Kiriman dibuat oleh Maya Khoyrotun Nisa

TA B 2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Maya Khoyrotun Nisa -
Assalamualaikum wr.wb
Nama : Maya Khoyrotun Nisa
Npm : 2413031045

Artikel pertama berjudul "Does XBRL adoption increase financial information transparency in digital disclosure environment? Insights from emerging markets" oleh Al-Okaily et al. (2024) dari International Journal of Information Management Data Insights mengeksplorasi dampak adopsi XBRL pada transparansi informasi keuangan di perusahaan keuangan Yordania. Penelitian ini menggunakan metode survei terhadap 124 responden (manajer akuntansi, auditor, dan manajer keuangan) dengan analisis PLS-SEM, menemukan hubungan positif signifikan (path coefficient 0.920, p<0.001) antara adopsi XBRL dan peningkatan transparansi, relevansi, serta keandalan laporan keuangan digital. XBRL mengurangi asimetri informasi, mempermudah analisis data, dan mendukung pengambilan keputusan di pasar berkembang seperti Yordania, di mana Amman Stock Exchange mulai menerapkannya sejak 2016 meski adopsi masih rendah.​​

Artikel kedua oleh Tohang & Lusiana (2022) menganalisis pengaruh adopsi wajib XBRL sejak 2015 terhadap biaya modal ekuitas (COE) pada 59 perusahaan terbuka di Indonesia periode 2014-2017 menggunakan regresi berganda. Hasil menunjukkan XBRL secara signifikan menurunkan COE, terutama pada perusahaan besar, dengan moderasi dari ukuran perusahaan, leverage, dan sektor berisiko tinggi seperti pertanian atau pertambangan. Penelitian ini menyoroti manfaat XBRL dalam meningkatkan kualitas pelaporan, mengurangi biaya modal, dan menarik investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI).​​

Opini: Kedua studi saling melengkapi dengan bukti empiris kuat bahwa XBRL meningkatkan transparansi dan efisiensi pelaporan keuangan di negara berkembang, meski konteks berbeda: transparansi langsung di Yordania versus dampak tidak langsung pada COE di Indonesia. Pendekatan PLS-SEM dan regresi mendukung validitas, tetapi keterbatasan seperti sampel kecil dan data cross-sectional menunjukkan perlunya studi longitudinal untuk mengukur efek jangka panjang, terutama di Indonesia pasca-pandemi. Sebagai rekomendasi, OJK dan regulator ASEAN sebaiknya percepat mandat XBRL penuh dengan pelatihan, sejalan minat akademik pengguna pada standar akuntansi modern seperti IFRS, untuk kurangi asimetri informasi dan dorong investasi berkelanjutan.