Posts made by Nadin Azizah

Nama : Nadin Nurul Azizah
NPM : 2553032001


1. Kebutuhan Rasa Aman (Safety Needs)
-Menciptakan Lingkungan Kondusif: Membuat aturan kelas yang jelas, adil, dan konsisten bersama siswa agar mereka merasa aman secara psikologis.
-Pencegahan Bullying: Menindak tegas perilaku bullying dan menjadi pendengar yang baik saat siswa merasa terancam atau cemas.
-Kenyamanan Fisik: Memastikan pencahayaan, ventilasi, dan kebersihan kelas terjaga agar siswa fokus.

2. Kebutuhan Sosial/Rasa Memiliki (Social Needs)
-Belajar Kelompok: Membentuk kelompok belajar yang heterogen untuk mendorong kolaborasi dan hubungan antarteman.
-Aktivitas Sosial: Mengadakan ice breaking atau permainan tim yang meningkatkan interaksi dan rasa kekeluargaan di kelas.
-Pendekatan Personal: Guru menyapa siswa dengan ramah di pagi hari dan menanyakan kabar untuk membangun rasa diterima.

3. Kebutuhan Penghargaan (Esteem Needs)
-Apresiasi Usaha: Memberikan pujian atau sertifikat atas usaha dan peningkatan sekecil apa pun, bukan hanya pada hasil akhir.
-Memberi Tanggung Jawab: Menunjuk siswa menjadi pemimpin kelompok atau pengurus kelas untuk meningkatkan rasa percaya diri.
-Umpan Balik Positif: Memberikan umpan balik konstruktif yang membangun motivasi, bukan sekadar menyalahkan.

4. Kebutuhan Aktualisasi Diri (Self-Actualization Needs)
-Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL): Memberikan kebebasan kepada siswa memilih topik proyek yang sesuai dengan minat dan kreativitas mereka.
-Pengembangan Potensi: Memberikan kesempatan siswa untuk menampilkan bakatnya, seperti bernyanyi, berpuisi, atau mempresentasikan hasil karya di depan kelas.
-Pembelajaran Terpersonalisasi: Mengizinkan siswa belajar dengan kecepatan mereka sendiri dan mengeksplorasi kemampuan mereka secara maksimal.

Landasan Pendidikan PPKn 2025C -> Penugasan

by Nadin Azizah -
Nama : Nadin Nurul Azizah
Kelas : 25 C
NPM : 2553032001


Berdasarkan materi yang disampaikan, terdapat tiga kasus utama dalam bidang pendidikan yang dikaji, yaitu: kasus guru yang diadukan ke polisi, perilaku asusila di kalangan pelajar, dan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar/mahasiswa.

1. Kasus Guru Diadukan ke Polisi
Kasus ini mencerminkan keresahan para guru ketika tindakan mendisiplinkan atau menegur siswa justru berujung pada laporan orang tua ke pihak berwajib, seperti yang terjadi pada kasus guru di Konawe Selatan.
Penyebab dan solusi: Lemahnya hubungan emosional antara sekolah (guru) dan orang tua menjadi faktor utama. Orang tua seharusnya memandang guru sebagai perpanjangan tangan mereka dalam mendidik dan membimbing anak di sekolah.

2. Perilaku Asusila di Kalangan Pelajar
Fenomena ini menunjukkan meningkatnya tindakan tidak bermoral dan perilaku seks bebas di kalangan pelajar, yang bertentangan dengan nilai-nilai agama serta moral bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila.
Penyebab dan solusi: Kurangnya pemahaman serta pengamalan nilai-nilai agama menyebabkan peserta didik kehilangan kontrol diri dan tidak lagi merasa takut akan dosa. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai keagamaan harus menjadi tanggung jawab bersama antara guru, orang tua, dan lingkungan sekitar.

3. Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Pelajar dan Mahasiswa
Data menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa terus meningkat setiap tahunnya, dan hal ini menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi muda dan bangsa.
Langkah pencegahan: Sekolah, orang tua, serta masyarakat perlu bersinergi dan lebih peka terhadap permasalahan ini. Sekolah hendaknya mengadakan program anti-narkoba serta memberikan edukasi mengenai jenis-jenis narkoba dan tanda-tanda penyalahgunaannya agar dapat dilakukan pencegahan dan penanganan sejak dini.

Kesimpulan:
Secara keseluruhan, materi ini menggambarkan bahwa dunia pendidikan sedang menghadapi berbagai tantangan serius yang memerlukan perhatian lebih, kerja sama lintas sektor, serta pendekatan yang edukatif dan preventif. Penguatan nilai-nilai moral, etika, dan agama menjadi hal yang sangat penting demi menyelamatkan generasi penerus dan masa depan bangsa.

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by Nadin Azizah -
Nama : Nadin Nurul Azizah
NPM : 2553032001
Kelas : 25 C

Saya menonton film Keluarga Cemara melalui Netflix, pada film versi pertama yang rilis tahun 2019, disutradarai oleh Yandy Laurens. Film ini berdurasi sekitar 1 jam 50 menit. Ceritanya menampilkan perjuangan keluarga Abah, Emak, Euis, dan Ara dalam menghadapi perubahan hidup setelah kehilangan harta benda mereka.



Film Keluarga Cemara yang disutradarai oleh Yandy Laurens merupakan adaptasi dari sinetron legendaris karya Arswendo Atmowiloto. Film ini bercerita tentang kehidupan keluarga sederhana yang harus berjuang menghadapi perubahan drastis setelah kehilangan harta benda mereka. Tokoh utama dalam film ini adalah Abah (Ringgo Agus Rahman), Emak (Nirina Zubir), dan dua anak mereka, Euis (Zara JKT48) dan Ara (Widuri Puteri). Kisah mereka menggambarkan nilai-nilai kehidupan yang hangat, realistis, dan sarat pesan moral.

Awalnya, keluarga Abah hidup berkecukupan di kota. Namun, karena tertipu rekan bisnis, Abah kehilangan semua hartanya. Mereka harus pindah ke rumah sederhana peninggalan ayah Abah di desa. Perubahan ini menjadi titik balik yang menguji kekuatan dan keharmonisan keluarga. Konflik moral muncul ketika Abah merasa gagal sebagai kepala keluarga dan Euis merasa malu dengan keadaan mereka. Dari sinilah terlihat bahwa film ini bukan hanya tentang kehilangan materi, tetapi juga tentang menemukan kembali makna keluarga dan cinta yang sesungguhnya.

Salah satu dilema moral yang muncul adalah ketika Abah harus memilih antara terus berjuang di kota demi uang atau menerima kenyataan dan fokus pada keluarganya. Ia akhirnya menyadari bahwa tanggung jawab dan kejujuran lebih penting daripada ambisi pribadi. Dilema lainnya dialami oleh Euis, yang harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di desa. Ia sempat merasa minder dan marah pada keadaan, tetapi kemudian belajar bahwa cinta keluarga jauh lebih berharga daripada gengsi dan kemewahan.

Dilihat dari teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, karakter Abah berada pada tahap konvensional, karena ia berperilaku berdasarkan nilai moral dan tanggung jawab sosial. Sementara Euis awalnya berada pada tahap pra-konvensional (mementingkan diri sendiri), lalu berkembang menjadi konvensional setelah ia memahami arti kasih sayang dan kejujuran. Emak, di sisi lain, berperan sebagai penyeimbang moral yang selalu menguatkan keluarganya dengan kesabaran dan ketulusan.

Pesan moral yang paling kuat dari film ini adalah pentingnya kejujuran, kesederhanaan, dan kasih sayang keluarga. Kekayaan materi dapat hilang kapan saja, tetapi nilai-nilai keluarga tidak akan pernah pudar jika dijaga dengan cinta dan kebersamaan. Film ini juga mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan, melainkan dari rasa syukur dan kebersamaan dalam menghadapi ujian hidup.

Dalam kehidupan nyata, banyak keluarga yang mengalami masalah ekonomi, bahkan hingga kehilangan keharmonisan. Keluarga Cemara menunjukkan bahwa ujian justru dapat memperkuat hubungan jika dilandasi dengan cinta dan saling pengertian. Nilai-nilai keluarga dalam film ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat modern yang sering terjebak pada kesibukan dan materialisme.

Secara keseluruhan, Keluarga Cemara bukan sekadar film drama keluarga, tetapi juga cermin kehidupan yang mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, jujur, dan menghargai arti kebersamaan. Pesan moralnya sederhana namun mendalam: “Harta yang paling berharga adalah keluarga.”