གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Lyta Indre

PERENCANAAN A26 -> STUDI KASUS

Lyta Indre གིས-

MDIPE A26 -> TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

Lyta Indre གིས-
1. Isi Artikel
Tulisan karya Redhana (2013) mengulas penerapan model Problem Based Learning atau PBL yang dikolaborasikan bersama teknik tanya jawab Sokratik. Lewat pendekatan ini, peserta didik dihadapkan pada suatu persoalan untuk dipecahkan, sementara pendidik melemparkan pertanyaan pancingan guna merangsang penalaran tingkat tinggi. Tujuan utamanya tentu untuk mendongkrak daya pikir kritis siswa.
2.Kelebihan
Pandangan saya menilai pendekatan ini mempunyai beberapa sisi unggul. Pertama, peserta didik didorong untuk berperan lebih aktif selama kegiatan belajar berlangsung. Kedua, metode ini mampu melatih kepekaan dan ketajaman berpikir secara analitis. Ketiga, siswa jadi terbiasa mencari jalan keluar atas suatu masalah secara mandiri. Keempat, pertanyaan penuntun dari guru memudahkan mereka dalam merumuskan alasan serta solusi yang logis. Kelima, topik bahasan jadi jauh lebih mudah dihubungkan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
3. Kekurangan
Kendati demikian, saya melihat metode ini juga menyimpan sejumlah hambatan. Proses kegiatan belajar biasanya memakan durasi yang relatif panjang karena anak-anak harus mencerna masalah, berembuk dalam kelompok, dan merumuskan jawaban. Di samping itu, pengajar dituntut memiliki keahlian dalam merangkai pertanyaan yang pas agar murid tidak malah kebingungan di tengah jalan. Catatan penting lainnya, riset milik Redhana tersebut mengambil objek siswa jenjang SMP pada bidang studi IPA. Oleh sebab itu, implementasinya pada mata pelajaran ekonomi tentu wajib disesuaikan kembali dengan karakteristik materi serta kondisi nyata peserta didik di kelas.
4. Penerapan dalam Pembelajaran Ekonomi
Konsep tersebut sangat bisa diadaptasi ke dalam kelas ekonomi dengan cara menyodorkan kasus yang relevan dengan keseharian siswa. Ambil contoh pada bab inflasi, pengajar dapat melemparkan beberapa pertanyaan pemicu seperti apa yang memicu lonjakan harga barang di pasaran, faktor apa saja yang melatarbelakangi terjadinya inflasi, sejauh mana dampak inflasi dirasakan oleh masyarakat luas, serta langkah preventif apa yang dapat ditempuh untuk meredam inflasi tersebut. Melalui pola semacam ini, anak didik tidak sekadar menghafal definisi inflasi di buku, melainkan terlatih membedah persoalan sekaligus mencari alternatif solusinya.
5. Kesimpulan
Secara keseluruhan, saya berpendapat bahwa penggabungan model pemecahan masalah dan metode tanya Sokratik masih sangat relevan diterapkan pada sistem pendidikan kini. Pendekatan ini terbukti efektif menghidupkan suasana kelas serta mengasah kemampuan berpikir kritis anak. Meski begitu, guru harus tetap cermat dalam menyesuaikan teknis pelaksanaannya dengan materi ajar, kapasitas siswa, serta ketersediaan waktu yang ada.

Daftar Pustaka
Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3).

MDIPE A26 -> KASUS

Lyta Indre གིས-
Nama : Lyta Indre
NPM : 2513031006

1. masalah utama di kelas Ibu Rina itu keliatan banget dari cara mengajarnya yang masih satu arah dan bikin siswa pasif. Ibu Rina terlalu sibuk ceramah dan nulis rumus di papan, bikin anak-anak cepet bosan, main HP, dan akhirnya cuma numpang lewat. Akibatnya, pas dikasih soal hafalan mereka bisa, tapi giliran disuruh mikir kasus nyata kayak harga cabai, mereka langsung blank karena nggak biasa mikir kritis.
2. penyebab masalah tadi itu karena metode mengajarnya nabrak teori konstruktivisme. Siswa cuma dianggap tempat penampung hafalan dan nggak dikasih kesempatan buat nyari tahu serta ngebangun pemahaman mereka sendiri. Selain itu, pembelajarannya juga kurang bermakna karena materi ekonomi yang harusnya deket sama kehidupan sehari-hari malah disampein kaku tanpa dikaitkan langsung sama fenomena di lapangan.
3. model pembelajaran yang paling pas buat ngatasin ini adalah Problem-Based Learning atau PBL. Alasan utamanya karena model ini ngajak anak-anak buat langsung bedah masalah nyata yang ada di dunia luar, bikin mereka terbiasa diskusi, mikir kritis, dan nyari solusi sendiri ketimbang cuma dicekokin teori sama guru di depan kelas.
4.gambaran aktivitas pembelajarannya bisa dimulai pas guru mangpangin berita atau video tentang harga cabai yang melonjak mau Lebaran. Dari situ, siswa langsung dibagi jadi kelompok-kelompok kecil buat bedah data dan nyari alur kenapa hal itu bisa kejadian lewat kacamata ekonomi. Nanti tiap kelompok maju buat cerita hasil diskusi mereka, ditutup sama guru yang ngerangkum inti materinya bareng-bareng.
5. bentuk asesmen yang cocok jelas bukan pilihan ganda yang isinya cuma nanya definisi atau rumus. Harus pakai bentuk penilaian kinerja atau tes studi kasus baru yang belum pernah dibahas, misalnya kayak nyuruh mereka nganalisis kenaikan harga daging sapi, gambar kurvanya, dan nulisin argumen mereka. Dari situ baru keliatan anak itu beneran paham konsep atau cuma ngandelin hafalan doang.

MDIPE A26 -> DISKUSI

Lyta Indre གིས-
Menurut saya ilmu ekonomi itu lekat banget sama kehidupan nyata mulai dari cara ngatur uang, inflasi, sampai bisnis digital. kalau guru cuma ceramah pakai cara lama, materi yang tadinya seru bakal keliatan kaku dan bikin murid gampang ngantuk. dengan paham model pembelajaran yang pas, kita bisa ngajak siswa mikir kritis, bukan cuma menghafal rumus atau teori pasar. Jadi, mereka benar-benar paham gimana cara ngambil keputusan finansial yang bener. Teknologi sekarang gerak cepat, Kalau guru nggak mau berinovasi, ilmu yang diajarin bakal ketinggalan zaman. Intinya, inovasi itu kunci buat bikin kelas ekonomi hidup, relevan, dan bener-bener nempel di kepala murid.