གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ HabibahHusnul 2523031006

PKDIPS2025 -> Diskusi

HabibahHusnul 2523031006 གིས-
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Agama dan manusia memiliki hubungan yang saling menguatkan dalam kehidupan bermasyarakat. Agama berfungsi sebagai sumber nilai, moral, dan pedoman hidup yang menuntun perilaku manusia, sementara manusia menjadi pelaku yang mewujudkan ajaran agama dalam tindakan sosial. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, agama menjadi fondasi etika sosial seperti tenggang rasa, toleransi, dan gotong royong. Dengan demikian, keterkaitan agama dan manusia tampak dalam bagaimana nilai-nilai keagamaan memengaruhi pola interaksi sosial, cara masyarakat menyelesaikan masalah bersama, serta komitmen untuk menjaga harmoni dalam keberagaman. Upayamemperkuat kebangsaan Indonesia, hubungan psikologis antarsesama pemeluk agama perlu dibangun di atas rasa saling percaya, empati, dan kesadaran bahwa setiap individu adalah bagian dari komunitas nasional yang sama. Hubungan psikologis ini mencakup kemampuan memahami perbedaan, mengelola prasangka, dan menumbuhkan sikap saling menghargai. Interaksi yang positif baik dalam dialog lintas agama, kerja sama sosial, maupun kegiatan kemasyarakatan akan memperkuat ikatan emosional dan rasa memiliki terhadap bangsa. Hal ini penting agar identitas kebangsaan tidak terpecah oleh perbedaan keyakinan, melainkan justru diperkuat melalui sikap toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman sebagaimana prinsip Bhineka Tunggal Ika.

Nantinya sebagai pengembang IPS, pembelajaran harus dirancang untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan masyarakat sekaligus membentuk generasi unggul sesuai amanat UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Pembelajaran IPS perlu mengintegrasikan nilai moral, sosial, dan kebangsaan melalui pendekatan humanis, kontekstual, dan kolaboratif. Pendekatan humanis menekankan penanaman empati, toleransi, dan resolusi konflik, sehingga peserta didik mampu memahami pentingnya saling menghargai dalam kehidupan sosial. Pendekatan kontekstual memungkinkan peserta didik mengaitkan materi IPS dengan pengalaman nyata di lingkungan sekitar, misalnya melalui proyek pemetaan keragaman agama lokal atau dialog harmoni antar siswa. Sementara itu, pendekatan kolaboratif seperti PjBL, Jigsaw, atau diskusi kelompok mendorong interaksi positif, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan kerja sama. Dengan rancangan pembelajaran yang integratif ini, pendidikan IPS tidak hanya mengembangkan pengetahuan sosial, tetapi juga membentuk karakter dan kecakapan sosial-spiritual yang diperlukan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis serta generasi bangsa yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab sebagaimana diamanatkan dalam UU Sisdiknas.

PKDIPS2025 -> Diskusi

HabibahHusnul 2523031006 གིས-
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk historis yang hidup dalam dimensi ruang dan waktu. Dalam dimensi ruang, manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan fisik, sosial, dan budaya yang membentuk cara hidup, pola perilaku, serta nilai-nilai yang dianutnya. Ruang tidak hanya dipahami sebagai lokasi geografis, tetapi juga sebagai arena sosial tempat manusia beraktivitas, beradaptasi, dan membangun identitas. Sementara itu, dimensi waktu menggambarkan kesinambungan pengalaman manusia dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan. Melalui waktu, manusia dapat memahami proses perubahan, kontinuitas, dan perkembangan peradaban. Kesadaran akan waktu menuntun manusia untuk melihat dirinya sebagai bagian dari perjalanan sejarah yang panjang, bukan entitas yang berdiri sendiri.

Sinergi antara ruang dan waktu menjadikan manusia sebagai makhluk yang berkonteks, berproses, dan beridentitas. Pemahaman atas ruang membentuk kesadaran akan posisi dirinya dalam masyarakat, sedangkan pemahaman atas waktu membentuk kesadaran historis bahwa jati diri terbentuk oleh pengalaman, tradisi, dan dinamika sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di sinilah pentingnya pembelajaran IPS untuk menuntun peserta didik agar memahami manusia sebagai makhluk ruang-waktu yang utuh.

Strategi pembelajaran yang digunakan harus mampu mengintegrasikan pendekatan historis dan geografis sehingga peserta didik dapat melihat bagaimana kondisi ruang membentuk kehidupan manusia dan bagaimana waktu menciptakan perubahan sosial. Guru dapat menerapkan pembelajaran berbasis inkuiri kesejarahan, refleksi identitas, serta proyek kontekstual yang mengajak siswa menyelidiki peristiwa masa lalu, mengaitkannya dengan kondisi kekinian, dan memahami pengaruhnya terhadap masa depan. Melalui kegiatan seperti penulisan sejarah diri, analisis perubahan lingkungan, pembuatan peta waktu, atau penyusunan dokumenter sejarah lokal, peserta didik dilatih untuk mengembangkan pemikiran historis (historical thinking) sekaligus kesadaran ruang (spatial awareness). Dengan demikian, pembelajaran IPS tidak hanya menanamkan pengetahuan faktual, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, kesadaran diri, dan pemahaman tentang manusia seutuhnya sebagai makhluk yang hidup dalam ruang dan waktu.