Nama : Chalifa Shakila Sabrin
NPM : 2513021027
Kelas : 25A
Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak. Artinya, pendidikan menuntun kekuatan kodrat yang sudah ada pada diri anak, supaya mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Guru tidak "mengisi" anak seperti mengisi gelas kosong, tetapi membantu potensi anak tumbuh. Pandangan ini dikenal dengan sistem among, yaitu mendidik dengan kasih sayang dan tanpa paksaan, tetapi tetap ada tuntunan.
Makna itu tercermin dalam tiga semboyannya:
1. Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan). Pendidikan dimulai dari contoh. Guru lebih dulu menunjukkan sikap, nilai, dan cara berpikir yang baik, karena anak belajar dari apa yang mereka lihat.
2. Ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat dan kemauan). Guru hadir di tengah murid dan menumbuhkan motivasi dari dalam diri mereka. Murid belajar karena mau, bukan karena takut.
3. Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan dan kebebasan yang bertanggung jawab). Murid diberi ruang untuk berkembang dan mengambil keputusan, sementara guru mengawasi dan siap menuntun kalau mereka mulai keliru.
NPM : 2513021027
Kelas : 25A
Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak. Artinya, pendidikan menuntun kekuatan kodrat yang sudah ada pada diri anak, supaya mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Guru tidak "mengisi" anak seperti mengisi gelas kosong, tetapi membantu potensi anak tumbuh. Pandangan ini dikenal dengan sistem among, yaitu mendidik dengan kasih sayang dan tanpa paksaan, tetapi tetap ada tuntunan.
Makna itu tercermin dalam tiga semboyannya:
1. Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan). Pendidikan dimulai dari contoh. Guru lebih dulu menunjukkan sikap, nilai, dan cara berpikir yang baik, karena anak belajar dari apa yang mereka lihat.
2. Ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat dan kemauan). Guru hadir di tengah murid dan menumbuhkan motivasi dari dalam diri mereka. Murid belajar karena mau, bukan karena takut.
3. Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan dan kebebasan yang bertanggung jawab). Murid diberi ruang untuk berkembang dan mengambil keputusan, sementara guru mengawasi dan siap menuntun kalau mereka mulai keliru.