CRITICAL REVIEW ARTIKEL
Redhana, I. W. (2013). “Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa.”
_Jurnal Cakrawala Pendidikan, No. 3._ DOI: 10.21831/cp.v0i3.1136
1. Ringkasan Isi Artikel
Artikel Redhana 2013 mengkaji kombinasi 2 model: Problem Based Learning / PBL+ Pertanyaan Socratik untuk melatih keterampilan berpikir kritis siswa.
Inti gagasannya:
- PBL digunakan untuk menyajikan masalah nyata sebagai pemicu belajar. Siswa belajar dengan memecahkan masalah, bukan hanya menerima materi.
- Pertanyaan Socratik digunakan guru saat proses PBL untuk memancing siswa berpikir lebih dalam: menganalisis, mengevaluasi argumen, dan mengambil keputusan.
- Tujuannya sejalan dengan tuntutan Kurikulum 2013 yaitu siswa harus aktif, menalar, mengolah, menyaji secara kritis dan kreatif. dd416a1397d3
2. Kekuatan / Kelebihan Model menurut Kajian Mutakhir
Berdasarkan literatur terbaru 2023-2025, kombinasi ini masih sangat relevan:
1. Sesuai tuntutan abad 21 & Kurikulum Merdeka
PBL terbukti efektif meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan kemampuan berpikir kritis karena siswa dihadapkan pada masalah nyata. Ini mendukung keterampilan 4C: _Critical thinking, Collaboration, Communication, Creativity_.
2. Pertanyaan Socratik menguatkan proses PBL
Penelitian 2025 menunjukkan _Socratic Method_ berbasis
diskusi dan pertanyaan terbuka membantu siswa menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, dan menyelesaikan masalah secara rasional. Tanpa pertanyaan pemantik, PBL rawan jadi "cari jawaban" bukan "berpikir".
3. Meningkatkan kemandirian belajar
PBL mendorong siswa belajar mandiri, menyusun pengetahuan sendiri, dan mengembangkan inkuiri. Guru berperan sebagai fasilitator, bukan pemberi jawaban. dd416a13e045e375
3. Kritik dan Kelemahan
Meski bagus secara teori, ada beberapa catatan kritis berdasarkan kajian mutakhir:
1. Tuntutan Kompetensi Guru Tinggi
Guru harus mampu merancang masalah autentik DAN merumuskan pertanyaan Socratik yang tepat. Observasi 2025 di SMP menunjukkan banyak guru masih pakai metode ekspositori karena belum terbiasa membangun komunikasi 2 arah. Tanpa pelatihan, model ini bisa gagal.
2. Waktu dan Cakupan Materi
PBL + Socratik butuh waktu panjang: pengenalan masalah, riset mandiri,
diskusi, evaluasi. Di sekolah dengan target kurikulum padat, guru sering tertekan dan kembali ke ceramah.
3. Kesiapan Siswa
Jika siswa terbiasa menghafal tanpa pemahaman mendalam, mereka akan kesulitan di awal. Model ini efektif jika dilakukan bertahap. Langsung loncat ke PBL bisa membuat siswa pasif dan takut.
4. Penilaian
Berpikir kritis sulit diukur hanya dengan tes. Padahal penilaian K13 harus menyeluruh: sikap, pengetahuan, keterampilan. Artikel Redhana belum banyak membahas instrumen penilaian berpikir kritis secara rinci.
Relevansi dengan Konteks Sekarang 2026
1. Sangat cocok untuk Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis proyek dan berpikir tingkat tinggi.
2. Bisa dikolaborasikan dengan teknologi: Pertanyaan Socratik sekarang bisa difasilitasi lewat platform seperti Padlet untuk
diskusi asinkronus.
3. Kebutuhan guru: Perlu LKG/PMO khusus melatih guru membuat "pertanyaan level tinggi" bukan hanya "apa, kapan, siapa". 6a13
*5. Kesimpulan Critical Review*
Model PBL + Pertanyaan Socratik dari Redhana 2013 adalah model yang _visioner_ dan masih sangat relevan. Kekuatannya ada pada integrasi antara masalah kontekstual dan proses bertanya yang menggali.
Namun kelemahannya terletak pada implementasi: butuh guru yang terlatih, waktu, dan budaya kelas yang mendukung
diskusi. Agar tidak jadi "jargon" saja, sekolah perlu memberi pendampingan dan contoh masalah ekonomi yang benar-benar dekat dengan siswa, misalnya: "Kenapa harga cabai di Bandar Lampung naik saat musim hujan?"
Rekomendasi: Model ini jangan dipaksa untuk semua materi. Pakai untuk materi isu/analisis. Untuk materi konsep dasar/hitungan, bisa dikombinasi dengan direct instruction dulu baru masuk PBL.