Posts made by Resti Apriliyani

PKDIPS2025 -> Diskusi

by Resti Apriliyani -
Nama : Resti Apriliyani
NPM : 2523031007

Generasi muda saat ini semakin mudah terdegradasi nilai-nilai sosialnya karena derasnya arus perkembangan teknologi yang tidak selalu diiringi dengan kematangan moral, kontrol diri, dan bimbingan sosial yang memadai. Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana belajar justru sering menjadi ruang yang menormalisasi individualisme, konflik, ujaran kebencian, serta perilaku instan tanpa refleksi. Interaksi sosial yang dahulu terbentuk melalui pertemuan langsung kini bergeser menjadi komunikasi virtual yang cenderung dangkal, sehingga empati, kepedulian, dan kemampuan memahami orang lain semakin melemah. Paradoksnya, semakin canggih teknologi, justru semakin kompleks tantangan moral manusia. Hal ini terjadi karena perkembangan teknologi jauh lebih cepat daripada perkembangan etika, sementara internet menyediakan anonimitas yang membuat seseorang bebas mengekspresikan agresi atau perilaku tidak etis tanpa konsekuensi langsung. Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, kondisi ini menuntut kita untuk mampu merancang pendidikan yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter sosial yang kuat. Pendidikan IPS harus hadir sebagai ruang yang menumbuhkan kepedulian, empati, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir kritis terhadap fenomena sosial—terutama fenomena digital. Pembelajaran yang kontekstual, penggunaan isu sosial nyata seperti cyberbullying atau polarisasi media, serta penguatan nilai-nilai budaya lokal menjadi penting untuk menyeimbangkan pengaruh global. Dengan menghadirkan pendidikan yang holistik dan relevan dengan realitas kehidupan siswa, diharapkan generasi muda mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas secara intelektual sekaligus bijaksana secara moral sehingga degradasi nilai sosial dapat diminimalkan.

PKDIPS2025 -> CASE STUDY

by Resti Apriliyani -
Nama : Resti Apriliyani
NPM : 2523031007

1. Faktor sosial yang mungkin memengaruhi kurangnya keterampilan sosial Denix
Kurangnya keterampilan sosial pada seorang siswa tidak muncul tiba-tiba; ada berbagai faktor sosial yang dapat memengaruhinya, antara lain:
a. Pola interaksi di lingkungan keluarga
- Jika keluarga kurang memberikan kesempatan berdialog, berbagi pendapat, atau mengambil keputusan bersama, anak bisa kurang terbiasa bersosialisasi.
- Lingkungan keluarga yang terlalu fokus pada prestasi akademis dan kurang menekankan interaksi sosial dapat membuat anak merasa bahwa kerja sama bukan prioritas.
b. Pola pergaulan di sekolah
- Jika selama ini Denix bergaul dengan lingkaran kecil atau lebih sering menyendiri, maka ia tidak terbiasa menghadapi dinamika kelompok.
- Minimnya pengalaman terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler dapat membatasi pengembangan soft skills.
c. Budaya kompetitif di sekolah
- Sekolah yang terlalu menonjolkan persaingan akademik kadang menciptakan siswa yang terbiasa bekerja sendiri. Hal ini membuat siswa kurang terpapar pengalaman kolaboratif.
d. Pengalaman negatif dalam kerja kelompok sebelumnya
- Jika Denix pernah mengalami konflik atau merasa idenya tidak dihargai, ia cenderung menarik diri dan memilih bekerja sendiri.
e. Pengaruh media dan teknologi
- Kebiasaan berinteraksi melalui layar (HP, game, media sosial) dapat mengurangi kemampuan komunikasi tatap muka dan kepekaan sosial.

2. Peran empati dan komunikasi
Interpersonal dalam keberhasilan kerja kelompok
a. Empati
Empati adalah kemampuan memahami perasaan, kebutuhan, dan sudut pandang orang lain.
Dalam kasus Denix:
- Jika Denix memiliki empati yang baik, ia akan mencoba memahami mengapa teman-teman berbeda pendapat.
- Ia akan menyadari bahwa konflik itu wajar dan dapat diselesaikan melalui dialog.
- Misalnya: Ia mencoba memahami bahwa teman yang ingin bersih-bersih lingkungan mungkin peduli pada kebersihan di sekitar sekolah, sementara yang ingin menggalang dana peduli pada masalah sosial anak jalanan.
b. Komunikasi interpersonal
Kemampuan menyampaikan pendapat secara jelas dan mendengarkan orang lain.
Dalam kasus:
- Denix tidak berkomunikasi dengan kelompok saat frustasi; ia langsung menarik diri.
- Jika ia berkomunikasi, mungkin ia bisa mengajukan ide bahwa dua kegiatan tersebut dapat digabung (misalnya: bersih lingkungan + bazar sosial).
- Dengan komunikasi yang baik, gesekan bisa berubah menjadi kolaborasi.
Kesimpulan
Tanpa empati dan komunikasi interpersonal, konflik kecil bisa menjadi besar. Dengan empati dan komunikasi, kelompok dapat menemukan kompromi dan solusi kreatif.

3. Langkah konkret yang bisa dilakukan sekolah untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa
a. Menerapkan pembelajaran kolaboratif secara rutin
- PBL (Project-Based Learning), Cooperative Learning, dan diskusi kelompok kecil.
- Melibatkan peran dan tanggung jawab yang berbeda agar siswa terbiasa bekerja sama.
b. Mengadakan pelatihan soft skills
- Workshop komunikasi, resolusi konflik, public speaking, dan kepemimpinan.
c. Membentuk kegiatan ekstrakurikuler yang beragam
- Klub sosial, relawan lingkungan, OSIS, pramuka, dan kegiatan seni untuk memupuk interaksi.
d. Memberikan pendampingan dan konseling
- Guru BK dapat membantu siswa seperti Denix memahami kelebihan dan kekurangan dalam bersosialisasi.
- Program mentoring antar siswa (senior–junior).
e. Menciptakan budaya sekolah yang suportif dan inklusif
- Menghargai proses, bukan hanya hasil akademik.
- Mengapresiasi kerja sama dan kolaborasi dalam penilaian.

4. Apakah etis jika seorang anggota kelompok memilih bekerja sendiri dalam proyek kolaboratif?
- Tidak etis, jika proyek tersebut memang didesain untuk kolaborasi.
- Dari perspektif tanggung jawab sosial, terdapat beberapa alasan:
a. Mengabaikan komitmen bersama
Saat menjadi bagian dari kelompok, seseorang memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi sesuai tujuan bersama.
b. Merugikan anggota kelompok lain
- Kerja kelompok memerlukan koordinasi.
- Jika satu anggota bekerja sendiri, hasil akhirnya tidak sinkron dan bisa menghambat hasil proyek secara keseluruhan (seperti kasus Denix).
c. Tidak menghargai keberagaman ide
- Memilih bekerja sendiri berarti menolak kesempatan untuk belajar dari orang lain.
d. Bertentangan dengan nilai sosial
Kolaborasi adalah bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Menghindarinya merusak nilai kebersamaan dan gotong royong. Namun, jika ada situasi khusus (misalnya: dikecualikan teman), maka perlu dibicarakan dengan guru pembimbing bukan langsung menarik diri.

5. Rencana tindakan pribadi (Personal Action Plan) 7 hari untuk meningkatkan keterampilan sosial
Tujuan umum:
Meningkatkan kemampuan berkomunikasi, empati, dan kerja sama dalam kehidupan sehari-hari.
Hari 1 Refleksi diri
- Identifikasi 3 kekuatan sosial yang sudah dimiliki.
- Catat 3 kelemahan yang perlu diperbaiki (misal: malu bicara, mudah salah paham).
- Menetapkan tujuan harian sederhana.

Hari 2 Latihan komunikasi sederhana
- Mulai percakapan ringan dengan minimal 2 orang (keluarga dan teman).
- Latihan kontak mata, senyum, dan nada bicara yang ramah.
- Catat bagaimana perasaan Anda setelah melakukannya.

Hari 3 Berlatih mendengarkan aktif
- Dengarkan cerita teman atau keluarga tanpa memotong.
- Tanyakan pertanyaan yang menunjukkan ketertarikan (“Oh begitu, terus gimana?”).
- Fokus pada memahami, bukan menanggapi.

Hari 4 Melibatkan diri dalam kegiatan kelompok kecil
- Ambil peran kecil dalam diskusi kelas atau kegiatan kelompok.
- Misalnya: menjadi pencatat, pemberi ide, atau penyelaras pendapat.

Hari 5 Melatih empati
- Saat seseorang berbagi masalah, coba memahami perasaan mereka.
- Tunjukkan empati dengan kalimat seperti:
“Aku ngerti kok perasaan kamu.”
“Kamu pasti lagi capek ya.”
- Jangan langsung memberi solusi kecuali diminta.

Hari 6 Mengambil inisiatif sosial
- Ajak teman bekerja sama dalam tugas sekolah.
- Ikut membersihkan rumah tanpa disuruh.
- Bergabung dalam kegiatan komunitas atau ekstrakurikuler.

Hari 7 Evaluasi dan rencana lanjutan
- Evaluasi perubahan: Apa yang dirasa lebih baik?
- Catat 3 keberhasilan minggu ini
- Tentukan 2 perilaku sosial yang ingin terus ditingkatkan bulan depan.

PKDIPS2025 -> Diskusi

by Resti Apriliyani -
Nama : Resti Apriliyani
NPM : 2523031007

Menurut pemahaman saya, urgensi pengembangan keterampilan sosial di era 4.0 semakin meningkat karena perubahan kehidupan sosial, ekonomi, dan teknologi berlangsung sangat cepat. Revolusi Industri 4.0 tidak hanya menghadirkan otomatisasi, artificial intelligence, dan big data, tetapi juga mengubah pola interaksi manusia. Dalam situasi seperti ini, kemampuan teknis saja tidak cukup. Justru keterampilan sosial seperti komunikasi efektif, kolaborasi, empati, adaptabilitas, resolusi konflik, serta kemampuan bekerja dalam keberagaman menjadi kompetensi utama yang menentukan keberhasilan seseorang dalam masyarakat maupun dunia kerja.

Era 4.0 juga menghadirkan tantangan berupa interaksi virtual, meningkatnya individualisme digital, serta potensi miskomunikasi di ruang daring. Karena itu, keterampilan sosial dibutuhkan untuk menjaga kualitas hubungan antarmanusia, mengembangkan kepekaan sosial, serta memastikan individu mampu berpartisipasi secara produktif dan etis di tengah perubahan yang sangat cepat. Keterampilan sosial pada akhirnya membantu peserta didik menjadi manusia yang reflektif, tidak terjebak dalam perilaku robotik seperti yang sering diperingatkan dalam literatur tentang dampak teknologi.

Terkait bagaimana pembelajaran seharusnya dikemas, menurut saya sekolah perlu merancang proses belajar yang bersifat kolaboratif, kontekstual, dan berorientasi pada pengalaman nyata. Pembelajaran tidak dapat lagi hanya berfokus pada ceramah dan hafalan, tetapi harus mengintegrasikan aktivitas seperti diskusi, proyek berbasis masalah sosial, pembelajaran kooperatif, serta penggunaan teknologi yang mendorong partisipasi aktif. Kurikulum perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk berinteraksi, bertukar ide, bekerja dalam kelompok heterogen, dan memecahkan persoalan kehidupan yang relevan.

Selain itu, penting bagi sekolah untuk memfasilitasi pembelajaran berbasis nilai dan karakter sosial, seperti toleransi, empati, dan tanggung jawab. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan peserta didik untuk mengembangkan literasi digital sekaligus literasi sosial, agar mereka mampu menggunakan teknologi secara bijaksana dan manusiawi. Dengan pembelajaran yang demikian, sekolah dapat menjadi ruang yang mempersiapkan peserta didik menghadapi kehidupan yang semakin dinamis, kompleks, dan penuh keterhubungan.

Demikian pandangan saya mengenai urgensi pengembangan keterampilan sosial dan desain pembelajaran di era 4.0. Semoga dapat berkontribusi pada diskusi pekan ini. Terima kasih.

PKDIPS2025 -> Diskusi

by Resti Apriliyani -
Nama : Resti Apriliyani
NPM : 2523031007


Sejauh yang saya pahami mengenai perkembangan konsep dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menunjukkan proses yang panjang dan multidimensi, sejalan dengan dinamika masyarakat dan perkembangan ilmu sosial itu sendiri.

Pada awalnya, IPS di Indonesia berkembang sebagai pendekatan integratif dari berbagai disiplin ilmu sosial aeperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, dan antropologi—untuk tujuan pendidikan. Pada masa 1970-an, IPS dirumuskan sebagai social studies yang berorientasi pada civic competence, yaitu membentuk warga negara yang memahami lingkungan sosialnya (Depdikbud, 1975). Di tahap ini, fokus utamanya adalah transmisi pengetahuan sosial dan pembentukan sikap kewarganegaraan dasar.

Seiring perkembangan, terutama setelah tahun 2000-an, konsep IPS mengalami perluasan menjadi lebih multidimensional, tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif, psikomotorik, dan life skills. IPS kemudian dipandang sebagai ilmu yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah sosial, serta pemahaman terhadap keberagaman budaya dalam masyarakat multikultur Indonesia.

Dalam perspektif kontemporer, perkembangan konsep dasar IPS bergerak menuju:
1. Pendekatan interdisipliner dan transdisipliner, menekankan keterhubungan antar fenomena sosial yang kompleks.
2. Penguatan literasi sosial dan digital, agar peserta didik mampu menghadapi derasnya arus informasi dan teknologi.
3. Penanaman nilai demokrasi, toleransi, dan kesadaran global, sejalan dengan tantangan era globalisasi.
4. Pemberdayaan peserta didik sebagai agen perubahan sosial, bukan sekadar penerima informasi.
5. Integrasi isu-isu aktual seperti ketimpangan sosial, perubahan iklim, transformasi digital, dan dinamika geopolitik.

Dengan demikian, IPS bukan hanya rumpun ilmu yang mempelajari masyarakat, tetapi juga upaya terencana untuk membentuk manusia yang mampu berpikir reflektif, bertindak etis, dan berkontribusi bagi kehidupan sosial. Keseluruhan perkembangan ini menunjukkan bahwa IPS selalu berevolusi mengikuti perubahan zaman, tanpa kehilangan esensinya sebagai ilmu yang memanusiakan manusia dan memperkuat kohesi sosial.

Daftar Pustaka:
NCSS (2010). National Curriculum Standards for Social Studies.
Winataputra, U.S. (2015). Pembelajaran IPS dalam Perspektif Pendidikan IPS Kontemporer.
Depdikbud (1975). Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah.

DMP2025 -> CASE STUDY

by Resti Apriliyani -
Nama : Resti Apriliyani
NPM : 2523031007

1. Dua Ide Kreatif Model/Pendekatan Pembelajaran untuk Pak Doni
Ide 1: Project-Based Learning (PjBL) – Proyek “Jejak Globalisasi di Sekitar Kita”
Alasan Pemilihan:
a. Topik Globalisasi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga cocok untuk dieksplor melalui proyek.
b. Siswa dapat mengamati langsung dampak globalisasi di lingkungan sekitar (produk impor, gaya hidup digital, budaya populer, transportasi, makanan cepat saji, dll.).
c. PjBL mendorong siswa berpikir kritis, kolaboratif, dan menghasilkan produk nyata yang membuat pembelajaran lebih bermakna.
d. Cocok untuk karakteristik IPS yang menekankan analisis fenomena sosial.
Ide 2: Cooperative Learning – Tipe Jigsaw “Dampak Globalisasi dari Berbagai Perspektif”
Alasan Pemilihan:
a. Materi globalisasi memiliki banyak aspek: ekonomi, sosial, budaya, teknologi, politik.
b. Jigsaw membuat siswa menjadi “ahli” pada satu aspek, kemudian saling mengajarkan.
c. Pembelajaran menjadi aktif karena setiap siswa memiliki peran penting.
d. Strategi ini meningkatkan tanggung jawab, komunikasi, dan interaksi positif antar siswa.

2. Rancangan Satu Ide Pembelajaran Inovatif (Model + Pendekatan + Metode + Teknik)
1) Judul Pembelajaran: “Globalisasi dalam Kehidupanku: Investigasi, Kolaborasi, dan Aksi”
2) Model Dominan: Discovery Learning dipadukan dengan Cooperative Learning
3) Pendekatan: Saintifik (5M): Mengamati – Menanya – Mencoba – Menalar – Mengomunikasikan
4) Metode Pembelajaran:
a. Diskusi kelompok kecil
b. Studi kasus
c. Eksplorasi lingkungan (mini field study)
d. Presentasi interaktif
5) Teknik Pembelajaran:
a. Gallery Walk
b. Think–Pair–Share
c. Picture/Video Analysis
d. Data Hunt (mencari data di lingkungan sekolah)

Alur Pembelajaran (Inovatif dan Kontekstual):
A. Apersepsi (5 menit) – “Tebak Gambar Globalisasi”
• Guru menampilkan 5 gambar cepat (produk luar negeri, K-Pop, smartphone, platform belanja online).
• Siswa diminta menebak hubungan antar gambar — memantik rasa ingin tahu.

B. Kegiatan Inti (70 menit)
Berbasis Discovery Learning + Cooperative Learning
Langkah 1 – Mengamati
• Siswa menonton video singkat tentang perubahan gaya hidup akibat globalisasi.
Siswa mencatat “3 hal yang berubah di hidup mereka karena globalisasi”.

Langkah 2 – Menanya
Siswa menuliskan pertanyaan yang muncul, misalnya:
• Mengapa produk luar negeri mudah ditemukan?
• Mengapa budaya asing cepat masuk?
• Mengapa teknologi berkembang cepat?
• Guru mengelompokkan pertanyaan menjadi ekonomi, sosial-budaya, dan teknologi.

Langkah 3 – Mencoba (Mini Investigasi & Data Hunt)
Siswa dibagi menjadi 3 kelompok besar (Ekonomi, Sosial-Budaya, Teknologi).
Tiap kelompok melakukan:
Data Hunt di sekolah (10 menit)
Mencari bukti globalisasi di lingkungan sekolah:
• Label produk makanan minuman
• Brand pakaian
• Musik/film yang disukai teman
• Media sosial yang digunakan
• Gadget yang dipakai
• Data dicatat dalam tabel sederhana.

Langkah 4 – Menalar (Analisis & Studi Kasus)
Tiap kelompok menerima studi kasus, misalnya:
• Uptown Mall lokal terpengaruh brand luar
• Remaja menyukai budaya K-Pop
• Toko konvensional kalah oleh marketplace
Tugas mereka:
• Menjelaskan fenomena tersebut
• Menyebut dampak positif dan negatif
• Menyimpulkan hubungan dengan konsep globalisasi

Langkah 5 – Mengomunikasikan (Gallery Walk Interaktif)
• Setiap kelompok membuat poster mini hasil analisis.
Poster dipajang di dinding.
Kelompok lain berkeliling mengisi sticky notes berisi komentar atau pertanyaan.
• Guru hanya memandu, siswa yang mengambil alih komunikasi.

C. Penutup (10 menit)
Guru mengajak refleksi melalui Think–Pair–Share:
“Apa perubahan globalisasi yang paling berpengaruh dalam hidupmu dan bagaimana memanfaatkannya secara bijak?”

3. Teknik Evaluasi yang Mendorong Keterlibatan dan Kreativitas Siswa
A. Penilaian Proses dengan Rubrik Kolaborasi
Dinilai saat gallery walk, diskusi, dan investigasi:
• Partisipasi aktif
• Kemampuan bertanya
• Kemampuan memberi pendapat
• Kerja sama antar anggota
Dampak:
Siswa termotivasi aktif karena proses dinilai, bukan hanya hasil akhir.

B. Penilaian Produk (Poster Investigasi)
Rubrik menilai:
• Ketepatan data
• Kreativitas visual
• Kedalaman analisis
• Ketajaman kesimpulan
• Kejelasan komunikasi
Dampak:
Siswa terdorong menciptakan karya yang menarik, rapi, dan menunjukkan pemahaman mereka.

C. Penilaian Sikap: Refleksi Tertulis Singkat
Pertanyaan refleksi:
• Apa temuan terpenting hari ini?
• Apa dampak globalisasi yang paling kamu rasakan?
• Apa yang bisa kamu lakukan agar dampak negatif globalisasi berkurang?
Dampak:
Siswa terlatih berpikir kritis, introspektif, dan mampu mengaitkan materi dengan pengalaman pribadi.

D. Penilaian Pengetahuan: Studi Kasus Mini
Guru memberikan satu kasus baru (misal: viralnya aplikasi asing atau budaya food delivery).
Siswa diminta menjelaskan:
• Bentuk globalisasi
• Dampak positif & negatif
• Solusi atau sikap bijak
Dampak:
Siswa menunjukkan kemampuan bernalar, tidak sekadar menghafal materi.