གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Aulia mutia Saputri

S1 ARSITEKTUR MKU PANCASILA -> Forum Analisis Soal-1

Aulia mutia Saputri གིས-
Nama: AULIA MUTIA SAPUTRI
NPM: 2515012006

1. Tanggapan terhadap berita hoaks dan upaya mengantisipasi dampak negatifnya

Menurut saya, berita tersebut menunjukkan bahwa penyebaran hoaks merupakan masalah serius di era media sosial. Hoaks tidak hanya menyasar masyarakat awam, tetapi juga orang-orang dengan latar belakang pendidikan tinggi. Hal ini terjadi karena banyak orang lebih mengutamakan kesesuaian informasi dengan keyakinan pribadi dibandingkan kebenaran fakta. Media sosial yang bersifat cepat dan viral memperparah penyebaran hoaks sehingga dampaknya semakin luas, terutama dalam bidang politik dan kehidupan sosial.

Untuk mengantisipasi dampak negatif penyebaran hoaks, langkah yang dapat saya lakukan adalah bersikap kritis terhadap setiap informasi yang diterima, tidak langsung membagikan berita sebelum memeriksa kebenarannya, serta mengecek sumber berita melalui media resmi dan terpercaya. Selain itu, saya juga perlu meningkatkan literasi digital, mengedukasi lingkungan sekitar, dan menggunakan media sosial secara bijak agar tidak ikut menjadi bagian dari penyebaran hoaks.

2. Pengaruh pengembangan IPTEK yang tidak sesuai nilai Pancasila di media sosial dan solusinya

Pengembangan IPTEK yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila di media sosial dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, polarisasi masyarakat, serta menurunnya nilai kemanusiaan dan persatuan. Hal ini bertentangan dengan nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Demokrasi, dan Keadilan Sosial yang terkandung dalam Pancasila.

Solusi yang dapat dilakukan adalah menjadikan Pancasila sebagai landasan etika dalam penggunaan dan pengembangan IPTEK. Pengguna media sosial harus menanamkan nilai kemanusiaan, menghargai perbedaan pendapat, serta bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Selain itu, diperlukan pendidikan karakter dan literasi digital berbasis Pancasila agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara positif dan bermoral.

3. Solusi sikap konsumerisme teknologi menurut program studi/jurusan

Sikap konsumerisme menyebabkan Indonesia hanya menjadi pasar bagi produk teknologi negara lain yang lebih maju IPTEK-nya. Menurut pandangan saya sebagai mahasiswa, solusi atas permasalahan ini adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan penguasaan teknologi sesuai bidang program studi yang saya ambil. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berinovasi dan menciptakan produk sendiri.

Selain itu, perlu adanya dukungan terhadap riset, pengembangan teknologi lokal, serta kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya bergantung pada produk luar negeri, tetapi mampu menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan bangsa dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

S1 ARSITEKTUR MKU PANCASILA -> Forum Analisis Jurnal

Aulia mutia Saputri གིས-
Nama: AULIA MUTIA SAPUTRI
NPM: 2515012006

Jurnal ini membahas pentingnya penegasan Pancasila sebagai dasar nilai dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia. Pancasila dipandang bukan hanya sebagai ideologi negara, tetapi juga sebagai kristalisasi nilai budaya dan agama bangsa Indonesia yang harus menjiwai seluruh aspek kehidupan, termasuk aktivitas ilmiah dan pengembangan IPTEK.

Penulis menegaskan bahwa perkembangan IPTEK yang pesat membawa dua sisi, yaitu kemajuan dan kemudahan hidup manusia, namun juga potensi dampak negatif seperti dehumanisasi, kerusakan lingkungan, serta krisis moral. Oleh karena itu, pengembangan IPTEK tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai Pancasila agar tetap berorientasi pada kemanusiaan, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

Jurnal ini menguraikan Pancasila sebagai sistem nilai yang terdiri atas nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praktis. Dalam konteks IPTEK, nilai-nilai Pancasila berfungsi sebagai landasan, arah, serta rambu normatif agar ilmu pengetahuan berkembang sesuai dengan kepribadian bangsa. Setiap sila Pancasila dianalisis perannya dalam pengembangan IPTEK, mulai dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai landasan moral dan spiritual, sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab sebagai dasar etika, sila Persatuan Indonesia sebagai penguat integrasi nasional, sila Kerakyatan sebagai prinsip demokratis dalam pengembangan ilmu, hingga sila Keadilan Sosial sebagai tujuan pemerataan manfaat IPTEK.

Selain itu, jurnal ini juga membahas sumber historis, sosiologis, dan politis Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan IPTEK. Secara historis, hal ini tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 yang menekankan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Secara sosiologis, masyarakat Indonesia sangat peka terhadap dampak sosial dan kemanusiaan dari perkembangan teknologi. Secara politis, berbagai kebijakan dan pemikiran para pemimpin bangsa menunjukkan pentingnya Pancasila sebagai orientasi pengembangan ilmu.

Kesimpulannya, jurnal ini menegaskan bahwa setiap pengembangan IPTEK di Indonesia harus berlandaskan nilai-nilai Pancasila, menjadikannya faktor internal dalam proses pengembangan ilmu, serta berfungsi sebagai pengendali agar kemajuan IPTEK tidak menyimpang dari nilai kemanusiaan dan kepribadian bangsa Indonesia.

S1 ARSITEKTUR MKU PANCASILA -> Forum Analisis Jurnal

Aulia mutia Saputri གིས-
Nama: AULIA MUTIA SAPUTRI
NPM: 2515012006


pada jurnal ini membahas pengaruh Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila terhadap cara mahasiswa menyikapi perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

poin-poin utama analisis dari jurnal tersebut yaitu:
1. Masalah dan Tujuan Penelitian Masalahnya adanya kekhawatiran bahwa pesatnya perkembangan teknologi informasi di era globalisasi dapat mengikis nilai-nilai luhur Pancasila jika tidak disikapi dengan bijak oleh masyarakat, khususnya mahasiswa.

tujuannya untuk mengetahui sejauh mana materi pendidikan Pancasila berperan sebagai instrumen pengembangan kepribadian mahasiswa dalam menghadapi tantangan IPTEK.

2. Metodologi Penelitian
- Subjek: 40 mahasiswa Program Studi Matematika Semester II, Universitas Pancasakti Tegal.
- Metode: Penelitian kuantitatif menggunakan analisis regresi sederhana dengan bantuan program SPSS.
- Instrumen: Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan Skala Likert.

3. Hasil Temuan Utama.
- Kualitas Kepribadian: Secara umum, responden memiliki pengembangan kepribadian Pancasila yang baik, ditandai dengan kesadaran akan pentingnya kejujuran, disiplin, dan toleransi.
- Sikap terhadap IPTEK: Mahasiswa mampu menyikapi perkembangan IPTEK dengan baik, seperti menggunakan internet untuk mencari bahan tugas, melakukan penyaringan (filtering) informasi di media sosial, dan memblokir konten negatif.
- Signifikansi Pengaruh: Terdapat pengaruh yang signifikan antara mata kuliah Pancasila dengan cara menyikapi IPTEK (nilai signifikansi 0,000 < 0,05).
- Kontribusi: Besarnya pengaruh variabel Pancasila terhadap cara menyikapi IPTEK adalah 28,2%, sementara 71,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian.

Kesimpulannya Pendidikan Pancasila terbukti efektif untuk menjadi "kompas" atau filter bagi mahasiswa agar tetap menjaga kepribadian bangsa di tengah arus teknologi global.

S1 ARSITEKTUR MKU PANCASILA -> Forum Analisis Soal

Aulia mutia Saputri གིས-
Nama:Aulia Mutia Saputri
NPM:2515012006
Kelas; B

A. menurut saya Etika politik saat ini seringkali gagal dan tidak sesuai dengan Pancasila karena masih banyak pejabat dan birokrat yang mempertahankan pola pikir lama sebagai penguasa, bukan pelayan rakyat

etika perilaku Berikut penilaian berdasarkan sila-sila Pancasila:

Sila 1 — Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila ini mengajarkan kejujuran, moralitas, dan akhlak baik.
Namun:

Banyak kasus korupsi dan penyimpangan moral terjadi di kalangan pejabat.

Pengambilan keputusan sering tidak didasari nilai etis.

→ Belum sesuai sepenuhnya.

Sila 2 — Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Sila ini menuntut etika politik yang menjunjung martabat manusia.
Fakta di lapangan:

-Pelayanan publik masih diskriminatif.

-Oknum aparatur masih bersikap kasar, tidak ramah, atau tidak responsif.

—Masih jauh dari ideal sila kedua.

Sila 3 — Persatuan Indonesia
Etika politik seharusnya menjaga persatuan dan menghindari polarisasi.
Namun:

Politik identitas masih sering digunakan untuk kepentingan tertentu.

Konflik antar-kelompok politik sering terjadi di ruang digital maupun fisik.

→ Belum sepenuhnya mencerminkan persatuan.

Sila 4 — Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Sila ini menekankan:

musyawarah,kebijaksanaan,keterwakilan,anti-dominasi kekuasaan.

Realita:

-Kebijakan sering bersifat top-down.

-Kepentingan kelompok elit (vested interest) lebih dominan.

-Musyawarah publik masih formalitas.

→ Masih belum sesuai dengan nilai sila keempat.

Sila 5 — Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Sila ini menegaskan pemerataan keadilan.
Namun masih terjadi:

-ketimpangan akses pelayanan publik,

-birokrasi yang favoritif,

-pemborosan anggaran publik.

→ Keadilan sosial belum terwujud optimal.


B.Di daerah ku, etika generasi muda tampak beragam. Ada yang menunjukkan nilai positif, namun ada pula yang mengarah pada dekadensi moral.

Sikap Positif (masih ditemui di sebagian besar pemuda):

-Semangat belajar dan bekerja tinggi.

-Kepedulian terhadap isu sosial dan keadilan (misalnya: kampanye lingkungan, bantuan sosial).

Sikap Negatif / Dekadensi Moral:
-Kurangnya sopan santun, baik terhadap orang tua maupun sesama.

-Kecanduan gawai dan media sosial, yang mengurangi interaksi sosial nyata.

-Perilaku konsumtif, mengikuti tren tanpa memikirkan kebutuhan.

-Kurangnya rasa tanggung jawab dan disiplin dalam belajar/kerja.

Solusi untuk Mengatasi Dekadensi Moral Generasi Muda

Untuk mengatasi krisis moral, diperlukan upaya bersama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah:

1. Pendidikan karakter sejak dini
2. Keteladanan dari lingkungan
3. Pengawasan & pendampingan orang tua
4. Penguatan budaya lokal

S1 ARSITEKTUR MKU PANCASILA -> Forum Analisis Jurnal

Aulia mutia Saputri གིས-
Nama:Aulia Mutia Saputri
NPM:2515012006
KELAS: B

ANALISIS JURNAL
1. Identitas dan Fokus Jurnal
Judul: Penanaman Nilai-Nilai Pancasila Melalui Kontrol Sosial oleh Media Massa untuk Menekan Kejahatan di Indonesia
Penulis: Ariesta Wibisono Anditya
Jurnal: Nurani Hukum, Vol. 3 No. 1 Juni 2020

Jenis Penelitian: Penelitian normatif, dengan pendekatan undang-undang, sosial, dan asas.
Fokus utama jurnal ini adalah menilai bagaimana media massa berperan sebagai alat kontrol sosial, serta bagaimana nilai-nilai Pancasila seharusnya menjadi dasar dalam pemberitaan untuk mencegah kejahatan di Indonesia.
2. Rumusan Masalah dalam Jurnal
Berdasarkan isi pembahasan, jurnal menjawab dua masalah utama:

Bagaimana kedudukan dan peran media massa terhadap kontrol sosial di masyarakat?
Jurnal membahas sejarah, fungsi, dan dinamika media massa termasuk keterikatan dengan sistem politik dan sosial.

Apakah media massa telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam menjalankan fungsi kontrol sosial?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengamalan nilai Pancasila belum terlaksana secara menyeluruh.

3. Metode Penelitian
Penulis menggunakan:

Penelitian hukum normatif, yaitu menelaah norma hukum, asas, undang-undang, dan doktrin terkait media massa.

Pendekatan:
Statute approach (UU Pers, UU Penyiaran)
Social approach Asas
Analisis menggunakan bentuk deskriptif-eksplanatoris.

4. Hasil dan Pembahasan
A. Media Massa sebagai Ruang Publik dan Instrumen Sosial
Media massa diposisikan sebagai ruang publik berdasarkan konsep public sphere Habermas.
Media harus:
menyediakan ruang debat,
membentuk opini publik secara objektif,
bekerja independent
Namun dalam praktiknya, media sangat dipengaruhi:
pemilik modal,
kepentingan politik,
kebijakan negara.

B. Bukti Media Massa sebagai Alat Kontrol Sosial
Media massa menjadi alat kontrol sosial antara lain melalui:
Mengawasi penegakan hukum
Memberi edukasi hukum kepada masyarakat
Mengungkap skandal dan penyimpangan tokoh publik

Namun tidak semua berita diangkat. Kasus hukum yang sering dipublikasikan biasanya:

melibatkan tokoh publik,
skandal hukum,
peristiwa pertama kali terjadi,
kasus abu-abu yang memicu pro-kontra,
proses pembuatan UU.

C. Masalah dalam Pemberitaan Media Massa
Jurnal menyebut banyak persoalan:
Berita tidak selalu sesuai fakta
Seringkali disebarkan tanpa verifikasi dan berasal dari oknum tidak bertanggung jawab

Tidak mendorong pembentukan karakter
Media hanya memuaskan rasa ingin tahu publik, bukan membangun moral Pancasila.
Pudarnya nilai Pancasila di media
Terlihat dari:
berita sensasional,
individualisme,
konflik kepentingan,
hilangnya semangat kebersamaan.
Kurangnya profesionalitas wartawan
Karena tekanan deadline dan kurangnya pemahaman etika pemberitaan, berita hukum sering berlebihan.

D. Kaitan Media Massa dan Penanaman Nilai Pancasila
Nilai-nilai Pancasila yang disorot:

Ketuhanan: harus mengedepankan kejujuran, kehati-hatian (seperti perintah Al-Hujurat 6).
Kemanusiaan: hindari berita yang merugikan hak orang lain.
Persatuan: media seharusnya memperkuat kohesi sosial, bukan memecah.
Kerakyatan: media sebagai suara publik.
Keadilan: pemberitaan harus adil, tidak memihak, dan berbasis fakta.

Namun praktiknya:
nilai Pancasila belum menjadi pedoman utama media massa


5. Kesimpulan Jurnal
Kesimpulan utama peneliti:

Peran media massa sebagai kontrol sosial penting, tetapi belum optimal.
Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam pemberitaan masih minim.
Media sering hanya menyajikan informasi untuk “memuaskan” publik, bukan mendidik moral.Banyak berita tidak sesuai fakta sehingga mengganggu ketertiban sosial.

6. Analisis Pribadi 
Jurnal ini memberikan argumentasi kuat bahwa media massa bukan hanya alat penyampai informasi, tetapi instrumen pembentuk moral bangsa.Namun, penulis menyimpulkan bahwa media Indonesia saat ini:

lebih dipengaruhi oleh kepentingan politik dan ekonomi,lebih mengejar sensasi dan keuntungan,belum mampu menanamkan nilai Pancasila melalui pemberitaan.

Oleh karena itu, jurnal ini menegaskan bahwa penanaman nilai Pancasila perlu menjadi roh utama dalam setiap aktivitas jurnalistik.