Wulan Tria Rahmayanti
2513031036
1. Menurut saya, ada beberapa masalah utama dalam pembelajaran tersebut.
- Pembelajaran masih terlalu berpusat pada guru. Sebagian besar kegiatan diisi dengan guru menjelaskan materi, menulis rumus, dan memberikan contoh. Siswa lebih banyak menerima informasi daripada mencari, mengolah, dan menyampaikan pemahamannya sendiri.
- Siswa kurang aktif dalam pembelajaran, Hal ini terlihat dari hanya beberapa siswa yang menjawab pertanyaan, sedangkan sebagian besar memilih diam. Penggunaan HP untuk kegiatan lain juga menunjukkan bahwa siswa kurang terlibat dalam proses pembelajaran.
- Siswa lebih mampu menghafal daripada memahami. Siswa bisa menyebutkan pengertian dan menggunakan rumus, tetapi kesulitan ketika harus menjelaskan kenaikan harga cabai berdasarkan kondisi nyata. Artinya, mereka belum terbiasa menggunakan konsep ekonomi untuk menganalisis suatu masalah.
- Latihan soal belum cukup melatih kemampuan berpikir siswa. Latihan soal tetap penting, tetapi jika sebagian besar hanya berupa soal yang langsung menggunakan rumus, siswa akan terbiasa mencari jawaban berdasarkan langkah yang sudah dicontohkan. Ketika bentuk soalnya berubah menjadi masalah kehidupan nyata, mereka menjadi bingung.
2. Menurut saya, masalah tersebut muncul karena proses pembelajaran lebih banyak membuat siswa menerima dan menghafal informasi, bukan memahami melalui pengalaman atau masalah yang dekat dengan kehidupan mereka. Guru memang sudah menjelaskan konsep dan memberikan latihan soal, tetapi kesempatan siswa untuk berdiskusi, bertanya, memberikan pendapat, atau mencari hubungan antara materi dengan kehidupan sehari-hari masih sedikit. Akibatnya, siswa mungkin tahu bahwa “harga naik menyebabkan jumlah permintaan turun”, tetapi belum tentu memahami mengapa hal tersebut bisa terjadi dalam kondisi tertentu.
Selain itu, siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri hubungan antara materi dengan kejadian nyata. Misalnya pada
kasus cabai, guru dapat mengajak siswa membahas mengapa harga cabai naik menjelang hari raya, apakah karena permintaan meningkat, jumlah cabai yang tersedia berkurang, atau keduanya. Dengan begitu, siswa tidak hanya mengingat definisi, tetapi belajar menggunakan konsep untuk menjelaskan sesuatu yang benar-benar mereka temui.
Jadi, menurut saya, masalahnya bukan karena metode ceramah atau latihan soal itu sepenuhnya salah. Yang menjadi masalah adalah pembelajaran terlalu bergantung pada dua kegiatan tersebut dan belum diimbangi dengan kegiatan yang membuat siswa aktif berpikir dan menganalisis.
3.
Menurut saya, Problem Based Learning (PBL) paling tepat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran tersebut. Alasannya karena PBL dimulai dari masalah yang nyata dan dekat dengan kehidupan siswa. Misalnya, guru tidak langsung memberikan rumus permintaan dan penawaran, tetapi memberikan kasus seperti kenaikan harga cabai menjelang hari raya. Siswa kemudian diminta mencari tahu penyebabnya dan menghubungkannya dengan konsep yang sudah dipelajari.
Dengan cara ini, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru. Mereka dapat berdiskusi, mengemukakan pendapat, melihat data sederhana, dan mencari alasan dari suatu peristiwa ekonomi. Guru tetap berperan penting, tetapi lebih sebagai pembimbing, bukan satu-satunya sumber informasi.
Menurut saya, model ini juga lebih sesuai dengan masalah pada
kasus karena tujuan yang ingin diperbaiki bukan sekadar kemampuan mengerjakan rumus, tetapi kemampuan siswa menggunakan konsep ekonomi untuk memahami masalah yang terjadi di kehidupan nyata.
4. P
embelajaran dapat dimulai dengan guru menampilkan kasus “Mengapa harga cabai naik menjelang hari raya?” Kemudian siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan data sederhana mengenai harga cabai, jumlah cabai yang tersedia, dan jumlah permintaan sebelum dan menjelang hari raya. Siswa diminta mengamati data tersebut dan menjawab beberapa pertanyaan, seperti: Apa yang menyebabkan harga cabai berubah? Apakah permintaan meningkat? Bagaimana pengaruhnya terhadap jumlah yang diminta dan ditawarkan?
Setelah itu, setiap kelompok mendiskusikan hasilnya dan mempresentasikan kesimpulan. Guru kemudian meluruskan jika ada pemahaman yang kurang tepat dan menghubungkan hasil
diskusi siswa dengan konsep permintaan, penawaran, dan keseimbangan pasar. Dengan kegiatan tersebut, siswa belajar dari masalah terlebih dahulu, kemudian menggunakan konsep ekonomi untuk menjelaskan masalah tersebut.
5. Menurut saya, asesmen yang digunakan jangan hanya berupa pilihan ganda atau soal yang meminta siswa menghitung menggunakan rumus. Soal kontekstual dan uraian lebih tepat untuk melihat apakah siswa benar-benar memahami materi.
Contohnya, siswa diberikan
kasus:
“Harga telur mengalami kenaikan menjelang hari raya karena permintaan masyarakat meningkat. Jelaskan apa yang terjadi pada permintaan, penawaran, dan harga keseimbangan. Berikan alasan berdasarkan konsep yang telah dipelajari.”
Dari jawaban tersebut, guru dapat melihat apakah siswa hanya menulis definisi atau benar-benar mampu menghubungkan konsep dengan masalah. Penilaian juga dapat melihat kemampuan siswa dalam menjelaskan alasan, membaca data sederhana, menarik kesimpulan, dan memberikan solusi atau pendapat.
Jadi, menurut saya, asesmen yang baik bukan hanya melihat apakah jawaban siswa benar atau salah, tetapi juga melihat bagaimana siswa sampai pada jawaban tersebut. Kalau siswa bisa menjelaskan hubungan antara suatu kejadian dengan konsep permintaan dan penawaran menggunakan bahasanya sendiri, berarti pemahamannya sudah lebih baik daripada sekadar mampu menghafal rumus.