Posts made by Nadila Kholissah

Nama: Nadila Kholissah
Npm: 2513032028

Contoh perilaku nyata sebagai seorang guru:
1. Rasa Aman
a. Tingkat Sekolah Dasar (SD)
• Bersikap lembut, ramah, dan tidak membentak siswa
• Tidak mempermalukan siswa di depan kelas
• Mendampingi siswa yang takut, malu, atau belum paham
• Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan

b. Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)
• Tidak menertawakan atau meremehkan jawaban siswa
• Memberi kesempatan siswa untuk bertanya dan berpendapat
• Menegur siswa dengan cara yang sopan dan tidak kasar
• Menciptakan suasana diskusi yang nyaman

c. Tingkat Sekolah Menengah Atas ( SMA)
• Memberikan kebebasan berpendapat dengan tetap sopan
• Tidak menghakimi atau menyalahkan secara keras
• Menjadi pendengar yang baik bagi siswa
• Menciptakan suasana diskusi yang terbuka dan saling menghargai

2. Penghargaan
a. Tingkat Sekolah Dasar (SD)
• Memberikan pujian sederhana (misalnya: “bagus”, “hebat”)
• Memberikan reward kecil seperti stiker atau tepuk tangan
• Menghargai usaha siswa, bukan hanya hasil
• Memberi semangat kepada siswa yang masih kesulitan

b. Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)
• Memberikan apresiasi terhadap pendapat siswa
• Memberi motivasi atas usaha yang telah dilakukan
• Menggunakan kata-kata positif dalam memberi kritik
• Mengakui perkembangan belajar siswa

c. Tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)
• Memberikan kepercayaan (misalnya jadi ketua kelompok/presentasi)
• Menghargai ide dan pemikiran kritis siswa
• Memberikan umpan balik yang membangun
• Mengapresiasi usaha dan proses, bukan hanya nilai akhir

Landasan Pendidikan PPKn 2025A -> Penugasan

by Nadila Kholissah -
Nama : Nadila Kholissah
Npm : 2513032028
Kelas : 25A

Materi yang dapat saya simpulkan yaitu kajian kasus kasus di bidang pendidikan yaitu banyaknya kasus guru yang di polisikan oleh siswanya karena guru melakukan tindakan mendisiplinkan anak, menegur anak agar menjadi tertib. Kasus ini sudah banyak terjadi karena ada beberapa orangtua murid tidak terima atas tindakan guru yang di berikan kenapa anak muridnya. Ada beberapa faktor atau tanggapan orangtua yang tidak terima tindakan guru kepada anaknya yaitu lemahnya ikatan emosional antara sekolah dan orang tua, terjadi mispresepsi antara pihak sekolah dengan orangtua, guru harus mendahulukan upaya preventif dalam membina karakter siswa, dan jika memerlukan hukuman harus tetap menggunakan pendekatan edukatif. Untuk generasi penerus yang akan menjadi guru selanjutnya, berhati hati lah dalam melakukan tindakan karena zaman sudah berubah, salah satunya bisa salah persepsi antara guru dengan orangtua terhadap apa yang dilakukan guru untuk memperbaiki perilaku, sikap dan sifat pada siswa.

Kasus berikutnya adalah perilaku siswa yang bertentangan dengan nilai etika dan nilai moral yang ada di masyarakat, yaitu Tindakan asusila di kalangan pelajar karena semakin khawatir akan tinggi nya kontisex di kalangan pelajar menyebabkan memudahkan nya akses untuk melihat pornografi. Banyak nya siswa yang melakukan tindakan mesum di tempat umum bahkan sampai direkam oleh temannya sendiri, dorongan berbuat mesum dan merekam nya menggunakan gadget akibat mudahnya pelajar mengakses pornografi salah satunya lewat warung Internet (warnet). Ini adalah salah satu sisi gelap di dunia pendidikan kita, karena bahwasanya kita tahu negara kita ini adalah negara pancasila, dimana sila pertama yang berbunyi "ketuhanan yang maha esa", sila pertama ini sekaligus menggambarkan agama menempati posisi pertama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka tindakan asusila ini baik seks atau pergaulan bebas termasuk yang bertentangan dengan agama dan budaya diindonesia. Tindakan asusila di kalangan pelajar ini terjadi karena adanya beberapa faktor yaitu kurangan penanaman agama pada anak, jika seorang anak lemah dalam agama maka ia tidak akan takut dengan dosa karena ada sebuah kurang keyakinan dalam dirinya. Penguatan kerjasama sekolah, orangtua dan masyarakat dalam mengawasi anak, harus ada bahasa yang sama, satu persepsi yang sama, satu tindakan yang sama untuk menjaga anak anak terhindar dari perbuatan asusila. Penguatan peran keluarga . Menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung minat dan bakat siswa, pasti semua anak memiliki minat dan bakat, maka dari itu tugas sekolah adalah menyalurkan seluruh minat dan bakat yang dipunyai oleh siswanya, sehingga anak tidak akan berfikir hal hal yang di negatif. Jadi salah satu untuk mengurangi tindakan tindakan asusila di kalangan para pelajar yaitu memfasilitasi minat dan bakat mereka.

kasus tindakan banyaknya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa, akibat dari tindakan ini dapat menyebabkan kerusakan fisik dan mental. Tindakan penyalahgunaan narkoba tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat tetapi terjadi juga di dunia pendidikan saat ini. Jumlah pelajar atau mahasiswa yang menggunakan narkoba dari tahun ke tahun semakin meningkat, ada nya peningkatan yang semakin drastis maka hal ini dianggap sangat serius, karena dapat merusak generasi-generasi penerus bangsa. Maka hal itu kita harus memberikan pembelajaran akan pentingnya anti narkoba dan mengenali jenis-jenis narkoba dan ciri-ciri orang yang terjangkit penyakit narkoba agar anak-anak terhindar dari hal tersebut.
Nama : Nadila Kholissah
Npm : 2513032028
Kelas :25 A

menurut pandangan saya jawaban:
tujuan pendidikan menurut kita hadjar dewantara adalah memerdekakan manusia yang arti nya selamat dan bahagia, menurut saya arti selamat dan bahagia adalah bukan hanya soal fisik melainkan jiwa dan batinnya. Jika seseorang tidak bahagia menjalankan pendidikan, maka ia tidak akan pernah mampu untuk menjalankan pendidikan selanjutnya. seseorang yang tidak merasa bahagia, pasti ketika menjalankan pendidikan ia akan merasa kesal, tidak memahami pembelajaran dengan baik, dan merasa tidak peduli dengan tugas tugas yang di berikan gurunya. Selamat juga dapat di artikan seseorang dapat hidup dengan seimbang secara lahir dan batin, jasmani dan rohani. Jadi pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, membentuk manusia merdeka, yaitu manusia yang berbudi pekerti luhur, mampu berpikir dan bertindak dengan tanggung jawab, serta hidup harmonis dengan sesama dan lingkungannya. Pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tapi membentuk manusia merdeka, yaitu manusia yang berbudi pekerti luhur, mampu berpikir dan bertindak dengan tanggung jawab, serta hidup harmonis dengan sesama dan lingkungannya.

jika saya menjadi seorang guru saya akan melakukan:
1. memberi keteladanan dalam sikap dan perilaku sesuai semboyan ing ngarso sungguh tulodo
2. memberi semangat dan dorongan ketika siswa mulai kehilangan motivasi
3. memberi metode pembelajaran sesuai dengan tingkatan nya

DKPM PPKn 2025A -> Analisis Video

by Nadila Kholissah -
Nama : Nadila Kholissah
Npm : 2513032028
Prakonvesional menjelaskan bahwa saling berhubungan yaitu:
Hubungan sebab-akibat
Ganjaran-Hukuman
Menyenangkan-tidak menyenangkan

A. Prakonvesional dibagi menjadi 2 tahap yaitu
1.Orientasi Hukuman dan Kepatuhan
Pada tahap pertama seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut pada hukuman misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan rasa bersalah apabila melanggar, pemahaman moral itu didasarkan pada kesadaran.

2. Orientasi Realitivis Instrumental Di tahap ini, individu mulai memahami bahwa tindakan dapat dinilai berdasarkan keuntungan pribadi. Mereka melakukan sesuatu jika mereka percaya itu akan menguntungkan mereka.
Pada tahap kedua seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan contoh: "anak kecil mau disuruh jika diiming imingin hadiah", "jika aku membantu mu apa imbalanku?"

B. Konvesional di mana individu mulai menginternalisasi standar moral dari masyarakat dan memandang tindakan baik sebagai tindakan yang selaras dengan norma sosial, serta penting untuk mematuhi hukum demi memelihara ketertiban, seseorang mulai keluar dari egoisme pribadi, menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain, dibagi menjadi 2 yaitu
1. Tahap anak manis
Anak Manis seseorang menganut perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain membantu orang lain dan oleh karena itu ia akan selalu berusaha untuk mematuhi norma-norma dalam kelompoknya

2. Hukum dan Ketertiban (sadar bahwa dirinya bagian dari masyarakat)Perilakunya moralitas dipandang sebagai kewajiban untuk menjaga hukum dan ketertiban sosial dan sadar bahwa dirinya sebagai dari masyarakat. Aturan dan hukum harus ditegakkan untuk menjaga fungsi masyarakat penekanannya adalah untuk mematuhi hukum secara mutlak kebanyakan orang dewasa sudah ada ditahap ini.

C. Pascakonvensional
Hidup baik adalah tanggung jawab masing-masing pribadi, penekanan pada prinsip yang muncul dalam batin. Tahapan pada pascakonvensional dibagi menjadi 2 yaitu
1. Kontrak sosial legalistis
Seseorang mulai mengenali bahwa suatu hukum belum tentu bisa diterapkan dalam kehidupan sosial, selalu terbuka kemungkinan untuk memperbarui dan mengaktualkan suatu hukum melalui persetujuan demokratis. Perilakunya adalah seseorang memahami bahwa hukum dan aturan adalah kesepakatan sosial yang bisa diubah jika tidak lagi melayani kepentingan masyarakat luas. Hak individu bisa lebih penting daripada hukum tertentu.

2. Prinsip etika universal
Prinsip ini bersifat universal karena bisa berlaku dimanapun dan kapanpun
Prinsip hati universal (prinsip yang menjunjung tinggi nilai dan martabat kemanusiaan seperti keadilan ketulusan dalam membantu orang lain dan persamaan hak manusia dan hormat kepada nilai suatu kehidupan. Prinsip ini disebut universal karna dapat di lakukan di berbagai tempat, situasi, dan segala aspek kehidupan manusia.
Dapat disimpulkan bahwa prinsip tertinggi adalah Prinsip hati nurani universal sayangnya prinsip itu tidak selalu memiliki rumusan yang konkret, oleh karna itu dibutuhkan kepekaan hati nurani yang besar ketika menghadapi sesuatu realitas atau persoalan)

Perbandingan jean Piaget dan Lawrence Kohlberg
Teori jean Piaget: menjelaskan moral anak dalam kaitannya dengan perkembangan kognitif
Teori Kohlberg: menjelaskan perkembangan moral berdasarkan tingkat kesadaran moral dan keadaan sosial
Jumlah tahapan
Piaget: 6 tahapan (pramoral, moralitas heteronom, moralitas realisme, moralitas otonom, operasional konkret, operasional formal)
Kohlberg : tingkat prakonvensional (orientasi hukum, orientasi instrumental), tingkat konvensional (anak manis, hukum dan ketertiban), tingkat pascakonvensional(kontrak sosial legalistic, prinsip etika universal)
Rentan usia
Piaget: dari usia 0-12 tahun
Kohlberg : dapat berlangsung dari kanak kanak hingga dewasa (tidak memandang usia)

DKPM PPKn 2025A -> Analisis Video

by Nadila Kholissah -

Nama : Nadila Kholissah

Npm : 2513032028

Analisis dari video di atas

A. Prakonvesional dibagi menjadi 2 tahap yaitu

1.Orientasi Hukuman dan Kepatuhan

Pada tahap pertama seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut pada hukuman misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan rasa bersalah apabila melanggar, pemahaman moral itu didasarkan pada kesadaran. 

2. Orientasi Realitivis Instrumental 

Pada tahap kedua seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan contoh: anak kecil mau disuruh jika diiming imingin hadiah. 


B. Pada tahap Konvesional seseorang mulai keluar dari egoisme pribadi, menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain, dibagi menjadi 2 yaitu 

1. Tahap anak manis

Anak Manis seseorang menganut perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain membantu orang lain dan oleh karena itu ia akan selalu berusaha untuk mematuhi norma-norma dalam kelompoknya 

2. Hukum dan Ketertiban (sadar bahwa dirinya bagian dari masyarakat)


C. Pada Tahap Pascakonvensional

Hidup baik adalah tanggung jawab masing-masing pribadi, penekanan pada prinsip yang muncul dalam batin. Tahapan pada pascakonvensional dibagi menjadi 2 yaitu 

1. Kontrak sosial legalistis

Seseorang mulai mengenali bahwa suatu hukum belum tentu bisa diterapkan dalam kehidupan sosial, selalu terbuka kemungkinan untuk memperbarui dan mengaktualkan suatu hukum melalui persetujuan demokratis

2. Prinsip etika universal 

Prinsip ini bersifat universal karena bisa berlaku dimanapun dan kapanpun. Prinsip hati universal (prinsip yang menjunjung tinggi nilai dan martabat kemanusiaan seperti keadilan).


Perbandingan jean Piaget dan Lawrence Kohlberg

1. Teori jean Piaget: menjelaskan moral anak dalam kaitannya dengan perkembangan kognitif

2. Teori Kohlberg: menjelaskan perkembangan moral berdasarkan tingkat kesadaran moral dan keadaan sosial

Jumlah tahapan 

1. Piaget: 6 tahapan (pramoral, moralitas heteronom, moralitas realisme, moralitas otonom, operasional konkret, operasional formal)

2. Kohlberg : tingkat prakonvensional (orientasi hukum, orientasi instrumental), tingkat konvensional (anak manis, hukum dan ketertiban), tingkat pascakonvensional(kontrak sosial legalistic, prinsip etika universal)

Rentan usia 

1. Piaget: dari usia 0-12 tahun

2. Kohlberg : dapat berlangsung dari kanak kanak hingga dewasa (tidak memandang usia)