Kiriman dibuat oleh Tiara Vita Loka

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

1. Basis Pengukuran yang Relevan

Dalam kasus ini, ada dua basis pengukuran yang relevan: biaya historis dan nilai wajar. Biaya historis mencatat mesin sebesar harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan, sehingga keandalannya tinggi karena berdasarkan bukti transaksi, namun kurang relevan karena tidak mencerminkan penurunan nilai akibat teknologi baru. Nilai wajar mencerminkan kondisi pasar saat ini, sehingga lebih relevan bagi pengguna laporan keuangan, tetapi keandalannya bisa menurun jika pasar tidak aktif atau penilaian bersifat subjektif.


2. Implikasi Akuntansi Model Revaluasi

Jika PT Surya Terang menggunakan model revaluasi, nilai mesin akan dicatat sebesar nilai wajar saat ini, yaitu Rp400.000.000. Penurunan nilai akan dicatat sebagai kerugian revaluasi, yang bisa mengurangi laba bersih atau masuk ke pendapatan komprehensif lain. Penyusutan masa depan dihitung dari nilai wajar baru, sehingga beban penyusutan tahunan berubah. Laporan posisi keuangan menjadi lebih mencerminkan kondisi ekonomi sebenarnya, tetapi laba rugi menjadi lebih fluktuatif.


3. Relevansi dan Keandalan

Pengukuran dengan nilai wajar lebih relevan dalam konteks ini karena mencerminkan nilai ekonomi mesin saat ini, sedangkan biaya historis tidak menunjukkan penurunan akibat teknologi baru. Namun, biaya historis lebih andal karena berbasis transaksi yang tercatat. Dengan demikian, penggunaan nilai wajar meningkatkan relevansi informasi tetapi memerlukan transparansi dan dokumentasi agar tetap dapat dipercaya.

TA2025 -> DISKUSI

oleh Tiara Vita Loka -
Nama : Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

Setelah menyimak video tersebut, dapat disimpulkan bahwa FASB (Financial Accounting Standards Board) menetapkan kerangka konseptual akuntansi sebagai pedoman utama dalam penyusunan laporan keuangan yang konsisten, logis, dan dapat diandalkan. Kerangka ini berfungsi sebagai dasar bagi penyusun standar akuntansi untuk menentukan bagaimana elemen laporan keuangan seperti aset, liabilitas, ekuitas, pendapatan, dan beban harus didefinisikan, diakui, dan diukur. Dengan adanya kerangka ini, penyusunan laporan keuangan menjadi lebih konsisten antarperiode dan antarentitas, sehingga memudahkan pengguna laporan, terutama investor dan kreditur, dalam memahami kondisi keuangan perusahaan dan membuat keputusan ekonomi yang tepat.

Selain itu, kerangka konseptual menekankan karakteristik informasi keuangan yang berguna, yaitu relevan, andal, dapat dibandingkan, dan mudah dipahami. Kerangka ini juga memberikan pedoman praktis dalam menghadapi transaksi atau situasi baru yang belum diatur oleh standar spesifik, sehingga akuntan dapat menggunakan penilaian profesional yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang konsisten.

Namun, video tersebut juga menekankan keterbatasan kerangka konseptual. Kerangka ini cenderung menekankan pada “decision-usefulness”, yaitu informasi yang berguna bagi investor dan kreditur, sehingga kadang kurang memperhatikan kebutuhan pihak lain, seperti pemerintah, karyawan, atau masyarakat umum, yang juga merupakan pengguna laporan keuangan. Meski begitu, kerangka konseptual tetap penting sebagai fondasi untuk memastikan transparansi, konsistensi, dan kualitas informasi akuntansi secara keseluruhan.

TA2025 -> CASE STUDY

oleh Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM:2413031022

1. Kritisi keputusan PT Garuda Sejahtera memilih nilai wajar (fair value)

Keputusan PT Garuda Sejahtera untuk menggunakan nilai wajar sebagai dasar pengukuran dapat dipahami dari perspektif IFRS, karena IFRS menekankan relevance dan informasi yang mencerminkan realitas ekonomi (substance over form), yang penting bagi investor global. Nilai wajar memberikan gambaran terkini tentang aset perusahaan, yang bisa mendukung transparansi bagi pemegang saham dan potensi investor asing.

Namun, dari perspektif PSAK di Indonesia, penggunaan nilai wajar memiliki keterbatasan jika pasar tidak aktif atau likuid, seperti pada kasus pasar pesawat di Indonesia. PSAK menekankan reliability dan konservatisme, sehingga penggunaan biaya historis lebih dapat diandalkan dalam konteks lokal. Auditor pun menyoroti hal ini, karena nilai wajar yang dihitung dengan asumsi pasar aktif bisa menimbulkan informasi yang tidak realistis bagi pemangku kepentingan domestik.

Secara konseptual, keputusan perusahaan dapat dibenarkan dalam konteks IFRS, tapi dalam konteks Indonesia, di mana pasar tidak likuid dan investor domestik mengandalkan laporan yang konservatif, keputusan ini membawa risiko. Idealnya, perusahaan perlu memberikan pengungkapan yang jelas mengenai asumsi nilai wajar dan keterbatasan pasar, agar laporan tetap dapat dipercaya..

2. Perbandingan kerangka konseptual PSAK dan IFRS

- Tujuan laporan keuangan baik PSAK maupun IFRS sama-sama bertujuan menyediakan informasi yang berguna bagi pengambil keputusan ekonomi, tetapi PSAK lebih menekankan kebutuhan pemangku kepentingan domestik, sementara IFRS menekankan konsistensi dan keterbandingan secara global.

- Karakteristik kualitatif informasi dalam PSAK menekankan relevance dan reliability dengan sedikit kecenderungan konservatif, sedangkan IFRS menekankan relevance dan faithful representation, termasuk penggunaan estimasi nilai wajar yang bisa lebih volatil.

- Dalam hal basis pengukuran, PSAK lebih konservatif dengan biaya historis sebagai dasar utama, sedangkan IFRS fleksibel, menggunakan nilai wajar atau biaya historis sesuai konteks.

- Kedua kerangka asumsi entitas dan kelangsungan usaha serupa, yaitu going concern, tetapi IFRS lebih menekankan pengungkapan potensi risiko ekonomi global yang dapat memengaruhi keberlangsungan usaha..

3. Apakah Indonesia sebaiknya mengikuti IFRS sepenuhnya?

Secara teori, mengikuti IFRS sepenuhnya dapat meningkatkan keterbandingan laporan keuangan Indonesia dengan pasar global, sehingga menarik investor asing. Namun, secara praktis, pasar Indonesia belum sepenuhnya matang, likuiditas terbatas, dan tingkat pemahaman pelaku pasar terhadap risiko nilai wajar masih bervariasi. Selain itu, faktor sosial seperti kebutuhan perlindungan pemangku kepentingan domestik dan budaya konservatif dalam pelaporan keuangan perlu dipertimbangkan.

Oleh karena itu, adopsi IFRS sebaiknya disertai penyesuaian lokal, misalnya tetap mengakomodasi biaya historis pada aset dengan pasar tidak aktif dan memperkuat pengungkapan risiko. Pendekatan ini menjaga keseimbangan antara relevansi global dan reliabilitas lokal.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 24131031022

Jurnal ini membahas pentingnya teori akuntansi sebagai dasar utama dalam praktik pelaporan keuangan yang andal. Penulis menekankan bahwa teori akuntansi tidak hanya perlu dipahami, tetapi juga harus diterapkan secara nyata dalam praktik agar laporan keuangan dapat disusun secara kredibel dan bermanfaat bagi para pengguna.

Penelitian ini mengkaji unsur-unsur teori akuntansi seperti kegunaan informasi, relevansi, keandalan, keterbandingan, dan konsistensi, serta asumsi dasar seperti entitas bisnis, going concern, periodisitas, dan satuan moneter. Selain itu, struktur teori akuntansi yang terdiri dari postulat, konsep, dan prinsip dijelaskan sebagai kerangka kerja yang membentuk standar dan pedoman dalam penyusunan laporan keuangan.

Jurnal ini juga menyoroti pentingnya kerangka konseptual (conceptual framework) dalam mengarahkan penyusunan standar akuntansi agar lebih konsisten dan objektif. Penulis menemukan bahwa masih terdapat kesenjangan antara teori dan praktik akuntansi, yang berkontribusi terhadap maraknya kecurangan dan manipulasi laporan keuangan di berbagai organisasi.

Kesimpulannya, teori akuntansi berperan penting dalam meningkatkan kualitas pelaporan keuangan dan mencegah penyimpangan. Oleh karena itu, para akuntan dan praktisi keuangan didorong untuk tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga menerapkannya secara konsisten dalam praktik sehari-hari. 

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Tiara Vita Loka -
Nama: Tiara Vita Loka
NPM: 2413031022

Jurnal ini membahas Positive Accounting Theory (PAT) sebagai pendekatan yang bertujuan untuk menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi yang terjadi di perusahaan. Berbeda dengan teori normatif yang bersifat preskriptif dan menentukan apa yang seharusnya dilakukan, PAT lebih menekankan pada pemahaman mengenai alasan di balik pemilihan metode akuntansi oleh manajemen dalam berbagai kondisi ekonomi dan kontraktual. Pendekatan ini menempatkan perilaku manajer sebagai pusat analisis, khususnya dalam kaitannya dengan kepentingan pribadi dan kepentingan perusahaan.

PAT menjelaskan bahwa kebijakan akuntansi sering dipengaruhi oleh tiga hipotesis utama. Pertama, hipotesis bonus plan, yang menyatakan bahwa manajer cenderung memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba agar bonus yang diterima menjadi lebih besar. Kedua, hipotesis debt covenant, yang menjelaskan bahwa perusahaan berusaha meningkatkan laba yang dilaporkan untuk menghindari pelanggaran perjanjian utang dengan kreditur. Ketiga, hipotesis political cost, yang menunjukkan bahwa perusahaan besar atau perusahaan yang berada di bawah pengawasan publik cenderung melaporkan laba yang lebih rendah untuk mengurangi tekanan politik, seperti beban pajak yang tinggi.

Selain itu, jurnal ini memperkenalkan konsep economic consequences, yaitu dampak kebijakan laporan keuangan terhadap perilaku dan keputusan pihak-pihak yang berkepentingan seperti investor, pemerintah, dan kreditur. Kebijakan akuntansi tidak hanya berpengaruh pada angka laporan keuangan, tetapi juga pada alokasi sumber daya ekonomi dan kebijakan perusahaan. Secara keseluruhan, PAT memberikan kerangka yang kuat untuk memahami bagaimana praktik akuntansi terbentuk dan bagaimana keputusan akuntansi dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi dan perilaku manajemen.