Kiriman dibuat oleh Wulan Tria Rahmayanti_2513031036

MDIPE A26 -> KASUS

oleh Wulan Tria Rahmayanti_2513031036 -
Wulan Tria Rahmayanti 
2513031036

1. Menurut saya, ada beberapa masalah utama dalam pembelajaran tersebut.
  1. Pembelajaran masih terlalu berpusat pada guru. Sebagian besar kegiatan diisi dengan guru menjelaskan materi, menulis rumus, dan memberikan contoh. Siswa lebih banyak menerima informasi daripada mencari, mengolah, dan menyampaikan pemahamannya sendiri.
  2. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran, Hal ini terlihat dari hanya beberapa siswa yang menjawab pertanyaan, sedangkan sebagian besar memilih diam. Penggunaan HP untuk kegiatan lain juga menunjukkan bahwa siswa kurang terlibat dalam proses pembelajaran.
  3. Siswa lebih mampu menghafal daripada memahami. Siswa bisa menyebutkan pengertian dan menggunakan rumus, tetapi kesulitan ketika harus menjelaskan kenaikan harga cabai berdasarkan kondisi nyata. Artinya, mereka belum terbiasa menggunakan konsep ekonomi untuk menganalisis suatu masalah.
  4. Latihan soal belum cukup melatih kemampuan berpikir siswa. Latihan soal tetap penting, tetapi jika sebagian besar hanya berupa soal yang langsung menggunakan rumus, siswa akan terbiasa mencari jawaban berdasarkan langkah yang sudah dicontohkan. Ketika bentuk soalnya berubah menjadi masalah kehidupan nyata, mereka menjadi bingung.
2. Menurut saya, masalah tersebut muncul karena proses pembelajaran lebih banyak membuat siswa menerima dan menghafal informasi, bukan memahami melalui pengalaman atau masalah yang dekat dengan kehidupan mereka. Guru memang sudah menjelaskan konsep dan memberikan latihan soal, tetapi kesempatan siswa untuk berdiskusi, bertanya, memberikan pendapat, atau mencari hubungan antara materi dengan kehidupan sehari-hari masih sedikit. Akibatnya, siswa mungkin tahu bahwa “harga naik menyebabkan jumlah permintaan turun”, tetapi belum tentu memahami mengapa hal tersebut bisa terjadi dalam kondisi tertentu.

Selain itu, siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri hubungan antara materi dengan kejadian nyata. Misalnya pada kasus cabai, guru dapat mengajak siswa membahas mengapa harga cabai naik menjelang hari raya, apakah karena permintaan meningkat, jumlah cabai yang tersedia berkurang, atau keduanya. Dengan begitu, siswa tidak hanya mengingat definisi, tetapi belajar menggunakan konsep untuk menjelaskan sesuatu yang benar-benar mereka temui. Jadi, menurut saya, masalahnya bukan karena metode ceramah atau latihan soal itu sepenuhnya salah. Yang menjadi masalah adalah pembelajaran terlalu bergantung pada dua kegiatan tersebut dan belum diimbangi dengan kegiatan yang membuat siswa aktif berpikir dan menganalisis.

3. Menurut saya, Problem Based Learning (PBL) paling tepat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran tersebut. Alasannya karena PBL dimulai dari masalah yang nyata dan dekat dengan kehidupan siswa. Misalnya, guru tidak langsung memberikan rumus permintaan dan penawaran, tetapi memberikan kasus seperti kenaikan harga cabai menjelang hari raya. Siswa kemudian diminta mencari tahu penyebabnya dan menghubungkannya dengan konsep yang sudah dipelajari.

Dengan cara ini, siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru. Mereka dapat berdiskusi, mengemukakan pendapat, melihat data sederhana, dan mencari alasan dari suatu peristiwa ekonomi. Guru tetap berperan penting, tetapi lebih sebagai pembimbing, bukan satu-satunya sumber informasi.

Menurut saya, model ini juga lebih sesuai dengan masalah pada kasus karena tujuan yang ingin diperbaiki bukan sekadar kemampuan mengerjakan rumus, tetapi kemampuan siswa menggunakan konsep ekonomi untuk memahami masalah yang terjadi di kehidupan nyata.

4. Pembelajaran dapat dimulai dengan guru menampilkan kasus “Mengapa harga cabai naik menjelang hari raya?” Kemudian siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberikan data sederhana mengenai harga cabai, jumlah cabai yang tersedia, dan jumlah permintaan sebelum dan menjelang hari raya. Siswa diminta mengamati data tersebut dan menjawab beberapa pertanyaan, seperti: Apa yang menyebabkan harga cabai berubah? Apakah permintaan meningkat? Bagaimana pengaruhnya terhadap jumlah yang diminta dan ditawarkan?

Setelah itu, setiap kelompok mendiskusikan hasilnya dan mempresentasikan kesimpulan. Guru kemudian meluruskan jika ada pemahaman yang kurang tepat dan menghubungkan hasil diskusi siswa dengan konsep permintaan, penawaran, dan keseimbangan pasar. Dengan kegiatan tersebut, siswa belajar dari masalah terlebih dahulu, kemudian menggunakan konsep ekonomi untuk menjelaskan masalah tersebut.

5. Menurut saya, asesmen yang digunakan jangan hanya berupa pilihan ganda atau soal yang meminta siswa menghitung menggunakan rumus. Soal kontekstual dan uraian lebih tepat untuk melihat apakah siswa benar-benar memahami materi.

Contohnya, siswa diberikan kasus:
 “Harga telur mengalami kenaikan menjelang hari raya karena permintaan masyarakat meningkat. Jelaskan apa yang terjadi pada permintaan, penawaran, dan harga keseimbangan. Berikan alasan berdasarkan konsep yang telah dipelajari.”

Dari jawaban tersebut, guru dapat melihat apakah siswa hanya menulis definisi atau benar-benar mampu menghubungkan konsep dengan masalah. Penilaian juga dapat melihat kemampuan siswa dalam menjelaskan alasan, membaca data sederhana, menarik kesimpulan, dan memberikan solusi atau pendapat.

Jadi, menurut saya, asesmen yang baik bukan hanya melihat apakah jawaban siswa benar atau salah, tetapi juga melihat bagaimana siswa sampai pada jawaban tersebut. Kalau siswa bisa menjelaskan hubungan antara suatu kejadian dengan konsep permintaan dan penawaran menggunakan bahasanya sendiri, berarti pemahamannya sudah lebih baik daripada sekadar mampu menghafal rumus. 
1. Ringkasan Artikel
Artikel yang ditulis oleh Redhana (2013) membahas tentang model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dalam model ini, siswa tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi diberikan suatu masalah yang harus dipahami dan diselesaikan. Guru kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu siswa berpikir lebih mendalam.
Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dan melibatkan 273 siswa SMP di Buleleng, Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar menggunakan pembelajaran langsung.

2. Kelebihan Model Pembelajaran 
Menurut saya, kelebihan dari model ini adalah siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi ikut mencari informasi, berdiskusi, menganalisis masalah, dan memberikan pendapat.
Pertanyaan Socratik juga cukup menarik karena dapat membuat siswa berpikir lebih kritis. Misalnya, guru tidak langsung memberikan jawaban, tetapi bertanya “Mengapa kamu berpikir seperti itu?” atau “Apa alasan yang mendukung jawabanmu?”. Dengan begitu, siswa terbiasa memberikan alasan dan tidak asal menjawab.
Model ini juga dapat membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari karena masalah yang diberikan dapat diambil dari keadaan nyata yang ada di sekitar siswa.

3. Kekurangan dan Kritik
Walaupun memiliki kelebihan, menurut saya model ini juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah membutuhkan waktu yang cukup lama karena siswa harus memahami masalah, mencari informasi, berdiskusi, dan mempresentasikan hasilnya.
Selain itu, guru harus mampu memberikan pertanyaan yang tepat. Kalau pertanyaannya terlalu mudah, siswa mungkin hanya menjawab secara singkat dan tidak benar-benar berpikir kritis. Jadi, kemampuan guru dalam membimbing dan mengajukan pertanyaan sangat penting dalam model ini.
Penelitian Redhana juga dilakukan pada mata pelajaran IPA di tingkat SMP. Oleh karena itu, hasilnya tidak bisa langsung disamakan untuk semua mata pelajaran. Jika digunakan dalam pembelajaran ekonomi, guru tetap perlu menyesuaikan masalah dan pertanyaannya dengan materi yang sedang dipelajari.

4. Penerapan dalam Pembelajaran Ekonomi
Menurut saya, model ini cocok digunakan dalam pembelajaran ekonomi karena banyak materi ekonomi yang berhubungan dengan masalah yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Contohnya pada materi pengangguran.
Guru dapat memberikan masalah tentang tingginya angka pengangguran di suatu daerah. Kemudian siswa diminta berdiskusi untuk mencari penyebab, dampak, dan solusi dari masalah tersebut.
Guru bisa memberikan pertanyaan seperti:
  1. Mengapa pengangguran bisa terjadi?
  2. Apa penyebab utama masalah tersebut?
  3. Apa dampaknya bagi masyarakat?
  4. Menurut kalian, solusi apa yang paling tepat?
  5. Mengapa kalian memilih solusi tersebut?
Setelah berdiskusi, siswa dapat mempresentasikan hasilnya dan kelompok lain memberikan tanggapan. Dengan kegiatan seperti ini, siswa tidak hanya menghafal pengertian pengangguran, tetapi juga belajar menganalisis masalah dan mencari solusi.

5. Tinjauan Kritis
Menurut saya, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik yang dikembangkan Redhana cukup baik untuk melatih kemampuan berpikir kritis. Siswa diberikan kesempatan untuk mencari jawaban sendiri dan mempertanggungjawabkan pendapatnya.
Namun, model ini tidak berarti selalu cocok untuk semua materi. Guru tetap harus melihat tujuan pembelajaran, karakteristik materi, kondisi siswa, waktu, dan fasilitas yang tersedia. Jadi, model pembelajaran sebaiknya dipilih sesuai kebutuhan pembelajaran, bukan hanya karena model tersebut dianggap lebih bagus.

6. Kesimpulan
Secara keseluruhan, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik memiliki kelebihan dalam membuat siswa lebih aktif dan melatih mereka untuk berpikir kritis. Model ini juga cukup cocok diterapkan dalam pembelajaran ekonomi, terutama pada materi yang berhubungan dengan masalah kehidupan nyata seperti pengangguran, inflasi, dan kemiskinan.
Menurut saya, model ini akan berjalan dengan baik jika guru mampu memberikan masalah yang sesuai dan pertanyaan yang dapat membuat siswa berpikir lebih dalam. Jadi, yang paling penting bukan hanya modelnya, tetapi bagaimana guru menerapkannya sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan pembelajaran.

Daftar Pustaka
Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3), 351–365.

MDIPE A26 -> PEMANTIK DISKUSI

oleh Wulan Tria Rahmayanti_2513031036 -
Wulan tria rahmayanti
2513031036

Saya akan memilih model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, materi, dan kebutuhan siswa, bukan hanya karena model tersebut sedang populer. Contohnya, pada materi pengangguran, saya bisa menggunakan model Problem-Based Learning (PBL). Siswa diberikan contoh masalah tentang tingginya pengangguran di suatu daerah, lalu berdiskusi untuk mencari tahu penyebab, dampak, dan solusi yang dapat dilakukan. Menurut saya, cara ini lebih menarik karena siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi juga ikut berpikir dan menghubungkan materi dengan keadaan yang ada di kehidupan sehari-hari.

MDIPE A26 -> DISKUSI

oleh Wulan Tria Rahmayanti_2513031036 -
Wulan Tria Rahmayanti
2513031036

Menurut saya, calon guru ekonomi perlu memahami model pembelajaran agar dapat menyesuaikan cara mengajar dengan materi dan juga kebutuhan siswa. Pembelajaran ekonomi tidak hanya cukup dengan metode ceramah saja, tetapi perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, agar lebih mudah dipahami dan lebih menarik, seperti kegiatan jual beli, inflasi, pengangguran, dan kebutuhan masyarakat. Selain itu, inovasi penting dilakukan karena adanya perkembangan teknologi. Menurut Puspitasari (2013), guru ekonomi perlu melakukan inovasi pembelajaran agar proses belajar lebih efektif dan sesuai dengan perkembangan zaman.