Posts made by 2515061080 Ledies Jelita Cleopatra

Jurnal ini membahas tentang betapa pentingnya Pancasila dijadikan sebagai dasar nilai dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia, karena Pancasila bukan hanya sekadar dasar negara, tetapi juga merupakan hasil dari nilai-nilai budaya, agama, dan kepribadian bangsa yang telah hidup sejak lama di tengah masyarakat. Penulis menjelaskan bahwa perkembangan IPTEK yang semakin pesat di era modern memang membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia, seperti memudahkan pekerjaan, mempercepat komunikasi, dan meningkatkan kesejahteraan, tetapi di sisi lain juga dapat menimbulkan dampak negatif apabila tidak dikendalikan dengan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, Pancasila harus dijadikan sebagai pedoman agar kemajuan IPTEK tidak keluar dari batas kemanusiaan dan kepribadian bangsa. Setiap sila dalam Pancasila mengandung nilai yang sangat penting dalam pengembangan IPTEK, seperti sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang mengajarkan bahwa ilmu tidak boleh lepas dari nilai spiritual, sila Kemanusiaan yang menekankan bahwa teknologi harus digunakan untuk kesejahteraan manusia, sila Persatuan yang mengajarkan bahwa IPTEK harus memperkuat persaudaraan dan kebangsaan, sila Kerakyatan yang mengajarkan bahwa pengembangan IPTEK harus dilakukan secara demokratis dan bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, serta sila Keadilan Sosial yang menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh hanya dinikmati oleh sebagian kecil orang saja, tetapi harus dirasakan secara merata. Penulis juga menyoroti bahwa tanpa Pancasila, perkembangan IPTEK bisa kehilangan arah dan hanya berorientasi pada kepentingan ekonomi atau kekuasaan semata, bahkan bisa merusak nilai kemanusiaan seperti yang pernah terjadi pada peristiwa bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Selain itu, pengaruh budaya asing yang masuk melalui kemajuan teknologi juga dapat mengikis nilai-nilai bangsa jika tidak disaring dengan baik. Karena itulah Pancasila harus menjadi “rambu-rambu” dalam setiap pengembangan ilmu agar tetap selaras dengan jati diri bangsa Indonesia. Dari sisi sejarah, Pancasila sudah ditegaskan sebagai dasar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui Pembukaan UUD 1945, yang artinya pengembangan IPTEK seharusnya selalu berjalan seiring dengan nilai-nilai Pancasila. Secara sosiologis, masyarakat Indonesia juga masih sangat menjunjung tinggi nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan, sehingga pengembangan teknologi yang merusak lingkungan, mengancam keselamatan manusia, atau merusak moral pasti akan mendapat penolakan. Secara politik, pemerintah juga telah beberapa kali menegaskan pentingnya Pancasila dalam pembangunan, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan. Kesimpulan utama dari jurnal ini adalah bahwa pengembangan IPTEK di Indonesia tidak boleh lepas dari Pancasila, karena Pancasila berfungsi sebagai landasan moral, arah pengembangan, sekaligus penyaring terhadap dampak negatif globalisasi. Dengan menjadikan Pancasila sebagai dasar nilai, diharapkan IPTEK dapat berkembang secara bijak, bertanggung jawab, dan tetap berpihak pada kemanusiaan, keadilan, serta kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Nama: Ledies Jelita Cleopatra
NPM: 2515061080
Kelas: PSTI D
Mata Kuliah: Pancasila

Jurnal ini menjelaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa pengaruh yang sangat besar bagi mahasiswa, baik dari segi pola pikir, perilaku, maupun cara bersosialisasi. Teknologi memberikan kemudahan dalam mengakses informasi, mendukung proses pembelajaran, serta mempercepat berbagai aktivitas sehari-hari. Namun di balik kemudahan itu, teknologi juga membawa dampak negatif seperti menurunnya etika dalam berkomunikasi, kecanduan media sosial, penyebaran informasi palsu, serta masuknya budaya luar yang tidak selalu sesuai dengan nilai bangsa. Oleh karena itu, pendidikan Pancasila dianggap sangat penting sebagai pedoman agar mahasiswa mampu menyikapi kemajuan teknologi dengan bijak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang memperoleh pendidikan Pancasila cenderung memiliki sikap yang lebih baik dalam menggunakan teknologi, seperti lebih bertanggung jawab, mampu menyaring informasi, menghargai perbedaan, serta tetap menjunjung nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa juga dinilai cukup bijak dalam memanfaatkan teknologi untuk hal positif seperti belajar, berwirausaha, dan berkomunikasi secara sopan di dunia digital. Meski demikian, pengaruh pendidikan Pancasila terhadap sikap mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi tidak sepenuhnya berdiri sendiri karena masih ada faktor lain seperti lingkungan keluarga, pergaulan, dan media sosial yang juga ikut membentuk perilaku mereka. Secara keseluruhan, jurnal ini menegaskan bahwa pendidikan Pancasila memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa agar tidak hanya cerdas dalam penguasaan teknologi, tetapi juga matang dalam sikap, moral, dan tanggung jawab sebagai generasi penerus bangsa.
Analisis saya terhadap Jurnal Penanaman Nilai-Nilai Pancasila Melalui Kontrol Sosial Oleh Media Massa Untuk Menekan Kejahatan di Indonesia adalah jurnal ini menjelaskan bahwa media massa memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat. Di era modern dengan perkembangan teknologi yang pesat, media menjadi sumber utama masyarakat dalam memperoleh informasi. Namun, penulis menilai bahwa peran media tersebut belum dijalankan secara maksimal sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Secara teori, media memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, sekaligus kontrol sosial. Artinya, media tidak hanya bertugas menyampaikan berita, tetapi juga mengarahkan masyarakat agar tetap berada dalam koridor hukum dan moral. Media seharusnya mampu mencegah kejahatan melalui pemberitaan yang mendidik dan membangun kesadaran hukum masyarakat. Akan tetapi, dalam praktiknya, banyak media yang lebih mementingkan sensasi, kecepatan, dan keuntungan dibandingkan kebenaran dan nilai etika.
Penulis juga menjelaskan bahwa Pancasila seharusnya menjadi dasar dalam setiap aktivitas kehidupan berbangsa, termasuk dalam penyajian berita oleh media massa. Nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial seharusnya tercermin dalam setiap informasi yang disampaikan kepada publik. Namun kenyataannya, masih banyak berita yang tidak diverifikasi kebenarannya, bersifat provokatif, bahkan menyesatkan. Hal ini justru merusak tatanan sosial dan dapat memicu konflik di masyarakat. Media yang seharusnya menjadi alat kontrol sosial justru terkadang memperparah kondisi sosial dengan pemberitaan yang tidak beretika.
Selain itu, penulis juga menyoroti bahwa media sering kali hanya menjadi “pemuas informasi” bagi masyarakat. Masyarakat memang tahu berbagai peristiwa hukum dan kejahatan, tetapi tidak diarahkan untuk berubah menjadi lebih baik. Akibatnya, media belum mampu membentuk karakter masyarakat yang berjiwa Pancasila. Kondisi ini terlihat dari semakin lunturnya nilai-nilai kebersamaan, meningkatnya sikap individualisme, serta masih kuatnya kepentingan pribadi dan kelompok di atas kepentingan bangsa dan negara. Padahal, jika media menjalankan perannya secara tepat, media dapat menjadi sarana pencegahan kejahatan yang efektif melalui pembentukan kesadaran moral dan hukum secara tidak langsung.
Melalui kajian normatif terhadap peraturan perundang-undangan dan teori hukum, penulis menyimpulkan bahwa pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam praktik media massa di Indonesia belum berjalan secara menyeluruh. Media memang aktif mengawasi dan mengungkap berbagai kasus hukum, namun nilai edukasi dan pembentukan karakter masih sangat lemah. Berita sering disajikan hanya untuk menarik perhatian publik, bukan untuk membangun kesadaran hukum dan moral. Akibatnya, media belum mampu sepenuhnya berperan sebagai alat kontrol sosial yang efektif dalam menekan kejahatan.
Secara keseluruhan, jurnal ini menegaskan bahwa keberhasilan media massa dalam menekan kejahatan tidak cukup hanya melalui pemberitaan kasus hukum, tetapi harus dibarengi dengan penanaman nilai-nilai Pancasila secara konsisten. Tanpa itu, media hanya akan menjadi penyampai informasi semata, bukan pembentuk karakter masyarakat. Media yang ideal seharusnya tidak hanya membuat masyarakat tahu, tetapi juga membuat masyarakat sadar, peduli, dan berubah ke arah yang lebih baik sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
A. Etika perilaku politik di Indonesia saat ini sebenarnya sudah memiliki dasar hukum dan moral yang mengacu pada nilai-nilai Pancasila, tetapi praktiknya masih jauh dari ideal. Banyak politisi belum menunjukkan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab sebagaimana nilai Kemanusiaan dan Ketuhanan dalam Pancasila. Politik transaksional, penyalahgunaan jabatan, kurangnya transparansi, dan lemahnya akuntabilitas menunjukkan bahwa nilai musyawarah dan keadilan sosial belum dijalankan sepenuhnya. Dengan kata lain, sistem etika perilaku politik belum sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila karena kepentingan pribadi dan kelompok masih mendominasi proses politik dan pemerintahan.

B. Etika generasi muda di lingkungan saya cukup beragam. Sebagian sudah mencerminkan nilai bangsa seperti sopan santun, gotong royong, dan kepedulian sosial namun ada juga yang menunjukkan penurunan moral, misalnya kurangnya rasa hormat, mudah terpengaruh budaya negatif media sosial, serta menurunnya disiplin dan tanggung jawab. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua generasi muda mencerminkan nilai dan etika bangsa Indonesia.

Solusi untuk mengatasi dekadensi moral antara lain:

1. Memperkuat pendidikan karakter di rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat.

2. Memberikan keteladanan dari orang tua, guru, dan tokoh masyarakat.

3. Meningkatkan literasi digital agar generasi muda bijak menggunakan media sosial.

4. Menciptakan kegiatan positif seperti organisasi pemuda, kegiatan sosial, dan pembinaan kreativitas agar mereka memiliki wadah yang sehat untuk berkembang.