Nama : Rameyza Naila Meysun
NPM : 2515061017
Kelas : PSTI-D
Mata Kuliah : Pancasila
1. Jika melihat kondisi politik saat ini, etika perilaku politik masih menghadapi banyak persoalan. Di berbagai daerah, masih ditemukan pejabat dan birokrat yang belum mampu menjalankan tugas secara jujur, adil, transparan, dan bertanggung jawab. Banyak kasus seperti penyalahgunaan wewenang, keputusan yang dipengaruhi kepentingan pribadi atau kelompok, serta kurangnya profesionalitas dalam memberikan pelayanan publik. Hal-hal ini menunjukkan bahwa etika politik belum sepenuhnya berjalan sebagaimana mestinya. Jika dikaitkan dengan nilai-nilai Pancasila, sebenarnya praktik politik yang ideal seharusnya mencerminkan sikap berketuhanan, kemanusiaan, menjunjung persatuan, mengedepankan musyawarah, dan berpihak pada keadilan sosial. Namun dalam kenyataannya, nilai-nilai tersebut belum sepenuhnya dijalankan. Contohnya:
a) Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan seharusnya mendorong pejabat bersikap jujur dan tidak korupsi, tetapi praktik korupsi masih terjadi.
b) Nilai Persatuan seharusnya menekankan kepentingan masyarakat di atas kelompok politik, tetapi yang terjadi justru banyak kebijakan yang memihak kelompok tertentu.
c) Nilai Kerakyatan/Musyawarah seharusnya membuat pejabat terbuka pada kritik, masukan, dan kepentingan masyarakat, namun sebagian masih bersikap defensif.
d) Nilai Keadilan Sosial seharusnya terlihat dalam pelayanan publik yang adil dan merata, namun masih banyak pelayanan yang diskriminatif. Dengan kondisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa etika perilaku politik saat ini belum sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, meskipun upaya perbaikan terus dilakukan. Dibutuhkan komitmen, pengawasan, dan pembenahan sistem agar praktik politik benar-benar mencerminkan prinsip Pancasila.
2. Etika generasi muda di lingkungan sekitar sebenarnya beragam. Sebagian anak muda sudah mampu menunjukkan sikap positif, seperti saling menghargai, ramah, aktif dalam kegiatan sosial, serta peduli terhadap lingkungan. Sikap-sikap seperti ini tentu mencerminkan etika bangsa Indonesia yang menjunjung nilai sopan santun, gotong royong, dan saling membantu.
Namun di sisi lain, tidak sedikit juga generasi muda yang mulai mengalami penurunan moral (dekadensi moral). Misalnya:
a) penggunaan media sosial tanpa etika, seperti menyebarkan ujaran kebencian atau saling menghina.
b) kurang menghormati orang yang lebih tua.
c) cenderung egois dan tidak mau terlibat dalam kegiatan sosial.
d) terpengaruh gaya hidup konsumtif.
e) kurang memiliki tanggung jawab.
Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa sebagian generasi muda belum sepenuhnya mencerminkan nilai etika bangsa seperti menghormati sesama, menjunjung kesopanan, dan mengutamakan kebersamaan. Solusi untuk mengatasi dekadensi moral generasi muda:
a) Penguatan pendidikan karakter sejak dini, baik di rumah maupun di sekolah, terutama tentang kejujuran, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai.
b) Orang tua menjadi teladan, karena perilaku anak sangat dipengaruhi lingkungan keluarga.
c) Pembiasaan gotong royong dan kegiatan positif, seperti kegiatan sosial, kerja bakti, atau komunitas kreatif yang mendorong interaksi sehat.
d) Pendampingan penggunaan teknologi, terutama media sosial, agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
e) Penegakan aturan di lingkungan masyarakat, terutama terkait perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
f) Menyediakan ruang bagi anak muda untuk berpendapat dan berkreasi, sehingga mereka merasa dihargai dan tidak mencari pengakuan melalui perilaku negatif. Dengan langkah-langkah tersebut, generasi muda dapat diarahkan kembali pada nilai-nilai etika yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia, yaitu sopan santun, gotong royong, dan menjunjung nilai kemanusiaan.