1. Isi Artikel
Tulisan karya Redhana (2013) mengulas penerapan model Problem Based Learning atau PBL yang dikolaborasikan bersama teknik tanya jawab Sokratik. Lewat pendekatan ini, peserta didik dihadapkan pada suatu persoalan untuk dipecahkan, sementara pendidik melemparkan pertanyaan pancingan guna merangsang penalaran tingkat tinggi. Tujuan utamanya tentu untuk mendongkrak daya pikir kritis siswa.
2.Kelebihan
Pandangan saya menilai pendekatan ini mempunyai beberapa sisi unggul. Pertama, peserta didik didorong untuk berperan lebih aktif selama kegiatan belajar berlangsung. Kedua, metode ini mampu melatih kepekaan dan ketajaman berpikir secara analitis. Ketiga, siswa jadi terbiasa mencari jalan keluar atas suatu masalah secara mandiri. Keempat, pertanyaan penuntun dari guru memudahkan mereka dalam merumuskan alasan serta solusi yang logis. Kelima, topik bahasan jadi jauh lebih mudah dihubungkan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
3. Kekurangan
Kendati demikian, saya melihat metode ini juga menyimpan sejumlah hambatan. Proses kegiatan belajar biasanya memakan durasi yang relatif panjang karena anak-anak harus mencerna masalah, berembuk dalam kelompok, dan merumuskan jawaban. Di samping itu, pengajar dituntut memiliki keahlian dalam merangkai pertanyaan yang pas agar murid tidak malah kebingungan di tengah jalan. Catatan penting lainnya, riset milik Redhana tersebut mengambil objek siswa jenjang SMP pada bidang studi IPA. Oleh sebab itu, implementasinya pada mata pelajaran ekonomi tentu wajib disesuaikan kembali dengan karakteristik materi serta kondisi nyata peserta didik di kelas.
4. Penerapan dalam Pembelajaran Ekonomi
Konsep tersebut sangat bisa diadaptasi ke dalam kelas ekonomi dengan cara menyodorkan
kasus yang relevan dengan keseharian siswa. Ambil contoh pada bab inflasi, pengajar dapat melemparkan beberapa pertanyaan pemicu seperti apa yang memicu lonjakan harga barang di pasaran, faktor apa saja yang melatarbelakangi terjadinya inflasi, sejauh mana dampak inflasi dirasakan oleh masyarakat luas, serta langkah preventif apa yang dapat ditempuh untuk meredam inflasi tersebut. Melalui pola semacam ini, anak didik tidak sekadar menghafal definisi inflasi di buku, melainkan terlatih membedah persoalan sekaligus mencari alternatif solusinya.
5. Kesimpulan
Secara keseluruhan, saya berpendapat bahwa penggabungan model pemecahan masalah dan metode tanya Sokratik masih sangat relevan diterapkan pada sistem pendidikan kini. Pendekatan ini terbukti efektif menghidupkan suasana kelas serta mengasah kemampuan berpikir kritis anak. Meski begitu, guru harus tetap cermat dalam menyesuaikan teknis pelaksanaannya dengan materi ajar, kapasitas siswa, serta ketersediaan waktu yang ada.
Daftar Pustaka
Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3).