MDIPE A26 -> KASUS
2513031048
C.Michelle N.P
2513031048
Nama: C.Michelle N.P
NPM: 2513031048
Pertanyaan 1 – Identifikasi Masalah Utama
Berdasarkan analisis terhadap praktik pembelajaran ekonomi Ibu Rina, ditemukan beberapa permasalahan mendasar, antara lain:
Aktivitas kelas didominasi oleh penjelasan guru, penulisan rumus, dan pemberian contoh soal. Siswa cenderung hanya mendengarkan dan mencatat, sehingga ruang untuk terlibat aktif menjadi sangat terbatas.
Interaksi saat sesi tanya jawab masih sangat minim. Respon aktif hanya datang dari segelintir siswa, sementara mayoritas memilih diam. Ini menandakan siswa belum terbiasa menyampaikan gagasan atau terlibat dalam diskusi kelas.
Siswa sebatas mampu menghafal definisi serta mengaplikasikan rumus matematis permintaan dan penawaran. Namun, mereka kesulitan menggunakannya untuk menganalisis dan menjelaskan fenomena ekonomi nyata di kehidupan sehari-hari (pemahaman masih sebatas tahap mengingat, belum mencapai tahap analisis dan penerapan).
Metode mengajar masih terfokus pada ceramah dan penugasan mandiri. Siswa jarang diberikan ruang untuk berdiskusi, menganalisis data empiris, memecahkan masalah pasar, atau menghubungkan materi dengan realitas ekonomi di sekitar mereka.
Penggunaan telepon genggam oleh beberapa siswa untuk hal di luar materi saat kelas berlangsung menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan kurang menarik dan belum mampu menyita perhatian siswa secara penuh.
Pertanyaan 2 – Analisis Penyebab Berdasarkan Teori Belajar dan Prinsip Pembelajaran Berpusat pada Peserta Didik
Akar permasalahan ini berhulu pada pendekatan pembelajaran yang menempatkan pengajar sebagai satu-satunya pusat informasi. Akibatnya, siswa memproses pengetahuan secara pasif yang berujung pada pemahaman dangkal berbasis hafalan, bukan pemahaman konsep yang mendalam.
Ditinjau dari Teori Konstruktivisme, struktur pengetahuan seharusnya dibangun mandiri oleh siswa melalui serangkaian pengalaman, interaksi sosial, diskusi, dan pemecahan masalah. Pada kelas Ibu Rina, transfer pengetahuan dan formulasinya diberikan secara langsung tanpa melalui proses rekonstruksi pemikiran oleh siswa melalui studi kasus nyata.
Ditinjau dari prinsip Student-Centered Learning (SCL), peserta didik idealnya berperan aktif dalam mengeksplorasi informasi, mengajukan hipotesis, berdiskusi, serta mengomunikasikan gagasan, sementara guru berperan sebagai fasilitator. Hal ini belum tampak karena porsi keterlibatan siswa masih sangat terbatas.
Selain itu, pembelajaran kehilangan orientasi kontekstual. Konsep permintaan dan penawaran sangat lekat dengan dinamika harian siswa—seperti lonjakan harga cabai, fluktuasi harga bahan pokok, hingga fenomena harga pakaian saat momen hari raya. Penekanan yang berlebihan pada rumus matematis matematis abstrak membuat siswa gagal mengaitkan teori dengan realitas ekonomi yang mereka temui.
Kesimpulannya, masalah ini timbul karena pembelajaran terlalu berorientasi pada pencapaian hasil latihan soal matematis semata, serta kurang menyediakan ruang untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan memecahkan masalah nyata.
Pertanyaan 3 – Model Pembelajaran yang Tepat
Model pembelajaran yang sangat direkomendasikan untuk mengatasi permasalahan ini adalah Problem-Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah.
PBL dipilih karena mentransformasi proses belajar dengan menjadikan masalah nyata di masyarakat sebagai titik awal (anchor). Pada materi permintaan dan penawaran, guru dapat mengangkat isu kontekstual seperti dinamika kenaikan harga bahan pokok menjelang hari raya. Siswa dituntut untuk menginvestigasi penyebab, menganalisis pergeseran kurva permintaan-penawaran, serta menyimpulkan dampaknya terhadap keseimbangan pasar.
Melalui PBL, siswa terdorong untuk aktif mencari data, berkolaborasi dalam kelompok, mengolah informasi, dan mempresentasikan temuan mereka. Hal ini sejalan dengan pandangan konstruktivisme di mana pengetahuan dibangun dari pengalaman menyelesaikan masalah nyata, sementara guru bertindak membimbing jalannya proses analisis.
Model ini secara langsung juga melatih ragam keterampilan abad ke-21, seperti berpikir kritis, analisis data, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah (problem-solving).
Pertanyaan 4 – Rancangan Aktivitas Pembelajaran
Berikut alur rancangan aktivitas pembelajaran berbasis masalah:
1.Orientasi Siswa pada Masalah
Guru menyajikan data atau cuplikan berita mengenai lonjakan harga cabai sebelum hari besar keagamaan, lalu melontarkan pemantik:
“Mengapa harga cabai melonjak tajam menjelang hari raya? Apakah ini dipicu oleh lonjakan permintaan, kelangkaan penawaran, atau kombinasi keduanya?”
Siswa mencermati isu dan memberikan tanggapan awal.
2. Mengorganisasi Siswa untuk Belajar
Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok menerima lembar kerja berisi data tren harga dan volume penjualan cabai pada periode tertentu.
3. Membimbing Penyelidikan Kelompok
Setiap kelompok mengorientasikan data untuk menjawab beberapa poin analisis:
4. Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya
Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis dan kurva yang telah disusun di depan kelas. Kelompok lain berkesempatan memberikan tanggapan maupun pertanyaan pemicu diskusi.
5. Menganalisis dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah (Penguatan)
Guru memberikan konfirmasi teoritis, menyelaraskan pemahaman konsep permintaan dan penawaran, serta meluruskan kekeliruan analisis jika ditemukan.
6. Refleksi
Di akhir sesi, siswa diminta menuliskan ringkasan singkat mengenai fenomena ekonomi lain di sekitar mereka yang memiliki pola perubahan harga serupa.
Pertanyaan 5 – Bentuk Asesmen yang Tepat
Bentuk evaluasi yang sesuai adalah Asesmen Autentik, yang berfokus pada tugas analisis kasus, penyelesaian masalah, presentasi, serta soal uraian berbasis studi kasus nyata.
Contoh Instrumen Soal:
“Menjelang awal tahun ajaran baru, harga perlengkapan sekolah seperti buku tulis dan seragam mengalami kenaikan signifikan. Berdasarkan prinsip permintaan dan penawaran, analisislah faktor-faktor penyebabnya, gambarkan perubahan kurvanya, dan jelaskan pergeseran titik keseimbangan pasarnya!”
Untuk mengukur ketercapaian kompetensi secara objektif, asesmen ini dilengkapi dengan indikator penilaian sebagai berikut: