Kelas: 25c
Npm : 2553032009
Jika kita lihat materi yang di sampaikan terdapat tiga kasus itu guru diadukan ke polisi, perilaku asusila di kalangan pelajar, dan maraknya narkoba .
1. guru yang ditegur lewat polisi
adalah ironi. Guru, yang semestinya menjadi otoritas moral di sekolah, diperlakukan seolah-olah pelaku kriminal. Hubungan emosional antara orang tua dan sekolah runtuh karena akal sehat digantikan oleh ego yang rapuh. Pendidikan berubah menjadi transaksi, bukan relasi.
2. perilaku asusila di kalangan pelajar
menunjukkan bahwa nilai tidak lagi dipahami sebagai kompas hidup, melainkan dekorasi dalam upacara. Ketika agama hanya jadi hafalan, bukan kesadaran, maka moral kehilangan daya rem. Anak-anak tidak kehilangan pengetahuan, mereka kehilangan arah.
3. penyalahgunaan narkoba
adalah titik paling gelap. Ini bukan lagi sekadar pelanggaran aturan; ini sinyal bahwa generasi muda sedang mencari pelarian dari dunia yang tidak memberi mereka pegangan. Jika sekolah, keluarga, dan masyarakat berjalan sendiri-sendiri, maka narkoba akan selalu lebih cepat mendidik mereka daripada guru.
Jadi, persoalan pendidikan kita bukan hanya soal disiplin, moral, atau hukum. Ini soal karakter bangsa yang perlahan mengalami erosi. Pendidikan seharusnya mengasah nalar, membentuk integritas, dan menumbuhkan empati. Tanpa semua itu, sekolah tinggal bangunan, bukan peradaban. Dan tanpa kerja sama antara rumah, sekolah, dan masyarakat, kita hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik tetapi miskin kebijaksanaan.
Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Bila itu hilang, maka yang tersisa hanyalah administrasi tanpa jiwa, tanpa akal, tanpa arah.