Nama : Anita Zahra
NPM : 2513032077
Kelas : C
1. Salah satu pilihan yang saya tonton mengenai film keluarga cemara adalah Keluarga Cemara tahun 2018 sebuah film karya yandy Laurens dan diadaptasi dari serial TV legendaris "keluarga cemara" Karya Arswendo Atmowiloto.
2. Mengidentifikasi dilema moral yang muncul dalam film
a. Abah mendapatkan tawaran untuk menjual rumah warisan di desa (yang sekarang menjadi tempat tinggal mereka) untuk mendapatkan modal agar bisa kembali ke kota dan memulai kembali hidup baru seperti dulu. Tetapi anak-anaknya, terutama Euis dan Ara sudah mulai menemukan kebahagiaan dan kenyamanan hidup sederhana di desa.
b. Dilema kedua saat abah ditelfon oleh pengacara abah (memberi tahu bahwa abah memberi surat kuasa kepada fajar). Akibat dari kejadian itu, abah sudah tidak bisa lagi mendapatkan hak miliknya, abah kehilangan semua semua harta benda dan kemewahan akibat bangkrut dan harus menetap di desa. Dilema moralnya adalah apakah abah harus jujur dan terbuka sepenuhnya tentang keputusannya kepada anak-anaknya atau ia harus berusaha keras menyembunyikan dan berpura-pura kuat demi menjaga kebahagiaan dalam keluarganya.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral Kohlberg
a. Abah
Teori perkembangan pada karakter abah adalah konvensional (hukum dan ketertiban) didasarkan pada tugas dan mempertahankan aturan/ketertiban. Bukti dalam filmnya adalah abah mengganggap bahwa tugas utamanya adalah bertanggungjawab penuh demi menafkahi dan menjaga keutuhan keluarganya.
b. Euis
Teori perkembangan moral pada karakter Euis adalah Konvensional (Orientasi Anak manis) didasarkan pada memenuhi harapan orang lain. Bukti dalam filmnya adalah meskipun awalnya berat dan malu, Euis akhirnya menerima untuk membantu emak dan menjual opak di sekolah, ini menunjukkan bahwa ia mulai tanggung jawab atau mematuhi sebagai anggota keluarga.
d. Cemara (Ara)
Teori perkembangan moral pada karakter Ara adalah pra konvensional (Orientasi relativis instrumental) didasarkan pada anak mematuhi apapun sepanjang memenuhi kebutuhan sendiri/orang lain. Bukti dalam film adalah Ara menyatakan bahwa ia senang di desa karena abah jadi sering dirumah, Emak masak opak setiap hari, terus Ara bisa sekamar sama teteh, ini menunjukkan bahwa ia menilai situasi secara baik karena memberinya keuntungan berupa kebersamaan dan kedekatan.
4. Pesan moral yang paling utama adalah keluarga adalah harta yang paling berharga dan bernilai jauh lebih penting daripada kekayaan materi atau status sosial. Dari film ini, Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam kemewahan, melainkan dalam kesederhanaan asalkan di dalamnya ada kebersamaan dan komunikasi yang jujur antar anggota keluarga. Ketika anggota keluarga sedang dalam kesulitan, setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab untuk saling mendukung sehingga masalah seberat apapun dapat dilalui.
Film ini juga mengajarkan tentang keikhlasan. Kehidupan seringkali tidak berjalan sesuai rencana, dan disinilah kita diajarkan untuk belajar ikhlas melepaskan apa yang bukan milik kita lagi. Pesan moral lainnya adalah tentang pentingnya tidak mudah memberi janji kepada orang jika tidak bisa menepati janji tersebut. Konflik yang terjadi antar anggota keluarga seringkali berakar dari ekspektasi yang tidak terpenuhi atau janji yang terabaikan, mengajarkan pentingnya berkata jujur dan menimbang matang-matang setiap ucapan yang akan kita ucapkan. Selain itu, Film ini juga menunjukkan bahwa keretakan hubungan dalam keluarga seringkali dapat diperbaiki dengan kesediaan untuk saling memaafkan. Tindakan memaafkan adalah kunci untuk melepaskan beban emosional.
5. Perbandingan nilai-nilai keluarga dalam film keluarga Cemara tahun 2018 dengan kehidupan nyata. Dalam film, ketika Abah bangkrut, semua anggota keluarga (Abah, Emak, Euis, dan Ara) secara kompak menunjukkan ketulusan dan rasa sayang yang sangat kental, tulus dan menjadi prioritas utama keluarga, setiap anggota secara aktif saling menyemangati dan membantu terutama saat kesulitan ekonomi, dan komunikasi terbuka menjadikan kunci keluarga sebagai benteng pertahanan utama. Sebaliknya, nilai keluarga di kehidupan nyata juga menjunjung tinggi kebersamaan namun seringkali lebih kompleks dan penuh tantangan. Misalnya, dalam kehidupan nyata, kesulitan ekonomi tidak selalu disikapi dengan kekompakan, tekanan hidup, tuntutan gaya hidup modern, dukungan ada, tetapi terkadang terselubung atau terbentur ego ,perbedaan pendapat atau kurangnya komunikasi dan kesibukan kerja orang tua bisa membuat komunikasi lebih renggang dan memicu konflik antar anggota keluarga. Intinya, film menampilkan impian tentang keluarga yang selalu utuh dalam kesederhanaan, sementara kehidupan nyata adalah perjuangan terus-menerus untuk menjaga nilai-nilai tersebut di tengah segala godaan dan rintangan modern.