Nama: Nayla Andara
NPM: 2413031018
1. Pendekatan tradisional dalam penilaian fair value mengandalkan metode valuasi seperti pendekatan pasar, biaya, dan pendapatan, yang dilakukan oleh penilai profesional berdasarkan observasi langsung atas data pasar, asumsi ekonomi, serta pertimbangan profesional (professional judgment). Dalam perspektif teori akuntansi, pendekatan tradisional dianggap lebih “dapat diaudit” karena sumber data, metode, dan asumsi biasanya dapat ditelusuri serta dijelaskan secara transparan. Sebaliknya, pendekatan berbasis AI pada PT Cerdas Digital menggunakan algoritma yang menganalisis big data dan informasi real-time untuk menghasilkan estimasi nilai wajar secara otomatis. Walaupun teknologi AI meningkatkan kecepatan, konsistensi, dan kemampuan mengolah data dalam jumlah besar, metode ini menimbulkan tantangan terhadap karakteristik verifiability dan understandability, karena mekanisme pengambilan keputusan AI sering kali bersifat kompleks atau tidak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh manusia. Hal ini menyebabkan penilaian berbasis AI perlu diuji lebih ketat agar tetap memenuhi prinsip faithful representation dalam teori akuntansi.
2. Dalam konteks epistemologi akuntansi, penggunaan AI memengaruhi sumber dan validitas pengetahuan akuntansi yang mendasari penentuan fair value. Secara tradisional, pengetahuan akuntansi bersumber dari observasi pasar, teori keuangan, dan pertimbangan profesional yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Sementara itu, AI menghasilkan pengetahuan melalui pemrosesan algoritmik terhadap data besar yang mungkin tidak selalu disertai penjelasan sebab–akibat. Hal ini memunculkan risiko epistemologis berupa ketergantungan pada model yang tidak sepenuhnya dapat diverifikasi atau dipahami, meskipun akurasinya secara historis tinggi. Kebergantungan pada data yang bersifat machine-derived knowledge dapat menimbulkan dilema bahwa pengetahuan akuntansi itu valid secara prediktif tetapi lemah dalam aspek justifikasi, terutama jika asumsi algoritmik atau bias data tidak dapat diidentifikasi. Dengan demikian, AI menantang konsep tradisional tentang apa yang dianggap sebagai “pengetahuan dapat dipercaya” dalam penilaian nilai wajar.
3. Agar penggunaan AI tetap sesuai dengan IFRS 13, PT Cerdas Digital harus menerapkan strategi akuntabilitas dan pelaporan yang memperkuat transparansi, pengendalian internal, serta dasar pengukuran. Perusahaan perlu menyediakan dokumentasi yang mengungkapkan sumber data, logika valuasi, jenis model AI yang digunakan, serta parameter utama yang memengaruhi hasil penilaian, sehingga memungkinkan auditor melakukan verifikasi secara memadai. Selain itu, perusahaan dapat memperkenalkan mekanisme model governance, mencakup validasi berkala, uji akurasi (backtesting), pemantauan bias data, serta pengendalian risiko model untuk memastikan output AI konsisten dengan hierarki fair value IFRS 13 (Level 1, 2, atau 3). Perusahaan juga harus mengungkapkan tingkat ketidakpastian estimasi, asumsi signifikan, serta keterbatasan model sebagaimana diwajibkan oleh IFRS. Strategi ini memungkinkan penggunaan AI tetap akuntabel, dapat diaudit, dan memenuhi prinsip transparansi serta faithful representation, sehingga hasil penilaian tetap dapat dipercaya oleh auditor dan pemakai laporan keuangan.