Posts made by Mutiara Nunvia mutiara 2413046046

Nama: Mutiara Nunvia
NPM: 2413046046
Kelas: 4B
Matkul: Sastra Bandingan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah pendekatan interdisipliner dalam sastra bandingan, khususnya kajian hubungan antara sastra dan seni rupa (interart studies). Pendekatan ini menempatkan karya sastra tidak hanya sebagai teks bahasa, tetapi juga sebagai bagian dari sistem seni yang lebih luas, sehingga dapat dibandingkan dengan bentuk ekspresi artistik lain seperti lukisan.

Dalam konteks perbandingan antara puisi karya Sapardi Djoko Damono dan lukisan Vincent van Gogh, pendekatan ini relevan karena keduanya sama-sama merepresentasikan alam, tetapi melalui medium yang berbeda—bahasa (verbal) dan visual (nonverbal). Sastra menggambarkan alam melalui diksi, imaji, dan majas, sedangkan seni lukis menyajikannya melalui warna, garis, dan komposisi.
Pendekatan interdisipliner ini memungkinkan peneliti untuk menganalisis kesamaan dan perbedaan cara penggambaran alam, seperti suasana (mood), perspektif, dan ekspresi emosional. Selain itu, pendekatan ini juga membantu memahami bagaimana pengalaman estetik manusia terhadap alam dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk seni.

Pendekatan tersebut relevan karena mampu menjembatani dua disiplin seni yang berbeda, sehingga memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang representasi alam serta memperkaya analisis dalam kajian sastra bandingan.

Nama: Mutiara Nunvia 

Kelas: 4B 

NPM: 2413046046

Matkul: Analisis Wacana

pengertian kohesi dan koherensi beserta contoh

-kohesi adalah keserasian hubungan antarunsur dalam wacana secara lahiriah atau struktural. Sebuah paragraf dikatakan kohesif jika kalimat-kalimatnya terhubung menggunakan alat penanda bahasa (piranti kohesi) agar penyampaiannya tidak terputus-putus.
• Contoh: "Budi sedang makan. Ia sangat lapar."
• Kata "Ia" adalah piranti kohesi (pronomina) yang merujuk kembali ke Budi. Tanpa kata ganti ini, kalimat akan terasa kaku.
-Koherensi adalah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh. Wacana yang koheren akan terasa logis dan mudah dipahami alurnya, meski terkadang tidak menggunakan kata penghubung yang eksplisit.
• Contoh: "Cuaca sangat mendung. Saya membawa payung."
• Secara struktur tidak ada kata hubung (seperti 'karena itu'), namun secara makna keduanya berhubungan sebab-akibat yang logis.


Analisis Paragraf
"Pagi itu hujan turun sangat deras. Jalanan di kota menjadi tergenang air sehingga banyak kendaraan yang terjebak macet. Para pengendara berusaha mencari jalan alternatif. Namun, sebagian jalan lain juga mengalami banjir."
1. Identifikasi Piranti Kohesi
Dalam paragraf tersebut, terdapat beberapa piranti kohesi:
• Konjungsi (Kata Hubung):
• "Sehingga": Menghubungkan klausa akibat (jalanan tergenang) dengan dampak lanjutannya (kendaraan macet).
• "Namun": Konjungsi antarkalimat yang menunjukkan pertentangan atau hambatan terhadap upaya pengendara mencari jalan alternatif.
• Referensi (Penyulihan):
• "Jalanan di kota" dan "jalan alternatif" serta "jalan lain": Terdapat repetisi atau pengulangan kata "jalan" untuk menjaga fokus topik.
• Leksikal (Sebab-Akibat):
• Kata "hujan", "tergenang air", dan "banjir" membentuk ikatan leksikal (kolokasi) yang berada dalam satu lingkup tema lingkungan/cuaca.
2. Hubungan Koherensi Antarkalimat
Paragraf ini memiliki koherensi yang sangat kuat karena setiap kalimat membangun satu cerita yang logis:
• Hubungan Sebab-Akibat: Kalimat pertama (hujan deras) menjadi sebab bagi kondisi di kalimat kedua (jalanan tergenang dan macet).
• Hubungan Aksi-Reaksi: Kalimat kedua (macet) memicu reaksi dari subjek di kalimat ketiga (pengendara mencari jalan alternatif).
• Hubungan Pertentangan/Kegagalan: Kalimat keempat memberikan informasi bahwa usaha pada kalimat ketiga tidak membuahkan hasil karena adanya kendala serupa (banjir di jalan lain).
Secara keseluruhan, paragraf tersebut koheren karena membangun satu kesatuan tema yaitu "Dampak kemacetan dan banjir akibat hujan deras".