གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ INAYA SALWA IASYA

TA B 2025 -> ACTIVITY: RESUME

INAYA SALWA IASYA གིས-

NAMA :Inaya Salwa Iasya

NPM :2413031053

Kedua jurnal itu membahas peran adopsi XBRL dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan, tetapi dengan konteks dan fokus yang berbeda. Artikel pertama yang ditulis oleh l-Okaily et al. (2024) mengeksplorasi pengaruh penerapan XBRL terhadap transparansi informasi finansial di perusahaan-perusahaan keuangan Yordania. Melalui penelitian yang dilakukan terhadap manajer keuangan, akuntan, dan auditor, studi ini mengungkapkan bahwa XBRL secara substansial meningkatkan relevansi, kehandalan, dan keterbukaan informasi keuangan dalam konteks pelaporan digital. Penelitian ini menunjukkan bahwa standarisasi data dengan XBRL dapat mengurangi asimetri informasi, meningkatkan efisiensi dalam analisis laporan keuangan, serta mendukung pengambilan keputusan oleh investor dan pengawas. Penelitian ini juga menekankan signifikansi XBRL untuk negara-negara berkembang sebagai alat untuk memodernisasi pelaporan keuangan serta sebagai dasar bagi integrasi laporan keuangan dan non-keuangan, termasuk yang berkaitan dengan keberlanjutan.
Jurnal kedua oleh Tohang dan Lusiana (2022) menyoroti konteks Indonesia dengan menganalisis hubungan antara penerapan XBRL dan biaya ekuitas dari perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dengan memanfaatkan data longitudinal yang diambil sebelum dan setelah penerapan XBRL, penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi XBRL berperan dalam mengurangi biaya ekuitas, terutama pada perusahaan besar. Hal ini diuraikan melalui peningkatan mutu informasi, pengurangan biaya pengolahan informasi, dan peningkatan transparansi laporan keuangan yang mengurangi persepsi risiko bagi investor. Namun, penelitian ini juga menekankan bahwa pada fase awal adopsi, XBRL mungkin mengalami hambatan teknis dan kesalahan dalam pelaporan yang dapat mengurangi manfaat maksimalnya.

Menurut saya secara keseluruhan, kedua jurnal tersebut menegaskan bahwa XBRL adalah alat krusial dalam pergeseran digital pelaporan keuangan. Perbedaan terletak pada perspektif: jurnal pertama fokus pada transparansi dan efisiensi informasi, sedangkan jurnal kedua menekankan aspek ekonomi terkait biaya modal. Keduanya saling mendukung dalam menguraikan keuntungan strategis XBRL untuk pasar yang sedang berkembang.

TA B 2025 -> ACTIVITY: RESUME

INAYA SALWA IASYA གིས-

Nama : Inaya Salwa Iasya

NPM :2413031036

Jurnal ini menekankan bahwa laba adalah elemen krusial dalam laporan keuangan yang sering dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan ekonomi, sehingga memberikan kesempatan bagi manajemen untuk melakukan manajemen laba akibat asimetri informasi antara manajer dan pihak luar. Dari perspektif metodologi, temuan penelitian menunjukkan bahwa mayoritas studi bersifat kuantitatif dan masih didominasi oleh penerapan pendekatan manajemen laba berbasis akrual, meskipun praktik manajemen laba riil semakin diakui karena lebih sulit untuk dideteksi oleh auditor dan sering digunakan oleh manajemen untuk mencapai target profit. Dari sudut pandang teoretis, mayoritas studi menganggap manajemen laba sebagai tindakan oportunistik, sebagaimana diuraikan dalam Positive Accounting Theory oleh Watts dan Zimmerman, di mana manajer menggunakan keluwesan standar akuntansi untuk kepentingan pribadi seperti bonus, kontrak utang, dan penghindaran biaya politik. Namun demikian, jurnal ini juga menekankan perspektif signaling yang melihat manajemen laba tidak selamanya negatif, melainkan dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi internal tentang prospek perusahaan kepada investor, contohnya dengan perataan laba agar lebih stabil dan dapat diprediksi. Kesimpulan utama jurnal ini adalah bahwa manajemen laba tidak dapat dianggap secara sederhana sebagai praktik manipulatif, karena dalam batas tertentu dapat meningkatkan relevansi informasi laba serta efisiensi pasar. Namun, penulis juga menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut untuk mengungkap motif yang mendasari praktik manajemen laba agar dapat membedakan antara tindakan yang merugikan dan yang menguntungkan bagi pemangku kepentingan.

Video tersebut menawarkan penjelasan singkat dan jelas tentang konsep manajemen laba. Dalam video itu, manajemen laba diuraikan sebagai metode pemanfaatan celah dalam standar akuntansi guna mengubah laporan keuangan. Juga dijelaskan alasan perusahaan melakukan pengelolaan laba, seperti untuk mencapai target analis, meningkatkan harga saham, atau menghindari perhatian dari pihak regulator. Video ini juga menunjukkan contoh nyata dari berbagai metode manajemen laba, seperti mencatat pendapatan lebih awal, menunda biaya, atau menggunakan cadangan akuntansi untuk menyeimbangkan laba. Video ini bertujuan untuk menyampaikan pemahaman dasar mengenai konsep manajemen laba kepada audiens umum tanpa perlu memiliki pengetahuan akuntansi yang mendalam.

Opini saya : Dalam pandangan pribadi saya, jurnal dan video ini sangat relevan dan berpengaruh dalam memberikan gambaran menyeluruh tentang praktik manajemen laba karena tidak hanya menyoroti sisi negatifnya, tetapi juga menawarkan pemahaman yang lebih seimbang. Sejak dahulu, manajemen laba sering dipahami secara terbatas sebagai tindakan manipulatif yang merugikan pihak-pihak yang menggunakan laporan keuangan. Namun, seperti yang diungkapkan dalam jurnal ini, tindakan tersebut juga bisa dipahami sebagai reaksi logis manajemen terhadap ketidakpastian, tuntutan pasar, dan kebutuhan berkomunikasi dengan para investor. Pandangan signaling yang diusulkan penulis menurut saya merupakan kontribusi signifikan, karena mencerminkan kenyataan praktik bisnis masa kini di mana manajer tidak selalu bertindak secara oportunistik, tetapi berusaha memelihara stabilitas kinerja dan kepercayaan pasar. Namun demikian, saya percaya bahwa penerimaan manajemen laba sebagai sarana komunikasi harus tetap diatur oleh etika, tata kelola perusahaan yang kokoh, serta pengawasan dari regulator dan auditor. Tanpa garis batas yang tegas, fleksibilitas ini berpeluang disalahgunakan dan pada akhirnya merusak integritas laporan keuangan. Dengan demikian, saya sependapat dengan pendapat penulis bahwa manajemen laba tidak dapat dinilai secara sederhana, melainkan harus diteliti berdasarkan motif, konteks, dan konsekuensinya terhadap para pemangku kepentingan. Jurnal ini menyediakan dasar teoretis yang solid bagi mahasiswa dan praktisi untuk memahami manajemen laba dengan cara yang lebih kritis dan berimbang, sekaligus mendorong penelitian lebih lanjut yang mendalam mengenai perbedaan antara praktik yang transparan dan yang bersifat manipulatif.