Kiriman dibuat oleh Resti Gustin

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Resti Gustin -
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

1. Kritisi terhadap keputusan PT Garuda Sejahtera menggunakan nilai wajar

Keputusan PT Garuda Sejahtera menggunakan nilai wajar (fair value) didasarkan pada prinsip "substance over form" dalam kerangka konseptual IFRS yang menekankan relevansi informasi bagi pengambilan keputusan investor global. Namun, secara konseptual dalam konteks Indonesia, keputusan ini perlu dikritisi. Pasar untuk pesawat di Indonesia sangat terbatas, sehingga nilai wajar sulit diperoleh secara andal dan representatif. Hal ini mengurangi reliabilitas informasi keuangan. Sebaliknya, kerangka konseptual PSAK yang lebih konservatif cenderung menggunakan biaya historis yang memberikan keandalan lebih tinggi meski kurang reflektif terhadap kondisi pasar terkini. Dengan demikian, dalam konteks pasar Indonesia, penggunaan nilai wajar yang tidak akurat dapat menimbulkan distorsi dalam laporan keuangan dan merugikan pengguna informasi.

2. Perbandingan kerangka konseptual PSAK dan IFRS

- Tujuan Laporan Keuangan : Kedua kerangka sepakat bahwa tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan ekonomi pengguna laporan keuangan. PSAK fokus pada pengguna di Indonesia, sedangkan IFRS lebih mengutamakan pengguna global.
- Karakteristik Kualitatif Informasi: Keduanya menekankan relevansi, reliabilitas (faithful representation), netralitas, keterbandingan, dan konsistensi. Namun, PSAK lebih menitikberatkan pada keseimbangan antara relevansi dan keandalan dalam konteks pasar lokal.
- Basis Pengukuran: PSAK umumnya menggunakan biaya historis yang stabil dan mudah diverifikasi, sementara IFRS lebih mengedepankan nilai wajar sebagai basis pengukuran, asalkan pasar aktif tersedia.
- Asumsi Entitas dan Kelangsungan Usaha : Sama-sama menggunakan asumsi bahwa entitas adalah unit ekonomi yang beroperasi secara berkelanjutan.

3. Pendapat mengenai adopsi penuh IFRS tanpa penyesuaian lokal

Adopsi penuh kerangka konseptual IFRS tanpa penyesuaian lokal belum ideal bagi Indonesia karena faktor ekonomi, sosial, dan tingkat kematangan pasar yang berbeda dengan negara maju. Indonesia memiliki pasar modal dan aset yang kurang likuid, serta regulasi dan budaya bisnis yang berbeda sehingga langsung menerapkan IFRS secara penuh dapat mengurangi keandalan dan relevansi laporan keuangan. Penyesuaian PSAK yang mengikuti prinsip IFRS secara umum namun mengakomodasi kondisi lokal akan lebih realistis dan efektif untuk memastikan laporan keuangan tetap dapat dipercaya dan informatif bagi para pemangku kepentingan. Pendekatan konvergensi dengan fleksibilitas lokal ini menjaga keseimbangan antara standar internasional dan karakteristik ekonomi Indonesia.

Kesimpulannya, keputusan PT Garuda menggunakan nilai wajar bisa dibenarkan secara global, tapi perlu waspada terhadap relevansi dan reliabilitas dalam konteks pasar Indonesia. Kerangka konseptual PSAK masih cukup memadai dengan adaptasi ke kebutuhan global. Indonesia disarankan mengadopsi IFRS dengan penyesuaian lokal untuk hasil laporan keuangan yang optimal dan dapat diaplikasikan secara praktis di pasar domestik.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Resti Gustin -
Nama : Resti Gustin
NPM : 2413031020

Jurnal ini membahas keterbatasan dalam Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan (Conceptual Framework for Financial Reporting - CFW) yang dikembangkan oleh FASB dan IASB. Tujuan utama kerangka ini adalah menyediakan pedoman konsisten untuk standar pelaporan keuangan yang berguna bagi investor, kreditur, dan pengguna informasi lainnya. Dalam konteks globalisasi dan harmonisasi standar pelaporan keuangan, FASB dan IASB berupaya menyatukan standar akuntansi melalui kerangka konseptual bersama.

Jurnal menyajikan tinjauan sejarah pengembangan kerangka ini, mulai dari inisiatif awal di Amerika Serikat hingga proyek konvergensi standar internasional. Ditekankan pula bahwa, walaupun kerangka ini memberikan prinsip dasar dan karakteristik kualitatif informasi keuangan, masih terdapat sejumlah batasan signifikan, seperti ketergantungan pada biaya historis, perbedaan kebijakan akuntansi, dan sulitnya mencapai keterbandingan informasi antar perusahaan atau negara.

Selain itu, jurnal juga membahas berbagai pembatasan praktis dalam penerapan kerangka ini seperti konservatisme akuntansi, kesalahan dan kecurangan akuntansi, serta kompleksitas pengukuran dan estimasi dalam pelaporan keuangan. Dapat disimpulkan bahwa meskipun kerangka konseptual ini sangat penting dalam pengembangan standar pelaporan, masih perlu perbaikan dan pengembangan lebih lanjut agar dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan tersebut dan menghasilkan pelaporan keuangan yang lebih akurat, relevan, dan dapat dibandingkan secara global.

TA2025 -> DISKUSI

oleh Resti Gustin -
Nama : Resti Gustin
Npm : 2413031020

Setelah menyimak video tersebut, dapat disimpulkan bahwa Financial Accounting Standards Board (FASB) telah menciptakan kerangka konseptual yang menjadi dasar pengembangan prinsip akuntansi yang diterima umum di Amerika Serikat (GAAP). Kerangka ini memberikan tujuan utama pelaporan keuangan, yaitu menyediakan informasi yang berguna bagi investor, kreditur, dan pihak terkait lainnya dalam pengambilan keputusan ekonomi. Video juga menguraikan elemen-elemen laporan keuangan seperti aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan beban, serta menekankan pentingnya karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi, seperti relevansi dan representasi yang dapat dipercaya. Selain itu, dijelaskan asumsi dan prinsip akuntansi yang memandu penyusunan laporan keuangan, termasuk kontinuitas usaha, periode pelaporan, dan pengukuran dengan satuan moneter, serta keterbatasan seperti biaya penyusunan dan praktik industri tertentu. Kerangka ini membantu memastikan laporan keuangan dapat digunakan secara efektif dan konsisten untuk evaluasi kinerja dan posisi keuangan perusahaan.

AKM A2025 -> Diskusi

oleh Resti Gustin -
NAMA : Resti Gustin
NPM : 2413031020

Neraca memiliki keterbatasan, seperti hanya menggambarkan kondisi secara statis pada satu waktu tanpa menunjukkan perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu. Nilai aset dalam neraca umumnya dicatat berdasarkan biaya historis, sehingga kurang mencerminkan nilai saat ini. Selain itu, neraca tidak memuat informasi non-keuangan seperti kualitas sumber daya manusia atau reputasi perusahaan. Penyajian neraca juga dipengaruhi oleh kebijakan akuntansi yang bisa berbeda antarperusahaan, sehingga sulit untuk membandingkan secara langsung. Karena itu, neraca sebaiknya digunakan bersama laporan lain agar analisis keuangan dapat lebih komprehensif dan akurat.