གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Nadin Azizah

Landasan Pendidikan PPKn 2025C -> Konsep Dasar Tripusat Pendidikan

Nadin Azizah གིས-
Nama = Nadin Nurul Azizah
Kelas = 25C
NPM = 2553032001


Menurut saya, Pandangan tentang tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat mendalam dan relevan sampai sekarang. Beliau menekankan bahwa pendidikan bukan hanya untuk menjadikan seseorang cerdas secara intelektual, tetapi juga merdeka lahir dan batin artinya mampu berpikir bebas, bertanggung jawab, serta hidup bahagia dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Pendidikan sejati menurut beliau adalah membentuk manusia seutuhnya: sehat jasmani, tenang jiwanya, berakhlak baik, dan berguna bagi masyarakat. Dengan begitu, manusia tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan empati untuk membangun bangsa.


Jika saya menjadi seorang guru, saya akan:
1. Mendidik dengan hati, bukan hanya mengajar. Artinya, saya tidak hanya menyampaikan pelajaran, tapi juga menanamkan nilai moral, empati, dan semangat kemandirian kepada siswa.
2. Mendorong siswa berpikir bebas dan kreatif, agar mereka tidak takut berpendapat dan bisa menemukan jati diri mereka sendiri.
3. Menjadi teladan — berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang saya ajarkan, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan gotong royong.
4. Menghargai setiap perbedaan, karena setiap anak punya potensi unik yang perlu dibimbing, bukan diseragamkan.

DKPM PPKn 2025C -> Analisis Video

Nadin Azizah གིས-

Nama : Nadin Nurul Azizah 

NPM : 2553032001

Kelas : 25 C


Lawrence Kohlberg menjelaskan bahwa perkembangan moral manusia berlangsung melalui tiga tingkat utama, yaitu Pra-Konvensional, Konvensional, dan Pasca-Konvensional.

Setiap tingkat menggambarkan perbedaan cara seseorang berpikir dan menilai baik-buruknya suatu tindakan berdasarkan usia, pengalaman, serta tingkat kedewasaannya.


1. Level Pra-Konvensional


Pada tahap ini, dasar pertimbangan moral seseorang masih bergantung pada faktor luar, seperti hukuman, hadiah, atau kepuasan pribadi. Umumnya, anak-anak berada di tahap ini karena pandangan moral mereka masih ditentukan oleh akibat langsung dari perbuatannya.

a. Tahap orientasi hukuman dan kepatuhan, di mana seseorang berbuat baik hanya untuk menghindari hukuman. Misalnya, anak mematuhi perintah orang tua karena takut dimarahi.

b. Tahap orientasi relativis instrumental, yaitu seseorang melakukan kebaikan untuk mendapatkan keuntungan atau imbalan pribadi. Perbuatan baik dianggap sebagai sarana untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan, seperti hadiah atau pujian.


2. Level Konvensional


Pada tahap ini, individu mulai memahami arti penting norma sosial dan menyesuaikan perilakunya agar diterima oleh lingkungan sekitarnya. Ia tidak lagi berfokus pada kepentingan diri sendiri, tetapi juga mempertimbangkan harapan orang lain dan aturan yang berlaku.

a. Tahap orientasi anak baik, di mana seseorang berusaha berperilaku baik untuk menyenangkan orang lain agar dianggap sopan dan diterima oleh kelompok sosialnya. Kesetiaan terhadap teman atau kelompok menjadi nilai utama, bahkan terkadang melebihi kejujuran.

b. Tahap orientasi hukum dan ketertiban, menandakan munculnya kesadaran bahwa aturan harus dipatuhi demi menjaga ketertiban masyarakat. Individu mulai memahami perannya sebagai bagian dari komunitas yang lebih luas, seperti negara, dan memandang hukum sebagai alat menjaga stabilitas sosial.


3. Level Pasca-Konvensional


Tahap ini mencerminkan tingkat kematangan moral tertinggi, di mana seseorang menilai suatu tindakan berdasarkan prinsip moral universal yang bersumber dari hati nurani, bukan semata-mata karena peraturan atau tekanan sosial.

a. Tahap kontrak sosial legalistis, yaitu individu mulai memahami bahwa hukum dapat diubah melalui kesepakatan bersama apabila hukum tersebut tidak lagi sesuai dengan nilai keadilan atau kesejahteraan umum. Prinsip demokrasi, kesepakatan sosial, dan kepentingan masyarakat menjadi landasan pengambilan keputusan moral.

b. Tahap prinsip etika universal, di mana seseorang bertindak berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan universal seperti keadilan, persamaan, kejujuran, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Pada tahap ini, suara hati nurani menjadi pedoman tertinggi dalam menentukan benar atau salah, meskipun hal itu mungkin bertentangan dengan aturan sosial yang ada.


Kesimpulan


Menurut Kohlberg, perkembangan moral manusia bergerak dari ketergantungan pada hukuman dan imbalan menuju kesadaran moral yang berpijak pada prinsip etika universal.

Hukum tertinggi bagi manusia yang bermoral adalah suara hati nurani, yang menuntun seseorang untuk selalu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan kebenaran dalam setiap tindakan kehidupan.

Landasan Pendidikan PPKn 2025C -> Analisis Video

Nadin Azizah གིས-
Nama = Nadin Nurul Azizah
NPM = 2553032001
Kelas = 25 C


Aliran-aliran Pokok Pendidikan
A. Aliran konvensional
Aliran konvensional merupakan pandangan atau pendapat yang membahas tentang faktor- faktor yang menentukan perkembangan manusia dan kepribadiannya.

Macam Aliran Konvensional
1. Empirisme
Aliran ini berpandangan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan bersih tanpa mempunyai pembawaan sama sekali dari lahirnya, tetapi perkembangan anak ditentukan oleh lingkungan yang akan menentukan arah hidupnya.
-Aliran ini di pelopori oleh John Locke
Aliran ini disebut juga dengan “Tabularasa” yang berarti anak lahir seperti kertas putih yang masih kosong dan dapat ditulis sesuai dengan keinginan orang yang akan menulisnya.

2. Aliran Nativisme
Menurut pandangan aliran ini manusia ketika dilahirkan telah mempunyai pembawaan (baik atau buruk).
-Aliran ini dipelopori oleh Schopenhauer
Pandangan aliran ini bersifat pessimis terhadap pendidikan untuk bisa mengubah anak ke arah lain selain dari pembawaan yang dibawa sejak lahir.
Jika pembawaan baik, maka anak akan berkembang ke arah yang baik, tetapi jika pembawaan itu jelek, anak akan berkembang arah yang jelek tanpa bisa di ubah / di pengaruhi.

3. Aliran Naturalisme
Pandangan ini berpendapat bahwa semua anak yang baru lahir mempunyai pembawaan baik, namun pembawaan itu manjadi rusak karena pengaruh lingkungan, bahkan pendidikan yang diberikan orang dewasa kepada anak dapat merusak pembawaan baik itu.
-Aliran ini dipelopori oleh John Jacke Rousseau.
Aliran ini disebut juga dengan "Negativisme" yang beranggapan bahwa pendidikan itu tidak perlu tetapi anak diserahkan saja kepada alam agar pembawaan yang baik tidak menjadi rusak.

4. Aliran Konvergensi
Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh pembawaan dan pendidikan.
Bakat yang dibawa sejak lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa dukungan yang sesuai untuk perkembangan bakat tersebut.
Sebaliknya lingkungan yang baik tidak aka menghasilkan pendidikan yang optimal kalau tidak ada bakat yang kuat.
-Aliran ini dipelopori oleh William Stern yang mempunyai pandangan positif terhadap pendidikan.


B. Gerakan (Aliran) Baru
Gerakan baru dalam pendidikan merupakan upaya yang dilakukan untuk mencari perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan khususnya perbaikan dalam proses pembelajaran.
Ada beberapa model (bentuk) perbaikan yang dajukan oleh gerakan baru pendidikan ini.

1. Pengajaran Alam Sekitar
Pengajaran alam sekitar lebih menekankan kepada kegiatan pengajaran yang dilakukan di sekolah harus terkait dengan kehidupan nyata yang dialami oleh anak, sehingga lebih kongkrit dan terkait secara emosional dengan kebutuhan dan kehidupan anak.
-Pelopornya F.A.Finger dan J.Ligthart

Prinsip Pengajaran Alam Sekitar:
~Peragaan
~Aktivitas anak
~Pengajaran totalitas
~Menyatu dengan pengalaman anak
~Memberikan apersepsi emosional anak


2. Pengajaran Pusat Perhatian
Dirintis oleh Ovideminat Decroly dari Belgia dengan semboyan “Sekolah untuk hidup dan oleh hidup"
Anak harus mempunyai pengetahuan terhadap dirinya sendiri dan tentang dunianya yaitu lingkungan tempat hidup di hari depannya.
Metode yang dikemukakan oleh Decroly:
1. Metode global (gestalt) yaitu pendidikan hendaknya dimulai dari suatu keseluruhan yang punya pengertian
2. Pusat minat yaitu dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan minat spontan yang dimiliki anak


⁠3. Sekolah Kerja

Sekolah kerja dipelopori oleh G. Kerschenteiner dengan nama “Arbeitsschule” di jerman.

Sekolah kerja bertolak dari pandangan bahwa pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu tetapi juga demi kepentingan masyarakat.
-Bentuk Sekolah Kerja
a. Sekolah Kerja Sosiologis (kebutuhan masyarakat)
b. Sekolah Kerja Psikologis (pengembangan bakat anak)
c. Sekolah Kerja Sosiologis-Psikologis (gabungan)
d. Sekolah Kerja Kepribadian (Pembentukan pribadi)

4. Pengajaran Proyek
Konsep pengajaran proyek diletakkan oleh John Dewey dan dilaksanakan oleh W.H.Kilpatrick.
Dalam pengajaran proyek anak bebas menentukan pilihannya (jenis pekerjaan), merancang dan memimpin kegiatan proyek.
Proyek yang ditentukan sendiri oleh anak akan mendorong mereka untuk mencari cara pemecahan masalah yang ditemui secara aktif (sesuai keinginannya).
Mata pelajaran tidak terpisah antara satu dengan lainnya, tetapi didasarkan atas keperluan pemecahan masalah.

AI PPKn C -> FORUM DISKUSI

Nadin Azizah གིས-
Nama = Nadin Nurul Azizah
Kelas = 25 C
NPM = 2553032001

Menurut saya, sunnah adalah segala perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang menjadi contoh bagi umat Islam. Sementara itu, hadis merupakan pedoman hidup kedua setelah Al-Qur’an, sekaligus menjadi teladan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hadis sendiri memiliki tingkatan kualitas, yaitu shahih, hasan, dhaif, dan maudu.

Struktur hadis terdiri dari tiga bagian penting. Pertama, sanad yaitu rantai periwayatan. Kedua, matan yaitu isi atau teks hadis. Ketiga, rawi yaitu orang-orang yang meriwayatkan hadis. Seorang perawi yang dianggap adil adalah perawi yang sudah memenuhi syarat, seperti sudah baligh, berakal sehat, serta dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan.