Kiriman dibuat oleh 2515061072 Muhammad abdul Ghani Mukhti Cassano

Nama : Muhamad Abdul Ghani Mukhti Cassano
NPM : 2515061072
Kelas : PSTI-D


Jurnal ini membahas peran mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila dalam membentuk cara mahasiswa menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penulis menekankan bahwa Pancasila bukan hanya aturan negara, tetapi pedoman nilai yang membantu generasi muda menyaring dampak kemajuan teknologi tanpa kehilangan identitas bangsa. Melalui analisis deskriptif dan regresi, penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila berpengaruh nyata terhadap sikap mahasiswa, terutama dalam hal moralitas, tanggung jawab, dan penggunaan teknologi secara bijak.

Secara historis dan sosiologis, globalisasi menghadirkan arus informasi yang sangat cepat sehingga membawa nilai-nilai luar yang tidak selalu sesuai dengan karakter Indonesia. Karena itu, pendidikan Pancasila dianggap penting untuk memperkuat rasa kebangsaan, menumbuhkan sikap toleran, serta menjaga jati diri di tengah budaya global. Dengan memahami nilai dasar dan praktik Pancasila, mahasiswa memiliki landasan etis dalam menyikapi media sosial, informasi digital, dan gaya hidup berbasis teknologi.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung memanfaatkan teknologi secara positif, seperti untuk belajar, memilah informasi, menghindari konten negatif, dan menjaga etika komunikasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendidikan Pancasila memberi pengaruh terhadap perilaku digital mahasiswa, meskipun kontribusinya hanya 28,2 persen. Sisanya dipengaruhi faktor eksternal seperti lingkungan, budaya kampus, dan perkembangan teknologi itu sendiri.

Jurnal ini menyimpulkan bahwa penguatan pendidikan Pancasila tetap penting sebagai pedoman moral di era modern. Dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar nilai, perkembangan teknologi diharapkan tetap selaras dengan prinsip kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Penulis menekankan perlunya dukungan bersama dari pemerintah, kampus, dan masyarakat agar mahasiswa dapat menghadapi perubahan teknologi secara cerdas sekaligus mempertahankan karakter bangsa.
Jurnal ini mengulas peran mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila dalam membantu mahasiswa menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Latar belakang penelitian ini adalah perubahan besar akibat globalisasi dan pesatnya teknologi informasi. Penulis menjelaskan bahwa kemajuan teknologi membawa manfaat sekaligus tantangan, terutama bagi mahasiswa yang setiap hari berhadapan dengan internet dan media sosial. Tantangan tersebut bukan karena nilai Pancasila melemah, tetapi karena masyarakat belum sepenuhnya mampu menyaring dampak negatif teknologi. Karena itu, pendidikan Pancasila di perguruan tinggi penting untuk menjaga karakter mahasiswa di era digital.

Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan kuesioner kepada 40 mahasiswa yang dipilih melalui proportional cluster random sampling. Data dianalisis dengan uji validitas, reliabilitas, analisis deskriptif, dan regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki sikap positif terhadap mata kuliah Pancasila dan menilai bahwa nilai-nilai Pancasila penting untuk membentuk karakter seperti kejujuran, toleransi, dan nasionalisme. Mahasiswa juga mengakui manfaat teknologi, tetapi tetap menyadari potensi dampaknya seperti kecanduan media sosial atau penyalahgunaan informasi. Karena itu, mereka menilai bahwa penggunaan teknologi harus disertai tanggung jawab moral.

Analisis regresi menunjukkan bahwa mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila berpengaruh signifikan terhadap sikap mahasiswa dalam menyikapi perkembangan IPTEK, dengan kontribusi sebesar 28,2%. Sisanya dipengaruhi faktor luar seperti keluarga, lingkungan, dan budaya digital. Jurnal ini menegaskan bahwa pendidikan Pancasila masih sangat relevan sebagai pembentuk karakter di era modern, dan bahwa literasi digital perlu diseimbangkan dengan literasi moral agar teknologi memberi dampak positif bagi pembangunan bangsa.
A. Sistem Etika Perilaku Politik Masa Kini dan Kesesuaiannya dengan Pancasila

Etika politik di Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai persoalan karena praktik politik di lapangan sering tidak selaras dengan nilai-nilai dasar Pancasila. Secara ideal, perilaku politik harus mengutamakan kejujuran, tanggung jawab, keadilan, serta keberpihakan pada kepentingan rakyat, sebagaimana tercermin dalam sila kedua, keempat, dan kelima. Namun realitas di lapangan masih menunjukkan adanya praktik-praktik yang dipengaruhi kepentingan pribadi atau kelompok, munculnya politik transaksional, penyalahgunaan kekuasaan, dan kurangnya keterbukaan. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa etika politik masih jauh dari nilai-nilai Pancasila yang menekankan musyawarah, keadilan sosial, dan kemanusiaan. Walaupun terdapat upaya perbaikan seperti penguatan transparansi, penegakan hukum, dan kampanye anti-korupsi, implementasinya belum sepenuhnya efektif. Karena itu, pembenahan etika politik secara menyeluruh masih diperlukan agar praktik politik benar-benar berjalan sesuai prinsip Pancasila.

B. Etika Generasi Muda di Lingkungan Sekitar dan Upaya Mengatasi Penurunan Moral

Etika generasi muda di lingkungan sekitar menunjukkan kondisi yang bervariasi. Ada yang sudah mencerminkan perilaku positif seperti sikap sopan, solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Namun tidak sedikit pula yang memperlihatkan gejala menurunnya moral, misalnya berkurangnya rasa hormat kepada orang tua, penggunaan media sosial tanpa etika, gaya hidup konsumtif, pergaulan yang kurang terarah, serta melemahnya sikap gotong royong. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian generasi muda belum sepenuhnya menjalankan nilai-nilai budaya Indonesia seperti kesantunan, toleransi, dan kebersamaan. Mengatasi masalah ini membutuhkan langkah bersama dari keluarga, institusi pendidikan, masyarakat, hingga pemerintah. Penguatan pendidikan karakter perlu dilakukan sejak dini, penggunaan teknologi harus diarahkan secara lebih bijak, dan kegiatan sosial seperti gotong royong, organisasi kepemudaan, dan aktivitas keagamaan harus kembali diberdayakan. Selain itu, teladan dari orang tua, guru, dan pemimpin sangat penting karena generasi muda cenderung mengikuti perilaku yang mereka lihat. Dengan membangun lingkungan yang positif dan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, beretika, dan tetap menjaga identitas bangsa.
Nama: Muhammad Abdul Ghani Mukhti Cassano
NPM : 2515061072
Kelas: PSTI-D

Penelitian ini bertujuan untuk menelaah bagaimana media massa berperan dalam mendukung kebijakan hukum pidana, terutama sebagai sarana pencegahan kejahatan melalui fungsi kontrol sosial, sekaligus menilai sejauh mana peran tersebut sudah selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Kajian ini menggunakan metode penelitian normatif dengan menitikberatkan pada analisis norma hukum yang berlaku melalui pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan sosial, serta pendekatan asas. Data dianalisis dengan mengkaji prinsip-prinsip hukum dan aturan mengenai media massa, kemudian dikaitkan dengan teori kontrol sosial untuk mengetahui relevansi dan penerapan nilai Pancasila dalam praktik pemberitaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa media massa memegang peran signifikan dalam kebijakan hukum pidana, khususnya dalam pencegahan non-penal karena hukum pidana memiliki batasan tertentu. Namun demikian, penelitian menemukan bahwa internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam konten pemberitaan belum berjalan maksimal. Masih banyak informasi yang disebarkan tanpa verifikasi yang cukup, sehingga berpotensi menimbulkan gangguan sosial. Media lebih sering berfungsi sebagai penyuplai informasi bagi publik ketimbang sebagai pembina moral atau penguat karakter bangsa yang berlandaskan nilai Pancasila. Hal ini tampak dari melemahnya rasa kebangsaan, tumbuhnya sikap individualistik dan liberal, serta dominannya kepentingan pribadi atau kelompok dibandingkan kepentingan nasional.

Dengan demikian, media massa perlu mengoptimalkan peran kontrol sosialnya dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai panduan moral dalam setiap proses penyebaran informasi. Penelitian ini menegaskan bahwa media tidak hanya berfungsi sebagai saluran informasi, tetapi juga sebagai instrumen pembentuk karakter bangsa. Meski memberikan kontribusi penting, kekuatan analisis dapat ditingkatkan bila penelitian menyertakan contoh kasus nyata terkait penyebaran berita yang tidak terverifikasi agar temuan lebih objektif dan terukur.