Kiriman dibuat oleh Maria Ulfa Rara Ardhika

ASESMEN2026 -> SUMMARY VIDEO

oleh Maria Ulfa Rara Ardhika -
Nama : Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM : 2523031009

Evaluasi pembelajaran merupakan proses sistematis yang dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran serta pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Melalui evaluasi, guru dapat memperoleh informasi mengenai perkembangan belajar peserta didik serta efektivitas metode pembelajaran yang digunakan.
Dalam video tersebut dijelaskan bahwa evaluasi tidak hanya berfokus pada hasil belajar siswa, tetapi juga mencakup keseluruhan komponen pembelajaran seperti tujuan, materi, metode, media, serta proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Oleh karena itu, evaluasi berfungsi sebagai alat untuk menilai kualitas proses pembelajaran secara menyeluruh. Selain itu, evaluasi pembelajaran memiliki peran penting sebagai umpan balik bagi guru dan peserta didik. Bagi guru, hasil evaluasi dapat digunakan untuk memperbaiki strategi pembelajaran, memilih metode yang lebih efektif, serta merancang program perbaikan seperti remedial atau pengayaan. Bagi peserta didik, evaluasi membantu mengetahui tingkat pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari.

Dengan demikian, evaluasi pembelajaran tidak hanya bertujuan memberikan nilai kepada siswa, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran secara berkelanjutan sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.

ASESMEN2026 -> SUMMARY VIDEO

oleh Maria Ulfa Rara Ardhika -
Nama : Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM : 2523031009

1. Tes
Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengukur kemampuan, pengetahuan, keterampilan, atau sikap seseorang melalui serangkaian pertanyaan atau tugas yang harus dijawab oleh peserta tes. Tes biasanya berbentuk soal tertulis, lisan, atau praktik yang memiliki jawaban benar atau kriteria penilaian tertentu.

2. Pengukuran
Pengukuran adalah proses pemberian angka atau skor terhadap hasil tes berdasarkan aturan tertentu untuk menunjukkan tingkat kemampuan atau pencapaian seseorang. Hasil pengukuran biasanya berupa nilai atau skor yang bersifat kuantitatif.

3. Penilaian
Penilaian adalah proses mengumpulkan dan mengolah berbagai informasi untuk mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik. Penilaian tidak hanya menggunakan tes, tetapi juga dapat melalui observasi, tugas, portofolio, proyek, atau bentuk lain untuk mengetahui perkembangan belajar siswa.

4. Evaluasi
Evaluasi adalah proses menafsirkan hasil penilaian untuk mengambil keputusan tentang keberhasilan suatu program, proses pembelajaran, atau pencapaian tujuan pendidikan. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran sudah tercapai dan menjadi dasar perbaikan pembelajaran

ASESMEN2026 -> Diskusi

oleh Maria Ulfa Rara Ardhika -
Nama : Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM : 2523031009

1. Pengukuran
Pengukuran dalam pendidikan merupakan proses yang dilakukan untuk memperoleh data kuantitatif mengenai kemampuan atau karakteristik murid. Dalam praktiknya, pengukuran menghasilkan angka atau skor yang menunjukkan tingkat pencapaian murid terhadap materi yang telah dipelajari. Arikunto (2016) menjelaskan bahwa “pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu dengan ukuran tertentu dan hasilnya berupa data kuantitatif.” Artinya, pengukuran belum memberi makna apakah murid telah mencapai tujuan pembelajaran; pengukuran hanya menyediakan angka sebagai informasi awal. Urgensi pengukuran terletak pada fungsinya sebagai dasar objektif bagi guru untuk mengetahui posisi kemampuan murid sebelum dilakukan proses penilaian dan evaluasi. Tanpa pengukuran, guru tidak memiliki dasar yang pasti untuk menilai perkembangan belajar siswa.

2. Penilaian
Penilaian merupakan proses menafsirkan hasil pengukuran untuk mengetahui makna, tingkat pencapaian, dan ketuntasan kompetensi murid. Penilaian tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga pada kemampuan siswa dalam memahami, menerapkan, dan menunjukkan sikap yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Menurut Nitko (dalam Widoyoko, 2012), penilaian adalah proses mengumpulkan dan menafsirkan informasi untuk membuat keputusan tentang pembelajaran murid. Dengan demikian, penilaian berfungsi memberikan gambaran yang lebih luas dan mendalam mengenai perkembangan murid. Urgensi penilaian terletak pada perannya dalam memberikan umpan balik kepada murid dan guru. Melalui penilaian, guru dapat menentukan apakah diperlukan kegiatan remedial, pengayaan, atau modifikasi pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal.

3. Evaluasi
Evaluasi merupakan proses komprehensif untuk menentukan nilai, mutu, dan efektivitas suatu program pembelajaran berdasarkan data yang diperoleh dari pengukuran dan penilaian. Evaluasi mencakup keseluruhan aspek pendidikan, seperti ketercapaian tujuan, kesesuaian metode pembelajaran, efektivitas media pembelajaran, serta kualitas aktivitas belajar. Stufflebeam (dalam Mardapi, 2012:19) menjelaskan bahwa evaluasi adalah proses menyediakan informasi yang berguna untuk membantu pengambil keputusan. Evaluasi menjadi penting karena berfungsi menentukan apakah program pembelajaran berjalan dengan baik atau perlu diperbaiki. Urgensi evaluasi terletak pada kemampuannya untuk memastikan terjadinya peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan, sehingga pelaksanaan pembelajaran dapat semakin efektif dan sesuai kebutuhan murid.

Referensi :
Arikunto, S. 2016. Dasar–Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Mardapi, D. 2012. Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Widoyoko, E. P. 2012. Teknik Penyusunan Instrumen Penilaian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh Maria Ulfa Rara Ardhika -
NAMA : MARIA ULFA RARA ARDHIKA
NPM : 2523031009

Upaya menumbuhkan karakter yang baik dalam konteks transmisi kewarganegaraan yang baik merupakan fungsi fundamental pendidikan sosial, khususnya di tengah arus globalisasi yang membawa perubahan nilai dan tantangan moral bagi generasi muda. Globalisasi tidak hanya mempercepat pertukaran informasi dan budaya, tetapi juga berpotensi melemahkan komitmen terhadap nilai moral, identitas kebangsaan, dan tanggung jawab sosial apabila tidak diimbangi dengan pendidikan kewarganegaraan yang berorientasi pada pembentukan karakter. Dalam perspektif National Council for the Social Studies (NCSS), tujuan utama pendidikan sosial adalah membentuk warga negara yang memiliki civic knowledge, civic skills, dan civic dispositions sebagai prasyarat bagi kehidupan demokratis yang bermartabat. Berdasarkan kerangka NCSS, transmisi kewarganegaraan yang baik harus menekankan internalisasi nilai-nilai moral dan etika kewargaan melalui pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dan partisipatif. Pendidikan kewarganegaraan tidak cukup hanya menyampaikan norma dan aturan secara kognitif, tetapi perlu menciptakan pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik mempraktikkan nilai keadilan, toleransi, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dalam kehidupan nyata. Keteladanan pendidik, pembiasaan budaya demokratis di sekolah, serta keterlibatan peserta didik dalam pemecahan masalah sosial menjadi strategi penting dalam membangun karakter warga negara yang berintegritas. Dengan demikian, pendidikan kewarganegaraan berperan sebagai wahana pembentukan karakter manusia seutuhnya yang mampu bersikap kritis terhadap pengaruh global, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai Pancasila dan demokrasi. 
 Referensi: National Council for the Social Studies (NCSS). (2013). The College, Career, and Civic Life (C3) Framework for Social Studies State Standards. Silver Spring, MD: NCSS. National Council for the Social Studies (NCSS). (2010). National Curriculum Standards for Social Studies: A Framework for Teaching, Learning, and Assessment. Silver Spring, MD: NCSS. Lickona, T. (1991). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh Maria Ulfa Rara Ardhika -
Nama : Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM : 2526031009

Manusia tidak dapat dipisahkan dari ruang dan waktu. Ruang adalah tempat manusia hidup, berinteraksi, dan melakukan kegiatan sosial, sedangkan waktu menunjukkan proses perjalanan hidup manusia dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Kondisi ruang seperti lingkungan alam dan sosial memengaruhi cara hidup manusia, sementara pengalaman masa lalu membentuk identitas dan cara berpikir manusia saat ini.
Melalui waktu, manusia mengalami perubahan dan keberlanjutan. Peristiwa masa lalu tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi memberikan makna dan pelajaran bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, jati diri manusia terbentuk dari interaksi antara ruang tempat ia hidup dan pengalaman sejarah yang dialaminya.

Agar peserta didik mampu memahami jati dirinya dan berpikir kesejarahan, pembelajaran IPS perlu dirancang secara kontekstual dan bermakna. Guru dapat mengaitkan materi IPS dengan lingkungan sekitar dan pengalaman kehidupan peserta didik, seperti sejarah lokal dan kondisi sosial masyarakat.
Pembelajaran IPS juga perlu menekankan berpikir kesejarahan, yaitu memahami urutan waktu, sebab-akibat, serta perubahan dan keberlanjutan peristiwa sosial. Selain itu, peserta didik diajak untuk berdiskusi dan refleksi agar mampu mengaitkan peristiwa masa lalu dengan kehidupan masa kini.
Dengan strategi pembelajaran yang aktif dan kontekstual, IPS membantu peserta didik memahami dirinya sebagai bagian dari masyarakat dan sejarah, sehingga mampu melihat manusia sebagai makhluk sosial yang utuh.