Kiriman dibuat oleh Kharisya Syifa A. 2513032064

DKPM PPKn 2025B -> Penugasan

oleh Kharisya Syifa A. 2513032064 -

Nama: Kharisya Syifa Anindita
NPM: 2513032064

1. Menonton film “Keluarga Cemara 2 2022". Link yang saya tonton: https://youtu.be/4GrCvXSDhTk?si=xddjW9kCXuZiT33

2. Dilema Moral dalam Film “Keluarga Cemara 2”

Dilema moral 1: Abah yaitu antara kerja dan keluarga

Di film ini, Abah mulai sibuk banget sama pekerjaannya. Abah ingin mencukupi kebutuhan keluarga, tapi di sisi lain, jadi makin jarang ada waktu buat anak-anaknya. Sebenarnya Abah tahu kalau keluarganya butuh kehadirannya, apalagi Ara yang mulai ngerasa kesepian. Tapi ya itu, abah juga sadar tanggung jawabnya besar buat cari nafkah. Dari situ kelihatan banget dilema Abah antara tanggung jawab sebagai ayah di rumah dan tanggung jawab kerja buat keluarga. Dua-duanya penting, tapi kadang harus memilih salah satu dulu.

Dilema moral 2: Euis antara pengen mandiri dan pengen tetap dekat sama keluarga

Euis sudah mulai remaja, jadi wajar banget kalau euis mau punya privasi dan waktu buat diri sendiri. Euis juga lagi seneng-senengnya sama teman-teman barunya di sekolah. Tapi di sisi lain, Ara malah ngerasa ditinggalin. Apalagi pas Euis minta pisah kamar, Ara makin ngerasa sendiri. Dari situ kelihatan kalau Euis masih belajar buat mengerti perasaan orang lain. Dilema dia itu antara pengen tumbuh dewasa dan punya ruang sendiri, tapi juga gak mau kehilangan kehangatan bareng keluarganya.

3. Analisis Karakter Utama Berdasarkan Teori Perkembangan Moral

Kalau dilihat dari ceritanya, karakter yang paling kelihatan perkembangan itu Ara. Di film Keluarga Cemara 2, Ara digambarin sebagai anak yang masih kecil, polos, tapi punya perasaan yang dalam banget. Dia mulai ngerasa kalau orang-orang di sekitarnya berubah seperti Abah yang sibuk, Emak fokus ke Agil, dan Euis makin jauh karena udah remaja.

Jika memakai teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, Ara masih ada di tahap prakonvensional. Di tahap ini, anak biasanya ngelakuin sesuatu karena pengen dapet perhatian atau kasih sayang dari orang lain, bukan karena sadar sepenuhnya mana yang benar atau salah. Ara nunjukin itu waktu dia berusaha nyari cara biar keluarganya sadar kalau dia ngerasa kesepian. Bahkan sampai “ngobrol” sama anak ayam, seolah-olah itu caranya buat dapet teman dan perhatian.

Tapi di sisi lain, ada juga sisi dewasa dari Ara yang mulai keliatan. Walau masih kecil, dia mempunyai empati tinggi. Dia bisa merasakan kalau anak ayam itu kangen sama keluarganya, dan itu nunjukin kalau Ara udah mulai masuk ke tahap konvensional awal, di mana dia mulai mikir tentang perasaan makhluk lain dan pentingnya kebersamaan keluarga. Dari situ keliatan banget kalau Ara bukan cuma pengen diperhatiin, tapi juga pengen keluarganya bisa utuh dan saling peduli kayak dulu lagi.

4. Ulasan Pesan Moral Film Keluarga Cemara 2

Film Keluarga Cemara 2 menurut saya punya makna yang dalam banget tentang arti keluarga dan pentingnya saling ngerti satu sama lain. Ceritanya sederhana, tapi banyak banget hal yang bisa kita ambil dari kehidupan Abah, Emak, Euis, dan Ara. Setiap karakternya punya masalah masing-masing, tapi semuanya saling terhubung lewat satu hal yaitu rasa sayang yang kadang nggak selalu kelihatan tapi sebenernya tetap ada.

Yang paling terasa di film ini, gimana kesibukan bisa bikin jarak di dalam keluarga tanpa kita sadar. Abah sibuk kerja demi keluarga, tapi di sisi lain jadi jarang ngobrol sama anak-anaknya. Emak juga fokus ngurus Agil yang masih kecil, sementara Euis sudah mulai punya dunia sendiri karena udah remaja. Di tengah semua itu, Ara ngerasa ditinggalin. Dari situ saya merasa, film ini ingin ngingetin kita kalau perhatian dan waktu buat keluarga itu tidak bisa diganti dengan apa pun, bahkan sama uang atau kesibukan.

Pesan moral lain yang kuat banget juga keliatan dari sudut pandang Ara. Dia anak kecil yang polos, tapi bisa ngeliat hal-hal yang orang dewasa kadang lupa perasaan, kebersamaan, dan kasih sayang yang tulus. Waktu Ara bilang dia bisa ngomong sama anak ayam, sebenarnya itu cara dia buat nyalurin rasa sepinya. Tapi lewat hal sederhana itu, film ini nunjukin kalau kadang anak-anak punya cara sendiri buat nunjukin kalau mereka butuh diperhatiin. Dan sebagai orang tua, penting banget untuk peka terhadap perasaan anak, walaupun mereka nggak selalu bisa nyampein langsung.

Selain itu, dari Euis juga ada pelajaran moral tentang fase remaja. Dia pengen mandiri dan punya privasi, tapi di saat yang sama, dia belum sepenuhnya ngerti kalau tindakannya bisa nyakitin adiknya sendiri. Ini nunjukin kalau setiap orang di keluarga pasti punya proses tumbuh dan belajar, termasuk belajar buat peka, minta maaf, dan memperbaiki hubungan.

Yang paling saya suka dari film ini, endingnya tetap hangat dan ngasih harapan. Setelah semua konflik, mereka akhirnya sadar kalau keluarga adalah tempat pulang yang nggak bisa terganti. Tidak peduli seberapa sibuk atau serumit apa masalahnya, yang paling penting itu komunikasi dan saling pengertian. Karena di balik semua kesalahpahaman, cinta keluarga selalu bisa nyembuhin segalanya.

Selain tentang kasih sayang, film ini juga mengajarkan tentang arti kebersamaan dan cara kita menghargai waktu bareng keluarga. Kadang kita terlalu sibuk ngejar hal lain sampai lupa nikmatin momen kecil yang ternyata berarti banget. Lewat cerita keluarga Abah ini, aku jadi sadar kalau rumah bukan cuma tempat tinggal, tapi tempat di mana kita selalu diterima apa adanya, walaupun dunia di luar nggak selalu ramah.

Jadi menurut saya, Keluarga Cemara 2 bukan cuma film tentang keluarga biasa, tapi juga pengingat untuk kita semua kalau “keluarga itu bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang mau bertahan dan saling memahami.” Dan setelah nonton ini, rasanya saya pengen banget lebih banyak ngobrol sama keluarga, lebih sering ngucapin terima kasih, dan nggak gampang marah kalau ada salah paham. Karena pada akhirnya, cinta keluarga itu yang bikin kita kuat.

5. Perbandingan Nilai Keluarga di Film dan Kehidupan Nyata

Kalau dibandingkan sama kehidupan nyata, nilai keluarga di film Keluarga Cemara 2 itu rasanya hangat banget, tapi juga realistis. Filmnya nunjukin keluarga yang tidak sempurna mereka bisa salah, bisa salah paham, bahkan bisa saling nyakitin tanpa sadar. Tapi yang bikin beda, mereka selalu berusaha balik lagi ke satu hal yaitu cinta dan kebersamaan.

Di dunia nyata, kadang kita juga mengalami hal yang sama. Orang tua sibuk kerja, anak sibuk sekolah atau main sama temen, terus tiba-tiba jarak itu terbentuk tanpa disadari. Sama kayak Abah yang ingin jadi ayah bertanggung jawab, tapi justru jadi jarang ada waktu buat Ara. Banyak banget keluarga yang kayak gitu, pengennya baik, tapi malah lupa buat hadir secara batin.

Bedanya, di film Keluarga Cemara 2 setiap masalah akhirnya bisa diselesaikan dengan komunikasi dan pengertian. Di dunia nyata, nggak semua keluarga bisa sampai ke titik itu. Kadang gengsi, kadang capek, kadang malah milih diam. Tapi film ini memberi semangat bahwa seburuk apa pun keadaan, selalu ada jalan buat memperbaiki hubungan kalau masih ada niat dan kasih sayang.

Nilai lain yang terasa banget juga adalah tentang “mendengarkan.” Di film, Ara sering nggak didengerin, tapi justru dia yang paling jujur nunjukin perasaannya. Di kehidupan nyata juga banyak banget anak kecil atau remaja yang ngerasa sendirian karena orang tua sibuk. Dari situ saya merasa, film ini mengingatkan kita kalau setiap anggota keluarga, sekecil apa pun, butuh ruang buat didengerin dan dimengerti.

Jadi intinya, nilai keluarga di film dan di dunia nyata sama-sama berpusat pada cinta, pengorbanan, dan pengertian. Bedanya cuma di cara masing-masing orang menjalaninya. Kalau di film bisa keliatan lebih manis dan rapi, di dunia nyata pasti lebih rumit dan nggak sesempurna itu. Tapi justru karena itu, pesan film Keluarga Cemara 2 jadi berasa banget  keluarga bukan cuma tempat tinggal, tapi tempat pulang yang penuh rasa.


NAMA: KHARISYA SYIFA ANINDITA
NPM: 2513032064

Menurut saya mengenai pandangan tujuan pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara, tujuan pendidikan adalah untuk memerdekakan manusia yaitu agar mereka bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, survive and happy. Artinya, pendidikan itu bukan sekadar membuat anak pintar, tapi juga membentuk karakter, bahagia yang bukan raganya saja tapi juga mentalnya,kemandirian, dan kepribadian mereka supaya bisa hidup dengan lingkungannya.


Yang akan saya lakukan jika menjadi seorang guru:
Kalau saya jadi guru, saya akan berusaha jadi panutan yang baik dan mendidik dengan hati, bukan hanya menyuruh siswa belajar. Saya akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, menghargai setiap perbedaan, dan membantu siswa menemukan potensi dirinya. Saya juga ingin menjadi guru yang dekat dengan murid, supaya mereka merasa nyaman dan semangat belajar.

DKPM PPKn 2025B -> Analisis Video

oleh Kharisya Syifa A. 2513032064 -
NAMA : KHARISYA SYIFA ANINDITA
NPM : 2513032064


Tahap Tahap Perkembangan Moral (Moral Stages)

Tokohnya yaitu Lawrence Kohlberg 

Lahir : New York, 25 Oktober 1927

Profesi : Profesor Psikologi di Yale University, Chicago University dan Harvard University 

Wafat : Boston, 19 Januari 1987


Menurut Kohlberg Kesadaran moral berkembang dalam 3 level yaitu Prakonvensional, Konvensional dan Pasca Konvensional

Konvensional berasal dari bahasa Latin convenire = menyesuaikan 

Level 1: Pra-konvensional

   Seseorang menilai perihal yang baik dan buruk berdasarkan faktor faktor diluar dirinya. Seperti Hubungan sebab akibat, ganjaran dan hukuman, serta yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.

Level ini dibagi menjadi 2 Tahap yaitu : 

1. Orientasi Hukuman dan Kepatuhan 

Pada tahap pertama orientasi hukuman dan kepatuhan seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap hukuman misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan rasa bersalah apabila melanggar perintah orang tuanya. Penalaran moral seperti itu pertama tama didasari oleh kesadaran bahwa ketika ia tidak patuh, ia akan mendapat hukuman yang menimbulkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman. Disana tampak bahwa perasaan egosentrisme sangat menonjol seseorang pertama tama melakukan kebaikan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari sakitnya hukuman, ia baru sampai pada pemahaman bahwa berbuat baik itu akan memberikan manfaat positif juga bagi orang lain. 

2. Pada tahap kedua, yaitu orientasi relativis Instrumental menggunakan prinsip do ut des adalah seseorang melakukan perbuatan baik pertama tama karena mengharapkan imbalan ia sudah mulai menyadari bahwa orang lain juga mempunyai kepentingan dan keinginan yang sama dengan dirinya. Oleh karena itu, perbuatan baik dapat digunakan sebagai instrumen atau alat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain, sebagai contoh kita bisa melihat perilaku anak anak kecil yang baru mau disuruh melakukan sesuatu ketika di iming imingi hadiah yang menarik. Jadi, seseorang di tahap ini bisa saja kelihatan sangat baik tapi sebenarnya maksud utama dari perbuatan baiknya itu adalah untuk mendapatkan keuntungan pribadi.


Level 2: Konvensional

   Pada level ini seseorang mulai menyesuaikan sikapnya dengan harapan orang orang tertentu atau dengan tertib sosial berlaku dalam masyarakat tertentu. Ia mulai keluar dari sikap egois yang mementingkan diri sendiri dan mulai melihat kebahagiaan dan kenyamanan orang lain sebagai sesuatu yang patut diperjuangkan. Disini seseorang juga menaruh loyalitas tata tertib sosial atau norma norma yang berlaku dalam masyarakat. 

Level ini juga dibagi ke 2 tahap yaitu : 

1. Orientasi Anak Manis 

Seseorang menganut prinsip bahwa saya adalah anak manis. Perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain, membantu orang lain, dan sesuai dengan yang diharapkan orang lain. Oleh karena itu, ia akan selalu berusaha untuk mematuhi norma-norma dalam kelompoknya agar tidak merasa malu ketika merasa bersalah. Disini unsur setia kawan dan loyalitas dalam kelompok sangat di dewa dewa kan hal ini biasa terjadi misalnya dalam kelompok kelompok remaja dan ABG  biasanya anak anak remaja lebih memilih untuk berbohong demi melindungi temannya daripada dia dianggap penghianat oleh kelompoknya

2. Orientasi Hukum dan Ketertiban 

Pada tahap ini makna kelompok diperluas, seseorang mulai menyadari bahwa diluar kelompok lokal seperti keluarga, teman sebaya, teman skolah, organisasi organisasi, himpunan himpunan dan sebagainya. Pasti ada kelompok yang lebih luas seperti suku bangsa, agama dan negara. Ia menyadari bahwa ia adalah bagian dari kelompok kelompok yang lebih besar itu dan dengan demikian memiliki kewajiban untuk menaati hukum yang berlaku. Penekanannya adalah mematuhi hukum secara mutlak agar ketertiban sosial yang dapat terjamin. Kebanyakan orang dewasa sudah ada di tahap ini.


Level 3: Pasca-konvensional (Berprinsip)

   Pada tahap ini hidup baik mulai di pandang sebagai tanggung jawab masing-masing pribadi atas dasar prinsip prinsip yang di anut dalam batin. Disini seseorang mulai menyadari bahwa hukum tidak selalu dapat diterima secara mentah-mentah, hukum bukanlah sesuatu yang harus ditaati secara mutlak melainkan sesuatu yang terlebih dahulu harus melalui proses penilaian berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul dalam hati nurani.

Level ini juga dibagi menjadi 2 tahap yaitu:

1. Orientasi Kontrak Sosial Legalistis

Pada tahap ini segi hukum masih ditekankan namun, seseorang mulai menyadari bahwa suatu hukum tertentu belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh segi kehidupan manusia, disini orang mulai berfikir bahwa hukum itu dapat diubah dan disesuaikan konteks atau situasi yang ada, sejauh dapat memberikan manfaat sosial atau demi kepentingan dan kesejahteraan umum. Oleh karena itu, dapat diselenggarakan suatu persetujuan demokratis kontrak Sosial dan konsensus bebas agar mencapai kesepakatan yang baru. 

2. Orientasi Prinsip Hati Nurani Universal 

Seseorang mulai menyadari bahwa didalam lubuk hatinya sebenarnya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku di kehidupan universal. Prinsip prinsip yang berlaku universal tersebut adalah prinsip-prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan martabat kemanusiaan, seperti prinsip keadilan, ketulusan dalam membantu orang lain, persamaan hak manusia, dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan. Prinsip prinsip tersebut disebut universal karena dapat diberlakukan disetiap situasi tempat dan segala aspek kehidupan sosial. Seseorang yang berada pada tahap ini mengatur tingkah laku dan penilaian moralnya berdasarkan hati nurani pribadi yang berlaku secara universal tersebut. Ia akan mengalami penyesalan yang mendalam ketika melanggar prinsip prinsip hati nurani tersebut. Dapat disimpulkan, bahwa bagi Kohlberg prinsip tertinggi adalah prinsip hati nurani yang berlaku universal, sayangnya prinsip prinsip itu tidak selalu memiliki rumusan masalah yang konkret. Oleh karena itu, membutuhkan suatu kepekaan hati nurani yang sangat besar ketika menghadapi suatu realitas atau persoalan. 

Prinsip prinsip ini jug seringkali bertentangan dengan aturan aturan yang ada dalam masyarakat tertentu. Bukan bertentangan karena egoisme pribadi atau mencari keuntungan pribadi, melainkan karena menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan sert kehormatan terhadap martabat sesamanya.

Perbandingan antara teori perkembangan moral Kohlberg dan Piaget yaitu Piaget menekankan pada perkembangan moral anak melalui interaksi sosial, dan pemahaman aturan pada anak. Sementara Kohlberg mengembangkan teori Piaget dan memperluasnya ke remaja dan dewasa, dan berfokus pada  penalaran moral (alasan dibalik keputusan benar salah)