperti Problem Based Learning, Project Based Learning, Cooperative Learning, dan pembelajaran berbasis diskusi. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar mengemukakan pendapat, mendengarkan pandangan orang lain, menyelesaikan konflik, mengambil keputusan bersama, dan bertanggung jawab terhadap tugas kelompok. Selain itu, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran perlu diarahkan sebagai sarana untuk memperkuat interaksi sosial, bukan menggantikannya. Penggunaan platform digital, forum diskusi daring, proyek kolaboratif berbasis teknologi, dan pembelajaran berbasis komunitas dapat menjadi media bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan komunikasi dan kerja sama dalam lingkungan yang lebih luas. Sekolah juga perlu membangun budaya yang menghargai toleransi, empati, kepemimpinan, dan partisipasi aktif agar peserta didik siap menghadapi tantangan kehidupan yang semakin dinamis dan kompleks.
Dengan demikian, urgensi pengembangan keterampilan sosial di era 4.0 terletak pada kebutuhan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga mampu menjalin hubungan sosial yang sehat, beradaptasi terhadap perubahan, serta berkontribusi secara positif dalam masyarakat. Pembelajaran yang kolaboratif, kontekstual, dan berbasis pengalaman menjadi salah satu kunci utama untuk mempersiapkan peserta didik menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian dan perubahan yang cepat.
In reply to First post

Re: Diskusi

by anggun anggrani -
Izin menjawab Bu, saya Anggun Anggrani (2623031001)
Menurut pandangan saya, pengembangan keterampilan sosial menjadi sangat penting di era Revolusi Industri 4.0 karena perkembangan teknologi tidak hanya mengubah bagaimana cara manusia bekerja, namun juga memengaruhi cara belajar, berinteraksi, berkomunikasi dan menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Kemajuan teknologi seperti AI dan berbagai platform digital memang memberikan banyak kemudahan, tetapi manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk berkomunikasi, bekerja sama, berempati, menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik, berpikir kritis, serta beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Oleh karena itu, sekolah tidak seharusnya hanya berfokus pada pengetahuan dan kemampuan akademik, namun juga perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan keterampilan sosial dan karakter. Pembelajaran sebaiknya dilakukan secara aktif, kontekstual, kolaboratif, dan berorientasi pada pemecahan masalah nyata melalui diskusi kelompok, pembelajaran berbasis proyek, praktik, maupun kegiatan yang melibatkan lingkungan dan masyarakat. Dalam proses tersebut, siswa belajar menyampaikan pendapat, mendengarkan orang lain, membagi tugas, bertanggung jawab, bekerja dalam tim, dan menghadapi perbedaan pendapat secara positif. Pemanfaatan teknologi juga perlu diarahkan sebagai media untuk berkreasi, berkolaborasi, berkomunikasi, dan menghasilkan karya yang bermanfaat. Sejalan dengan hal tersebut, peran guru juga perlu berkembang dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator dan pendamping yang membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan bekerja sama. Terimakasih
In reply to First post

Re: Diskusi

by Redha Aulia -
Assalamualaikum Wr. Wb
Nama : Redha Aulia
Npm : 2623031004

Di era Industri 4.0 dan Society 5.0, kecerdasan buatan (AI) dan otomasi dapat menggantikan pekerjaan teknis, tetapi tidak bisa menggantikan kapasitas unik manusia seperti empati, kecerdasan emosional, negosiasi, dan kolaborasi. Keterampilan sosial kini bergeser dari sekadar soft skill menjadi kompetensi inti agar siswa tetap relevan dan memiliki daya tahan di tengah dunia yang dinamis.
Orientasi Pembelajaran di Sekolah
Untuk mengantisipasi perubahan pesat ini, kemasan pembelajaran IPS/persekolahan harus ditransformasi melalui langkah strategis berikut:
Berbasis Masalah Otentik & Kolaboratif (PBL/PjBL):
Ubah kelas dari metode ceramah menjadi wadah diskusi kelompok. Siswa dilatih memecahkan masalah nyata masyarakat agar terbiasa mengelola perbedaan pendapat dan bekerja sama.
Integrasi Social-Emotional Learning (SEL):
Pengembangan empati, kesadaran diri, dan komunikasi aktif harus dirancang secara eksplisit dalam tujuan pembelajaran, bukan sekadar produk sampingan.
Pemanfaatan Teknologi Interaktif:
Gunakan platform digital untuk memperluas ruang kolaborasi dan diskusi, sekaligus menanamkan etika kewargaan digital (digital citizenship).
Asesmen Autentik:
Beralih dari tes hafalan pilihan ganda ke penilaian kinerja kelompok, penilaian sejawat (peer-assessment), dan jurnal reflektif untuk mengukur kemampuan komunikasi serta kepemimpinan siswa.
Pembelajaran Berbasis Komunitas (Community-Based Learning):
Menghubungkan siswa dengan lingkungan sekitar (studi kasus lokal) agar mereka memahami dinamika sosial secara langsung dan mengasah kepedulian sosial.

Kesimpulan: Persekolahan tidak boleh hanya berfokus pada transfer pengetahuan teknis, melainkan harus membekali siswa dengan keterampilan sosial agar menjadi individu yang adaptif, berempati, dan siap menavigasi ketidakpastian masa depan.
In reply to First post

Re: Diskusi

by rofi alwan yazid 2623031020 -
Assalamuallaikum wr.wb
izin menanggapi bu
Nama: rofi alwan yazid
NPM : 2623031020
Menurut saya, keterampilan sosial sangat penting di era 4.0 karena perkembangan teknologi membuat kehidupan semakin cepat dan dinamis. Siswa tidak cukup hanya menguasai teknologi, tetapi juga perlu mampu berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, beradaptasi, dan menghargai perbedaan.
Pembelajaran di sekolah sebaiknya tidak hanya berfokus pada teori, tetapi melibatkan siswa secara aktif melalui diskusi, kerja kelompok, pemecahan masalah, dan proyek yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Penilaian juga perlu mencakup sikap dan keterampilan sosial, bukan hanya hasil tes. Dengan demikian, sekolah dapat membentuk siswa yang adaptif, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi perubahan di masa depan.