- Menonton film “Keluarga Cemara” secara utuh.
- Mengidentifikasi minimal dua dilema moral yang muncul dalam film.
- Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral.
- Menyusun ulasan tertulis (500 kata) tentang pesan moral film.
- Diskusi: perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata.
Penugasan
NPM: 251302045
1. Saya sudah menonton film Keluarga Cemara yang yang adaa di youtube https://youtu.be/F0RhpQkFYSc?si=LvA53aOexbe2PDup
2. Ada 2 Dilema Moral yang muncul di dalam film tersebut:
Ketika Ais, yang berperan sebagai tokoh utama di dalam film Keluarga Cemara, menawarkan kepada teman-temannya untuk mengikuti lomba cerdas cermat, hal itu menjadi suatu peluang besar untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi negeri. Ais memiliki empat teman, dan salah satu dari keempat temannya itu bernama Rindu. Ia bingung antara ingin mengikuti lomba cerdas cermat, akan tetapi pada saat itu ia masih menjadi anggota OSIS.
Dilema moral kedua muncul ketika Ais, sebagai tokoh utama, diberikan tanggung jawab oleh ibunya untuk menjaga adik-adiknya karena ibunya akan menemui seorang investor. Di situ Ais bingung antara menerima atau menolak tawaran ibunya, atau tetap membantu temannya yang bernama Andika untuk membuat kue sebagai pengganti akuarium yang telah dipecahkan.
3. Perkembangan Moral Dari karakter utama Berdasarkan hasil analisis, karakter utama dalam film Keluarga Cemara, yaitu Ais, menunjukkan bahwa ia telah mencapai tahap perkembangan moral menurut teori Kohlberg, tepatnya pada level konvensional. Pada tahap ini, individu mulai keluar dari sifat egois dan menunjukkan adanya penyesuaian sikap terhadap nilai-nilai sosial di sekitarnya. Hal tersebut tergambar ketika Ais memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri. Ia tidak bersikap egois dengan hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tetapi justru mengajak teman-temannya untuk ikut berpartisipasi dalam lomba cerdas cermat sebagai upaya bersama untuk meraih kesempatan tersebut.
Pada level konvensional, terdapat dua tahapan utama. Tahap pertama adalah tahap “anak manis”, di mana seseorang berusaha melakukan perbuatan baik agar dapat menyenangkan orang lain. Contohnya terlihat ketika Ais mendatangi teman-temannya yang telah selesai berjualan kue untuk memberikan semangat dan membuat mereka merasa senang dengan kehadirannya. Tahap kedua adalah tahap “hukum dan ketertiban”, yang ditandai dengan munculnya kesadaran bahwa individu merupakan bagian dari masyarakat atau kelompok yang lebih luas serta memiliki tanggung jawab untuk mematuhi aturan yang berlaku.
Hal ini tercermin ketika Ais diberikan tanggung jawab oleh ibunya untuk menjaga adik-adiknya saat sang ibu harus menemui seorang investor. Ais memahami bahwa ia merupakan bagian dari keluarganya dan memiliki kewajiban moral untuk menjalankan tanggung jawab tersebut. Kesadaran ini menunjukkan bahwa Ais telah mencapai tingkat pemahaman moral di mana ia tidak hanya mematuhi aturan karena paksaan, tetapi juga karena rasa tanggung jawab pribadi. Dengan demikian, karakter Ais dalam film Keluarga Cemara dapat dikategorikan telah berada pada tahap perkembangan moral konvensional menurut teori Kohlberg.
4. Perbandingan Nilai keluarga yang adaa di dalam film dengan kehidupan nyata.
Menurut pandangan saya, tidak terdapat perbandingan yang signifikan antara nilai-nilai keluarga yang digambarkan dalam film Keluarga Cemara dengan nilai-nilai keluarga dalam kehidupan nyata. Film tersebut telah mencakup berbagai nilai penting dalam kehidupan keluarga, seperti kasih sayang, kesederhanaan, kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, kesadaran diri, serta sikap saling menolong. Nilai-nilai tersebut selaras dengan kehidupan keluarga di masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan.
Jika dikaitkan dengan teori nilai menurut Notonegoro (1971), nilai-nilai dalam film tersebut termasuk dalam kategori nilai vital, nilai material, dan nilai kerohanian. Nilai vital tampak dari semangat kerja keras dan tanggung jawab yang dilakukan oleh tokoh Ais dan keluarganya. Nilai material terlihat dari pemanfaatan sumber daya secara sederhana namun bermakna, sedangkan nilai kerohanian tercermin melalui kasih sayang, kejujuran, serta rasa syukur terhadap kehidupan.
Selain itu, berdasarkan pandangan Ki Hadjar Dewantara, keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam proses pendidikan budi pekerti. Nilai-nilai seperti kasih sayang, tanggung jawab, dan kerja sama menjadi bagian penting dari pendidikan karakter dalam lingkungan keluarga. Hal ini sejalan dengan penggambaran keluarga dalam film Keluarga Cemara, yang menampilkan hubungan hangat antaranggota keluarga meskipun dalam keterbatasan ekonomi.
Menurut Koentjaraningrat (1985), nilai gotong royong dan kekeluargaan merupakan ciri khas budaya Indonesia yang menjadi dasar kehidupan sosial masyarakat. Film Keluarga Cemara menampilkan nilai-nilai tersebut melalui tindakan saling membantu antaranggota keluarga dan tetangga, yang menggambarkan semangat kolektivitas dan empati sosial.
Dalam kehidupan nyata, nilai-nilai tersebut juga dapat saya temukan dalam keluarga saya sendiri. Ayah dan mama sayaa selalu menunjukkan kasih sayang kepada anak-anaknya, serta menanamkan makna kesederhanaan dan kejujuran. Kesederhanaan di sini bukan berarti hidup tanpa kebahagiaan, melainkan bentuk pembelajaran untuk menghargai kerja keras dan kejujuran yang lebih bernilai daripada harta benda. Selain itu, nilai saling tolong-menolong juga tampak dalam kebiasaan keluarga untuk bekerja sama dan saling membantu ketika menghadapi kesulitan. Dengan demikian, baik dalam film Keluarga Cemara maupun dalam kehidupan nyata, nilai-nilai keluarga Indonesia tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kehidupan yang harmonis dan bermakna.
Dewantara, K. H. (1962). Pendidikan: Bagian Pertama – Pendidikan Umum. Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa.
Koentjaraningrat. (1985). Kebudayaan, mentalitet, dan pembangunan. Jakarta: Gramedia.
Notonegoro. (1971). Pancasila secara ilmiah populer. Jakarta: Pancuran Tujuh.
NPM: 2513032054
1. Link film Keluarga Cemara yang saya tonton : https://youtu.be/g-Bn3N0iifQ?si=_yvltwZkYkvQ1Md0
2. Dilema moral yang muncul pas tokoh utama yaitu Abah, emak, dan juga Euis
Yang pertama dilema moral Yang dialami tokoh yang bernama “Abah” yaitu, abah mengalami dilema moral yang cukup berat Setelah bisnisnya bangkrut dan semua harta keluarga hilang ketika dijakarta dan akhirnya memilih untuk pindah ke desa, Abah berada di posisi sulit. Ia harus memilih antara tetap jujur dan berpegang pada prinsip, atau mengambil jalan pintas yang mungkin bisa memperbaiki keadaan ekonomi keluarga dengan cepat. Sebagai kepala keluarga, Abah merasa sangat bersalah karena tidak bisa lagi memberikan kehidupan yang nyaman seperti dulu, seperti ketika anak anaknya meminta untuk dibelikan baju baru tetapi abah tidak memiliki cukup uang untuk membelikan anaknya baju. Abah juga merasa tertekan karena gengsi karena sebelumnya abah hidup di tengah kota dengan jabatan yang tinggi, tapi sekarang harus bekerja keras di desa sebagai tukang becak. Jadi ada 2 moral yang di alami oleh abah yaitu di satu sisi, Abah ingin membuktikan bahwa beliau masih mampu menafkahi keluarga tapi di sisi lain abah sadar bahwa kejujuran dan kerja keras lebih penting daripada harta yang di dapatkan dengan cara tidak benar dan akan tidak berkah untuk anak beserta istrinya.
Yang kedua dilema moral yang dialami oleh tokoh bernama “Emak” yaitu, dilema pertama adalah si tokoh emak ini bingung antara menerima kenyataan hidup yang sudah jatuh miskin atau menuntut ingin kembali ke kehidupan lama yang sukses/tercukupi. Setelah abah ditipu dan harta benda mereka yang sebelumnya banyak kini emak harus menerima kenyataan. Emak mengalami perubahan yang sangat besar dalam hidupnya. Dari yang sebelumnya tinggal di kota besar dengan harta yang mencukupi semua kebutuhannya, sekarang harus menerima kenyataan untuk pindah dan tinggal di rumah desa yang sempit dan kecil. Emak merasa iba melihat anak anaknya harus menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya yang pahit. Dilema moral kedua yaitu, emak merasa Bimbang antara harus mengikuti perasaan sendiri atau menutupi kesedihan demi menguatkan keluarganya sebagai ibu dan juga seorang istri.
Yang ketiga dilema moral yang dialami oleh tokoh bernama “Euis” yaitu yang pertama adalah Antara malu dengan keadaan atau menerima kenyataan dengan ikhlas Euis anak sulung dalam keluarga awalnya hidup enak di kota. Eyis punya rumah bagus, teman-teman yang banyak, dan kehidupan yang nyaman. Tapi semua berubah ketika keluarganya tertipu dan kehilangan harta. Mereka harus pindah ke desa dan hidup dengan sederhana. Perubahan itu membuat Euis merasa malu dan kecewa. Euis sulit menerima kenyataan bahwa keluarganya kini miskin. Dilema noral kedua yang dialami Euis adalah Antara menuruti keinginan sendiri atau membantu keluarga, terlihat ketika ia memberiksn uang kepada ibunya dan memberikan baju baju kepada adiknya.
3. Teori perkembangan moral yang saya ambil untuk menganalisis tokoh abah, emak, dan juga Euis ialah teori menurut Kohlberg. Yang pertama ada pada tokoh “Abah” yang dimana beliau tetap memilih jalan yang benar dan jujur walaupun ia merasakan kesulitan untuk mendapatkan uang dan mencukupi kebutuhan keluarganya, abah mengambil keputusan berdasarkan prinsip dan juga hati nurani. Tokoh “Abah” mencerminkan nilai moral (pasca konvensional) karena abah menunjukan sikap tanggung jawab, jujur, dan juga cinta terhadap anak dan istrinya bukan karena ingin dipuji oleh orang lain.
Yang kedua ada analisis tokoh “Emak” emak selalu menjaga agar keluarganya tetap harmonis bagaimana pun caranya, walaupun emak harus mengesampingkan perasaan tertekannya, tetapi selalu mengusahakan yang terbaik untuk anak dan suaminya. Dalam hal ini emak berada di tahap moral Konvensional dan mengarah kepada pasca konvensional karena emak bertindak dengan keinginan hati dan menjalankan tanggung jawab nya sebagai seorang istri dan ibu.
Yang ketiga ada analisis tokoh “Euis” awalnya Euis tidak bisa menerima keadan keluarganya yang suah jatuh miskin tetapi lama kelamaan euis mulai mengerti dan mulai membantu keluarganya. Euis berada pada tahap konvensional karena euis bisa menerima dan mengerti keadaan keluarganya yang pahit, euis tidak egois seperti dulu lagi.
4. Film Keluarga Cemara mengisahkan perjalanan sebuah keluarga yang sebelumnya hidup dalam suasana yang nyaman, tetapi tiba-tiba kehilangan segalanya akibat penipuan. Kehidupan mereka mengalami perubahan dramatis dari tinggal di rumah besar di perkotaan menjadi menjalani kehidupan yang sederhana di pedesaan. Meskipun tampak biasa saja, film ini diisi dengan banyak pesan moral mengenai kejujuran, keteguhan hati, dan makna kebersamaan dalam keluarga. Cerita berfokus pada tiga karakter utama: Abah, Emak, dan anak tertua mereka, Euis. Ketiga karakter ini masing-masing menghadapi dilema moral yang membuat mereka memahami makna kehidupan yang sebenarnya.
Abah, yang merupakan kepala keluarga, merasakan beban yang berat setelah kehilangan pekerjaan dan semua harta yang dimiliki. Ia berada dalam posisi untuk membuat pilihan sulit: tetap berpegang pada kejujuran meskipun hidupnya menjadi sulit, atau memilih cara instan agar keluarganya bisa cepat pulih. Abah memilih untuk mempertahankan prinsip jujurnya dan bekerja keras, meskipun itu berarti ia harus merendahkan diri dan memulai hidup dari awal. Ia memahami bahwa harga diri tidak ditentukan oleh materi, melainkan oleh tanggung jawab dan ketulusan dalam menjaga keluarganya. Menurut teori perkembangan moral dari Lawrence Kohlberg, pilihan Abah menunjukkan moralitas yang tinggi, karena ia bertindak berdasar prinsip dan hati nurani, bukan karena keinginan dihormati atau takut akan konsekuensi.
Emak juga menghadapi dilema moral yang unik. Ia merasakan kesedihan dan kekecewaan karena hidup mereka berubah dengan drastis, tetapi pada saat bersamaan, ia menyadari bahwa keluarganya membutuhkan sosok yang tangguh untuk bertahan. Emak bisa saja menyalahkan situasi atau mengkritik suaminya, tetapi ia memilih untuk menerima kenyataan dengan lapang dada dan terus memberikan dukungan bagi Abah. Ia menekan perasaannya sendiri agar anak-anaknya tetap tenang dan keluarga tetap utuh. Sikap Emak mencerminkan kedewasaan moral yang tinggi. Ia menjalankan perannya bukan sekadar karena kewajiban, tetapi juga karena keyakinan bahwa loyalitas, cinta, dan kebersamaan adalah nilai-nilai terpenting dalam hidup.
Sementara itu, Euis, sebagai anak sulung & remaja juga mengalami masalah dalam batin yang cukup berat. Eyis tentu merasa malu dan marah karena keluarganya yang awalnya hidup nyaman sekarang harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan. Ia bahkan sempat merasa tidak terima atas nasib yang menimpa mereka. seiring berjalannya waktu Euis mulai menyadari upaya keras orang tuanya untuk kebahagiaan anak nya termasuk euis sendiri. Dari situ euis belajar untuk berkompromi, membantu orang tuanya, dan menerima kehidupan barunya dengan tulus. Perubahan sikap Euis menggambarkan proses kedewasaan moral. Ia memahami bahwa menjadi dewasa berarti mampu mengerti orang lain dan meletakkan kepentingan keluarga di atas keinginan dan juga kepentingan pribadi.
Dengan alur yang sederhana namun hangat, film Keluarga Cemara ingin menyampaikan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari kekayaan atau kemewahan, melainkan dari kejujuran, kasih sayang, dan dukungan antar anggota keluarga. Dalam situasi yang sesulit apapun, keluarga yang saling mencintai akan selalu menemukan kekuatan untuk bangkit bersama. Film ini mengingatkan kita bahwa kekayaan yang paling berharga bukanlah harta benda atau posisi tinggi, melainkan sebuah keluarga yang saling percaya dan menyayangi satu sama lain dalam berbagai keadaan.
5. Dalam film Keluarga Cemara saya bisa melihat banyak nilai keluarga yang hangat dan bermakna. Film ini menampilkan keluarga sederhana yang selalu berusaha saling mendukung, meskipun hidup mereka tidak mudah. Abah dan Emak sebagai orang tua yang penuh kasih sayang dan bertanggung jawab, sementara anak-anak emak terutama Euis, belajar arti tanggung jawab, kejujuran, dan kebersamaan. Nilai utama yang terlihat adalah kebersamaan, kesederhanaan, dan saling menghargai. Walaupun mereka hidup sederhana, keluarga ini tetap bahagia karena saling peduli dan terbuka satu sama lain.
Kalau saya lihat dan bandingkan dengan kehidupan nyata sekarang ini nilai-nilai seperti ini masih sangat relevan, tapi sulit untuk sebuah keluarga jalankan. Dalam keidupan sehari-hari, banyak keluarga yang sibuk dengan pekerjaan, sekolah, atau urusan pribadi, sehingga waktu untuk berkumpul dan berbicara dari hati ke hati jadi berkurang. Tidak semua keluarga juga bisa seharmonis seperti di film kadang ada pertengkaran, perbedaan pendapat, atau kesalahpahaman yang membuat hubungan menjadi renggang.
NPM : 2513032056
Kelas : 25 B
1. Menonton film “Keluarga Cemara” secara utuh
Saya menonton film keluarga cemara yang ada pada episode ke-12 dengan judul "Jiwa Berharga", berikut link tautan videonya : https://youtu.be/Ct-90Q15mrM?si=f5vAGB1nbzHXiJtN
Pada episode ke-12 ini film keluarga cemara mengisahkan tentang keluarga dari tokoh Abah, Emak, dua anaknya yaitu Euis dan Ara. Awalnya, mereka hidup berkecukupan di kota. Namun, karena ditipu rekan bisnis, Abah kehilangan segalanya atau mengalami kebangkrutan dan keluarganta harus pindah ke desa. Hidup di desa membuat mereka belajar kembali arti kebersamaan, kerja keras, dan kejujuran. Meski sederhana, mereka menemukan makna kebahagiaan yang tidak hanya ditentukan oleh harta.
2. Mengidentifikasi minimal dua dilema moral yang muncul dalam film
Dua contoh dilema moral yang saya temukan dalam film ini adalah :
Pertama, dilema dari tokoh Abah yang dimana Abah bingung antara memilih jalan pintas untuk memperbaiki ekonomi keluarga dengan cara yang tidak baik atau tetap hidup jujur. Abah menolak cara curang dan memilih untuk bekerja keras, walau hasilnya lambat.
Kedua, dilema dari tokoh Euis yaitu antara rasa malu terhadap teman-teman barunya dan tanggung jawab terhadap keluarga. Ia awalnya sulit menerima kehidupan sederhana karena terbiasa hidup berkecukupan di kota, tetapi kemudian ia menyadari bahwa harga diri tidak sepenuhnya ditentukan oleh materi.
3. Analisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral
Dari hasil analisis cerita dari tokoh utama yang ada pada video yang saya lihat, bisa dikaitkan kisah dari film keluarga cemara ini dengan teori perkembangan kohlberg yaitu :
1. Tokoh Abah bisa digambarkan berada di tahapan transisi antara tahap Konvensional dan Pasca-Konvensional. Alasannya karena ia menolak mengambil keuntungan dengan cara curang meskipun sedang kesulitan. Sikapnya menunjukkan tahap perkembangan Hukum dan Ketertiban (Law and Order Orientation) karena ia ingin menjaga ketertiban moral dan hukum, sekaligus dari Prinsip Hati Nurani Universal karena tindakannya didasarkan pada hati nurani dan nilai kemanusiaan. Ia memilih kejujuran sebagai prinsip hidup berkeluarga dengan melakukan usaha kerja keras dan jujur.
2. Pada tokoh Euis, sebagai anak tertua dari Abah dan sebagai anak umur remaja. Euis berada di tahap perkembangan Konvensional, yaitu pada tahap anak manis atau disebut juga Good Girl Orientation. Ia berperilaku baik agar diterima oleh orang lain. Awalnya ia malu pada teman-temannya karena kehidupan keluarganya berubah, tapi kemudian tumbuh kesadarannya bahwa kasih sayang keluarga lebih penting daripada pandangan orang. Perubahan Euis ini menunjukkan proses menuju tahap Hukum dan Ketertiban (Law and Order Orientation) karena ia mulai menghargai tanggung jawab dalam keluarga.
3. Tokoh Emak, tokoh emak ini menggambarkan perkembangan moral di tahap Pasca-Konvensional yaitu Prinsip Hati Nurani Universal yang dimana emak menggambarkan tentang sifat apa itu sabar, tulus, dan menguatkan keluarga dalam kondisi yang sedang sulit. Ia menjadi tokoh moral yang mengajarkan nilai kasih sayang, pengorbanan, dan kejujuran melalui teladan, bukan hanya melalui ucapan.
4. Ulasan pesan moral film keluarga cemara episode ke-12 tentang "Jiwa Berharga"
Film Keluarga Cemara episode ke-12 tentang "Jiwa Berharga" ini menggambarkan kisah sederhana namun sangat kuat mengenai apa itu arti keluarga, perubahan hidup, dan nilai-nilai yang sering terlupakan dalam kehidupan sehari-hari. Kisah yang bermula ketika keluarga Abah dan Emak, bersama anak-anak Euis dan Ara, harus menghadapi perubahan besar kehilangan harta, status sosial, dan pindah ke kampung untuk bertahan hidup. Perubahan itu bukan hanya sekadar perubahan posisi tentang kehidupan ekonomi, tetapi menjadi ujian bagi nilai kejujuran, tanggung jawab, kebersamaan, dan penerimaan dari keluarga tersebut.
Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah bahwa “harta yang paling berharga adalah keluarga”, bukan kemewahan atau status sosial. Keluarga yang selalu bersama kita dalam menghadapi kehidupan baik susah maupun senang menjadi sumber kekuatan tersebut bagi setiap orang.
Film ini juga mengajarkan bahwa ketika segala sesuatu tak lagi berjalan seperti rencana, yang tetap bisa diandalkan adalah hubungan antaranggota keluarga, komunikasi yang saling terbuka, saling mendukung, menguatkan, dan kejujuran.
Karakter Abah dan Emak memberikan teladan bahwa kejujuran dan kerja keras adalah sikap yang tetap harus dipertahankan walaupun dalam kondisi ekonomi yang sulit. Abah yang harus turun dari gaya hidup mewah ke hidup sederhana, memilih untuk menjaga integritas dan mengajak anak-anaknya mempertahankan nilai moral yang baik. Emak juga mendampingi, menjaga keharmonisan dan mendidik anak-anaknya agar menerima keadaan, bukan menyerah begitu saja. Selain itu, film ini juga menunjukkan bahwa perubahan besar seringkali menghadirkan dilema. Contohnya adalah dari tokoh Euis yang terbiasa berada di kondisi kemewahan merasa tertekan ketika harus menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Namun film ini menampilkan bahwa proses adaptasi itu penting, mulai dari pengakuan diri, penerimaan, sampai komitmen terhadap keluarga. Dalam proses itu, nilai-nilai seperti tanggung jawab, empati, kerjasama muncul secara alami.
Film ini juga menggambarkan bahwa keharmonisan keluarga tidak ditentukan oleh kondisi ekonomi semata. Tetapi keharmonisan keluarga digambarkan melalui kasih sayang, komunikasi, kerjasama, menerima perbedaan, bukan materi semata seperti harta. Itulah pesan moral dari film keluarga cemara yang saya tonton dan sangat sesuai dengan kondisi kehidupan sehari-hari kita seperti menghadapi perubahan, menjaga ikatan keluarga, tetap rendah hati, dan saling menghargai. Dan film ini juga menurut saya sangat cocok sebagai refleksi terutama generasi muda bahwa ketika nilai-nilai keluarga seperti kejujuran, tanggung jawab, kebersamaan dijalankan dengan baik, maka ketika kondisi sulit pun, kita tetap bisa hidup bahagia dan bermakna. Karena ketika kita mengejar status atau penampilan sosial tanpa fondasi nilai keluarga, kita akan mudah goyah saat tantangan datang. Dari film ini juga kita bisa belajar bahwa untuk menilai kembali apa yang paling penting dalam hidup kita bukanlah dari apa yang kita miliki, melainkan siapa yang bersama kita dan bagaimana kita memperlakukan satu sama lain.
5. Diskusi: Perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata
Nilai keluarga dalam film Keluarga Cemara episode ke-12 dengan judul "Jiwa Berharga" yaitu seperti kasih sayang, kebersamaan, kejujuran, dan tanggung jawab masih sangat relevan dalam kehidupan nyata. Di masyarakat modern, mungkin sudah banyak keluarga yang mulai kehilangan waktu bersama karena kesibukan pada orientasi pada materi. Film ini menjadi pengingat kita bahwa kekuatan keluarga bukan pada kekayaan, tetapi pada dukungan emosional dan nilai moral yang ditanamkan setiap hari.
Dari nilai-nilai yang ada pada film tersebut masih sangat sesuai dengan keadaan nyata keluarga. Contohnya seperti yang saya rasakan di keluarga saya, yang dimana rasa kekeluargaan atau kebahagiaan itu bukan hanya terletak pada kondisi ekonomi saja. Tetapi rasa kasih sayang, kerja keras, kerja sama, empati, tanggung jawab dan nilai moral lainnya itulah yang menjadi kebahagiaan tersendiri dan tentunya sebagai tempat belajar pertama bagi saya untuk belajar perkembangan karakter sangat mendukung dalam kondisi apapun, sehingga kondisi tersebut saya rasa masih sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada film dan kondisi nyata sebenarnya walaupun mungkin tidak semua keluarga seperti itu.
Dalam kehidupan nyata, nilai keluarga sering diuji oleh tekanan ekonomi dan perubahan sosial. Namun, keluarga yang tetap menjaga komunikasi dan menanamkan nilai moral yang baik akan memiliki ketahanan emosional yang lebih kuat. Karena keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter moral seorang anak karena menjadi lingkungan pertama seorang anak belajar bagaimana tanggung jawab, empati, kejujuran dan nilai moral lainnya yang menjadi pondasi karakter setiap anak. Dengan demikian, film keluarga cemara ini bisa kita simpulkan bahwa tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga bisa kita jadikan refleksi moral bagi masyarakat agar kembali menghargai pentingnya keluarga dan nilai-nilai moral yang melekat di dalamnya sebagai lingkungan pertama dalam perkembangan karakter seorang anak.
NPM: 2513032052
Tautan video
Episode 1: https://youtu.be/CUBwI4dHQJ8?si=HWrbiopvdshug6wh
Episode 2 : https://youtu.be/XyVnaOswbJQ?si=55577CHST4whOa7M
-Dilema Moral
1. Pada episode pertama dalam film "Keluarga Cemara" Peran "Abah"(Kepala Keluarga) mengalami dilema moral dalam membelikan baju untuk anaknya yaang bernama "Ara". Dimana baju tersebut dibeli untuk bisa di pakai Ara dalam bersekolah pada hari pertama. Tetapi, Dikarenakan Abah(Ayah Ara) tidak memiliki uang yang cukup maka tidak jadilah Peran ini Abah membeli baju untuk anaknya Ara. Pada saat itu, Peran Abah mengalami dilema moral antara membeli atau tidak. Ia memikirkan anaknya Ara akan sedih karena tidak akan dapat baju baru untuk bersekolah, Di sisi lain Abah juga memikirkan uang yang ia punya tidak cukup untuk membelikan Ara baju baru.
2. Pada episode kedua, Peran Ara mengalami dilema moral. Dimana pada suatu kejadian seorang wali murid menawarkan makanan kepada Ara. Namun, Di situ Ara bimbang antara menerimanya atau tidak. Dikarenakan kata Ayahnya(Abah) tidak boleh meminta-minta kepada orang lain. Ia mengartikan bahwa tawaran tersebut masuk dalam kata meminta yang dikatakan oleh ayahnya. Sedangkan di sisi lain, Ara yang seoarang anak kecil terlihat sangat ingin mengambil roti tersebut. Namun, Pada akhirnya Ara tetap mengambil pemberian roti dari salah satu wali murid dari teman sekelasnya.
-Perkambangan Karakter Moral
1.Pada episode pertama ada peran yang bernama "Eis"(Anak tertua). Eis berada pada tahap perkembangan moral di Level Konvensional mrnurut Kholberg. Dimana, Eis berpikir bahwa kebahgiaan adiknya(Ara) untuk mendapatkan baju baru adalah sesuatu yang patut di perjuangkan. Karena ia melihat bahwa kebahgiaan adiknya adalah sesuatu yang harus ia perjuangkan dan ia berpikir bahwa perilaku yang menyenangkan orang lain adalah perilaku yang baik.
2. Pada episode kedua, ada peran Ara yang sudah berada pada perkembangan moral tahap Praoperasional(2-6 tahun) menurut Piaget. Dimana ia menganggap bahwa sebuah peraturan adalah suci dan tidak boleh di ganggu gugat. Seperti ia mengikuti apa yang dikatakan ayahnya(Abah) "Tidak boleh meminta-minta", Ia menganggap bahwa peraturan tersebut tidak boleh dilanggar dan apabila dilanggar seperti melakukan kesalahan besar.
-Ulasan Pesan Moral
Dalam film Keluarga Cemara ini di Episode 1 dan 2 yang saya amati, Saya mendapatkan pesan moral bahwa persatuan keluarga yang saling peduli antara satu dengan yang lain, saling menyayangi dapat menguatkan keluarga tersebut, bahkan dalam keadaan tersulit sekalipun. Peran orang tua yang perduli akan perkembangan setiap anaknya, membuat moral anak tersebut tumbuh berkembang sesuai dengan usia dan seharusnya. Anak tersebut dapat jujur sesuai dengan didikan yang orangtuanya berikan.
-Perbandingan Nilai Keluarga dan Kehidupan Nyata.
Perbandingan nilai keluarga pada film keluarga cemara dengan kehidupan nyata, Tidak semua keluarga seperti keluarga cemara yang ada di dalam film. Dalam artian, Ada saja keluarga yang orang tuanya tidak memperhatikan tingkah laku dan perkembangan anaknya pada saat di sekolah seperti seperti yang dilakukan peran Abah terhadap anaknya yang bernama Ara. Nilai keluarga yang terkandung di dalam keluarga cemara seharusnya menjadi teladan yang harus ada di setiap keluarga di kehidupan nyata. Dimana setiap anggota keluarga saling memperdulikan satu sama lain. Namun, Pada kehidupan nyata yang kita ketahui bahwasanya ada saja keluarga yang tidak menerapkan sikap itu terutama orang tua yang cuek terhadap anaknya sehingga ini menimbulkan moral seorang anak yang kurang baik dan tidak sesuai dengan perkembangan yang seharusnya.
NPM : 2513032059
1. Berikut link Vidio yang saya tonton dan saya analisis : https://youtu.be/Ct-90Q15mrM?si=DGcpgUeCqUJjg4sF
2. Identifikasi dilema moral
- dilemma moral yang dihadapi euis terdapat pada antara kebutuhan pribadi yang mendesak dengan nilai kejujuran dan nilai syukur yang di tanamkan oleh keluarga nya yang selalu di ingatkan oleh abahnya. saat itu euis menemukan sejumlah uang di jalan, disitu ia bingung. Pikiran pertama euis adalah bahwa uang itu dapat menutupi kebutuhannya. Euis berfikir dengan ia mengambil duit tersebut dapat dibelikan baju dan sepatu karna nominal duit tersebut lumayan. Godaan untuk mengambil uang itu dan menyembunyikan penemuannya sangat besar,, mengingat kondisi ekonomi keluarga yang sulit. Disatu sisi, uang itu seolah solusi instan yang dapat menutupi kebutuhannya tanpa membebani abah dan emak. Namun, Tindakan ini bertentangan langsunng dengan nasehat abah yang selalu mengajarkan untuk bersyukur atas apa yang dimilki dan selalu hidup dengan kejujuran, sebuah prinsip yang telah menjadi fondasi nilai keluarga euis.
- dilemma moral yang kedua juga dialami oleh euis, muncul Ketika ia sedang berjualan Ketika ia harus berhadapan dengan reaksi emosional dan Harga dirinya melawan kewajiban etika dan prinsip berjualan. Saat ibu ibu pembeli mengomentari tentang jualan euis yaitu opak yang hangus dan bungkus opak yang sederhana, euis terpancing sekilas untuk membalas ucapan tersebut demi mempertahankan Harga dirinya. Namun, ia dihadpkan pada prinsip moral abah bahwa pelanggan harus tetap harus dilayani walaupun cerewet, sebuah prinsip berjualan yang sangat penting.
3. Menganalisis karakter utama
- Karakter euis termasuk dalam perkembangan moral menurut Kohlberg.Karakter Euis mencerminkan tahap moralitas Konvensional ( level 2 ) dimana mengambil uang dari hasil temuan di jalan dapat menjadi alat untuk meringankan kesulitan ekonomi keluarga dan orientasi "anak baik" dimana nilai nilai kejujuran dan harapan keluarga ( khususnya nasehat abah ) harus diprioritaskan.
- Momen Ketika Abah mengetahui bahwa Euis tidak memenangkan giveaway dan meresponnya dengan bijak. Karakter abah disini termasuk ke dalam tahap operasional formal yaitu tahap tertinnggi Piaget. sebagai orang dewasa, Abah menunjukan kemampuan berfikir abstrak dan deduktif yang matang.
4. Ulasan pesan moral
- Pesan moral yang dapat diambil dari film Keluarga Cemara episode 12 "Jiwa Berharga" adalah bahwa kebahagiaan dan nilai sesungguhnya sebuah keluarga tidak terletak pada harta benda atau pengakuan dari orang lain, tetapi dari, kejujuran, dan cinta yang tulus antaranggota keluarga. dalam cerita ini Euis (seperti keinginan mendapatkan materi dan godaan menemukan uang) dan hikmah bijak dari Abah, episode ini menekankan bahwa setiap individu memiliki "jiwa yang berharga" yang jauh melampaui kekayaan materi, ini mengajarkan kita pentingnya memegang teguh prinsip moral (seperti kejujuran dan kerja keras) meskipun kita berada dalam kondisi kesulitan ekonomi, karna nilai-nilai tersebutlah yang sesungguhnya menjadi pondasi dan warisan terpenting dalam kehidupan.
5. Perbandingan nilai keluarga dan kehidupan nyata
- Film Keluarga Cemara episode "Jiwa Berharga" secara idealis menonjolkan nilai-nilai utama seperti kebersamaan, kejujuran, dan rasa syukur dalam kesederhanaan sebagai inti dari "harta yang paling berharga" di tengah kesulitan finansial yang tidak seimbang di mana Abah, Emak, Euis, Ara dan Agil tetap saling support mendukung dan optimis. sebaliknya, jika dikaitkan dalam kehidupan nyata, nilai nilai itu sering kalah karna kita terlalu focus dengan urusan masing masing. Alhasil meluangkan Waktu untuk kumpul dengan keluarga lumayan susah dan untuk menjaga kejujuran juga terkadang menjadi sebuuah tantangan. keluarga modern benar benar harus berjuang dan sengaja untuk meluangkan Waktu agar nilai nilai keluarga dapat tetap hidup.
NPM : 2513032049
1. Tentang Film Keluarga Cemara Episode “Siap Sekolah”
Saya sudah menonton film keluarga Cemara episode 1 “Siap Sekolah”
https://youtu.be/CUBwI4dHQJ8?si=kuRQeKwHOgBzPuZR
Episode pertama Keluarga Cemara yang berjudul “Siap Sekolah”, di dalam episode ini saya bisa melihat perjuangan nya abah, emak, dan ketiga anaknya (Euis, Ara/Cemara, dan Agil) setelah mereka jatuh miskin dan akhirnya pindah ke desa. Di dalam episode ini menceritakan tentang arah yang ingin masuk sekolah pertama kali, dan Abahnya sudah janji mau memberikan baju baru. Tapi saat itu Abah yang bekerja sebagai tukang becak, sangat susah untuk membelikan baju arah walaupun dia sudah bekerja keras.
2. Kejadian dilema moral yang di alami di dalam episode tersebut
A. Abah mengalami dilema moral antara Janji dan kejujuran, di mana Abah ingin sekali menepati janji kepada Ara yaitu membelikan baju baru untuk ara namun uang abah belum cukup walaupun sudah di tambahi dengan hasil jualan euis. Di dalam episode ini Abah bingung antara memilih Apakah dia harus memaksakan diri, utang lagi, atau bahkan berbohong demi membuat Ara senang sesaat?. Tapi pada akhirnya Abah memilih untuk jujur. Dia duduk bersama anaknya dan menjelaskan baik-baik. Abah bilang: “Yang penting kan sekolah itu harus belajar agar pintar, jadi tidak usah harus pakai baju baru... Kalau begitu mah namanya pamer Itu.”
Di sini Abah mengajarkan bahwa intregitas atau kejujuran lebih mahal dari pada baju baru Abah memilih mendidik hati anaknya daripada memuaskan keinginan duniawi. Kejadian dilema ini adalah antara menjaga perasaan anak dengan cara gampang, atau mendidik anak dengan cara yang benar tapi sulit.
B. Euis, anak sulung mengalami dilema moral. Ketika Abah gagal membelikan baju baru untuk Ara, Euis dan Emak mencari ide lain. Mereka melihat baju-baju lama Euis dari Jakarta, terutama Gaun Cinderella yang paling ia sayang karena menyimpan banyak kenangan indah. Euis harus memilih: apakah ia akan menyimpan gaun berharga itu untuk dirinya sendiri, atau merelakannya? Akhirnya, Euis menunjukkan ketulusan hatinya. I ikhlas membiarkan gaun kesayangannya dirombak agar bisa dipakai Ara ke sekolah. Keputusan yang di ambil Euis mengajarkan kita bahwa kasih sayang pada adik dan kebahagiaan keluarga itu jauh lebih penting daripada benda apa pun, bahkan benda yang penuh kenangan sekalipun.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral
Abah menunjukkan tingkat moral yang paling tinggi (Pasca-Konvensional) dalam Teori Kohlberg, karena cara berpikirnya sudah melampaui aturan sosial yang biasa. Dalam episode ini, Abah tidak takut dicap gagal atau dikritik orang lain karena anaknya tidak memakai baju baru ke sekolah. Ia membuat keputusan berdasarkan prinsip kuat yang diyakininya: kejujuran dan kesederhanaan. Daripada berutang atau berbohong demi menuruti keinginan material, Abah memilih untuk jujur dan mengajarkan Ara bahwa hakikat sekolah adalah untuk mencari ilmu, bukan untuk pamer. Ini membuktikan bahwa Abah berpegang teguh pada nilai etika yang lebih besar dan universal, alih-alih hanya menuruti norma atau janji sesaat.
4. Menyusun ulasan tertulis (500 kata) tentang pesan moral film
Episode pertama Keluarga Cemara berjudul “Siap Sekolah” ini, berhasil memberikan pelajaran moral yang sangat dalam dan menyentuh hati. Film ini mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati sebuah keluarga tidak diukur dari jumlah uang di dompet, melainkan dari seberapa kuat ikatan cinta dan kejujuran di antara mereka.
Cerita ini berpusat pada krisis kecil Ara yang sangat ingin baju baru untuk hari pertama sekolah, sesuai janji Abah. Namun, kenyataannya. Abah sudah berusaha mati-matian—mencari pekerjaan, tapi hasilnya nihil. Uang dua puluh ribu rupiah terasa sangat sulit di cari .
Puncak moral dalam cerita ini terjadi saat Abah harus menghadapi Ara. Daripada berbohong atau memaksakan diri berutang lagi demi memuaskan keinginan material, Abah memilih jalur yang paling sulit: kejujuran. Abah duduk dan menjelaskan kepada Ara dengan penuh kasih sayang. abah berkata : “Yang penting kan sekolah itu harus belajar agar pintar, jadi tidak usah harus pakai baju baru... Kalau begitu mah namanya pamer Itu.”
Melalui kata-kata itu, Abah mengajarkan dua hal. Pertama, integritas seorang ayah lebih penting daripada janji material. Abah rela dianggap gagal menepati janji daripada mengorbankan prinsip hidupnya. Kedua, abah menanamkan nilai kesederhanaan dan anti-gengsi. Di tengah masyarakat yang sering kali menilai orang dari penampilan, Abah mengajarkan anak-anaknya bahwa harga diri kita ditentukan oleh isi kepala dan isi hati, bukan merek baju yang melekat di badan. Ini adalah pelajaran yang sangat mahal dan relevan sampai sekarang, di tengah derasnya arus pamer di media sosial.
Pesan moral ini kemudian diperkuat oleh peran Emak dan Euis. Solusi untuk masalah Ara akhirnya datang dari pengorbanan tulus. Emak dan Euis memutuskan untuk merombak Gaun Cinderella milik Euis—baju yang sangat ia sayangi dan menyimpan kenangan indah masa lalu—menjadi pakaian baru untuk Ara.
Euis menunjukkan kasih sayang tanpa pamrih. Ia melepaskan benda yang paling berharga secara emosional demi melihat adiknya bahagia dan tenang menghadapi hari pertamanya di sekolah. Pengorbanan Euis ini mengajarkan kita tentang solidaritas keluarga. Dalam keluarga, tidak ada istilah ‘ini milikku’ atau ‘itu milikmu’; semua kesulitan dan kebahagiaan ditanggung bersama.
Secara keseluruhan, Keluarga Cemara adalah pengingat indah bahwa krisis ekonomi justru bisa menjadi waktu terbaik untuk menguatkan pondasi moral. Film ini meyakinkan kita bahwa selama Abah dan Emak tetap memegang erat nilai cinta, kejujuran, kerja keras, dan syukur, keluarga mereka akan selalu menjadi “harta” yang paling berharga. Episode ini mengajarkan kita semua agar selalu mendapatkan makna hidup di atas segala kemewahan dunia.
5. Perbandingan dengan kehidupan nyata
Jika di bandingkan dengan kehidupan nyata, di dalam film keluarga Cemara tersebut mengajarkan kesederhanaan, dan pengorbanan, di mana Abah mengajarkan anak-anaknya bahwa menjadi pintar jauh lebih penting daripada penampilan, dan mereka dengan ikhlas saling berbagi serta membantu saat susah. Sementara itu, banyak keluarga saat ini yang lebih terpengaruh oleh gengsi dan penampilan, sering kali merasa tertekan untuk membeli barang-barang mahal hanya agar terlihat baik atau setara dengan orang lain, membuat mereka kadang melupakan nilai-nilai inti seperti kesederhanaan dan keikhlasan berkorban. Intinya, Keluarga Cemara mengajarkan bahwa harta yang sebenarnya adalah cinta, kejujuran, dan solidaritas, bukan kekayaan material semata.
NPM: 2513032069
KELAS: 25 B
1. Keluarga Cemara Episode 15 "Jika Agil Ingin"
Tautan Video: https://youtu.be/pRNGp95HwV4?si=Aq7oPhoiKZXyHW6d
Episode 15 dari serial Keluarga Cemara, berjudul "Jika Agil Ingin," mengangkat cerita sederhana yang penuh pelajaran moral di tengah keterbatasan ekonomi. Dalam episode ini, keinginan Agil untuk memiliki atau setidaknya melihat akuarium hias menjadi masalah utama. Cerita berfokus pada upaya Abah dan Emak untuk mengajari anak-anak mereka yakni Ara dan Agil untuk mengendalikan keinginan dan menghadapi kenyataan hidup dengan jujur dan sabar. Pesan moral utama film ini adalah tentang bagaimana keluarga harus menyikapi harapan, usaha, dan kejujuran.
2. Mengidentifikasi Dua Dilema Moral dalam Film
Dua masalah moral utama yang muncul di film ini adalah:
1. Dilema antara Memberi Harapan atau Mendidik tentang Kenyataan Ekonomi.
•Emak khawatir jika Abah terus memberi harapan, Agil akan menjadi penuntut dan keinginannya harus selalu dipenuhi. Ini sulit bagi kondisi ekonomi mereka.
•Pilihan Moral: Abah memilih untuk mempertahankan harapan Agil, karena ia percaya bahwa harapan adalah pendorong hidup. Namun, ia menyertai harapan itu dengan syarat: harus ada usaha.
2. Dilema antara Jujur dalam Tindakan Tujuan Akhir yang Baik.
•Abah membuat "akal-akalan" agar anak-anaknya bisa melihat akuarium tanpa mengeluarkan uang. Ia meminta Agil dan Ara mengumpulkan jentik nyamuk untuk dijadikan hadiah bagi Pipin agar mereka diizinkan masuk dan melihat akuariumnya.
•Pilihan Moral: Abah menggunakan cara yang kurang jujur (trik) demi mencapai tujuan yang baik: membuat anak senang dan mengajari mereka berinisiatif. Dilema ini mempertanyakan: apakah niat baik membenarkan cara yang tidak sepenuhnya jujur? Kegagalan rencana ini menjadi pelajaran bahwa hasil yang baik sebaiknya dicapai dengan cara yang jujur juga.
3. Menganalisis Karakter Utama Berdasarkan Teori Perkembangan Moral
Karakter utama ialah Abah yang dimana abah adalah pusat moral dalam cerita ini. Tindakannya sesuai dengan Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg .
Abah berada di Tingkat Konvensional, antara Tahap 3 dan Tahap 4:
•Tahap 3: Orientasi Hubungan Interpersonal yang Baik (“Good Boys/Good Girl”): Abah ingin dilihat sebagai "ayah yang baik" oleh keluarganya. Keputusannya memberi harapan adalah upaya menjaga keharmonisan dan citra dirinya yang penuh kasih sayang di mata Emak dan anak-anak.
•Tahap 4: Orientasi Hukum dan Ketertiban (Law and Order Orientation): Keputusan Abah membuat rencana agar anak melihat akuarium tanpa biaya adalah caranya menyeimbangkan tugas sebagai ayah (mengajari usaha) dengan tanggung jawab ekonominya (menghemat uang). Abah bertindak bukan karena takut hukuman, tetapi karena perannya sebagai teladan dan penanggung jawab moral keluarga.
4. Ulasan Pesan Moral Film Keluarga Cemara Episode 15 "Jika Agil Ingin"
Keluarga Cemara episode "Jika Agil Ingin" kembali membuktikan bahwa cerita sederhana dapat membawa pelajaran etika yang kuat. Melalui masalah keinginan Agil yang sederhana, film ini memberikan pesan moral utama yaitu kekayaan sejati keluarga adalah integritas, daya juang, dan makna yang ditemukan dalam proses, bukan pada pemenuhan keinginan sesaat.
Pendidikan moral dalam episode ini terlihat jelas dari dialog Abah dan Emak. Emak melihat harapan sebagai sumber masalah jika tidak disertai kemampuan untuk memenuhinya. Namun, Abah berpegang teguh pada keyakinan bahwa harapan adalah pendorong utama kehidupan. Pilihan Abah untuk menyuburkan harapan menunjukkan kematangan moralnya di Tingkat Konvensional. Ia mengajari anak-anaknya bahwa harapan harus diwujudkan melalui inisiatif dan usaha.
Film ini juga menguji batas kejujuran melalui 'trik' Abah. Idenya mengumpulkan jentik nyamuk sebagai "hadiah" untuk Pipin adalah upaya mendidik inisiatif, tetapi metodenya sedikit menyimpang dari kejujuran mutlak. Hal ini menunjukkan dilema orang tua miskin yang terpaksa berkompromi demi tujuan baik. Meskipun Abah ingin membuat anak senang tanpa biaya, kegagalan trik ini menjadi pelajaran bahwa hasil yang baik idealnya harus dicapai melalui cara yang sepenuhnya jujur dan tulus.
Pesan moral tentang integritas diperkuat oleh Emak di warung. Dengan hati-hati dan jujur, Emak mengoreksi catatan utang yang ternyata salah, menunjukkan bahwa keluarga ini memprioritaskan kejujuran di atas kebutuhan ekonomi mendesak. Pada bagian ini menjadi pengingat tegas bahwa kejujuran adalah prinsip, bukan pilihan yang tergantung kondisi. Emak memberikan teladan nyata kepada anak-anaknya tentang pentingnya integritas dalam setiap interaksi.
Pada akhirnya, film ini mengajarkan bahwa keinginan Agil harus diatasi dengan usaha, bukan larangan. Pelajaran moral terbesar yang didapat anak-anak bukanlah akuarium, melainkan nilai dari upaya kolektif, kerja keras mengumpulkan jentik-jentik, dan menghadapi rasa kecewa ketika usaha tidak berhasil. Film Keluarga Cemara pada episode ini menegaskan bahwa proses dan perjuangan adalah harta paling berharga, dan kegagalan adalah bagian dari proses pembentukan karakter. Keluarga Cemara juga mengingatkan kita untuk menghindari rasa iri dan berhenti membandingkan diri. Keluarga harus fokus pada nilai-nilai yang mereka miliki bersama, bukan pada kemewahan orang lain.
Episode 15 ini menjadi refleksi moral tentang cara hidup bermartabat dalam keterbatasan. Film ini menegaskan bahwa kebahagiaan dan harga diri keluarga tidak ditentukan oleh harta, melainkan oleh nilai-nilai moral yang mereka pertahankan. Pengorbanan, kejujuran, dan ketulusan niat Abah dan Emak adalah "Harta yang paling berharga" yang sesungguhnya.
Npm:2513032042
1. Link vidio film keluarga Cemara episode yang saya tonton https://youtu.be/g-Bn3N0iifQ?si=5cDPdxh6HC1wsNGU
2. dilema moral yang muncul dalam episode keluarga cemara episode yaitu: pertama,
Dilemma moral tokoh abah: tokoh abah mengalami dilema moral antara dia harus terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan membelikan baju untuk anak nya Bernama ara untuk dia sekolah atau di harus beristirat karna dia sudah terlalu Lelah dari menarik becak dan ending nya abah tetap bekerja menarik becak walaupun ujung ujung nya duit nya tetap tidak cukup untuk membelikan ara baju untuk sekolah
pemeran tokoh Euis: tokoh Euis merasakan dilema antara dia harus memilih antara bermain bersenang-senang dengan teman teman sekolah yang sepantaran dengan nya atau harus membantu abah dan emak nya dengan berjualan opak untuk membantu abah nya mengumpulkan uang untuk adik nya membeli baju untuk dia sekolah, dan ueis menyadari bahwa dia harus tetap berjualan opak untuk membantu abah nya mencari uang walaupun setelah euis berjualan uang nya tetap tidak cukup untuk membelikan baju untuk ara dan akhirnya euis menemukan Solusi untuk memberikan baju euis waktu dia kecil saat orang tua nya masih jaya dengan di modifikasi oleh ibu nya
3.hasil analisis nya tentang karakter utama di film keluarga cemara Berdasarkan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg
Abah berada pada tahap pascakonvensional yaitu tingkatan tertinggi karena abah berperilaku berdasarkan nilai moral yang mereka yakini seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Abah tidak peduli terhadap pandangan orang lain, yang penting apa yang abah lakukan tetap benar dan halal. Sedangkan Euis masih berada di tahap konvensional yaitu menurut teori kohlberg pada tahap konvensional yaitu anak bertindak berdasarkan norma,aturan,dan harapan orang lain termasuk teman dan keluarga ,euis ingin seperti temannya karna euis terpengaruh oleh norma sosial yaitu saat euis melihat teman teman nya bermain dan berbelanja tampa harus kerja seperti dirinya ,tetapi di situasi yang sama euis belajar bahwa tentang menghargai nilai kekeluargaan yaitu saling membantu dan hidup denngan kesederhanaan dan rasa Syukur dan kasih saying dari orangtua nya kedua adik nya
4. Film Keluarga Cemara di efisode ”siap sekolah’’menyampaikan banyak sekali pesan moral yang saya dapat kan dan tentunya alur nya sangat menyentuh dan bersanngkutan dengan kehidupan keserderhaan kehidupan di desa episode ini menceritakan sebuah keluarga yang awalnya hidup berkecukupan di kota Jakarta, namun keluarganya harus menghadapi musibah yang melanda keluarganya ketika sang Abah, mengalami kebangkrutan karena ditipu oleh saudaranya sendiri. Kejadian itu membuat keluarga mereka kehilangan segalanya dan harus pindah ke desa untuk memulai hidup baru dengan penuh kesederhanaan dan sangat berbanding terbalik dengan kehidupan mereka di jakartas Dari sinilah nilai-nilai moral yang bisa saya lihat yaitu terutama tentang makna perjuangan seorang orang tua untuk anak anakk nya, serta kejujuran, dan arti sebenarnya dari keluarga yang saling membantu dan saling menghargai
Pesan moral pertama yang bisa saya ambil dari film keluarga cemara episode ini adalah tentang keteguhan dan tanggung jawab seorang kepala keluarga yaitu abah Meskipun Abah kehilangan pekerjaannya dan harta bendanya, ia tidak menyerah. Ia tetap berusaha mencari nafkah dengan cara yang halal, bahkan ketika harus menjadi pekerja sederhana di desa yaitu menarik becak dengan upah yang tidak seberapa dari kejadiaan ini menunjukkan bahwa tanggung jawab seorang abah tidak diukur dari banyaknya uang, melainkan dari kesungguhannya menjaga dan menafkahi keluarganya yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya Abah juga Adalah sosok yang jujur dan sabar, meskipun ia pernah dikhianati oleh saudaranya sendiri. Sikap abah ini memberi contoh kepada saya bahwa kejujuran dan kesabaran adalah kunci untuk tetap kuat dalam menghadapi ujian hidup.
Pesan moral kedua terlihat dari peran Emak dan anak-anaknya, terutama Euis sebagai anak sulung. Emak selalu menjadi pendukung setia suaminya dan tetap tegar meski hidup berubah drastis. Ia tidak pernah mengeluh, melainkan terus memotivasi keluarganya agar bersyukur atas apa yang masih mereka miliki. Sementara itu, Euis belajar banyak tentang arti tanggung jawab dan kedewasaan. Euis membantu kedua orang tua untuk mencari tambahan uang untuk kebutuhan keluarganya dengan berjualan opak setalah dia pulang sekolah Dari yang awalnya merasa malu karena hidupnya berubah, ia akhirnya mengerti bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh harta, tetapi oleh kebersamaan dan kasih sayang dalam keluarga. Perjuangan Euis juga menggambarkan betapa pentingnya rasa empati dan saling pengertian antaranggota keluarga.
Pesan moral ketiga adalah tentang kesederhanaan dan rasa syukur. Setelah pindah ke desa, keluarga Cemara hidup dengan keterbatasan bahkan abah tidak bisa untuk membelikan ara yaitu anak kedua nya baju yang seharga 20.000 untuk ara sekolah. Namun dari kesulitan itu mereka belajar untuk mensyukuri hal-hal kecil dalam hidup. Mereka menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan dan ketulusan. Film ini mengingatkan saya bahwa hidup sederhana bukan berarti hidup kekurangan, melainkan hidup dengan hati yang penuh rasa syukur dan cinta
Film keluarga cemara ini mengajarkan kita untuk selalu menghargai keluarga, bersyukur atas apa yang dimiliki, dan tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan hidup
5. Nilai keluarga dalam film keluarga cemara dalam episode ini menurut saya sangat dekat dengan kehidupan nyata kita sehari hari keluarga Cemara hidup sederhana tapi tetap bahagia karena saling menyayangi dan menghargai. Dalam kehidupan kita zaman sekarang banyak sekali keluarga mungkin mereka itu lebih focus pada material atau uang dan penampilan,Dalam film keluarga Cemara jugs digambarkan meraka Adalah keluarga yang sangat kuat, penuh kasih sayang, dan tetap bersatu meskipun hidup dalam kesulitan.Mereka saling mendukung dan tidak mudah menyerah ketika kehilangan harta benda.Sedangkan dalam kehidupan nyata, tidak semua keluarga bisa setegar itu. Banyak orang yang ketika mengalami kesulitan ekonomi justru saling menyalahkan, bertengkar, bahkan ada yang memilih berpisah karena tidak kuat menghadapi tekanan hidup
NPM : 2513032068
1. Menonton Film “Keluarga Cemara” secara Utuh
Episode 11 "Euis Sudah Dewasa" menceritakan momen penting dalam hidup Euis, anak sulung Abah dan Emak, yang mengalami menstruasi pertamanya. Kejadian ini memicu serangkaian peristiwa dan dilema moral yang berhubungan erat dengan kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan. Berikut link videonya: https://youtu.be/45JqLBcFJhA?si=ymoK0Zh6d0F3TBWt
2. Dilema Moral yang muncul:
a. Dilema moral pertama muncul ketika Euis meminta Emak untuk membeli pembalut di toko dengan alasan agar bisa mendapatkan kupon berhadiah. Permintaan sederhana tersebut ternyata menimbulkan pertimbangan berat bagi sang ibu yang tengah menghadapi keterbatasan ekonomi keluarga. Karena jika adik-adiknya mengetahui hal itu, nnti mereka ingin ikut dan meminta sesuatu yang tidak bisa dipenuhi ibunya. Meskipun Akhirnya, Emak menuruti permintaan Euis, tapi dengan satu pesan penting. Ia berkata, “Tapi kamu jangan bilang-bilang adikmu... Kita gak pernah punya uang lebih selain untuk makan sehari-hari kan.” Dari ucapannya, terlihat jelas kalau Emak sedang berjuang di antara dua hal yang sama-sama sulit: ingin jujur pada anak-anaknya, tapi juga ingin menjaga agar mereka tidak kecewa dan tetap merasa tenang.
b. Dilema moral kedua muncul ketika adik-adik Euis mengetahui bahwa Emak mendapatkan kupon hadiah dari pembelian pembalut untuk Euis. Begitu tahu, mereka langsung berebut ingin mengisi kupon tersebut. Suasana rumah yang awalnya tenang jadi ramai karena masing-masing anak ingin menuliskan namanya sendiri dengan harapan bisa memenangkan hadiah. Melihat situasi itu, Abah mencoba menengahi agar tidak terjadi pertengkaran. Dengan nada tenang, ia berkata, “Supaya adil, bagaimana kalau pakai nama Euis saja? Toh kupon itu didapat dari membeli pembalut untuk keperluan Teh Euis.” Keputusan sederhana itu membuat suasana kembali tenang, meski mungkin ada sedikit rasa kecewa dari adik-adiknya.
Adegan ini menggambarkan dilema moral antara keadilan dan keinginan untuk menyenangkan semua anak. Abah dihadapkan pada dua pilihan sulit: membagi kesempatan secara merata agar semua anak senang, atau memberikan hak kepada pihak yang memang berhak, yaitu Euis. Abah akhirnya memilih untuk menegakkan keadilan, meski tahu keputusannya tidak akan memuaskan semua pihak.
3. Menganalisis Karakter Utama Berdasarkan Teori Perkembangan Moral
a. Dalam film Keluarga Cemara, tokoh Abah dapat dikategorikan berada pada perkembangan moral konvensional, khususnya tahap keempat menurut teori Lawrence Kohlberg, yaitu orientasi pada hukum dan ketertiban. Tahap ini ditandai dengan munculnya kesadaran bahwa tindakan moral harus mempertahankan keteraturan, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Hal tersebut tampak jelas dalam adegan ketika anak-anaknya berebut ingin menulis nama pada kupon hadiah yang diperoleh dari pembelian pembalut untuk Euis. Dalam situasi itu, Abah mengambil keputusan dengan berkata, “Supaya adil, bagaimana kalau pakai nama Euis saja? Toh kupon itu didapat dari membeli pembalut untuk keperluan Teh Euis.” Ucapan tersebut mencerminkan bahwa Abah mendasarkan tindakannya bukan pada kepentingan pribadi atau emosi, tetapi pada prinsip keadilan dan aturan yang berlaku dalam keluarga. Ia berusaha menegakkan nilai kejujuran dan tanggung jawab agar anak-anaknya belajar memahami makna keadilan yang sesungguhnya. Dengan demikian, sikap dan keputusan Abah menggambarkan perkembangan moral pada tingkat konvensional, di mana seseorang bertindak berdasarkan kesadaran terhadap norma dan kewajiban sosial.
b. Perilaku Euis dalam adegan ketika ia mendapatkan haid pertamanya mencerminkan tahap perkembangan moral konvensional, khususnya tahap orientasi anak manis menurut teori Lawrence Kohlberg. Pada tahap ini, seseorang berperilaku baik agar disenangi dan diterima oleh orang lain. Euis yang merasa malu dan mengurung diri di kamar menunjukkan bahwa ia sangat memperhatikan pandangan keluarganya terhadap dirinya. Rasa malunya bukan semata karena peristiwa biologis itu sendiri, melainkan karena kekhawatiran akan penilaian orang lain dan keinginan untuk tetap dianggap sebagai anak yang baik dan “normal.” Moralitasnya masih berfokus pada hubungan interpersonal yang dekat, yaitu keluarga, dan bagaimana menjaga citra diri agar tetap diterima. Setelah Abah dan Emak memberikan dukungan dengan mengatakan, “Abah mah tidak setuju kalau kamu malu karena itu malah bangga atuh,” Euis mulai merasa tenang dan bisa menerima dirinya, menandakan bahwa validasi dari orang yang ia hormati menjadi kunci bagi kestabilan moralnya pada tahap perkembangan ini.
4. Pesan Moral film Keluarga Cemara
Episode ke-11 dari film Keluarga Cemara yang berjudul “Euis Sudah Dewasa” menampilkan kisah yang hangat dan penuh makna tentang proses pendewasaan seorang anak perempuan. Cerita ini berpusat pada Euis, anak sulung dalam keluarga Abah dan Emak, yang mulai mengalami perubahan dalam hidupnya ketika mendapatkan menstruasi untuk pertama kalinya. Momen ini menjadi titik penting dalam perjalanan hidup Euis, menandai peralihan dari masa anak-anak menuju masa remaja. Melalui kisah sederhana ini, penonton diajak untuk memahami arti kedewasaan yang sesungguhnya, tidak hanya dari segi biologis, tetapi juga dari segi sikap, tanggung jawab, dan pemahaman diri.
Dalam episode ini, Emak dan Abah menunjukkan keteladanan luar biasa sebagai orang tua yang penuh pengertian. Ketika mengetahui bahwa Euis mengalami menstruasi, mereka tidak bersikap panik atau menakut-nakuti, tetapi justru memberikan penjelasan dengan lembut dan menenangkan. Emak dengan kasih sayang menjelaskan bahwa apa yang dialami Euis adalah hal alami yang menandakan bahwa ia telah tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa. Abah pun menegaskan bahwa tidak ada yang perlu malu, karena setiap perempuan akan melewati fase tersebut. Sikap terbuka dan penuh empati dari orang tua ini memberikan contoh penting bagi para penonton, khususnya dalam hal komunikasi keluarga. Episode ini menekankan bahwa membangun keterbukaan antara orang tua dan anak sangat penting agar anak merasa aman, dipahami, dan tidak salah dalam memaknai perubahan diri yang sedang dialaminya.
Selain membahas tentang kedewasaan biologis, episode ini juga menyoroti pentingnya rasa tanggung jawab dan kemandirian. Sebagai anak sulung, Euis ditampilkan sebagai sosok yang peduli dan bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ia membantu Emak berjualan serta menjaga adik-adiknya dengan penuh kasih. Meskipun masih muda, Euis sudah memahami bahwa menjadi bagian dari keluarga berarti ikut berperan dalam menjaga keharmonisan dan membantu satu sama lain. Dari sinilah penonton dapat belajar bahwa kedewasaan tidak hanya diukur dari usia, melainkan juga dari bagaimana seseorang mampu menunaikan tanggung jawab dengan kesadaran dan ketulusan.
Keluarga Cemara juga selalu menampilkan kehidupan sederhana yang penuh dengan makna kehidupan. Dalam kesederhanaan itu, mereka tetap hidup bahagia karena saling mencintai dan saling mendukung. Episode ini memperlihatkan bagaimana keluarga menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi anak untuk belajar menghadapi dunia luar. Abah dan Emak berperan sebagai teladan yang mengajarkan kejujuran, kesabaran, dan kehati-hatian dalam bergaul. Mereka selalu mengingatkan anak-anak agar tetap menjaga diri, menghormati orang lain, dan tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang dapat merugikan.
Secara keseluruhan, pesan utama yang disampaikan dalam Keluarga Cemara episode “Euis Sudah Dewasa” adalah bahwa proses menuju kedewasaan merupakan perjalanan yang alami dan harus disertai dengan bimbingan keluarga. Kedewasaan sejati bukan hanya ditandai oleh perubahan fisik, tetapi juga oleh kematangan emosional dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Melalui dukungan, kasih sayang, dan nasihat orang tua, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, bijaksana, dan siap menghadapi tantangan kehidupan. Episode ini tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama dalam membentuk karakter dan kepribadian anak.
5. Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film Keluarga Cemara dan Kehidupan Nyata
Film Keluarga Cemara menggambarkan kehidupan keluarga sederhana yang penuh nilai moral dan sangat dekat dengan kehidupan nyata masyarakat Indonesia. Banyak keluarga di sekitar kita yang juga harus berjuang di tengah keterbatasan ekonomi, tapi tetap berusaha menjaga kebersamaan dan kasih sayang seperti yang dilakukan keluarga Abah. Mereka saling mendukung, tidak saling menyalahkan, dan tetap berusaha bersyukur dengan apa yang ada.
Dalam kehidupan nyata, nilai-nilai seperti ini sering terlihat. Misalnya, ketika orang tua bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara anak-anak belajar memahami kondisi dan tidak menuntut berlebihan. Atau saat ada masalah dalam keluarga, mereka memilih untuk menyelesaikannya dengan sabar dan saling pengertian. Hal-hal sederhana seperti itu menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kekayaan, tapi pada kehangatan dan ketulusan di dalam rumah.
NPM : 2513032043
1. saya sudah menonton video keluarga cemara pada episode “siap sekolah” yang ada di youtube : https://youtu.be/g-bn3n0iifq?si=5cdpdxh6hc1wsngu
2. dua dilema moral yang dialami dalam video tersebut yaitu :
yang pertama, tokoh “abah” yang dilema antara rasa lelah dan tanggung jawab sebagai ayah yaitu pada saat abah ingin membelikan baju baru untuk anaknya yang bernama ara yang baru akan masuk sekolah atau istirahat dirumah karena memang kondisi nya yang sudah tua dan mudah Lelah. Namun, abah memilih untuk beristirahat dan pulang ke rumah tanpa membelikan baju karena uang nya kurang lalu memberikan penjelasan kepada anaknya yaitu ara
yang kedua, tokoh “euis” yang mengalami dilema moral antara barang kesayangannya atau kesenangan adiknya. yaitu pada saat abahnya gagal membelikan baju untuk adiknya yaitu ara, kemudian euis mengusulkan ide kepada ibu nya untuk memberikan baju lama nya kepada adiknya dengan memotong baju tersebut karena kepanjangan. Dilema yang dihadapi euis di sini Adalah karena baju tersebut Adalah baju kesayangan euis dan ia harus mengorbankan baju tersebut untuk adiknya. Namun Akhirnya euis memilih untuk memberikan baju tersebut kepada adiknya agar semangat untuk hari pertama sekolah.
3. Teori perkembangan moral yang saya ambil Adalah menurut kholberg
Karakter “abah” termasuk dalam perkembangan moral tahap pasca-konvensional karena sikap abah yang menunjukkan sikap moral yang matang dengan menempatkan nilai kejujuran dan tanggung jawab. abah mengambil keputusan dengan bijak dan atas dasar hati nurani untuk lebih memilih menjelaskan keadaan kepada sang anak.
sedangkan tokoh "euis" termasuk dalam perkembangan moral tahap konvensional (orientasi anak baik) yaitu pada tahap ini seseorang bertindak berdasarkan empati, kasih sayang, keinginan untuk di puji dan keinginan untuk menyenangkan orang lain. Euis memilih berkorban demi adiknya karena ia peduli dan ingin menjaga keharmonisan dalam keluarganya.
4. Ulasan tentang pesan moral
Film ini menyampaikan banyak pesan moral dengan alur cerita yang sangat menyentuh dan penuh makna. Pada episode ini, kisah berfokus pada sebuah keluarga yang awalnya hidup berkecukupan di kota. Mereka memiliki kehidupan yang mapan dan nyaman, namun segalanya berubah ketika sang kepala keluarga yaitu Abah yang mengalami kebangkrutan. Musibah tersebut membuat kehidupan merka berbanding terbalik dengan kehidupan sebelumnya. Dimana mereka kehilangan harta benda yang membuat keluarga ini harus meninggalkan kenyamanan kota dan pindah ke desa. Di desa, mereka memulai kembali kehidupan baru yang sangat berbeda dengan sebelumnya hidup dalam kesederhanaan, penuh keterbatasan, tetapi tetap dipenuhi kasih sayang dan kehangatan keluarga. Meskipun hidup mereka berubah drastis, keluarga ini tetap menunjukkan ketabahan, kerja keras, dan kebersamaan. Pesan moral utama yang dapat diambil dari film ini adalah pentingnya keteguhan hati, arti keluarga yang sesungguhnya, serta nilai-nilai kesederhanaan yang sering terlupakan dalam kehidupan saat ini. Ada suatu momen ketika Ara, anak bungsu Abah, akan masuk sekolah untuk pertama kalinya. Sebagai seorang ayah, Abah ingin memenuhi keinginan sederhana Ara untuk memiliki baju baru di hari pertama sekolahnya. Namun, karena kesulitan kondisi ekonomi keluarga membuat hal itu menjadi tantangan. Abah berusaha sangat keras untuk mendapatkan uang demi membeli baju baru untuk anaknya. Ia mencari nafkah dengan menarik becak di desa. Meskipun hasilnya tidak seberapa, Abah tidak pernah menyerah. Ia tetap berjuang, menunjukkan sikap tangguh, bertanggung jawab, dan penuh kasih sayang terhadap keluarganya. Dari sosok Abah, kita belajar arti sebenarnya dari kerja keras, kejujuran, serta cinta yang tulus seorang ayah terhadap anak-anaknya. Selain Abah, karakter Euis, anak sulung dalam keluarga tersebut, juga memberikan teladan moral yang kuat. Euis Adalah anak remaja yang penuh kasih sayang, empati, dan tanggung jawab. Ia memahami keadaan ekonomi keluarganya dan tidak pernah menuntut hal-hal berlebihan. Sebaliknya, Euis justru membantu Abah mencari uang untuk membeli baju baru bagi adiknya, Ara. Tindakan ini menunjukkan kedewasaan moral, keikhlasan, dan rasa peduli yang mendalam terhadap keluarga. Meskipun uang yang abah dan euis kumpulkan tetap tidak cuckoo untuk membeli baju baru untuk ara, euis tidak menyerah, ia mengorbaankan baju kesayangan miliknya untuk diberikan kepada ara. Pada momen ini euis memiliki sikap moral rela berkorban dan menjadi contoh anak yang menghormati orang tua dan mampu menempatkan kebahagiaan keluarga di atas kepentingan pribadi. Ia tidak mengeluh atas kesusahan yang mereka alami, melainkan berusaha mendukung ayahnya dengan tulus. Dari sikap Euis, kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari harta benda, tetapi dari rasa saling peduli, kerja sama, dan cinta di antara anggota keluarga. Secara keseluruhan, film ini mengajarkan bahwa dalam kehidupan, harta bukanlah ukuran utama kebahagiaan. Justru dalam kesederhanaan, kita bisa menemukan makna cinta, ketulusan, dan kekuatan keluarga yang sesungguhnya.
5. Perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata dapat dilihat dari bagaimana hubungan antaranggota keluarga, cara menghadapi kesulitan, serta nilai-nilai yang dijunjung dalam kehidupan sehari-hari. Cemara tidak selalu tentang materi tetapi juga kebahagiaan dan kebersamaan yang ada dalam keluarga tersebut. Dalam film, keluarga Cemara digambarkan sangat sederhana namun penuh kasih sayang dan kebersamaan. Abah berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, sementara Euis dan Ara menunjukkan empati serta saling mendukung satu sama lain. Mereka menghadapi keterbatasan ekonomi dengan sabar dan saling menguatkan tanpa mengeluh. Nilai-nilai seperti kerja keras, tanggung jawab, pengorbanan, dan keikhlasan menjadi dasar utama hubungan keluarga mereka.
sedangkan pada kehidupan sekarang banyak sekali yang lebih fokus kepada materi yang membuat sebagian keluarga lebih mementingkan diri sendiri dari pada kebersamanaan. Misalnya, dalam kehidupan sekarang, banyak keluarga yang sibuk dengan pekerjaan atau urusan pribadi sehingga waktu bersama menjadi berkurang. ketika sedang mengalami kesulitan ekonomi tidak jarang keluarga yang malah terpecah bukannya saling menguatkan tapi malah bertengkar, saling menyalahkan dan memilih untuk berpisah
NPM: 2513032047
Kelas: 25B
1. Saya menonton video pada link youtube: https://youtu.be/l45q-sXxFrU?si=iG_ltiGpsn2uKDaw episode 27 dari Keluarga Cemara yang berjudul “Ujian Euis”.
2. Mengidentifikasi dua dilema moral dalam episode “Ujian Euis”
Dalam episode ke-27 film keluarga cemara tokoh utama euis menghadapi dua dilema moral yang cukup berat.
- Pertama, dilema tentang kejujuran saat ujian. Euis merasa bimbang ketika teman-teman sekolahnya mengajaknya menyontek saat ujian matematika. Salah satu temannya berkata, “Euis, ayo nyontek aja, guru nggak bakal tahu, kalau gagal, abah sama emak kamu bakal marah loh!” euis sempat tergoda karena takut nilainya jelek dan membuat orang tuanya kecewa. Namun, ia kemudian teringat nasihat keluarga tentang pentingnya kejujuran. Situasi ini membuat euis berada di tengah dua pilihan: menyontek demi nilai bagus atau tetap jujur seperti ajaran keluarganya. Ini menunjukkan konflik antara keinginan pribadi (ingin lulus) dan nilai moral (menjaga kejujuran).
- Kedua, dilema antara belajar dan bersenang-senang. Euis ingin ikut rekreasi bersama teman-temannya, tetapi orang tuanya meminta ia belajar di rumah karena ujian sudah dekat. Emak berkata, “Euis, belajar dulu ya, ujian itu penting untuk masa depanmu. Jangan ikut main-main dulu.” Namun, euis menjawab, “Tapi temen-temenku ngajak jalan-jalan, emak. Cuma sebentar kok.” Di sini, euis merasa serba salah. Ia ingin menikmati waktu bersama teman-teman, tapi juga takut melanggar aturan keluarga yang menekankan pentingnya belajar. Dilema ini menggambarkan pertentangan antara ketaatan terhadap nasihat orang tua dan keinginan pribadi untuk bersenang-senang.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral.
Tokoh utama dalam episode ini adalah euis, anak pertama dalam keluarga cemara yang sedang berada di masa remaja. Jika dilihat dengan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, euis sedang berada di masa transisi dari tahap pra-konvensional ke konvensional.
Pertama di tahap pra-konvensional (berdasarkan akibat pribadi). Pada awal cerita, euis masih menilai benar dan salah dari konsekuensi yang akan ia terima. Misalnya, saat menghadapi ujian, ia berpikir untuk tidak menyontek karena takut dimarahi Abah atau mendapatkan nilai jelek. Ia berkata bahwa kalau ketahuan, “Abah pasti marah.” Ini menunjukkan bahwa alasan moralnya masih didasari oleh keinginan menghindari hukuman, bukan karena benar-benar memahami nilai kejujuran.
Kedua tahap konvensional (berdasarkan norma sosial dan ketaatan). Menjelang akhir cerita, cara berpikir euis mulai berubah. Ia mulai menolak menyontek karena sadar bahwa kejujuran adalah nilai penting dalam keluarganya. Saat ia berkata, “Abah selalu bilang jujur itu penting,” terlihat bahwa keputusannya bukan lagi karena takut dihukum, tetapi karena ia ingin mematuhi nilai-nilai yang diajarkan keluarganya. Ini menunjukkan bahwa Euis sudah mulai masuk ke tahap moral konvensional, yaitu saat seseorang menilai benar dan salah berdasarkan aturan sosial dan keinginan untuk menjadi pribadi yang baik di mata orang lain.
4. Pesan moral dari episode tersebut
Episode ini menyampaikan pesan moral yang kuat tentang pentingnya kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam belajar. Melalui kisah euis, penonton diajak untuk memahami bahwa dalam kehidupan sehari-hari, godaan untuk berbuat curang atau memilih jalan mudah selalu ada, tetapi nilai moral dan nasihat keluarga dapat menjadi panduan untuk membuat keputusan yang benar. Dengan menolak menyontek, euis menunjukkan bahwa keberhasilan sejati datang dari usaha dan kejujuran, bukan dari kecurangan. Secara keseluruhan, pesan film ini masih sangat relevan hingga sekarang. Di tengah budaya instan dan tekanan untuk berprestasi, film Keluarga Cemara mengingatkan penonton bahwa keluarga adalah tempat utama membentuk nilai moral anak. Meskipun alur penyelesaiannya terbilang sederhana, film ini mengajarkan nilai-nilai moral yang penting terutama bagi remaja yang sedang belajar menentukan sikap di tengah berbagai godaan kehidupan.
5. Perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata
Nilai-nilai yang ditampilkan dalam film ini sangat dekat dengan kehidupan keluarga pada umumnya. Keluarga digambarkan sebagai tempat utama untuk saling mendukung, belajar jujur, bersemangat dalam belajar, serta berkorban demi kebaikan bersama. Hal ini juga terjadi dalam kehidupan nyata, di mana keluarga sering menjadi sumber semangat dan motivasi bagi anak-anak untuk menghadapi berbagai tantangan, baik dalam hal ekonomi maupun pendidikan.
Secara keseluruhan, nilai-nilai keluarga dalam film keluarga cemara benar-benar mencerminkan kehidupan di dunia nyata, terutama dalam hal kebersamaan dan kejujuran yang bisa dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.
NPM: 2513032044
1. Menonton film “Keluarga Cemara” secara utuh.
Saya telah menonton film keluarga cemara secara utuh, yakni pada episode 4 “Uang Sawer”.
2. Mengidentifikasi minimal dua dilema moral yang muncul dalam film.
Dilema moral yang dihadapi pertama yakni terjadi pada tokoh Abah. Beliau merupakan kepala keluarga, sehingga memiliki rasa tanggung jawab. Pada episode ini diceritakan bahwasanya Cemara ingin membeli botol minum. Sadar keadaan ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan, Cemara memiliki keinginan untuk ikut sang kakak “Euis” untuk berjualan opak. Abah yang mengetahui rencana cemara melarang hal tersebut, padahal Abah sendiri memilliki keterbatasan ekonomi sehingga pada saat itu hanya bisa menjanjikan, entah kapan janji tersebut akan dilaksankan.
Dilema moral yang kedua terjadi pada saat Cemara berada di halte bus. Pada saat itu Ia melihat kakek yang kehilangan dompet karena kecopetan. Pada saat itu. Ia ingin membantu kakek dengan uang hasil penjualan opak Euis. Hal tersebut diperbolehkan oleh Euis namun, dengan syarat Cemara tidak jadi membeli botol minum yang ia inginkan. Sehingga pada saat itu ia memilih untuk membantu Kakek dengan cara mencari dompet kakek yang hilang tersebut yang pada akhirnya terdapat uang saweran. Pada saat mengambil uang sawer Cemara mengambil uang tersebut tanpa mempedulikan perkataan orang lain dengan niat tulus untuk membantu sang kakek.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral.
Karakter utama pada film di episode 4 ini adalah
1. Abah: beliau adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab walaupun sedang terhimpit permasalahan ekonomi. Pada kejadian ini, menunjukkan bahwasanya Abah telah mencapai tahap perkembangan moral (menurut Kohlberg) pada tahap pasca konvensional, khususnya pada tahap kontrak sosial legalistis. Hal tersebut karena Abah bertanggung jawab dan sadar bahwa mencari uang bukanlah tugas dari seorang anak. Ini menunjukkan bahwasanya Abah memiliki tanggung jawab moral yang baik sebagai seorang Ayah.
2. Cemara: Pada film keluarga cemara khususnya episode 4, Cemara telah berada pada tahap perkembangan moral konvensional khususnya pada tahap anak manis. Cemara melakukan Tindakan tersebut didasarkan atas kerprihatinannya kepada sang Kakek karena kecopetan sehingga tidak bisa pulang ke kampung halaman. Selain itu, tindakan Cemara menunjukan hal yang sudah sehausnya dilakukan dalam realitas kehidupan yang diharapkan secara sosial.
4. Menyusun ulasan tertulis (500 kata) tentang pesan moral film.
Film Keluarga Cemara episode 4 memberikan pesan moral yang baik serta relevan dan juga tak lekang oleh waktu untuk seluruh generasi, bahwasanya kebahagiaan yang sejati datang dari kemampuan kita untuk berbagi dan menolong sesama, bukan dari penumpukan materi serta kekayaan atau juga pemenuhan keinginan pribadi semata. Episode ini menjadi pengingat yang kuat bahwa nilai-nilai kemanusiaan harus tetap dijunjung tinggi, terlepas dari kondisi ekonomi yang kita hadapi.
Meskipun kita terjebak dalam keterbatasan ekonomi yang menyesakkan, individu sebagai seorang manusia serta makhluk sosial harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan solidaritas. Keluarga Cemara membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah alasan untuk tidak peduli terhadap sesama. Justru dalam kesulitan, kepedulian dan rasa kemanusiaan harus semakin diperkuat. Hal tersebut terjadi karena kitab isa membantu seseorang bukan hanya soal barang atau uang akan tetapi dengan berbagai upaya dan usaha. Ketika Cemara dan Euis membantu kakek yang menjadi korban pencopetan, mereka tidak memikirkan kembali untuk berjualan opak yang nantinya akan digunakan untuk memenuhi keinginan Cemara dalam membeli botol minum. Yang Cemara pikirkan adalah bagaimana kakek tersebut bisa berhasil pulang ke kampung halamannya dengan selamat. Hal tersebut menunjukan kerja sama yang baik yang dimana hal tersebut sudah selayaknya hadir di masyakarat sebagai sebuah gotong royong.
Film Keluarga Cemara khususnya pada episode ini mengajarkan bahwa karakter yang baik dibentuk melalui teladan keluarga dan pilihan-pilihan moral yang kita buat setiap hari. Abah, sebagai kepala keluarga, memberikan contoh nyata tentang bagaimana seorang orang tua harus bertanggung jawab serta memprioritaskan pendidikan karakter anak di atas segalanya. Ia tidak hanya mengajarkan melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan dan kebijakan yang ia ambil dalam menghadapi situasi sulit. Contonya ialah pada saat Abah memperbolehkan Cemara berjualan dengan syarat bukan sebagai tugas utama, Abah menegaskan bahwa kewajiban seorang anak ialah untuk bersekolah. Sehingga sebenarnya pada saat itu Abah sedang mengajarkan keseimbangan antara belajar bertanggung jawab dan tetap menikmati masa kecil.
Pilihan-pilihan moral yang dihadapi Cemara dalam episode ini juga menjadi cerminan dari dilema yang sering kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah ketika kita harus memilih antara kepentingan pribadi dan kepedulian terhadap sesama. Cemara mengajarkan bahwa pilihan yang benar bukanlah yang paling mudah atau yang paling menguntungkan diri sendiri, melainkan pilihan yang paling memanusiakan orang lain. Ia memilih jalan yang lebih sulit dengan mencari mencari dompet yang pada akhirnya ia dan Euis mengumpulkan uang sawer yang berceceran daripada sekadar menggunakan uang dagangannya yang rencananya akan digunakan untuk membeli botol minum untuk membantu sang kakek yang menjadi korban pencopetan. Hal ini menunjukkan bahwasanya walaupun keadaan ekonomi menyesakkan untuk menolong dan berbagi, tetap ada 1001 jalan yang bisa digunakan untuk menolong sesama.
Pesan moral ini sangat penting untuk ditanamkan sejak dini, terutama di era modern dimana sifat individualistis semakin menguat. Film Keluarga Cemara mengingatkan kita bahwa kehangatan keluarga, empati terhadap sesama, dan kerelaan berkorban untuk orang lain adalah nilai-nilai yang tidak lekang oleh waktu. Nilai-nilai inilah yang membentuk masyarakat yang lebih manusiawi dan peduli satu sama lain, terlepas dari perbedaan status ekonomi atau sosial yang ada. Keluarga Cemara episode 4 ini mengajarkan bahwa kebaikan tidak mengenal batas ekonomi, dan bahwa tindakan sederhana seperti menolong sesama dapat memberikan dampak yang bermakna besar bagi orang lain.
5. Perbandingan Nilai Keluarga dalam Film Keluarga Cemara dan Kehidupan Nyata
Film Keluarga Cemara menggambarkan kehidupan keluarga sederhana yang penuh nilai moral dan sangat dekat dengan kehidupan nyata masyarakat Indonesia. Banyak keluarga di sekitar kita yang juga harus berjuang di tengah keterbatasan ekonomi, tapi tetap berusaha menjaga kebersamaan dan kasih sayang serta tetap menerapkan budaya gotong royong untuk membantu sesama seperti yang dilakukan keluarga Abah khususnya pada Cemara dan Euis. Mereka memilih untuk membantu sesama walaupun pada saat itu sedang berjualan. Hal-hal sederhana seperti itu menunjukkan bahwa tolong menolong tidak selalu bergantung pada kekayaan dan benda, akan tetapi bisa dalam bentuk usaha atau effort untuk menolong kepada sesama.
NPM :2513032038
1. Salah satu film episode keluarga cemara yang saya tonton ialah part ke 3 dengan tema “Komedi putar” dengan link https://youtu.be/5rhw77bjFw8?si=qwp9T4srBEcreA1c
2. 2 Dilema moral yang saya dapatkan dari film di atas ialah
1. Ketika ara anak tengah dari tiga bersaudara ia di berikan uang dari kakaknya dia dihadapkan dengan rasa bimbang setelah menerimanya yaitu ingin membeli barang yang ia ingin (botol minum) yang cuma tinggal satu atau bersenang senang dengan naik komedi putar dengan adiknyaa yang komedi putar tersebut tidak akan selalu ada di setiap harinya, dia sempat bimbang apakah memenuhi keinginannya yang sangat ia inginkan sejak lama yaitu membeli botol minum atau ingin naik komedi putar bersama adiknya yang momen tersebut tidak akan selalu datang.
2. Dilema moral selanjutnya yaitu ketika Euis ditawari untuk menemani seorang anak pengunjung naik komedi putar. Setelah permainan selesai , orang tua anak tersebut memberinya uang kembalian sebagai tanda terima kasih. Namun, Euis merasa bimbang menerimanya atau tidak karena orang tua anak tersebut bilang seharusnya ada yang beli dagangannya namun dia tidak bisa menjualkannya Euis berfikir bahwa jika ada yang beli uangnya lumayan untuk adiknya sebagai ganti rugi namun di sisi lain,Orang tua tersebut juga telah mengajaknya naik komedi putar secara gratis. Euis pun dihadapkan pada dilema apakah uang yang diberikan itu pantas ia terima sebagai ganti rugi, atau sebaiknya ia menolak demi menjaga dan rasa terima kasihnya?
3.Teori perkembangan moral menurut Kholberd dengan analisis film keluarga cemara, karakter utama Euis dan Agis.
Tokoh Euis berada di tahap Konvensional Orientasi anak manis menurut teori Kholberd - Ketika Euis berusaha untuk menyenangkan adik-adiknya atas hasil jualan Euis sendiri dengan memberikan uang hasil jualanya itu kepada adiknya ara dan mentraktir naik komedi putar adiknya agis - analisis yang saya dapatkan bahwa Euis memperjuangkan kebahagiaan adiknya padahal bisa saja Euis menggunakankan uangnya hanya untuk diri dia sendiri tapi dia tidak mengambil keputusan tersebut pada tahap orientasi anak manis menyatakan bahwa menyenangkan orang lain agar di anggap baik dan berusaha melakukan tindakan yang menyenangkan sama seperti yang dilakukan oleh Euis
tokoh utama kedua oleh Agis yaitu tahap Prakonvensional bagian orientasi Relativis Instrumental dimana saat agis memandangi komedi putar dan sambil merengek agar di izinkan naik komedi putar hal ini terlihat dari keinginannnya yang kuat untuk naik komedi putar demi memenuhi keinginannya sendiri tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi keluargannya belum bisa , Agis belum menunjukkan penalaran bahwa menahan keinginan adalah bentuk pengorbanan demi kesejahteraan keluarga.
4. Dalam film Keluarga Cemara, tepatnya pada episode tiga yang berjudul “Komedi Putar”, tokoh-tokoh yang muncul adalah Euis, Ara, dan Agil. Secara umum, film Keluarga Cemara menampilkan karakter dan pembawaan yang sangat khas serta nilai kehidupan nyata. Cerita ini menekankan kepada penonton bahwa kebahagiaan tidak selalu berkaitan dengan uang atau kemewahan, melainkan syarat bahagianya keluarga yaitu adanya rasa penuh cinta dan sayang, saling pengertian,dan peduli antaranggota keluarga. Keluarga Cemara menggambarkan bahwa hidup dengan tulus, saling melengkapi, serta memahami satu sama lain adalah pondasi utama dari keluarga yang bahagia.
Nilai cinta dan kesederhanaan menjadi pesan moral utama yang tergambar dalam setiap episode. Euis, sebagai anak sulung, digambarkan sebagai sosok yang penuh tanggung jawab. Ia sangat perhatian terhadap adik-adiknya dan sering menekan egonya serta keinginannya sendiri demi kebahagiaan adik-adiknya serta keluarga. Banyak momen yang memperlihatkan pengorbanan Euis mulai dari menahan keinginan pribadi, membantu Emak dalam pekerjaan rumah, hingga berusaha mencari uang tambahan untuk membantu kondisi finansial keluarga. Meskipun masih remaja, ia sudah menunjukkan kedewasaan dan rasa tanggung jawab yang besar sebagai anak pertamanya. Euis beradaptasi dengan cepat terhadap keadaan keluarga yang berubah, tetap tegar, dan lapang dada menerima kenyataan bahwa kebahagiaan sejati bukan diukur dari harta, melainkan dari kehangatan, cinta, dan kebersamaan di rumah. Ia ingin menjadi contoh yang baik bagi Ara dan Agil, menunjukkan bahwa menjadi anak pertama berarti siap menjadi panutan.
Sementara itu, Ara, sebagai anak kedua, digambarkan sebagai sosok yang polos namun sederhana dan penuh ceria tidak pernah mengeluh. Walaupun usianya masih kecil, Ara memperlihatkan kematangan emosional dan berfikir yang luar biasa. Ia sering menasihati adiknya, dan tidak mudah mengeluh meski hidup mereka serba sederhana. Ara berusaha membantu Emak sebisanya dan menjadi sosok kakak yang penyayang dan penuh perhatian bagi Agil. Sikap jujur, rendah hati, dan mudah bersyukur dari Ara memberikan pelajaran penting bahwa kebahagiaan bisa datang dari hal-hal kecil. Ia juga kerap menjadi pengingat bagi seluruh keluarganya untuk tetap bersyukur dan tidak iri pada kehidupan orang lain yang lebih mewah. Ara menggambarkan bahwa anak kecil pun bisa memiliki jiwa besar dan semangat yang menular kepada orang di sekitarnya.
Sedangkan Agil, anak paling kecil di keluarga Cemara, membawa warna keceriaan dan kepolosan yang menambah suasana hangat dalam keluarga. Meskipun masih kecil, Agil menunjukkan semangat hidup yang luar biasa. Ia selalu menikmati hal-hal sederhana seperti bermain, tertawa, dan menghabiskan waktu bersama keluarganya menghargai hal hal kecil apapun yang telah di usahakan oleh kakak-kakaknya maupun ayah dan ibunya. Dari sosok Agil, penonton belajar tentang arti rasa syukur dan kebahagiaan yang tulus. Ia tidak mengeluh meski hidupnya sederhana, justru tampak bahagia dengan apa yang ia miliki.
Keseluruhan episode keluarga cemara dan termasuk episode “komedi putar “ menghadirkan pesan bahwa keluarga adalah tempat paling berharga untuk menemukan kebahagiaan sejati. Dalam keterbatasan ekonomi, mereka tetap bisa tertawa bersama, saling mendukung, dan menikmati kebersamaan bersyukur atas apapun dan usaha kecil apapun. Cerita ini mengingatkan penonton bahwa cinta, pengertian, dan rasa syukur jauh lebih penting daripada harta benda. Melalui Euis, Ara, dan Agil, film ini berhasil menggambarkan makna kehidupan keluarga yang hangat dan penuh nilai kemanusiaan, menjadikan Keluarga Cemara sebagai tontonan yang tidak hanya menghibur tetapi juga mendidik dan menginspirasi .
5. Perbandingan nilai keluarga dalam kehidupannyata
Film keluarga cemara memberikan banyak sekali ajaran ajaran kehidupan tentang keharmonisan keluarga kebahagiaan bersyukur dan tidak selalu melulu di ukur dengan ekonomi, film ini memberikan motivasi serta ajaran yang pada zaman sekarang tepatnya nilai-nilai tersebut mulai pudar, banyak keluarga kini yang lebih memilih sibuk dengan pekerjaannya waktu kebersamaan atau bahkan ketika mengumpul malah lebih sibuk dengan hp nya masing-masing komunikasi dan kehangatannya mulai mengurang orang tua lebih fokus terhadap pekerjaan untuk urusan ekonomi sedangkan anak jadi lebih ke hpnya bahkan di zaman sekarang sampai muncul istilah istilah seperti fatherless, brokenhome serta konsumtif gaya ke barat baratan.
dengan Contoh :
Abah dan emak sabar menghadapi keinginan anak-anak yang kadang berlebihan, seperti ketika Ara dan adiknya merengek ingin naik komedi putar. Mereka tidak memarahi secara keras, melainkan menjelaskan dengan lembut agar anak memahami situasi keluarga.
Dalam kehidupan nyata, Banyak orang tua yang kurang meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak-anaknya. Namun, film Keluarga Cemara mengingatkan bahwa perhatian dan komunikasi hangat di dalam keluarga jauh lebih berharga daripada pemberian materi semata.
Keluarga Cemara digambarkan hidup sederhana, namun selalu bersyukur atas apa yang dimiliki. Mereka tidak iri kepada orang lain dan selalu berusaha menikmati hal-hal kecil dengan bahagia. Nilai ini tampak ketika anak-anak senang hanya karena bisa naik komedi putar sekali, tanpa mengeluh.
Di kehidupan nyata, nilai kesederhanaan sering kali mulai luntur, terutama di tengah budaya konsumtif dan gaya hidup modern. Banyak keluarga mengejar status sosial atau kemewahan demi pengakuan medsos. Film ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari harta benda, tetapi dari hati yang bersyukur dan keluarga yang saling mendukung.
Npm : 2513032060
1. link youtube: https://youtu.be/SCbJmu9dv2M?si=k3u6ZtanU4bHtV45
2. Dilema moral yang pertama yaitu ketika eis menemukan ayam yang jatuh dari mobil saat eis berjalan, namun eis merasa dilema harus di bagaimanakan ayam tersebut apakah di bawa kepasar untuk dikembalikan atau di bawa kerumah.
Dilema moral yang kedua yaitu ketika agil menuntut terus menerus apa yang di katakan oleh abahnya, dan abahnya merasa dilema antara tetap memberinya harapan tanpa kepastian atau melarangnya untuk mempunyai keinginan.
3. Perkembangan moral dari karakter utama berdasarkan yang saya analisis dari film keluarga cemara yaitu terdapat pada karakter utama yang bernama Eis pada tokoh eis ini berada pada tahap pasca-konvensional alasannya dikarenakan dia mendapatkan kesempatan untuk membawa ayam ke rumah untuk dimasak dan diberikan ke adiknya yang ingin sekali makan ayam dan sudah bosan makan tahu tapi eis sendiri memilih untuk mengembalikan ayam tersebut ke pasar di atas kepentingan kebutuhannya, dan eis tidak berharap imbalan saat mengembalikan ayam tersebut ke pemiliknya, terbukti disaat eis di berikan imbalan oleh pemilik ayam namun eis menolak imbalan tersebut. Pada tahap pasca konvensional ini bahwa dengan dan melakukan sesuatu yang benar secara luas untuk mendukung kesejahteraan umum. Karakter eis ini masuk dalam kategori pada tahap pasca konvensional menurut teori kohlberg.
4. Pesan moral yang terdapat pada film keluarga cemara khususnya pada episode kali ini adalah bahwa kejujuran dan kebenaran di atas segalanya. Melakukan kebaikan tanpa mengharap pengakuan dari orang lain. Sudah sangat jarang sekali di temukan karakteristik yang terdapat dalam film ini di kehidupan nyata, melakukan hal hal kejujuran dan kebaikan diatas kepentingan pribadi. Film ini berpesan bahwa jangan merasa bersalah jika kita sudah melakukan hal yang baik dan benar meskipun orang lain menganggap hal itu bodoh. Tapi kebenaran harus tetap di benarkan. Melakukan hal kebaikan tanpa adanya niat untuk mendapatkan imbalan padahal banyak kesempatan untuk mendapatkan keuntungan. Komunikasi berjalan sangat baik dan terbuka. Orang tua mendengarkan keluh kesah anak, dan anak-anak memahami kondisi orang tua. Mereka saling menguatkan, yang menjadi kunci keutuhan keluarga. Film ini memberikan pesan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari harta, melainkan dari kehangatan dan kasih sayang dalam keluarga. Film ini menunjukkan menunjukkan bahwa setiap masalah yang datang bisa dihadapi dengan sabar dan ikhlas. Keluarga Cemara tidak pernah mengeluh dan selalu optimistis dalam menjalani kehidupan, meskipun dihadapkan pada situasi sulit.
5. Perbandingan dengan kehidupan nyatanya adalah sudah jarang di temukan karakter keluarga yang terdapat pada film keluarga cemara ini banyak orang yang mengutamakan kepentingan pribadi dibandingan kepentingan umum. Kebahagiaan mereka bersumber dari cinta, kejujuran, dan kebersamaan, bukan dari harta. Sedangkan di kehidupan yang nyata ini banyak keluarga yang memprioritaskan harta dibanding nilai yang lainnya. Dalam kehidupan nyata, kondisi ekonomi sering kali menjadi faktor penentu kebahagiaan dan ketentraman keluarga. Meskipun tidak selalu, kesulitan finansial yang ekstrem dapat memicu stres, konflik, dan bahkan perpisahan.Abah dan Emak mengajarkan anak-anaknya arti kerja keras dan kejujuran sebagai prinsip hidup yang paling utama. Mereka bekerja dengan tulus dan penuh syukur meskipun hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Npm : 2513032057
1. Saya sudah menonton film keluarga cemara yang ada di youtube pada eps 1 dengan link :
https://youtu.be/CUBwI4dHQJ8
2. - Dilema moral yang pertama itu toko "euis" yang dimana ketika dia mengantarkan dan menemani adiknya ara sekolah padahal seharusnya dia harus berangkat ke sekolah dan berjualan tetapi euis memilih untuk menemani ara sekolah terlebih dahulu setelah itu dia berangkat sekolah dan berjualan. Dilema moral yang terjadi adalah ketika euis dihadapi kebingungan antara memilih berjualan dan pergi kesekolah atau menemani adik nya sekolah terlebih dahulu.
- Dilema moral kedua yaitu tokoh "abah" yang dimana abah yang baru saja selesai menarik becak nya karena dia mau diberi pekerjaan oleh nyonya presi namun setelah melakukan pekerjaan - pekerjaan semua itu seharusnya abah bisa pulang dan beristirahat mengingat umur yang sudah tak lagi muda. Tetapi abah memilih untuk melewati sekolah ara dan menjemput ara karena euis sedang bersekolah dibandingkan dengan abah pulang kerumah dan beristirahat. Dilema moral nya adalah ketika abah lebih memilih menjemput ara yang masi berada di sekolah dibandingkan dia langsung saja pulang dan beristirahat karena lelah setelah bekerja banyak.
3. Karakter utama yaitu ara menurut teori perkembangan kohlberg itu termasuk perkembangan pra konvensional yang dimana pada saat hendak ke sekolah ara patuh terhadap apa yang sudah di katakan abah bahwa ara harus berani dan tidak boleh takut dan juga ketika ara sudah selesai sekolah tetapi euis sang kakak belum datang menjemput, ara tetap menunggu sampai akhirnya abah yang menjemput nya di sekolah. Disini ara digambarkan sebagai anak yang patuh akan apa yang sudah di suruh oleh kakak dan abahnya serta ara paham apa yang akan ara dapatkan ketika ara tidak patuh terhadap perkataan tersebut.
4. Episode ini fokus pada hari pertama anak-anak masuk sekolah, yang dimana ini menampilkan tantangan batu seperti adaptasi dengan lingkungan, persahabatan, dan nilai-nilai keluarga. Episode ini menunjukkan bahwa pergi ke sekolah itu lebih dari sekadar datang dan belajar saja tetapi itu juga membantu membentuk karakter kita sebagai manusia. Misalnya, Euis menunjukkan banyak kegembiraan untuk bersiap-siap untuk sekolah, meskipun keluarganya tidak memiliki banyak uang. Abah yang selalu mengatakan kepada anak-anaknya bahwa pergi ke sekolah adalah cara untuk berhenti menjadi miskin, seperti ketika dia berkata, "Pendidikan adalah hal yang paling penting untuk dimiliki." Ini seperti menekankan bahwa rela menyerahkan hal-hal untuk pendidikan, seperti Emak menghemat uang dari menjual sayuran dan memberikan hasil yang baik untuk keluarga mereka di masa depan, serta mendorong anak anak untuk bersyukur atas kesempatan untuk bersekolah.
Keluarga Cemara menghadapi masalah bersama, seperti berurusan dengan hal-hal membayar sekolah atau masalah yang muncul setiap hari. Emak dan Abah yang bekerja sama dengan saling membantu, Abah bekerja menarik becak, serabutan dan bekerja di sawah dan Emak mengurus rumah dan anak-anak. serta Anak-anak, seperti Euis dan Ujang, juga melakukan bagian mereka, seperti Euis yang membantu Yoyo belajar membaca di rumah dan berjualan opak untuk membantu perekonomian keluarga. Intinya adalah bahwa keluarga harus tetap bersama untuk memiliki kedamaian, seperti ketika Ujang membantu Euis dengan membawa buku sekolahnya, yang menunjukkan bahwa saling membantu adalah cara yang ampuh untuk mengatasi masalah.
anak-anak di episode ini mencari tahu bagaimana menjalani kehidupan sekolah, berfokus bahwa kesuksesan datang dari bekerja sangat keras. Euis, setelah mengalami masalah dengan buku baru, tidak menyerah dan meminta bantuan Abah. Ujang, yang pada awalnya bertindak buruk di sekolah, mempelajari nilai dari tidak menyerah setelah dimarahi oleh gurunya. Ini menunjukkan bahwa belajar itu penuh dengan tantangan, seperti ketika Emak sabar ketika mengajar Yoyo, dan bahwa mengambil jalan pintas, seperti menyontek, tidak terlalu membantu, yang membuat kita ingin menghargai kerja keras.
Dalam situasi seperti berteman atau bekerja melalui argumen kecil di sekolah, anak anak diajarkan untuk mengatakan yang sebenarnya. Misalnya, Euis mengetahui bahwa seorang teman menyontek dalam ujian; meskipun dia mungkin sendirian untuk sementara waktu, dia memutuskan untuk jujur dan menceritakan apa yang terjadi. Abah sering berkata, "Menceritakan yang sebenarnya lebih baik daripada memiliki banyak uang," mendorong anak-anak untuk percaya bahwa menjadi jujur membangun kepercayaan, bahkan ketika menghadapi masalah sosial atau uang yang sulit, seperti ketika Ujang mengaku melakukan kesalahan setelah berbohong tentang pekerjaan rumahnya. Sering kali, ibu dan ayah dalam keluarga melepaskan apa yang mereka inginkan untuk diri mereka sendiri untuk membantu anak-anak mereka. Misalnya, Emak menunggu untuk membeli pakaian baru sehingga Euis dapat memiliki uang untuk pensil, sementara Abah mengambil lebih banyak pekerjaan. Kemudian, sepulang sekolah, Euis membantu Emak di dapur. Ini menunjukkan ide memberi bahwa membantu orang lain, terutama keluarga adalah hal yang baik untuk dilakukan yang membuat ikatan sosial lebih kuat, sama seperti ketika Yoyo membiarkan saudara laki-laki atau perempuannya bermain dengan mainannya, yang menunjukkan bahwa bahkan hadiah kecil dapat membawa kebahagiaan.
5. Hubungan Nilai keluarga dalam film keluarga cemara dengan kehidupan nyata ini sangatlah dekat karena di film keluarga cemara ini menggambarkan film yang sederhana dengan hubungan keluarga yang sebenarnya terjadi seperti masalah ekonomi, tanggung jawab, serta kasih sayang , dan mengalah dalam keluarga. Begitupun di kehidupan nyata sama saja keluarga memang harus saling tolong menolong, membantu satu sama lain jika ada anggota keluarga yang sedang kesusahan serta tidak boleh memikirkan kepentingan pribadi nya sendiri. Karena dengan keluarga lah tempat kita berkeluh kesah dan pulang.
NAMA:RIDWAN
NPM:2513032051
1.saya menonton film keluarga cemara 2 2022 di youtube https://youtu.be/4GrCvXSDhTk?si=j0zmWpkqg4A0if4N
2. dua dilema moral yang muncul di film ini
Abah menghadapi pilihan antara jujur menceritakan kondisi miskin ke kerabat dan tetangga sehingga bisa mendapat bantuan tapi kehilangan rasa malu, atau pura-pura baik-baik saja supaya nama baik tetap terjaga, namun anak-anak tetap kekurangan.
Setelah keluarga Abah mengalami kerugian akibat tindakan orang terdekatnya yang meminjam sertifikat rumah, Abah menghadapi dilema serius untuk menentukan apakah akan mengejar keadilan melalui proses hukum, atau memilih untuk memaafkan demi mempertahankan hubungan antar keluarga. Mengambil langkah hukum bisa jadi mengembalikan hak yang hilang, namun dengan risiko merusak hubungan keluarga dan menimbulkan lebih banyak konflik yang dapat berdampak pada anak-anak. Sementara itu, memaafkan bisa menjaga keharmonisan, tetapi membuat keluarga terus menghadapi kesulitan finansial dan rasa ketidakadilan.
3.Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral.
walau keluarganya miskin dan menghadapi banyak tekanan, Abah tetap menolak jalan pintas seperti berbohong, menipu, atau mencari uang dengan cara tidak halal. beliau tetap memilih jujur dan bertanggung jawab karena beliau yakin itu benar, bukan karena takut dihukum atau takut dinilai orang lain.
saat tetangga dan teman lamanya menawarkan bantuan atau pekerjaan yang bisa membuatnya cepat kaya, Abah tetap menolak. abah berkata bahwa kehormatan dan kejujuran lebih penting daripada harta.
4.Menyusun ulasan tertulis (500 kata) tentang pesan moral film.
Film Keluarga Cemara 2 menceritakan kisah yang penuh makna tentang bagaimana sebuah keluarga berjuang menghadapi perubahan hidup setelah mengalami kesulitan finansial. Tokoh utamanya adalah Abah, Emak, dan anak-anak mereka, Euis dan Ara. Mereka berusaha mempertahankan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan cinta kasih meskipun hidup mereka jadi lebih sulit. Film ini menunjukkan bahwa kebahagiaan bukan selalu datang dari harta benda, tetapi dari kekuatan ikatan dan kasih sayang dalam keluarga.
Ketika Abah kehilangan pekerjaannya dan ekonomi keluarga makin memburuk, mereka tidak saling menyalahkan. Justru, mereka saling mendukung. Abah tetap bekerja keras, Emak berusaha membantu dengan cara sederhana, dan anak-anak belajar untuk beradaptasi dengan keadaan yang baru. Dari cerita ini, penonton memahami bahwa kekuatan sebuah keluarga tidak tergantung pada kemewahan, tetapi pada kemampuan mereka untuk tetap bersatu ketika menghadapi sulit.
Abah menolak mengambil jalan pintas atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsipnya, meskipun tekanan finansial sangat berat. Ia lebih memilih hidup sederhana dan jujur. Sikap ini menjadi contoh bahwa kejujuran lebih berharga daripada kekayaan. Emak juga menunjukkan peran penting seorang ibu yang sabar dan penuh kasih, yang membantu menjaga keharmonisan keluarga meski suasana mulai tegang.
Awalnya ia merasa malu dan marah karena harus hidup sederhana, tetapi seiring berjalannya waktu, ia memahami perjuangan orang tuanya. Euis belajar bahwa harga diri tidak datang dari harta, tapi dari cara seseorang menghargai keluarga dan berusaha keras untuk masa depan. Ini menjadi pesan penting bagi remaja agar belajar bersyukur dan lebih empati terhadap orang lain.
Dalam era modern yang serba cepat dan terlalu mengutamakan materi, kisah keluarga Cemara ajak penonton untuk kembali menghargai nilai-nilai dasar seperti kasih sayang, kesederhanaan, dan kerja keras. Pesan moral film ini terasa hangat dan relevan bagi semua orang, karena mencerminkan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
5.Diskusi: perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata.
Dibandingkan dengan kehidupan sekarang, banyak keluarga menghadapi tantangan yang berbeda. Di dunia modern, beberapa keluarga terlalu sibuk dengan pekerjaan, sekolah, dan teknologi, sehingga waktu untuk berkumpul bersama jadi semakin sedikit. Terkadang, nilai-nilai seperti kebersamaan dan komunikasi yang hangat digantikan oleh kesibukan dan media sosial. Sering kali, anak-anak lebih dekat dengan ponsel mereka daripada dengan orang tua. Nilai kehidupan sederhana juga sering kali digantikan oleh gaya hidup yang fokus pada belanja banyak orang berpikir kebahagiaan datang dari uang atau status sosial, bukan dari keharmonisan keluarga.
Namun, masih banyak keluarga di Indonesia yang berusaha mempertahankan nilai-nilai seperti yang ditampilkan dalam film.Misalnya, ketika menghadapi kesulitan ekonomi, banyak orang tua tetap jujur dan tidak menyerah. Banyak keluarga juga saling membantu, memperkuat hubungan, dan mengajarkan nilai-nilai moral dan agama yang kuat kepada anak-anak. Dengan cara ini, film "Keluarga Cemara 2" mengingatkan kita agar tidak melupakan pentingnya cinta, kesetiaan, dan kebersamaan dalam sebuah keluarga.
Secara keseluruhan, nilai-nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata memiliki tujuan moral yang sama — setiap orang ingin hidup dalam harmoni dan saling mencintai.Perbedaannya adalah di dunia nyata, godaan dan tekanan sering kali membuat sulit untuk menjaga nilai-nilai tersebut. Film ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sebenarnya bukan tentang kekayaan, melainkan bagaimana keluarga saling mendukung dengan jujur, tulus, dan apa adanya.
Npm:2513032040
Kelas:25 B
1.Film keluarga cemara yang saya tonton adalah :
https://youtu.be/l45q-sXxFrU?si=wjLNvOvW8jUB-g0M
Berjudul keluarga cemara Episode 27 "Ujian Euis"
2.●Disaat pembagian raport euis tidak mendapatkan nya dikarnakan dia belum melunasi tunggakan pembayaran uang sekolah,sementara dia sendiri takut dan bingung antara ingin memberi tahu
ayahnya mengenai pembayaran atau menyembunyikannya dikarenakan kasihan dengan kondisi ekonomi keluarganya
●Dilema moral yang kedua mengenai dilema ibu guru maryati mendengarkan keluahan ibu persi mengenai bayaran sekolah anak anak abah yang diberikan kebebasan dari bayaran sementara menurutnya keluarga abah bukan dari keluarga yang tidak mampu atau memilih tetap mendukung anak anak abah tetap mendapat kebebasan iuran pembayaran sekolah
3.●Pertama karakter abah berdasarkan teori perkembangan moral yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg, Abah berada pada tahap konvensional (tahap 3 dan 4) di mana ia memberikan kasih sayang dan juga pelajaran atau nasihat kepada anak anaknya dan juga mengajarkan tanggung jawab . Abah menunjukkan perhatian dan kasih sayang kepada tokoh euis dengan cara berupaya keras untuk memenuhi kebutuhannya untuk membayar uang sekolahnya dan juga sambil memberikan nasihat kepada euis
●Yang kedua Euis berada pada tahap perkembangan moral awal, yaitu tahap pra-konvensional, yang cenderung fokus pada kepatuhan untuk menghindari hukuman yaitu pada saat dia menyembunyikan tagihan bayaran uang sekolahnya dari abah karena takut membebani ayahnya.
4.Ulasan mengenai tentang film keluarga cemara pada "Ujian Euis"
Episode ke-27 dari film"Keluarga Cemara" yang berjudul "Ujian Euis" lebih dari sekadar cerita biasa ini adalah potret dari keteguhan, nilai-nilai, dan kasih sayang di dalam keluarga yang sederhana. Keluarga Abah Cemara tidak hanya terlihat sebagai satu kesatuan yang kuat, tetapi juga berfungsi sebagai sekolah kehidupan yang mengajarkan nilai persaudaraan, tanggung jawab, dan kejujuran. Cerita ini menantang anggapan bahwa nilai sebuah keluarga diukur dari harta; ia lebih menekankan bahwa kekayaan sejati hadir dalam kasih dan dukungan satu sama lain.
Masalah utama yang timbul adalah kesulitan dalam membayar biaya sekolah Euis, yang menjadi momen penting menggambarkan karakter Abah dan Emak. Dalam situasi ekonomi yang sulit, pesan moral yang paling menonjol dari cerita ini terlihat jelas: pengorbanan dan usaha seorang kepala keluarga adalah tindakan yang mulia. Abah, sebagai tokoh utama, selalu mengajarkan nilai-nilai baik kepada anak-anaknya dengan penuh ketulusan dan kesabaran. Ini menggambarkan prinsip moral yang tinggi dan memberikan contoh bagi Euis, Ara, dan Agil. Ia tidak pernah menyerah pada keadaan; sebaliknya, ia mengubah rintangan menjadi pelajaran tentang kesabaran dan martabat.
Lebih jauh, kisah ini juga menggarisbawahi pentingnya kasih sayang yang aktif dan berdampak nyata. Meski dalam keterbatasan ekonomi, Abah dan Emak bekerja keras agar anak-anak mereka bisa tetap bersekolah dan memiliki masa depan yang lebih cerah. Pengorbanan Emak dalam menemani Abah mencari nafkah menunjukkan bahwa masalah ekonomi bisa dihadapi dengan bekerja sama dan saling membantu di dalam keluarga. Beban tidak akan terlalu berat jika ditanggung bersama. Mereka mengajarkan bahwa tanggung jawab keuangan adalah tugas yang harus dibagi di antara semua anggota keluarga, berlandaskan pada cinta, bukan hanya beban untuk sang kepala keluarga.
Karakter Abah yang sabar dan peduli terhadap Euis, terutama ketika ia menghadapi tekanan dari sekolah dan biaya, mengingatkan penonton bahwa dukungan emosional dan kasih sayang dari keluarga sangat penting bagi perkembangan moral dan mental anak. Dukungan itu melindungi Euis dari rasa malu dan rendah diri karena kondisi mereka. Ia belajar bahwa kejujuran dan kerja keras lebih berarti daripada kekayaan sementara. Pesan ini sangat relevan untuk setiap keluarga, mengingatkan kita bahwa perhatian pada perkembangan karakter anak harus lebih diprioritaskan daripada kemewahan material.
Selain aspek dalam keluarga, sinetron ini juga mengangkat tema kesadaran sosial melalui karakter Guru Pipin. Ia digambarkan sebagai pendidik yang peka dan empatik. Tindakan Guru Pipin menunjukkan betapa pentingnya kesadaran sosial di kalangan guru untuk memahami latar belakang ekonomi dan tantangan yang dihadapi oleh setiap siswa. Dengan memberikan solusi yang lebih manusiawi dan tanpa menghakimi, Guru Pipin menekankan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang inklusif dan mendukung, bukan sekedar institusi yang kaku. Ini memberikan pelajaran berharga bahwa setiap individu di masyarakat, baik guru maupun tetangga, harus saling mendukung dengan empati dan mengedepankan keadilan sosial.
Secara keseluruhan, episode "Ujian Euis" dan "Keluarga Cemara" memberikan pelajaran moral yang sangat penting untuk kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Film ini menunjukkan bahwa kekayaan keluarga tidak ditentukan oleh harta atau kemewahan yang dimiliki, tetapi oleh kedalaman cinta, kejujuran, dan solidaritas di antara mereka. Karakter yang kuat, ketulusan, dan komitmen terhadap nilai-nilai yang baik merupakan warisan terbaik yang dapat Abah berikan kepada anak-anaknya. Keluarga Cemara mengingatkan kita bahwa melalui kesederhanaan, kita sering menemukan makna kehidupan yang paling mendalam.
5.Didalam film ini nilai nya itu tanggung jawab dari seorang ayah dan perbandingan dari contoh nyata dalam kehidupan nyata adalah ketika seorang Orang tua bekerja keras untuk membiayai sekolah dan kebutuhan anak walaupum dengan keterbatasan ekonomi sejatinya orang tua itu akan mengusahkan apapun itu demi anak anaknya
yang kedua itu ada nilai didalam film nya itu mengenai mengajarkan kepada anak itu tanpa kekersan nah perbandingan dalam kehidupan nyata dalam kehidupan sehari hari seorang itu akan lebih mendengarkan nasihat dari orang tuanya itu dengan cara baik baik.
NPM : 2513032053
Mengidentifikasi dilema moral
( konteks film Keluarga Cemara )
1. Saya telah menonton film keluarga cemara pada episode “Pulang Sekolah” berikut adalah link video yang saya tonton https://youtu.be/g-Bn3N0iifQ?si=aswLDkEmcHYINy3C
2. Pada episode “Pulang Sekolah” saya menemukan dua dilema moral yang terjadi
a. Dilema moral pertama terjadi pada abah, terlihat pada scene abah hendak membelikan baju sekolah untuk ara namun uangg yang abah miliki belum cukup. Pada akhirnya abah tidak membelikan ara baju sekolah meski ia tahu anaknya pasti akan sedih karena itu merupakan hari pertama ara masuk sekolah.
b. Dilema moral kedua terjadi pada tokoh euis, karena abah tidak membelikan baju sekolah untuk adiknya ara, euis menyarankan emak untuk memotong baju lamanya agar bisa dipakai adiknya. Namun sebenarnya euis memiliki dilema, apakah harus merelakan baju masa kecilnya untuk dipotong agar bisa dipakai adiknya bersekolah atau tidak. Karena baju tersebut memiliki kenangan semasa keluarganya masih berjaya di Jakarta. Namun akhirnya euis memilih untuk memberikan baju tersebut pada adiknya karena dia tidak ingin adiknya sedih dihari pertamanya sekolah.
3. Berikut hasil analisis saya terhadap karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral
a. Karakter Ara berdasarkan teori perkembangan moral piaget, ara berada di tahap praoperasional. Pada tahap ini seorang anak menganggap sebuah aturan sebagai sesuatu yang suci dan tidak boleh dilanggar, terjadi pada usia 2-6 tahun. Dalam konteks yang terjadi pada ara, ara marah pada abah karena abah telah melanggar janjinya dimana abah berjanji pada ara akan membelikan baju sekolah baru. Ara berkata bahwa janji tidak boleh dilanggar.
b. Karakter Euis berdasarkan teori perkembangan Kohlberg, euis berada ditahap konvensional. Pada tahap ini seorang anak mulai keluar dari sifat egoisme pribadi dan menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain. Dalam hal ini euis sebagai anak yang masih sekolah rela berjualan sepulang sekolah karena sadar bahwa keluarganya tidak sekaya dulu. Bahkan euis rela memberikan baju masa kecilnya yang penuh kenangan kepada adiknya agar dia tidak merasa sedih karena abah belum membelikannya baju sekolah baru.
c. Karakter Abah & Emak berdasarkan teori perkembangan Kohlberg, abah & emak berada ditahap pasca konvensional. Pada tahap ini seseorang bertindak berdasarkan hati nuraninya. Karakter abah dan emak ditunjukkan dengan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya agar mereka bahagia.
4. Ulasan tentang pesan moral film
Film keluarga cemara merupakan film yang menceritakan tentang sebuah keluarga kaya raya yang kemudian jatuh miskin dan pindah ke sebuah desa. Dalam episode “Pulang Sekolah” pesan moral yang dapat saya ambil adalah ternyata meski kita hidup pas-pasan dan bahkan kekurangan, kita tetap bisa hidup dengan bahagia asalkan dalam keluarga tersebut saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Saya sangat terkesima dengan tokoh euis di episode ini, dimana dia merupakan seorang siswi SD namun sudah memiliki kesadaran untuk membantu keuangan keluarganya. Dia tidak malu untuk menitipkan dagangannya dan bahkan berjualan keliling sepulang sekolah. Padahal euis pernah merasakan masa kejayaan orang tuanya, namun dia tidak malu melakukan semua itu. Dia tetap menjadi anak yang ceria dan baik hati serta sangat menyayangi adik-adiknya. Terlihat saat scene dia melihat sebuah pasar malam akan dibuka, dia bermonolog dalam hati bahwa suatu saat dia akan mengajak adik-adiknya ke pasar malam agar mereka dapat bermain bersama.
5. Perbandingan nilai keluarga dalam film dan dan kehidupan nyata
Nilai keluarga yang terlihat dalam episode “Pulang Sekolah” diantaranya ada kasih sayang, kebersamaan, saling mengerti, kerjasama serta tanggung jawab. Terlihat dari scene bagaimana tokoh abah sangat bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, kemudian tokoh emak yang selalu setia mendampingi abah dalam kondisi apapun. Terlihat juga tokoh euis yang sangat menyayangi adik-adiknya. Nilai kekeluargaan dalam film ini sangat terasa, jika dibandingkan dengan kehidupan nyata saya rasa nilai keluarga dalam film sangat relevan dengan kehidupan nyata. Saya masih banyak menemui keluarga-keluarga yang tetap bahagia meski hidup dengan sederhana. karena mereka saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain.
Npm: 2513032048
1.Salah satu episode keluarga cemara yang saya tonton adalah Episode ke-1 dengan judul “Siap Sekolah” berikut link tautan videonya https://youtu.be/CUBwI4dHQJ8?si=ZCUR1to9RyZLGSma
Episode ini menceritakan soal abah dan euis yang bersama sama mencari uang dengan abah menarik becak dan euis berjualan keliling yang di mana itu semua dilakukan untuk membelikan ara baju baru, namun ternyata uang abah tidak cukup untuk memberikan baju baru untuk ara, yang kemudian euis dan emak mempunyai ide untuk merombak baju yang ada di lemari yang kemudian diberikan kepada ara.
2.Terdapat 2 macam moral yang muncul pada film keluarga cemara tersebut
Dilema moral yang pertama yakni saat Abah datang ke toko baju dan melihat beberapa pakaian yang sangat bagus dan abah merasa itu cocok untuk ara, namun saat abah melihat lihat baju serta harga baju baju itu, abah merasa baju itu terlalu mahal dan kemudian abah bertanya terkait harga baju yang paling murah, namun ternyata tetap saja uang hasil jerih payah abah saat menarik becak ini tidak cukup untuk membeli baju tersebut dan disitulah abah merasa dilema, ia ingin memenuhi keinginan ara untuk membelikan baju baru untuknya, namun di satu sisi jika abah memakai uang tersebut untuk membeli baju maka uang abah tidak cukup, sebab uang hasil abah menarik becak ini kurang jika digunakan untuk membeli baju baru untuk ara. Dan disatu sisi abah juga harus memenuhi kebutuhan yang lain juga.
Berikutnya yaitu dilema moral yang dialami oleh Euis yang di mana euis harus bekerja dan berjualan untuk dapat membantu keluarganya, dan saat ia telah selesai berjualan dan kemudian pulang ke rumah ia berkata bahwa uangnya ia pakai Sebagian untuk meembeli pensil dan buku tulis, sebab ia merasa dilema, apakah harus memberikan seluruh uangnya kepada emaknya yang kemudian digunakan untuk membeli baju ara, padahal ia yang mencari uang tersebut.
3.Teori perkembangan moral dari karakter utama berdasarkan hasil analisis
Perkembangan moral yang menurut teori Kohlberg yang terjadi pada abah yaitu teori perkembangan moral tahap konvensional, sebab abah ingin memenuhi keinginan ara untuk membelikannya baju baru, dan abah ingin dilihat sebagai ayah yang baik, dan bisa memenuhi harapan tentang bagaimana seorang ayah bertindak. Namun disatu sisi juga masih banyak kebutuhan yang harus abah penuhi.
Selanjutnya yakni perkembangan moral yang terjadi pada euis yakni teori perkembangan moral tahap konvensional, sebab euis merasa bimbang antara meberikan seluruh uang hasil kerjanya kepada emak untuk membelikan baju baru ara, padahal ia yang bekerja, yang di mana kemudian euis mengaku bahwa Sebagian uangnya ia pakai untuk membeli pensil dan buku, namun di situ euis telah mempertimbangkan tersebut, jadi ia tidak sepenuhnya egois memikirkan dirinya sendiri.
4.Ulasan terkait pesan moral pada film “Keluarga Cemara” tepatnya pada episode “Siap Sekolah”
Film keluarga cemara ini mengisahkan sebuah keluarga yang dahulunya mereka merupakan keluarga yang hidup berkecukupan yang di mana abah dan emak bisa menuruti permintaan anak anaknya, dan menghidupi anak anaknya dengan cukup, namun ternyata musibah menimpa mereka yang di mana mereka harus kehilangan semuanya akibat penipuan, itu membuat kehidupan mereka berubah secara drastis, mereka harus hidup serba pas pas an, bahkan abah sekarang harus bekerja sebagai penarik becak, yang di mana penghasilan yang didapatkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka.
Selain itu juga euis anak yang sebelumnya hidup serba bercukupan namun ternyata hidupnya sekarang berubah, ia harus membantu keluarganya dalam mencari uang untuk membantu abahnya dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka, yang di mana seharusnya euis itu fokus hanya untuk bersekolah, tapi sekarang tidak. Sekarang ia harus bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan yang baru, yang di mana sebelumnya ia hidup dengan kondisi kemewahan, film ini juga mengajarkan kita bahwa kehidupan kitab isa berubah kapan saja, ini juga menunjukkan bahwa hidup itu harus terus berproses, beradaptasi, menerima, hingga komitmen kepada keluarga sendiri. Pada keadaan ini akan muncul nilai nilai seperti Kerjasama, tanggung jawab secara alami.
Film ini juga menggambarkan bahwa keharmonisan sebuah keluarga itu tidak selalu dilihat dan diukur dari ekonominya saja, namun keharmonisan dalam keluarga itu dapat muncul karena adanya kasih sayang, komunikasi, penerimaan, kesabaran. Jadi sekalipun perekonomian keluarga kurang baik namun di dalam keluarga tersebut berisikan kasih sayang, keharmonisan, kejujuran maka anak nantinya akan tumbuh menjadi anak yang jujur, pengertian, serta sabar sesuai dengan didikan dan apa yang ia rasakan di dalam rumah.
5.Perbandingan nilai dalam kehidupan nyata
Film "Keluarga Cemara" ini menunjukkan perbandingan yang cukup menarik mengenai nilai-nilai keluarga dalam kehidupan nyata. Film ini menekankan bagaimana nilai seperti kejujuran, kesederhanaan, tanggung jawab, keharmonisan, dan kasih sayang bisa ditanamkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam cerita ini, nilai-nilai tersebut digambarkan secara ideal dan kuat, di mana keluarga Abah, meskipun hidup miskin, tetap saling mendukung, jujur, dan menghargai satu sama lain. Mereka menunjukkan kasih sayang melalui kebersamaan dan pengorbanan. Namun, dalam kehidupan nyata, meskipun nilai-nilai keluarga masih dipegang, penerapannya jauh lebih sulit karena tekanan ekonomi, perubahan gaya hidup yang semakin modern, serta pengaruh media yang membuat kebersamaan dan kesederhanaan semakin berkurang karena tuntutan material dan sikap individualis. Oleh karena itu, film ini berfungsi sebagai cerminan dan pengingat tentang betapa pentingnya mempertahankan nilai-nilai keluarga di tengah tantangan kehidupan saat ini.
NPM : 2513032055
Kelas : 25B
1. Menonton film “Keluarga Cemara” secara utuh.
Saya menonton film keluarga cemara yang ada pada episode ke-27 dengan judul “Ujian Euis,” berikut link tautan videonya: https://youtu.be/l45q-sXxFrU?si=I61JRji8Idz51dH5.
Pada episode ke-27 ini mengisahkan tentang Euis yang sedang menjalani ujian sekolah namun tidak bisa fokus untuk belajar karena terpikirkan dengan uang sekolah yang belum dibayar. Kemudian sosok Abah pada episode ini meyakinkan Euis untuk fokus belajar tanpa memikirkan biaya yang akan datang.
2. Mengidentifikasi dua dilema moral dalam episode “Ujian Euis”
Dua dilema moral yang muncul dalam episode ke-27 adalah:
-Pertama, dilema moral dihadapi oleh Euis ketika tidak mendapatkan rapor karena adanya tunggakan biaya sekolah. Di rumah Euis tidak bisa konsentrasi belajar karena memikirkan hal tersebut namun ia tidak berani bercerita kepada kedua orang tuanya.
-Kedua, dilema moral dialami oleh ibu guru ketika mendengarkan keluhan dari Ibu Persi yang menganggap bahwa keputusan membebaskan Ara dari biaya sekolah merupakan hal yang salah karena meragukan jika orang tua Ara bukanlah orang yang tidak mampu. Di sini ibu guru menghadapi protes dari wali murid dan keputusan sekolah dalam satu waktu.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral.
Dari episode 27 yang telah saya tonton, maka saya mengaitkan film keluarga cemara ini dengan teori perkembangan moral menurut Kohlberg, adapun tokoh yang saya amati adalah:
-Pertama Euis, tokoh Euis digambarkan sedang berada pada perkembangan konvensional yaitu tahap orientasi anak manis atau yang disebut dengan Good Girl Orientation. Hal ini ditandai dengan perilakunya yang tidak menceritakan permasalahan penahanan rapor kepada orang tuanya. Di sini Euis menahan diri untuk jujur demi melindungi perasaan orang tuanya dan mempertahankan citra sebagai anak baik.
-Kedua, terdapat tokoh Ibu Persi yang mengeluh kepada ibu guru. Menurut Ibu Persi seharusnya Ara tidak mendapatkan pembebasan biaya karena menganggap jikalau bisa saja orang tuanya berbohong terkait kondisi ekonominya. Ibu Persi menganggap jika sekolah di swasta didukung dengan partisipasi dana dari para siswa dan keputusan tersebut tidaklah tepat. Di sini ia meyakini bahwa tokoh Abah memiliki deposito uang haram dan berpura-pura miskin. Maka menurut saya tokoh Ibu Persi masuk ke dalam perkembangan konvensional tahap orientasi hukum dan ketertiban, hal ini karena ia menganggap keadilan berarti perlakuan yang sama bagi semua, bukan berdasarkan kondisi masing-masing individu. Selain itu, pandangannya lebih menekankan pada pentingnya keteraturan dan kewajiban sosial dibandingkan dengan nilai empati atau kemanusiaan.
-Terakhir saya menganalisis tokoh Ibu Guru. Pada episode 27, ketika ibu guru menghadapi keluhan dari Ibu Persi, ia tetap tenang tanpa terpengaruh. Ibu guru berkata bahwa sekolah membantu satu siswa berbakat yang kurang mampu untuk satu kelas, dan menurutnya Ara adalah siswa yang terpilih. Ia percaya bahwa Abah memang orang yang tidak mampu jika dilihat dari kesehariannya dan harus merangkap beberapa pekerjaan seperti menarik becak dan sebagainya untuk menyekolahnya anaknya dan untuk biaya hidup. Menurut saya tokoh Ibu Guru masuk ke dalam perkembangan pasca-konvensional tahap orientasi kontrak sosial legalistas, hal ini karena ia percaya hukum dapat diubah dengan situasi tertentu demi kesejahteraan umum.
4. Ulasan pesan moral film keluarga cemara pada episode ke-27 tentang “Ujian Euis”
Pada episode ke-27 dari film Keluarga Cemara yang berjudul “Ujian Euis” terdapat cerita yang berpusat pada Euis, anak pertama Abah dan Emak, yang sedang menghadapi ujian sekolah dan juga kegelisahan hati. Dalam cerita, Euis nampak gelisah karena rapornya ditahan karena belum lunas membayar SPP. Ia tidak memberitahu orang tuanya karena tak ingin membuat mereka sedih. Ia memilih menyembunyikan perasaannya agar tidak menyusahkan Abah dan Emak. Namun ternyata hal ini justru menganggu konsentrasi Euis dalam belajar.
Di sisi lain, sosok Abah dan Emak memperlihatkan gambaran perjuangan orang tua dalam keluarga sederhana. Abah digambarkan sebagai ayah yang sabar, tekun, dan bertanggung jawab. Ia rela bekerja keras, mulai dari menarik becak hingga mengurus empang demi memenuhi kebutuhan keluarga. Meskipun kondisi hidupnya terbatas, abah tetap memberi semangat kepada anak-anaknya untuk terus belajar dan tidak menyerah. Ia selalu menekankan agar Euis tidak memikirkan biaya sekolah. Sementara itu, Emak diceritakan sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan penuh pengertian. Ia menenangkan Euis agar tidak terlalu memikirkan hal-hal di luar pelajaran.
Kemudian konflik moral semakin menarik dengan kehadiran Ibu Persi dan Ibu Guru. Ibu Persi mewakili pandangan sebagian orang tua yang menilai keadilan secara sempit. Ia menentang keputusan sekolah yang membebaskan biaya SPP Ara. Sebaliknya, ibu guru menjadi contoh moral yang bijak dan berintegritas. Ia tetap tenang menghadapi kemarahan Ibu Persi dan menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan kebijakan sekolah yang membantu satu siswa kurang mampu di setiap kelas.
Dari kisah ini, pesan moral yang bisa diambil adalah bahwa kekuatan sebuah keluarga tidak tergantung pada harta, melainkan dari rasa peduli, kejujuran, dan kebersamaan. Film ini menyampaikan bahwa ujian hidup bukan untuk membuat kita jatuh, tapi untuk memperkuat. Saya belajar bahwa kejujuran, tanggung jawab, empati, serta kerja keras adalah nilai-nilai yang patut dijaga di setiap situasi. Keluarga Cemara mengingatkan saya bahwa meskipun dalam keterbatasan, kasih sayang dan semangat pantang menyerah dalam keluarga tetap menjadi sumber kekuatan sejati.
5. Diskusi: Perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata
Di film keluarga cemara pada episode 27 yang berjudul “Ujian Euis,” menonjolkan nilai-nilai seperti kasih saying, kerja keras dan juga kesederhanaan. Nilai-nilai ini terlihat dari interaksi Euis dengan abah dan juga emak yang saling mendukung dan menguatkan meski hidup dalam keterbatasan ekonomi. Abah sendiri digambarkan sebagai sosok pantang menyerah, sementara emak digambarkan sebagai ibu yang penuh kasih, dan Euis tumbuh menjadi anak yang memiliki nilai empati.
Jika dibandingkan dengan kehidupan nyata, nilai-nilai seperti ini memang masih bisa ditemukan di banyak keluarga Indonesia, terutama di kalangan masyarakat yang hidup sederhana dan masih menjunjung tinggi kebersamaan. Contohnya di keluarga saya sendiri yang saling mendukung antaranggota keluarga untuk terus belajar tanpa memikirkan kondisi ekonomi yang terbatas. Sama seperti abah, ayah saya juga bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan pendidikan saya, juga sosok emak yang dapat ditemui pada ibu saya. Hal ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam film keluarga cemara ini dapat ditemui di kehidupan nyata. Film ini menggambarkan bahwa kasih sayang dan cinta masih dapat tumbuh di tengah kesederhanaan.
Secara keseluruhan, nilai keluarga yang ditampilkan dalam keluarga cemara mengingatkan kita bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh harta, tetapi oleh rasa saling peduli dan dukungan emosional antaranggota keluarga. Dalam kehidupan nyata, nilai-nilai ini masih sangat relevan untuk dijaga. Film ini menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, keluarga tetaplah tempat terbaik untuk belajar tentang cinta, kejujuran, dan arti perjuangan.
NPM: 2513032058
1. Menonton film “Keluarga Cemara”
https://youtu.be/g-Bn3N0iifQ?si=0HGMcWWGex6_1cVb
2. Mengidentifikasi dua dilema moral pada film “Keluarga Cemara”
Dilema pertama terjadi ketika Ara ingin memakai baju baru untuk masuk sekolah. Ia merasa sedih karena teman-teman lain punya baju baru, sedangkan Ara hanya punya baju lama. Abah sebenarnya ingin menepati janjinya untuk membelikan baju baru, tapi uang yang dimilikinya sudah habis digunakan untuk membeli buku tulis dan pensil. Di sini Abah harus memilih antara memaksakan diri memenuhi keinginan anak-anaknya, atau jujur bahwa ia memang belum mampu. Abah akhirnya memilih untuk berkata jujur dan menanamkan nilai kesabaran pada anak-anaknya. Dilema ini menggambarkan bagaimana abah harus memilih antara menuruti keinginan anak agar mereka bahagia sesaat, atau mengajarkan nilai kejujuran dan kesederhanaan agar mereka belajar bersyukur.
Dilema kedua terlihat dari sikap Emak. Sebagai ibu, Emak harus kuat di depan anak-anaknya meskipun hatinya sangat sedih. Ia sedih karena keadaan keluarga yang berubah drastis, tetapi ia juga tahu bahwa kalau ia terlihat lemah, anak-anaknya akan kehilangan semangat. Emak menahan rasa sedihnya, tetap tersenyum, dan berusaha menenangkan anak-anak agar tetap tabah. Di sini Emak menghadapi dilema antara ingin meluapkan perasaan atau menahan diri demi menjaga kekuatan keluarga.
3. Perkembangan moral menurut Kohlberg:
Abah berada pada tingkat pascakonvensional, di mana keputusan moral diambil berdasarkan prinsip etika universal seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Meskipun kondisi ekonomi keluarga mereka sedang mengalami kesulitan, Abah tetap menolak cara yang curang untuk mendapatkan uang. Ia akan lebih memilih untuk jujur dan bekerja keras, walaupun hasilnya kecil. Sikap ini mencerminkan bahwa pemikiran moral yang matang bahwa nilai kejujuran dan integritas tidak boleh dikorbankan demi keuntungan pribadi.
Emak berada pada tahap perkembangan moral konvensional menuju pascakonvensional karena ia tidak hanya menaati norma sosial sebagai istri dan ibu yang baik, tetapi juga mulai bertindak berdasarkan nilai kemanusiaan dan hati nurani. Ia berbuat baik bukan semata karena aturan, melainkan karena kesadaran moral yang lahir dari keikhlasan dan kasih sayang terhadap keluarganya.
Euis berada pada tingkat konvensional, yang di mana ia mulai memahami pentingnya aturan sosial dan hubungan antaranggota keluarga. Ia ingin dianggap baik oleh orang tua dan ingin memenuhi harapan mereka. Ketika ia akhirnya menerima keadaan keluarganya, Euis memperlihatkan kemajuan moral dari yang awalnya berpikir egois menjadi memahami makna pengorbanan dan tanggung jawab.
Sedangkan Ara, sebagai anak kecil, berada pada tahap prakonvensional, di mana penilaiannya tentang benar dan salah masih bergantung pada hukuman atau hadiah. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai belajar dari contoh yang diberikan oleh orang tuanya bahwa kebaikan bukan karena takut dihukum, tetapi karena memang itu yang seharusnya dilakukan atau yang benar untuk dilakukan.
4. Pesan moral film “Keluarga Cemara”
Pesan moral dari film “Keluarga Cemara” adalah kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh harta benda ataupun kedudukan sosial, melainkan oleh ketulusan, kejujuran, dan kekuatan nilai kekeluargaan. Pada film ini menegaskan pentingnya menjaga integritas, tanggung jawab, serta saling menghargai di antara anggota keluarga dalam menghadapi kesulitan.
Melalui karakter Abah, Emak, dan anak-anaknya, film ini menunjukkan bahwa nilai moral seperti kerja keras, kesederhanaan, dan kasih sayang merupakan dasar utama dalam menjalin atau membangun keluarga yang harmonis dan bermartabat. Seseorang yang Tetap jujur dan saling menolong dalam keadaan sulit menunjukkan bahwa seseorang memiliki akhlak atau moral yang baik.
Maka dapat disimpulkan bahwa pesan moral dalam film “Keluarga Cemara” ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari kekayaan atau harta benda, melainkan dari kasih sayang, kejujuran, dan kebersamaan dalam keluarga. Dalam kesederhanaan hidupnya, film Keluarga Cemara ini tetap saling mendukung, berkorban, dan bersyukur atas apa yang mereka miliki. Nilai moral yang terkandung paling kuat dari cerita ini adalah pentingnya menjaga kejujuran, kesabaran, serta rasa syukur meskipun hidup penuh tantangan ataupun kesulitan. Film ini menegaskan bahwa harta yang paling berharga dalam kehidupan bukanlah materi, tetapi keluarga yang saling mencintai, menghargai, saling menghormati, dan tetap bersatu dalam segala keadaan.
5. Diskusi tentang perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata.
Dalam film “Keluarga Cemara”, nilai utama yang selalu ditekankan adalah kesederhanaan, kejujuran, kebersamaan, tanggung jawab, dan kasih sayang. Keluarga Cemara digambarkan sebagai keluarga yang tetap saling mendukung meskipun sedang menghadapi banyak sekali kesulitan. Setelah Abah kehilangan pekerjaannya, mereka harus pindah ke desa dan hidup dalam keterbatasan ekonomi. Namun, yang membuat mereka tetap kuat adalah semangat untuk saling memahami kondisi, menghargai, dan menerima keadaan dengan ikhlas.
Sementara itu, di dalam kehidupan nyata, nilai-nilai seperti ini sering kali sudah mulai terlupakan dan tergantikan oleh gaya hidup modern. Banyak keluarga sekarang yang lebih sibuk mengejar karier, ataupun sibuk bekerja, sehingga waktu untuk berinteraksi dan memperhatikan anggota keluarga satu sama lain menjadi lebih berkurang. Dalam situasi yang seperti ini, ikatan emosional dalam keluarga kadang menjadi lemah, dan nilai-nilai seperti kejujuran, pengorbanan, serta kebersamaan tidak lagi menjadi prioritas. Namun, film Keluarga Cemara mengingatkan bahwa di tengah perubahan zaman seperti saat ini, nilai-nilai moral keluarga tetap relevan dan sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Karena dalam kehidupan nyata, keluarga yang berpegang pada teguh kepada nilai-nilai seperti saling menghargai, mendukung, dan menjaga komunikasi cenderung lebih bahagia dan harmonis, meskipun hidupnya sederhana.
NPM : 2513032037
1.Saya udah menonton film keluarga cemara yang adaa di youtube dari link ini. https://youtu.be/8pFhg1L2EM0?si=1vSO0sXL23_yCRub
2. Mengidentifikasi minimal dua dilema moral yang muncul dalam film.
Setelah saya menonton filmkeluarga cemara eps 28 dengan judul “Ujian Ara" saya mendapatkan beberapa dilemma moral dari film ini.di antara yaitu
Pertama, dilema yang dihadapi Abah adalah apakah dia harus menjual aset keluarga yang berharga, yaitu sebuah ranjang, hanya untuk membayar "uang ujian sekolah" anaknya. Ini adalah konflik moral antara kewajiban sebagai orang tua untuk memastikan anaknya bisa bersekolah dan keharusan mengorbankan barang-barang berharga yang mungkin memiliki kenangan atau menjadi bagian dari kenyamanan hidup keluarga..
Kedua,keputusan Abah menjual ranjang untuk membayar uang ujian sekolah Euis. Euis merasa sangat bersalah karna ini membuat keluarganya kesusahan. karena ini. Abah secara sabar menenangkannya dengan berkata, "Euis usah merasa bersalah seperti itu ya... bukan kamu bukan Euis yang menyebabkan Abah menjual ranjang itu". Dilema Euis adalah: Ia membutuhkan biaya itu untuk pendidikannya, tetapi ia menderita secara moral karena melihat pengorbanan keluarganya untuk memenuhi biaya pendidikannya atau biaya untukujian.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral.
Berdasarkan dialog dan tindakannya dalam episode ini, karakter euis paling sesuai ditempatkan pada Tahap 3: Orientasi "Anak Manis" Atau (Good Boy-nice girl Orientation), yang berada di bawah Level Konvensional dari teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg.Alasannya ialah Fokus utamanya bukanlah pada pelanggaran aturan, melainkan murni pada hubungan interpersonal. Reaksi emosional utamanya adalah rasa bersalah, yang berakar dari pemahamannya bahwa kebutuhannya telah membebani keluarga nya.
4. ulasan tertulis tentang pesan moral film.
Dalam film keluarga cemara Eps 28”Ujian Ara”,Menceritakan isi euis yang tak ingin lemari lamanya di jual.Nah dalam eps ini Episode ini bukan sekadar tentang kesulitan membayar biaya sekolah,ini adalah sebuah studi karakter yang mendalam tentang bagaimana sebuah keluarga mendefinisikan "harta" melalui tiga pilar moral yang fundamental.
pilar pertama adalah integritas sebagai fondasi yang tidak bisa ditawar. Jauh sebelum konflik utama memuncak, Abah telah menanamkan standar moral keluarga. Saat menasihati anaknya, ia menekankan pentingnya menjadi orang yang jujur dan sabar serta tidak bicara kasar. Ini adalah modal sosial mereka. Integritas ini diuji ketika Abah, meski membutuhkan uang, dengan tegas menolak menjual lemari pusaka. Pesannya jelas: ada hal-hal yang tidak untuk dijual, dan martabat keluarga lebih berharga daripada uang.
Lalu yang Kedua, Pilar kedua adalah pendidikan sebagai pengorbanan tertinggi. Dilema sentral meledak ketika Abah memutuskan harus menjual ranjang untuk membayar uang ujian sekolah Euis. Bagi Abah dan Emak, pendidikan adalah satu-satunya "bekal" yang bisa mereka wariskan kepada anak-anaknya. Mereka rela berkurban apapun untuk itu. Ini adalah pesan moral yang kuat di mana masa depan intelektual anak diprioritaskan di atas kenyamanan material. Film ini menggambarkan pengorbanan bukan sebagai beban, melainkan sebagai investasi cinta yang paling tulus.
Pilar ketiga, dan yang paling kompleks, adalah solidaritas kolektif dan manajemen rasa bersalah. Di sinilah peran Euis menjadi krusial. Euis, sebagai anak tertua, menanggung beban moral yang berat. Ia merasa bersalah,melihat dirinya sebagai penyebab Abah harus menjual ranjang. Ini adalah dilema Tahap 3 Kohlberg yang klasik. rasa sakit karena merasa mengecewakan orang yang dicintai.
Nah Namun, Abah merespons ini dengan bijak. Ia tidak membiarkan Euis terlarut dalam rasa bersalah. Ia meyakinkannya bahwa ini bukan salah Euis, melainkan tanggung jawab kita semua. Abah mengubah beban pribadi menjadi tanggung jawab kolektif. Dan di sinilah Ara, yang juga mendapat surat tagihan dari sekolahnya, mengambil peran. Ara tidak terjebak dalam dilema internal seperti kakaknya; ia melompat ke tindakan. Inisiatifnya untuk jualan pisang adalah respons yang baik.
Episode ini secara brilian menunjukkan dua sisi dari empati, Euis yang merasakannya secara mendalam (guilt) dan Ara yang mengekspresikannya secara praktis (action). "Ujian Ara’ pada akhirnya adalah ujian bagi seluruh keluarga: ujian integritas Abah, ujian kesabaran Emak, ujian rasa bersalah Euis, dan ujian inisiatif Ara. Mereka semua lulus, membuktikan sekali lagi bahwa harta mereka bukanlah ranjang atau lemari, melainkan karakter dan kebersamaan.
5. perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata.
Dalam film keluarga cemara ini mengandung banyak sekali Pelajaran yang bisa di ambil.Film ini menonjolkan komunikasi yang terbuka dari Abah yang secara jujur membahas kesulitan keuangan, namun pada saat yang sama, ia memvalidasi emosi anaknya, Euis, untuk menghilangkan rasa bersalah,sebuah pendekatan ideal yang jarang ditemukan dalam kehidupan nyata.Di dalam kehidupan nyata banyak sekali keluaga yang cenderung menyalahkan anak nya dengan apayang terjadi.
NPM: 2513032039
1. Menonton drama “keluarga cemara” (1996) dengan 27 episode. Berikut adalah link youtube drama keluarga cemara https://youtu.be/CUBwI4dHQJ8?si=Csv7wboFIAqhL93M
2. Mengidentifikasi 2 dilema moral yang dialami dalam drama keluarga cemara yaitu:
Pada episode pertama tokoh emak menghadapi dilema karena tokoh abah tidak jadi menepati janjinya untuk membelikan baju baru bagi ara dan agil. Di situasi ini emak bingung bagaimana cara membeli baju baru karena tidak ada lagi yang harus dijual dan ia juga berpikir tidak mungkin berhutang pada ceu salma karena sebelumnya pernah berhutang dan belum dibayar. Di episode ke empat, ara yang ikut eulis berjualan opak melihat kakek yang dompetnya hilang di terminal. Ara ingin membantu ongkos kakek tersebut tetapi ia bimbang karena uang hasil jual opak tidak cukup dan jalan satu satu nya yaitu mengambil uang yang disebar oleh pelayat di jalan, dia tahu bahwa mengambil uang itu pamali dan akan diejek teman teman nya jadi ia bimbang antara mengambil uang itu lalu menolong kakek atau tidak mengambil uang itu dan membiarkan nya saja.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan perkembangan moral karakter pada tokoh ara sesuai dengan teori perkembangan moral menurut kohl berg yaitu level prakonvensional yang lebih menjuru ke Orientasi hukuman dan kepatuhan. Yang mana seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap lingkungan. Hal ini terlihat pada episode 9 Di saat ara mengompol eulis sangat marah dan mengancamnya dengan menyuruhnya meminum air perasan selimut bekas mengompol, ara langsung memojokan diri karena takut dengan ancaman eulis. Eulis yang mengancam ara langsung dimarahi oleh abah dan disuruh gantian untuk meminum nya namun eulis tidak mau. Ara yang melihat itu menghentikan abah dan mengakui kalau itu adalah kesalahan nya dan tidak akan mengulanginya.
Perkembangan moral yang kedua berasal dari tokoh eulis yang berkaitan dengan teori perkembangan moral menurut kohl berg yaitu orientasi anak manis. Orientasi anak manis memiliki prinsip bahwa saya adalah anak manis, ia mulai mematuhi norma dan berperilaku menyenangkan orang lain sesuai dengan yang diharapkan orang lain. Hal ini dilihat pada episode ke dua, eulis yang mematuhi perkataan abah nya untuk mengantar ara di hari pertama sekolah lalu berjualan opak. Hal itu dilakukan eulis agar ara bahagia dan juga abah dengan emak juga bahagia.
Perkembangan moral pada tokoh agil ada pada tahap level prakonvensional yang lebih menjuru ke Orientasi hukuman dan kepatuhan. Hal ini terlihat saat episode 9, agil yang langsung mandi karena takut dijadikan anak oleh ceu salma.
4. Ulasan dari keluarga cemara. Drama ini sangat bagus sebagai tontonan keluarga karena mencerminkan keadaan keluarga yang terjadi di Indonesia, drama ini tidak sekedar hiburan semata didalamnya terkandung nilai nilai kekeluargaan, kasih sayang, kesabaran, keikhlasan, pantang menyerah apalagi kata kata nasehat dari abah untuk ketiga anak nya. Peran abah sebagai kepala keluarga sangat bijak, pantang menyerah dan lapang dada karena pada saat ia bangkrut dan jatuh miskin ia menerima dengan ikhlas dan tidak berlarut larut dalam kesedihan justru ia memulai usaha baru walaupun tetap gagal, dan akhirnya tetap menjadi tukang becak. Lalu karakter euis walaupun masih duduk di sekolah dasar ia sadar harus membantu orang tua nya dengan berjualan opak, uang hasil dari berjualan terkadang digunakan untuk membelikan sesuatu kepada adiknya atau hanya sekedar bermain. Karakter euis sebagai anak pertama benar benar sangat peduli dan menyayangi adik adik nya begitupula sebaliknya. Pada episode 9 karakter emak berbincang kepada abah, saat hidupnya dulu masih dalam keadaan kaya mereka selalu saja bertengkar setiap hari, dan emak tidak terlalu repot mengurus euis karena ada pembantu, namun semenjak pindah ke kampung ia lebih banyak berubah. Abah yang mendengar itu langsung menjawab bahwa ada makna di balik setiap kejadian, seperti yang dialami mereka mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan dengan hidup di kampung keluarga nya jadi banyak mengobrol tidak ada yang bertengkar dan harmonis. Dalam drama ini mengajarkan bahwa komunikasi yang baik adalah kunci keharmonisan keluarga, lalu belajar bersyukur dalam hidup dan jangan meminta minta ke orang lain
5. Perbandingan nilai keluarga cemara dan keluarga pada kenyataannya saya rasa memiliki perbandingan yang berbeda. Dalam keluarga cemara mencerminkan keluarga yang sangat sederhana dan harmonis, begitu banyak nilai nilai dalam keluarga ini seperti nilai kekeluargaan, pantang menyerah, kerja, keras, peduli, dan sederhana. Walaupun ditimpa berbagai masalah pada setiap episode mereka tetap dapat menjaga keharmonisan keluarga nya, kenapa? Karena komunikasi yang baik dalam keluarga nya. Jika dalam keluarga pada kenyataannya lebih kompleks masalahnya apalagi jika mendapat ujian ekonomi, tidak semua keluarga seperti keluarga cemara. Kebanyakan jika sudah diuji faktor ekonomi pasti meluas ke masalah lainnya seperti pertengkaran, perceraian, rusaknya keharmonisan dalam keluarga dan lainnya. Oleh karena itu drama keluarga cemara ini memiliki pesan yang mendalam arti keluarga yang ideal.
NPM: 2513032039
1. Menonton drama “keluarga cemara” (1996) dengan 27 episode. Berikut adalah link youtube drama keluarga cemara https://youtu.be/CUBwI4dHQJ8?si=Csv7wboFIAqhL93M
2. Mengidentifikasi 2 dilema moral yang dialami dalam drama keluarga cemara yaitu:
Pada episode pertama tokoh emak menghadapi dilema karena tokoh abah tidak jadi menepati janjinya untuk membelikan baju baru bagi ara dan agil. Di situasi ini emak bingung bagaimana cara membeli baju baru karena tidak ada lagi yang harus dijual dan ia juga berpikir tidak mungkin berhutang pada ceu salma karena sebelumnya pernah berhutang dan belum dibayar. Di episode ke empat, ara yang ikut eulis berjualan opak melihat kakek yang dompetnya hilang di terminal. Ara ingin membantu ongkos kakek tersebut tetapi ia bimbang karena uang hasil jual opak tidak cukup dan jalan satu satu nya yaitu mengambil uang yang disebar oleh pelayat di jalan, dia tahu bahwa mengambil uang itu pamali dan akan diejek teman teman nya jadi ia bimbang antara mengambil uang itu lalu menolong kakek atau tidak mengambil uang itu dan membiarkan nya saja.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan perkembangan moral karakter pada tokoh ara sesuai dengan teori perkembangan moral menurut kohl berg yaitu level prakonvensional yang lebih menjuru ke Orientasi hukuman dan kepatuhan. Yang mana seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap lingkungan. Hal ini terlihat pada episode 9 Di saat ara mengompol eulis sangat marah dan mengancamnya dengan menyuruhnya meminum air perasan selimut bekas mengompol, ara langsung memojokan diri karena takut dengan ancaman eulis. Eulis yang mengancam ara langsung dimarahi oleh abah dan disuruh gantian untuk meminum nya namun eulis tidak mau. Ara yang melihat itu menghentikan abah dan mengakui kalau itu adalah kesalahan nya dan tidak akan mengulanginya.
Perkembangan moral yang kedua berasal dari tokoh eulis yang berkaitan dengan teori perkembangan moral menurut kohl berg yaitu orientasi anak manis. Orientasi anak manis memiliki prinsip bahwa saya adalah anak manis, ia mulai mematuhi norma dan berperilaku menyenangkan orang lain sesuai dengan yang diharapkan orang lain. Hal ini dilihat pada episode ke dua, eulis yang mematuhi perkataan abah nya untuk mengantar ara di hari pertama sekolah lalu berjualan opak. Hal itu dilakukan eulis agar ara bahagia dan juga abah dengan emak juga bahagia.
Perkembangan moral pada tokoh agil ada pada tahap level prakonvensional yang lebih menjuru ke Orientasi hukuman dan kepatuhan. Hal ini terlihat saat episode 9, agil yang langsung mandi karena takut dijadikan anak oleh ceu salma.
4. Ulasan dari keluarga cemara. Drama ini sangat bagus sebagai tontonan keluarga karena mencerminkan keadaan keluarga yang terjadi di Indonesia, drama ini tidak sekedar hiburan semata didalamnya terkandung nilai nilai kekeluargaan, kasih sayang, kesabaran, keikhlasan, pantang menyerah apalagi kata kata nasehat dari abah untuk ketiga anak nya. Peran abah sebagai kepala keluarga sangat bijak, pantang menyerah dan lapang dada karena pada saat ia bangkrut dan jatuh miskin ia menerima dengan ikhlas dan tidak berlarut larut dalam kesedihan justru ia memulai usaha baru walaupun tetap gagal, dan akhirnya tetap menjadi tukang becak. Lalu karakter euis walaupun masih duduk di sekolah dasar ia sadar harus membantu orang tua nya dengan berjualan opak, uang hasil dari berjualan terkadang digunakan untuk membelikan sesuatu kepada adiknya atau hanya sekedar bermain. Karakter euis sebagai anak pertama benar benar sangat peduli dan menyayangi adik adik nya begitupula sebaliknya. Pada episode 9 karakter emak berbincang kepada abah, saat hidupnya dulu masih dalam keadaan kaya mereka selalu saja bertengkar setiap hari, dan emak tidak terlalu repot mengurus euis karena ada pembantu, namun semenjak pindah ke kampung ia lebih banyak berubah. Abah yang mendengar itu langsung menjawab bahwa ada makna di balik setiap kejadian, seperti yang dialami mereka mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan dengan hidup di kampung keluarga nya jadi banyak mengobrol tidak ada yang bertengkar dan harmonis. Dalam drama ini mengajarkan bahwa komunikasi yang baik adalah kunci keharmonisan keluarga, lalu belajar bersyukur dalam hidup dan jangan meminta minta ke orang lain
5. Perbandingan nilai keluarga cemara dan keluarga pada kenyataannya saya rasa memiliki perbandingan yang berbeda. Dalam keluarga cemara mencerminkan keluarga yang sangat sederhana dan harmonis, begitu banyak nilai nilai dalam keluarga ini seperti nilai kekeluargaan, pantang menyerah, kerja, keras, peduli, dan sederhana. Walaupun ditimpa berbagai masalah pada setiap episode mereka tetap dapat menjaga keharmonisan keluarga nya, kenapa? Karena komunikasi yang baik dalam keluarga nya. Jika dalam keluarga pada kenyataannya lebih kompleks masalahnya apalagi jika mendapat ujian ekonomi, tidak semua keluarga seperti keluarga cemara. Kebanyakan jika sudah diuji faktor ekonomi pasti meluas ke masalah lainnya seperti pertengkaran, perceraian, rusaknya keharmonisan dalam keluarga dan lainnya. Oleh karena itu drama keluarga cemara ini memiliki pesan yang mendalam arti keluarga yang ideal.
NPM: 2513032039
1. Menonton drama “keluarga cemara” (1996) dengan 27 episode. Berikut adalah link youtube drama keluarga cemara https://youtu.be/CUBwI4dHQJ8?si=Csv7wboFIAqhL93M
2. Mengidentifikasi 2 dilema moral yang dialami dalam drama keluarga cemara yaitu:
Pada episode pertama tokoh emak menghadapi dilema karena tokoh abah tidak jadi menepati janjinya untuk membelikan baju baru bagi ara dan agil. Di situasi ini emak bingung bagaimana cara membeli baju baru karena tidak ada lagi yang harus dijual dan ia juga berpikir tidak mungkin berhutang pada ceu salma karena sebelumnya pernah berhutang dan belum dibayar. Di episode ke empat, ara yang ikut eulis berjualan opak melihat kakek yang dompetnya hilang di terminal. Ara ingin membantu ongkos kakek tersebut tetapi ia bimbang karena uang hasil jual opak tidak cukup dan jalan satu satu nya yaitu mengambil uang yang disebar oleh pelayat di jalan, dia tahu bahwa mengambil uang itu pamali dan akan diejek teman teman nya jadi ia bimbang antara mengambil uang itu lalu menolong kakek atau tidak mengambil uang itu dan membiarkan nya saja.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan perkembangan moral karakter pada tokoh ara sesuai dengan teori perkembangan moral menurut kohl berg yaitu level prakonvensional yang lebih menjuru ke Orientasi hukuman dan kepatuhan. Yang mana seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap lingkungan. Hal ini terlihat pada episode 9 Di saat ara mengompol eulis sangat marah dan mengancamnya dengan menyuruhnya meminum air perasan selimut bekas mengompol, ara langsung memojokan diri karena takut dengan ancaman eulis. Eulis yang mengancam ara langsung dimarahi oleh abah dan disuruh gantian untuk meminum nya namun eulis tidak mau. Ara yang melihat itu menghentikan abah dan mengakui kalau itu adalah kesalahan nya dan tidak akan mengulanginya.
Perkembangan moral yang kedua berasal dari tokoh eulis yang berkaitan dengan teori perkembangan moral menurut kohl berg yaitu orientasi anak manis. Orientasi anak manis memiliki prinsip bahwa saya adalah anak manis, ia mulai mematuhi norma dan berperilaku menyenangkan orang lain sesuai dengan yang diharapkan orang lain. Hal ini dilihat pada episode ke dua, eulis yang mematuhi perkataan abah nya untuk mengantar ara di hari pertama sekolah lalu berjualan opak. Hal itu dilakukan eulis agar ara bahagia dan juga abah dengan emak juga bahagia.
Perkembangan moral pada tokoh agil ada pada tahap level prakonvensional yang lebih menjuru ke Orientasi hukuman dan kepatuhan. Hal ini terlihat saat episode 9, agil yang langsung mandi karena takut dijadikan anak oleh ceu salma.
4. Ulasan dari keluarga cemara. Drama ini sangat bagus sebagai tontonan keluarga karena mencerminkan keadaan keluarga yang terjadi di Indonesia, drama ini tidak sekedar hiburan semata didalamnya terkandung nilai nilai kekeluargaan, kasih sayang, kesabaran, keikhlasan, pantang menyerah apalagi kata kata nasehat dari abah untuk ketiga anak nya. Peran abah sebagai kepala keluarga sangat bijak, pantang menyerah dan lapang dada karena pada saat ia bangkrut dan jatuh miskin ia menerima dengan ikhlas dan tidak berlarut larut dalam kesedihan justru ia memulai usaha baru walaupun tetap gagal, dan akhirnya tetap menjadi tukang becak. Lalu karakter euis walaupun masih duduk di sekolah dasar ia sadar harus membantu orang tua nya dengan berjualan opak, uang hasil dari berjualan terkadang digunakan untuk membelikan sesuatu kepada adiknya atau hanya sekedar bermain. Karakter euis sebagai anak pertama benar benar sangat peduli dan menyayangi adik adik nya begitupula sebaliknya. Pada episode 9 karakter emak berbincang kepada abah, saat hidupnya dulu masih dalam keadaan kaya mereka selalu saja bertengkar setiap hari, dan emak tidak terlalu repot mengurus euis karena ada pembantu, namun semenjak pindah ke kampung ia lebih banyak berubah. Abah yang mendengar itu langsung menjawab bahwa ada makna di balik setiap kejadian, seperti yang dialami mereka mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dan dengan hidup di kampung keluarga nya jadi banyak mengobrol tidak ada yang bertengkar dan harmonis. Dalam drama ini mengajarkan bahwa komunikasi yang baik adalah kunci keharmonisan keluarga, lalu belajar bersyukur dalam hidup dan jangan meminta minta ke orang lain
5. Perbandingan nilai keluarga cemara dan keluarga pada kenyataannya saya rasa memiliki perbandingan yang berbeda. Dalam keluarga cemara mencerminkan keluarga yang sangat sederhana dan harmonis, begitu banyak nilai nilai dalam keluarga ini seperti nilai kekeluargaan, pantang menyerah, kerja, keras, peduli, dan sederhana. Walaupun ditimpa berbagai masalah pada setiap episode mereka tetap dapat menjaga keharmonisan keluarga nya, kenapa? Karena komunikasi yang baik dalam keluarga nya. Jika dalam keluarga pada kenyataannya lebih kompleks masalahnya apalagi jika mendapat ujian ekonomi, tidak semua keluarga seperti keluarga cemara. Kebanyakan jika sudah diuji faktor ekonomi pasti meluas ke masalah lainnya seperti pertengkaran, perceraian, rusaknya keharmonisan dalam keluarga dan lainnya. Oleh karena itu drama keluarga cemara ini memiliki pesan yang mendalam arti keluarga yang ideal.
NPM :2513032041
Disini saya mengambil film Keluarga Cemara Episode yang berjudul “Label hati”. Film Keluarga Cemara mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukanlah uang, melainkan keluarga. Saat Abah dan keluarganya jatuh miskin, mereka menghadapi banyak masalah moral dan karakter yang menarik untuk dibahas, terutama dalam episode "Label Hati."
Link video yang saya analisis : https://youtu.be/EXSaDqwXfS8?si=5nUC3-oOrdcUhyBK
A. Identifikasi dilema moral
1. Masalah Abah: Kebaikan Hati dan Kebutuhan Keluarga.
Setelah Abah bangkrut, ia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Secara hati nurani, ia merasa harus membayar pesangon kepada karyawan lamanya yang juga kehilangan pekerjaan. Di sisi lain, ia tahu betul bahwa setiap rupiah sangat dibutuhkan untuk makan dan biaya hidup keluarganya sendiri. Abah memilih untuk tetap bersikap adil dan baik hati, meskipun itu berarti mengorbankan keamanan finansial keluarganya. Ini menunjukkan bahwa bagi Abah, prinsip moral dan tanggung jawabnya lebih penting daripada kebutuhan mendesak.
2. Masalah Ara: Keinginan Pribadi dan olong Menolong.
Masalah moral kedua muncul pada Ara, si bungsu. Ara mendapatkan uang dari Abah untuk membuat "label nama" yang ia inginkan. Namun, ia kemudian tahu tentang teman-teman yang jauh lebih susah, anak-anak yatim piatu yang tidak bisa sekolah. Ara sedih karena merasakan sedikit penderitaan akibat ibunya pergi sebentar, tetapi ia sadar teman-temannya merasakan penderitaan yang lebih besar dan selamanya. Ia harus memilih: menggunakan uang itu untuk keinginannya sendiri atau menyumbangkannya untuk membantu temannya. Ara memilih untuk menyumbang semua uangnya. Ini adalah contoh nyata altruisme (tindakan menolong tanpa pamrih).
B. Karakter Utama Berdasarkan Teori Perkembangan Moral.
Tindakan Ara, yaitu menyumbangkan uang pribadinya untuk teman-temannya yang lebih membutuhkan, paling sesuai dengan Tahap Orientasi Anak Manis dalam Level Konvensional, yang termasuk kedalam teori perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg. Pada tahap ini, perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain, membantu orang lain, dan sesuai yang diharapkan orang lain. Individu mulai keluar dari egoisme pribadi.
Tindakan Ara didorong oleh empati yang mendalam terhadap penderitaan teman-temannya yang tidak memiliki orang tua. Ia tidak menyumbang karena takut dihukum atau mengharapkan imbalan, melainkan karena niat tulus untuk menolong dan menjadi individu yang baik sesuai dengan harapan sosial dan nilai-nilai keluarga. Ucapannya, “Mereka pasti lebih sedih dari Ara, mereka teman-teman yang harus dibantu,” mencerminkan kesadaran moral berbasis empati dan peran sosial yang positif. Ara menggunakan perasaannya untuk memahami penderitaan orang lain dan terdorong untuk berbuat baik demi kesenangan dan kenyamanan orang lain. Keputusannya menyumbang menunjukkan bahwa ia ingin menjadi anak yang baik dan berbakti kepada nilai kepedulian yang diajarkan dalam keluarganya.
C. Ulasan tertulis tentang pesan moral film.
Film Keluarga Cemara menceritakan cerita yang penuh dengan pesan baik dan pelajaran hidup, yang bisa disimpulkan dengan motto: "Keluarga adalah harta paling berharga. " Pesan penting yang ingin disampaikan adalah bahwa nilai moral lebih penting daripada uang.
Hal ini terlihat jelas dari cara Abah yang selalu berpegang pada tanggung jawab dan keadilan. Meskipun bisnisnya sudah gagal, Abah memilih untuk membayar pesangon karyawan, bukannya menggunakan semua uang untuk kebutuhan mendesak keluarganya. Tindakan ini menunjukkan bahwa prinsip dan kehormatan Abah lebih penting dibandingkan kesulitan uang yang ia hadapi. Nilai-nilai baik juga ditunjukkan oleh Ara, si bungsu, yang memperlihatkan sikap mau berkorban dan peduli. Ara rela mengorbankan keinginannya memiliki uang untuk membeli "label nama" demi membantu teman-temannya yang lebih membutuhkan, seperti anak yatim. Keputusan Ara berasal dari hatinya dan keinginan untuk menjadi "Anak Manis" yang menolong orang lain, sesuai dengan Tahap Konvesional dari teori moral Kohlberg.
Selanjutnya, film ini menegaskan bahwa keluarga adalah pelindung terkuat. Abah tidak pernah menyerah meski harus bekerja keras sebagai tukang becak, sementara Emak dan anak-anak saling mendukung dan beradaptasi dengan hidup yang sederhana tanpa mengeluh. Ini mengajarkan bahwa semua beban dalam keluarga harus ditanggung bersama. Film ini juga menunjukkan pentingnya kejujuran sebagai dasar hubungan, serta bahwa setiap janji, sekecil apapun, adalah tanggung jawab moral yang harus ditepati untuk menjaga kepercayaan.
Singkatnya, Keluarga Cemara adalah contoh moral yang kuat. Film ini mengajarkan kita bahwa kita harus menghadapi masalah hidup dengan semangat, dan bahwa cinta, kejujuran, serta hati nurani adalah kekayaan yang tidak bisa diambil oleh kemiskinan.
D. Nilai Keluarga di Film dan di Dunia Nyata
Salah satu contohnya adalah nilai dari Kekuatan Cinta. Dalam film, cinta dan kebersamaan mampu mengatasi segala bentuk kemiskinan. Keluarga tetap menunjukkan keceriaan dan tawa meskipun menghadapi kesulitan. Sementara itu, dalam kehidupan nyata, sering kali tekanan finansial membuat orang menjadi mudah marah, stres, dan sering bertengkar. Mempertahankan cinta memerlukan usaha yang besar agar tetap kuat saat masa-masa sulit datang.
Dalam film, kebersamaan keluarga Abah terasa seutuhnya dan tidak terbatas. Ketika Abah mengalami kebangkrutan, Emak dan anak-anaknya tidak pernah mengecam atau meninggalkannya, tetapi segera beradaptasi dan saling mendukung. Emak langsung mulai berjualan opak, dan Euis turut membantu, menunjukkan kesetiaan yang kuat. Di sisi lain, di dunia nyata, meskipun kesetiaan adalah nilai yang sangat dihargai, ia seringkali mendapat ujian yang berat. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan dan kesulitan finansial dapat memicu perselisihan, stres, dan bahkan perpisahan dalam keluarga, sehingga menjaga kesetiaan tanpa mengeluh menjadi perjuangan yang signifikan.
NPM : 2513032067
1. Saya sudah menonton film keluarga cemara episode 5 https://youtu.be/M0VyFDjZeas?si=uSQYmSKYR4nx1Cqx
2. Ada 2 dilema moral yang muncul di dalam film tersebut
Pertama, pada saat ada orang yang menawarkan untuk membeli pakaian, tetapi ibu Euis ini tidak ingin membeli karna tunggakan minggu lalu saja belum dibayar, padahal ibu Euis sangat ingin membeli baju baju itu, tetapi dia tahan karna lebih mementingkan kebutuhan lainnya.
kedua, ada seorang ibu ibu meminta bantuan untuk memperbaiki sebuah piano yang rusak, ekspektasi dari ibu tersebut adalah yang memperbaiki pianonya adalah seorang yang memang bekerja di bidangnya. Akan tetapi yang datang adalah seseorang yang pekerjaan sehari harinya adalah tukang becak yaitu Abah Meskipun ibu ibu ini sempat kurang yakin, tapi ibu ini memberi kesempatan kepada Abah untuk memperbaiki pianonya yang rusak.
3. Teori perkembangan moral yang saya ambil untuk menganalisis tokoh abah, ibu dan Euis ialah teori menurut Kohlberg.
Tokoh “Abah” mencerminkan nilai moral (pasca konvensional) karena abah menunjukan sikap tanggung jawab, jujur, dan juga cinta terhadap anak dan istrinya bukan karena ingin dipuji oleh orang lain.
-Momen ketika abah bekerja serabutan, alias bekerja apa saja yang penting mendapatkan rezeki yang halal. Momen itu menunjukkan bahawa Abah ini ada seorang yang bertanggung jawab kepada istri dan anak anaknya
4. Pesan Moral yang bisa diambil dari film keluarga cemara episode 5 ini adalah, Dalam berkeluarga itu kita harus bisa bekerjasama satu sama lain. Seperti dalam film ini ada seorang Abah yang rela banting tulang demi menghidupi keluarganya, ada ibu yang mengurus rumah dan mengurus anak anaknya, ada juga anak anak yang membantu ibunya menolong membuat kueh untuk dijual di warung warung.
Itulah bentuk kerjasama dalam kehidupan berkeluarga, walaupun kita sedang merasakan hidup dalam kesusahan akan tetapi apabila kita hidup berkeluarga itu dengan menanamkan prinsip kerja sama, maka kehidupan berkeluarga itu tidak akan terlalu berat untuk dijalankan.
Dalam film ini juga mengajarkan kita bahwa mencari nafkah lah dimana saja dan bagaimana saja caranya, yang penting kita mendapatkannya dengan cara yang halal supaya anggota keluarga kita merasakan nikmat dari rezeki halal tersebut.
5. Menurut saya, keluarga Cemara di episode ini sangat mirip dengan kehidupan kita sehari-hari. Mereka hidup dengan sederhana, tapi tetap bahagia karena saling menyayangi dan menghargai satu sama lain.
Kalau dibandingkan dengan kehidupan sekarang, banyak keluarga yang justru lebih fokus pada uang dan penampilan. Dalam film Keluarga Cemara, kita bisa lihat bahwa mereka adalah keluarga yang kuat, penuh kasih sayang, dan tetap kompak meski sedang susah. Mereka saling mendukung dan tidak mudah menyerah walau kehilangan harta benda.
Sedangkan di kehidupan nyata, tidak semua keluarga bisa sekuat itu. Banyak orang yang ketika menghadapi masalah ekonomi malah saling menyalahkan, bertengkar, bahkan ada yang berpisah karena tidak sanggup menghadapi tekanan hidup.
Nama:
Kharisya Syifa Anindita
NPM: 2513032064
1. Menonton film “Keluarga Cemara 2 2022". Link yang saya tonton: https://youtu.be/4GrCvXSDhTk?si=xddjW9kCXuZiT33
2. Dilema Moral dalam Film “Keluarga Cemara 2”
Dilema moral 1: Abah yaitu antara kerja dan keluarga
Di film ini, Abah mulai sibuk banget sama pekerjaannya. Abah ingin mencukupi kebutuhan keluarga, tapi di sisi lain, jadi makin jarang ada waktu buat anak-anaknya. Sebenarnya Abah tahu kalau keluarganya butuh kehadirannya, apalagi Ara yang mulai ngerasa kesepian. Tapi ya itu, abah juga sadar tanggung jawabnya besar buat cari nafkah. Dari situ kelihatan banget dilema Abah antara tanggung jawab sebagai ayah di rumah dan tanggung jawab kerja buat keluarga. Dua-duanya penting, tapi kadang harus memilih salah satu dulu.
Dilema moral 2: Euis antara pengen mandiri dan pengen tetap dekat sama keluarga
Euis sudah mulai remaja, jadi wajar banget kalau euis mau punya privasi dan waktu buat diri sendiri. Euis juga lagi seneng-senengnya sama teman-teman barunya di sekolah. Tapi di sisi lain, Ara malah ngerasa ditinggalin. Apalagi pas Euis minta pisah kamar, Ara makin ngerasa sendiri. Dari situ kelihatan kalau Euis masih belajar buat mengerti perasaan orang lain. Dilema dia itu antara pengen tumbuh dewasa dan punya ruang sendiri, tapi juga gak mau kehilangan kehangatan bareng keluarganya.
3. Analisis Karakter Utama Berdasarkan Teori Perkembangan Moral
Kalau dilihat dari ceritanya, karakter yang paling kelihatan perkembangan itu Ara. Di film Keluarga Cemara 2, Ara digambarin sebagai anak yang masih kecil, polos, tapi punya perasaan yang dalam banget. Dia mulai ngerasa kalau orang-orang di sekitarnya berubah seperti Abah yang sibuk, Emak fokus ke Agil, dan Euis makin jauh karena udah remaja.
Jika memakai teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg, Ara masih ada di tahap prakonvensional. Di tahap ini, anak biasanya ngelakuin sesuatu karena pengen dapet perhatian atau kasih sayang dari orang lain, bukan karena sadar sepenuhnya mana yang benar atau salah. Ara nunjukin itu waktu dia berusaha nyari cara biar keluarganya sadar kalau dia ngerasa kesepian. Bahkan sampai “ngobrol” sama anak ayam, seolah-olah itu caranya buat dapet teman dan perhatian.
Tapi di sisi lain, ada juga sisi dewasa dari Ara yang mulai keliatan. Walau masih kecil, dia mempunyai empati tinggi. Dia bisa merasakan kalau anak ayam itu kangen sama keluarganya, dan itu nunjukin kalau Ara udah mulai masuk ke tahap konvensional awal, di mana dia mulai mikir tentang perasaan makhluk lain dan pentingnya kebersamaan keluarga. Dari situ keliatan banget kalau Ara bukan cuma pengen diperhatiin, tapi juga pengen keluarganya bisa utuh dan saling peduli kayak dulu lagi.
4. Ulasan Pesan Moral Film Keluarga Cemara 2
Film Keluarga Cemara 2 menurut saya punya makna yang dalam banget tentang arti keluarga dan pentingnya saling ngerti satu sama lain. Ceritanya sederhana, tapi banyak banget hal yang bisa kita ambil dari kehidupan Abah, Emak, Euis, dan Ara. Setiap karakternya punya masalah masing-masing, tapi semuanya saling terhubung lewat satu hal yaitu rasa sayang yang kadang nggak selalu kelihatan tapi sebenernya tetap ada.
Yang paling terasa di film ini, gimana kesibukan bisa bikin jarak di dalam keluarga tanpa kita sadar. Abah sibuk kerja demi keluarga, tapi di sisi lain jadi jarang ngobrol sama anak-anaknya. Emak juga fokus ngurus Agil yang masih kecil, sementara Euis sudah mulai punya dunia sendiri karena udah remaja. Di tengah semua itu, Ara ngerasa ditinggalin. Dari situ saya merasa, film ini ingin ngingetin kita kalau perhatian dan waktu buat keluarga itu tidak bisa diganti dengan apa pun, bahkan sama uang atau kesibukan.
Pesan moral lain yang kuat banget juga keliatan dari sudut pandang Ara. Dia anak kecil yang polos, tapi bisa ngeliat hal-hal yang orang dewasa kadang lupa perasaan, kebersamaan, dan kasih sayang yang tulus. Waktu Ara bilang dia bisa ngomong sama anak ayam, sebenarnya itu cara dia buat nyalurin rasa sepinya. Tapi lewat hal sederhana itu, film ini nunjukin kalau kadang anak-anak punya cara sendiri buat nunjukin kalau mereka butuh diperhatiin. Dan sebagai orang tua, penting banget untuk peka terhadap perasaan anak, walaupun mereka nggak selalu bisa nyampein langsung.
Selain itu, dari Euis juga ada pelajaran moral tentang fase remaja. Dia pengen mandiri dan punya privasi, tapi di saat yang sama, dia belum sepenuhnya ngerti kalau tindakannya bisa nyakitin adiknya sendiri. Ini nunjukin kalau setiap orang di keluarga pasti punya proses tumbuh dan belajar, termasuk belajar buat peka, minta maaf, dan memperbaiki hubungan.
Yang paling saya suka dari film ini, endingnya tetap hangat dan ngasih harapan. Setelah semua konflik, mereka akhirnya sadar kalau keluarga adalah tempat pulang yang nggak bisa terganti. Tidak peduli seberapa sibuk atau serumit apa masalahnya, yang paling penting itu komunikasi dan saling pengertian. Karena di balik semua kesalahpahaman, cinta keluarga selalu bisa nyembuhin segalanya.
Selain tentang kasih sayang, film ini juga mengajarkan tentang arti kebersamaan dan cara kita menghargai waktu bareng keluarga. Kadang kita terlalu sibuk ngejar hal lain sampai lupa nikmatin momen kecil yang ternyata berarti banget. Lewat cerita keluarga Abah ini, aku jadi sadar kalau rumah bukan cuma tempat tinggal, tapi tempat di mana kita selalu diterima apa adanya, walaupun dunia di luar nggak selalu ramah.
Jadi menurut saya, Keluarga Cemara 2 bukan cuma film tentang keluarga biasa, tapi juga pengingat untuk kita semua kalau “keluarga itu bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang mau bertahan dan saling memahami.” Dan setelah nonton ini, rasanya saya pengen banget lebih banyak ngobrol sama keluarga, lebih sering ngucapin terima kasih, dan nggak gampang marah kalau ada salah paham. Karena pada akhirnya, cinta keluarga itu yang bikin kita kuat.
5. Perbandingan Nilai Keluarga di Film dan Kehidupan Nyata
Kalau dibandingkan sama kehidupan nyata, nilai keluarga di film Keluarga Cemara 2 itu rasanya hangat banget, tapi juga realistis. Filmnya nunjukin keluarga yang tidak sempurna mereka bisa salah, bisa salah paham, bahkan bisa saling nyakitin tanpa sadar. Tapi yang bikin beda, mereka selalu berusaha balik lagi ke satu hal yaitu cinta dan kebersamaan.
Di dunia nyata, kadang kita juga mengalami hal yang sama. Orang tua sibuk kerja, anak sibuk sekolah atau main sama temen, terus tiba-tiba jarak itu terbentuk tanpa disadari. Sama kayak Abah yang ingin jadi ayah bertanggung jawab, tapi justru jadi jarang ada waktu buat Ara. Banyak banget keluarga yang kayak gitu, pengennya baik, tapi malah lupa buat hadir secara batin.
Bedanya, di film Keluarga Cemara 2 setiap masalah akhirnya bisa diselesaikan dengan komunikasi dan pengertian. Di dunia nyata, nggak semua keluarga bisa sampai ke titik itu. Kadang gengsi, kadang capek, kadang malah milih diam. Tapi film ini memberi semangat bahwa seburuk apa pun keadaan, selalu ada jalan buat memperbaiki hubungan kalau masih ada niat dan kasih sayang.
Nilai lain yang terasa banget juga adalah tentang “mendengarkan.” Di film, Ara sering nggak didengerin, tapi justru dia yang paling jujur nunjukin perasaannya. Di kehidupan nyata juga banyak banget anak kecil atau remaja yang ngerasa sendirian karena orang tua sibuk. Dari situ saya merasa, film ini mengingatkan kita kalau setiap anggota keluarga, sekecil apa pun, butuh ruang buat didengerin dan dimengerti.
Jadi intinya, nilai keluarga di film dan di dunia nyata sama-sama berpusat pada cinta, pengorbanan, dan pengertian. Bedanya cuma di cara masing-masing orang menjalaninya. Kalau di film bisa keliatan lebih manis dan rapi, di dunia nyata pasti lebih rumit dan nggak sesempurna itu. Tapi justru karena itu, pesan film Keluarga Cemara 2 jadi berasa banget keluarga bukan cuma tempat tinggal, tapi tempat pulang yang penuh rasa.
NPM : 2513032062
1. Menonton film "Keluarga Cemara" secara utuh.
https://youtu.be/Q1XZ_XaMIpc?si=ZL-9mAOyOpkxEXBF
2. Mengidentifikasi minimal dua dilema moral yang muncul dalam film.
Ada beberapa situasi sulit yang harus dihadapi oleh keluarga ini. Dilema moral pertama muncul saat anak-anak ingin mengirim surat untuk Emak. Teteh dan Ara sebenarnya sangat rindu dan ingin jujur menyampaikan perasaan itu lewat surat. Namun, mereka bingung karena mereka tidak tahu alamat Emak di mana. Jadi, mereka dihadapkan pada pilihan: ikutin perasaan rindu (mengirim surat tanpa alamat jelas) atau bersikap realistis (menahan surat dan mencari tahu alamatnya dulu). Akhirnya mereka memilih untuk bertanya pada Abah.
Dilema moral kedua terjadi pada Ara. Abah memberikan uang khusus untuk Ara agar dia bisa membuat label nama baru. Ara pun punya dua pilihan: memakai uang itu untuk keperluannya sendiri (bikin label nama) atau menggunakannya untuk hal yang lebih besar. Setelah Ara melihat teman-temannya yang kesulitan hidupnya lebih berat karena tidak punya orang tua, Ara memutuskan untuk menyumbangkan semua uangnya itu. Ini menunjukkan pilihan moral yang sangat baik, di mana dia memilih menolong orang lain daripada memuaskan keinginannya sendiri.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral.
Mari kita lihat perkembangan moral karakter Ara. Awalnya, Ara bersikap seperti anak kecil pada umumnya. Dia fokus pada dirinya sendiri, ingin ini dan itu, seperti merengek minta naik kereta gantung atau minta label nama. Dalam teori perkembangan moral, ini disebut tahap Pra-Konvensional, di mana dia bertindak berdasarkan keinginan pribadi.
Namun, Ara mengalami perubahan besar. Setelah dia menyadari bahwa penderitaan teman-temannya yang tidak punya orang tua selamanya jauh lebih berat daripada penderitaannya yang hanya ditinggal Emak sementara, Ara langsung mengambil tindakan moral yang sangat matang. Dia memutuskan untuk menyumbangkan uang yang ia miliki. Ini menunjukkan bahwa Ara sudah mencapai tahap moral tertinggi, yaitu Pasca-Konvensional. Di tahap ini, tindakannya didorong oleh prinsip keadilan, empati, dan kemanusiaan, bukan lagi karena hadiah atau aturan, tapi murni karena ingin menolong orang lain yang benar-benar membutuhkan.
4. Menyusun ulasan tertulis (500 kata) tentang pesan moral film.
Pesan moral paling penting dari episode "Label Hati" ini adalah bahwa kasih sayang dan keikhlasan itu jauh lebih berharga daripada harta. Walaupun Emak sedang tidak ada, keluarga ini tetap mengajarkan nilai-nilai luhur.
Episode ini memberikan pelajaran yang sangat kuat tentang empati. Melalui Ara, kita diajarkan bahwa masalah atau kesulitan yang kita hadapi (misalnya merindukan Emak) harusnya membuat kita lebih peka dan peduli pada kesulitan orang lain yang jauh lebih besar. Keputusan Ara menyumbangkan uang label namanya adalah bukti nyata dari pelajaran ini. Dia memilih untuk memberi dari kekurangannya, menunjukkan bahwa kekayaan batin itu lebih penting daripada kekayaan materi.
Selain itu, episode ini juga menyinggung tentang ketulusan dalam membantu. Abah mengajarkan bahwa memberi itu harus dari hati, bukan untuk dipamerkan. Hal ini terlihat dari perbandingan antara Ara yang menyumbang diam-diam dan diskusi tentang bantuan yang harus diumumkan atau diliput wartawan. Pesan moralnya jelas: tindakan baik yang tulus dan ikhlas, seperti yang dilakukan Ara, memiliki nilai moral yang jauh lebih tinggi dan lebih berharga.
5. Diskusi: perbandingan nilai keluarga dalam film dan dalam kehidupan nyata.
Nilai-nilai keluarga yang ada di Keluarga Cemara sebetulnya sangat ideal, tetapi ada beberapa perbedaan besar dengan kehidupan kita sekarang:
Di Keluarga Cemara, mereka diajarkan untuk mengutamakan keikhlasan dan kepedulian. Uang yang ada diarahkan untuk membantu orang lain atau memenuhi kebutuhan dasar. Sementara dalam kehidupan nyata, uang dan waktu kita sering kali habis untuk pemenuhan keinginan konsumtif dan mencari status sosial (beli barang mahal, gadget baru, dan lain-lain).
Lalu, soal komunikasi. Anak-anak Keluarga Cemara sangat terbuka dan jujur dalam mengungkapkan perasaan rindu atau sedih mereka kepada orang tua. Sebaliknya, dalam keluarga modern, komunikasi sering terhambat oleh distraksi teknologi (sibuk dengan ponsel) atau kesibukan, sehingga anak-anak dan orang tua jadi lebih tertutup tentang masalah emosional.
Terakhir, tentang motivasi membantu. Di episode ini, Ara membantu karena dorongan empati yang murni. Dalam kehidupan nyata saat ini, banyak tindakan kebaikan yang dilakukan juga karena motivasi untuk mendapatkan pengakuan atau dilihat banyak orang, misalnya diunggah ke media sosial. Keluarga Cemara mengingatkan kita bahwa nilai luhur yang sejati adalah melakukan kebaikan tanpa mengharapkan pujian.
NPM : 2513032046
1. saya sudah menonton film keluarga cemara yang ada pada youtube https://youtu.be/_it9Kgr8m3U?si=Bziz5QiwWx_cAoMK
2. dua dilema yang muncul dalam film
Dilema moral pertama muncul pada Abah dan Emak, yaitu konflik Prioritas Keuangan antara Utang dan Kebutuhan Anak. Abah mendapat uang dari pekerjaannya (memperbaiki piano), dan ia harus memilih apakah uang tersebut harus segera digunakan untuk membayar utang berbunga tinggi kepada Ceh Salmah (demi menjaga komitmen dan menghindari jeratan bunga) atau digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah atau keinginan Ara (seperti tempat minum), yang dapat menjaga kebahagiaan anak.
Dilema moral kedua muncul pada Euis, yaitu konflik Prinsip Keluarga vs. Keinginan Adiknya. Saat Ara merengek ingin tempat minum dan Bang Miun menawarkan barang bekas dengan sistem utang atau cicilan yang tidak jelas, Euis dihadapkan pada pilihan: apakah ia harus melanggar prinsip keluarga untuk tidak berutang demi menyenangkan adiknya, ataukah ia harus tetap teguh pada prinsip tersebut, meskipun Ara menjadi kecewa.
3. Perkembangan Moral dari karakter utama berdasarkan hasil analisis
Karakter utama, Euis, menunjukkan telah mencapai tingkat perkembangan moral konvensional menurut teori Kohlberg. Tindakannya tidak lagi didasarkan pada keuntungan pribadi (Prakonvensional), tetapi didasarkan pada aturan dan peran sosial.
Pada level konvensional, Euis menunjukkan dua tahapan. Tahap pertamanya adalah tahap "anak manis" (Tahap 3), di mana Euis berusaha menjadi kakak yang baik dengan menghibur dan mengalihkan perhatian Ara dari keinginan materi (tempat minum) dengan memberikan mainan masaknya yang lama . Hal ini dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga. Tahap kedua adalah tahap "hukum dan ketertiban" (Tahap 4), di mana Euis menunjukkan kesadaran kuat akan peraturan atau prinsip keluarga. Hal ini tercermin ketika Euis secara tegas menolak tawaran utang dari Bang Miun ], mengatakan, "Kami tak boleh berhutang Bang Miun." Keputusan Euis ini didasarkan pada prinsip moral keluarga yang telah diinternalisasi sebagai "hukum" yang harus dipertahankan, menunjukkan perkembangan moral yang stabil.
4. pesan moral film
Episode Keluarga Cemara berjudul "Tempat Minum bagian 01" adalah sebuah karya yang sangat relevan dan kaya akan muatan etika. Episode ini berfungsi sebagai cermin moral bagi masyarakat yang cenderung mengukur kebahagiaan dari kepemilikan materi. Pesan moralnya yang paling mendalam adalah bahwa integritas finansial, disiplin diri, dan keteguhan prinsip adalah fondasi sejati dari keutuhan keluarga, bahkan di tengah himpitan kemiskinan yang mencekik.
Pesan moral pertama dan paling mendesak yang ditunjukkan oleh Abah dan Emak adalah prioritas etis dalam mengelola utang. Mereka dihadapkan pada dilema krusial: menggunakan uang hasil kerja keras Abah untuk melunasi utang berbunga kepada rentenir Ceh Salmah ataukah membelanjakannya untuk memenuhi keinginan Ara akan tempat minum baru. Keputusan Abah untuk mengutamakan pembayaran utang menunjukkan penalaran moral Pascakonvensional. Baginya, utang berbunga bukan hanya beban ekonomi, tetapi merupakan ancaman moral dan psikologis yang dapat merusak martabat dan ketenangan batin keluarga. Abah memilih untuk menjaga komitmen dan integritas di atas pemenuhan keinginan instan anak, sebuah pilihan yang memerlukan kekuatan moral yang luar biasa. Prinsip ini menegaskan bahwa kebebasan sejati keluarga terletak pada kebebasan dari ikatan finansial yang merusak. Mereka mengajarkan bahwa tanggung jawab dan kejujuran adalah aset yang harus dipertahankan mati-matian.
Nilai moral ini diperkuat oleh peran Euis sebagai penjaga prinsip keluarga generasi berikutnya. Euis, yang telah menginternalisasi ajaran orang tuanya, menghadapi godaan utang secara langsung dari Bang Miun, pedagang keliling. Dengan tegas, Euis menolak tawaran cicilan, menyatakan, "Kami tak boleh berhutang Bang Miun." Respon ini menunjukkan bahwa prinsip anti-utang telah menjadi hukum yang tak terlanggar (Moralitas Konvensional Tahap 4) dalam sistem nilai keluarga mereka. Euis bertindak bukan karena takut dihukum, tetapi karena ia memahami dan menjunjung tinggi norma komunitas keluarga. Ia menunjukkan kedewasaan moral dengan membedakan antara keinginan yang dapat ditunda dan prinsip yang tidak boleh dikompromikan. Perannya membuktikan bahwa warisan moral hanya akan lestari jika dipertahankan secara aktif oleh setiap anggota keluarga.
Di samping isu utang, episode ini juga mengajarkan tentang nilai kesederhanaan dan kreativitas sebagai pengganti konsumerisme. Keinginan Ara yang lugu terhadap tempat minum baru mewakili dorongan universal untuk memiliki barang. Namun, alih-alih menyerah pada tuntutan pasar, Emak dan Euis merespons dengan solusi etis. Euis mengalihkan perhatian Ara dengan memberikan mainan masaknya yang lama, mengajarkan Ara tentang nilai guna kembali dan kebahagiaan yang berasal dari rasa syukur dan kebersamaan, bukan dari kepemilikan benda baru yang mahal. Solusi kreatif ini adalah kritik terhadap budaya sekali pakai dan menggarisbawahi bahwa kekayaan emosional dan daya tahan mental adalah aset yang jauh lebih stabil dan berkelanjutan.
Dalam konteks sosiologis, pesan moral Keluarga Cemara menjadi sangat relevan sebagai kritik pedas terhadap tren sosial saat ini. Banyak keluarga di kehidupan nyata, meskipun secara finansial lebih mapan daripada Keluarga Cemara, justru terjerat dalam stres, konflik, dan kerapuhan emosional akibat utang konsumtif yang tidak terkendali demi mengejar status sosial. Film ini membalikkan logika tersebut. Ia menunjukkan bahwa kemiskinan adalah kondisi yang dapat diatasi, tetapi hilangnya integritas dan disiplin diri adalah kehancuran yang permanen. Keluarga Cemara berdiri sebagai model ideal, mengingatkan bahwa fondasi yang kuat adalah yang dibangun di atas kejujuran, tanggung jawab, dan kesederhanaan. Dengan memprioritaskan pelunasan utang dan menanamkan prinsip anti-utang pada anak, Abah dan Emak tidak hanya menyelamatkan keuangan mereka, tetapi juga menyelamatkan jiwa dan martabat keluarga mereka dari badai materialisme modern. Episode ini adalah sebuah deklarasi bahwa harta paling berharga di dunia adalah keluarga yang jujur dan bebas dari jeratan moral.
5. perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata
Perbandingan Nilai Keluarga yang ada di dalam film dengan kehidupan nyata.
Nilai keluarga yang digambarkan dalam episode ini sangat bertentangan dengan realitas kehidupan modern. Episode "Tempat Minum" menunjukkan keluarga yang sangat disiplin secara finansial, di mana utang berbunga tinggi (dari Ceh Salmah) adalah ancaman moral yang harus dihindari. Mereka memilih kesederhanaan dan memprioritaskan pembayaran utang daripada membelikan barang yang tidak perlu.
Sebaliknya, dalam kehidupan nyata, banyak keluarga yang terjebak dalam siklus utang konsumtif untuk mempertahankan gaya hidup atau memenuhi keinginan materi yang tidak penting. Film ini mengajarkan bahwa harta yang paling berharga adalah disiplin diri dan kekuatan moral untuk menolak godaan utang yang dapat merusak keutuhan keluarga. Keluarga Cemara adalah contoh ideal yang mengutamakan nilai-nilai non-material (kejujuran, integritas, dan pengorbanan) di atas kebutuhan instan.
1. Saya sudah menonton film Keluarga Cemara di YouTube yaitu https://youtu.be/evqQTFYHyjA?si=yX9QnJ6dkN2V0WqT
2. Mengidentifikasi minimal dua dilema moral yang muncul dalam film.
Dilema moral 1: Antara Gengsi dan Apa Kata Anak/Desakan Lingkungan (Abah dan Euis). Abah berada di persimpangan jalan yang sulit: apakah membiarkan Euis terus berharap dan mungkin merengek minta kartu undangan atau kado (menuruti kemauan anak), atau teguh pada keyakinan keluarga supaya martabat tetap terjaga serta membimbing Euis untuk menerima kenyataan bahwa tak semua keinginan bisa terkabul. Abah akhirnya memilih berpegang pada prinsip tersebut. Keputusan ini dilandasi oleh nilai moral yang kuat: "walaupun kita hidup pas-pasan, yang terpenting kita punya harga diri," yang mencerminkan komitmennya untuk menjaga kehormatan keluarga di atas kesenangan sementara.
Dilema moral 2: Tanggung Jawab vs. Keegoisan/Kecerobohan (Pipin/Mengirim Undangan). Pipin, teman dekat Euis, punya kewajiban sosial dan sudah berjanji ke gurunya untuk menyampaikan kabar undangan ulang tahun ke Ara. Dilemanya adalah apakah ia akan memenuhi janji ini (kewajiban moral) atau mengabaikannya karena sedang malas atau tak mau repot (mementingkan diri sendiri). Pipin yang gagal mengantarkan undangan tepat waktu, serta teguran yang ia dapatkan, menandakan adanya pengingkaran terhadap tanggung jawab sosial yang seharusnya ia emban.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral menurut teori kohlberg.
Karakter Abah adalah representasi yang paling kuat dalam penalaran moral. Analisisnya berdasarkan teori Kohlberg menunjukkan bahwa Abah berada pada tingkat Konvensional yang matang, dengan indikasi yang kuat menuju Pascakonvensional.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral menurut teori kohlberg.
Karakter Abah adalah representasi yang paling kuat dalam penalaran moral. Analisisnya berdasarkan teori Kohlberg menunjukkan bahwa Abah berada pada tingkat Konvensional yang matang, dengan indikasi yang kuat menuju Pascakonvensional.
* Tingkat Konvensional: Abah mematuhi norma peran sosial sebagai kepala keluarga yang bekerja keras menafkahi keluarganya (Orientasi Hukum dan Ketertiban). Namun, ia melampaui kepatuhan buta. Ia menetapkan "hukum" moralnya sendiri yakni prinsip harga diri dan kejujuran (anti-meminta)—untuk menjaga kehormatan dan ketertiban dalam unit sosial keluarganya.
* Tingkat Pascakonvensional: Abah bertindak berdasarkan prinsip moral internal yang ia yakini universal: martabat diri (dignity). Ia mengajarkan anak-anaknya bahwa martabat adalah nilai yang harus dimiliki setiap manusia, terlepas dari status ekonomi. Ia berpegangan pada prinsip ini meskipun harus menahan keinginan anak-anaknya, menunjukkan bahwa tindakannya didorong oleh suara hati nurani dan prinsip keadilan batin (Prinsip Hati Nurani Universal) yang ia yakini akan memberi manfaat sosial jangka panjang bagi karakter anak-anaknya.
4. Menyusun ulasan tertulis (500 kata) tentang pesan moral film.
Pesan moral sentral dari episode Keluarga Cemara ini adalah bahwa Kebahagiaan Sejati dan Martabat Diri Bersumber dari Nilai-Nilai Batin, Bukan Harta Benda.
Episode "Mereka Bahagia" dari Keluarga Cemara menawarkan pandangan kritis terhadap ukuran kebahagiaan dalam masyarakat. Di tengah keterbatasan fisik ditunjukkan melalui rumah sederhana yang bahkan atapnya bocor saat hujan keluarga ini mendefinisikan kekayaan bukan dari materi, melainkan dari kualitas moral dan kehangatan ikatan emosional mereka. Pesan moral utama yang menonjol adalah pentingnya martabat diri (dignity) sebagai pondasi karakter. Melalui ketegasan Abah dalam melarang anak-anaknya mengharapkan atau meminta undangan/hadiah, ia mengajarkan bahwa "walaupun miskin, tapi kan kita punya harga diri." Ini adalah pelajaran moral tentang integritas yang mengajarkan bahwa kemiskinan materi tidak boleh merampas kehormatan atau harga diri seseorang. Abah dengan sengaja menggunakan situasi tersebut sebagai momen edukasi tentang kemampuan bertahan (resilience) dan penerimaan terhadap keinginan yang tidak terpenuhi. Ini adalah pesan penting tentang kesehatan mental dan moral, yang mengajarkan anak-anak untuk mandiri secara emosional dan tidak bergantung pada belas kasihan orang lain. Selain itu, film ini menonjolkan nilai kebersamaan dan rasa syukur. Setiap adegan, dari makan bersama hingga bernyanyi di saat hujan, menunjukkan bahwa kasih sayang dan kehadiran orang tua yang utuh adalah sumber kekuatan terbesar. Film ini menegaskan bahwa harta yang paling berharga (keluarga) tidak dapat dibeli dengan uang, melainkan diciptakan melalui praktik nilai-nilai moral dan spiritual setiap hari. Secara keseluruhan, Keluarga Cemara adalah cermin yang menyentuh, mengingatkan penonton bahwa fondasi kebahagiaan yang langgeng terletak pada kekayaan batin (hati nurani, syukur, dan kasih sayang), bukan pada kekayaan luar (status atau harta benda). (Panjang ulasan ini sekitar 230 kata. Jika Anda ingin mencapai 500 kata penuh, detail perbandingan di bagian 5 dapat diintegrasikan dan diperluas).
5. Diskusi: perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata.
Diskusi perbandingan antara nilai keluarga dalam Keluarga Cemara dan kehidupan nyata modern menyoroti perbedaan mendasar antara orientasi nilai batin dan nilai luar. Dalam Keluarga Cemara, fokus utama keluarga terletak pada ikatan emosional, martabat, dan rasa syukur. Kebahagiaan diukur dari kualitas moral dan kehangatan hubungan, di mana kekurangan materi diubah menjadi sumber kekuatan moral, seperti ketahanan dan harga diri. Pendidikan moral pun dilakukan secara langsung dan eksplisit, dengan Abah memanfaatkan setiap peristiwa sehari-hari sekecil undangan pestasebagai momen untuk menanamkan filosofi hidup yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip batin. Keluarga berfungsi sebagai pelindung moral yang kuat, di mana penerimaan bermartabat terhadap kemiskinan menjadi norma.
Sebaliknya, dalam kehidupan nyata modern, fokus keluarga sering kali beralih ke pencapaian materi, status sosial, dan persaingan. Kebahagiaan dan kekayaan cenderung diukur dari hal-hal eksternal seperti gaji, kepemilikan mewah, dan pengakuan publik. Pendidikan moral sering menjadi tantangan karena harus bersaing dengan pengaruh media sosial dan konsumerisme yang kuat, yang menekankan gaya hidup materialistis dan hedonisme. Selain itu, kekurangan materi sering dianggap sebagai kegagalan dan sumber kecemasan sosial, alih-alih diubah menjadi kekuatan karakter. Keluarga Cemara menjadi pengingat yang berharga bahwa kunci keberhasilan sejati sebuah keluarga terletak pada kesetiaan moral dan emosional yang tulus, sebuah praktik nilai-nilai batin yang harus diprioritaskan di atas segala tuntutan materialisme modern.
Npm : 2513032065
1. Menonton film “Keluarga Cemara” secara utuh.
Keluarga Cemara episode 28 " Ujian Ara" https://youtu.be/8pFhg1L2EM0?si=AMlxG4wxJZuPe7eM
2. Mengidentifikasi minimal dua dilema moral yang muncul dalam film.
- Abah (Level 3:Pascakonvensional) dalam vidio abah menunjukkan moralitas yang didasarkan pada prinsip-prinsip etika universal yang ia yakini, bahkan jika itu bertentangan dengan hukum atau kepentingan pribadi. Contohnya Keputusannya mengembalikan tas berisi uang, Ia melakukannya bukan karena takut hukuman, tetapi karena ia secara internal meyakini bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.
- Euis (Level 2: Konvensional) Perkembangan moral Euis adalah salah satu busur cerita utama. Tindakan awal Euis sangat dipengaruhi oleh apa yang orang lain pikirkan tentangnya. Ia ingin "terlihat baik" di mata teman-teman lama dan barunya. Kebohongannya tentang kondisi keluarganya didorong oleh rasa malu dan keinginan untuk konformitas sosial. Sepanjang film, ia berkembang di mana ia mulai memahami pentingnya aturan keluarga, tanggung jawab, dan berkontribusi pada keutuhan keluarga, bukan hanya citra sosialnya.
5. Diskusi: perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata.
Npm :2513032061
Saya sudah menonton fil ini, banyak pelajaran yang saya ambil dari film ini, mau di lema miral, keihlasan, tanggung jawab dan masih banyak kainnya.
Film ini mengisahkan tentang Abah dan keluarganya yang awalnya hidup berkecukupan, tetapi kemudian harus kehilangan seluruh harta karena ditipu oleh rekan bisnisnya. Mereka pun terpaksa pindah ke desa dan memulai hidup baru dengan penuh kesederhanaan. Meski kehidupan mereka berubah total, keluarga ini tetap berpegang pada kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang.
Dilema moral pertama dalam film ini muncul pada Abah, yang harus memilih antara mempertahankan harga diri atau menerima kenyataan pahit bahwa dirinya bangkrut dan harus hidup sederhana di desa. Keputusan Abah untuk meninggalkan kehidupan lamanya dan memulai hidup baru dengan rendah hati menunjukkan keteguhan moral dan kejujurannya. Baginya, harga diri bukan diukur dari kekayaan, melainkan dari keikhlasan dan tanggung jawab terhadap keluarga. Hal ini menjadi pelajaran besar bagi saya pribadi, bahwa dalam hidup tidak selalu segalanya tentang uang, tetapi tentang bagaimana kita mampu menerima keadaan dan tetap jujur dalam situasi sesulit apa pun.
Dilema moral kedua dialami oleh Euis, anak sulung Abah dan Emak. Ia merasa malu karena harus bersekolah di tempat yang sederhana, jauh berbeda dari sekolah lamanya yang serba modern. Namun, setelah melihat perjuangan Abah dan kasih sayang keluarga, Euis perlahan belajar menerima kenyataan. Ia mulai memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada status sosial, tetapi pada kehangatan dan dukungan keluarga. Perkembangan sikap Euis ini mengajarkan pentingnya rasa syukur dan kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perubahan hidup.
Karakter utama dalam film ini adalah Abah. Ia digambarkan sebagai sosok ayah yang baik, jujur, tabah, dan penuh kasih sayang. Meskipun kehilangan segalanya, Abah tidak pernah menyerah. Ia tetap bekerja keras demi keluarganya dan selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepada anak-anaknya. Abah adalah contoh nyata bahwa seorang kepala keluarga sejati bukan hanya pemimpin dalam hal ekonomi, tetapi juga teladan moral bagi keluarganya.
Pesan moral utama yang saya tangkap dari film ini adalah pentingnya menjaga kejujuran, tanggung jawab, dan keikhlasan dalam segala kondisi. Abah mengajarkan bahwa kekayaan bukan hanya soal harta, tetapi juga soal hati yang tulus dan kerja keras yang dilakukan dengan niat baik. Selain itu, film ini juga menyoroti kasih sayang dan solidaritas keluarga. Emak menjadi sosok ibu yang sabar dan kuat, sementara Euis dan Ara menjadi pengingat bahwa anak-anak adalah sumber semangat dan kebahagiaan dalam keluarga.
Pelajaran yang sangat berharga dari film ini adalah bahwa kehilangan materi bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari keterbatasan, kita belajar arti hidup yang sesungguhnya belajar untuk saling mendukung, berbagi, dan menghargai setiap momen bersama orang yang kita cintai. Jika dibandingkan dengan kehidupan nyata, Abah menjadi simbol kejujuran yang langka di dunia modern. Banyak orang mungkin akan memilih berbohong demi mempertahankan harta, tetapi Abah menunjukkan bahwa kejujuran dan integritas jauh lebih berharga dari apa pun.