གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Aufa Nabila

Landasan Pendidikan PPKn 2025C -> Penugasan

Aufa Nabila གིས-
Nama : Aufa Fitria Nabila
Kelas : 25 (C)
NPM : 2553032007

KAJIAN KASUS-KASUS DI BIDANG PENDIDIKAN

Kajian kasus di bidang pendidikan sering mengungkap berbagai permasalahan moral, etika, dan perilaku yang memengaruhi dunia pendidikan di Indonesia. Salah satu kasus yang
mendapat perhatian besar adalah guru yang dipolisikan, baik karena dugaan kekerasan,
pelanggaran etika, maupun kesalah pahaman dalam menjalankan tugas. Kasus seperti ini
menunjukkan pentingnya peningkatan profesionalisme guru, pemahaman tentang batas kewenangan pendidik, serta perlunya perlindungan hukum bagi guru. Kajian terhadap kasus ini membantu menyeimbangkan antara hak peserta didik dan kewajiban pendidik dalam
menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bermartabat.

Kasus tindakan asusila di kalangan pelajar menjadi sorotan karena menunjukkan krisis moral dan lemahnya pendidikan karakter. Faktor-faktor penyebabnya meliputi kurangnya
pengawasan dari orang tua, pengaruh negatif media sosial, hingga minimnya pendidikan seks
dan nilai moral di sekolah. Kajian terhadap kasus ini menegaskan pentingnya pendidikan
karakter yang komprehensif, penguatan peran bimbingan konseling, serta kerjasama antara
sekolah, keluarga, dan masyarakat. Upaya preventif seperti penyuluhan, pendidikan etika
digital, dan pembinaan akhlak perlu terus ditingkatkan untuk menekan kasus serupa di masa depan.

Selain itu, kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa menjadi ancaman serius bagi dunia pendidikan. Kajian terhadap kasus ini mengungkap bahwa penyebab utamanya meliputi tekanan lingkungan, rasa ingin tahu, hingga kurangnya kontrol diri dan pengawasan. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan fisik dan mental, tetapi juga pada prestasi akademik serta masa depan generasi muda. Oleh karena itu, lembaga pendidikan perlu memperkuat program pencegahan melalui sosialisasi bahaya narkoba, pembinaan rohani, serta
kolaborasi dengan aparat penegak hukum dan lembaga rehabilitasi. Dengan memahami dan
menanggulangi kasus-kasus ini secara komprehensif, pendidikan dapat kembali berperan sebagai sarana pembentukan karakter dan moral bangsa.

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

Aufa Nabila གིས-
Nama : Aufa Fitria Nabila
Kelas : 25 (C)
NPM : 2553032007

Pendekatan Pendidikan Moral yang Relevan di Indonesia yaitu :

Pendidikan moral merupakan upaya menanamkan nilai, etika, dan sikap yang baik kepada peserta didik agar mereka mampu mengambil keputusan moral secara mandiri. Dalam konteks Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan menjunjung tinggi nilai religius, pendekatan yang paling relevan adalah pendekatan nilai (value-based approach) yang dipadukan dengan pendekatan keteladanan (modeling approach).

Pendekatan nilai menekankan pada internalisasi nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan gotong royong ke dalam diri siswa. Sementara itu, pendekatan keteladanan memperkuat penerapan nilai melalui perilaku nyata guru dan lingkungan sekolah. Kedua pendekatan ini sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi budaya sopan santun, solidaritas sosial, dan spiritualitas.

Alasan Pemilihan Pendekatan:
Pendekatan nilai dan keteladanan dianggap paling relevan karena:
1. Nilai-nilai moral dalam pendidikan Indonesia berakar pada Pancasila dan ajaran agama.
2. Peserta didik lebih mudah menyerap nilai melalui contoh konkret yang ditunjukkan oleh guru dan lingkungan sekitar.
3. Pendekatan ini membangun hubungan emosional antara siswa dan guru sehingga nilai moral lebih mudah diinternalisasi.
4. Cocok dengan budaya Indonesia yang menekankan pentingnya budi pekerti dan karakter dalam kehidupan bermasyarakat.

Contoh Kegiatan Pembelajaran:
Tema: Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari
Mata pelajaran: Pendidikan Pancasila
Kelas: VII SMP

Langkah kegiatan:
• Guru memulai dengan cerita pendek tentang seorang siswa yang menemukan dompet di sekolah.
• Siswa diminta mendiskusikan apa yang seharusnya dilakukan tokoh dalam cerita tersebut.
• Guru mengajak refleksi bersama mengenai arti penting kejujuran dan akibat dari kebohongan.
• Kegiatan dilanjutkan dengan permainan “Kotak Kejujuran”, di mana siswa menulis pengalaman pribadi ketika mereka memilih jujur meski sulit.
• Guru memberikan contoh nyata tentang kejujuran dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat.

Dengan pendekatan ini, pembelajaran moral tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan perilaku nyata siswa. Nilai-nilai moral menjadi bagian dari 

keseharian mereka, bukan hanya hafalan di kelas.


DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

Aufa Nabila གིས-
Nama : Aufa Fitria Nabila
Kelas : 25 (C)
NPM : 2553032007

Ulasan Film “Keluarga Cemara” (2019)
Analisis Dilema Moral, Perkembangan Karakter, dan Nilai Keluarga

1. Sinopsis Singkat
Film Keluarga Cemara disutradarai oleh Yandy Laurens dan diadaptasi dari sinetron legendaris dengan judul yang sama. Film ini menceritakan kehidupan keluarga sederhana yang harus menghadapi perubahan besar ketika sang ayah, Abah, kehilangan seluruh harta bendanya akibat ditipu rekan bisnis. Mereka pun pindah ke kampung dan harus memulai hidup dari awal. Dalam situasi sulit ini, setiap anggota keluarga belajar tentang arti kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan kebersamaan.

2. Dilema Moral dalam Film
a. Abah (Ringgo Agus Rahman) menghadapi dilema moral antara menjaga harga diri dan menerima kenyataan. Setelah bangkrut, Abah harus memilih: mempertahankan gengsi sebagai pengusaha sukses di kota atau menerima hidup sederhana di desa agar keluarganya tetap utuh. Pilihannya untuk kembali ke desa menunjukkan bahwa nilai keluarga lebih penting daripada status sosial.
b. Euis (Adhisty Zara), anak sulung, mengalami dilema moral antara ego remaja dan tanggung jawab keluarga. Ia awalnya marah karena kehilangan kenyamanan hidup dan malu dengan teman-temannya. Namun, ia kemudian belajar mengorbankan keinginannya demi keluarga. Dilema ini menggambarkan pertumbuhan moral dari orientasi diri menuju kesadaran sosial.

3. Analisis Karakter Berdasarkan Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg
Menurut teori Kohlberg, perkembangan moral terdiri dari tiga tingkat: prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional.
Abah berada pada tahap pascakonvensional, terutama tahap “orientasi pada prinsip universal.” Ia bertindak berdasarkan nilai-nilai moral internal seperti kejujuran dan tanggung jawab, bukan sekadar aturan sosial. Ia tetap memilih jujur meski bisnisnya gagal dan menolak cara curang untuk mendapatkan uang kembali.
Euis, pada awal film, berada pada tahap konvensional, yaitu “orientasi pada kesesuaian interpersonal.” Ia berusaha diterima oleh lingkungannya dan takut dinilai rendah. Namun, menjelang akhir film, ia mulai naik ke tahap pascakonvensional dengan menilai bahwa cinta keluarga lebih penting daripada penilaian orang lain.
Emak (Nirina Zubir) mencerminkan stabilitas moral di tahap konvensional tinggi, yang menjunjung nilai tanggung jawab dan kepedulian terhadap keluarga. Ia menjadi penyeimbang antara rasionalitas Abah dan emosi anak-anak.

4. Pesan Moral Film
Film Keluarga Cemara mengajarkan bahwa nilai keluarga adalah fondasi kehidupan yang sesungguhnya. Harta bisa hilang, tapi kasih sayang dan kebersamaan tidak ternilai harganya. Dalam dunia modern yang cenderung materialistis, film ini mengingatkan penontonnya untuk kembali pada nilai-nilai sederhana: kejujuran, kerja keras, dan cinta tanpa syarat.
Konflik utama dalam film bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga krisis identitas dan moral. Abah harus belajar menerima kegagalan tanpa kehilangan martabat. Euis belajar memaknai cinta keluarga lebih dari sekadar kenyamanan materi. Emak menjadi simbol kekuatan perempuan yang tangguh dan penuh kasih, menjaga agar keluarga tidak hancur meski kondisi berubah drastis.
Secara moral, film ini memperlihatkan bahwa keputusan etis sering kali tidak mudah. Abah bisa saja memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang, tetapi ia memilih kejujuran. Ini menunjukkan moralitas tingkat tinggi yang didasarkan pada nilai universal, bukan pada imbalan atau hukuman. Sementara itu, Euis yang awalnya egois berkembang menjadi pribadi yang empatik, mencerminkan proses perkembangan moral remaja menuju kedewasaan.
Pesan yang paling kuat dari film ini adalah pentingnya ketulusan dan kerja sama dalam keluarga. Setiap anggota memiliki peran masing-masing untuk saling menguatkan, bukan menyalahkan. Dalam kondisi serba sulit, nilai seperti saling menghargai, pengorbanan, dan komunikasi menjadi kunci ketahanan keluarga.
Film ini juga menyoroti ketimpangan sosial antara kota dan desa. Namun, alih-alih menonjolkan kemiskinan sebagai penderitaan, film ini justru menampilkan kesederhanaan sebagai sumber kebahagiaan sejati. Dengan sinematografi yang hangat dan alur yang menyentuh, Keluarga Cemara berhasil membangkitkan empati sekaligus refleksi moral bagi penontonnya.