གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Sofia Dilara

TA C2025 -> DISKUSI

Sofia Dilara གིས-
Nama: Sofia Dilara
NPM: 2413031091
Kelas; 2024 C

-Pendapat tentang Aspek Perilaku dalam Akuntansi

Berdasarkan dua jurnal yaitu “Exploring the Impact of Behavioral Factors on Accounting Systems and Financial Decision-Making” oleh Muhammad Daham Sabbar dkk. dan “Concepts of Behavioral Accounting from Psychological, Social, and Human Behavior Aspects” oleh Sri Trisnaningsih & Gempita Asmaul Husna, dapat disimpulkan bahwa akuntansi keperilakuan memandang akuntansi bukan hanya sebagai proses teknis, tetapi juga sebagai proses sosial dan psikologis yang melibatkan manusia. Dalam pandangan Sabbar, pengambilan keputusan keuangan tidak selalu rasional karena dipengaruhi oleh bias kognitif, emosi, dan lingkungan organisasi. Misalnya, overconfidence dan confirmation bias bisa membuat seseorang menafsirkan data keuangan secara keliru.

Trisnaningsih dan Husna menambahkan bahwa perilaku seperti motivasi, sikap, persepsi, dan nilai pribadi juga berperan besar dalam menentukan bagaimana seseorang bekerja dalam sistem akuntansi. Artinya, laporan keuangan yang dihasilkan tidak hanya mencerminkan kondisi ekonomi, tetapi juga perilaku manusia yang menyusunnya. Dengan demikian, aspek perilaku menjadi jembatan antara teori akuntansi dan kenyataan psikologis di dunia kerja.

-Urgensi Aspek Perilaku dalam Akuntansi

Aspek perilaku memiliki urgensi tinggi karena sangat memengaruhi kualitas keputusan dan efektivitas sistem akuntansi. Sabbar menekankan bahwa sistem akuntansi yang baik harus sesuai dengan perilaku penggunanya agar informasi yang disajikan benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Sistem yang terlalu rumit atau tidak sesuai cara berpikir pengguna dapat menimbulkan salah tafsir atau pengabaian data.

Trisnaningsih juga menyoroti pentingnya aspek perilaku dalam menjaga etika dan integritas profesi. Banyak kasus kecurangan terjadi karena perilaku menyimpang dan kurangnya kesadaran moral. Dengan memahami perilaku manusia, akuntansi dapat berfungsi tidak hanya untuk mencatat transaksi, tetapi juga untuk mendorong kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab.

-Proses Standard-Setting dan Ekonomi Politik Akuntansi

Proses penetapan standar akuntansi (standard-setting) tidak sepenuhnya bersifat teknis, tetapi dipengaruhi oleh perilaku dan dinamika politik ekonomi. Sabbar menjelaskan bahwa lembaga pembuat standar seperti IASB dan FASB menghadapi berbagai tekanan dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan berbeda, seperti pemerintah, investor, dan perusahaan besar. Dengan demikian, standar akuntansi merupakan hasil kompromi antara kepentingan ekonomi, sosial, dan politik.

Trisnaningsih menambahkan bahwa keberhasilan penerapan standar juga sangat bergantung pada budaya organisasi dan sikap individu. Meskipun aturan sudah ada, jika perilaku pelaku akuntansi tidak berlandaskan nilai etika, maka standar tersebut dapat disalahgunakan. Oleh karena itu, perilaku manusia menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas dan kredibilitas kebijakan akuntansi.

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 2

Sofia Dilara གིས-
Nama: Sofia Dilara
NPM: 2413031091
Kelas: 2024 C

Kalau dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO biasanya menghasilkan laba bersih yang lebih rendah saat harga barang meningkat. Hal ini terjadi karena LIFO menganggap barang yang terakhir dibeli dijual lebih dulu, sementara barang terakhir biasanya sudah memiliki harga yang lebih tinggi ketika harga pasar sedang naik. Akibatnya, harga pokok penjualan (HPP) jadi lebih besar, dan otomatis laba bersih yang dilaporkan jadi lebih kecil. Sebaliknya, metode FIFO memakai harga barang yang dibeli lebih dulu (yang biasanya lebih murah), sehingga HPP nya lebih rendah dan laba bersih tampak lebih tinggi.

Namun, kalau situasinya harga barang justru menurun, keadaannya berbalik. LIFO bisa menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi, karena barang terakhir yang dibeli harganya lebih murah, sehingga HPP lebih kecil. Sedangkan FIFO akan memakai harga barang lama yang lebih mahal, jadi laba bersihnya terlihat lebih rendah.

Secara sederhana, bisa disimpulkan bahwa saat harga naik, FIFO lebih menguntungkan, tapi saat harga turun, LIFO yang lebih menguntungkan. Pilihan metode ini juga bisa memengaruhi bagaimana perusahaan terlihat secara keuangan, apakah ingin menunjukkan laba besar untuk menarik investor, atau laba lebih kecil untuk mengurangi beban pajak.

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 1

Sofia Dilara གིས-
Nama: Sofia Dilara
NPM: 2413031091
Kelas: 2024 C

Kalau dibandingkan, metode FIFO, rata-rata tertimbang, dan LIFO memang jauh lebih sering digunakan dibandingkan metode identifikasi khusus, karena lebih praktis, efisien, dan mudah diterapkan terutama untuk perusahaan dengan banyak jenis barang. Masing-masing metode punya kelebihan dan kekurangan, baik dari sisi teori maupun penerapan dalam laporan keuangan.

Metode identifikasi khusus sebenarnya paling akurat secara teori. Dalam metode ini, setiap barang dicatat berdasarkan harga perolehan aslinya, sehingga nilai persediaan dan laba benar-benar mencerminkan kondisi nyata dari barang yang dijual maupun yang masih tersisa. Namun, kelemahannya terletak pada efisiensi dan kelayakan praktiknya, karena sulit diterapkan pada perusahaan besar yang memiliki ribuan barang dengan karakteristik serupa. Oleh karena itu, metode ini biasanya digunakan untuk barang-barang bernilai tinggi atau unik, seperti mobil, perhiasan, atau alat berat, yang bisa dilacak satu per satu.

Sementara itu, metode FIFO (First In, First Out) lebih sederhana dan populer digunakan. Prinsipnya, barang yang dibeli pertama dianggap dijual terlebih dahulu. Secara teori, metode ini membuat nilai persediaan akhir lebih mendekati harga pasar saat ini, karena barang yang masih tersisa biasanya merupakan pembelian terbaru dengan harga terkini. Namun, dalam kondisi harga barang naik (inflasi), metode FIFO akan membuat laba bersih tampak lebih tinggi, sebab harga pokok penjualan yang digunakan lebih rendah dibanding harga jual sekarang.

Metode rata-rata tertimbang menghitung biaya persediaan dengan mengambil rata-rata dari seluruh harga barang yang tersedia. Metode ini dianggap lebih stabil dan konsisten, karena tidak terlalu dipengaruhi oleh perubahan harga yang ekstrem. Namun, kelemahannya adalah metode ini bisa membuat hubungan antara harga beli dan harga jual kurang terlihat jelas, karena semua harga disamaratakan.

Secara teori, metode identifikasi khusus memberikan hasil paling akurat untuk mencerminkan nilai persediaan dan laba, tetapi tidak efisien untuk digunakan pada skala besar. Sedangkan FIFO dan rata-rata tertimbang lebih layak digunakan secara praktis, karena lebih mudah diterapkan dan tetap mampu memberikan gambaran keuangan yang wajar. Jadi, dalam dunia akuntansi keuangan menengah, pemilihan metode penilaian persediaan tergantung pada karakteristik perusahaan, jenis barang yang dijual, serta tujuan pelaporan keuangan yang ingin dicapai.

AKM C2025 -> Diskusi

Sofia Dilara གིས-
Nama: Sofia Dilara
NPM: 2413031091
Kelas: 2024 C

Jika dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah saat harga barang meningkat. Hal ini karena LIFO menganggap barang yang terakhir dibeli dijual lebih dulu, padahal barang terakhir biasanya memiliki harga lebih tinggi ketika terjadi kenaikan harga. Akibatnya, harga pokok penjualan menjadi lebih tinggi dan laba bersihnya otomatis lebih kecil. Sebaliknya, metode FIFO menggunakan barang yang dibeli lebih dulu, yang harganya masih murah, sehingga laba bersih tampak lebih besar.

Namun, kalau kondisi pasar sedang turun atau harga menurun, situasinya justru berbalik. LIFO bisa menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi, karena barang terakhir yang dibeli memiliki harga lebih rendah, sementara FIFO menggunakan barang lama yang harganya lebih mahal. Jadi secara singkat, saat harga naik, FIFO lebih menguntungkan, tetapi saat harga turun, LIFO yang lebih menguntungkan. Dalam praktiknya, perusahaan biasanya memilih metode yang paling sesuai dengan kondisi pasar dan tujuan laporan keuangannya, apakah ingin menunjukkan laba yang tinggi untuk menarik investor atau menekan laba agar beban pajak lebih rendah.

TA C2025 -> PERTEMUAN 7: Menilai teori positif kebijakan akuntansi

Sofia Dilara གིས-
Nama: Sofia Dilara
NPM: 2413031091
Kelas: 2024 C

JURNAL: Suripto & Supriyanto. (2021). Implikasi Teori Akuntansi Positif dan Teori Keagenan dalam Praktik Manajemen Laba. Jurnal Paradigma Akuntansi, 4(2), 145–156.

Dari jurnal ini, saya jadi memahami bahwa praktik manajemen laba yang sering dilakukan oleh perusahaan bisa dijelaskan dengan menggunakan Teori Akuntansi Positif. Dalm jurnal ini, penulis melihat bagaimana faktor-faktor seperti komite audit dan komisaris independen dapat memengaruhi keputusan manajer dalam mengatur angka laba, khususnya di perusahaan perbankan Indonesia. Intinya, teori ini menganggap bahwa manajer itu bertindak rasional, dan mereka akan memilih kebijakan akuntansi yang menguntungkan bagi diri mereka sendiri, misalnya untuk mendapatkan bonus, menjaga citra perusahaan agar tidak melanggar perjanjian utang, atau menghindari sorotan dari pemerintah. Tapi yang menarik dari jurnal ini adalah, ternyata di konteks perbankan Indonesia, motivasi bonus dan tekanan utang tidak terlalu berpengaruh terhadap praktik manajemen laba. Justru, kekuatan pengawasan internal seperti komite audit lebih berperan besar. Jadi, dari jurnal ini syaa belajar bahwa meskipun teori akuntansi positif punya hipotesis-hipotesis yang umum, seperti hipotesis bonus dan utang, tapi dalam praktiknya bisa berbeda tergantung industrinya. Ini menunjukkan bahwa saat kita menilai kebijakan akuntansi, kita juga harus mempertimbangkan konteks lokal dan bagaimana pengawasan di dalam perusahaan dijalankan.